Archive for the Fonny Jodikin Category

Adalah Inspirasi

No Comments »

March 10th, 2010 Posted 4:06 pm

(Fonny Jodikin)

Adalah Inspirasi…

Adalah inspirasi yang membuat James Cameron menuliskan Avatar dan menuangkannya dalam film yang begitu indah. Film pertama yang saya tonton di Vietnam itu membawa saya kepada penggambaran yang begitu hidup, setiap detil pemandangan di sana, sangat cantik. Begitu pula kisah cinta yang ada di dalamnya. Wah, sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Adalah inspirasi yang membawa setiap pencipta lagu menuangkan karyanya dan menjadi hits di mana-mana.

Adalah inspirasi yang membuat seorang arsitek mampu mendisain gedung yang unik, lucu, menarik, tetapi tahan pula terhadap cuaca.

(more...)

Posted in Fonny Jodikin

Rasa

No Comments »

March 9th, 2010 Posted 3:25 pm

(Fonny Jodikin)

Rasa itu membuncah. Beterbangan di udara. Memenuhi setiap sudut ruang dan waktu. Memainkan alunan musik yang amat indah. Memasuki wilayah hatiku. Merajai kepalaku. Dan membuatku mabuk. Mabuk kepayang. (more...)

Posted in Fonny Jodikin

Alison Botha

No Comments »

March 8th, 2010 Posted 11:35 pm

(Fonny Jodikin)

In December 1994, Alison was abducted outside her home by two men who raped, stabbed and disembowelled her, finally slashing her throat 16 times to make sure she was dead. No-one could have believed that anyone with such severe injuries could live but, miraculously, she did.

The manner in which she survived, her inner strength and determination, her lack of bitterness, and her serenity and humility captured the attention of the whole of South Africa. In 1995, she was awarded the prestigious Rotarian Paul Harris Award for 'Courage Beyond the Norm'. In the same year she was the first recipient of the Femina magazine's 'Woman of Courage' award. She was also chosen as Port Elizabeth's Citizen of the Year at a glittering ceremony.

(more...)

Posted in Fonny Jodikin

Perut J-Lo

No Comments »

March 8th, 2010 Posted 1:42 pm

(Fonny Jodikin)

Siang di Ho Chi Minh City.

Panas menyengat, membuat malas keluar rumah. Alhasil ke fitnes saja, yuk!

Berdiri di ‘treadmill’ eh, sebetulnya ini bukan ‘treadmill’. Ini alat yang dikayuh tapi bukan sepeda.

Apa namanya? ‘Elliptical Cross Trainers’ (ECT). Begitu katanya.

Terus siap-siap deh, nonton TV, ambil remote di depan alat ECT itu. Nonton MTV aja ah! Mumpung gak usah rebutan ama Si Odri. Setelah sebelumnya nonton Channel V, Fashion TV. Hiks! Itu saluran TV yang jarang aku tonton hehe… Tapi sesekali mumpung sendirian di sini, ya sut, lanjuttt!

(more...)

Posted in Fonny Jodikin

Being Mom: Ulang Tahun

No Comments »

March 7th, 2010 Posted 11:18 pm



Tak ada pesta mewah, tak ada resepsi di gedung megah.

Yang kami berikan di hari ulang tahunmu, Anakku.

Yang ada hanya perayaan sederhana di rumah.

Bersama keluarga dan besok dirayakan sederhana pula di sekolah.

Yang ingin kami tanamkan, tak perlu buang uang jor-joran demi sebuah pesta.

Kami ingin kautahu, hari-hari ini banyak yang susah.

Yang tak bisa makan, tak mampu sekolah, tak bisa ke dokter walaupun sakit parah.

(Mungkin kau terlalu kecil untuk sadari itu, karena kau baru tiga tahun, Nak. Tapi, kami tetap ingin kau tetap belajar akan kesederhanaan walaupun di usia yang amat belia).


Suatu saat ketika kau besar nanti,

Mama harap kau bisa hargai nilai kesederhanaan.

Dan juga kau mengerti pentingnya niat dan ketulusan.

Bukan melulu kemewahan atau materi,

seperti yang sering ditampilkan dunia ini.

Agar suatu saat bila kau besar nanti,

Kau tahu,

Papa-Mama lebih memikirkan hal-hal yang lebih utama.

Pendidikan. Kesehatan. Dan akhlak yang baik.

