Archive for the Angel Li Category
Bila Saja…
March 8th, 2010 Posted 11:10 pm
(Angel Li)
Aku ingin suatu hari nanti tak ada lagi pertentangan
Aku ingin suatu hari nanti tak ada lagi perbedaan
Aku ingin suatu hari nanti tak ada lagi kesedihan
Aku ingin suatu hari nanti hanya ada senyum dan bahagia
Adakah hari itu?
Terkadang aku merasa hilang di tengah-tengah hidupku sendiri. Hilang dan tak bisa menemukan diriku sendiri. Mencoba mencari, mencoba menemukan, tapi tak jua terlihat. Kucari lagi, lebih keras, namun yang ada malah rasa putus asa. Di mana-mana terlihat kosong dan hampa...
Posted in Angel Li
Sepotong Kisah Di Langit
February 27th, 2010 Posted 5:20 pm
(Angel Li)
Air Asia 27/02/2010
13.40 KL time
Kursinya misah. Kata check in officer yang orang India, "You orang punya ticket different so i tak boleh arrange seat." Si India berkacamata itu tampak tidak sehat, matanya sayu dan menatap ke depan dengan bosan. Pelayanannya sangat lambat, terbukti dari counter sebelah tiga kali lebih cepat berganti customer. Ya sutralah... Lagian 17F dengan 18B hanya berjarak satu baris n masih sepesawat kok. Not big deal. (more...)
Tinggal Separuh Sayap…
February 19th, 2010 Posted 12:57 am

Di suatu masa, kita pernah duduk bersama, membuka kotak mimpi masing-masing, saling memamerkan, saling mengagumi dan saling berbagi. Pernah kita tertawa bersama, kita tak saling setuju, kita saling menghibur, kita bernyanyi bersama, kita saling diam sejenak... Tapi pada masa itu kita telah berjanji tanpa kata, berjanji dengan sorot mata dan bahasa kalbu bahwa kita akan selalu bersama-sama selama napas masih ada.
Di kala itu, kau merangkulku bak pasangan jiwa yang selama ini hilang dan telah kau temukan kembali. Oh, indahnya duniaku kala itu... Tak ada yang lebih serasi seperti kita berdua. Tak ada yang lebih menyelami isi hatimu seperti diriku. Dan tak ada yang bisa memiliki rasa, mimpi dan hasrat yang begitu sama seperti diriku. Hanya engkau seorang. Kita adalah sayap-sayap malaikat. Aku dan kau harus selalu bersama agar malaikat itu dapat terbang...
Kini, hanya ada aku di sini. Tanpa ada kau di sini. Hanya ada diriku. Tak ada dirimu lagi. Kau tahu aku di mana, namun enggan kau cari. Rinduku mengetuk, namun enggan kujawab. Kini bukan kala itu. Aku bukan aku lagi. Begitupun kau bukan kau lagi. Namun masa yang lalu, bayanganmu, kenangan itu, potret diri kita di sana, semua masih sama. Tetap sama, tak pernah berubah. Senyum kita, suara tawa kita, dan rasa kita dulu... Namun sayang, semua itu tersimpan di sana, di masa lalu. Tak bisa dan tak mau melangkah ke sini...
Dan sungguh kasihan, malaikat itu kini tak mampu terbang lagi. Separuh sayapnya telah hilang...
Photo link: http://images.google.com.my
Posted in Angel Li
Just Another Love Story…
February 17th, 2010 Posted 7:40 pm
(Angel Li)
Semalam Drew bilang ingin bercerai pada suaminya, Vint. Lalu Vint membalas dengan berkata besok dia akan membeli Audi A8, mobil yang diimpi-impikan Drew selama ini, untuk Drew. Tak ada pertanyaan, Mengapa ingin bercerai dariku? Dan tak ada pembahasan dengan topik, Kita harus menyelesaikan masalah dalam perkawinan ini. Yang ada hanyalah Vint berlalu, masuk ke kamar tidur dan ketika Drew menyusul setengah jam kemudian, ia menemukan lelaki yang telah mengawininya hampir tiga tahun itu telah mendengkur.
Esoknya, bukannya ke kantor pengacara seperti yang sudah direncanakannya, Drew malah berada di dalam showroom mobil Audi. Dan hanya dalam setengah jam saja semua urusan surat-surat diselesaikan. Pembelian atas nama Drew, pembayaran dilakukan Vint tunai. Benar-benar menunjukkan ketulusan hati Vint tanpa cela dan tanpa celah. Yang artinya bila Drew melangkah keluar dari showroom itu dan menjual mobil itu serta kembali mengajukan tuntutan cerai, Vint tak bisa bebuat apa-apa. Yang artinya juga, cinta Vint tak bersyarat. Namun Drew tidak luluh sama sekali ketika menerima kwitansi pembayaran itu. Tak ada ekspresi di wajahnya. Tawar.
Posted in Angel Li
Nak, Boleh Ibu Peluk Sebentar?
February 9th, 2010 Posted 8:20 pm
(Angel Li)
Kadang Tyas tak mengerti harus bagaimana menghadapi sang Ibu. Ibunya, wanita yang kini sudah mendekati kepala enam itu, bukanlah seorang wanita yang mudah dihadapi dan dimengerti. Semenjak mulai remaja, Tyas mulai melihat sosok ibunya sebagai sosok yang berbeda dengan sosok ibu yang selama ini ada di dalam angan-angannya. Terkadang Tyas berpikir apakah sikap ibunya diakibatkan oleh kemiskinan dan penderitaan yang harus dilalui mereka selama ini? Mungkin. Hanya saja, kini keadaan ekonomi mereka sudah sangat jauh membaik, namun sikap ibunya bukan semakin membaik melainkan semakin memusingkan kepala Tyas.
