Jubah Putih
(Anastasia Anita)
Melihatmu begitu anggun dalam jubah putih..,
Melihatmu begitu mempesona dalam jubah putih…
Berjalan di altar..berdiri di sana sembari menengadahkan kepala, mengangkat tangan dengan agung dan mempesona…
Aku terpesona dengan setiap keadaan di sana begitu anggun begitu megah…
Selaras dengan irama piano klasik, suaramu begitu merdu mengidungkan pujian
Dan setiap hal yang terjadi berikutnya,adalah rentetan peristiwa yang begitu indah
Sehingga pada suatu waktu..aku melihatmu menghardik seorang anak kecil, yang menarik jubah putih itu dengan tangannya yang kotor berlumuran coklat…
Seketika hilang pesonamu…
Seketika jubah putih itu berlumuran coklat….
Tetapi bukan itu masalahnya
Hatimu??? Kenapa hanya sedikit coklat dari tangan anak kecil yang terjulur meminta berkat. Dan dengan segenap keinginannya untuk menyentuh jubahmu sang idolanya dan kau marah tidak terkira…
Sedemikian marahkah kau padanya…
Lalu kau pikir apa jubah itu?
Kau pikir apa altar itu?
Kau pikir kau sedang berjalan di atas catwalk sembari berlenggak-lenggok penuh pesona dengan jubah putihmu…?
Justru kau sendiri yang mengotori jubah putihmu dengan hardikanmu…
Kau kotori altar itu dengan kemarahanmu…
Tidakkah kau sadari, anak itu mengangkat tangan…meminta dekapan dan pelukan…
Seperti seorang anak kecil yang meminta Sang Juruselamat untuk menggendongnya…
Kau hancurkan pula keriangannya…kau gantikan dengan sunyi senyap karena bentakan…
Kau buat anak sang empunya kerajaan surga terdiam, penuh ketakutan…
Yah jubah itu memang kau dapatkan dengan susah payah, segenap ujian dan rintangan….
Sehingga kau harus menjaga jubah itu dengan segenap hati…
Menjaga kesucian itu dengan sepenuh hati….
Sepenuh hati, ya sepenuh hati, tetapi bukan hanya jubah yang menaungi tubuh duniamu yang membuatmu terlihat penuh keagungan…
Tetapi jubah yang menaungi hatimu, supaya hatimu penuh kasih dan kelembutan….kepada setiap insan yang membutuhkan pertolongan dan kedamaian hati…













wah, lagi marah sama pastor paroki neh?
Anita,
hehehe…..aku mau nyanyi…”pastor juga manusia…., punya rasa marah juga”
Syukurlah apapun prilaku sang pemakai jubah putih tak mengubahmu berpaling dari Sang Penguasa Surga.
Salam