Tulisan Oleh Agnes Bemoe
Audisi Antologi Puan Melayu 2012
No Comments »
Syarat dan KetentuanApril 17th, 2012 Posted 10:44 am
Dicari 18 naskah cerita pendek bertema Budaya Melayu Riau dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Cerpen harus mengangkat Budaya Melayu Riau (daratan maupun kepulauan), tidak hanya dalam setting tetapi juga dalam tema. Contoh Budaya Melayu Riau: Pantun, Syair, makanan, pakaian, tari-tarian, ataupun flora-fauna. Bisa juga berupa peristiwa alam/budaya khas Riau: Bono, Pacu Jalur, Bakar Tongkang.
2. Cerpen harus mengangkat masalah Pemberdayaan PEREMPUAN; berangkat dari akar budaya Riau dan berperspektif universal.
3. Memperhatikan target pembaca. Kumpulan cerpen ini direncanakan untuk pembaca wanita usia 20 tahun ke atas; mahasiswi, ibu rumah tangga, wanita karier.
4. Ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan memperhatikan ketentuan tentang EYD.
5. Panjang cerpen 1.000 - 2.500 kata (4 – 10 halaman).
6. Diketik dengan font Times New Roman 12, s...
Posted in Agnes Bemoe
SIRIH BELANDA
No Comments »
February 9th, 2012 Posted 3:50 pm
Dia mengamati daun-daun sirih belanda yang menjulur memenuhi taman kecil di belakang rumahnya. Daunnya yang menghijau dengan semburat kuning di beberapa tempat sangat segar dipandang mata. Dia sungguh tak menyangka tumbuhan itu akan bertahan hidup.Beberapa waktu yang lalu, tumbuhan itu tertimbun bahan bangunan. Tidak sekedar satu atau dua buah batu bata, tetapi setumpuk beton bongkaran bangunan. Ya, ia harus merenovasi rumahnya. Akibatnya, beberapa tanaman kesayangannya harus dikorbankan, termasuk sirih belanda yang kala itu masih baru saja ditanamnya. Dia merasa sayang sebenarnya. Sirih belanda memang tanaman yang tidak mahal. Dia bisa saja membelinya lagi. Namun, yang satu ini berbeda. Sirih belanda itu hadiah dari sobatnya sendiri.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Ia sudah melupakan kesedihannya kehilangan tanaman dari sahabatnya. Namun, di suatu pagi yang cerah ia melihat keajaiban yang tak berani diharapkannya: sepucuk kecil sirih belanda muncul dari sisa-sisa bahan bangu...
Posted in Agnes Bemoe
LILY, SI LONCENG KECIL // LILY, THE LITTLE SILVER BELL
No Comments »
LILY, SI LONCENG KECIL
“Kukuruyuuuuuuk!!!”
Suara Pak Falk Ayam memecahkan keheningan pagi. Sedetik kemudian keriuhan terjadi di peternakan Kakek Ars. Kakek Ars menyiapkan rumput dan dedak untuk ternak-ternaknya. Pak Bo Sapi bersiap-siap untuk membajak ladang. Ibu Falk Ayam memeriksa telur-telurnya. Sementara itu, keluarga Pak Alexi Kuda sedang meluruskan kakinya, siap untuk menarik kereta.
Setiap pagi Kakek Ars dan seluruh peternakan sangat sibuk! Seluruhnya? Tidak. Ternyata ada seseorang yang hanya bisa menonton semua kesibukan itu. Dia adalah Lily, si lonceng kecil. Lily berusaha menawarkan bantuannya pada seisi peternakan. Namun, mereka kelihatannya tidak membutuhkan sebuah lonceng kecil seperti Lily.
Jadi, setiap pagi Lily hanya bisa menonton semua kesibukan di peternakan Kakek Ars itu.
Suatu malam, seluruh penghuni kandang dikejutkan oleh kedatangan sebuah keluarga. Seorang lelaki kelihatan sedang menuntun istrinya masuk ke dalam kandang. Istrinya menggendong anak mere...
December 30th, 2011 Posted 8:48 am
Posted in Agnes Bemoe
Singapura Dimakan Api
No Comments »
Geliat.November 30th, 2011 Posted 1:09 pm
Wajah tanpa muka.
Semburan api
Pecah di tubirnya
Kaki melangkah,
Panjang.
Langit
Dalam genggaman
Singapura dimakan api
Berhembus jauh
Dari Bukit Timah
sampai pucuk-pucuk Serangoon
Helaan nafas
Derik roda-roda jiwa
Menyambar cepat
- Nasib, sungguh rapi terlipat –
Singapura dimakan api
Debu diri
Terhempas
Di sudut
Novena
Novena Church, Singapura, 26 November 2011
Agnes Bemoe
Posted in Agnes Bemoe
NINO KENA MARAH
No Comments »
November 8th, 2011 Posted 3:14 pm

Nino berjalan sambil menghentak-hentakan kakinya dengan kesal. Air mukanya masam dan bibirnya cemberut. Ia berjalan menyusuri halaman gereja, membiarkan papa dan mama di belakangnya.
“Biar saja! Aku tak mau lagi ke gereja bersama papa dan mama!” pikir Nino kesal.
Karena asyik dengan pikirannya sendiri, tanpa sadar Nino menabrak seseorang. Ah, ternyata Frater Edu. Frater Edu sering berkunjung ke lingkungan Nino dan memimpin doa di sana.
“Maaf, Frater!” Nino terlonjak kaget.
Frater Edu tertawa.
“Kenapa engkau, Nino, sampai-sampai tidak lihat jalan…”
Nino langsung cemberut lagi.
“Huh! Aku jengkel pada mama dan papa!”
“Lho! Kok jengkel?”
Frater Edu mengajak Nino duduk di sebuah bangku beton di halaman gereja.
“Kenapa jengkel pada orang tuamu, Nino?” Tanya Frater Edu lagi.
“Frater tau nggak, mama dan papa ‘tu nyebelin!” Nino masih menumpahkan kekesalan hatinya.
“Nyebelin? Kenapa?”
“Masak aku tadi dimarahi sama mama dan papa! Padahal aku nggak nakal. Aku cuma ngobrol aja sama Hans. Masak seper...
Posted in Agnes Bemoe












