Tulisan Oleh Eric Arianto
Peralatan murah untuk macro photography
February 24th, 2009 Posted 4:47 am
Makro adalah salah satu aliran fotografi yang menyenangkan. Apa yang dimaksud makro? Makro adalah mengambil foto benda-benda yang sangat kecil sedetail mungkin. Object-objectnya, biasanya adalah serangga, hewan kecil, mainan, bunga, tanaman, dan lain-lain. Untuk ini, sudah pasti butuh lensa yang kuat, dan relative mahal. Gak salah kalau dulu, makro dinilai aliran foto yang eksklusif. Tetapi, sama seperti fotografi saat ini sudah tidak lagi eksklusif dan mahal, kita tidak perlu lagi menghabiskan uang terlalu banyak untuk mulai hunting object-object mungil di sekitar kita.
Salah satu pilihan yang paling benar, tentu saja membeli lensa makro. Ini pun banyak pilihannya. Mulai dari lensa spesialis makro, lensa tele yang punya switch makro, lensa jaman dulu yang pengoperasiannya masih manual, dan jenis-jenis lensa makro lainnya. Mahal? Tergantung lensanya sih. Kebanyakan jutaan rupiah, meskipun kita bisa mendapatkan barang 2nd dengan harga ratusan ribu rupiah.
Bagaimana kalau kita tidak mau menghabiskan uang segitu banyak? Ada banyak trick dan perlengkapan yang bisa digunakan.
Close up / diopter filter
![]() |
Lensa ini berfungsi untuk memperdekat jarak fokus dari lensa ke object. Jadi, kalau jarak dari lensa ke object awalnya adalah 1ft atau 30cm, dengan memasang close up filter ini, kita bisa mendapatkan jarak makin dekat, otomatis makin besar. Makin besar angka diopternya, makin dekat jarak dari lensa ke object.
Kelebihan
- Praktis, memasangnya tidak perlu copot lensa
- Sistem auto focusing (AF) dan system metering tetap berfungsi normal
- Gambar jadi soft / kurang tajam, karena penambahan lensa pasti akan mengurangi kualitas lensa secara keseluruhan (kecuali kalau kita beli merk Nikon atau Raynox, misalnya, yang pasti mahal)
- Pembesaran seringkali dirasa kurang (sekali lagi, kecuali kalau kita beli Raynox)
Extension tube
![]() ![]() |
Uniknya extension tube, satu buah ext tube ini terdiri dari 5 bagian: satu bagian yang menempel ke lensa, satu bagian menempel ke body, dan 3 partisi yang bisa dilepas. Dengan memasang / melepas partisi, kita bisa mengatur panjang ext tube. Makin panjang ext tube, makin dekat jarak dari lensa ke object.

![]() |
- Tidak menambah lensa, sehingga tidak mengurangi kualitas dan ketajaman
- Pembesaran bisa diatur
- Meskipun manual, bisa mengatur jarak dengan object (tentu saja harus memutar ring focus secara manual)
- Jika semua partisi dipasang, pembesaran bisa lebih dari 1:1
- Sistem autofocus dan metering bubar (kecuali jika pakai ext tube yang bisa mengkoneksi AF dan metering dari body ke lensa)
- Pemasangan agak ribet (karena harus membuka lensa)
- Jika semua partisi dipasang, harus sangat dekat dengan object
Reversed ring adapter
![]() ![]() |
Kelebihan:
- Tidak menambah lensa, sehingga tidak mengurangi kualitas dan ketajaman gambar
- Pembesaran sangat dramatis
- Ringan karena tidak memperpanjang lensa
- Praktis karena kita hanya perlu membawa tambahan satu buah ring saja
- Pemasangan ribet
- Pantat lensa ada di depan, sehingga harus cari cara untuk melindunginya
- Pembesaran fixed, jarak focus fixed
- Sistem AF dan metering bubar
- Fokus dicari murni dengan cara maju mundur
Male to male ring
![]() ![]() |
Kelebihan:
- Pembesaran: sangat besar
- Sistem AF dan metering jalan
- Vignetting (gue coba pake lensa kit 18-55mm ditumpuk pake lensa 50mm dibalik, muncul vignet)
- Pantat lensa ada di depan, sehingga harus cari cara untuk melindunginya
Nah, sudah ada 4 cara yang bisa dipakai. Tinggal dipilih. Kalau gak keberatan nyari metering manual, dan maju mundur untuk cari focus, bisa beli reversed ring adapter atau ext. tube. Kalau gak mau susah, beli aja close up filter. Kurang besar? Crop aja. Jadi, gak ada alasan mahal atau gak punya lensa lagi kalau diajakin hunting macro ya, hehehe…
Gimana kalau alasannya gak punya kamera dslr? Masih bisa koq. Asal punya kamera pocket. Gue akan bahas mengenai ini kemudian.