Ibunya adalah seorang wanita keras yang hampir setiap waktu berpikiran negatif. Sering kali Tyas mencoba mengajaknya berbicara dari hati ke hati, mencoba memasukkan pikiran-pikiran positif pada ibunya. Tyas pun mengajak ibunya beibadah setiap minggu, berharap mungkin dengan begitu mata hati ibunya dapat terbuka. Ada yang mengatakan tabiat seseorang susah diubah apalagi bila seseorang itu sudah mulai berumur. Mungkin itu benar, karena meski telah berusaha berkali-kali, Tyas tetap merasa gagal mengubah sikap ibunya.
Posted in Angel Li
Bahasa Mandarin
February 7th, 2010 Posted 9:11 pm
(Angel Li)
Meski dilahirkan di keluarga keturunan Tionghoa dan dari kecil sering mendengar bahasa mandarin digunakan Mama saat berbicara dengan teman-teman dan saudara-saudaranya, tetap saja lidahku tak pernah bisa melafalkan bahasa yang super susah itu dengan baik. Masalahnya, meski Mama dan Papa fasih berbicara, bahkan bisa menulis dengan baik dan benar (maklum, mereka masih sempat merasakan sekolah mandarin sebelum dilarang oleh pemerintah), mereka tidak pernah benar-benar mengajarkan kami bahasa itu. Hanya dipakai kadang-kadang dengan campuran bahasa Indonesia dan logat Makassar yang membuat bunyinya menjadi lebih aneh lagi. Apalagi setelah kemudian beberapa waktu lamanya bahasa mandarin sempat dilarang di Indonesia. Jadilah aku sebagai anak Indonesia keturunan Tionghoa, bermata sipit namun tidak bisa berbicara dalam bahasa nenek moyangku sendiri.
Posted in Angel Li
Tak Tersentuh….
February 5th, 2010 Posted 10:02 pm
Dulu kukira tanganku dapat menyentuh langit
Saat coba kugapai, aku baru sadar
Ternyata langit selalu tampak begitu dekat
Namun selamanya tak tersentuh
Itu yang kini kurasakan tentangmu
Selamanya tak tersentuh....
Saat aku membuatmu jatuh cinta padaku, kukira ini akan menjadi sebuah permainan yang menarik. Melihat binar di matamu, melihat pipimu yang merona ketika sengaja kutatap tanpa kedip... Melihat kau tertunduk malu dan kemudian mencuri pandang lagi dengan penuh harap...
Saat itu duniamu seakan menjadi milikku. Aku yang menuangkan warna duniamu. Aku yang melukis gambar duniamu. Duniamu lahir dari sapuan kuasku. Duniamu ada di dalam tangan, hasrat dan kehendakku. Aku dapat membuat duniamu seindah surga dengan bahagia yang tak berakhir. Aku juga dapat meniupkan keresahan, kebimbangan dan sedih di sana. Semua, tentang duniamu adalah milikku.
Saat aku membuatmu jatuh cinta, kupikir akulah pemenangnya. Kupikir setelah kuhisap manis cintamu, aku dapat terbang ke manapun aku suka. Tak melekat. Kupikir setelah waktu berlalu, seperti itu jugalah bayangmu dan namamu akan berlalu. Karena ini cintamu, bukan cintaku. Ini pengorbananmu, bukan pengorbananku. Ini kerelaanmu, bukan kerelaanku.
Tak pernah kukira, cinta yang lahir itu, yang kukira hanya lahir di dirimu, kini mengikat dan menjeratku. Membuat aku terpenjara dan menjadi tawanan atasnya. Membuat aku bukan milikku lagi. Membuat aku bukan diriku lagi... Sungguh, tak pernah kukira cinta itu kemudian tak pernah mau pergi. Tak pernah kukira kini cinta itu melekat kuat padaku. Dan tak pernah kukira, hatiku tak pernah rela mengijinkan manis itu berakhir. Manis itu kini akhirnya menjadi candu jiwaku yang membuatku tenggelam dalam kubangan cinta. Kubangan cintaku untukmu. Bukan cintamu untukku...
Saat aku membuatmu jatuh cinta, tak pernah terlintas olehku kalau aku akan menjadi korban cinta ini juga. Kini aku yang terpesona akan dirimu. Tergila-gila. Terikat. Teracuni. Kubiarkan duniaku jatuh ke tanganmu. Kini kaulah sang pelukis yang melukiskan indah dan suram duniaku. Senyummu menjadi bahagia tak berakhirku. Dan gelengan kepalamu, ketidaksetujuanmu, menjadi derita tak berujungku. Cinta ini menjadi anugerah sekaligus kutukan bagi hidupku. Karena dari seorang penguasa kini aku menjadi seorang tawanan.
Saat aku membuatmu jatuh cinta, aku mengira kau dapat kuraih dan kugapai dengan mudah. Namun kini ketika kau membuatku jatuh cinta, aku baru tersadar. Kau bagai langit di atas sana, kau begitu dekat namun selamanya tak dapat kusentuh. Cinta ini kini membuatku merana...
Photo Link: http://images.google.co.id
Posted in Angel Li
Sebuah Cerita Cinta…
January 24th, 2010 Posted 1:23 pm

Lelaki itu mengelus-elus kepala anak perempuan yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Sudah hampir dua minggu. Tak ada kemajuan yang telihat, bahkan sebaliknya, wajah mungil itu semakin terlihat menderita. Mengiris-iris hati lelaki itu, berharap seandainya saja ia bisa menggantikan tempat anak itu dan mengambil semua deritanya.
