Tulisan Oleh Ferni Yustiana

Sebuah Catatan: Gedung Gereja Baru

No Comments »

September 30th, 2011 Posted 11:53 am

Hari Minggu, 25 September 2011, gereja St. Arnoldus Janssen, Bekasi akhirnya diresmikan oleh Bapa Uskup Ignatius Suharyo. Panjang juga waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan renovasi gedung gereja, kira-kira 2 tahun. Dan pastinya banyak pula donasi yang telah diberikan umat Paroki maupun umat Paroki lainnya hasil kolekte, usaha “ngamen” para Romo, kupon untuk kursi, dan sebagainya.

 

Melihat gedung gereja yang baru ada rasa bangga yang luar biasa, senang karena pada akhirnya gedung benar-benar telah selesai. Apalagi di altar baru sekarang tertanam relikwi yang adalah tulang dari St. Arnoldus Janssen sendiri. Sayangnya Romo Victor  yang “menjemput” relikwi itu sendiri, tidak tahu tulang bagian mana dari tubuh St. Arnoldus. Terlepas dari itu semua, kebanggaan dan keharuan menjadi semakin melimpah karena umat Paroki St. Arnoldus Janssen harus bersyukur bisa mendapatkan relikwi Santo pelindung gerejanya sendiri.

 

Namun pada hari yang sama pula, berita televisi mengumumkan adanya bom bunuh diri di GBI Keputon, Solo yang menewaskan 1 orang, membuat luka belasan orang, dan pastinya merusak bagian gereja, belum terhitung kerugian moral umat yang menjadi cemas, takut, was was, marah, dan sedih. Kebahagiaan dan kebanggan karena gereja baru bercampur dengan kecemasan dan kekuatiran bahwa mungkin saja gereja St. Arnoldus menjadi sasaran kebencian dan pengeboman. Peluang itu tetap ada kan?

 

Karena peluang itu tetap ada maka seluruh umat – bukan saja hanya para Romo, Dewan Paroki, atau petugas Tatib – harus bertanggung jawab untuk menghindari peluang itu bisa terjadi. Kewaspadaan dan tindakan antisipatif harus ditingkatkan di kalangan umat Paroki.

 

Pertama, dengan mulai menyadari lingkungan sekitar khususnya sesama umat (atau orang lain) yang “tampak mencurigakan’, misalnya:

  • Memakai jaket/jas ketika berada di dalam gereja karena hawa di dalam gereja cukup panas/gerah sehingga ketika ada umat yang betah memakai jaket/jasnya selama misa, cukup aneh bukan? Kecuali jika memang dia tampak sakit, itu lain masalah.
  • Membawa tas yang besar dan berat karena untuk pergi ke gereja perlengkapan standar biasanya buku Puji Syukur, dompet, kunci kendaraan, atau Alkitab (inipun umat Katolik jarang membawa), sehingga ketika ada orang yang membawa tas besar patut dipertanyakan.
  • Memperlihatkan perilaku/sikap/tindak tanduk yang aneh, misalnya sering celingak celinguk, cara pandang “jelalatan” dan “kosong”, bisa terlihat jelas ketidaktahuannya tentang sequence/urutan liturgi, dll.

 

Memang beberapa hal diatas terkesan sulit untuk dilakukan tapi semata-mata kesan sulit itu terkait dengan hal yang kedua yaitu umat gereja harus mulai memperhatikan sesama umat baik sebelum masuk gereja, selama misa, maupun setelah misa selesai. Memperhatikan bukan berarti kita harus kenal dekat atau mengobrol, tapi saling bertegur sapa, bersalaman, tersenyum, bersikap ramah, sehingga melakukan ketiga point di atas tentunya tidak akan sulit. Bukankah keramahan dan kerendahan hati adalah salah satu perwujudan kasih?

 

Ketiga, masih terkait dengan hal yang kedua bahwa keramahan dan kerendahan hati itu harus pula kita tunjukkan dan lakukan kepada masyarakat di sekitar kita pada umumnya, dan masyarakat di sekitar lingkungan gereja pada khususnya. Karena tentunya Gereja tidak mau dinilai sombong karena “mendongakkan kepala” terus menerus tak mau melihat keadaan sekitar. Ada perkataan bahwa, ketika kita kesulitan, tetanggalah yang datang lebih dahulu untuk menolong. Sebagai umat Katolik dan umat gereja St. Arnoldus – meminjam istilah ABG – harus bisa “ngeblend”, berbaur dengan lingkungan.

