Nyanyian hati
(Anastasia Anita)
Hari minggu aku mengikuti Misa di Gereja, aku duduk diluar, di dalam panas pikirku, gereja semegah dan seindah ini kenapa ya Pasturnya masih konvensional tidak mau memasang AC. Aku mengambil posisi di sudut seperti biasa di bawah pohon yang rindang tetapi bisa melihat altar dengan jelas, dan seperti biasa pula hal ii aku jalani seperti kewajiban, yah kewajibanku sebagai penganut Katholik sehingga kalau tidak ke gereja ada yang hilang, rutinitas, karena aku belum merasakan kesejukan, apalagi kalau misa di siang hari seperti ini, banyak anak kecil berlari-lari membawa balon,orang tua yang malah membawa baby sister berseliweran mengejar-ngejar anak asuhnya, rasanya kok jadi kayak pasar, bukannya gereja.
Hari ini seperti biasa pula, aku menyanyi asal-asalan, sampai saat mazmur di bawakan, tiba-tiba aku tertegun mendengar suara pemazmur yang melengking tajam, sangat merdu, aku terbangun dari lamunanku dan mencoba melongok ke dalam, siapa pemazurnya pikirku, baru kali ini aku mendengar suara pemazmur yang begitu indah,dan merdu, atau mungkin aku sudah lama tidak mengikuti misa sehingga banyak hal baru yang luput dari pengamatanku….hm…akhirnya dengan suara merdunya aku mengikuti misa kali ini dengan khidmat, sambil terus-terusan berpikir, setelah misa aku akan mencari tahu pikirku.
Usai misa aku berdiri di depan pintu gereja, melihat-lihat, sehingga sebuah suara memanggilku…’lien, ngapain kok bengong” Tanya suara itu, aku menoleh dan tersenyum…’hai tasia apa khabar” tanyaku, ‘baik lien, kamu belum menjawab pertanyaanku tadi, ngapain kamu bengong di situ..ada acara pemuda hari ini lien”….”upssss acara pemuda..kegiatanku yang sudah lama vakum , karena aku sebagai koordinatornya sudah mulai asal-asalan dan bosan karena lelah mendorong anggota-anggota yang susah sekali untuk di ajak berpikir kreatif, maunya terima acara jadi, tanpa pernah mau menjadi panitia, hanya sebagian kecil saja yang mau.
“lien kok malah bengong” tanyanya..
”hmmm nggak ada tas, eh tas…aku mau tanya” kataku.
‘‘apa lien”
“kamu tahu nama pemazmur tadi?”
Baru aku bertanya tiba-tiba suara di belakang kami mengagetkanku…
“Tas, kamu aku cari kemana-mana ternyata disini..” seorang pemuda menghampiri kami
“nah ini dia yang kamu tanya lien, kamu sieh sekarang jarang keliatan, jadi tidak tahu ada yang baru disini” katanya sambil melirik menggoda pemuda tadi.
Pemuda itu mengulurkan tangan
“Ben”
“ay lien”
Aku memperhatikan sekilas, pemuda ini tidak seperti suaranya, suaranya yang merdu, dan nyaring itu sangat kontras dengan sikapnya yang lembut, terkesan cuek, perawakan sedang, berkulit gelap, dan kacamata yang “nangkring” di hidung mancungnya.
‘lien malah bengong” kata Tasia menepuk pundakku..
Aku tersadar dan berkata “suaramu bagus Ben”
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Sejak itu aku menjadi rajin lagi bahkan misa pagi, karena ben teryata lebih sering bermazmur di misa harian pagi. Dan sejak saat itu pula kami menjadi akrab, setelah misa kami mencari sarapan bubur, dan Ben mengantarkanku ke ketempat kerja. Kami saling bercerita tentang kegiatan masing-masing, ternyata Ben tidak secuek yang aku kira, dia penuh perhatian, bahkan pada hal-hal kecil, aku pun menjadi dangat nyaman berkawan dengannya, setiap Minggu setelah misa, kami pergi berkeliling, entah nonton bioskop, entah Cuma duduk-duduk di bawah pohon di Gereja, atau berwisata kuliner karena teryata kami memiliki banyak kesamaan selera.