Chika, nama anak perempuan berumur sembilan tahun itu. Dia adalah anak tunggal dari sebuah keluarga berada. Chika termasuk anak yang beruntung, papa dan mamanya adalah orang-orang yang hangat dan selalu ada menemani hidupnya. Namun sayang, dalam usianya yang begitu muda Chika mengidap penyakit yang kemudian membuatnya harus berhenti bersekolah dan tinggal di rumah sakit. Penyakit yang mengambil seluruh keceriaan masa kecilnya.
Chika mengerang, sesekali terdengar suara kecilnya yang memanggil-manggil dengan susah payah. Lelaki yang adalah papanya itu mendekatkan telinganya ke mulut Chika, berusaha menangkap kata-kata yang keluar. Sesaat, Chika membuka matanya. Mulutnya yang kering dan bergerak lambat, memanggil sang Papa.
"Iya, Nak? Papa di sini."
Tangan Chika tergerak, berusaha menggapai papanya. Namun segera tangan itu terjatuh lagi. Lelaki itu segera mengambil kedua tangan anaknya dan merangkulkannya erat ke lehernya. Ditempelkannya pipinya ke pipi sang Anak. Merasakan kulit halus itu masih hangat. Sebuah rasa syukur mengaliri jiwanya yang merana.
"Papa di sini, Nak. Papa sayang padamu," bisik lelaki itu dengan suara bergetar. Sesetes airmata jatuh mengalir dari sudut matanya.
Ia teringat sembilan tahun lalu ketika ia sedang merencanakan pernikahan dirinya dan kemudian mendapati bahwa calon isterinya hamil dan bukan benih dari dirinya. Ia sangat terpukul akan kenyataan itu. Tak pernah menyangka bahwa kekasihnya yang telah empat tahun menjalin hubungan dengannya melakukan kesalah bodoh bersama lelaki lain dalam keadaan tak sadar. Sebagai lelaki, egonya menyuruhnya untuk membatalkan pernikahan dan melupakan wanita itu. Namun ia terlampau mencintai wanita itu. Mereka telah menjalin hubungan yang baik selama tiga tahun pertama, hanya saja pada tahun keempat ia mesti meninggalkan sang Kekasih dan pergi bekerja di luar negeri. Tak pernah disangkanya kepergiannya membuahkan sebuah tragedi yang hampir membuatnya depresi.
Ketika ia pulang dan mendengarkan sebuah kejujuran pahit dari sang Kekasih yang meminta maaf dan merelakannya untuk pergi, ia tak mampu meninggalkan wanita itu. Berhari-hari ia terombang-ambing tak mampu mengambil keputusan. Ia ragu. Apakah ini akan menjadi keputusan yang benar atau salah. Separuh dirinya mempertanyaan kepercayaannya pada kekasihnya itu. Separuh dirinya lagi menangis mengingat semua tragedi yang telah menimpa kekasihnya.
Dan ketika kekasihnya melahirkan, mula-mula ia dipenuhi dengan kemarahan dan penyesalan. Ia merasa kalah dan merasa telah dikhianati oleh kekasih, dunia dan Tuhan. Tapi entah mengapa, ia pergi juga menjenguk wanita itu dan bayi perempuannya. Saat itulah semua kemarahan dan penyesalannya hilang entah ke mana. Ia jatuh cinta pada bayi cantik itu. Ia melihat sosok kecil tak berdosa itu begitu rapuh dan hatinya tergerak untuk melindunginya. Ia akhirnya menyerah pada cinta. Cinta pada sosok kecil yang bahkan belum membuka matanya untuk melihat dunia. Dan cinta pada wanita yang telah menawan hatinya sejak bertahun-tahun silam. Ya, ia masih mencintai wanita itu. Dan akhirnya ia memutuskan untuk memberi maaf dan menerima wanita itu dengan keadaannya yang tidak sesempurna seperti yang ia harapkan. Memutuskan untuk berada di samping mereka berdua, dua sosok yang telah menyentuh hatinya. Juga memutuskan untuk melepas semua ego dan keraguan yang masih tersisa.
Ia ternyata mampu mencintai Chika seperti darah dagingnya sendiri. Bahkan mungkin lebih. Chika adalah sumber kebahagiaan dan tawanya. Yang kemudian membuat hidupnya lebih hidup dan bermakna. Namun, tiga tahun kemudian, sang Isteri akhirnya pergi duluan, meninggalkan dunia ini karena penyakit turunan yang di deritanya. Ia patah hati. Kesedihannya terasa begitu panjang dan menyakitkan. Namun, kehadiran Chika-lah yang membuatnya mampu bertahan dan tersenyum kembali.
Setiap hari dalam hidupnya, ia melihat Chika sebagai anugerah terbesar yang diberikan Tuhan padanya. Ia tak pernah lagi mengutuki tragedi dulu yang membuat pernikahannya menjadi tak sempurna. Ia kini bahkan melihat sebuah kesempurnaan dari takdir hidupnya.
Kini, permata hatinya itu pun sakit. Ia tak mampu berbuat apa-apa. Segala macam pengobatan telah diusahakannya. Namun sekali lagi ia harus pasrah pada nasib. Hatinya patah sekali lagi, namun ia masih tak mengutuk takdir hidupnya. Setiap hari ketika ia membuka mata dan masih menemukan gadis kecilnya bernapas, ia mengucap sebuah syukur dari hatinya yang terdalam. Masih ada satu hari lagi bersamanya. Dan dalam setiap tarikan napasnya, ia memanjatkan sebuah harap dan doa untuk diberikan kebersamaan yang lebih panjang dengan buah hatinya itu...