 

Kebanggaan dan kebahagiaan memiliki gedung gereja baru nan megah, harus disertai pula dengan kewaspadaan dan sikap antisipatif dari seluruh umat.

Mari kita jaga, pelihara, sayangi, dan mohonkan perlindungan dari Tuhan melalui St. Arnoldus Janssen untuk gedung gereja baru St. Arnoldus Janssen, Bekasi.

 

Proficiat kepada Panitia Pembangunan Gereja.

Proficiat kepada para Romo tercinta.

Proficiat kepada kita, umat Paroki St. Arnoldus Janssen, Bekasi.

God Loves Us All…

 

(© frn-Ling. Sang Timur II: 25 Sept 2011)

Posted in Ferni Yustiana

KARENA MELIHAT

No Comments »

March 14th, 2011 Posted 9:23 am

“Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Perempuan itu  melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. (Kej 3: 4-6)

 

Membaca perikop diatas tampak jelas jika si perempuan, Hawa, melihat dan menilai bahwa buah terlarang itu tampak sangat enak dan menarik untuk dimakan. Tadinya Hawa sama sekali tidak memperhatikan buah itu, terpikirkanpun tidak karena ia ingat akan larangan Tuhan. Tapi karena ada suara lain (si jahat) yang memancing, merayu, dan memberikan pengertian yang salah, Hawa melihat dan menilai dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Hawa telah terbujuk.

Tapi bukan saja masalahnya terletak pada bujuk rayu si ular melainkan pada cara Hawa melihat dan menilai yang membuatnya menjadi goyah dan tidak taat. Dan ada campur tangan keinginan disitu. Keinginan untuk menjadi sama seperti Allah, keinginan yang tidak melihat kemampuan diri sendiri.

 

Nabi Daud ketika melihat Batsyeba, timbul hasrat dalam dirinya dan ia mengingini Batsyeba. Lalu demi tujuannya itu, ia membuat konspirasi sehingga Uria, suami Batsyeba, maju ke medan perang di garis depan supaya ia mati. Dan ternyata memang matilah Uria. Kemudian Batsyeba menjadi isteri Daud dan melahirkan anak. Tetapi hal yang telah dilakukan Daud itu adalah jahat di mata Tuhan. (lihat 2Sam 11). Daud yang dipilih oleh Tuhan sendiri melakukan hal yang jahat yang awalnya berasal dari matanya, dari cara ia melihat dan kemudian menginginkan apa yang bukan miliknya dan ia menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

 

Sering hanya dengan melihat timbul keinginan yang tidak beraturan. Jika melihat hanya berhenti sebatas melihat, mungkin itu tidak apa-apa. Tapi jika melihat lalu menimbulkan keinginan untuk memiliki tanpa menyadari kemampuan dan keadaan yang ada, ditambah dengan iri hati dan dengki, maka sudah pasti hal itu bisa mengarah ke perbuatan yang jahat di mata Tuhan.

 

Saya berpikir, mungkin Tuhan menurunkan perintahnya yang kesepuluh kepada Musa karena Ia ingat kejadian dengan Hawa dan mengetahui hasrat dan kecenderungan manusia bersikap iri hati. Iri terhadap kekayaan orang lain sehingga berlomba-lomba mengumpulkan harta meskipun harus korupsi. Iri terhadap apa yang dimiliki orang lain sehingga mencuri. Iri terhadap kebaikan orang lain sehingga memfitnah dan bergosip. Iri terhadap kesuksesan orang lain sehingga menciptakan kebohongan. Iri terhadap suami atau istri orang lain sehingga merusak rumah tangganya supaya bisa merebutnya seperti Daud. Masih banyak keiri-hatian lain yang sering kita alami dan rasakan.

 

“Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu daripada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua.” (Mat 18: 9). Sangat jelas maksud Yesus di atas. Ia memperingatkan bahwa mata bisa sangat menyesatkan. Dan ketika ia menyesatkan, demi memperoleh hidup yang kekal, manusia harus rela membuangnya. Dengan kata lain, jika engkau ingin memperolah hidup yang kekal, jagalah mata dan pandanganmu terhadap segala hal yang bisa menyesatkan hatimu.

