Tulisan Oleh Bhudi Tjahja
Sandal Sundal
January 12th, 2012 Posted 1:14 pm
Gara-gara sandal sundal ini aku harus mendekam di penjara mencekam. Lagi pula siapa yang mau mencari nafkah dengan cara mencuri sandal sundal?
Akh, jangan salahkan polisi-polisi yang memang seharusnya bereaksi pasang aksi. Jangan pula salahkan hukum yang sudah kita rangkum.
Hakim memang seharusnya bertugas menghakimi. Seperti jaksa penuntut yang terbiasa menuntut meski dengan hal-hal yang tidak patut. Sedang pengacara hanya rela membela mereka yang sanggup membayar dengan sukarela. Sebagai terdakwa aku hanya bisa kecewa.
Ini memang nasib rakyat kecil yang semakin terpencil. Jangankan mimpi membeli rumah dengan cara menyicil. Mencari sesuap nasi pun harus siap bernafas megap-megap. Suap-suap hanya nikmat buat yang pandai cuap-cuap.
Tapi karena sandal sundal ini namaku jadi cukup dikenal. Namun aku tahu sebentar lagi mereka akan melupakannya lagi. Lagi pula aku memang tidak ingin terkenal. Apalagi karena terkenal gara-gara sepasang sandal sundal!
12-01-2012
Posted in Bhudi Tjahja
Rumah
January 6th, 2012 Posted 12:15 pm
Kita membutuhkan sebuah rumah. Tinggal di sebuah rumah. Tujuan terakhir dari aktivitas sehari-hari. Bercengkerama dengan keluarga. Saling berbagi cerita. Berbagi cinta kasih. Menikmati kenyamanan dan keamanan di sebuah rumah. Terlindung dari hujan dan panas terik. Tidur di sebuah rumah, terhindar dari dinginnya angin malam.
Namun tidak semua kita beruntung mempunyai sebuah rumah. Banyak orang-orang yang harus hidup tinggal di luar rumah. Karena mereka memang tidak mempunyai rumah. Ada yang karena menjadi korban peperangan atau kerusuhan. Ada yang karena musibah bencana. Ada yang karena resiko perbuatannya sendiri. Ada pula yang justru memilih meninggalkan rumah dan bergabung dengan komunitasnya di jalan-jalan, di luar rumah.
Kita adalah sebuah rumah. Kita bukanlah sembarang rumah. Namun kita adalah rumah dari Yang Maha Pencipta. Dia ingin tinggal di dalam kita. Tujuan terakhir dari PenciptaanNya adalah bertemu dengan kita. Bercengkerama dengan kita. Saling berbagi cerita. Berbagi Cinta dan KasihNya. Karena Dia adalah Kasih yang sesungguhnya. Pada saat Dia mengetuk pintu, bukalah dan sambutlah Dia, Sang Empunya Rumah.
Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Tuhan dan bahwa Roh Tuhan diam di dalam kamu? (1Korintus 3:16)
Posted in Bhudi Tjahja
Cawat Pohon Ara dan Pakaian Kulit Binatang
December 27th, 2011 Posted 11:10 pm
Cawat tidaklah sebanding dengan Pakaian. Cawat usaha diri sendiri menutupi kesalahan. Pakaian pemberianNya menyelubungi dengan kasih karunia. Cawat Pohon Ara tanpa pengurbanan darah. Pakaian Kulit Binatang lambang kurban PutraNya.
Di taman itu sepasang manusia jatuh ke dalam keinginannya. Fantasi liarnya. Kesombongannya timbul tatkala ciptaan ingin menjadi sama dengan Pencipta. Benih-benih kejatuhan tertular dari si penggoda yang sejak semula ingin menyaingi Pencipta. Singkirkan Dia. Kita bisa mengatur diri kita sendiri. Kita masih bisa bermoral. Kita buat taman yang baru. Penuh dengan fantasi liar yang tidak ada di taman ini.
Dan kini taman itu ditumbuhi semak-semak liar. Seliar fantasi yang ditaburkan si penggoda kepada pasangan anak manusia. Yang tadinya tanpa noda kini malu ternoda. Yang tadinya tanpa cela kini mereka saling mencela.
Di taman itu Si Pencipta bertanggungjawab. Dia menawarkan pengampunan. Bukan Cawat dari Pohon Ara pertanda usaha manusia yang sia-sia. Melainkan Pakaian Kulit Binatang pertanda kurban darah kasih karunia. Bukan caramu, tapi caraKu, kataNya. Bukan perbuatan baikmu, tapi kasih karuniaKu.
