merajai mimpi III

(Carlita Rozetta)

Ini sudah hari ketiga, Nara tidak juga bertemu dengan Haris. Apa yang harus Nara pikirkan? Haris sakit? Haris pindah? Haris…meninggal? Ah, aku benci kalo harus membuat cerita yang tragis. ini kan kisah gadis berumur 13 tahun, kenapa harus berakhir tragis? hanya untuk memahami hati pembaca post ku ini? sekali lagi, ini kan hanya sebuah kisah biasa dari gadis berumur 13 tahun. realistis sedikit lahh.

Semua hal telah Nara pikirkan. Bagaimana kalau Haris sakit? haruskan ia menjenguknya ke rumahnya yang berada di kawasan elit? di kawasan yang akan menjadikan dirinya sebagai pecundang sejati? Bagaimana kalau ternyata Haris sedang sibuk dengan tugas sekolahnya? haruskah Nara menginjakkan kakinya ke sekolah Haris yang begitu megah dan cukup mewah untuk gadis seperti Nara, tempat yang akan menjadikan Nara seperti gadis paling bodoh? atau bagaimana kalau ternyata Haris harus pindah sekolah? Apakah Nara sudah menyiapkan hatinya untuk hal itu? Apakah ia akan rela kalau nantinya ia tidak lagi bisa bertemu dengan Haris? Apa yang harus Nara lakukan terhadap semua kemungkinan itu?

“Urgh, apa aku harus ke sekolah Haris untuk memastikannya?”, Nara perlahan-lahan melangkahkan kakinya menuju sekolah Haris.
Ia sedikit ragu untuk terus melangkahkan kakinya ke sekolah elit itu. tapi ia sangat penasaran akan apa yang terjadi pada Haris. jadilah ia menetap hatinya untuk pergi ke sekolah itu, tak peduli apa omongan orang nantinya. ia bertekad akan menutup telinganya dari cemoohan sebagian besar murid2 sekolah itu. ia bertekad.

Ah, ini dia belokan terakhir menuju sekolahnya. dan segera saja langkahnya terhenti. bukan…bukan…bukan karena ia kembali mengurungkan niatnya menuju sekolah itu, tapi karena pada akhirnya ia mendapati sosok yang ia cari. Haris!

Ragu-ragu antara ingin mendekatinya atau terpaku memandangnya sampai akhirnya Haris menyadari keberadaannya.

Haris di sana. Di depan pintu sekolahnya. Dan ia bersama teman-temannya. Mengobrol penuh canda yang membuat Nara sedikit cemburu. Jadi, apa alasannya Haris tidak menemui dirinya hari ini, kemarin, dan kemarin sebelumnya? Itu masih menjadi pertanyaan.

Nara masih diam terpaku di tempatnya. ia sungguh tidak bisa bergerak melihat Haris yang sedang tertawa girang bersama teman-temannya. Ia pun berbalik dan pulang dengan perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Marah? kecewa? sedih? sendiri dan dingin? merasa dihiraukan? Semuanya.

“Untuk apa aku mengkhawatirkan dirinya kalau pada akhirnya aku hanya mendapati dirinya sedang bersenang-senang dengan temannya?”
Kembali lagi, airmata mengalir di pipi Nara. Kembali lagi, ia menangis dalam diam. Ia menangis hingga tertidur dalam posisi duduk di ranjang bambunya.

Ah, gadis malang…

Esok harinya, hari-hari yang biasa kembali dijalani oleh Nara. Tidak banyak berbeda dengan hari-hari yang pernah dilewatinya, hanya saja ia harus menjalaninya tanpa Haris. Nara memang tidak lagi mengkhawatirkan Haris, namun dalam hatinya ia masih tetap berharap dapat melihat sosoknya sekali lagi. sosok yang paling berharga di antara begitu banyak warna pemandangan yang ia lihat. ia tidak lagi banyak berharap.

Yap, penjualan kresek hari ini telah selesai, saatnya Nara pulang ke rumah. seharusnya. ketika ia hendak meninggalkan pasar, ia akhirya menangkap sosok paling brsinar di antara kerumunan murid2 SMP, seseorang yang selalu ia nantikan. seseorang yang cukup memberinya motivasi untuk trus berjuang mengarungi hidup, HAris.

“Apa yang harus aku lakukan? apa aku harus memanggilnya? tapi ia bersama teman-temannya. apa? apa yang harus aku lakukan?”, pikiran Nara terus berkecamuk. “Ah, tapi aku juga nggak mau merasakan perasaan ini terus.”

Perasaan yang berat, yang membuatnya sulit bernafas di kala pagi, perasaan yang membuatnya selalu menyunggingkan senyum palsu, perasaan yang membuatnya bertanya2, perasaan yang membuatnya selalu mengira2 dan menerka2, perasaan yang membuatnya hidup hampa dalam dirinya.

“Haris!”, akhirnya Nara memutuskan.

Haris tidak langsung menoleh tentu saja.

Nara tetap gigih memanggil Haris. “Haris! Haris!”

Akhirnya Haris menoleh. “Nara? Eh…Hei…”

Apa yang membuatnya ragu? pikir Nara. “Eh hemm…kamu kemana aja kemarin-kemarin? koq aku nggak pernah ngeliat kamu lagi?”