Pernah suatu ketika Ben bercerita bahwa ia pernah menjalani hubungan dengan seorang gadis, dan kandas karena banyaknya perbedaan yang terjadi akhirnya memilih untuk mundur. Aku Cuma menganguk dan mencoba memberi semangat. Persahabatan kami begitu indah, meskipun banyak perbedaan diantara kami. Warna kulit kami yang kontras membuat setiap mata akan memandang kalau kami sedang berjalan bersama apalagi kalau kami sedang ledek-ledekan satu sama lain tertawa kami yang begitu keras bisa membuat orang-orang di sekitar kami menoleh dan berkata “sssstttttt’
“Ben aku mau pulang “ kataku saat kami sedang menikmati Juice bersama
“oh, kamu mau pulang sekarang” masih siang nieh katanya
“bukan itu maksudku Ben, aku mau pulang kampung sebentar, aku resign dari kantorku yang sekarang Ben, setelah itu aku akan ke Jakarta Ben”
Ben hampir tersedak mendengarnya, dia berhenti minum memandangku sekilas dan melanjutkan minum dia diam
‘kapan kamu resign, kamu nggak pernah kasih tahu aku?”
“kemarin Ben, dan bulan ini adalah bulan terakhir aku di Yogya, bantu aku beres-beres mau ya Ben…” kataku setengah merajuk
“lien, beres-beres itu perkara mudah, yang aku sesalkan kenapa kamu tidak cerita sedikitpun”
“tadinya aku cerita Ben, tapi aku pikir surprise aja ntar, kan cita-citaku bekerja di sebuah penerbit majalah terkenal itu aku sudah pernah cerita, Ben sekarang aku berhasil” kataku dengan gembira
“Lien” ben menghela nafas “aku ikut senang Lien, tapi tidakkah kau pikirkan perasaan seorang sahabat yang tidak tahu apa-apa an tiba-tiba akan di tinggal pergi jauh, kamu ini tetap tidak berubah yah lien, semua cerita yang penting kamu simpan sendiri, dan bercerita sesudah segalanya berakhir…kamu anggap apa aku ini Lien, pengembira hidupmu, pelengkap hidupmu?, teman tertawa saja? Dan di saat kamu sedang memperjuangkan untuk kehidupanmu kamu tidak pernah melibatkan siapapun untuk ikut berperan serta? Kamu egois Lien”
Aku terdiam, apa salahnya kalau aku ingin berdiri sendiri, apa salahnya, kalau aku ingin berjuang sendiri, dan berbagi kebahagiaan setelah aku mendapatkannya.
“yang kamu lakukan tidak salah Lien” seolah Ben tahu membaca pikirannku…”tapi kamu tidak pernah melibatkan orang lain, tidak pernah meminta pendapat orang lain, kamu terus bergerak dengan pikiranmu sendiri, kamu tidak membiarkan orang lain menolong, dan ikut ambil bagian dalam kisah perjuanganmu, aku kecewa lien, aku ini siapa, sekian lama aku mencoba lebih dekat denganmu, sekian lama aku mencoba melihat isi hatimu, tapi kamu tidak pernah membiarkan orang untuk melihatnya, kamu menutup rapat semuanya, dan ketika kamu keluar yang terlihat hanya senyum dan tawa, Lien aku ingin menjadi bagian yang lebih dari itu, menjadi pelindungmu disaat kamu kamu takut, menjadi sandaranmu ketika kamu lelah, menjadi penghiburmu di saat kamu sedih, tidak sadarkah kau Lien??” tanyanya dengan mata berkilat-kilat. Aku terdiam, sungguh aku tidak pernah menyangka ben akan berbicara seperti itu kepadaku, yang tadinya aku berpikir, dia akan memelukku member ucapan selamat dan akan bergembira bersamaku merayakan semua keberhasilanku. Aku terdiam mencoba mencoba mencerna semua kata-katanya.
Sejak hari itu Ben tidak pernah muncul lagi, bahkan ketika aku misa pagi dan menunggunya selesai bermazmur pun, dia hanya menatapku sekilas kemudian pergi. Aku merasakan kehilangan yang luar biasa, dan terus-terusan berpikir…”salahku dimana seih”
Hingga hari aku akan pulang tiba, aku tidak berusaha mencari Ben lagi, aku tidak mau mengikuti misa yang di sana ada Ben sebagai pemazmurnya, aku rajin mengintip jadwal di sakristi (tempat persiapan untuk petugas misa) kalau jadwalnya Ben aku memilih untuk mengikuti misa berikutnya.
