Tulisan Oleh Ferni Yustiana
Gorengan vs Tissue vs Krupuk
January 20th, 2012 Posted 3:54 pm
Pagi hari, mengamati seorang bapak setengah tua yang menawarkan tissue 2ribuan barang dagangannya, rasanya menyesal membeli gorengan 10ribu buat teman-teman seruangan yang notabene sangat mampu, bahkan untuk makan di sebuah restoran mahal sekalipun.
Gorengan yang saya tenteng ini bisa membeli 5 bungkus tissue jualannya dan bisa jadi penghiburan buat si bapak itu yang tidak lelah berteriak mesti tidak ada yang beli tissuenya.
Sambil berpikir seperti itu penyesalan kok makin bertambah. Hanya karena termakan omongan bahwa saya tidak pernah beli gorengan untuk dimakan bersama, saya tersulut dan gengsi, akhirnya membeli gorengan walau hanya 10ribu. Tapi kok plastik gorengan yang harusnya enteng ini tiba-tiba berat. Maunya saya kembalikan saja ke tukang gorengannya dan uang 10ribu itu saya belikan tissue semua, toh saya juga perlu tissue itu. Darimana datangnya penyesalan beli gorengan itu?
Mungkin karena saya sangat sadar bahwa teman-teman saya itu sangat mampu bahkan untuk keluar masuk restoran mahal.
“Tapi lo beli gorengan itu kan juga jadi rejeki buat si tukang gorengan.” kata hati kecil saya sebelah kiri.
Yang sebelah kanan menjawab, “Masalahnya bukan itu.”
Ada balasan lagi, “Lo aja kali yang terlalu pelit.”
“Terserah lo deh.”
Yah, tetap saja gorengan itu sudah dibeli dan harus dimakan kan? Kalau tidak dimakan, mubazir…lebih salah lagi.
Sorenya ketika pulang, jalanan rame lancar, lihat lagi situasi yang lebih membuat hati miris. Seorang bapak yang buta, memegang tongkatnya berjalan tertatih di pinggir jalan raya, sambil menjajakan bungkusan kerupuk warna orange di punggungnya yang dibawanya bak menggendong tas ransel. Tertusuk lagi rasanya hati ini. Sedih sekali dan ingat gorengan tadi pagi. Si bapak itu lebih membutuhkan uang 10ribu itu. Penyesalan berlanjut terus sampai malam hari.
Bukannya tidak rela dan ikhlas membelikan gorengan buat teman-teman.
Bukannya pelit.
Bukannya ingin memutar waktu sehingga tidak perlu beli gorengan.
Tapi alangkah bijaknya pemikiran sebelum mengeluarkan uang untuk sesuatu yang sebenarnya tidak perlu.
Alangkah dewasanya mampu menahan diri dari keinginan-keinginan duniawi yang tidak teratur.
Alangkah hebatnya mencoba jeli melihat sekitar mungkin ada orang yang sangat membutuhkan bantuan meski 2ribu atau 10ribu.
Dan alangkah puasnya bisa menghibur hati mereka dan akhirnya sama-sama bisa bersyukur atas kebaikan-Nya.
(Catatan ketika ditunjukkan-Nya jalan untuk mengekang keinginan-keinginan duniawi yang tidak teratur)
Posted in Ferni Yustiana
Resolusi (lagi)
December 27th, 2011 Posted 4:57 pm
Beberapa hari lagi memasuki tahun 2012. Kadang waktu terasa lambat berjalan tapi jika mendekati pergantian tahun seperti saat-saat ini, justru rasanya cepat sekali waktu berlalu, tiba-tiba sudah tahun baru.
Tahun yang baru artinya ada resolusi baru, harapan baru, niat yang baru (lagi). Melihat, mengingat, mengevaluasi ke belakang, resolusi yang lalu. Apakah tercapai atau tidak. Kalau tercapai, ya syukur deh tercapai, pastinya senang bin bahagia. Dan selanjutnya membuat resolusi yang baru lagi. Kalau tidak tercapai, masalahnya ada dimana? Kenapa tidak tercapai?
