Kisah Seekor Ulat
(Albertus Guntur)
Seekor ulat terlihat di ranting pohon jambu. Tubuhnya yang kecoklatan diam tak bergerak. Ia merasa lunglai, lemas tak bertenaga. Sudah dua hari ini, si ulat tidak menemukan selembar daun pun yang bisa dimakannya. Masih terbayang di benaknya, kata-kata si daun muda yang ada di bagian bawah beberapa saat yang lalu, “Hai, ulat jelek… kenapa engkau ada di tubuhku! Ayo… pergi sana!!!” bentak daun muda itu.
Ulat hanya bisa terdiam sambil beringsut pergi. Entah sudah yang keberapa kalinya ia menerima perlakuan seperti itu. Semua daun yang dihampirinya berlaku sama, mereka tidak senang, jijik dan akan segera mengusirnya dengan semena-mena. Padahal ia hanya ingin meminta sedikit daun untuk mengganjal perutnya yang kosong. Ia sadar wajahnya jelek, tubuhnya pun penuh bulu-bulu halus yang amat menakutkan. “Ah… mengapa aku mesti terlahir seperti ini,” gumannya pasrah.
Dengan tenaga yang masih tersisa, ulat itu melanjutkan perjalanannya. Meski terasa berat, ia enggan menyerah. Sedikit demi sedikit, digerakkannya tubuhnya yang penuh bulu itu perlahan.
Akhirnya, ia sampai di sebuah daun yang sudah agak tua di ujung ranting. Dengan suara parau sambil menahan perih ia berkata, “Daun yang baik, bolehkah aku meminta sedikit bagian dari tubuhmu?”
Daun itu, yang sedang ‘merem-melek’ karena semilir angin tiba-tiba terlonjak. Dirasakannya ada sesuatu yang merayapi tubuhnya. Ia terbelalak ketika melihat seekor ulat penuh bulu berada di hadapannya. “Wahai ulat, mengapa engkau ada di sini?” tanyanya.
“Daun yang baik, sudah dua hari ini aku mencari daun untuk mengisi perutku, tapi semua daun yang aku temui malah mengusirku. Mereka tidak sudi membagi tubuhnya untuk makananku. Bolehkah aku meminta tubuhmu untuk mengisi perutku yang kosong ini?” harap ulat dengan suara memelas.
Daun itu terdiam. Ia membayangkan, tubuhnya pasti akan berlobang-lobang tidak karuan jika ia mengiyakan permintaan ulat itu. Ia menjadi bimbang. “Mengapa engkau ragu? Mengapa engkau takut jika tubuhmu berlobang? Bukankah itu tidak akan membunuhmu? Bukankah ini kesempatanmu untuk berbuat baik kepada ulat itu? Bagaimana jika ulat itu mati karena engkau tidak mau menolongnya?” ujar nuraninya bertubi-tubi.Dan daun itupun mengangguk. “Ya, mengapa aku mesti membiarkan ulat itu mati kelaparan padahal aku bisa berbuat sesuatu untuk menolongnya?” gumannya. Akhirnya, dengan sukarela dan ikhlas, ia memberikan tubuhnya untuk dimakan ulat itu.
Beberapa hari berlalu. Ulat itu telah berubah menjadi kepompong. Dan kini, kepompong itu perlahan-lahan membuka. Ada makhluk mungil yang keluar dari dalam kepompong. Awalnya sulit sekali. Namun perlahan, makhluk mungil itu bisa membebaskan seluruh tubuhnya. Kemudian dikepakkannya kedua sayapnya. Wow… ternyata ulat itu telah berubah menjadi kupu-kupu yang sangat indah.
“Daun yang baik hati, terimakasih atas segala pertolonganmu. Aku yang dulu jelek dan tidak dihargai kini telah berubah menjadi ‘pribadi’ yang lebih indah. Semua itu terjadi karena perhatian dan pengorbanan yang engkau berikan untukku. Kini, terimalah salam kasihku untukmu,” Kupu-kupu itu memberi hormat. Sesaat kemudian, ia pergi menuju ke langit.
Daun tersenyum bahagia. Tak dirasakannya semilir angin yang membuat tubuhnya melayang jatuh ke tanah. Ia pasrah karena itu sudah takdirnya.












