merajai mimpi II
(Carlita Rozetta)
Sekian hari berlalu, Nara terus menghitung jumlah pertemuannya dengan Haris. Aku juga yakin tak sedikit dari kalian yang berpikir, “kenapa juga harus dihitung? kerajinan banget!!”…Yah, sekali lagi aku sadari kalian para pembaca, mereka sedang JATUH CINTA. Apapun menjadi penting. setiap pertemuan, setiap pembicaraan, setiap tatapan yang mereka lakukan satu sama lain, selalu memiliki arti.
Nara menghitung, serius, ia menghitung jumlah pertemuannya dengan Haris. Kini ia yakin bahwa hari ini seharusnya menjadi pertemuannya yang ke 63. Memang sudah lebih dari dua bulan mereka sering bertemu. tempat pertemuan mereka juga bukan tempat yang cukup romantis yang selalu dibayangkan semua gadis yang menanti pangeran hatinya. Hanya di pasar berbau amis dan busuk. Tapi mereka bahagia dengan semua itu.
Nara juga hanya gadis berumur 13 tahun yang belum paham benar bagaimana menangani dorongan batinnya untuk selalu bersama Haris. Singkat saja, tak lama memang bagi Nara untuk menyadari bahwa ia benar-benar sudah jatuh hati pada Haris. seakan ingin terus bersama dengan Haris.
Ia menunggu Haris di tempat biasa mereka bertemu, di ujung jalan dari pasar tersebut.
“Nara!”, Haris memanggil namanya sambil berlari menghampiri seakan tak sabar untuk langsung memandangnya dari dekat.
“Hei…”, suara Nara memang kecil tapi suara itu tetap terdengar oleh Haris.
“Tadi aku disekolah buat ini.”, Haris berkata sambil menyodorkan secarik kertas. Puisi ternyata.
Karya Haris
Wahai pemuda pemimpi,
yang lugu dan bingung
Bagaimana mungkin ia mengungkapkan suatu perasaan yang seharusnya ia goreskan di atas kertas?
Wahai pemuda pemimpi,
yang lugu dan bingung
Bagaimana mungkin ia memalingkan wajahnya dari wajah terindah yang pernah dipandangnya?
Wahai pemuda pemimpi,
yang lugu dan bingung
Bagaimana mungkin ia melengos pergi ketika ia sudah menemukan tujuannya?
Bagaimana mungkin ia menutup kedua telinganya ketika ia telah mendengar suara selembut beledu yang merajai sukmanya?
Bagaimana mungkin ia kedinginan ketika ia hangat surya memancar mengolesi kulitnya?
dan Bagaimana mungkin ia merasa terbakar ketika angin sejuk membelai tubuhnya?
Wahai pemuda pemimpi,
yang lugu dan bingung
Bagaimana mungkin ia mengiba ketika gadis itu telah menjadi permaisuri di hatinya?
Dan bagaimana mungkin ia menyadari bahwa ia adalah aku?
“Hehe…bagus, nggak? Aku bikin ini pas pelajaran bahasa Indonesia tadi…”, Haris menghentikan kalimatnya ketika ia menyadari wajah Nara yang memerah.
“Nara kenapa?”, seraya mengangkat dagu Nara.
Dilihatnya sesosok gadis kecil yang menangsi tanpa suara.
“Nara kenapa? aku salah ngomng ya? atau ada yang sakit?”
“Nggak apa-apa…ini puisinya bagus banget. Buat siapa emanknya?”
“Buat kamu. Bagus ya? Wah, aku berbakat ya ternyata. hahahahahaa…”
“Ah, makasih.”, Nara tersenyum canggung. Entah apa yang harus ia ucapkan ketika ia menerima secarik kertas berisi puisi dari seorang anak laki-laki.
“Aku nggak bisa ngarang, tapi nggak tau kenapa, karena kamu, aku jadi suka menulis. Hehehehe…nggak cocok ya buat cowok. kesannya feminim banget…tapi serius, kamu buat aku ingin terus menulis. Hehe”, Haris tersenyum.
