Tulisan Oleh Eric Arianto
Peralatan murah untuk macro photography
February 24th, 2009 Posted 4:47 am
Makro adalah salah satu aliran fotografi yang menyenangkan. Apa yang dimaksud makro? Makro adalah mengambil foto benda-benda yang sangat kecil sedetail mungkin. Object-objectnya, biasanya adalah serangga, hewan kecil, mainan, bunga, tanaman, dan lain-lain. Untuk ini, sudah pasti butuh lensa yang kuat, dan relative mahal. Gak salah kalau dulu, makro dinilai aliran foto yang eksklusif. Tetapi, sama seperti fotografi saat ini sudah tidak lagi eksklusif dan mahal, kita tidak perlu lagi menghabiskan uang terlalu banyak untuk mulai hunting object-object mungil di sekitar kita.
Salah satu pilihan yang paling benar, tentu saja membeli lensa makro. Ini pun banyak pilihannya. Mulai dari lensa spesialis makro, lensa tele yang punya switch makro, lensa jaman dulu yang pengoperasiannya masih manual, dan jenis-jenis lensa makro lainnya. Mahal? Tergantung lensanya sih. Kebanyakan jutaan rupiah, meskipun kita bisa mendapatkan barang 2nd dengan harga ratusan ribu rupiah.
Bagaimana kalau kita tidak mau menghabiskan uang segitu banyak? Ada banyak trick dan perlengkapan yang bisa digunakan.
Close up / diopter filter
![]() |
Lensa ini berfungsi untuk memperdekat jarak fokus dari lensa ke object. Jadi, kalau jarak dari lensa ke object awalnya adalah 1ft atau 30cm, dengan memasang close up filter ini, kita bisa mendapatkan jarak makin dekat, otomatis makin besar. Makin besar angka diopternya, makin dekat jarak dari lensa ke object.
Kelebihan
- Praktis, memasangnya tidak perlu copot lensa
- Sistem auto focusing (AF) dan system metering tetap berfungsi normal
- Gambar jadi soft / kurang tajam, karena penambahan lensa pasti akan mengurangi kualitas lensa secara keseluruhan (kecuali kalau kita beli merk Nikon atau Raynox, misalnya, yang pasti mahal)
- Pembesaran seringkali dirasa kurang (sekali lagi, kecuali kalau kita beli Raynox)
Extension tube
![]() ![]() |
Uniknya extension tube, satu buah ext tube ini terdiri dari 5 bagian: satu bagian yang menempel ke lensa, satu bagian menempel ke body, dan 3 partisi yang bisa dilepas. Dengan memasang / melepas partisi, kita bisa mengatur panjang ext tube. Makin panjang ext tube, makin dekat jarak dari lensa ke object.

![]() |
- Tidak menambah lensa, sehingga tidak mengurangi kualitas dan ketajaman
- Pembesaran bisa diatur
- Meskipun manual, bisa mengatur jarak dengan object (tentu saja harus memutar ring focus secara manual)
- Jika semua partisi dipasang, pembesaran bisa lebih dari 1:1
- Sistem autofocus dan metering bubar (kecuali jika pakai ext tube yang bisa mengkoneksi AF dan metering dari body ke lensa)
- Pemasangan agak ribet (karena harus membuka lensa)
- Jika semua partisi dipasang, harus sangat dekat dengan object
Reversed ring adapter
![]() ![]() |
Kelebihan:
- Tidak menambah lensa, sehingga tidak mengurangi kualitas dan ketajaman gambar
- Pembesaran sangat dramatis
- Ringan karena tidak memperpanjang lensa
- Praktis karena kita hanya perlu membawa tambahan satu buah ring saja
- Pemasangan ribet
- Pantat lensa ada di depan, sehingga harus cari cara untuk melindunginya
- Pembesaran fixed, jarak focus fixed
- Sistem AF dan metering bubar
- Fokus dicari murni dengan cara maju mundur
Male to male ring
![]() ![]() |
Kelebihan:
- Pembesaran: sangat besar
- Sistem AF dan metering jalan
- Vignetting (gue coba pake lensa kit 18-55mm ditumpuk pake lensa 50mm dibalik, muncul vignet)
- Pantat lensa ada di depan, sehingga harus cari cara untuk melindunginya
Nah, sudah ada 4 cara yang bisa dipakai. Tinggal dipilih. Kalau gak keberatan nyari metering manual, dan maju mundur untuk cari focus, bisa beli reversed ring adapter atau ext. tube. Kalau gak mau susah, beli aja close up filter. Kurang besar? Crop aja. Jadi, gak ada alasan mahal atau gak punya lensa lagi kalau diajakin hunting macro ya, hehehe…
Gimana kalau alasannya gak punya kamera dslr? Masih bisa koq. Asal punya kamera pocket. Gue akan bahas mengenai ini kemudian.