 

Ada pepatah, dari mata turun ke hati. Dari apapun yang engkau lihat, jagalah hatimu supaya ia tidak tergoda. Memang mengalahkan godaan itu berat, maka mintalah bantuan Tuhan. Ia memberikan mata kepada manusia karena Ia ingin manusia ciptaannya menikmati dan merawat indahnya dunia dan menolong sesama. Jadi betapa akan kecewanya Dia ketika Dia melihat manusia disesatkan karena matanya. Betapa sedihnya Dia ketika manusia melakukan hal-hal yang jahat karena tak bisa mengontrol apa yang dilihat dan diingini hatinya.

 

Umat manusia jatuh ke dalam dosa karena Hawa melihat dan mengingini buah terlarang dan melupakan Tuhan. Daud jatuh ke dalam dosa karena dia melihat dan mengingini isteri orang, dan melupakan Tuhan. Kitapun sering jatuh ke dalam dosa karena mengikuti hawa nafsu yang timbul dari mata.

 

Maka sudah sepantasnya selama masa Prapaskah ini kita berusaha lebih keras mengontrol mata dan cara pandang kita terhadap semua hal yang bisa menyesatkan. Karena dari mata bisa muncul iri hati, kedengkian, kesombongan, cinta diri, pesta pora, kemunafikan, dan lain sebagainya yang bisa menjauhkan kita dari Tuhan. Mari kita berdamai dengan Tuhan dengan melatih mata kita untuk melihat hanya yang baik dan pada akhirnya kita dapat memuliakan Dia dengan mata kita dan cara kita memandang dunia dan sesama.

 

( ©Ferni Yustiana – Prapaskah I 2011)

Posted in Ferni Yustiana

RABU ABU & ABU (atau DEBU?)

No Comments »

March 8th, 2011 Posted 1:30 pm

Rabu, 9 Maret 2011 Gereja Katolik memulai suatu periode 40 hari yang biasa disebut Retret Agung Umat, masa Prapaskah – masa puasa & matiraga mengembalikan “kefitrahan” jiwa & raga dalam memperingati misteri teragung dalam iman umat Kristiani, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus.

 

Dalam rentang periode ini kita diajak untuk berusaha sekuat tenaga mengalahkan dorongan-dorongan untuk menjauhi Dia sambil menemukan kembali tarikan-tarikan Roh Kudus untuk mendekat kepada Dia. Dan itu tidak mudah, karena pada dasarnya manusia itu rapuh dan dekat sekali dengan dosa. Sedikit saja manusia kehilangan kontrol, dosa sudah mengancam.

 

Karena kerapuhan dan rentannya manusia pada dosa, kita diberikan suatu masa pertobatan untuk mengkaji diri seberapa “parah” kita telah berdosa dan untuk itu harus memperbaiki diri dengan amal kasih, doa, puasa dan matiraga. Diharapkan ketika Paskah tiba, kita cukup layak untuk dapat bertemu dan menerima Dia.

 

 

Masa Pendamaian

 

Dosa menjauhkan manusia dari Tuhannya. Dosa memutuskan hubungan kedekatan manusia dengan Tuhan. Sayangnya, karena kerapuhan manusia maka dosa itu bisa berada sangat dekat, terlebih ketika aneka macam godaan dan nafsu duniawi terus mengintip mencari celah kelengahan dan kegoyahan hati.

 

Masa Prapaskah adalah juga masa pendamaian antara manusia dengan Tuhan. Masa merekonsiliasikan hubungan dengan Tuhan. Masa ketika kita diberikan kesempatan untuk menginstrospeksi diri, menumbuhkan penyesalan diri untuk dosa-dosa, merenungi kasih Tuhan yang sudah kita sia-siakan karena berdosa, melakukan silih atas dosa dengan melakukan amal kasih, berdoa, dan berpuasa, untuk kemudian berdamai dengan Dia. Ya benar, untuk berdamai dengan Dia.

 

Melakukan kedosaan itu mudah. Tetapi untuk merebut* kembali kasih dan perhatian Tuhan itu sulit. Berbuat amal kasih, berdoa, dan berpuasa, mengharuskan kita merendahkan hati untuk bisa melakukan itu semua, sementara kecenderungan manusia adalah kesombongan dan egoisme. Itulah mengapa kadang jalan pendamaian itu begitu sulit. Manusia jatuh bangun dalam menyusuri jalan pendamaian itu. Tapi seperti yang dikatakan seorang romo, “manusia membutuhkan proses untuk mencapai kesempurnaan, dan dalam proses itu manusia kerap kembali jatuh. Tapi manusia yang arif bisa meneladani Yesus dalam jalan salib-Nya, ketika Ia bangun lagi meskipun harus berkali-kali jatuh.”

