Tentang keseharian: Dirumahkan dan 20 French Window
(Ani Sinam)

Sekitar awal bulan Juli lalu, kantor saya merumahkan beberapa orang pegawainya. Saya termasuk salah satunya. Pengertian dirumahkan nggak sama halnya dengan PHK. Kita masih terhitung jadi karyawan di situ, hanya saja nggak diharuskan datang tiap hari. Dari lima hari kerja kita boleh datang 2 atau 3 hari saja, tergantung keputusan kepala bagian masing-masing. Kebetulan di departemen saya, hari datang kerja lebih longgar lagi dari itu. Kita tinggal tunggu panggilan dari kantor kalau ada pekerjaan yang membutuhkan kehadiran kita. Jadi bisa saja dalam 5 hari kerja itu, hanya 1 hari kita masuk atau bahkan tidak sama sekali. Kalaupun ada pekerjaan, kadang cukup dikoordinasikan lewat e-mail saja.
Terlepas dari adil-tidaknya keputusan yang perusahaan saya buat, ternyata ada beberapa berkah terpendam yang saya dapat dari kondisi ini.
Seorang sepupu yang hubungannya dekat dengan saya, mengalami musibah sekitar pertengahan Juli kemarin. Anak pertamanya meninggal dalam kandungan di usia 6 bulan. Sebelumnya sepupu saya sempat keluar-masuk rumah sakit karena kandungannya bermasalah. Karena tiba-tiba punya banyak waktu luang, saya jadi bisa menemani dia lebih lama dan sering.
Beberapa minggu kemudian, mama saya harus pergi ke Padang buat menjenguk seorang paman yang sedang sakit. Rencana ini cukup mendadak karena paman saya terus-terusan menanyakan keberadaan mama. Banyak pertimbangan yang menyebabkan mama hanya bisa pergi sendiri ke Padang. Lagi-lagi “perumahan” saya membawa berkah tersendiri. Aktivitas semua orang di siang hari berjalan normal seperti biasa berkat saya jadi penunggu rumah dan telepon yang baik.
Yang paling menyenangkan (dan mengenakkan) dari “perumahan” ini adalah brownies kukus. Maksudnya, saya jadi punya waktu buat belajar bikin brownies kukus. Kenapa brownies? Kenapa juga kukus? Karena (ternyata) bikin brownies itu gampang dan kita nggak punya oven, cuma punya dandang buat ngukus. Kaget juga waktu pertama kali berhasil bikin brownies capuccino empuk nggak pakai bantet. Luar biasa nikmat rasanya menikmati brownies buatan sendiri (maklumin aja ke-lebay-an saya).
Bulan puasa saya merasakan berkah indah dari dirumahkan. Selain bisa bangun lebih siang tanpa takut telat ke kantor, Alhamdulillah frekuensi sholat Tarawih saya bertambah tahun ini. Tahun-tahun lalu sih tarawihnya pas wiken aja. Itu juga kebanyakan di rumah. Entah mengapa saya kurang suka tarawih jama’ah di mesjid. Padahal jarak rumah ke mesjid cuma sekali bersin. Kebetulan di awal-awal Ramadan, mama bisa nemenin saya sholat Tarawih, ini juga yang meringankan langkah saya ke mesjid. Memang saya lebih menikmati sholat sendiri, terasa lebih akrab denganNya. Namun begitu saya juga bisa melihat keuntungan sholat jama’ah di mesjid. Bukan karena jumlah pahalanya yang lebih melainkan ada nilai sosial yang kita dapat dari situ. Saya yang kurang kenal tetangga pelan-pelan jadi tahu muka-muka mereka akibat sholat tarawih ini.
Saya selalu yakin saat satu pintu tertutup, ada dua puluh french window terbuka lebar. Mungkin baru satu french window yang saya temukan sekarang berarti Insya Allah masih ada 19 lagi yang menunggu untuk saya temukan.
Semoga.













bagi dong kuenya hihihi
boleh, boleh, mampir aja
[...] This post was mentioned on Twitter by Ani sinam, Mirda Soe. Mirda Soe said: @lovelyade, tuh link-nya Ani.. Baca deh.. RT@anifusili: http://bit.ly/10Xxbp [...]