Tulisan Oleh Ferni Yustiana

Si Perokok yang Dicari

No Comments »

August 20th, 2010 Posted 12:01 pm

(Ferni Yustiana)

Si perokok ketika harus menghadapi medical check up dengan tujuan penerimaan karyawan, biasanya gagal karena kondisi paru-parunya "kurang fit". Namun ada pula si perokok yang dicari kemana-mana.

Si perokok yang dicari ini untuk mengisi posisi yang pekerjaannya adalah merokok. Kok bisa? Saya sendiri bingung, dan memang ternyata bisa. Dia diminta untuk merokok dan mencoba banyak rokok dengan aneka aroma untuk mendapatkan rasa dan aroma rokok yang paling tepat, nikmat, yang digemari, dan pada akhirnya memiliki daya jual yang baik alias laku.

(more...)

Posted in Ferni Yustiana

Berkah Yang Tidak Sempurna

No Comments »

August 19th, 2010 Posted 4:16 pm

(Ferni Yustiana)

Yang namanya manusia selalu menginginkan sesuatu dalam hidupnya. Ketika sesuatu yang diinginkan itu dibawa dalam doa kepada Yang Diatas, pasti ada harapan besar supaya sesuatu itu segera diberikan-Nya. Dan ketika Dia memberikannya, ada sukacita besar ... tapi bisa jadi ada kekecewaan besar mengikutinya.

Tak Sesuai

"Kan doanya udah dikabulkan, moso masih kecewa juga. Bukannya bersyukur malah kecewa. Piye toh?" seorang teman menegur.

(more...)

Posted in Ferni Yustiana

Cerita Gowes: Si Venus Keliling TMII

No Comments »

July 20th, 2010 Posted 2:02 pm

(Ferni Yustiana)

Hari Minggu tanggal 18 Juli 2010 kemarin, saya dan Venus bergowes lagi. Kali ini keliling daerah Pondok Gede, Bekasi. Mulai dari Jatiwaringin, terus memutari TMII sampai tiga putaran, lalu ke Kampung Sawah, dan kembali lagi ke Jatiwaringin.

Sebelum mulai jam 06.30 pagi, Venus di cek kondisinya khususnya ban, rem, rantai, dan gigi-giginya. Air minum diisi. Outfit celana panjang, kaos putih,dan cap (karena belum punya helmet T.T ). HP dan uang buat beli sarapan di pinggir jalan jangan sampai ketinggalan. Ready to go.

(more...)

Posted in Ferni Yustiana

Cerita Gowes: Sepeda Baruku

No Comments »

July 20th, 2010 Posted 1:45 pm

(Ferni Yustiana)

PRJ Juni-Juli 2010 kemarin membawa kenangan tersendiri karena saya jadi punya sepeda baru. Harus sampai dua kali ke PRJ demi memutuskan sepeda mana yang benar-benar pas di hati dan sesuai budget pula tentunya. Maklum budget selalu jadi pertimbangan (^.^) sehingga untuk merakit sepeda sendiri (walaupun sebenarnya ingin sekali merakit bukan beli jadi) dikesampingkan mengingat cost yang harus dikeluarkan untuk merakit biasanya lebih mahal daripada beli jadi.

Putar-putar di tiga stand sepeda yang ada dan hasil searching info kesana kemari di dunia maya, membandingkan kelebihan, kekurangan, dan kebutuhannya, bingung antara Poligon ataupun United, akhirnya hati dan kantong memutuskan memilih MTB United Venus XC-77 warna merah.

(more...)

Posted in Ferni Yustiana

Surat Cinta untuk Kekasih di Balik Jeruji

No Comments »

July 16th, 2010 Posted 4:08 pm

(Ferni Yustiana) Apa yang harus Kulakukan lagi bila kau tak setia Karena aku hanya seorang manusia Yang tak kau anggap … Cukup sudah Kau sakiti aku lagi Serpihan perih ini Akan ku bawa mati (more...)