Seorang romo yang lain pernah berkata, “Tuhan tidak pernah menanyakan dosa dan kesalahan apa yang sudah kau lakukan, karena Dia sudah tahu. Yang penting bagi-Nya adalah penyesalan dan niat yang sungguh kuat untuk tidak berdosa lagi. Dan bukan berhenti sampai niat saja, tapi harus dilakukan.”

 

Maka kita harus bersyukur untuk hadirnya masa Prapaskah. Masa dimana kita bisa mendamaikan diri dengan Tuhan. Masa dimana kita bisa belajar merendahkan hati, beramal kasih, memperbaiki kualitas dan kuantitas doa, bermati raga.

 

 

Tentang Penerimaan Abu

 

Rabu Abu mengawali masa Prapaskah, ditandai dengan menerima tanda abu di dahi. Pada saat itu kita diingatkan kembali bahwa kita berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu. Dengan perkataan imam yang dikutip dari Kitab Suci, “Ingatlah, kamu dari debu dan akan kembali menjadi debu.” (lihat Kej 3: 19) atau versi lain, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” (Mrk 1: 15)

 

Penerimaan abu ini merujuk pada kebiasaan jaman dulu dimana orang yang menjalani penitensi dosa mereka dengan memakai pakaian yang jelek dan kasar serta menaburkan/bermandikan debu di atas kepala, sebagai tanda penyesalan diri. Apalah artinya manusia di mata Tuhan? Hanya sebatas debu yang tertiup angin lalu hilang.

 

Abu atau debu? Tidaklah perlu memikirkan mana yang lebih tepat. Yang penting adalah apa yang diperlambangkannya. Abu atau debu, melambangkan manusia yang fana, yang dibentuk dari debu tanah dan dihembusi nafas kehidupan Tuhan. Ketika Si Empunya nafas menarik kembali nafas yang telah dianugerahkannya, maka manusia kembali menjadi debu tanah. Betapa lemah dan tak berdayanya manusia; ia rentan pada kedosaan.

Maka ketika tanda abu diterimakan di dahi kita, sudah sepatutnya kita ingat bahwa kita yang lemah dan kerap berdosa ini, harus senantiasa mendekatkan diri dengan Tuhan dengan berdoa, beramal kasih, dan bermatiraga. Dengan demikian, kita harapkan kita cukup pantas menerima Dia pada hari raya Paskah.

 

 

Tema APP KAJ 2011 adalah Mari Berbagi. Spiritualitas yang ditawarkan Mgr. Suharyo, Uskup Agung Jakarta, adalah agar umat bisa menjadi seperti roti yang diberkati, dipecah, dan kemudian dibagi kepada sesama. Jadi, mari kita belajar berbagi. Dengan berbagi sekaligus kita belajar melembutkan dan merendahkan hati, khususnya kepada sesama yang menderita. Sebab “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat 25: 40)

 

Selamat menjalani masa Prapaskah.

Selamat berdamai dengan Tuhan.

Tuhan memberkati senantiasa.

 

 

(© Ferni Yustiana – Maret 2011)

 

* catatan: sengaja menggunakan kata “merebut” daripada “mengembalikan” karena kita telah meninggalkan kasih-Nya. Bukan Dia yang telah mengambil kasih-Nya dari kita, untuk selamanya kasih-Nya itu tetap bersama kita, tapi sebaliknya justru kita yang telah meninggalkan kasih-Nya karena berdosa. Jadi saya rasa menggunakan kata “merebut” lebih tepat.

Posted in Ferni Yustiana

Bapak Tua Pemikul Bungkusan Besar

No Comments »

February 11th, 2011 Posted 11:54 am

Seorang bapak yang beranjak tua,

dengan rambut yang mulai beruban di sana sini,

dengan badan yang terlihat mulai meringkih,

dengan wajah yang tampak letih,

mencoba memanggul bungkusan putih besar di depan Blok A Tanah Abang.

Seseorang menaruh bungkusan besar itu di bahunya,

Perlahan sambil gemetar, ia mencoba mengangkat bungkusan itu.

Berjalan pelan tampak kesulitan…mungkin karena beratnya bungkusan itu.

Entah sudah berapa kali ia bolak balik.

 

Tak tahu aku apa isi bungkusan besar itu.

Mungkin bahan baju, mungkin pakaian jadi, mungkin tas, sepatu, dan hal lain yang dijual di Tanah Abang.

