The Power of “…, please”

(Agnes Bemoe)

Ini cerita temenku yang punya bos yang bossy banget (namanya juga bos…hehehe..). Sukanya memerintah dengan gaya yang menggarisbawahi betul bahwa she is the ONE who takes control of every single thing! Raut wajah puas, itulah yang terpancar di wajah si bos, kalau ia berhasil memaksa orang lain dengan perintahnya.

Sudah beberapa kali temenku ini harus menahan sabar menghadapi “keganjenan” bos nya ini. Untuk tetap menjaga kesehatan mentalnya, temenku memilih untuk menganggap si bos itu masih berada dalam taraf balita dalam kepemimpinan.

Suatu hari, ia melihat si bos kelihatan cemas, mondar-mondir di depan ruangannya. Selidik punya selidik, ternyata si bos kehilangan file penting yang harus sesegera mungkin diserahkan pada bos yang lebih besar lagi. File tersebut bukan sekedar 1 – 2 halaman yang bisa diketik ulang, tapi 1 DRaft BUKU! Bayangkan kerja keras di belakangnya yang tersia-sia dengan hilangnya file itu… Dan bayangkan juga kemarahan orang-orang yang mengerjakannya, kalau tahu hasil kerja keras mereka hilang begitu saja…

Kebetulan, temenku ini ikut dalam tim pemnyusunan buku itu sebagai sekretaris.

Temenku masih ingat, dengan gaya bossy-nya seperti itu, si bos memerintahkan supaya sesegera mungkin file diserahkan. Temenku tentu saja langsung mengerjakannya… dan dengan itu ia merasa sudah ga ada urusan lagi.

Ternyata, di tangan si bos, file penting yang sudah diserahkan itu hilang …..

Sekarang, si bos kebingungan. Bingungnya ada dua: bingung menghadapi bos yang lebih besar yang pasti akan marah besar, dan bingung bagaimana cara “memerintah” bawahannya untuk mencari soft copy-nya. Bingung, karena mau tak mau harus menghadapi bawahannya, mengaku bahwa ia lalai, dan kemudian terpaksa harus sedikit “memohon” supaya soft coynya dicari lagi… Hal ini tentu bertentangan dengan gaya jumawa yang selama ini dianutnya…

Akhirnya, si bos memilih minta tolong lewat orang lain… Temenku geli sendiri melihat perilaku bosnya itu.. Seandainya si bos itu ga terlalu nge bossy, pasti dia juga ga terlalu gengsi untuk meminta ulang…

Banyak bos, ortu, guru, atau peran-peran super ordinat lain yang kurang pede dengan peran yang dijalaninya. Untuk menutupinya mereka suka bersikap keras. Dengan itu mereka mengirimkan pessn untuk tidak mengganggu teritori kekuasaannya.

Banyak yang merasa gengsi mengatakan “tolong..” Ataupun menggunakan sopan santun dan keramahtamahan lain, karena bakal dianggap “lemah”.

Padahal, sesungguhnya semakin rendah hati seseorang (atasan) semakin ia dihargai oleh siapa saja yang berhubungan dengannya.

Dengan memberi perintah, seseorang cuma memenangkan egonya, tetapi dengan berperilaku sopan, seseorang mendapatkan kesetiaan.

(Pekanbaru, 27 Maret 2010)

Tertarik dengan yang ini?

  • 10 Tips agar Semangat terus mengalir dalam dirimu!
  • Broken Mirror!
  • Dear Mom
  • MUJIZAT ITU NYATA
  • KISAH ANTARA GUA – (di)TILANG – POLISI
  • Benarkah Kita sudah Merdeka ?
  • Peduli?
  • 15 Tahun
  • Terasing
  • 3 Hari Yang Luar Biasa

Comments (1)

fransMarch 31st, 2010 at 4:39 pm

biasanya yang namanya bos memang begitu. jaraaaaaanng banget bos mau bersikap rendah hati. mungkin asumsi mereka, dengan mengatakan, “…please!” mereka akan mempermalukan diri sendiri. sayang kan? padahal kata please (tolong), terima kasih, dan maaf, adalah 3 kata mujarab untuk menghargai orang lain.

Leave a comment

Your comment