Beristirahat sebulan di rumah sebelum berangkat ke Jakarta, ketempat kerjaku yang baru, aku mencoba benar-benar bersantai, dan menghilangkan ben dari pikiranku, tapi ternyata aku merindukannya, merindukan suara nyanyiannya yang menggetarkan jiwa saat ia bermazmur membawakan lagu-lagu pujian itu, aku merindukanmu Ben desahku, tapi mungkin kerinduan kita berbeda, aku merindukan saat tertawa bersamamu, aku merindukan saat kita saling mengejek, aku merindukan suaramu yang menggetarkan sukmaku saat aku misa pagi.
= = = = = = = = = = = = = =
5 tahun berlalu sejak kejadian itu
Aku mulai aktif lagi di komunitasku yang baru, aku mulai membangun kegiatan baru di gereja paroki setempat, tempat aku bekerja. Aku mulai berusaha ke gereja bukan hanya sebagai rutinitas, tapi tempat untuk mendengar suara surgawi bergema, dan menggetarkan hati, seolah suara Tuhan turun untuk menyapa setiap umatnya.
“lien” aku menoleh ke suara yang memanggilku
“yes Cil” kataku pada sekretaris pemuda di komunitasku itu
“ada frater baru Lien, untuk pendamping kita..jangan di godain ya Lien…”
“hahahahahah dasarr…ganteng nggak” tanyaku
“tuh kannnnnn….wah mendingan dia nggak jadi pendamping kita ajah lien….daripada ketemu setan kayak kamu”
‘hahahahah nggak lah setan yang satu ini sedang berusaha menemukan jalan pulang ke rumah Bapa…..”
“bapa setan lien….” Suara itu tiba-tiba memotong pembicaraanku
Aku menengok…”ben…..” aku tercekat..tidak sanggup berkata-kata….
“yuk lien kita cari tempat dibawah pohon, cyl…sebentar ya”
Cicil yang terbengong-bengong Cuma mengganguk…dan berkata “wooiii lien sepupuku itu niat mau jadi Frater jangan di goda ya…” katanya sambil tertawa..
“Lien…kamu tidak berubah ya…?”
“Ben..upss frater Ben…kamu ada disini…dan menjadi frater ajaib sekali” kataku
“hahahahah ajaib katamu lien….yah ajaib memang, tapi sejak aku pergi meninggalkamu, aku terus-terusan berpikir, bahwa ternyata aku mencintaimu Lien…..” Ben diam sejenak…melihat ekspresiku yang terus-terusan tanpa henti menatap orang yang tiba-tiba memakai jubah putih di depanku
“aku mencintaimu Lien..tapi aku mengerti cintamu padaku tidak lebih dari seorang sahabat, sorang adik kepada kakak, karena kamu tidak punya saudara laki-laki…tadinya aku juga berpikir..mungkin kamu menolakku karena perbedaan suku ..pikiran picik yah lien…” aku menggangguk…
“lien…aku tetap mencintaimu…mencintaimu dengan cara yang lain..aku disini sekarang …aku akan tetap berada ditempatku, melayani Tuhan, dan akan menjadi pasangan-Nya seumur hidupku, tetapi aku akan membahagiakanmu dengan nyanyianku sekaligus aku memuji-Nya…begitu lebih indah kan Lien…? Dan aku berdoa selalu untuk kebahagianmu Lien… “
Aku menatap mata Ben, senyum ketulusan itu aku tidak meragukannya lagi.
Aku tersenyum,
“aku bahagia..ya ben..sungguh aku merindukan suara nyanyianmu yang menggetarkan hati itu “ kataku sambil menepuk pundaknya
“ben eh frater ben, sepertinya aku harus membiasakan diri untuk memanggilmu begitu, Cicil sudah kepanasan menunggu kita”
Yuk…kesana kataku.
=== the end====
*terinsipirasi oleh seorang pemazmur yang bernyanyi dengan hati dan membuat indah setiap misa*













bagus…..cinta memang harus memilih ya,…btw, aku juga sering mazmur di gereja, tp ga ada sih yg jatuh cinta pdku…he he he….!! Berkarya terus, ya..aku suka bgt ceritanya..!!
thx shinta ^_^