Buat itu semua…

Tidak mudah. Juga tidak murah.
Untuk mendidikmu dan menjadikanmu berkualitas,

Bukan semudah menjentikkan jari.

Dan kami hanya bisa berusaha.

Sambil berdoa.


Kami serahkan anak kami, ke dalam bimbingan-Mu Tuhan.

Bimbing kami pula agar jadi orang tua yang lebih arif.

Di tengah semua keterbatasan pengetahuan kami sebagai orang tua.

Di tengah semua keterbatasan kondisi kami:

keletihan kami, beban kami, masalah yang memenuhi otak kami.

Sering kali, kami tidak menjadi orang tua yang bijaksana,

Malah menimpakannya kepada anak yang tak berdosa.

Memang ini bukan pekerjaan yang mudah untuk dijalankan,

tapi ajarlah kami Tuhan.

Sebagaimana KAU telah percayakan kami sebagai orang tua.


Karena kami takkan pernah mampu jalan sendiri.

Apalagi membimbing dan mendidik anak di zaman ini.

Namun, ada keyakinan kuat di dalam hati.

Dengan iman segala sesuatu mungkin terjadi.

Bukan karena kuat kami.

Namun, karena pada-Mu kami berlindung.


Selamat ulang tahun, Odri!

Kami sayang kamu.


HCMC, 7 Maret 2010

-fon-

* Catatan ultah Odri.


Sumber gambar:
http://sanityfound.files.wordpress.com/2008/09/introducing_audrey_digital_scrapbook.jpg

Posted in Fonny Jodikin

Kacang Lupa Kulit

No Comments »

March 5th, 2010 Posted 1:06 am

(Fonny Jodikin)

Euforia karena Sang Kacang terbebas dari masalah lama yang membelitnya dan menjadikannya orang yang sukses serta punya segalanya masih berlangsung. Herannya, itu pun tak membahagiakannya. Kegiatan sosialisasi di kalangan gaul yang sering dia sebut kelompok sosialita yang jelas-jelas bertujuan tidak terlalu sosial jika itu ditujukan kepada mereka yang miskin-papa, hanyalah merupakan kegiatan haha-hihi, gosip-gosip, ataulah ajang memamerkan diri dan jadi iri dengan keberhasilan orang lain.

Seolah Sang Kacang lupa dari mana dia berasal. Seolah Sang Kacang lupa perjuangannya mencapai kegemilangan di hari ini dimulai langkahnya sejak beberapa tahun lamanya. Sang Kacang selalu membandingkan dengan yang lebih. Dengan yang punya. Kalau anak orang bisa sekolah di sekolah internasional, kenapa anakku tidak? Kalau orang bisa beli tas seharga USD 2.000, kenapa aku tidak? Kalau bisa lebih, 8.000-10.000 USD mungkin? Kalau orang bisa nonton konser dengan terbang ke Singapura, maaf ya, mainanku sekarang nonton Broadway di Amerika.

(more...)

Posted in Fonny Jodikin

Suatu Hari Ketika Kita Sama-Sama Tua…

No Comments »

March 3rd, 2010 Posted 11:46 pm


Kuusap tangan keriputmu. Perlahan. Karena aku sendiri tak punya kekuatan sebesar dulu. Semua gerakku kulakukan hati-hati. Maklum, kita sudah tidak muda lagi. Tetapi, inginku untuk terus membelai wajahmu. Dalam kelembutan yang masih tersisa. Dalam pelannya gerakku yang kadang tersendat. Aku masih ingin luapkan cinta dalam hati ini kepadamu.

Kuusap rambut di kepalamu yang helainya tak lagi sama seperti ketika kita berjumpa. Helainya makin tipis, berkurang satu demi satu. Sama seperti rambut panjangku yang rontok hari demi hari. Memenuhi lantai rumah yang sering disapu perlahan. Hanya ingin ungkapkan rasa yang pernah bersemi. Di masa lalu. Dulu. Dan berharap rasa itu terus ada dan tetap abadi sampai saat maut memisahkan kita.

Kuambilkan kaca matamu. Kaca mata yang sama dengan milikku. Karena mata tua kita tak lagi awas melihat apa yang terjadi di depan kita. Terkadang huruf-huruf di surat kabar pun tak terbaca jelas. Tak mengapa, Sayangku, asal kita tetap punya mata hati yang jernih, sehingga mampu meneropong dunia lewat hal-hal yang pernah dan masih akan kita lalui. Suka dan duka, yang semuanya membuat pengalaman kita akan hidup semakin kaya.