Nara diam tanpa kata dan memandang Haris terpaku.
Dengan semua hal yang telah aku tulis dan aku ungkapkan, semua yang membaca cerita ini, pasti akan coba menebak akhir kisah mereka berdua. “Ah, pasti akhirnya Haris jadian sama Nara.” atau “Pasti Haris juga suka sama Nara”. Aku juga ingin sekali Haris seperti itu.
Keesokan harinya, masih di tempat yang sama pada jam yang sama. Nara menunggu Haris. Sambil mencoba memikirkan segala hal yang telah mereka lalui bersama. tentang obrolan yang telah mereka ungkapkan, tentang cerita yang tidak pernah habis, mencoba mengingat setiap gerakan mulus yang Haris lakukan, tentang sikap canggung yang unik khas anak kecil yang beranjak dewasa, tentang semuanya.
Nara juga mencoba memutar kembali rekaman dirinya dengan Haris yang paling menarik. Suatu saat ketika Haris memainkan gitarnya untuk Nara. Sebuah instrumental yang tidak Nara ketahui judulnya yang sangat lembut dan belum pernah ia dengar sebelumnya. Saat-saat ketika Haris bersikap sangat manis padanya.
Namun, kalau diingat-ingat Haris memang tidak pernah banyak bercerita tentang dirinya. Ia lebih suka bertanya mengenai kehidupan yang Nara lewati. bagaimana Nara sehari-hari. Dengan siapa Nara tinggal. Dimana ia tinggal. Bagaimana ia memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Semuanya selalu tentang Nara. Dan Nara memang selalu menceritakan dirinya tanpa kebohongan.
Nara memang lebih banyak diam dan hanya berkata ketika ia ditanya. Nara memang tidak pandai berbicara. Ia selalu gugup. Sedangkan Haris, ia sangat ceria. Ia selalu berbicara dan bercerita tentang segala sesuatu di dunia ini. semuanya. tentang hal kecil sekalipun.
“ah, hari ini, aku yang bakalan nanya tentang Haris. Aku juga ingin tau segala sesuatu tentang dirinya. Apa yang ia sukai, apa yang ia harapkan, dan apa yang sedang ia kerjakan. aku akan menanyakan semua hal tentang dirinya.”
Aneh memang. sudah lebih dari dua bulan mereka bertemu, Nara sama sekali tidak tahu menahu tentang diri Haris.
Tapi ternyata, hal itu tak kunjung terjadi. Haris tidak datang.
Nara mulai gelisah.
“Apa ia sakit? Atau dia sedang mengerjakan tugas sulit? atau sesuatu terjadi padanya?”, Nara pulang dengan tangan gemetar. “haris kemana?”. Siswa siswi SMP, tempat Haris bersekolah sudah pergi meninggalkan sekolah, tapi Haris tidak kunjung muncul. Ada keinginan dalam diri Nara untuk bertanya tentang Haris pada salah satu siswa SMP itu, tapi ia malah mengurungkan niatnya.
Mungkin ia sedang sibuk dengan urusan sekolahnya. Tapi kemarin ia tidak berbicara tentang masalah sekolahnya. Ah, mungkin dia lupa. Nara hanya bisa menerka-nerka.
Hari berikutnya, Nara kembali menunggu Haris dengan jantung yang berdebar lebih kuat dari biasanya.
Mana Haris? Mana Haris? mana Haris?, pikirnya.
Haris tidak muncul.
Nara mulai merasakan hal-hal yang tidak menyenangkan. Ia merasakan keinginan kuat untuk mengunjungi sekolah Haris. Tapi sekali lagi, ia mengurungkan niatnya. Ia takut harus berada di antara siswa-siswi kaya yang memandang rendah pada dirinya.
Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin bertemu Haris.
*****
bersambung ke part III. bagaimana akhir cerita mereka berdua? Semua ada di Part III.













haaaa gila,nich cerita bikin gw penasaran…>;<
traktir cheese cake ya