Posted in Eric Arianto
Arti warna lampu mobil
February 5th, 2009 Posted 1:49 pm
Jadi inget ajaran seorang dosen waktu kuliah dulu. Lampu-lampu mobil di-design dengan warna-warna tertentu dengan maksud yang sudah jelas dan sudah jadi perjanjian / konvensi di seluruh dunia.
Merah: berarti object yang tersebut sedang berhenti, dan kita menuju ke arahnya
Diaplikasikan di: lampu rem, lampu kucing di jalan, lampu kucing di sisi kiri jalan tol, lampu lalu lintas
Putih: berarti object yang tersebut sedang melaju ke arah kita
Diaplikasikan di: headlamp, lampu mundur, lampu kucing di sisi kanan jalan tol
Kuning: hati-hati, perlahan-lahan
Diaplikasikan di: lampu sign, lampu hazard, lampu lalu lintas
Karena itu, kalau mau memodifikasi lampu mobil, hati-hati, dan ingat-ingat arti warna lampu. Jangan sampai menyalahi perjanjian karena bisa membahayakan. Lampu boleh diganti led, diganti susunan, dan lain-lain, tapi jangan menyalahi aturan warnanya. Yang merah tetap menyala merah, yang kuning tetap menyala kuning, yang putih tetap menyala putih.
Terutama, jangan mengganti stoplamp dengan warna putih, dan headlamp dengan warna merah.
Berikut nih, contoh yang benar, hehehe…
Posted in Eric Arianto
Inagurasi: Obama, Pierce Morgan, David Cook, Carrie Underwood
January 22nd, 2009 Posted 12:54 pm
Setelah terlambat hampir 2 hari, gue terpancing juga untuk menulis tentang Obama. Keterlambatan ini menunjukkan betapa gue antusias terhadap pelantikan Obama. Yaitu, tidak antusias.
Gue gak ngerti kenapa pelantikan ini, di negara yang begitu jauhnya bisa memancing hype begitu besar di Indonesia. Indonesia dan Amerika berada di belahan dunia yang saling memunggungi, dan berbicara dengan bahasa yang berbeda. Tetapi, hampir semua stasiun TV menyarkan inagurasi presiden yang satu ini.
Uniknya, ini terjadi di tengah-tengah kencangnya kecaman terhadap arogansi Amerika, khususnya di Indonesia sini, terutama karena betapa Amerika merasa dirinya polisi dan pemimpin dunia. Di sisi lain, kita malah melakukan hal ini. Menimpakan begitu besarnya harapan bahwa pemimpin Amerika bisa membawa perubahan di dunia. Menghentikan perang di Palestina, memperbaiki ekonomi dunia, bahkan sampai harapan Obama bisa mengatrol nilai tukar Rupiah terhadap dolar. Banyak orang di Indonesia merayakan kemenangan Obama, dan terjadi histeria sehingga semua stasiun TV merasa perlu mengorbankan menyiarkan sinetron demi Obama. Agak kontradiktif, eh?
Gue cuman nonton sebentar. Setelah satu persatu pejabat kepresidenan keluar dengan dikawal senat bak petinju, gue kehilangan minat dan pergi tidur.
Besoknya, gue nonton Celebrity Apprentice. Sayang, Trace Adkins, yang gue kagumi karena integritasnya, malah fall short. Dia memilih untuk memanage cuman satu aspek dari tugas, yaitu nongkrongin Backstreet boys, di saat masih banyak hal lain yang perlu perhatian dia. Mendingan kasih orang laen aja yang manage BSB, jadi dia bisa mikirin hal-hal lain. Akhirnya, dia cuman sukses di satu aspek aja, yaitu berhasil bikin BSB naik panggung.