Kuingat ketika kita tertawa saat melepas gigi palsu yang memenuhi mulut kita. Rasanya sudah lama ya, kita tak punya gigi lengkap lagi. Menjadi kegiatan yang lucu karena pada akhirnya kita bisa bersiul sambil menyikat gigi. Siulan lagu-lagu kegemaran yang mengingatkan akan masa lalu yang penuh cerita bagi kita berdua.

Suatu hari, ketika rumah yang dulu isinya tangisan, ompolan, dan mainan anak-anak kita. Menjadi sepi dan senyap karena mereka sudah beranjak dewasa. Mereka pergi mengejar cita dan cinta. Kuliah. Bekerja. Menikah. Dan tinggallah kita dalam rasa sepi kembali berdua. Mengunjungi mereka dan kunjungan dari mereka adalah hadiah terbesar bagi kita. Kita mulai saling memperhatikan (lagi). Setelah sekian lama perhatian itu terpecah kepada buah kasih kita.

Suatu ketika, ketika rambut kita sama-sama memutih. Ketika eros (cinta yang dilandasi hawa nafsu) sudah jadi philia (cinta penuh persahabatan). Ketika kita tak lagi sanggup marah-marah karena suara sudah tak senyaring dulu. Meski masih saja kita berdebat mengenai soal-soal tak penting. Saling kesal, namun pernah juga berakhir dengan tertawa bersama.

Biarlah kita tetap ingat cinta yang membawa kita sampai hari ini. Merenda kasih yang sarat konsekuensi penerimaan tanpa syarat sampai akhir nanti. Biarlah kita ingat, cinta ini bukan datang dengan sendirinya. Melainkan dia memang dibina, dipertahankan, didoakan, dan dijalankan.

Suatu ketika, saat kita sama-sama tua. Dengan kondisi tubuh yang tak lagi prima: mungkin pikun-mungkin tangan gemetar- mungkin sakit-sakitan.

Biarlah kita tetap miliki cinta yang tak lekang dimakan usia.

HCMC, 3 Maret 2010

-fon-

* doa dan harap untuk masa tua nanti…:)

Sumber gambar:

http://thumbs.dreamstime.com/thumb_295/12175350152EYkwz.jpg

Posted in Fonny Jodikin

Pekerjaan: Ibu Rumah Tangga

No Comments »

March 1st, 2010 Posted 11:52 pm

(Fonny Jodikin)

Setelah bertahun-tahun terbiasa menuliskan kata dealer saham di kolom pekerjaan di formulir yang saya dapatkan, tahun-tahun belakangan ini kolom itu harus saya isi dengan : Ibu Rumah Tangga. Memang benar bahwa inilah panggilan yang juga merupakan pekerjaan yang saya lakoni setidaknya tiga tahun terakhir. Ada rasa sedikit ‘tertoreh’ ketika saya menuliskan kata tersebut. Bukan karena saya tidak respek pada pekerjaan sekaligus panggilan ini, namun rasa tertoreh itu karena Si Ego dalam diri saya menyeruak. Minta dikasihani. (more...)

Posted in Fonny Jodikin

Ketika Gempa…

3 Comments »

February 27th, 2010 Posted 10:40 pm

Ketika gempa, aku hanya bertanya apa ada Saudaraku yang kena? Ketika gempa, aku hanya bertanya, apa nanti tsunaminya akan lewat sini? Ketika gempa, yang kuingat koq hanya melulu keselamatan diriku dan keluargaku? Apa aku pernah peduli dan memikirkan ribuan orang yang keselamatannya terancam? Apa aku pernah memikirkan jutaan orang yang berpotensi terkena tsunami atau gempa susulan? (more...)