Photo link: http://media.photobucket.com/image/daughter with father on the bed photo/Lil_d_shorty/father-daughter.jpg
Posted in Angel Li
Sebuah Kisah Tentang Dirinya…
January 14th, 2010 Posted 3:12 pm

Wajah yang dihiasi kerutan-kerutan itu terlihat begitu sedih. Mata indah bulat yang biasanya memancarkan ketegasan diri kini berkaca dan mulai memerah. Bibir tipisnya gemetar, menceritakan kisah puluhan tahun yang lalu, yang membuatku terpaku tak bisa berkata-kata.
Dia menikah karena perjodohan keluarganya. Suaminya adalah seorang lelaki tampan, anak pertama yang dalam adat keluarga Tionghoa merupakan penerus keluarga. Karenanya setelah menikah, dia ikut bersama suaminya tinggal di dalam rumah mertuanya.
Ibu mertuanya adalah seorang wanita kolot yang sangat menjunjung tinggi aturan-aturan lama. Karena itu, sebagai menantu yang baik, dia harus melayani sang Ibu mertua dalam kesehariannya. Mulai dari menyiapkan air cuci muka di pagi hari, air panas untuk mandi sang Ibu dan juga menu makanan yang sesuai dengan kemauan wanita itu.
Kesehariannya adalah bekerja. Dari sejak ia membuka mata hingga menutup mata lagi di malam hari, ia harus membereskan semua pekerjaan rumah dan membuat ibu mertuanya tenang. Bila tidak, ia harus siap menerima segala kemarahan sang Ratu keluarga. Terkadang ia menginginkan sebuah hiburan, pergi melihat dunia luar bersama sang Suami, namun kerutan di dahi mertuanya dan tatapan yang tak suka membuatnya sering mengurungkan niatnya. Baginya kata 'kebebasan' adalah sebuah kata asing yang tak akan pernah mampu diraihnya.
Kebahagiaan terbesarnya datang ketika ia melahirkan seorang puteri cantik. Walaupun itu berarti pekerjaannya semakin bertambah banyak. Meskipun juga, sebenarnya kehadiran puterinya tersebut tak disambut dengan baik dalam keluarga karena sesuai dengan kepercayaan dan adat orang-orang mereka, anak perempuan tidak lah seberharga anak laki-laki. Seandainya saja ia melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia akan mendapat perlakuan istimewa, begitupun dengan sang Anak.
Namun malang, anak tersebut kemudian sakit. Ia tak mengerti sakit apa yang diderita anaknya itu. Suatu hari ia menemukan puteri cantiknya itu tak bernapas lagi. Yang lebih menyedihkan lagi ketika mertuanya melarang dirinya ikut pada penguburan anak tersebut. Ia hanya bisa melihat jasad anaknya dibawa oleh orang-orang yang tak dikenalnya dengan kepasrahan total seorang menantu. Tak pernah ada acara penguburan seperti yang biasa dilakukan bila seorang anggota keluarga telah berpulang. Seakan-akan bayi mungil itu tak juga mendapat pengakuan dari keluarga besarnya. Dan ketika ia bertanya pada orang-orang di rumahnya di mana anak tersebut dikuburkan, tak ada yang dapat memberinya sebuah jawaban. Meski suaminya sendiri. Hingga hari ini, dia masih terus bertanya-tanya sendiri, di mana tubuh puterinya berada. Ia ingin bisa berziarah ke makam sang Puteri seperti yang biasa ia lakukan pada kerabat-kerabat yang telah pergi, namun bagaimana mungkin itu dilakukannya? Ia takut bila saja jasad puterinya itu telah dibuang begitu saja, di tempat yang tidak layak. Dan itu membuat kecemasan dan kesedihan hatinya tak pernah berakhir.
Hari ini tiba-tiba dia mengisahkan sepotong kisah pahit itu dengan linangan airmata. Aku tak mampu berkata-kata. Tertegun, tak pernah menyangka kisah masa lalunya begitu keras dan kejam. Selama ini aku mengenalnya sebagai wanita yang keras dan selalu mampu memutuskan segala sesuatunya sendiri. Yang seakan-akan mampu menggenggam dunia di tangannya. Sosok yang membuatku segan namun juga menaruh hormat padanya. Tak pernah kubayangkan dirinya pernah hidup dalam tekanan aturan keras yang telah menorehkan luka dalam hatinya.
Terkadang aku protes akan sikap kerasnya dan begitu banyak larangan-larangan yang dikeluarkannya. Terkadang aku tak mengindahkan aturan-aturan yang diterapkannya. Namun ada juga banyak saat di mana aku luluh melihat betapa besarnya hati dan cintanya untuk kami. Di balik semua sikap kerasnya, dia masih punya selautan perhatian dan kasih sayang yang diberikannya. Bahkan tak pernah sekalipun dia berkeinginan mengulang kisah yang sama, kisah dulu, di mana menantu menjadi jajahan mertua.
Aku tak pernah dituntutnya untuk melayani. Bahkan kerap kali ketika aku mengunjunginya, yang memang hanya bisa kulakukan beberapa kali dalam setahun karena jarak yang memisahkan kami antar negara, dia yang menyiapkan semua makanan untukku. Bahkan dia tahu apa saja makanan kesukaanku. Tiap kali aku datang, makanan-makanan tersebut sudah terhidang di meja makan. Membuatku merasa begitu dicintai sekaligus membuatku merasa malu dan tak enak, mengingat statusku ini. Bahkan dia sering melarangku mengerjakan pekerjaan rumahnya. Namun aku selalu senang membantunya, melihat wajahnya yang bahagia ketika aku mau meringankan bebannya meski hanya dengan pekerjaan-pekerjaan rumah yang ringan dan sepele.