Seperti saya. Beberapa resolusi saya tercapai, beberapa lagi tidak. Yang tercapai membuat saya puas & senang menjalani tahun yang hampir lewat ini. Tapi yang tidak tercapai, membuat saya mengurut dada dan menghela nafas berat. Bertanya-tanya dimana salahnya sehingga tidak tercapai.
Apapun itu, menurut saya, yang namanya resolusi butuh dua modal dasar. Niat yang kuat dan kegigihan.
Pertama, biasanya resolusi baru, selalu dibarengi dengan niat untuk meraihnya. Ambil contoh paling gampang, resolusi untuk berhenti merokok di tahun 2011 Awal tahun biasanya keinginan untuk mewujudkan resolusi itu begitu menggebu, niatnya sangat kuat. “Pokoknya saya mau berhenti merokok. Peduli amat kalau tahun lalu belum bisa. Yang penting tahun depan harus bisa berhenti merokok. Pokoknya harus bisa. Udah diniatin banget deh. Demi kesehatan…maju terus.” Itu niat di awal tahun, keren kan? Niatnya selangit deh…jempol banget. Top markotop kata pak Bondan.
Masalahnya biasanya di point kedua, kegigihan. Klise tapi bener banget. Sekuat apapun niatnya kalau tidak gigih ya percuma saja toh? Mau menyatakan niat berulang-ulang kali kalau pada akhirnya, seiring tahun berjalan, tidak gigih dalam menjalani niat dan tidak gigih mengatasi godaan, ya sami mawon.
Ditawari rokok – dengan alasan tidak enak menolak – merokok. Temen merokok, ikut merokok. Sambil naik motor atau mobil, merokok. Habis makan, merokok. Bengong sendirian, merokok. Mikir, merokok. BAB, merokok. Dimana niat awal yang diteriakkan dari awal?
Kegigihan itu tidak hanya power untuk bisa menolak godaan yang datang, tapi juga ketekunan dalam berusaha dan mencari jalan mencapai resolusi itu.
“Pokoknya tahun ini musti turunin berat badan 10 kilo.” Resolusi yang ini juga berat nih. Sama seperti merokok, godaan yang meluruhkan niat pastinya banyak bermunculan disana-sini. Sudah gigih menolak godaan tapi tidak kreatif mencari cara menurunkan berat badan apalagi mudah menyerah ketika tidak ada jalan, hasil akhirnya sudah jelas, resolusi tidak tercapai. “Gue harus atur diet gue. Pokoknya diet, pasti berat badan gue turun.” Lah kerjanya marketing yang harus entertain client dengan makan disana-sini, dan ‘konsisten’ dengan satu jalan mencapai resolusinya itu, diet tok. Tidak ada pikiran untuk fitness teratur kek, jogging kek, renang kek, mengurangi porsi makan kek, pilih makanan rendah kalori kek, atau yang lainnya kek. Gigih dengan niatnya tapi tidak kreatif berusaha mencari alternatif jalan atau solusi untuk mencapainya, ya percuma juga toh?
Apapun resolusinya, di akhir tahun baiknya melakukan evaluasi dan introspeksi, bagaimana perjalanan resolusi tahun sebelumnya. Jika masalahnya ada di diri kita sendiri, ada baiknya kita teguhkan lagi niat dan kegigihan kita untuk mencapai resolusi di tahun yang baru. Kata orang bijak, untuk sukses butuh jatuh bangun. Untuk mencapai resolusi (menjadi manusia yang lebih baik) pasti juga jatuh bangun. Tapi manusia pembelajar pasti bisa mempelajari dan mengambil sesuatu dari proses jatuh bangunnya itu, untuk dijadikan pijakan selanjutnya – tidak jatuh ke lubang yang sama.
Dan jika kita sudah berusaha dengan sekuat tenaga tapi resolusi tetap tidak tercapai, sudah saatnya kita sadari bahwa ada faktor lain yang mengatur, yaitu Dia. Kata orang bijak (lagi), segala sesuatu ada yang mengatur (maksudnya Dia). So, pada akhir periode tahun, kita serahkan pada pengaturan-Nya dan sebelum melangkah pastikan Dia tahu dan merestui resolusi kita di tahun berikutnya. Caranya supaya Dia tahu dan merestui? Ya, Dia dikasih tahu lah dan minta restu-Nya. Selanjutnya, terserah Dia. Manusia hanya bisa berpasrah (baca: pasrah aktif bukan pasif, artinya harus berusaha segigih mungkin).