Posted in Ferni Yustiana

Silih Berganti … Semua Karena Pilihan

No Comments »

July 14th, 2010 Posted 3:42 pm

(Ferni Yustiana)

Mengakhiri sebuah perjalanan menjadi permulaan suatu perjalanan baru. Meskipun misalnya ketika mengakhirinya ada suatu perasaan keterpaksaan. Ketika sebenarnya diri masih diliputi perasaan bahagia, nyaman, puas, menyenangkan, namum ada keharusan yang memaksa diri pergi menjauh…rasanya jadi timpang. Tapi ketika mempertimbangkan baik buruknya, pilihan itu ada pada kebebasan diri sendiri. Meninggalkan sesuatu yang masih melekat di hati dan menyambut sesuatu yang sama sekali asing, kadang menakutkan. Meninggalkan zona nyaman kadang menggetarkan hati. Namun dibalik itu selalu ada konsekuensi.

(more...)

Posted in Ferni Yustiana

Waka Waka – Putaran (Menjelang) Akhir

No Comments »

July 6th, 2010 Posted 10:08 am

(Ferni Yustiana)

Selalu menarik mengikuti Piala Dunia. Untuk seseorang yang kurang menyukai bola, entah kenapa setiap event besar 4 tahunan itu tiba, mendadak menjadi penggila bola. Rela berkantuk-kantuk ria menunggu laga-laga yang digelar. Mengikuti perkembangan dan berita-berita bola secara kontinu. Apalagi jika sudah memasuki putaran-putaran terakhir seperti saat ini dimana empat tim besar akan berlaga di semi final.

Bicara soal pertandingan semi final, saya sembilan puluh persen yakin Belanda akan menang melawan Uruguay. Mungkin setuju dengan banyak pihak yang memprediksi skor 2-0 untuk Belanda. Yang sepuluh persennya saya serahkan kepada “bundarnya” bola, artinya kalaupun Uruguay menang, yaaah hanya karena faktor sepuluh persen itu, a.k.a it’s just luck. Tapi ketika berbicara tentang Spanyol vs Jerman, saya terbagi dua. Hati saya sangat memfavoritkan Spanyol tapi pikiran saya mendukung Jerman. (more...)

Posted in Ferni Yustiana

Kau Bisa … Tapi Sayang …

No Comments »

July 2nd, 2010 Posted 3:19 pm

(Ferni Yustiana)

Kau bisa memiliki seluruh kekayaan di dunia. Kau bisa memiliki orang-orang yang mau kau perintah seenak udelmu. Kau bisa mengendalikan hidup orang lain hanya dengan perkataanmu. Kau memiliki semua orang yang takut dan tunduk pada kehendakmu.

Kau bisa memerintahkan orang lain untuk melakukan hal yang paling mustahil sekalipun dan dia harus melakukannya, dan kau tak mau mendengar alasan apapun. Kau bisa menyuarakan apapun yang ada di pikiran dan hatimu walaupun buruk dan jahat sekalipun. Kau bisa meletakkan prasangka burukmu kepada setiap orang tanpa dia sanggup melawan dan membela diri. Kau bisa mengusir siapapun yang tidak kau kehendaki. (more...)

Posted in Ferni Yustiana

Jadi Bos

No Comments »

June 4th, 2010 Posted 4:12 pm

(Ferni Yustiana)

Berada di posisi karyawan rendahan yang biasa jadi jongos kadang bisa sangat menyakitkan. Apalagi jika memiliki bos yang “sulit”. Sudah berusaha sebaik mungkin tapi selalu ada saja yang tidak berkenan di si bos. Apalagi jika sebenarnya hal yang tidak berkenan di si bos itu bukan kesalahan kita namun kitalah yang disalahkan…dan sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan. Haaah…rasanya luar biasa mengesalkan.

Lalu saya berandai-andai. Jika saya menjadi bos apakah saya pun akan bersikap begitu? Tidak mau memberikan kesempatan bicara kepada bawahannya. Selalu marah-marah. Emosi tinggi. Menganut paham curiga-ism. Bicara selalu dengan nada tinggi. Fiuuh…

(more...)

Posted in Ferni Yustiana

Berbeda tapi Bersama

No Comments »

June 1st, 2010 Posted 11:09 am

(Ferni Yustiana) Kau punya keinginan, Aku punya keinginan, Keinginan itu tak sejalan. Aku punya impian, Kaupun punya impian, Apakah impian kita berpadanan? (more...)

