Petualangan Arktika

By : Alva Christo Y.W.

Pagi itu, cuaca benar-benar cerah. Matahari menunjukkan sinarnya, hangat menerpa diriku. Burung-burung berkicauan riuh-rendah, mencari makan saling berebutan. Kusambut pagi ini dengan senang hati, tak terasa, hari yang selama ini aku nanti-nanti telah tiba. Mataku yang sipit agak sedikit terasa mengantuk, dikarenakan persiapan tadi malam yang begitu melelahkan dan memakan banyak waktu. Kini aku menatap lanskap padang rumput yang masih basah, es mencair dari rerumputan, Pulau Komsomolets, Rusia. Lantas aku mengambil peralatan, berjalan beberapa meter kearah sebuah helikopter kecil yang baru mendarat, yang suaranya menderu kencang, disanalah temanku, Bob Skid telah menunggu. Bob Skid adalah seorang pemberani, dia  adalah seorang bertubuh kekar, berparas tampan, semangatnya tak akan pernah surut, dan  itu sudah terpancar jelas dari mata besarnya. Wajahnya yang khas adalah cerminan dari seorang penduduk Skandinavia. Sedangkan aku,  aku adalah seorang lelaki Swiss, namaku Michael Victor, tetapi teman-temanku biasa memanggilku Mike.

Bob sengaja menjemputku 3 jam lebih awal sebelum petualangan besar ini dilakukan, dengan maksud agar dia bisa minum secangkir kopi panas denganku. Kami sampai di hamparan padang es yang mengkilat terkena cahaya matahari, indah sekali, semua orang pasti tahu, inilah awal dari petualangan yang mungkin dianggap orang-orang sebagai hal yang gila,  Tanjung Arkticheskiy. Kami tiba  di sebuah gedung besar, ya, tower pengawasan sektor pertama. Kami menikmati waktu yang tinggal sedikit ini bersama-sama, meminum kopi hitam yang masih panas, sedap sekali. Tepat pukul 10 pagi waktu setempat, kami memulai petualangan ini, masing-masing dari kami menarik 2 buah kereta salju, masing-masing membawa muatan dengan total 150 kilogram per 2 kereta salju. Peralatan yang kami bawa cukup banyak, mulai dari bahan makanan, tenda, baju tahan air, kompor, kantong tidur, perahu tiup,  telepon satelit, baterai cadangan, komputer saku, unit GPS (Global Positioning System) dan senapan revolver Magnum kaliber 44. Kami membawa senjata karena kami rentan terhadap serangan beruang kutub atau predator kutub lainnya yang ganas.

Kami memulai petualangan dengan berdoa bersama, selanjutnya melintasi jalur-jalur es, melihat-lihat keadaan, dan was-was akan kedatangan bahaya yang setiap saat mengancam nyawa. 5 hari pertama perjalanan cukup lancar, kami dapat menempuh setidaknya 92 kilometer diatas darataan es yang ganas. Malam hari ke 6 sungguh diluar dugaan, serangan beruang secara mendadak.  Saat itu kami sedang di dalam tenda, aku terjaga, tidak bisa tidur sama sekali, sedangkan Bob mendengkur dengan kerasnya. Tiba-tiba datang 2 ekor beruang yang kelaparan, memasukkan moncong mereka yang besar kedalam tenda kami. Sontak aku kaget, Bob masih terlelap, lalu kuberanikan diri untuk mengambil senjata  revolver Magnum kaliber 44 dan mencoba membidikkan ke arah beruang tersebut, yang kini mengacak-acak persediaan makanan kami. Dengan perlahan-lahan kutarik picu  senjata tersebut, dan selongsong peluru begitu cepat menembus permukaan kaki beruang itu, mengakibatkan sobek yang dalam. Beruang itu kabur, membawa beberapa makanan kami, dan Bob terbangun akibat suara Magnum kaliber 44 yang keras. Kami pun melanjutkan tidur yang sempat terpotong sedikit interupsi.

Pagi yang  sangat mengerikan, badai es menerpa tiada henti. Aku bangun dengan raut muka kusut, menjaga keseimbangan tenda, agar tenda tidak terbang tertiup angin. Entah sudah berapa jam kami menunggu badai es mereda, tetapi justru mereda, badai semakin kencang, degup  jantungku berpacu, rasanya kami seperti melayang-layang diatas permukaan es yang dingin. Tower pengawas sektor pertama memberi tahu kami bahwa badai ini akan mereda setidaknya dalam 2 hari lagi, itu artinya siksaan selama 2 hari yang tidak akan reda.  Kami menunggu terus, 1 menit, 1 jam, 1 hari, sungguh melelahkan.