Tak tahu pula berapa lantai yang harus ia tempuh dengan beban di pundak itu, diantara selasar sempit Blok A yang pastinya akan menambah berat beban bungkusan itu.

 

Hati miris sekali melihat bapak tua itu.

Mungkin ia sebenarnya ingin berhenti dari pekerjaan berat itu tapi ia tak dapat egois melakukannya karena mengingat kebutuhan hidup keluarganya.

Seberat apapun ia akan menjalaninya…dengan kepasrahan kepada Tuhan.

 

Maka aku merasa malu melihat bapak itu,

Ketika aku mengeluh, mengeluh, dan mengeluh.

Betapa jauh lebih ringannya hidupku dibandingkan bapak itu.

 

Memang untuk berhenti mengeluh dan kembali bersyukur kadang kita harus melihat penderitaan orang lain…

Tapi alangkah baiknya jika senantiasa mampu bersyukur tanpa harus disentil dengan kesusahan hidup orang lain…

Mungkin dengan begitu, kita bisa disebut sebagai orang yang telah dewasa dalam iman.

 

(refleksi di pagi hari yang sendu: feb 2011)

Posted in Ferni Yustiana

14M vs Korban Bencana Alam (Emang Ada Hubungannya?)

No Comments »

January 21st, 2011 Posted 8:34 am

“Saat ini saya duduk di sebuah kursi yang dulunya sempat menjadi rebutan banyak orang. Bahkan ada beberapa orang menjadi “tidak waras” ketika gagal duduk di kursi saya sekarang ini. Jangan tanya bagaimana cara saya mendapatkan kursi ini. Saya hanya berharap cara saya halal bin baik di mata orang lain karena di mata saya, cara itu halal bin baik. Lah wong untuk kepentingan saya, ya pasti cara apapun pasti halal bin baik. Ya toh?

 

Nah ceritanya, saat-saat ini, sebut saja “Manajemen” berkeinginan untuk merenovasi tempat saya bekerja secara keseluruhan, mulai dari penambahan angka di lift, masalah teknologi informasinya, masalah keamanan, masalah pernak pernik daleman kantor, dll. Dengar punya dengar, biayanya mencapai 14M lebih. Saya lalu berpikir, “Wuah, keren juga. Tempat kerja saya ini akan makin canggih, lux (bukan sabun), keren, dan pastinya mahal. Orang-orang pasti berpikir, lo makin hebat aja bisa kerja di situ.”

 

Seperti biasa, walaupun baru rencana bin wacana, pemberitaan sudah menyebar dan akhirnya menimbulkan kehebohan. Selalu diributkan. Sebenarnya apa sih yang diributkan? Bukannya wajar kalau suatu ketika kantor kita mengadakan renovasi? Sama seperti rumah yang kita tinggali kan? Karena kita punya uang, ya kita bisa renovasi.

Lalu kenapa mereka ribut soal korban bencana alam? Apa hubungannya korban bencana alam dengan 14M? Masalah rumah? Masalah infrastruktur yang hancur? Masalah pemenuhan kebutuhan pokok untuk para korban? Masalah lapangan kerja?

Hah…apa hubungannya itu dengan 14M yang mau digunakan untuk memutakhirkan tempat kerja dan kursi saya ini?

 

Saya kok ga menemukan hubungannya ya. Menurut saya kedua hal itu terpisah. Mana bisa 14M digunakan untuk menolong para korban itu? Kalaupun bisa, tempat kerja dan kursi saya ini tetap begini adanya donk? Tidak elit, padahal disebutnya kaum elite.

Toh, untuk mengatasi para korban itu, emangnya cukup dengan 14M? pasti butuh lebih. Jadi daripada tidak cukup sama sekali dan cuma setengah-setengah, mendingan dipakai untuk renovasi dan meng-elit-kan tempat kerja saya kan?”

 

***

 

Lalu aku bertanya dalam hati,

“Apakah hanya sebatas itu nuranimu berbicara tentang korban bencana alam?”

“Apakah tak terpikir olehmu, betapa berartinya 14M-mu itu untuk menyelamatkan kehidupan para korban bencana alam?”

“Apakah tak ada kehidupan untuk orang lain dalam kehidupanmu yang sudah makmur itu?”

“Apakah pikiranmu melulu materi dan gaya tanpa ada kasih kepada rakyatmu yang menderita? Padahal kau tak mungkin duduk di kursi itu kalau kau tak dipilih oleh rakyatmu.”

 

Hah…manusia-manusia elite…

Posted in Ferni Yustiana