Tulisan Oleh Albertus Goentoer Tjahjadi

Ulat (Yang) Tidak Mau Menjadi Kupu-Kupu

No Comments »

March 3rd, 2011 Posted 1:41 pm

Goentoer

Pagi baru saja meninggalkan peraduannya. Di langit, matahari bersinar terik, memancarkan cahayanya dengan riang ke seluruh muka bumi. Di daun pohon angsana di pinggir jalan itu, dua ekor ulat, Ri dan Ro, sedang bercengkerama sambil sesekali mengunyah dedaunan di mulut mereka.

 

“Betapa beruntungnya aku ini, setiap hari hanya makan dan tidur saja,” kata Ri dengan penuh sukacita.

 

“Iya, tapi kadang aku merasa sedih, akibat perbuatan kita, daun-daun itu jadi rusak, penuh lobang, dan tidak menarik lagi,” timpal Ro.

 

“Loh, bukankah itu sudah seharusnya. Daun-daun itu kan makanan kita, jadi kita punya hak untuk melakukan hal itu!” jawab Ri dengan nada tinggi.

 

“Hehehe… sobat… kita memang punya hak… tapi bukan berarti kita menjadi rakus dan melakukan hak kita dengan semena-mena. Coba, sekali-kali kau berhenti mengunyah dan diam barang sejenak, pasti akan kau dengar rintihan daun-daun itu,” kata Ro dengan sabar.

 

“Ah… peduli amat!” ujar Ri, ketus.

 

Di tengah pembicaraan mereka, tiba-tiba seekor kupu-kupu terbang melintas. Kupu-kupu itu terlihat sangat indah. Sayapnya kuning keemasan dengan totol-totol hitam di bagian bawah. Badannya terlihat gagah dengan kaki-kaki yang penuh tenaga. Kupu-kupu itu hinggap di sebuah dahan, tak jauh dari Ri dan Ro.

 

”Wahai kupu-kupu, darimana asalmu? Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Ro sambil tak henti-hentinya mengagumi keindahan kupu-kupu itu.

 

”Eh.. oh… kau ulat. Aku berasal dari jauh. Aku ke sini karena mencari bunga-bunga yang sedang bermekaran. Aku hendak membantu penyerbukan bunga-bunga itu agar bisa menghasilkan buah dan biji untuk berkembang biak,” jawab kupu-kupu sambil menyeka keringat di dahinya.

 

”Ckckckckckck… rajin amat. Kenapa kau mau-maunya melakukan hal semacam itu? Bukankah itu pekerjaan yang bodoh!” kata Ri sambil tertawa.

 

”Bodoh katamu! Bagiku ini adalah pekerjaan yang mulia. Bukankah di dunia ini kita harus saling tolong-menolong,” jawab kupu-kupu itu.

 

”Ah… tetap saja bagiku itu sebuah kebodohan. Ngapain menyusahkan diri sendiri untuk kepentingan pihak lain. Mending kayak aku… makan.. tidur… makan… tidur… yang lain mah… EGP,” sambar Ri, tergelak.

 

”Ri, apa yang kau katakan itu? Menurutku apa yang dilakukannya memang mulia dan patut untuk dicontoh,” kata Ro sambil memandangi Ri. ”Kupu-kupu, aku ingin menjadi sepertimu, aku ingin bisa terbang dan membantu bunga-bunga itu,” lanjutnya.

 

”Sabarlah sobat, aku yakin, sebentar lagi engkau pasti juga akan menjadi seperti aku. Yang mesti kau lakukan hanyalah bermatiraga dan diam dalam keheningan. Sabar dan ikhlas sampai waktunya tiba,” jawab kupu-kupu sambil mengepakkan sayapnya. ”Selamat tinggal sobat,” sambung kupu-kupu itu.

 

”Hehehe… matiraga, diam, sabar, ikhlas… ah… semuanya hanya omong kosong. Pokoknya aku tidak mau menjadi kupu-kupu!” tegas Ri.

 

Dan hari demi hari terus berlalu. Ro yang mengikuti saran kupu-kupu terus bersabar di dalam keheningan. Sementara Ri semakin membabi buta dalam memuaskan nafsunya. Ia tak peduli dengan rengekan atau tangisan menyayat dari para daun. Akhirnya, karena terlalu rakus, Ri mati dengan perut terbelah dan segala yang dimakannya berceceran menebarkan bau busuk yang begitu menyengat.

 

***

 

Tetap menjadi ulat atau berubah menjadi kupu-kupu yang indah adalah pilihan hati nurani. Keduanya tentu membawa konsekwensi masing-masing yang harus dipertanggungjawabkan. Satu hal yang pasti… hidup ini terlalu singkat… hidup ini tidaklah abadi. Maka, membuat orang lain tersenyum bahagia kiranya akan lebih baik dan lebih indah daripada membuat orang lain bercucuran air mata karena luka yang sudah kita torehkan. Marilah… mulai saat ini… kita buang jauh-jauh segala keegoisan dalam diri kita… buang jauh-jauh segala pemikiran bahwa hanya diri kitalah yang terbaik, yang paling benar, yang paling berhak, yang paling bisa memutuskan… Kita tidaklah hidup sendiri di dunia ini… masih ada orang lain di sekitar kita… mereka juga perlu didengarkan, dipahami, dan dijaga perasaannya… Oleh karena itu, jadilah berkat satu sama lain.

