Tulisan Oleh Agnes Bemoe

LILY, SI LONCENG KECIL // LILY, THE LITTLE SILVER BELL

No Comments »

December 30th, 2011 Posted 8:48 am

LILY, SI LONCENG KECIL

“Kukuruyuuuuuuk!!!”
Suara Pak Falk Ayam memecahkan keheningan pagi. Sedetik kemudian keriuhan terjadi di peternakan Kakek Ars. Kakek Ars menyiapkan rumput dan dedak untuk ternak-ternaknya. Pak Bo Sapi bersiap-siap untuk membajak ladang. Ibu Falk Ayam memeriksa telur-telurnya. Sementara itu, keluarga Pak Alexi Kuda sedang meluruskan kakinya, siap untuk menarik kereta.
Setiap pagi Kakek Ars dan seluruh peternakan sangat sibuk! Seluruhnya? Tidak. Ternyata ada seseorang yang hanya bisa menonton semua kesibukan itu. Dia adalah Lily, si lonceng kecil. Lily berusaha menawarkan bantuannya pada seisi peternakan. Namun, mereka kelihatannya tidak membutuhkan sebuah lonceng kecil seperti Lily.
Jadi, setiap pagi Lily hanya bisa menonton semua kesibukan di peternakan Kakek Ars itu.

Suatu malam, seluruh penghuni kandang dikejutkan oleh kedatangan sebuah keluarga. Seorang lelaki kelihatan sedang menuntun istrinya masuk ke dalam kandang. Istrinya menggendong anak mere…

Posted in Agnes Bemoe

Singapura Dimakan Api

No Comments »

November 30th, 2011 Posted 1:09 pm

Geliat.
Wajah tanpa muka.
Semburan api
Pecah di tubirnya
Kaki melangkah,
Panjang.
Langit
Dalam genggaman

Singapura dimakan api

Berhembus jauh
Dari Bukit Timah
sampai pucuk-pucuk Serangoon
Helaan nafas
Derik roda-roda jiwa
Menyambar cepat
-    Nasib, sungguh rapi terlipat  –

Singapura dimakan api

Debu diri
Terhempas
Di sudut
Novena

Novena Church, Singapura, 26 November 2011
Agnes Bemoe

Posted in Agnes Bemoe

NINO KENA MARAH

No Comments »

November 8th, 2011 Posted 3:14 pm

Nino berjalan sambil menghentak-hentakan kakinya dengan kesal. Air mukanya masam dan bibirnya cemberut. Ia berjalan menyusuri halaman gereja, membiarkan papa dan mama di belakangnya.
“Biar saja! Aku tak mau lagi ke gereja bersama papa dan mama!” pikir Nino kesal.

Karena asyik dengan pikirannya sendiri, tanpa sadar Nino menabrak seseorang. Ah, ternyata Frater Edu. Frater Edu sering berkunjung ke lingkungan Nino dan memimpin doa di sana.
“Maaf, Frater!” Nino terlonjak kaget.

Frater Edu tertawa.
“Kenapa engkau, Nino, sampai-sampai tidak lihat jalan…”
Nino langsung cemberut lagi.
“Huh! Aku jengkel pada mama dan papa!”
“Lho! Kok jengkel?”
Frater Edu mengajak Nino duduk di sebuah bangku beton di halaman gereja.

“Kenapa jengkel pada orang tuamu, Nino?” Tanya Frater Edu lagi.
“Frater tau nggak, mama dan papa ‘tu nyebelin!” Nino masih menumpahkan kekesalan hatinya.
“Nyebelin? Kenapa?”
“Masak aku tadi dimarahi sama mama dan papa! Padahal aku nggak nakal. Aku cuma  ngobrol aja sama Hans. Masak seper…

Posted in Agnes Bemoe

BITTER SWEET OF A CUP OF A TEA

No Comments »

November 3rd, 2011 Posted 2:37 pm

Kadangkala, cinta kita tidak salah, hanya saja tersangkut pada tempat, waktu, dan orang yang kurang tepat. Inilah rupanya yang hendak diangkat oleh buku kecil bertajuk “A Cup of Tea for Complicated Relationship”, terbitan Stiletto Book Publisher ini. Buku ini berisi 20 kisah nyata tentang pahit manisnya terjatuh dalam hubungan yang rumit (complicated relationship). Ada yang karena perbedaan agama, suku, atau bahkan bangsa. Ada juga yang terlibat ke dalam cinta segitiga. Di bagian lain ada yang terjebak ke dalam pernikahan yang rapuh. Dan berbagai permasalahan yang membuat pelakunya seolah dipaksa untuk makan buah simalakama.
Diawali dengan kisah cinta beda agama berjudul “Selalu Tersenyum, Meski Tanpamu” buku ini mengupas habis keperihan, bingung, kemarahan, dan semua perasaan-perasaan yang muncul dari orang-orang yang terjebak ke dalam hubungan cinta yang rumit.
Isi cerita-ceritanya jelas menggugah. Pembaca diajak untuk memahami sudut pandang masing-masing orang yang mengalami tid…

Posted in Agnes Bemoe

For the Love of Mom

No Comments »

November 2nd, 2011 Posted 11:23 am

Sebuah kumpulan kisah nyata tentang IBU, berisi 40 cerita yang sangat menggugah!

“Boneka Baruku” di “For the Love of Mom”
Aku sampai ternganga-nganga! Nyaris aku tak mengenali boneka lamaku! Boneka itu telah disulap sedemikian rupa, sampai rasanya aku lupa pada bentuk lamanya. Dan, aku langsung tahu siapa yang menjadi “ibu peri” yang menyulap semua ini.

Aku lari mendapati ibuku. Aku lupa pada kemarahanku. Aku bahkan lupa bahwa aku belum mandi apalagi menggosok gigi. Aku melompat dan menciumi ibuku! Aku ingat, ibuku waktu itu hanya tertawa-tawa sambil mengangkat aku ke pangkuannya.

Sungguh, sampai setua ini, belum bisa kulupakan sentuhan magic ibu pada bonekaku! Setelah aku besar baru aku paham: bukan, bukan pada bonekanya, tapi pada kreativitas ibu yang menyulap “sampah” menjadi sesuatu yang lebih cantik dan lebih indah (ah, andai aku juga bisa sekreatif ibu dalam menghadapi anak-anakku…).

Ibuku pasti sudah lupa pada peristiwa itu. Tapi bagiku, itu adalah salah satu peri…

Posted in Agnes Bemoe

←Older