Posted in Fonny Jodikin

Lapar

No Comments »

February 27th, 2010 Posted 1:24 am

(Fonny Jodikin)

Dikaisnya tempat sampah itu. Ternyata hari ini dia cukup beruntung. Di tempat sampah yang baunya menyengat itu, dia temukan sebungkus nasi. Tepatnya sisa nasi Padang yang sudah tinggal tak sampai separuh, kuah gulai yang berwarna kuning, plus sedikit cabai hijau. Tak lama, ketika dia mengais dan mengorek lebih dalam, ditemukannya beberapa lembar roti tawar. Hari ini mungkin nasib baik berpihak padanya. Karena tiga lembar roti tawar itu masih cukup baik, hanya sedikit yang berjamur. Tak seperti hari-hari sebelumnya. Rotinya bisa dia simpan buat sarapan. Sementara nasi Padang jadi menu makan malam ini. Dia menelan air liurnya. Terbayang sudah kelezatan nasi Padang itu di pikirannya. Sampai seseorang yang tak dia sangka-sangka datang dan merebut makanan lezatnya itu! (more...)

Tags:
Posted in Fonny Jodikin

Jangan Dikira…

4 Comments »

February 25th, 2010 Posted 1:49 am

(Fonny Jodikin)

Jangan kira di balik foto penuh senyum di fesbuk, YM, atau friendster seseorang berarti dia orang yang suka senyum selalu. Ada kalanya manusia bisa marah, kesal, kecewa. Ada kalanya dia jatuh, gagal, terpuruk. Ada kalanya dia berusaha bangkit dengan susah payah, sesudah mampu berdiri malah terjatuh lagi. Lebih dalam terjerembap dan lebih menyakitkan.

Jangan dikira di balik kebisuan seseorang dalam diamnya, dia tak pernah mengeluh. Justru dalam doanya ditumpahkanlah semuanya: keluh-kesah, amarah, dan bahkan tawa. Di balik sikap introvertnya, dia punya sisi ekstrovert juga. Dengan-Nya ketika berbicara dan berdoa, dia merasa nyaman untuk bicara apa saja. Dia bisa jadi dirinya sendiri.

(more...)

Posted in Fonny Jodikin

Serial Anak Kampung di Rantau (Bagian ke-5)

No Comments »

February 25th, 2010 Posted 1:17 am

(Fonny Jodikin)

Kemarin seorang teman dari Jakarta datang. Si Jeng dan temannya datang memberikan kabarnya kepadaku. Dan kami janji bertemu di pagi hari. Di Pho 2000, pasar Ben Thahn. Dan akhirnya, jadilah aku ‘guide’ dadakan. Tanpa pengalaman berarti, tanpa banyak pergi sana-sini karena baru sekitar empat bulan mendiami tempat ini. Langsung… Belajar di tempat:)

Untungnya HCMC memusatkan tempat wisatanya di seputaran ‘district 1’. Tentunya kalau ada bagian yang cukup jauh yang ingin dihampiri adalah seputaran ‘Mekong Delta’ atau ‘Cu Chi Tunnel’ yang terletak di luar kota. Sementara aku sendiri belum pernah ke luar kota hehe…Karena pertimbangan membawa anak balita naik perahu kayu di sungai yang konon mirip seperti Sungai Musi di Palembang, pastinya bikin kami deg-degan juga.

(more...)

Tags:
Posted in Fonny Jodikin

Memori

No Comments »

February 25th, 2010 Posted 12:11 am




Kulirik wajahnya yang ramah, berkali-kali. Padahal aku tengah di gereja. Aku tahu, tak seharusnya kulakukan hal ini. Apalagi ini tengah misa. Tapi, apa boleh buat, aku terpana melihatnya. Lagi. Karena wajahnya yang rasanya pernah kukenal di masa lalu itu muncul lagi. Kuingat-ingat kembali lembar demi lembar memori di masa lalu. Adakah terselip wajah itu?

Semakin kuamati, semakin yakin aku. Dialah orangnya. Dengan tubuh mungil, kaca mata dan senyum ramahnya, bagaimana mungkin aku bisa lupa? Dengan wajah yang tak terlalu lekang dimakan usia, di balik jubah susternya, dia masih kukenang dengan indah.

Sehabis misa.

Kuhampiri dia dan kutanyakan padanya:

“ Apa betul, Suster adalah Suster M? Kepala sekolah SD X tahun 19zz?”

“ Iya, betul. Siapa, ya? Lulus tahun berapa?” Tanyanya ramah sambil senyum itu tak lepas dari bibirnya.

“ Saya Fonny, suster, masuk tahun 19zz.” Jawabku cepat.

“ Setelah itu, masuk SMA Y di tahun sekian sekian juga?” tanyanya lagi.

