Tulisan Oleh Agustina Ika

Dilarang Jatuh Cinta

No Comments »

March 11th, 2011 Posted 11:40 am

Jangan bersamaku jika kau tak mau tinggal,

Sepertinya tak ada waktuku untuk bermain-main lagi dengan hati

Bahkan memiliki hatipun aku sudah tak tahu

Yang aku rasa, aku senang bersamamu

Mengamati senyummu

Ah, sudah jangan bilang lagi

Jangan katakan hal-hal yang muluk itu

Sedang tak ingin bangun pada mimpi itu

Kamu membuatku berangan-angan lagi

Tolong hentikan, karena mungkin itu bukan kamu

Yang akan menemaniku menikmati senja

Yang akan berjalan di pinggiran pantai denganku

Saling menebak bentuk awan

Aaahh… indahnya jika dengan dia yang sudah diputuskan

Posted in Agustina Ika

Untuk Sebuah Balasan

No Comments »

March 11th, 2011 Posted 11:40 am

Jadi kenapa kamu harus bertanya lagi, atau menatapku dengan tatapan tak percaya.Aku sudah mengatakan ‘Ya, pergilah! Jangan menoleh lagi, aku akan tetap menyayangimu disini’.Kamu masih tidak percaya jika aku tak mengharapkan balasan darimu. Aku sudah menghabiskannya. Begitu kenyang dengan harapan-harapan yang begitu indah. Hingga mau muntah saat aku membuka mata. Jadi aku memutuskan untuk menghentikan harapan. Tokh, kamu juga tak mau tahu kan.

Cinta ini cinta yang tak perlu mendapatkan balasan. Hanya perlu kurasa saja.Menikmati tiap detik aku merindukanmu dan mendambakan hangatnya genggaman tangan itu.Bukan karena kamu terlalu baik atau aku yang terlalu terangMungkin hanya jalan kita yang tak bertemu ujung

Cinta yang tak perlu mendapatkan balasan cinta’

‘Kamu nanti pasti ‘kan menyadarinya saat aku tak lagi ada

Inspired by Cinta Mati 3

Posted in Agustina Ika

-untuk aku saja-

No Comments »

March 11th, 2011 Posted 11:40 am

Karena rindu memiliki nama,
mengeja seperti penyihir merapal mantra
Maaf, karena sepertinya aku mulai mati rasa
Lupa pada luka yang mengering dengan sendirinya

Sudah kuputuskan hanya melihatmu dari tempatku berdiri,
berteman dengan hening dan secangkir kopi
mendengarkan tiap degup jantung bercampur dengan hembusan angin
sesekali dengan bunyi keyboard dan perbincangan mereka di ruang sebelah

Ingin mencukupkan gerakmu dalam ruang pikirku
Yang berlomba dengan semua mimpi dan doaku
Tidak boleh lebih, karena tak ada hakmu untuk berada disitu
Tak ada yang mampu menahanmu
Tak ada yang bisa melarangmu
Seperti aku yang masih begitu menikmati tiap gerak dan tawamu

Sebut aku gila, tak tahu malu mungkin
Dengan penuh syukur pada Ia, sang Maha pemberi Rasa
Biar kuresapi dalam-dalam
seperti desau angin yang melintas
seperti udara yang membawa wangimu

‘Kangenku’ memang tak tahu malu
jadi biarkan aku menikmatinya dalam setiap waktuku
kembali merapal mantra
mengeja asa demi asa

Seperti hantu tak terlihat
tak bernama
tak berwujud
dan begitulah aku
tak perlu kau rasa
tak perlu kau cari
karena hanya ingin kunikmati sendiri
saat ini

jika tiba janji itu
tolong bangunkan aku

Posted in Agustina Ika

Hujan Putih

No Comments »

March 11th, 2011 Posted 11:40 am

Menikmati hujan, merasakan hembusan angin yang sampai ke wajahku
Hujan kali ini berwarna putih
Putih abu-abu
Tak ada bayanganmu, apalagi keberadaanmu
Aku mengumpulkan keberanianku
Untuk merindukanmu dan berdoa kaupun begitu
Lewat butiran hujan yang lewat hari ini
Aku mendoakan keselamatanmu
Menyampaikan rasa yang mulai tak mampu kubendung
Aku mau kamu

Tags:
Posted in Agustina Ika

Sedang Bosan Menunggu

No Comments »

September 2nd, 2010 Posted 9:59 am

(Agustina Ika)

Sedang tidak mau bertemu denganmu. Karena ternyata kenyataan itu begini pahit rasanya. Kenapa belum juga aku mau memuntahkannya, terus kukulum hingga naik semua asam empedu. Berliur dan hampir tumpah. Otakku begitu tumpul untuk terus mempertahankanmu. Mengimpikan bahwa pil kina memang semanis madu. Membayangkan kau akan menemaniku, dan mengecup lembut keningku. Sekali lagi aku harus bangun, bahwa aku hanya mampu menantapmu dari tepi. Menikamati senyum dan keberadaanmu. Tawamu menjadi melodi baru untukku mesti makin lama berbunyi seperti suara besi yang menyakiti telinga. Adamu bagai candu yang kemudian membuatku mati keracunan.
Menunggu aku benar-benar bangkit dan berlari, meninggalkan tepi dan menyusun cerita baru. Kamu, aku dan langit.

Tags:
Posted in Agustina Ika

←Older