Selamat menjelang hadirnya tahun yang baru. Selamat menyusun resolusi yang membuat hidup lebih berwarna. Selamat bertambah umur. Semoga kita semua semakin bijak menjalani hidup yang dianugerahkan-Nya.
(The clock is ticking and headed for the New Year 2012)
Posted in Ferni Yustiana
Ibarat Gerabah
November 29th, 2011 Posted 12:07 pm
Suatu waktu saya berkunjung ke Desa Klipoh, beberapa kilometer dari Candi Borobudur, dan berkesempatan melihat cara pembuatan gerabah. Yang namanya gerabah, pastinya materialnya adalah tanah liat atau lempung seperti anak-anak di kampung saya menyebutnya. Mereka menjadikan lempung tersebut alat bermain kreatifitas dan imajinatif, dibentuk dan dihancurkan sesuka hati. Beberapa puluh tahun yang lalu pun saya pernah memainkannya walaupun kadang bentuk yang dihasilkan selalu gagal J
Walaupun untuk pembuatan gerabah, tanah liat ini sudah dicampur dengan bahan-bahan lain, tapi intinya tetaplah harus bisa dibentuk sesuai kemauan si pembuat. Apa yang ingin dibuat & bagaimana bentuknya, sudah ada di kepala si pembuat. Meskipun bentuknya bisa saja terus berubah sebelum mencapai bentuk akhir yang benar-benar diinginkan.
Alat bantu dalam pembuatan gerabah adalah semacam alat putar, yang digerakkan secara fisik (dengan tangan atau kaki) dan – bagi yang permodalannya kuat dan lebih canggih – ada juga yang digerakkan dengan tenaga listrik. Putarannya biasanya konsisten dan tidak berhenti sampai gerabah selesai dibentuk. Si pembuat akan terus memutar alat tersebut sambil jari-jarinya membentuk di gerabah.
Setelah gerabah selesai dibentuk, biasanya akan dikeringkan dahulu dengan dijemur sebelum akhirnya dibakar. Tujuan pembakaran ini agar gerabah tersebut semakin kuat sehingga tidak mudah pecah ataupun retak. Terakhir gerabah itu akan dipercantik dengan lukisan, hiasan, warna-warni.
Saya berpikir manusia juga sama, seperti tanah liat. Terserah Si Empunya mau dibentuk seperti apa. Seperti gerabah yang dibuat dengan tujuan dan kegunaan yang baik, entah itu untuk perkakas rumah tangga ataupun hanya sebagai hiasan, tetap saja gerabah dibuat dengan suatu kegunaan tertentu. Begitu juga manusia. Dia pasti dibuat dengan suatu tujuan dan kegunaan tertentu walaupun kadang sama sekali tidak jelas apa tujuan dan kegunaannya itu. Teman saya pernah curhat bahwa dia sama sekali tidak bisa mengerti mengapa dia diciptakan kalau hanya untuk menderita, tapi yang dia sadari betul bahwa dia ada karena suatu alasan tertentu. Dan walaupun dia sama sekali tidak tahu apa alasannya, toh dia bisa menerima dan menjalani apa yang harus dijalaninya sekuat yang dia mampu.Yang dia sadari adalah bahwa dia harus pasrah dan merelakan dirinya untuk dibentuk seperti apapun yang diinginkan oleh Penciptanya serta menaruh kepercayaan bahwa pada akhirnya bentuknya akan sempurna.