“ Iya, Suster. Lho, memangnya Suster ada di situ juga?” Rupanya memoriku akan SD lebih bagus daripada memoriku di SMU.

“ Iya, Suster ada di situ. Dan sekarang, Suster sudah pensiun. Paling mengajar agama, membagikan komuni, dan mencangkul di sekitar tempat tinggal Suster.” Jelasnya.

Aku hanya menatapnya, kagum. Di usianya yang ke-72, dia masih gagah. Kuat dan sehat. Belum lagi tubuhnya yang mungil itu tetap sama seperti yang kukenang lebih dari dua puluh tahun lalu.

Sementara kami ngobrol, banyak orang berdatangan. Hanya untuk menanyakan sesuatu kepadanya, mengucapkan salam padanya, atau sebaliknya dia yang mengucapkan selamat hari raya Imlek bagi yang merayakannya. Obrolan terhenti karena hari sudah menjelang malam, karena aku misa sore hari itu. Dan Suster bilang nanti ketika Rabu Abu, dia akan datang di misa pagi, kalau aku mau aku bisa datang di misa pagi dan bertemu dengannya.

Rabu pagi. Rabu abu.

Kutemui dia lagi di pagi itu. Tambahannya ada mamaku dan ibu guru SD-ku yang wajahnya juga tak berubah dan konon kabarnya masih lajang. Aku senang bernostalgia di gereja yang juga menjadi tempatku bersekolah SMP dulu. Sekolahku terletak di belakang gerejanya. Jadi, dulu semasa bersekolah, ini adalah tempat di mana aku sering bercengkerama bersama teman-teman atau berlari mengitari sekelilingnya ketika pelajaran olahraga.

Percakapan itu singkat. Namun, kesannya mendalam. Aku bahkan masih ingat bahwa ada satu huruf yaitu huruf ‘t’ yang diulang dua kali di nama Suster tersebut. Dia memang ramah. Tidak semua biarawati memang punya keramahan yang sama. Tapi, anggaplah aku beruntung menemukannya dalam dirinya. Yang sampai hari tuanya tetap tak mau tersentuh teknologi. Tak punya handphone, tak mau punya email, fesbuk, atau yang lainnya. Mungkin bagi sebagian orang aneh, tapi bagi dia…Dia tetap ingin punya ketenangan hidup yang tak tergoyahkan. Karena terkadang teknologi membuat sibuk para penggunanya, tanpa memedulikan sesama-sekitar-bahkan keluarga. Apalagi yang menderita. Terlalu sering teknologi itu mendekatkan yang jauh dan ironisnya menjauhkan yang dekat. Suami/istri/ anak di depan mata, tapi sibuk dengan tuts BB-nya.

Aku berjalan pulang dengan Mamaku. Menuju ke salah satu pasar tradisional untuk berbelanja. Hari masih pagi, sekitar pukul 07.45.

Hatiku diliputi kehangatan, keharuan.

Ah, pulang kampung memang selalu membangkitkan banyak memori yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Aku berdoa buat Suster dan Guru-guruku, semoga kalian diberi kesehatan selalu. Tak terlupakan kebaikan kalian, tak terlupakan perjuangan kalian dalam mendidik kami. ‘Kan kubawa sampai akhir nanti. Terima kasih.

HCMC, 24 Februari 2010

-fon-

* catatan pulang kampung pas Imlek lalu.


Sumber gambar:
http://th08.deviantart.net/fs7/300W/i/2005/206/a/4/I_m_Falling_Into_Memories____by_smashmethod.jpg

Posted in Fonny Jodikin

Gila Musik

No Comments »

February 22nd, 2010 Posted 11:14 am


Dari lahir sampe hari ini, rasanya musik memenuhi hidupku. Mulai dari kecil, lagu anak-anak sampe lagu Bang Rhoma, halah! (Dengan malu hati, aku mengakui kalo ternyata pernah nyanyiin lagu-lagu Bang Rhoma dengan fasih ketika masih di usia 18 bulan kata Mama dan kakakku, padahal sekarang udah meluap entah ke mana hehe…).