Ya, dia Ibu mertuaku. Wanita bersosok mungil yang sering kali terlihat susah untuk dimengerti dan banyak menuntut. Namun juga merupakan wanita penyayang yang punya banyak cinta dan kasih sayang. Ia selalu tampak tegar. Selalu tampak kuat di mataku. Namun hari ini dia menangis di hadapanku. Aku hanya bisa mengelus pundaknya, menggenggam tangannya. Tak mampu menghiburnya dengan kata-kata penghiburan apapun. Aku hanya memanjatkan sebuah doa kepada Tuhan. Berharap Dia menyembuhkan luka hati dan memberi sebuah ketenangan jiwa pada wanita hebat ini. Karena bagaimanapun juga, apapun yang telah terjadi di masa yang lalu tak bisa lagi untuk diubah. Namun satu hal yang aku temukan di matanya, cinta seorang Ibu pada puteri mungilnya hingga kini masih ada di hatinya yang lembut. Cinta itu tak pernah berubah, meskipun empat puluh tahun telah lama berlalu...
Photo Link: http://www.luminousplayhouse.com/wp-content/uploads/mother-daughter3.jpg
Posted in Angel Li
Sadness…
January 11th, 2010 Posted 1:26 pm

Aku menolak untuk menangis. Tidak aku tidak sedang ingin menangis. Aku juga menolak untuk marah. Marah tak baik untuk diriku. Aku percaya bahwa bila hati masih memiliki harapan dan keyakinan, pasti ada jalan untuk mencerahkan semua yang keruh ini.
Tapi ketika kata tak lagi berguna. Ketika ketulusan dan kejujuran tak lagi menjadi sesuatu yang dihargai, lalu bagaimana kekeruhan bisa dijernihkan kembali? Dan ketika kepercayaan hanyalah sebuah kata kosong tak bermakna, apa lagi yang bisa kau agungkan?
Diam? Ya, kini aku memilih untuk diam. Diam seribu bahasa. Karena telah habis seluruh kata-kataku kugunakan. Telah kutumpahkan semua ketulusan dan kejujuran hati yang pada akhirnya harus pulang kembali padaku dengan wajah lesu bak seorang pejuang yang kalah di medan perang.
Aku baik-baik saja. Itu kukatakan pada diriku setiap hari. Itu yang kuingatkan pada diriku setiap saat.
Tapi, beberapa hari ini, tubuhku mulai menolak kata-kata itu. Tubuhku mulai mengingkari pernyataan itu. Langkahku mulai goyah. Gerakanku mulai terasa lemah. Dan bahagiaku kini bersembunyi tak mau menampakkan wajahnya.
Tak bisa kubohongi diriku. Tak bisa kuiming-imingkan hari esok yang lebih berwarna. Ya, diriku tengah berduka. Berduka untuk pengkhianatan beruntun yang datang dari orang-orang yang kukasihi. Orang-orang yang selama ini berkata satu hati denganku. Orang-orang yang selama ini begitu manis dan indah bersikap di hadapanku. Namun pada akhirnya mereka jualah yang mematahkan semua harapan dan semangat diriku ini.
Sakit. Hatiku sakit seperti diiris mata pisau yang tajam. Dan kini hatiku terluka. Meski aku menolak untuk mengakuinya, luka itu ada di sana. Menganga dan perih. Meski aku tetap diam dalam ketenangan menjalani hari-hari ini dan berusaha tetap menolak semua rasa sakit dan duka itu, kini tubuhku memberontak, tak mau menurut.
Kini ada yang salah dengan tubuhku. Bukan karena virus atau penyakit yang menjadi penyebabnya. Tapi sakit hatiku lah yang membuatnya ikut melemah dan sakit. Sebuah tanda dari tubuhku untuk membangunkanku dari kepura-puraan diri. Aku seakan mendengarnya berteriak: "Menangislah! Marahlah!"
Mungkin bila aku dapat menangis dan berteriak marah, tubuhku tak perlu ikut sakit. Mungkin bila aku dapat menangisi kekecewaan hatiku ini, mungkin kini aku baik-baik saja. Hanya saja aku terlalu angkuh untuk meneteskan airmataku. Bukan. Bukan angkuh sebenarnya. Mungkin kau pun tak akan mengerti. Terlalu banyak kekecewaan yang tak ingin lagi kubahas dan kurenungkan lagi. Aku hanya ingin melupakan semuanya tanpa perlu mengingatnya lagi. Namun sayang, pikiran dan hatiku kini telah merekam semuanya dengan sangat jelas. Dan hatiku ini, ternyata tak pernah sekuat baja. Kini dia bersembunyi di sudut jiwaku, mengecil dan tak tampak seindah dulu. Ia bak sebuah tanaman yang melayu karena tak mendapatkan siraman cinta.
Tadi malam, aku tiba-tiba teringat pada-Nya. Rindu bercakap-cakap dengan-Nya lagi. Tapi kemudian kututup mataku dan kupaksakan diriku untuk melupakan-Nya juga. Tidak, aku tak ingin mempertanyakan-Nya. Aku tak ingin menyalahkan-Nya. Dan saat ini, aku bukan seseorang yang dapat berbicara dengan baik pada-Nya. Aku tahu bukan diri-Nya yang salah. Akulah yang bertemu orang-orang yang salah. Orang-orang yang tak tahu akan nilai kepercayaan dan ketulusan. Dan itu yang membuat aku tak mengerti. Itu yang membuatku terus bertanya: "Mengapa?" Dan pertanyaan itu tak pernah berjawab. Semua alasan yang ada rasanya tak pernah menjadi logis dan benar. Dan tetap tak bisa kutemukan jawaban yang bisa mendamaikan hatiku. Atau mengikhlaskan rasa sakitku untuk hilang. Tak pernah rela... Tak pernah...