Ibarat gerabah yang dibentuk melalui alat pemutar maka menurut saya perjalanan hidup yang ditempuh manusia dipakai Tuhan untuk membentuk si manusia itu, mulai dari penciptaan, masa kanak-kanak, remaja, dewasa, tua, dan kemudian meninggal. Semua hal yang terjadi dalam perjalanan hidup seorang manusia, dipakai Tuhan untuk menjadikan manusia seturut dengan apa yang direncanakan-Nya. Termasuk seorang penjahat misalnya. Tuhan tidak menghendaki seorang manusia menjadi penjahat tapi semata-mata karena pilihan bebas si manusia sendiri yang mau menjadi penjahat. Teman saya diatas bisa saja memilih menjadi penjahat tapi karena dia percaya bahwa kehendak Tuhan itu baik, dia tetap berusaha menjadi orang yang baik. Teman saya itu juga meyakini bahwa Tuhan menggunakan seluruh perjalanan hidupnya yang bak halilintar di Dufan itu dengan segala ups and downs-nya sebagai cara-Nya membentuk dia.
Penderitaan, kemiskinan, kekayaan, kekuasaan, hawa nafsu, dan kenikmatan duniawi lainnya adalah godaan dan cobaan yang bisa semakin mematangkan manusia atau justru membawa kehancuran pada manusia. Semua itu ibarat alat pembakaran yang bisa menjadikan manusia semakin kuat dan tahan uji, atau sebaliknya hancur berantakan, tidak berguna, untuk selanjutnya dibuang. Tidak ada manusia yang perjalanan hidupnya mulus tanpa hambatan (jalan tol saja sekarang penuh hambatan L).
Tidak ada manusia yang sama “bentuk”nya, sepanjang perjalanan hidup dia akan mengalami banyak perubahan seperti gerabah, sebelum benar-benar selesai, gerabah itu akan selalu mengalami perubahan bentuk sesuai dengan kemauan si pembuat.
Tinggal si manusianya apakah dia mau menyerahkan diri kepada Si Pembuat dengan keikhlasan dan kepercayaan.
(des 2011)
Posted in Ferni Yustiana
Merasa Kau Khianati
October 26th, 2011 Posted 3:32 pm
Mengapa Kau menyakiti hatiku?
Mengapa Kau membuat ku menangis sedih?
Padahal setiap hari ku berdoa untuk perlindungan mereka
Tapi kini ku merasa dikhianati olehMu.
Setiap hari…
Tapi ketika tubuh terlalu lelah dan
Kesadaran terasa terenggut…capek dan penat.
Satu hari doa itu tak terucap
Di hari berikutnya Kau ambil dia.
Kau timpakan musibah dan Kau renggut dari dunia kami.
Aku merasa Kau khianati
Hanya sehari ku tak ucap doa untuknya…
Apakah Kau sedang mengujiku?
Menguji kesetiaan ku?
Memberi tahu ku bahwa tak ada alasan apapun yang bisa membenarkan kelalaian ku?
Tak juga rasa lelah…?
Tak juga rasa penat…?
Penyesalan menyeruak
Keinginan mempersalahkan orang lain begitu kuat
Amarah dan rasa kecewa mengental.
Apa daya ku kini?
Dapatkah aku memutar waktu kembali?
Dapatkah aku memelihara kecewa dan dendam padaMu?
Terlalu berat mengucapkan selamat jalan…
Yang tersisa hanya tangis & kesedihan.
(26 Oktober 2011)
Posted in Ferni Yustiana
Sebuah Catatan: Gedung Gereja Baru
September 30th, 2011 Posted 11:53 am
Hari Minggu, 25 September 2011, gereja St. Arnoldus Janssen, Bekasi akhirnya diresmikan oleh Bapa Uskup Ignatius Suharyo. Panjang juga waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan renovasi gedung gereja, kira-kira 2 tahun. Dan pastinya banyak pula donasi yang telah diberikan umat Paroki maupun umat Paroki lainnya hasil kolekte, usaha “ngamen” para Romo, kupon untuk kursi, dan sebagainya.
Melihat gedung gereja yang baru ada rasa bangga yang luar biasa, senang karena pada akhirnya gedung benar-benar telah selesai. Apalagi di altar baru sekarang tertanam relikwi yang adalah tulang dari St. Arnoldus Janssen sendiri. Sayangnya Romo Victor yang “menjemput” relikwi itu sendiri, tidak tahu tulang bagian mana dari tubuh St. Arnoldus. Terlepas dari itu semua, kebanggaan dan keharuan menjadi semakin melimpah karena umat Paroki St. Arnoldus Janssen harus bersyukur bisa mendapatkan relikwi Santo pelindung gerejanya sendiri.