Dan hari-hari berganti dengan cepat. Mulai dari setia mendengar radio bersama kakakku yang beda tujuh tahun di atasku. Dia senang mendengar lagu dari saluran radio yang menyiarkan siarannya secara lokal, tanpa iklan, dan kami malah bersahabat dengan penyiarnya yang siaran dari rumah gitu deh. Senangnya! Lagu-lagu cinta, of course mendominasi. Seperti zaman-zamannya ‘ Nothing’s gonaa change my love for you’, Careless Whispers, That’s what friends are for. Bukan lagu baru yang dikenal anak-anak ABG sekarang, tapi waktu aku jadi ABG, lagu-lagu seperti inilah yang mengisi hari-hariku. Tambahannya tentunya lagu-lagu Mandarin kegemaran bokap, karena bokap dulunya vokalis band. Jadi dari mana kegilaan akan musik ini muncul di diriku, sudah tertebak pastinya:)

Lagu Endonesa zaman baheula, pasti tahu donk. Dari Deddy Dores, Obbie Mesakh, Pance Pondaag, Christine Panjaitan, Dian Pisesha, Koes Plus, wuahhh…bukan penggemar mereka sih, tapi tahulah…Kan dulu acara TV belum banyak, sehingga nontonnya paling S-A-F-A-R-I SAFARIIII itu dan Selekta Pop…Hihihi…Ketauan deh, ABG di tahun berapa gw ini wkwkwk….

Aku lupa kapan tepatnya, tapi Rio Febrian, Marcel, Reza, dan Glenn Fredly mulai mengisi hari-hariku. Dan yang paling kusuka, Glenn donk! Sampe pernah nonton konsernya segala. Lagu-lagu Endonesa berirama R n B menjadi kesukaanku. Asiknya! Belum lagi kreativitas yang muncul dari Project P aka Project Pop, Pandhyangan, dan Seriues, juga menjadi pilihan untuk didengar. Karena kreatif sih!:) Oh iya, aku juga suka Iwan Fals, Ungu, Peter Pan,Slank, tapi gak semua lagunya, hanya beberapa saja sih… Tapi masih bisalah ngikutin sedikit-sedikit…

Sementara bermunculan juga idola-idola baru. Dari Mandarin, masih bisalah nyambung dengan F4, Jay Chou, David Tao, Wang Lee Hom, setelah sebelumnya didominasi oleh Alex To, Aaron Kwok, Jacky Cheung, Leon Lai (Li Ming), dan Andy Lau. Group-group baru juga sementara diikuti perkembangannya ketika di Singapura. SHE misalnya. Ato penyanyi dari negeri Singa tapi ngetop di Asia khususnya Taiwan dan Hongkong. Stefanie Sun (Sun Yen Ce) dan JJ Lin. Ada juga penyanyi asal Malaysia yang terkenal emosional karena pernah nonjok orang, Gary Cao. Di antara mereka semua, yang paling mempengaruhi aku sebagaimana Glenn di Indonesia, adalah Jay Chou. Si genius yang mulai latihan piano di umur 3 tahun (konon kabarnya begitu), betul-betul memberikan warna di hari-hariku. Mungkin buat penggemar Teresa Teng misalnya, lagu-lagu Jay Chou akan seperti lagu yang kumur-kumur, bergumam tanpa kejelasan lafal yang pasti. Diiringi ‘rap’ sedikit, piano yang memukau, wahhh…jadi keren:)

Kalau dari Amrik, teteplah dulunya ngikutin top 40. Apa aja yang ada di MTV ato channel V. Dan salah satu yang gw suka, Alicia Keys. Cool banget dan cucok musiknya ama aku. Sekarang karena kesibukan jaga anak dan berkurangnya kesempatan buat ngikutin musik-musik itu, masihlah beberapa nama menghiasi pikiranku dan hatiku. Dulu sih Boyband semisal Take That, Backstreet boys ato malah NKOTB (New Kids on the Block) jadul itu, tetap jadi favorite. Setelah itu ada deretan semisal Maroon Five, Pink, Bon Jovi, ato mungkin Michael Bubble yang beberapa lagunya jadi favorite. Usher ato mungkin group acapella Neri per Caso juga kusuka (itu sih dari jaman dulu punya ya…). Pokoknya yang unik, menarik, dan soulful. Itu jadi pilihanku. Dan deretan itu juga bertambah dengan Black Eyed Peas, Gwen Stefani, Beyonce ato groupnya dulu Destiny’s Child.