Di sisi lain, Pierce Morgan kelihatan lebih fokus dan berorientasi pada hasil.
Setelah nyontek di wikipedia, ternyata Donald Trump setuju sama gue (ceileee…) dan memecat Trace Adkins, sekaligus meng-inagurasi Pierce Morgan sebagai celebrity Apprentice.
Tapi teuteup….. Gue paling bersemangat dan terharu sampai merinding saat nonton inagurasi Carrie Underwood dan David Cook jadi American Idol.
Go Carrie… go david…
Untuk Obama, ikutan ah…. go Obama… save the world….
Posted in Eric Arianto
Menilai sebuah buku, menilai sebuah situasi
January 15th, 2009 Posted 10:32 am
Di jaman sekarang ini, di jaman marketing sudah begitu maju dan pentingnya, sampul buku dan penampilah buku rasanya sudah menjadi faktor yang tidak kalah pentingnya dengan isi bukunya itu sendiri. Akibatnya, bagaimana sesuatu itu dikemas bisa jadi lebih penting dari sesuatunya itu sendiri.
Kalau dilihat di hal-hal lain selain buku, rasanya ini juga berlaku benar adanya. Sering banget gue denger orang bilang: “IYA SIH…. dia bener… tapi…. CARA-NYA jangan gitu dong…”. Memang, di banyak peristiwa, cara itu jadi lebih penting dari apa yang bener / esensinya itu sendiri. Gue juga sering lihat orang dirugikan dan jadi setuju hanya karena lawan bicaranya itu menyenangkan, meminta dengan CARA yang baik.
Kayaknya, ini disebabkan kita keseringan nonton film. Di film, selalu gampang. Yang menyebalkan dan jelek, bertampang ganas, selalu jahat. Yang baik selalu menyenangkan, cakep, dllsb. Sampe pada waktu asterix nanya, “Yang mesti dipukul yang mana?”, dijawab: “Gampang, hajar aja yang jelek-jelek” haha…
Karena itu, kita sering menganggap menyebalkan itu ekuivalen dengan salah. Baik itu ekuivalen dengan benar. Saat argumen, orang yang nyolot selalu salah. Yang mengalah adalah yang benar. Yang bertutur kata halus pasti benar. Makanya, kalau ada maunya (meskipun salah), pakailah gaya yang halus, akomodatif, ngomong baik-baik. Maka lebih besar kemungkinan kemauan itu diterima (meskipun salah). Sebaliknya, meskipun benar, pendekatan konfrontatif itu biasanya akan gagal.
Padahal, film-film jaman sekarang aja udah gak pake formula itu. Banyak tokoh protagonis yang menyebalkan.
Maka dari itu hati-hati. Jangan terjebak sama sampulnya, caranya, dan orangnya. Mesti tetap melihat esensinya dan inti permasalahannya. Ada seorang teman yang pernah bilang, mutiara yang keluar dari mulut hewan pun tetap mutiara. Sedangkan kotoran yang dibungkus kertas kado, tetap bau…
Posted in Eric Arianto
Belajar ala Kwee Cheng
January 7th, 2009 Posted 7:39 am
Aku percaya bahwa di balik semua hal di dunia ini, ada hal absolut yang mendasarinya. Beberapa orang menyebutnya teori, aku menyebutnya hukum alam. Di balik hal yang sepertinya sangat mengandalkan perasaan pun, pasti ada hukumnya. Itulah sebabnya, semua orang bisa mencipta lagu, bisa menggambar, bisa jadi artistik, karena semuanya bisa dipelajari, asalkan tau teori dan mau berlatih.
Kalau sudah begitu, bagaimana kita bisa merasa pintar? Kita adalah makhluk bodoh di tengah-tengah keajaiban yang diciptakan Tuhan. Karena itu, ayo kita sama-sama belajar ala Kwee Cheng.
Posted in Eric Arianto




