Posted in Eric Arianto
Arti warna lampu mobil
February 5th, 2009 Posted 1:49 pm
Jadi inget ajaran seorang dosen waktu kuliah dulu. Lampu-lampu mobil di-design dengan warna-warna tertentu dengan maksud yang sudah jelas dan sudah jadi perjanjian / konvensi di seluruh dunia.
Merah: berarti object yang tersebut sedang berhenti, dan kita menuju ke arahnya
Diaplikasikan di: lampu rem, lampu kucing di jalan, lampu kucing di sisi kiri jalan tol, lampu lalu lintas
Putih: berarti object yang tersebut sedang melaju ke arah kita
Diaplikasikan di: headlamp, lampu mundur, lampu kucing di sisi kanan jalan tol
Kuning: hati-hati, perlahan-lahan
Diaplikasikan di: lampu sign, lampu hazard, lampu lalu lintas
Karena itu, kalau mau memodifikasi lampu mobil, hati-hati, dan ingat-ingat arti warna lampu. Jangan sampai menyalahi perjanjian karena bisa membahayakan. Lampu boleh diganti led, diganti susunan, dan lain-lain, tapi jangan menyalahi aturan warnanya. Yang merah tetap menyala merah, yang kuning tetap menyala kuning, yang putih tetap menyala putih.
Terutama, jangan mengganti stoplamp dengan warna putih, dan headlamp dengan warna merah.
Berikut nih, contoh yang benar, hehehe…
Posted in Eric Arianto
Inagurasi: Obama, Pierce Morgan, David Cook, Carrie Underwood
January 22nd, 2009 Posted 12:54 pm
Setelah terlambat hampir 2 hari, gue terpancing juga untuk menulis tentang Obama. Keterlambatan ini menunjukkan betapa gue antusias terhadap pelantikan Obama. Yaitu, tidak antusias.
Gue gak ngerti kenapa pelantikan ini, di negara yang begitu jauhnya bisa memancing hype begitu besar di Indonesia. Indonesia dan Amerika berada di belahan dunia yang saling memunggungi, dan berbicara dengan bahasa yang berbeda. Tetapi, hampir semua stasiun TV menyarkan inagurasi presiden yang satu ini.
Uniknya, ini terjadi di tengah-tengah kencangnya kecaman terhadap arogansi Amerika, khususnya di Indonesia sini, terutama karena betapa Amerika merasa dirinya polisi dan pemimpin dunia. Di sisi lain, kita malah melakukan hal ini. Menimpakan begitu besarnya harapan bahwa pemimpin Amerika bisa membawa perubahan di dunia. Menghentikan perang di Palestina, memperbaiki ekonomi dunia, bahkan sampai harapan Obama bisa mengatrol nilai tukar Rupiah terhadap dolar. Banyak orang di Indonesia merayakan kemenangan Obama, dan terjadi histeria sehingga semua stasiun TV merasa perlu mengorbankan menyiarkan sinetron demi Obama. Agak kontradiktif, eh?
Gue cuman nonton sebentar. Setelah satu persatu pejabat kepresidenan keluar dengan dikawal senat bak petinju, gue kehilangan minat dan pergi tidur.
Besoknya, gue nonton Celebrity Apprentice. Sayang, Trace Adkins, yang gue kagumi karena integritasnya, malah fall short. Dia memilih untuk memanage cuman satu aspek dari tugas, yaitu nongkrongin Backstreet boys, di saat masih banyak hal lain yang perlu perhatian dia. Mendingan kasih orang laen aja yang manage BSB, jadi dia bisa mikirin hal-hal lain. Akhirnya, dia cuman sukses di satu aspek aja, yaitu berhasil bikin BSB naik panggung.
Di sisi lain, Pierce Morgan kelihatan lebih fokus dan berorientasi pada hasil.
Setelah nyontek di wikipedia, ternyata Donald Trump setuju sama gue (ceileee…) dan memecat Trace Adkins, sekaligus meng-inagurasi Pierce Morgan sebagai celebrity Apprentice.
Tapi teuteup….. Gue paling bersemangat dan terharu sampai merinding saat nonton inagurasi Carrie Underwood dan David Cook jadi American Idol.
Go Carrie… go david…
Untuk Obama, ikutan ah…. go Obama… save the world….