 

Peduli?

No Comments »

August 13th, 2010 Posted 9:00 am

(Albertus Goentoer Tjahjadi)

Terasa sangat (sangat) menyedihkan ketika melihat kenyataan ini: seorang ibu melakukan aksi bakar diri dengan mengajak kedua anaknya serta sehingga akhirnya dua anaknya tidak terselamatkan karena luka bakar yang mencapai 90%. Juga seorang ibu muda yang tega melindaskan anaknya di jalan raya. Semua karena satu alasan: kesulitan ekonomi, yang menjadikan mereka putus asa dan berani mengambil keputusan yang nekad dan di luar kewajaran.

Pertanyaan yang kemudian muncul: salah siapa jika semua itu akhirnya terjadi? Apakah semata-mata karena kesalahan sang ibu yang tidak mampu menanggung beban kehidupan keluarganya sehingga mencari jalan pintas? Bagaimana, jika sebenarnya ia sudah berusaha ke sana ke mari tetapi tidak ada yang mau peduli dengan kehidupannya? Bukankah sebenarnya kita juga turut andil (secara tidak langsung) terhadap peristiwa itu?

(more…)

Hapeku Tuhanku?

1 Comment »

July 9th, 2010 Posted 9:54 am

(Albertus Goentoer Tjahjadi)

Namanya Joni. Pemuda tanggung anak Pak Wira. Juragan tempe di kampung Sedayu. Orangnya nyentrik dan ‘demen’ sekali dengan yang namanya hape. Setiap ada hape keluaran terbaru ia selalu buru-buru pengen memilikinya. Prinsipnya: aku harus memilikinya terlebih dahulu daripada orang lain, tidak peduli berapa pun harganya.

Kemana-mana, Joni selalu membawa hape kesayangannya yang berjumlah 3 buah. Satu dikalungkannya di leher dan dua lagi ditaruh di saku celananya. Setiap hari ia selalu berkutat dengan tombol-tombol hapenya. Entah menelepon, sms, cari-cari informasi, atau sekedar update status di sebuah situs jaringan sosial yang saat ini lagi digandrungi banyak orang. Tanpa itu semua, Joni merasa hidupnya kosong, sepi, lagi hampa.

(more…)

Kisah Seekor Ulat

No Comments »

June 7th, 2010 Posted 10:19 am

(Albertus Guntur)

Seekor ulat terlihat di ranting pohon jambu. Tubuhnya yang kecoklatan diam tak bergerak. Ia merasa lunglai, lemas tak bertenaga. Sudah dua hari ini, si ulat tidak menemukan selembar daun pun yang bisa dimakannya. Masih terbayang di benaknya, kata-kata si daun muda yang ada di bagian bawah beberapa saat yang lalu, “Hai, ulat jelek… kenapa engkau ada di tubuhku! Ayo… pergi sana!!!” bentak daun muda itu.

Ulat hanya bisa terdiam sambil beringsut pergi. Entah sudah yang keberapa kalinya ia menerima perlakuan seperti itu. Semua daun yang dihampirinya berlaku sama, mereka tidak senang, jijik dan akan segera mengusirnya dengan semena-mena. Padahal ia hanya ingin meminta sedikit daun untuk mengganjal perutnya yang kosong. Ia sadar wajahnya jelek, tubuhnya pun penuh bulu-bulu halus yang amat menakutkan. “Ah… mengapa aku mesti terlahir seperti ini,” gumannya pasrah. (more…)

Teladan Penjual Donat

1 Comment »

May 29th, 2010 Posted 6:24 pm

(Guntur)

“Donat… donat… donat.. donat… “ Suara bapak penjual donat itu selalu menerbitkan rasa iba di hatiku. Entah mengapa? Mungkin, karena suaranya yang agak-agak sengau atau mungkin juga karena melihat langkah kakinya yang tiada kenal lelah, menyusuri jalan setapak demi setapak, untuk menjajakan donat. Namun, dari hari ke hari, saat aku semakin sering mendengar suaranya, rasa iba itu berubah menjadi kekaguman.

Entah, mulai jam berapa, bapak penjual donat itu keluar dari rumah, aku tidak tahu. Yang aku tahu, saat sebagian besar orang masih menikmati suasana pagi dengan membaca koran, bercanda dengan cucu, menonton berita dan gosip, atau menikmati sepiring gorengan ditemani secangkir teh hangat, bapak itu sudah ada di jalanan sambil memanggul susunan rak-rak plastik berisikan donat. Suaranya yang khas meluncur deras, berharap ada orang-orang yang akan segera membeli dagangannya. Kadang berhasil, tapi tak jarang sia-sia. Namun langkahnya terus terayun. Bahkan hingga sang malam memeluk raganya. (more…)