Peduli?
(Albertus Goentoer Tjahjadi)
Terasa sangat (sangat) menyedihkan ketika melihat kenyataan ini: seorang ibu melakukan aksi bakar diri dengan mengajak kedua anaknya serta sehingga akhirnya dua anaknya tidak terselamatkan karena luka bakar yang mencapai 90%. Juga seorang ibu muda yang tega melindaskan anaknya di jalan raya. Semua karena satu alasan: kesulitan ekonomi, yang menjadikan mereka putus asa dan berani mengambil keputusan yang nekad dan di luar kewajaran.
Pertanyaan yang kemudian muncul: salah siapa jika semua itu akhirnya terjadi? Apakah semata-mata karena kesalahan sang ibu yang tidak mampu menanggung beban kehidupan keluarganya sehingga mencari jalan pintas? Bagaimana, jika sebenarnya ia sudah berusaha ke sana ke mari tetapi tidak ada yang mau peduli dengan kehidupannya? Bukankah sebenarnya kita juga turut andil (secara tidak langsung) terhadap peristiwa itu?
Peduli. Ya, peduli. Kata ini rasanya semakin lama semakin menghilang dalam kehidupan kita. Karena tuntutan zaman yang semakin tidak mau kompromi, menjadikan kita robot-robot bernyawa yang ditelan kesibukan setiap hari. Pelan namun pasti merubah diri kita menjadi makhluk yang egois, yang tidak lagi peduli terhadap kehidupan lain di sekitar kita.
Kadang, kita menjadi peduli karena ada pamrih-pamrih tertentu. Peduli karena ada keuntungan yang akan diperoleh. Entah itu berupa harta benda, nama yang semakin tenar, banjir pujian, dan entah apalagi. Tentu jenis peduli yang seperti ini adalah peduli yang menyesatkan.
Nah sekarang, semua tergantung kepada kita. Maukah kita kembali untuk peduli, bukan peduli yang menyesatkan tetapi peduli yang tulus, yang didasari oleh kerelaan dan rasa syukur karena sudah terlebih dahulu dicintai oleh Tuhan?