Posted in Eric Arianto
Menilai sebuah buku, menilai sebuah situasi
January 15th, 2009 Posted 10:32 am
Di jaman sekarang ini, di jaman marketing sudah begitu maju dan pentingnya, sampul buku dan penampilah buku rasanya sudah menjadi faktor yang tidak kalah pentingnya dengan isi bukunya itu sendiri. Akibatnya, bagaimana sesuatu itu dikemas bisa jadi lebih penting dari sesuatunya itu sendiri.
Kalau dilihat di hal-hal lain selain buku, rasanya ini juga berlaku benar adanya. Sering banget gue denger orang bilang: “IYA SIH…. dia bener… tapi…. CARA-NYA jangan gitu dong…”. Memang, di banyak peristiwa, cara itu jadi lebih penting dari apa yang bener / esensinya itu sendiri. Gue juga sering lihat orang dirugikan dan jadi setuju hanya karena lawan bicaranya itu menyenangkan, meminta dengan CARA yang baik.
Kayaknya, ini disebabkan kita keseringan nonton film. Di film, selalu gampang. Yang menyebalkan dan jelek, bertampang ganas, selalu jahat. Yang baik selalu menyenangkan, cakep, dllsb. Sampe pada waktu asterix nanya, “Yang mesti dipukul yang mana?”, dijawab: “Gampang, hajar aja yang jelek-jelek” haha…
Karena itu, kita sering menganggap menyebalkan itu ekuivalen dengan salah. Baik itu ekuivalen dengan benar. Saat argumen, orang yang nyolot selalu salah. Yang mengalah adalah yang benar. Yang bertutur kata halus pasti benar. Makanya, kalau ada maunya (meskipun salah), pakailah gaya yang halus, akomodatif, ngomong baik-baik. Maka lebih besar kemungkinan kemauan itu diterima (meskipun salah). Sebaliknya, meskipun benar, pendekatan konfrontatif itu biasanya akan gagal.
Padahal, film-film jaman sekarang aja udah gak pake formula itu. Banyak tokoh protagonis yang menyebalkan.
Maka dari itu hati-hati. Jangan terjebak sama sampulnya, caranya, dan orangnya. Mesti tetap melihat esensinya dan inti permasalahannya. Ada seorang teman yang pernah bilang, mutiara yang keluar dari mulut hewan pun tetap mutiara. Sedangkan kotoran yang dibungkus kertas kado, tetap bau…
Posted in Eric Arianto
Belajar ala Kwee Cheng
January 7th, 2009 Posted 7:39 am
Aku percaya bahwa di balik semua hal di dunia ini, ada hal absolut yang mendasarinya. Beberapa orang menyebutnya teori, aku menyebutnya hukum alam. Di balik hal yang sepertinya sangat mengandalkan perasaan pun, pasti ada hukumnya. Itulah sebabnya, semua orang bisa mencipta lagu, bisa menggambar, bisa jadi artistik, karena semuanya bisa dipelajari, asalkan tau teori dan mau berlatih.
Kalau sudah begitu, bagaimana kita bisa merasa pintar? Kita adalah makhluk bodoh di tengah-tengah keajaiban yang diciptakan Tuhan. Karena itu, ayo kita sama-sama belajar ala Kwee Cheng.
Posted in Eric Arianto
Rapuh dan Bleeding in Love
January 2nd, 2009 Posted 6:51 am
Mengenai lagunya, coba aja search di internet, udah banyak banget yang mbandingin lagu ini sama Bleeding in Love nya Leona Lewis.
Untuk ini gue gak mau comment banyak, dengerin aja sendiri, download aja MP3 nya (banyak koq yang posting), atau beli CD aslinya (gue gak mau posting di sini). Jangan bilang beda, karena melodinya sama persis, plek, liriknya mirip. Pake aturan 8 bar pun gue yakin gak lolos. Susunan lagunya pun persis…. Versenya sama, reff sama, bahkan bridge nya sama. Jangan bilang aransemennya beda, karena gue pernah denger Bleeding in love dinyanyiin oleh orang lain (cowok), dan meskipun masih berbahasa Inggris, aransemennya persis dengan versi Arif ini.
Gue cuman berharap, Rapuh ini merupakan versi adaptasi dan internasionalisasi dari Bleeding in love, seperti M2M dulu pernah ngeluarin versi mandarin dari Pretty boy, dan sixpence none the richer ngeluarin versi Japan dari Kiss me.
Yang akan gue lakukan cuma posting liriknya aja, dan silakan liat gimana ada kesamaan tema antara Bleeding dan rapuh. Boleh berkelit ini cuma kesamaan ide (meskipun kalau kita lihat reffnya, ku terluka itu jelas-jelas terjemahan dari I’m bleeding), karena pasti gak pesis. Wong bahasanya aja beda… Enjoy….