Tapi aku tak ingin mendendam. Aku tak pernah ingin membenci. Namun, aku juga tak pernah bisa mengerti dan menerima. Membuat diriku semakin terpuruk dalam duka yang tak berakhir. Menyalahkan diri sendiri yang tak pernah lelah menyimpan harap yang seakan tak berguna sama sekali. Tak pernah mau menyerah. Terlalu keras kepala...
Penyangkalan rasa ini benar-benar menguras semua energi tubuh dan jiwaku. Aku harus berhenti. Karena tak ada energi yang tersisa untukku bertahan dalam topeng kedamaian ini. Aku butuh untuk menangis. Menangisi semua sakit dan kecewa hatiku. Mengeluarkan semua caci maki yang terpendam, yang selama ini tabu untuk kuucapkan. Dan semoga bila semua telah kulakukan, hatiku akan kembali membesar dan bersinar. Dan semoga, ketika luka telah kututup dan kusembuhkan, bahagia mau kembali menampakkan wajahnya padaku...
Tolong doakan aku...
Photo Link: http://www.desicomments.com/user/2008/03/6177/14277-Sad_butterfly.jpg
Posted in Angel Li
Hidup Bagai Sebuah Jalan…
December 29th, 2009 Posted 9:59 am

Duduk dalam mobil, menatap jalan di depan, tiba-tiba aku disadarkan akan hidup yang telah kulewati. Ya, hidup ini juga bagai sebuah jalan. Dan kita semua bagai kendaraan-kendaraan yang lalu lalang, yang mengarah ke suatu tempat dengan tujuan masing-masing. Ada yang searah. Ada yang setujuan tapi tidak searah. Ada yang hanya berjalan bersama sampai titik tertentu dan kemudian berpisah di tikungan tertentu, ada juga bisa yang terus bersama-sama hingga akhir.
Kerap kita berhenti di lampu merah yang sama, bersisian, saling memandang tanpa saling mengenal. Kerap kita saling memberi senyum ramah, sekedar sebuah tanda perkenalan yang singkat. Tapi kerap juga kita bersisian atau saling melewati tanpa saling memandang dan memperhatikan karena kita masing-masing sibuk dengan pikiran masing-masing.
Ada juga orang-orang yang kita ajak sekendaraan. Orang-orang yang telah kita pilih untuk bersama-sama berjalan dalam hidup ini. Suami, istri, anak-anak, orangtua, saudara dan sahabat-sahabat. Tapi sering pula terjadi bahwa pilihan itu akhirnya berubah. Sering kita terpaksa merelakan orang-orang tersebut memilih kendaraan yang lain, bersama dengan orang yang lain. Seperti dalam perceraian misalnya. Atau mereka yang memang tak bisa bersama-sama dengan kita karena telah sampai duluan pada tujuan mereka. Yang harus turun pada tempat tertentu. Ya, seperti saat kematian datang...
Dalam perjalanan panjang yang terkadang membuat kita bertanya-tanya berapa lama lagi kita akan sampai ke tujuan, kita selalu berharap perjalanan itu lancar-lancar saja. Tapi terkadang kita menemui hambatan atau musibah. Tanpa kita sangka-sangka terjadi kecelakaan. Kecelakaan ringan seperti terserempet kendaraan lain. Sama seperti dalam hidup ketika seseorang menyerempet kita baik dengan kata-kata atau perbuatan yang membuat kita terluka. Lalu apa yang terjadi saat kendaraan kita diserempet? Marah? Ya, reaksi pertama yang umumnya terjadi bila kita terserempet adalah marah atau kesal. Turun dari mobil dengan wajah tertekuk, memeriksa kendaraan kita dan minta pertanggungjawaban dari si penyerempet. Bila si penyerempet turun dengan wajah bersalah dan permintaan maaf, kita biasanya kemudian memilih jalan damai. Claim asuransi saja, atau bayar ganti rugi. Tapi bila si penyerempet yang jelas-jelas sudah salah malah turun dengan wajah marah dan balik menyalahkan kita, apa yang terjadi? Kita biasanya bertambah marah dan ngotot membela kebenaran kita. Logikanya memang kita berhak membela kebenaran kita. Tapi kejadian tak selalu harus seperti itu. Reaksi masing-masing orang berbeda. Ada yang mengalah dan memilih tidak mempermasalahkan kejadian itu. Ada yang menuntut ganti rugi hingga harus ke kantor polisi. Ada yang esok harinya sudah melupakan peristiwa itu. Ada yang bertahun-tahun masih menyimpan marah dan dendam. Mengerti... Mengalah... Kata-kata yang memang sulit untuk dijunjung. Tapi di balik sikap mengerti dan mengalah untuk tujuan damai, selalu ada sebuah berkah dan ketenangan untuk diri sendiri.
Terkadang pula kita yang tanpa sengaja, tanpa ada maksud, menyerempet orang lain. Terkadang kita bertemu orang-orang yang tidak mempermasalahkan kerugian atau kerusakan yang kita timbulkan. Orang-orang yang mau berbesar hati mengerti bahwa kita hanya kurang hati-hati tanpa ada maksud lain dan menerima permintaan maaf kita. Aku ingat kejadian nyata pertama kali membawa mobil dan belum tahu cara memarkir yang benar. Yang kemudian membuatku menabrak mobil belakang, milik teman kos. Waktu itu aku begitu ketakutan, meski ada asuransi yang bisa membayar. Sudah kubayangkan semprotan yang bakal dikeluarkan dari teman tersebut. Tapi sebaliknya orang itu hanya menghela napas beberapa kali dan menolak penggantian kerugian memakai asuransi. Dia malah memilih memperbaiki sendiri mobilnya yang penyok tanpa meminta ganti rugi dariku. Serta memaafkan kesalahanku saat itu juga. Yang akhirnya membuatku termenung sendirian. Masih ada orang baik berhati lapang seperti itu? Orang yang bahkan tidak aku kenal, yang hanya kutahu bahwa dia sekos-an denganku.