Kalo tiap tahun ngikutin American idol, pastinya suka dengan beberapa di antaranya. Seperti Ruben Studdart (tipe lagunya aja ya, sayangnya doski gak ngetop lagi hehe). Bo Bice, David Cook dan of course Adam Lambert! Sekarang, biarpun belum mulai, hati saya telah jatuh tuh tuh…pada Andrew Garcia… Kalo aja gw bisa voting, pasti gw pilih deh elo, bro!

Kalo di Indo, sukanya Mike Mohede. Soulful geto deh…

Sekarang deretan itu bertambah dengan group Korea. Tapi pengetahuanku terbatas sekali kalo soal perkoreaan. Dulu cuma suka Shinhwa dan sedikit lagu BoA. Tambahan sedikit setelahnya: Super Junior dan Wonder Girls. Kalo Jepang juga kurang ngikutin, cuman kayak Takuya Kimura and his bands aja. Yang pasti, seneng-seneng aja, hepi-hepi aja. Asalkan soulful, kreatif ato beda, dan dengan vokal yang bagus, rasanya aku selalu suka hehe…

Musik selalu mempengaruhiku. Dulu belajar juga sambil denger musik. Kakakku sampe bingung, gimana masuk ke otak kalo belajarnya berisik gitu? Anehnya, aku malah lebih bisa masuk otak kalo sambil nyanyi-nyanyi kecil. Kalo gak ada musik malah rasanya aneh sekali. Gak enak geto lho…:) Sekarang kalo nulis juga banyakan sambil denger musik, dan tak jarang lagu bisa jadi inspirasi penulisanku (seperti juga yang banyak dialami rekan-rekan yang suka menulis juga pastinya).

Hmmm, di luar itu semua, ada juga deretan musik rohani yang kusuka. Mulai dari Viona Paays, Giving My Best, Trueworshippers, Hillsongs. Yang paling mempengaruhiku adalah Sidney Mohede donk pastinya… Belum lagi band-band rohani lainnya yang kusuka. Deretan itu bertambah dengan siapa saja yang berani ‘out of the box’ sambil tetap mempersembahkan musiknya bagi kemuliaan Tuhan. Terakhir, tambahan dari seorang teman: Toby Mac, keren:). Juga Dewayne Woods. Dan tambahan lain dari seorang teman lainnya: sebuah website tempat lagu rohani berkumpul, ini juga so cool… http://www.spiritandsong.com/. Mungkin karena aku baru kenal musik rohani setelah tahun 2000, deretannya pun tak terlalu banyak. Tapi aku juga gembira dan bahagia, kenal musik rohani… Senang mendengar orang-orang yang mempersembahkan talentanya bagi kemuliaan nama-Nya:)

Kalo serial musical, sekarang ini lagu suka-sukaaa banget sama Glee. Yang baru Season 1. Di Starworld. Asik deh nontonnya. Kalo High School Musical suka juga, tapi Glee lebih banyak memberi arti ya:) bukan cuman keren-kerenan semasa SMA aza tentunya….

Di masa depan, aku juga gak tau ya, lagu-lagu ato musisi apa yang bakal jadi fave-ku. Mungkin aja seperti Andrew Garcia kontestan American Idol itu ato Jennifer Chung yang setia memposting videonya di Youtube dan emang keren banget dan langsung mendapat tempat di hatiku. Abis, mereka itu talented banget. Ato bisa jadi seperti Afgan yang muncul dan langsung kurasa cucok seleraku mendengarnya. It could be anyone. Any group. Any serial or movies yang tentang musik pastinya…

Yang pasti: enak didengar, cocok di hati, dan ‘out of the box’. Soulful juga jadi pilihanku. Yah, itulah sekilas info dari apa yang kurasakan selama ini. Musik memenenuhi hidupku. Musik memenuhi hatiku. Gimana dengan kamu? Apa kamu juga (gila) musik???:)

HCMC, 22 Februari 2010

-fon-

* ditulis dengan EYG. Ejaaan Yang Gue mau wkwkwk…:P Pisss:)

sumber gambar:

http://www.electrofreakz.com/wp-content/uploads/2009/05/free_music_online.jpg

Posted in Fonny Jodikin

Bintang

No Comments »

February 21st, 2010 Posted 8:46 pm

(Fonny Jodikin)

Sinar itu…

Kerlip itu…

Pernah menyala,

pernah membara,

pernah redup,

namun kembali benderang. (more...)

Tags:
Posted in Fonny Jodikin

←Older