Bleeding in Love (Leona Lewis)
Closed off from love
I didn’t need the pain
Once or twice was enough
And it was all in vain
Time starts to pass
Before you know it you’re frozen
But something happened
For the very first time with you
My heart melts into the ground
Found something true
And everyone’s looking round
Thinking I’m going crazy
But I don’t care what they say
I’m in love with you
They try to pull me away
But they don’t know the truth
My heart’s crippled by the vein
That I keep on closing
You cut me open and I
Keep bleeding
Keep, keep bleeding love
I keep bleeding
I keep, keep bleeding love
Keep bleeding
Keep, keep bleeding love
You cut me open
Trying hard not to hear
But they talk so loud
Their piercing sounds fill my ears
Try to fill me with doubt
Yet I know that the goal
Is to keep me from falling
But nothing’s greater
Than the rush that comes with your embrace
And in this world of loneliness
I see your face
Yet everyone around me
Thinks that I’m going crazy, maybe, maybe
But I don’t care what they say
I’m in love with you
They try to pull me away
But they don’t know the truth
My heart’s crippled by the vein
That I keep on closing
You cut me open and I
Keep bleeding
Keep, keep bleeding love
I keep bleeding
I keep, keep bleeding love
Keep bleeding
Keep, keep bleeding love
You cut me open
And it’s draining all of me
Oh they find it hard to believe
I’ll be wearing these scars
For everyone to see
I don’t care what they say
I’m in love with you
They try to pull me away
But they don’t know the truth
My heart’s crippled by the vein
That I keep on closing
You cut me open and I
Keep bleeding
Keep, keep bleeding love
I keep bleeding
I keep, keep bleeding love
Keep bleeding
Keep, keep bleeding love
You cut me open and I
Keep bleeding
Keep, keep bleeding love
I keep bleeding
I keep, keep bleeding love
Keep bleeding
Keep, keep bleeding love
You cut me open and I
Keep bleeding
Keep, keep bleeding love
Joeniar Arief – Rapuh
Kau tak tahu betapa rapuhnya aku
Pakai lapisan tipis air yang beku
Sentuhan lembut kan hancurkan aku
Walaupun cinta tak sempurna
Menghampiriku seketika
Ku ingin kau tahu betapa rampuhnya aku
Reff:
Kau tak tahu betapa rapuhnya aku
Masih terasa luka dimasa lalu
Ku pernah mencintai sepenuh hati
Namun cinta itu pergi lagi
Dan ku terluka luka membekas
Bekas membuat buat selamanya
Selamanya ku
Ku ‘kan selalu
Ku ‘kan selalu rapuh
Kau ingin tunjukan kepada dunia
Tak hanya ada karena masa lalu
Tapi masih ada harapan bagi yang baru
Kau tawarkanku sejuta harapan
Namun kenangan itu tak pernah hilang
Ku ingin kau tahu betapa rapuhnya aku
Back to Reff:
Kau datang bagai hujan
Basahi tanah hati
Tapi kau lihat sediri luka ini
Posted in Eric Arianto
Ada apa dengan tahun baru?
January 2nd, 2009 Posted 4:42 am
Apa sih, maknanya? Bertambahnya usia? Kalau mau merayakan bertambahnya usia dan mau apa kita di umur yang lebih matang, mestinya lebih cocok dilakukan di hari ulang tahun. Atau apakah alasannya merayakan keberhasilan melewati tahun yang lalu? Kenapa kita gak merayakan ganti bulan, kalo gitu? Kenapa cuma ganti tahun aja yang dirayakan?
Tahun baru Cina malah mungkin lebih bermakna, karena di situ ada pergantian shio, yang menandakan pergantian karakter dan peruntungan. Jadi kita memang mesti bikin strategi untuk bisa survive di tahun tersebut. Tapi penanggalan masehi kan tidak begitu, bukan? Kalau mau susun strategi, sebaiknya dilakukan tiap hari, tiap minggu, tiap bulan, tiap tahun. Jadi, ganti tahun tuh tetap tidak istimewa.
Tahun ini pun sama. Gue masih gak merayakan tahun baru. Apalagi kondisi badan lagi kurang enak, jadi bisa dibilang gue mengalami pergantian tahun di tempat tidur aja (malah kebagian gak enaknya, karena kedengeran dar-der-dar-der kembang api dari jauh tanpa menikmati, malah gak bisa tidur *sigh*).
Tapi ada yang berbeda. Di penghujung tahun 2008 gue sempet merasa perlu, dan akhirnya membuat resolution untuk tahun 2009. Bukan cuma wishing, pengen kurus, atau pengen kaya, atau semacamnya, tapi ada beberapa, di beberapa sisi kehidupan, terkuantisasi dan ada targetnya. Mudah-mudahan bisa tercapai.