Posted in Ferni Yustiana

Akhir Pesta

No Comments »

May 31st, 2010 Posted 4:12 pm

(Ferni Yustiana)

Pernah punya pengalaman menyelinap ke pesta perkawinan seseorang yang sama sekali tidak kau kenal? Well, saya (akhirnya) punya. Sebenarnya bukan menyelinap secara harafiah demi untuk makan gratis. Saya diajak untuk menemani kakak saya. Tapi memang saya makan gratis dan tidak seorang pun yang saya kenal di pesta itu. Benar-benar pesta perkawinan yang asing. Saya pun kucing-kucingan dengan fotografer dan videografer, jangan sampai dia memotret saya lagi makan enak dan kemudian si empunya pesta sadar saat mengamati foto atau video itu bahwa ada tamu tak diundang. Soal amplop jangan ditanya. Namanya juga cuma menemani…ya pastinya tak ada amplop dari saya. Tapi saya bisa berlagak dengan menulis di buku tamu nama kakak saya itu…supaya tidak terkesan tamu yang tak diundang.

Sebagai pengalaman pertama menjadi tamu tak diundang ternyata menjadi pengalaman saya pula dimana saya tak ada complain tentang pesta itu. Pestanya mewah luar biasa. Makanannya hmmm…juara (baca: bener-bener juara deh, top markotop). Dekorasinya selangit. Gedungnya…wuih cuma Ritz Carlton Pacific Place (yang katanya) bisa nyaingin. Ada artisnya juga di antara tamu-tamunya. Semua tamu tampil menawan dan jelas bukan dari kalangan “bawah” (baca: marjinal). Mungkin ada pertanyaan, apakah saya minder? Dasar ndablek, saya cuek aja, wong saya tamu gak diundang, buat apa minder? Atau, ada yang berpikir, “Ah dasar cewek ga tau malu.” Saya jawab, “Iya saya (mungkin) ga tau malu tapi sebodo amat lah.” (more...)

Posted in Ferni Yustiana

Perubahan

No Comments »

May 25th, 2010 Posted 4:42 pm

Dulu, setiap ada hp baru digelontorkan produsen, saya selalu semangat mengikuti beritanya. Selalu berupaya mengikuti trend hp baru … tentu saja jika ada budgetnya. Kalaupun budgetnya minus dan tidak bisa beli, tetap saja mengikuti review-review yang dikeluarkan oleh majalah-majalah gadget ataupun review online dari internet. Tujuannya semata supaya pengetahuan tentang gadget selalu up to date. Dulu juga, setiap ada Manga (komik dari Jepang) yang diterbitkan, pasti selalu beli. Karena harga manga lebih terjangkau, otomatis selalu dibela-belain untuk bisa beli. Mulai dari yang dikeluarkan oleh penerbit gelap yang tidak punya ijin (kalau ini biasanya manga-manga yang “nyerempet-nyerempet” pornoaksi) sampai manga-manga yang berijin dan diterbitkan penerbit besar. Hampir tiap minggu hunting terus, takut ada manga yang kelewat. Tapi anehnya, sekarang tidak begitu. Kalau manga, mungkin masih satu atau dua, tapi benar-benar selektif. Hp? Wuih, sementara semua orang sibuk sama BBnya, saya malah ga punya tuh. Iphone? Sama sekali ga tertarik karena malah takut rusak karena kesembronoan saya. Jika dulu kita menginginkan sesuatu dan selalu berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkannya, kemudian tiba-tiba sesuatu itu menjadi tidak penting lagi sekarang, apa kira-kira yang menyebabkan perubahan itu ya? Apakah karena perkembangan usia? Atau cara pandang? Atau skala prioritas? Atau mungkin karena kita sudah malas menanggung resikonya? (kalau hp, bisa bikin bokek. Kalau manga, rumah bisa bener-bener penuh karena tidak ada tempat lagi untuk menyimpan). Rasanya memang semakin bertambahnya umur (baca: kedewasaan), hal-hal yang disukai maupun yang tidak, yang dikejar dan yang diimpi-impikan, mengalami perubahan. Jika dulu saya menganggap hp/gadget sebagai media saya untuk bergaul, sekarang tidak lagi. Ada nilai-nilai yang lebih mulia untuk bergaul dari hanya sekedar gadget. Keterbukaan, kepercayaan, kerendahhatian, kejujuran. Bisa jadi gadget malah membuat kita menemukan teman yang materialistis tanpa melihat diri kita sesungguhnya. Jika dulu saya senang mengisolasi diri dengan manga-manga saya dan lebih senang menghabiskan waktu untuk hunting manga sendirian (karena merasa tidak ada orang lain yang mau menemani) maka sekarang saya lebih memilih untuk meletakkan manga saya dan bersama orang lain. Menikmati waktu kebersamaan bersama teman, sahabat, keluarga, pasangan. Berbagi cerita baik kebahagiaan maupun kepedihan. Dan kita akan bisa melihat dan mengenal diri sendiri lebih jelas bersama orang lain melalui perasaan, pikiran, dan perkataan mereka kepada kita (catatan: itu bisa terjadi jika kita mau merendahkan hati untuk menerima masukan dan kritikan mereka). Bagaimanapun juga, perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa ditolak. Seiring perjalanan waktu perubahan senantiasa akan selalu kita alami dan ini terjadi di setiap segi kehidupan. Dan jika kita cukup menyadari maka sesungguhnya dalam perubahan selalu ada pilihan. Tinggal kembali kepada diri masing-masing apakah cukup bijak mengambil pilihan-pilihan dalam perubahan yang terjadi. Karena setiap pilihan mengandung konsekuensi. Pada akhirnya dapat disimpulkan apakah perubahan yang terjadi pada kita sungguh baik atau malah buruk. Hp dan manga kini tak lagi menjadi prioritas dalam hari-hari saya dan bagi saya perubahan itu sungguh baik. Tergantung bagaimana Anda melihatnya.