Namun pada hari yang sama pula, berita televisi mengumumkan adanya bom bunuh diri di GBI Keputon, Solo yang menewaskan 1 orang, membuat luka belasan orang, dan pastinya merusak bagian gereja, belum terhitung kerugian moral umat yang menjadi cemas, takut, was was, marah, dan sedih. Kebahagiaan dan kebanggan karena gereja baru bercampur dengan kecemasan dan kekuatiran bahwa mungkin saja gereja St. Arnoldus menjadi sasaran kebencian dan pengeboman. Peluang itu tetap ada kan?
Karena peluang itu tetap ada maka seluruh umat – bukan saja hanya para Romo, Dewan Paroki, atau petugas Tatib – harus bertanggung jawab untuk menghindari peluang itu bisa terjadi. Kewaspadaan dan tindakan antisipatif harus ditingkatkan di kalangan umat Paroki.
Pertama, dengan mulai menyadari lingkungan sekitar khususnya sesama umat (atau orang lain) yang “tampak mencurigakan’, misalnya:
- Memakai jaket/jas ketika berada di dalam gereja karena hawa di dalam gereja cukup panas/gerah sehingga ketika ada umat yang betah memakai jaket/jasnya selama misa, cukup aneh bukan? Kecuali jika memang dia tampak sakit, itu lain masalah.
- Membawa tas yang besar dan berat karena untuk pergi ke gereja perlengkapan standar biasanya buku Puji Syukur, dompet, kunci kendaraan, atau Alkitab (inipun umat Katolik jarang membawa), sehingga ketika ada orang yang membawa tas besar patut dipertanyakan.
- Memperlihatkan perilaku/sikap/tindak tanduk yang aneh, misalnya sering celingak celinguk, cara pandang “jelalatan” dan “kosong”, bisa terlihat jelas ketidaktahuannya tentang sequence/urutan liturgi, dll.
Memang beberapa hal diatas terkesan sulit untuk dilakukan tapi semata-mata kesan sulit itu terkait dengan hal yang kedua yaitu umat gereja harus mulai memperhatikan sesama umat baik sebelum masuk gereja, selama misa, maupun setelah misa selesai. Memperhatikan bukan berarti kita harus kenal dekat atau mengobrol, tapi saling bertegur sapa, bersalaman, tersenyum, bersikap ramah, sehingga melakukan ketiga point di atas tentunya tidak akan sulit. Bukankah keramahan dan kerendahan hati adalah salah satu perwujudan kasih?
Ketiga, masih terkait dengan hal yang kedua bahwa keramahan dan kerendahan hati itu harus pula kita tunjukkan dan lakukan kepada masyarakat di sekitar kita pada umumnya, dan masyarakat di sekitar lingkungan gereja pada khususnya. Karena tentunya Gereja tidak mau dinilai sombong karena “mendongakkan kepala” terus menerus tak mau melihat keadaan sekitar. Ada perkataan bahwa, ketika kita kesulitan, tetanggalah yang datang lebih dahulu untuk menolong. Sebagai umat Katolik dan umat gereja St. Arnoldus – meminjam istilah ABG – harus bisa “ngeblend”, berbaur dengan lingkungan.
Kebanggaan dan kebahagiaan memiliki gedung gereja baru nan megah, harus disertai pula dengan kewaspadaan dan sikap antisipatif dari seluruh umat.
Mari kita jaga, pelihara, sayangi, dan mohonkan perlindungan dari Tuhan melalui St. Arnoldus Janssen untuk gedung gereja baru St. Arnoldus Janssen, Bekasi.
Proficiat kepada Panitia Pembangunan Gereja.
Proficiat kepada para Romo tercinta.
Proficiat kepada kita, umat Paroki St. Arnoldus Janssen, Bekasi.
God Loves Us All…
(© frn-Ling. Sang Timur II: 25 Sept 2011)
Posted in Ferni Yustiana