Akhir kata, gue mau ngucapin happy new year untuk semua yang merayakan. Sukses di tahun 2009! Errr.. ehhmm… kalau mau konsisten, gue mesti ngucapin… sukses di bulan Januari! Sukses di bulan Februari! Sukses di setiap hari-hari yang akan datang.
Tags: Tahun Baru
Posted in Eric Arianto
How much are you willing to pay just to get a predicable result?
December 23rd, 2008 Posted 1:48 pm
Apakah anda berani bayar 1 juta? 500 ribu? Bahkan saya yakin, 100 ribu pun anda gak akan mau keluarkan untuk orang ini. Kecuali, saat uang di rekening anda meluap, dan kelebihan 100 ribu rupiah di tabungan tersebut bisa membuat anda punya masalah besar dengan orang pajak.
Itulah yang gue rasakan saat cetak foto di rapico pasar minggu. Hasilnya terlalu damn unpredictable. Dua kali gue ke sana, selalu berakibat kekecewaan. Selalu overexposed, silau, warna hilang. Yang pertama, gue berhasil rewel dan minta dikoreksi dan cetak ulang sampai 2x. Yang kedua, beberapa hari kemudian, dengan operator beda, hasilnya persis begitu lagi. Mau protes, males.
Sebenernya, harganya sih murah, cuma 1.100 perak per lembar. Tapi, tetap aja gue gak rela. Terutama, karena mereka selalu sukses menghancurkan harapan gue punya foto-foto anak-anak yang lucu dan warna-warni. Juga sukses menghancurkan effort gue ngedit foto-foto di photoshop, dan membuat foto-foto itu jauh lebih jelek daripada sebelum gue fix.
Sedangkan di digitalbox, meskipun mesti jauh-jauh ke Ambassador dan mesti mengeluarkan 2.000 perak per lembar, hasilnya sesuai harapan, bahkan tanpa perlu ngomong sepatah katapun. Bagus? Pasti. Tapi bukan bagus yang bikin happy, tapi karena hasilnya sesuai dengan yang gue lihat di komputer dan ada di bayangan gue sebelum cetakan keluar.
Kesimpulan gue, kepuasan pelanggan sering bukan ditentukan oleh seberapa bagus pelayanan atau seberapa murah harganya. Tetapi simply seberapa predictable hasilnya.
Ambil contoh makan mie di pinggir jalan. Kalau kita makan di warung indomie, dan dapat indomie, pasti gak akan komplain sama sekali. Dapat sayur dan baso, I’m a happy man. Tapi coba makan di warung bakso. Asumsikan aja harga sama. Kemudian direbusin indomie. Pasti kesel… minimal bisik-bisik sama temen makan.
So, how much am I willing to pay just to get a predictable result? Untuk gue, 2.000 perak untuk mencetak selembar foto 4R.
Posted in Eric Arianto
Pelajaran dari lensa Nikkor AI 50mm F/1.4: Just because something has a special ability doesn’t mean that speciality should be exploited everytime
December 8th, 2008 Posted 12:33 pm
Seminggu yang lalu, gue baru aja beli lensa tua (baca: jadul) lewat salah satu forum fotografi. Spesifikasinya adalah: Nikkor AI 50mm dengan F/1.4. Membaca dari internet, lensa ini adalah keluaran / edisi tahun 1977, sebelum Nikkor mengeluarkan seri AI-s, dan kemudian jadi AF, AF-D, dan AF-S. Karena keluaran jadul, lensa ini beroperasi dengan fokus manual dan metering manual. Artinya, kita mesti putar apperture ring di lensa ke nomor yang diinginkan, kemudian, dengan mengoperasikan kamera di mode manual, kita tebak shutter speed yang sesuai dengan kondisi saat itu. Sesudah itu, kita mesti cari titik fokusnya dengan cara memutar lensa, sampai object yang dibidik terlihat tajam.
Susah? Sudah pasti, karena gue baru belajar fotografi. Main metering otomatis dan autofokus aja masih susah, apalagi mesti manual kayak begini.
Lalu, kenapa dibeli? Karena gue sangat senang coba-coba. Apalagi harganya murah, dan setelah melihat hasil foto lensa-lensa seangkatan ini, hasilnya tajam dan warna keluar. Ditambah, lensa ini bisa dibalik jadi lensa macro. Jadi, istilahnya, bisa membunuh beberapa burung dengan satu batu ini.