“Ah, maap yaaa…hehehehehehe…abis, aku nya kan juga sekolah. sibuk. hehehehe…”

Lho, cuma itu? cuma itu? Lega? tentu saja aku nggak akan pernah lega dengan hanya mendengar jawaban sepeeti itu. “Ah..aku…jadi sibuk sekolah ya?”, kembali lagi, air matanya mengalir. kali ini, lebih deras. dan cukup deras.
“Lho, Nara…kenapa? Maafin aku. aku udah bikin salah ya? kenapa? aku salah apa? gara2 aku nggak nemuin kamu kemarin kemarin?”, Haris serta merta mengangkat tangannya dan melipatnya ke belakang kepalanya. “Ayolah Naraaaa…hidup aku kan nggak cuma berputar tentang kamu aja. masih banyak juga hal yang ingin aku lakukan selain ngobrol dengan kamu kan..”
Nara menarik jarinya ke bibir Haris. Ia mengerahkan keberaniannya pada beberapa kalimat yang akan ia lontarkan.”Ssst…kamu tau? dari berjuta gambar pemandangan dan warna yang aku lihat selama ini di muka bumi ini, cuma sosokmulah yang paling bersinar dan menarik perhatianku. Dan dari begitu banyak aroma tubuh yang aku hirup di dunia ini, hanya aroma tubuhmu lah yang paling ingin kusimpan. Tidak butuh waktu lama untukku menyadari bahwa aku jatuh cinta padamu.”
Haris terdiam dan terkesiap tanpa kata. Raut wajahnya kaget bukan main.
Tapi ia tetap saja belum berucap.
Diam.
Diam.
Diam.
“Aku memang hanya seorang anak perempuan miskin yang kerjanya hanya berputar-putar di pasar yang penuh dengan bau busuk dan amis, yang penuh dengan kotoran dan bangkai, yang hanya menjual kresek hitam kumuh, tapi aku juga manusia yang diciptakan dengan perasaan. dan inilah perasaanku padamu…”
“Uhh…Nara…”, Haris memalingkan wajahnya.
“Kenapa Haris? bagaimana perasaan kamu? apa kamu juga memliki perasaan yang sama denganku? bagaimana dengan puisi yang kamu tulis waktu itu?”
“Aku ngga pernah mengira kalau kamu bakal terlena dengan puisi yang aku kasih waktu itu…”
“terlena?? YANG BENAR SAJA!!?? aku sudah menyukaimu sebelum kamu memberikan puisi itu? bagaimana mungkin hanya karena sekedar puisi aku jadi menyukaimu? aku menyukaimu karena kamu adalah kamu. aku selalu mencari sosokmu.”, air mata Nara terus membanjiri pipi mungilnya.
“Maaf Nara…tapi aku memberimu puisi itu hanya karena kamu temanku. mengenai isi yang terkandung di dalamnya, aku nggak mengira kalau kamu akan….begini jadinya. aku…benar2 minta maaf padamu.”
“Seharusnya aku menyadarinya dari awal…”, Nara menangis dan menangis. entah kata apa yang tepat untuk menggambarkan kesedihannya itu.

Ya, bagaimana mungkin setelah berhari-hari ia menanti, khawatir, menerka, dan terus berharap dalam hari, pada akhirnya ia harus menelan sebulat kekecewaan dan menerima siraman kepedihan dalam hatinya.

Aku sama sekali nggak bermaksud menjadikan Haris jahat dalam hal ini, hanya saja, Haris tidak paham akan perasaannya itu. bukan karena jahat, ia melakukan ini justru karena ia adalah pemuda yang terlalu baik…sayang sekali harus aku akhiri dengan cara ini. Maaf telah membuat kalian kecewa.

Haris hanya bisa memandangi Nara, membiarkan Nara menangis, berduka akan kehancuran hatinya. Tapi paling tidak ia masih memiliki hati untuk berbagi cinta, namun, tidak ada lagi yang namanya cinta pertama bagi Nara.

“Makasih Haris.”

“Nggak apa-apa, Ra. Aku akan selalu sayang padamu. Kamu sahabatku.”

****

Tamat

thanks for reading this
~still amateur…

Tertarik dengan yang ini?

  • merajai mimpi II
  • from “Honey Bee”
  • Mimpi Berhadiah
  • surat untuk mama
  • Mengenang 12 Tahun Lalu, Saat Sang Pahlawan Pulang
  • Jika Kau Cinta Dia (2)
  • suatu sore saat kita bercerita dalam diam
  • Potret Sang Ayah
  • Cinta Pertamaku
  • Aku belajar dari anjingku

Comments (5)

dianJuly 1st, 2010 at 10:31 am

ok ta, ini hampir gw banget alur critanya -______-

dianJuly 1st, 2010 at 10:33 am

anyway, lanjutin nulisnya yaa ta !
you’ll be a great writer someday :)

ika agungJuly 1st, 2010 at 12:46 pm

hai, carlita.. aku ika.. ank buah pa riza.
ehmmm… novel nya bagus..
tapi boleh kasih saran ga??

aku suka crta nya, tapi koq rada bertele-tele ya… mungkin penggambaran mengenai ‘perasaan hati’ nara nya.
pi salutttt banget dah bsa bkn cerita..
klimaks nya kurang ‘gregetan’…

maaf ya, klo dicomment kan.. pi bagus lho cerita nya.
:D

ika agungJuly 1st, 2010 at 1:09 pm

dear carlita, ini ika… tmn ny pa riza..

wuaaahhh,,, crta ny bagus… pi blh ksh saran ga? sebagai pembaca…

koq kyny crta ny bertele-tele ya… mengenai penggambaran ‘nara’ nya…

pi bagus koq… tetep semangat ya….

Carlita RozettaJuly 2nd, 2010 at 8:26 am

terima kasiiihhh dian, n tante ika.
terima kasih sarannya. semoga saya bisa bikin tulisan yang lebih baik dari ini
*btw, koq tante ika tau sih aku anaknya pak riza?

Leave a comment

Your comment