Kadang di perjalanan juga terjadi kecelakaan besar, yang membuat si penumpang luka berat dan kendaraan hancur tak berbentuk. Kasus besar. Ada orang yang menjadi korban. Ada orang yang harus disalahkan. Dalam kehidupan ini, peristiwa seperti itu bisa menjadi dendam yang membuat hubungan antar korban dan si pelaku putus selamanya. Tapi siapa sebenarnya yang mengira ini akan terjadi? Tak ada yang mengharapkan hal yang buruk terjadi. Tapi begitulah situasi jalan yang dipenuhi berbagai kendaraan. Serempet-menyerempet pasti terjadi. Sama seperti situasi hidup ini yang dipenuhi berbagai orang dengan kepentingan yang berbeda-beda. Akan terjadi gesekan-gesekan. Tinggal bagaimana kita memilih untuk menyikapinya. Inilah kenyataan hidup yang seperti suasana jalan. Bahwa hidup bukan hanya jalan yang lancar, yang berisi senyum, tawa dan bahagia. Tapi juga terkadang hidup diwarnai dengan perselisihan, ketidaksetujuan dan juga perbedaan akan kebenaran. Karena kita berjalan dalam satu jalan yang sama. Dalam hidup yang sama.
Aku percaya bahwa bisa bertemu orang-orang yang kini ada dalam hidupku adalah takdir dari Yang Di Atas. Aku juga percaya bahwa setiap peristiwa dan kejadian membawa sebuah pesan tersendiri. Juga bahwa setiap orang yang datang dalam hidupku membawa misi dan tujuan tersendiri. Dan semua itu harus disyukuri dan direnungkan kembali. Bukan disesali atau dibenci.
Tak ada yang terlalu penting di hidup ini untuk dijadikan dendam yang tak berakhir. Tak ada yang terlalu penting di hidup ini untuk tidak dapat dimaafkan. Karena kita semua sama. Suatu saat tanpa sengaja kita yang menyerempet dan meminta maaf. Suatu saat ada yang menyerempet kita dan mengharapkan maaf dari kita. Karena itu, mudah-mudahan kita bisa belajar berbesar hati dan mengikhlaskan segalanya untuk sebuah kedamaian dalam hidup yang singkat ini. Dan menghargai takdir kebersamaan yang telah diatur Yang Di Atas pada kita.
Photo Link: google
Posted in Angel Li
Anak dan Bunda…
December 22nd, 2009 Posted 9:17 am
(Angel Li)
Sejak kapan sebutan itu menjadi begitu kabur di ingatannya? Dia pun tak tahu. Sampai kemudian dia tersadar dan merasa begitu jauh darimu. Dia pernah mencoba untuk berbalik kembali dan menggapaimu lagi, tapi... akh.... Mengapa tak juga tergapai? Mengapa seakan ada dinding penghalang yang tak tampak di antara kalian?
Bila bisa dia teriakkan sesalnya, dia akan menahan hidup untuk tak berubah dan tetap membiarkannya ada di sampingmu selamanya. Tetap menjadi seorang kanak-kanak yang lugu dan polos, yang selamanya tak mempermasalahkan apa itu kebenaran. Yang terpenting baginya, masih dapat dia rasakan hangatnya tubuhmu memeluk dirinya, juga suaramu yang pernah menjadi petikan dawai yang indah memenuhi isi dunianya.
Sepiring Nasi Ayam…
December 20th, 2009 Posted 1:22 pm
(Angel Li)
Wanita itu menaruh sepiring nasi ayam di hadapan William. Ada enam butir nasi berbentuk bola dan ayam rebus yang telah dipotong-potong. William tak langsung menyantapnya. Lama ia hanya memandangi hidangan itu. Teringat olehnya kisah belasan tahun yang lalu...
Saat itu umurnya masih sangat muda. Siang itu ia berjalan berkeliling, tanpa uang sepeser pun di sakunya. Nasibnya buruk. Ia sudah tidak bekerja beberapa bulan. Dan uang simpanannya, hasil tabungannya dari pekerjaannya yang terakhir sudah dihabiskannya kemarin malam. Tak ada sisa sepeser pun di kantongnya. (more...)
Rearrange Items on Your Hard Disk to Make Programs Run Faster
December 17th, 2009 Posted 10:18 am

Klik start, pilih setting lalu control panel, kemudian pilih performance and maintenance dan akhirnya klik 'rearrange items on your hard disk to make programs run faster'.
Setiap hari, proses itu kulakukan. Mengapa? Seperti yang telah dijelaskan kalimat panjang itu, mengatur kembali semua yang ada di hard disk agar program berjalan lebih cepat.
Pagi ini ketika aku akan melakukan hal itu lagi tiba-tiba terlintas di benakku. Ini seperti proses kehidupan juga. Harusnya dalam diri kita juga ada sistem 'rearrange items' untuk mengatur kembali semua file-file yang ada dalam diri kita. File-file yang jumlahnya sangat banyak dan menumpuk, yang sering kita ambil dan buka kembali lalu kita tutup lagi. Yang terkadang kita letakkan dengan asal-asalan saja, sehingga semuanya menjadi tak beraturan. Dan terkadang semua itu menjadi begitu berantakan yang akhirnya membuat kita sendiri menjadi merasa ada kekacauan di dalam diri, yang menghadirkan stress berkepanjangan.