Alasan lainnya? Bukaan maksimumnya bisa sampai f/1.4! Melihat harganya, antara f/1.8 dengan f/1.4 ini (sama-sama lensa AI 50mm, tentunya) harganya paling beda 200ribuan. tetapi, kalau ngincer f/1.2nya, harganya bisa di atas 2 juta! So, disimpulkan, secara value for money, bolehlah beli lensa ini.
Setelah lensa datang, langsung dicoba dongg…. wahh… bener… sampai hari ini (udah seminggu) masih struggle. Awal-awal, selalu misfocus. Ternyata, gabungan manual fokus dengan f/1.4 yang punya DOF sempit itu benar-benar formula sukses untuk misfocus.
Keadaan mulai membaik setelah Dezig ngajarin liat indikator di viewfinder kalau fokus sudah dapet. Ini solve kalau gue moto mainan Felice, tapi gak solve problem pas moto orang, karena ternyata moto orang itu rumit. Selalu bergerak, dan wajah manusia itu gak datar. Dapet fokus di hidung gak menjamin mata tajem. Akhirnya, gue berdamai dengan setting f/2 untuk moto orang. Itupun masih sering meleset.
Selain ajaran itu, ada 2 peristiwa lain yang membuat gue makin kenal lensa ini.
Pertama, moto macro. Tadinya gue sangat bangga dengan f/1.4, sehingga, sebisa mungkin apperture ring gak digeser-geser lagi dari situ. Ternyata untuk macro, ini gak berlaku sama sekali. Meskipun sakit hati, untuk macro yang mengandalkan detail, f yang efektif adalah di sekitar f/8an. Berarti, beli lensa yang f paling lebar hanya f/3.5 pun sudah sangat cukup.
Kedua, saat makan-makan, oom Hanif pegang kamera gue, dan dia moto orang dengan f/4 dan f/2.8. Dipikir-pikir masuk akal, dengan f/2.8 atau bahkan f/4, keseluruhan kepala orang itu bisa masuk di DOF. Jadi seluruh kepala terlihat tajam. Sempet kecewa juga, berarti kalau beli lensa f/1.8, atau f/2, hasilnya sama aja toh….
But then, this phrase hits me: just because something has a special ability, doesn’t mean that speciality should be exploited everytime! Hanya karena David Beckham bisa menendang bola dengan lengkungan yang menakjubkan, gak berarti dia menendang dengan cara itu setiap kali. Kalau kita rata-ratakan dalam satu pertandingan, berapa persen dia menendang pisang, dibandingkan hal-hal lain yang dia lakukan? Berapa kali dia mencetak gol dengan cara itu? Itu tidak terjadi di setiap pertandingan, pastinya.
Dari situ gue sadar lagi. F/1.4, f/1.8, f/3.5, itu semua alat, statistik. Yang lebih penting adalah kapan menggunakannya dengan tepat. Punya lensa f/1.4 gak berarti harus nembak dengan f/1.4 setiap kali. Punya alat itu berarti kita punya pilihan jika kondisi membutuhkan begitu.
Sama dengan kita dan orang-orang sekitar kita. Semua pasti punya kelebihan. Semua punya skill. Tetapi, dengan punya kelebihan di suatu bidang dibanding orang lain, gak berarti harus selalu dieksploitasi di situ. It’s okay untuk dia mengerjakan hal-hal yang lebih remeh dan tidak memanfaatkan special ability nya. Kita tidak perlu berharap dia melakukan keajaiban setiap kali. Cukuplah dengan kelebihannya itu dia melakukan hal-hal biasa dengan lebih efektif. Dan jika kesempatan itu tiba, keajaiban yang ditunggu-tunggu bisa datang.
Anyway, keajaiban itu tidak ajaib kalau datangnya sering…
Posted in Eric Arianto
Pelajaran dari Dragon Ball: Tujuan vs Alat
November 24th, 2008 Posted 3:04 pm
Terus terang awalnya aku agak malas baca Dragon Ball (DB). Aku tadinya menganggap DB ini mirip serial Denny manusia ikan. Aku menghabiskan hampir seluruh waktu SD ku membaca perjuangan Denny mencari orang tuanya. Pertemuan dengan orang tua Denny ini menjadi tujuan serial ini. Jadi aku sering gemas karena melihat beberapa kali Denny hampir bertemu, tapi selalu gagal. Penyebabnya sederhana. Begitu Denny bertemu orangtuanya, serial berakhir.