Badai  sudah mereda, kami putuskan untuk meneruskan perjalanan yang tertunda, selama berpuluh-puluh hari kami berjalan melintasi es, menanjaki gunung es, melompati retakan es, menyeberangi daratan es, susah maupun senang kami lakukan bersama. Menyeberangi daratan es  bukanlah suatu hal yang mudah, kami harus menggunakan pakaian anti air, berusaha untuk tidak tenggelam, menjaga panas tubuh di atas permukaan air yang bersuhu minus 35 derajat celcius. Ujung hidung Bob yang sudah mulai beku dan terkikis, membuatnya mengerang kesakitan. Hanya ingusnyalah yang dapat melapisi lukanya, membentuk  sebuah pelindung dari dingin yang menusuk. Entah berapa lama lagi kami akan  sampai ke Kutub Utara, tujuan kami yang sebenarnya, untuk melihat matahari terbit di atas horison pada bulan Maret. Berpuluh-puluh kilometer sudah kami  lintasi, aku berharap cepat sampai ke Kutub Utara.

Malam yang gelap,  bulan bersinar temaram, hanya dengan bantuan senter litium diatas kepalaku inilah, kami melihat dalam kegelapan. Malam terasa sangat lama, seakan kami berjalan dalam kebutaan yang abadi, suhu semakin dingin saja, Bob yang  mengecek suhu dan menyebutkan bahwa suhu pada saat ini adalah minus 60 derajat celcius, suhu yang sangat mematikan. Kami berusaha  menghangatkan tubuh, jariku sudah mati rasa, bahkan  Bob sudah terpincang-pincang jalannya lantaran kakinnya sudah mati rasa. Tak terasa GPS kami menunjukkan sebentar lagi kami akan sampai di tempat tujuan, dimana keluarga serta kru-kru kami menunggu dengan harapan besar kami selamat dari petualangan berbahaya ini.

Malam-malam terakhir kami lalui dengan senda gurau, memecah suasana yang beku seperti keadaan disekitar kami, menghapus penat dalam hidup untuk sementara waktu. Aku kira aku sudah mati dan tidak akan sampai sejauh ini, tetapi yang terjadi adalah ini, aku bisa duduk dengan Bob, rekan satu timku, yang pada malam-malam pertama  selalu diwarnai dengan perselisihan karena perbedaan pendapat. Aku adalah seorang yang keras kepala, sedangkan dia adalah seorang yang berjiwa kepemimpinan. Terkadang , ada suatu masalah yang belum tentu bisa dipecahkan dengan satu orang saja, dan perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Tetapi malam ini, kami merasakan sesuatu yang berbeda dengan malam-malam sebelumnya, aku lebih memahami dia dan dia lebih memahamiku. Kami telah membentuk tim yang kokoh sampai sejauh ini.

Pagi ini, pagi yang cerah, tinggal 30 kilometer lagi dan kami sampai di Kutub Utara. Keadaan Bob sudah terlihat lemah, dia sanggup berjalan beberapa  meter, lalu jatuh dan beristirahat. Tetapi dia tidak mau menyerah, dia memaksakan keinginannya, bangkit dan jatuh, setiap kali berjalan, langkahnya terasa mantap. Darah mulai keluar dari hidung dan telinganya, beberapa infeksi di dalam tubuhnya mulai menjalar. Tinggal 15 kliometer lagi, horison Kutub Utara sudah mulai tampak. Bob memantapkan dirinya, begitu juga aku. Kami adalah sebuah tim, aku tidak mungkin meninggalkan satu-satunya teman timku sendiri atau  dengan kata lain berkhianat.

Kami sampai tepat pada tanggal 25 Maret, 67 hari sesudah kami melakukan perjalanan berat dan melelahkan. Kami mengibarkan bendera masing-masing kebangsaan kami, bendera Skandinavia untuk Bob dan bendera Swiss untukku. Tubuh Bob sudah mengat, dan penyakitnya seakan sirna, berganti dengan tawanya yang khas, nyaring memecah kesunyian. Senang sekali rasanya sudah tiba di tempat ini, Kutub Utara , dengan selamat dan masih lengkapnya anggota tubuh kami. Tak sabar ingin kupeluk semua kru dan keluarga kami yang senantiasa mendukung setiap langkah di atas lempeng dingin mematikan. Kami memutuskan untuk memeriksakan diri di klinik milik kru kami, dan hasilnya sekarang, kami sembuh total, dan sehat seperti dulu. Ini memang petualangan paling  berharga sepanjang masa dalam hidupku.

Tertarik dengan yang ini?

  • Sepotong Jari di Mulutku
  • Ketika keinginanku bukan kehendakNya
  • AKU LUPA KELAMINKU
  • Maya
  • cerpen:Aku Bersamamu,Mba!
  • Galau
  • Mantan pacar
  • Serial Tina : “ajari aku jatuh cinta lagi , Rik.”
  • Labya berilah Ratio waktu
  • Hapeku Tuhanku?

Comments (4)

christo1096December 1st, 2009 at 8:33 am

good menarik, lanjutkan dengan cerita cerita petualangan lainnya yang lebih seru

Yuni KustantoFebruary 11th, 2010 at 9:13 am

Wah hebat, tulisan bagus! Petualangan yang menarik, selamat menulis lagi ya!

LiniFebruary 16th, 2010 at 8:57 am

bagus Christo

HennyMay 14th, 2010 at 7:25 pm

Christo…ayo menulis lagi…

Salam

Leave a comment

Your comment