Dee

(Anastasia Anita)

Dee begitu molek, begitu cantik, begitu indah, siapapun yang melihatnya pasti akan jatuh hati padanya. Tutur bahasanya sangat lembut dan penuh kesopanan bak putri keratin. Bersahabat dengannya sangat menyenangkan, meskipun kita berbeda suku dan agama, tetapi karena dari kecil kami sudah bersahabat, menjadikan perbedaan-perbedaan itu indah.

Kadang ketika berjalan berdua orang-orang sering melihat kearah kami, begitu berbedanya kami sehingga membuat orang menoleh, yang satu berkerudung, cantik, bagai seorang putri yang sedang berjalan membelah keramaian, yang satu lagi sipit, berambut pendek, tomboy, dan suka bicara blak-blakan.

Kami begitu dekat bagai saudara sewaktu SD aku yang terkenal jago berantem dan gampang emosi, dengan sabarnya dia melerai dan membuat emosiku kembali stabil, ketika aku marah-marah kenapa beberapa teman mengataiku “sipit pulang sana kembali ke negaramu” dia dengan tenangnya berkata…”sudah biarkan saja, toh aku tidak sipit tapi aku menjadi sahabatmu seumur hidup”. Keluarga kami juga begitu dekat, terlebih dengan ayahku dia suka bercerita apa saja,dan menganggap ayahku bagai ayah kandung sendiri, karena dia kehilangan sosok ayah sejak kecil bahkan bisa dibilang dia begitu terbuka tentang cita-citanya pada ayahku disbanding ibunya sendiri, yang masih memegang teguh bahwa wanita tidak sepatutnya berkarier dan hanya bisa menjadi ibu rumah tangga, ayahku yang membantu meyakinkan ibunya agar dia bisa pergi ke ibu kota dan melanjutkan sekolahnya.

Akhirnya disinilah kami berada sama-sama berjuang mencari makna hidup, sampai akhirnya dia mendapat pekerjaan lain yang agak jauh dari tempatku berada sehingga kami terpaksa berpisah jauh, namun sesekali kami mengusahakan utnuk bertemu. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan kesibukan yang terus meningkat kami jadi sangat jarang bertemu dan berkomunikasi.

Hingga suatu malam aku bermimpi melihat dia dipinggir pantai dihantam ombak bersar, dia berlari berusaha memelukku tetapi arus kembali menyeret dia jauh kedalam ombak, aku berteriak tetapi dia telah jauh terseret ombak. Begitu menakutkan mimpi itu sehingga ketika aku terbangun aku berusaha menelpon dan menghubunginya. “kamu terlalu kuatir” katanya “aku tidak apa-apa”

“baik kapan kita ketemu lagi??’ kataku..”entah aku masih sangat sibuk katanya nanti aku hubungi amu lagi” katanya “aku bertanya “ kabar kamu gimana?? “ “aku baik vi, sudah dulu ya” katanya.

“klik” telepon tertutup.

Aku harus menemuinya pikirku aku harus memastikan dia baik-baik saja, paling tidak aku meyakinkan diriku bahwa dia baik-baik saja. Sesampainya ditempat kostnya aku melihat dia yang sedikit kaget melihatku dan tersenyum “ sudah kuduga kamu pasti datang, kamu terlalu suka dengan hal-hal yang berbau “firasat” katanya….” Aku tersenyum dan bertanya..”kok banyak kecil disini??” “aku mengajar mereka Vi, mereka anak-anak jalanan yang membutuhkan pendidikan, dan bersekolah terlalu mahal bagi mereka” jadi sepulang kerja dan dihari libur aku mengajar mereka. .. jadi maaf waktu kita bertemu menjadi berkurang katanya. “that’s oke” kataku melihat dia begitu bersemangat dan jiwa pengasihnya yang memang tampak dari kecil aku tidak masalah kalau aku yang harus jauh-jauh kesini untuk menemuinya.

Sampai suatu ketika aku menelpon dia tidak diangkat, aku mendatangi kostnya ternyata dia sudah tidak ada, aku bingung mencari dia kemana, sehingga aku putuskan untuk menunggu dia sepulang kantor, tidak ada juga. Akhirnya aku menelpon ibunya dan bertanya…”dee kemana”

“ibunya menghela nafas….”dee sedang dirawat dan dikarantina…” Karantina??? Sakit apa sampai harus dikarantina??…ibunya malah memberiku sebuah alamat dan menyuruhku datang sendiri. Aku buru-buru mendatangi alamat yang diberikan ibunya…sebuah rumah kecil disebuah pondok yang dijaga oleh beberapa santri, yang terlihat bingung ketika aku mendatangi tempat itu, tetapi seorang menyapaku dengan ramah yang akhirnya aku ketahui sebagai pemilik pondok tersebut, “dee , aku mau bertemu Dee “kataku…”kamu siapanya Dee” kata bapak itu..