Setelah membaca beberapa jilid awal, ternyata benar-benar sama. Songoku mencari DB, dan DB ini menjadi rebutan si baik dan si jahat. Tetapi, aku terkejut dan senang saat DB akhirnya terkumpul oleh King Pilaf, tetapi kemudian dia keduluan Oolong si babi saat menyebutkan permintaannya. Akhirnya, alih-alih mendapat hidup abadi, mereka mendapatkan celana dalam wanita 
Dari situ cerita bergulir. Menurutku, yang paling mengubah jalan cerita adalah saat Burma membuat alat pelacak DB. Dengan alat ini, keberadaan bola-bola bisa dideteksi, sehinga bisa dikumpulkan dengan mudah. Dari sini, untuk Songoku and friends, DB berubah dari tujuan menjadi alat. Alat untuk memperbaiki yang salah, menghidupkan yang mati, dan strategizing. Strategizing apa? Untuk mengalahkan lawan-lawan yang lebih kuat dari mereka.
Sejak saat ini, semuanya berubah. Peranan DB berubah, dari sebagai sentral cerita menjadi hanya salah satu aspek dari cerita. Inti cerita jadi berputar di sekitar Songoku yang tidak ingin menjadi yang terkuat, tapi hanya ingin bertemu dan bermain (baca: bertempur) dengan orang yang setara, bahkan lebih kuat dari dia. Songoku tidak ingin menang, membunuh, dan menghancurkan lawannya, hanya ingin tidak kalah dari orang tersebut.
Jadi, hati-hatilah menentukan, yang mana yang tujuan, yang mana alat. Contohnya, coba pikirkan apakah uang, karir, jabatan, itu tujuan hidup kita? Demikian juga dengan hal-hal lain. Apa yang nampak sebagai tujuan, meskipun penting, bisa jadi hanya dragon ball atau alat yang bisa kita gunakan.
Posted in Eric Arianto
Dunia tanpa uang
November 13th, 2008 Posted 11:50 am
Uang sudah dikenal di sepanjang peradaban manusia. Rasanya, di pelajaran sekolah, aku pernah dengar desas-desus bahwa jaman dulu kala, sebelum ada uang, dikenal sistem tukar menukar yg disebut barter. Kenapa aku sebut desas-desus? Karena tidak disebutkan kapan tepatnya sistem itu digantikan oleh uang, apalagi disebutkan siapa yg memperkenalkan uang untuk pertama kalinya.
Sekarang aku ingin mengajak berkhayal sebentar tentang apa jadinya kita jika uang tidak ada di dunia. Coba sama-sama bayangkan kondisi persis saat ini, hanya saja tanpa uang.
Bayangkan jika makanan ada di pasar, dan kita bebas untuk mengambil tanpa bayar. Pikiran yg pertama muncul adalah pasti akan terjadi kekacauan. Orang-orang akan berusaha mengambil sebanyak2nya, dan orang-orang lapar akan menyerbu pasar. Hmmm… Meskipun masuk akal, menurutku itu salah. Pola pikir gratisan semacam itu murni hasil didikan uang. Tanpa uang, gratisan itu biasa. Maka, kita tetap mengambil secukupnya, sebanyak yg bisa kita bawa, sesuai kebutuhan saja. Utk apa banyak-banyak? Toh besok bisa ambil lagi, dan masih gratis. Masuk akal, eh?
Mau dengar musik? Gratis. Tinggal ambil cd nya di toko, atau download aja. Mau nonton bola? Gratis. Memang agak rumit mengatur tempat duduk di stadion tanpa jualan karcis, tapi percaya deh, pasti ada jalan keluarnya. Yg pasti, ga perlu bayar TV berlangganan. Semua orang bisa makan enak, dengar musik, nonton bola. Gak perlu lagi ada lisensi, dan ga perlu lagi ribut2 soal pembajakan.
Analogi yg cukup dekat adalah dunia maya. Disana kita bisa dapat info, mengunduh file, hampir semuanya gratis. Tapi, semua kegratisan itu ga membuat orang jadi serakah. Jumlah giver masih sangat cukup untuk mengimbangi para taker. Orang-orang tetap ingin berkontribusi semampunya.
Hey, dunia tanpa uang ternyata menyenangkan.
Sekarang tiba di bagian yang sulit. Kalau musik gratis, siapa yangg nyanyi? Gampang, pasti orang yangg hobby nyanyi. Siapa yang main bola? Pasti yang hobby. Kalau makanan gratis, siapa yang menyediakan? Pasti yang senang masak. Bahan dasarnya? Dari yang senang nanam. Yang buat softwarenya? Yang hobby programming. Yang antar? Yang senang nyetir, pastinya.
Jadi, sistemnya akan mirip barter, tapi pertukarannya tidak satu barang utk yg lain. Kita kerja saja apa yg bisa kita kerjakan, beri yg bisa kita beri, dan ambil apa yg kita butuhkan. Ingat, tidak perlu berlebihan karena besok masih bisa ambil lagi.