Sesekali juga kita mungkin perlu meng-klik 'Free up space on your hard disk'. Pasti banyak file-file tidak berguna, yang selama ini kita biarkan tetap ada di dalam diri. Masalah-masalah lama yang tak berguna, yang tidak kita sempatkan untuk buang. Yang hanya memberatkan diri selama ini. Yang tanpa kita sadari, menjadi penghambat kebahagiaan diri. Juga ada perasaan-perasaan negatif, rasa sakit, rasa marah, rasa benci, rasa malu, rasa tidak percaya diri, dan masih banyak rasa-rasa lain, yang juga sebenarnya memperlambat diri untuk terus bergerak maju dalam kehidupan ini. Bila saja kita mau memilah-milah mana file-file yang tidak baik dan baik untuk diri. Dan kemudian membuang file-file yang tidak kita perlukan lagi dan mengaturnya kembali dalam susunan yang teratur...
Belajar dari cara kerja komputer, kita bisa setiap hari melakukan dua pekerjaan itu, menghapus dan mengatur kembali. Dan dengan begitu mungkin seperti komputer, diri kita dan hidup kita akan berjalan dengan lebih ringan dan cepat.
Photo Link: http://csg.trinhall.cam.ac.uk/tips/smb/img/xp-perfmaint.png
Posted in Angel Li
Goyah…
December 16th, 2009 Posted 2:18 pm
Perjalanan ini terasa semakin berat. Langkah kakiku semakin tersendat. Semakin sering kuseret kakiku, memaksanya untuk terus melangkah maju. Terseok-seok, bak seorang pincang yang gemetar, tak punya kepercayaan diri.
Apa itu semangat? Aku kini tak mengerti arti kata sederhana itu. Adakah semangat itu tertinggal di diriku ini? Inikah bukti semangat dalam diriku dengan langkah yang terseok-seok berusaha untuk tetap maju? Ataukah ini bukti dari pupusnya semangat, dan sebentar lagi mungkin akan sirna selamanya? Dan saat itu mungkin aku hanya bisa terpuruk, tak mampu lagi melangkah, bahkan tak mampu lagi berdiri.
Belakangan ini saat mataku membuka kembali, menyambut mentari, mengapa dunia terlihat begitu gelap? Mengapa hidupku terlihat suram, tak berwarna? Mengapa sinar mentari itu tak juga menyinari hidupku ini? Apa gunanya dirinya di atas sana? Bila hanya jadi hiasan indah tak berarti? Ataukah aku yang telah buta? Hatiku yang telah buta tak bisa melihat sinar indahnya? Ataukah sinar itu sebenarnya ada di sana, hanya saja aku telah menutup pintu hatiku, sehingga mataku pun tak berfungsi lagi? Hatiku gelap, hidupku juga ikut menjadi gelap. Mungkinkah?
Berulang kali kudengar kalimat ini, buka pikiran, buka hati. Berulang kali kudengar mereka bilang, pikiran mau seluas samudera, hati mau sebesar langit di atas sana. Bagaimana mungkin aku bisa meluaskan pikiran dan membesarkan hatiku? Dengan cara apa? Dengan alat apa? Lagipula bagaimana aku tahu seluas apa samudera itu? Sebesar apa langit itu?
Apa aku yang terlalu bodoh, tak mengerti apa yang mereka katakan? Benarkah aku ini bodoh? Kadang aku merasa seperti seorang idiot. Kadang aku merasa seperti orang dusun yang dihadapkan pada tempat dan situasi yang terlalu rumit untuk bisa kuhadapi. Tapi aku tak rela dikatakan bodoh. Aku tak rela dipandang rendah. Tapi semakin aku tak rela, semakin aku merasa orang-orang meremehkanku. Seakan aku ini tak punya apa-apa untuk kubanggakan. Seakan aku ini begitu miskin. Miskin segalanya. Bahkan miskin cinta...
Terkadang aku benci melihat mereka tersenyum dan bahagia. Sebenarnya aku iri pada mereka. Aku tak tahu bagaimana bisa tersenyum dan bahagia. Aku juga ingin. Tapi aku berlagak seakan aku tak tertarik pada hal itu. Berlagak seakan hal itu tidak penting bagiku. Berlagak seakan aku tak kurang suatu apapun. Padahal aku selalu terpuruk di sudut duniaku, selalu kembali meratap sendiri. Meratapi hidupku. Meratapi diriku. Meratapi orang-orang yang seakan tak pernah peduli. Ya, kesombongan diri ini begitu menjerat diriku, mungkin suatu hari nanti akan membunuhku...
Sebenarnya aku butuh mereka. Aku butuh cinta dari mereka semua. Aku butuh ditolong. Aku butuh seseorang memegang tanganku untuk menguatkan kaki dan langkahku yang goyah ini. Hanya saja aku tak tahu bagaimana harus meminta. Bukan. Aku terlalu sombong untuk meminta. Tidak... Sebenarnya bukan karena kesombongan semata, tapi lebih karena aku tak punya kepercayaan diri. Aku tak punya cukup kepercayaan bahwa diriku ini berharga di mata mereka. Juga tak punya cukup kepercayaan pada mereka. Aku takut mereka akan menolakku. Aku takut mereka akan mengecewakanku. Terlalu banyak luka hatiku yang tak sanggup kurawat dan belum mampu kurelakan untuk sembuh. Karena aku tak berani untuk percaya bahwa ada bahagia di depan sana untukku. Bahwa aku ini pantas untuk dicintai...
Photo Link: http://farm1.static.flickr.com/213/508715784_b6124f74dc.jpg
Posted in Angel Li














