merajai mimpi I

(Carlita Rozetta)

Matahari mulai menantang Nara, gadis kecil berumur 13 tahun, untuk pergi menjelajahi pasar. Nara memang seorang gadis penjual plastik kresek di pasar. Ah, tapi aku nggak akan bercerita mengenai betapa mengenaskannya hidup Nara yang hanya tinggal di sebuah gubuk berukuran 4 x 3.5 meter, mengenai hidupnya yang tidak pernah mendapatkan kebahagiaan yang umum dimiliki hampir semua orang di sekeliling kita, di sekeliling anda semua yang membaca post ini. Tidak juga mengenai betapa teganya khalayak menatap diri gadis kurus ini. Bukan itu yang akan aku ceritakan.

Cerita mengenai Nara ini baru saja dimulai ketika ia berhadapan dengan sesuatu yang selalu kita dengar di radio, televisi, mengenai sesuatu yang selalu kita baca di majalah, novel, yang selalu menyertai kehidupan kita. Sesuatu yang selalu diagung-agungakn setiap insan di dunia. Sesuatu yang disebut romansa. Cinta. Hahahahahahaha…betapa kata cinta sudah menjadi santapan kita sehari-hari. Kata-kata yang tak pernah lepas dari telinga. Sesuatu yang bisa membuat orang gila setengah mati. Sekali lagi, sesuatu yang disebut cinta.

Bau menyengat di pasar yang berasal dari bau amis ikan asin dan bau busuk tomat dan keringat orang-orang di pasar tak kunjung membuat Nara melenggangkan kakinya dari pasar itu padahal kantong-kantong plastik kresek di tangannya telah habis terjual. Uang receh sebanyak lima ribu rupiah juga sudah masuk ke dalam kantung celananya. Apalagi yang ia tunggu untuk segera meninggalkan pasar berbau busuk tersebut?

Ia berjalan menyusuri pedagang pisang dan sayuran di sepanjang pasar, duduk di tepi jalan yang dihiasi sisa-sisa sayuran yang telah membusuk dan menyiratkan bau ulat mati. Ia menanti sesuatu…
Selang beberapa waktu terlihat segerombolan siswa dan siswi berseragam SMP. Pakaiannya rapid an bersih. Yang ada hanya keringat yang menetes dari pelipis para siswa siswi tersebut.

Melihat kelompok siswa tersebut, Nara sontak langsung berdiri seakan ingin menyambut kumpulan siswa tersebut, tapi jangankan berkata, ia bahkan tidak sanggup bergerak selangkahpun dari tempatnya berdiri. Ia sedang jatuh cinta. Jantungnya berdegup keras. Telapak tangannya mulai basah oleh keringat dan dirinya mulai merasa sangat dingin dan sedikit pening yang disebabkan entah oleh sengatan matahari atau reaksi tubuhnya yang drastis.

Yang aku tau hanyalah kamu bernama Haris. Seandainya aku bisa lebih mengenalmu…
Nara hanya menatap kepergian Haris nanar. Menyedihkan. Bahkan anak brumur 13 tahun harus tersiksa karena cinta.

Siapa sangka Haris menoleh padanya. Menatapnya lama. Dan tersenyum.
“H…Hai…”, sebisa mungkin Nara bersuara. Suaranya agak parau karena ia memang jarang bicara.
“Hai!”, Haris menyapanya balik sambil berlalu.

Hari demi hari berlalu. Komunikasi antara Nara dan Haris tidak berlangsung cukup jauh. Mereka hanya “berhai-hai” ria dipinggir pasar. Tidak ada kemajuan. Kurang lebih dua minggu berlalu sejak sapaan pertama yang mereka lontarkan.

Lagi-lagi…waktunya Nara mencari-cari sosok Haris. Memang yang namanya sedang jatuh cinta, sesuatu yang membuat senang dan bahagia pastilah ketika kita melihat sosok yang kita kagumi walau hanya memandang punggungnya saja. Perasaan terkadang dapat tersampaikan walau tanpa harus terucap. Begitu yang terus Nara pikirkan. Dan memang hanya hal itu yang terpikirkan oleh Nara.

Haris dan teman-temannya muncul. Haris memang pemuda kelas 2 SMP yang terlihat paling ramah diantara teman-temannya yang lain. Ia tidak pernah mengernyitkan hidungnya, jijik, karena bau yang ditimbulkan pasar. Ia juga yang tidak pernah memandang Nara dengan pandangan merendahkan seperti yang dilakukan teman-temannya. Dan hanya dia yang mau menyapa Nara dengan sapaan hangat.

Sungguh pemuda yang santun.

Begitu pula yang dipikirkan Nara.

“Hai…”, kali ini Haris yang menyapanya duluan.
“Hai, Haris…”, sapa Nara kemudian.
Hampir saja Haris berlalu ketika ia menghampiri teman-temannya dan berputar kembali menghampiri Nara.
“Emmm…hai…”, kini Haris sudah berada pada jarak satu meter dari Nara.
Nara benar-benar gugup dan tak bisa mengeluarkan suaranya. “Y…y…ya?”
“Hahahahaha…santai aja”, kini tangan Haris menekan pundak Nara dan menjulurkan tangannya yang bebas. “Boleh kenalan kan?”
“Ah…”, Spontan Nara langsung mengelap tangannya pada baju usang yang ia kenakan dan spontan pula Haris langsung menariknya.
“Jangan begitu!”, ia sontak menempelkan tangannya ke telapak tangan Nara. “Nama aku Haris. Kamu udah tau nama aku ya? Tapi aku belom tau nama kamu nih…nama kamu siapa?”
“Ehm…nama aku Nara.”, Nara mulai merasa tidak nyaman. Memang tidak sedikit orang yang menyadari tingkah kedua bocah tersebut dan tidak mengalihkan tatapannya dari Nara dan Haris. Nara pun mulai bergerak-gerak gelisah.

Haris nampaknya paham betul apa yang dipikirkan Nara dan mengajak Nara untuk meninggalkan pasar, menjauh dari pasar menuju sebuah taman kecil.
“Duduk sini aja ya…”, tangan Haris memegangi tangan Nara.
“Iya..”

Dan dimulailah sebuah babak baru bagi Nara. Pelan-pelan…kata demi kata terungkap menyiratkan perasaan yang sedang berkecamuk dalam diri kedua bocah.

****

Go to part II

Tertarik dengan yang ini?

  • Behind the Scene: Thank God I Found You – The Series
  • Thank God I Found You Part 22- The End
  • Thank God I Found You Part 21
  • Thank God I Found You Part 20
  • Thank God I Found You Part 19
  • merajai mimpi III
  • merajai mimpi II
  • MIENEVIERE part 3 (tamat)
  • MIENEVIERE part 2
  • Mieneviere (part 1)

Comments (2)

EmeritaJune 30th, 2010 at 1:49 pm

hmm, bagus2 kayaknya ceritanya bakalan seru& ga ketebak. ditunggu part 2nya

FazarNeverDieJune 30th, 2010 at 6:46 pm

tatata gw suka bgt cerita’y…klo part 2′y lbh seru cerita’y,gw tambahin dweh chesse cake’y…hehehehe

Leave a comment

Your comment