(sumber inspirasi: Genesis 3)
Posted in Bhudi Tjahja
Kebun Koruptor (iCorp: Indonesian Corruptors Park)
November 29th, 2011 Posted 9:22 am
Januari 2015. Akhirnya kebun itu diresmikan. Namanya tentu saja bukan Kebun Koruptor. Karena nama Kebun Koruptor tidak mempunyai nilai jual. Nama resminya adalah Indonesian Corruptors Park. Orang-orang menyingkatnya menjadi iCorp. Lokasinya cukup strategis di wilayah kepulauan seribu. Di sebuah pulau yang luasnya dua kali pulau Sentosa di negara tetangga. Fasilitas dan sarananya begitu lengkap. Dibutuhkan biaya sebesar 67 trilyun rupiah untuk menyulap pulau itu menjadi kawasan obyek pariwisata. Sepuluh kali lebih besar dari dana talangan bank century di era pemerintahan sebelumnya.
Presiden terpilih di pemilu 2014 dengan senyum sumringah memukul gong tanda resminya iCorp digunakan sebagai tempat rehabilitasi bagi para koruptor. Terutama koruptor kelas kakap. Tidak ada satu menteri kabinet pun yang tidak hadir. Demikian juga dengan anggota dewan yang semakin menggilai hormat. Banyak pejabat-pejabat daerah berdatangan dari kelas lurah sampai gubernur hadir di sana. Tamu-tamu undangan pun banyak berdatangan dari mancanegara.
iCorp adalah satu-satunya pusat rehabilitasi bagi para koruptor yang pernah ada di dunia. Dirancang seperti sebuah obyek wisata. Lebih hebat dari universal studio dimana pun. Bahkan di iCorp terdapat kebun binatang, taman bunga dan wisata air. Akuarium raksasa melebihi ukuran seaworld di Ancol. Semua yang hadir berdecak kagum melihat keindahan dan kemewahan fasilitas dan wahana yang tersedia di iCorp. Ada wisata olahraga air yang memacu adrenalin. Lengkap dengan snorkling dan diving. Bahkan bagi yang berkocek tebal bisa menyewa sebuah kapal selam mini untuk mengitari pulau tersebut. Tentu saja wahana yang satu ini adalah kerjasama dengan negara tetangga. Disediakan pula hotel mewah bintang lima bagi tamu-tamu yang ingin berlibur lebih lama di sana. Tidak ada wisata kuliner di tempat lain yang selengkap tersedia di iCorp. Dari hidangan masakan khas nusantara sampai masakan mancanegara.
Setelah seharian mengitari iCorp, tibalah waktu bagi Sang Presiden untuk kembali ke Istananya. Namun Sang Presiden bertanya-tanya kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia yang sedari tadi berdiri di sampingnya, “Dimana letak ruang tahanan para koruptor itu?” Sambil tersenyum malu si Menteri menjawab, “Sesuai dengan Undang-Undang Hak Asasi Manusia yang baru Bapak tandatangani bulan yang lalu, tidak boleh ada seorang koruptor pun yang dibatasi ruang geraknya selama mereka berada di iCorp ini. Pejabat-pejabat yang bergantian menyalami Bapak sedari tadi, itulah para koruptor yang sedang direhabilitasi di sini. Mereka bebas berkeliaran selama di pulau ini” Sang Presiden pun menutup pembicaraan itu, “Oh bagus sekali, cepat bangun dua atau tiga pulau lagi seperti ini. Indonesia sangat membutuhkannya.” “Siap Pak, laksanakan,” jawab si Menteri.
iCorp, Januari 2015
Posted in Bhudi Tjahja
Komoditi Komodo
November 4th, 2011 Posted 1:10 pm
Aku komodo. Tepatnya mama komodo. Aku bukan cicak, bukan juga buaya. Aku tinggal di pulau komodo. Keluargaku semuanya komodo. Nenek-moyangku komodo. Anak-anakku juga komodo. Aku makan makanan komodo. Kulitku kulit komodo. Badanku bau komodo. Semuanya berbau komodo.
Aku senang manusia senang kepadaku. Aku dipelihara. Aku dikunjungi dari berbagai benua. Aku difoto dan dibuat film. Aku diteliti. Aku juga hendak dijadikan keajaiban dunia. Sungguh ajaib manusia itu. Aku diperjuangkan. Aku di-vote. Aku di-sms. Banyak sekali sms yang masuk. Sampai-sampai aku kewalahan menerimanya dan terpaksa aku harus balas seperti ini:
“Jangan kirimkan sms lagi ke mama, mama sudah kewalahan menerimanya” (Mama Komodo)
sumber gambar: internet
Posted in Bhudi Tjahja