“aku temen Dee dari kecil..kami sudah seperti saudara”….

Akhirnya aku diantar keruangan Dee, aku kaget melihat sosoknya yg kurus, kecil, lemah tak berdaya, tapi sorot matanya yang penuh kasih itu benar-benar tak hilang “

Dee kaget melihatku dan berteriak kecil “Vi jangan mendekat…” langkahku terhenti dan bertanya…”kenapa Dee?? Apa yg terjadi?? ..Dee tidak menjawab hanya menangis sesaat dan akhirnya dia menyuruhku mengambil bangku kecil agar duduk tetapi harus mengambil jarak katanya… “aku ODHA Vi….” What’s ?????? “ODHA??” kataku..bagaimana bisa Dee…?? Perilaku meyimpang sangatlah tidak mungkin dari sosok Dee ataukah dari jarum suntik? Setauku Dee sangat suka donor darah tetapi seharusnya sekarang donor darah dijamin keamananya.

“Vi, aku menjalin hubungan dengan seorang pria”…ooohhh aku langsung berpikir..” Dee kamu melakukan…ehmmm…” Dee tersenyum…”iya aku tertular dari dia tapi bukan karena apa yang kau pikirkan itu Vi, dia salah satu anak didikku ..ketika aku melihat perubahanya yang menjadi kurus aku bertanya padanya, kenapa, awalnya dia tidak mau menjawab, akhirnya dia bercerita bahwa dia sedang memakai narkoba, yang dia dapat dari anak lain, “ Dee narkoba khan mahal bagaimana mungkin?? Maaf anak didikmu kan notabene…?? “Dee tersenyum..ada sindikat Vi, kamu tidak akan pernah bisa membayangkannya bagaimana mereka mempengaruhi anak-anak jalanan untuk dijadikan kurir dan menjadikan mereka tidak bisa berlari karena dibuat ketergantungan… suatu kali kau melihat anak itu sakau Vi, aku melihatnya sedang berusaha menyuntikkan sesuatu kelengannnya, aku berusaha menghalanginya, tetapi ternyata dia sudah sempat memakainya dan ketika itu terjadi perebutan dan aku malah tertusuk jarum suntuk itu..yang ternyata begini hasilnya…” katanya tertunduk…

“dee aku mencoba meraihnya..dia berusaha mundur, tetapi aku terus meraihnya, dan berkata “jangan kuatir Dee hal seperti ini tidak segampang itu menular” Dee tersenyum…”kamu tidak takut Vi, teman-teman sekantor dan se kostku ajah tidak mau lagi bahkan dengan jarak berhadapan 2 meter saja mereka ketakutan…”

“Dee kamu sahabatku dan saudaraku..apalagi yang bisa dilakukan untuk membantu Dee ?? aku menghela nafas…”kehadiranmu disini cukup Vi …” aku memeluknya dan menangis bersama.

3 bulan kemudian

“bu Vi…soal yang nomor 28 itu aku belum bisa..”…kata seorang anak padaku..

Yah akhirnya disinilah aku berada mengambil alih kerjaan social Dee…aku berusaha mengenang Dee dengan cara mencintai anak didiknya…. Dee meninggal sebulan setelah aku menjenguknya, surat yang Dee tinggalkan untukku agar aku mau membantu melanjutkan mengajar di rumah singgahnya itu juga seandainya aku tidak takut dengan apa yang menimpanya.

Ya aku melanjutkan usaha Dee untuk mengajar anak-anak itu tetapi mulai membuat peraturan yang agak ketat., di awal-awal anak-anak itu protes, tetapi akhirnya terbiasa juga dan mulai mengerti semua yang aku lakukan adalah untuk kebaikan mereka. Foto Dee aku pajang didinding dan tertulis “principal of  love “

Dee….semoga kau selalu tersenyum disana kataku sambil memandang langit.

==dedicated for someone miss ur smile sweety====



Tertarik dengan yang ini?

  • Tidak ada tulisan terkait

Leave a comment

Your comment