Disini khayalan kita jadi rumit. Apakah ada cukup penanam padi untuk seluruh negara? Apakah ada cukup banyak pembuat mobil utk melayani dunia? Bagaimana dengan pengrajin barang-barang kesenian yang langka? Mana bisa melayani semua orang? Ada masalah supply dan demand.
Kalau begitu, jelaslah, mengapa kita perlu uang. Uang adalah alat utk mengukur, apakah kita sudah memberi cukup untuk menerima. Apakah kita sudah bekerja cukup berguna untuk dinikmati oleh orang lain. Maka, penyanyi yang lebih merdu dapat uang lebih banyak. Pemain yang lebih jago jg begitu. Pun programmer yang baik.
Setelah memberi cukup banyak dan cukup guna, kita mendapat (uang) lebih banyak. Nah, sekarang kita punya pilihan dan alat. Apakah mau mengambil lebih banyak (membelanjakan uang tsb), atau mau memberi lebih banyak lagi.
Maka, benarlah peribahasa: si kaya makin kaya. Kalau kita memberi banyak, kita bisa memberi lebih banyak lagi. Sedangkan, kalau kita memberi sedikit, ya hanya segitulah pemberian kita.
Jadi, meskipun dunia tanpa uang terlihat menyenangkan, dunia dengan uang itu jauh lebih adil. Asalkan kita menjadikan uang itu alat ukur dan sarana, bukan tujuan.
Posted in Eric Arianto
Pahlawan vs uang
November 12th, 2008 Posted 9:01 am
Bandingkan dengan perjalananan si pendekar. Katakanlah sebuah perjalanan makan waktu 5 hari. Berarti dia harus makan minimal 15 kali, belum termasuk ngemil. Asumsinya, minumnya bawa deh. Ditambah nginap 4 malam. Katakan, sekali makan habis 10 ribu (kelas warteg). Nginap di penginapan seharga 50 ribu semalam. Total sudah habis 350 ribu. Dengan pengiritan kayak gini pun, bisa habis jutaan rupiah per bulan hanya untuk pos travel cost. Apalagi, para pendekar itu bisa dibilang pengangguran semua.
Gimana mereka mendanainya ya? Oh iya. Memang sih, di balik baju si pendekar selalu ada uang kalau diperlukan. Bayangkan aja. Pendekar sudah mengembara bertahun-tahun. Karena dia ga bekerja, berarti semua uangnya dibawa dari awal perjalanan. Mengingat waktu itu blm ada ATM atau Credit Card, mestinya uang yg ada di balik baju tuh benar-benar banyak. Tetapi, kita gak pernah lihat mereka mengeluarkan beban ini dulu saat mau tempur. Pasti repot tuh saat adu jurus. Apalagi uangnya gede-gede begitu. Anehnya, kita gak pernah melihat uangnya jatuh berhamburan saat bertempur.
Di film heroes juga gitu. Hiro nakamura sudah lama meninggalkan jepang. Peter Petrelli juga sudah lama berhenti kerja. Sylar? Nah, justru dia lebih masuk akal karena dia doyan makan otak.
Songoku lebih aneh lagi. Dengan nafsu makan yang segitu besarnya, mestinya dia sangat kaya raya. Kalau Bezita, aku mengerti, karena kawin dengan pewaris capsule corp. Tunggu… Oiya. Chichi adalah anak raja. Mungkin dari situlah uangnya.
Berarti, Songoku hidup dengan uang mertua. Waktunya dihabiskan dengan mengerjakan hobby nya, yaitu berlatih beladiri. Tidak bekerja. Di satu kesempatan, malah minta dibuatkan pesawat yang gaya gravitasinya bisa diatur. Di dunia yg kukenal, orang seperti ini disebut pemalas.
Sayangnya,saat ini, dunia kita mengukur keberhasilan orang berdasarkan uang. Tuntutan jaman saat ini memang begitu. Maka, orang2 macam Songoku malah dianggap pecundang karena tidak mampu menafkahi anak dan istri. Jujur saja, mana yg dianggap lebih heroik. Songoku, yang membunuh Freeza tapi hidup dinafkahi istri, atau seorang tukang kayu sederhana yang banting tulang berusaha mencari uang untuk menyekolahkan anak?
Jadi, kenapa orang semacam Songoku, Kwee Cheng, ataupun Hiro Nakamura ini bisa selamanya menjadi pahlawan bagi anak-anak? Aku rasa, alasannya, karena anak-anak gak mengerti konsep uang seperti kita.
Posted in Eric Arianto



