Posted in Ferni Yustiana

Terjebak

No Comments »

May 10th, 2010 Posted 7:35 pm

Sikut sana sikut sini. Sodok sana sodok sini. Fitnah sana fitnah sini. Jilat sana jilat sini. Banyak yang tak bersalah menanggung derita Hanya karena lidah yang tak bertulang Banyak yang mengorbankan kehidupannya Hanya karena para penjilat yang tak tau diuntung. Seperti singa yang mencari mangsa Tak henti mencari korban selanjutnya Apakah untungnya mengorbankan sesama? Apakah pahalanya menyakiti sesama? Rasa takut merajalela Para pengecut menampakkan diri Yang berani dihadapkan ke muka Hanya untuk disembelih di atas balai. Menyedihkan… Aku ingin berlari dari sini. Aku ingin pergi ke dimensi lain. Aku ingin bebas dari belenggu ini. Tapi bilakah itu terjadi?

Posted in Ferni Yustiana

Kerinduan yang Mewujud

No Comments »

May 6th, 2010 Posted 12:06 pm

Malaikat kecil, Kemarin kita tak bertemu, Belum lagi bersua wajahmu nan mungil, Belum lagi menghirup harum semerbak tubuh mungilmu. Putri terindah, Sudah lama kami menunggu, Seperti penjaga malam menantikan fajar merekah, Seperti itulah kerinduan kami menyambut kedatanganmu. Kini kau ada, Dengan mata yang terbuka, Dengan tangis yang segera mereda, Seakan tak sabar ingin memenuhi dunia dengan asa. Kami sayang kau, Rindu kami telah kau penuhi, Kau isi bejana hati kami dengan tawa haru, Kini kau mewujud dalam indahnya kebersamaan keluarga sejati. Selamat datang Gizella Christabel Putri Nugroho Dalam dunia indah yang akan kau jelang.

Posted in Ferni Yustiana

Waktu yang Menguatkan

No Comments »

May 5th, 2010 Posted 5:08 pm

Berharap untuk mendapatkan sesuatu kadang melelahkan jiwa raga. Segala daya upaya dibuat demi tercapainya harapan itu. Tuntutan perjuangan dan bahkan air mata kadang terasa berat. Waktu, energi, uang, rasa, karsa tercurah semuanya demi harapan itu. Jika jalan belum benar-benar buntu, harapan itu masih terus dikejar. Selalu mencari jalan - meski kecil sekalipun - untuk bisa direalisasikan. Harapan untuk memiliki pekerjaan, mendapatkan pasangan hidup, anak, rumah idaman, mobil, kelulusan pendidikan, keberhasilan usaha, penerimaan diri di berbagai lingkungan yang diinginkan, dan seterusnya. Namun ketika bertemu dengan kebuntuan, harapan itu menjadi sangat menyakitkan. Harapan itu disesali kehadirannya. Air mata yang terasa tak kan berhenti mengalir mengiringi kepergian harapan. Hati yang bereaksi dengan kepedihan. Raga yang merespon dengan rasa sakit. Dunia yang seakan tak adil. Lalu menyesali diri dan keadaan. Lalu muncul pertanyaan “Mengapa?”. Mengapa harus terjadi pada diri ini? Mengapa tak dimudahkan dan tak dilancarkan? Mengapa jalan pemenuhan harapan itu begitu sulit dan berliku? Mengapa diri ini selalu tak mampu meraih apa yang diinginkan? Mengapa keadaan harus seperti ini? Mengapa Tuhan tak mengabulkannya? Mengapa Dia tak adil? Begitu banyak pertanyaan “Mengapa?”. Dan … sayangnya tak pernah benar-benar bisa terjawab. Tak pernah bisa benar-benar melegakan jiwa dan rasa. Sangat sulit dirasakan ketika apa yang diharapkan dan diinginkan tidak dapat diraih. Terlebih jika sudah mengeluarkan usaha dan pengorbanan yang tidak sedikit. Rasanya diri ini sungguh tak berguna karena tak mampu mewujudkan harapan itu. Lupa bahwa diri ini hanya berkuasa untuk mengusahakan namun tak berkuasa untuk menentukan. Lalu menyalahkan Tuhan. Sungguh sangat mudah untuk menyalahkan-Nya daripada melihat tujuan-Nya menolak harapan itu. “Tuhan tau apa yang terbaik.” “Mungkin belum saatnya saja.” “Segalanya akan indah pada waktunya.” “Sabar. Selalu ada hikmah di balik semuanya.” ”Tuhan sedang menguji kesabaranmu.” Dan bla bla bla lainnya yang sangat klise. Bukannya tak ada kebenaran di setiap kalimat itu, namun tetap saja tak mampu menghibur diri dan menenggelamkan kekecewaan dan kesedihan. TIME WILL HEAL. Kalimat klise lainnya dan ada kebenaran kuat di dalamnya … terasa menguatkan. Tak ada yang bisa melawan waktu. Tuhan sungguh bijak menciptakan waktu yang berjalan terus maju ke depan meninggalkan segala sesuatu di belakangnya tanpa peduli. Yang baik dan membahagiakan menjadi kenangan indah. Yang buruk dan menyedihkan menjadi kenangan pahit yang tak akan terasa getir lagi seiring dengan waktu yang terus bergerak. Menikmati waktu - yang karena rasa sakit dan kecewa – terasa merangkak sangat pelan, adalah suatu keindahan tersendiri. Sambil merasakan perih yang kerap terasa ketika ingat bahwa harapan tak terwujud, sedikit demi sedikit waktu membuat segala sesuatu menjadi easy to bear, lebih mudah ditanggung. Tak ada lagi air mata. Tak ada lagi kekecewaan dan kesedihan. Hatipun berkurang rasa sakitnya. Tak ada lagi pertanyaan-pertanyaan “Mengapa?” yang tak ada jawabannya. Pada akhirnya hanya ada penerimaan kenyataan. Pada akhirnya hanya ada keikhlasan. Waktu sungguh luar biasa. Setelah waktu memunculkan penerimaan dan keikhlasan, diri menjadi lebih mudah melihat luasnya cakrawala semesta. Mata kembali melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang sebelumnya seperti tertutup oleh lapisan granit. Pikiran kembali berkelana ke cara-cara pandang yang lainnya: tak lagi sempit, tak lagi picik. Rona wajah pun kembali ke asalnya. Bahkan mungkin pupusnya harapan yang semula, kini bisa dihadapi dengan senyuman tulus. Jadi jika harapan dan keinginan mu kembali kandas dengan alasan apapun dan kesedihan kembali datang, bekerja samalah dengan sang waktu. Meski terasa lambat karena sakit yang tak kunjung hilang namun nikmatilah karena makin lambat waktu berjalan makin kuatlah dirimu. Dan ketika diri telah menjadi kuat, waktu akan memunculkan harapan-harapan yang baru lagi…yang mungkin kali ini akan terwujud. Dan biarkan pula Si Empunya Waktu bekerja dengan cara-Nya sendiri.

Posted in Ferni Yustiana

←Older