Tulisan Oleh Fonny Jodikin
Treadmill
March 1st, 2012 Posted 3:22 pm

A treadmill is a device for walking while staying in the same place. Menurut informasi yang saya terima dari Oom Wiki alias Wikipedia di sore hari yang cukup terik di Ho Chi Minh City ini, treadmill adalah sebuah alat untuk berjalan sekaligus berada di tempat yang sama. Agaknya, teman-teman amat familiar dengan alat yang satu ini. Sekaligus pernah juga bahkan mungkin sangat akrab dengannya. Dia sering dipakai di tempat fitness, bahkan beberapa orang pencinta kebugaran pun memilikinya di rumah.
Beberapa waktu yang lalu saat di fitnes, saya memilih treadmill daripada kelas-kelas kebugaran. Sebagai bentuk variasi latihan yang sesekali saya lakukan di tengah kesibukan mengurus anak dan keluarga. Di atas treadmill itu, saya terpikir bahwa terkadang hidup pun bisa seolah tak bergerak ke mana pun. Setelah semua usaha yang dilakukan, masih saja seolah jalan di tempat. Ya, seperti kala berada di atas treadmill ini. Treadmill ada batas waktunya, terkadang malah ketika harus berbagi dengan pengunjung pusat kebugaran lainnya di jam-jam sibuk alias ‘peak hours’, tak jarang kita dijatah hanya 30 menit saja. Di atas treadmill, seolah tanpa guna, tetapi kita terus berjalan sampai batas waktu yang sudah ditentukan. Di atas roda kehidupan, walaupun tanpa hasil yang nyata, kita pun hendaknya tak berhenti berjalan meski tertatih, meski sempat terjatuh… Kita bisa bangkit lagi dan menyelesaikan pertandingan kehidupan kita, tentunya bersama Tuhan kita pasti bisa.
Lalu, apakah treadmill yang jalan di tempat ini tak berguna sama sekali? Tentunya tidak! Banyak kalori yang bisa kita bakar sebagai upaya untuk tetap sehat dan bugar, bukan?
Begitupun dalam hidup. Ketika semua terasa salah, tak berguna, tak ada kemajuan yang berarti, apakah itu semua tidak berguna? Tak jarang, pengalaman-pengalaman di masa-masa itulah yang menjadikan kita lebih dewasa dan bijaksana. Bukan melulu saat-saat penuh kemenangan, kesuksesan, dan kejayaan… Tetapi, di saat-saat seolah usaha belum berbuah, kita diajar untuk menanti di dalam iman dan percaya kepada Sang Pencipta yang tahu yang terbaik bagi setiap umat-Nya.
Di treadmill, saya mendapat pencerahan baru.
Hidup boleh seolah tidak bergerak, tak bergeming. Tetapi, saya harus tetap berusaha (bergerak). Jangan sampai hasil usaha yang tidak sesuai harapan, menjadikan saya putus asa atau kecewa sehingga memutuskan untuk berhenti untuk melakukan apa pun…Tetapi, sebaliknya, saya terus berusaha menanti penggenapan janji-janji-Nya yang setia di sepanjang hidup saya. Sampai akhirnya, ketika ‘treadmill’ saya harus berhenti saat kembali bersatu dengan-Nya, saya sudah memberikan yang terbaik semasa waktu yang diberikan untuk menghirup udara segar di bumi ini oleh-Nya.
Hidup itu singkat. Namun apa yang bisa kita lakukan dalam hidup yang singkat itulah akan menjadikan hidup kita lebih bermakna.
Apakah hidup itu indah? Pilihan ada di tangan kita. Kita bisa menjadikannya indah dan membagikan keindahan itu kepada sekitar kita. Dalam ketidaksempurnaan kita, tak henti berusaha memberikan yang terbaik bagi kemuliaan-Nya.
Selamat sore. Salam dari
HCMC, 1 Maret 2012
-fon-
* pencerahan saat berada di atas treadmill… Thank God…!
Posted in Fonny Jodikin
Kemenangan Terbesar
February 21st, 2012 Posted 11:50 am

Pada suatu ketika di masa lalu.
Kemenangan terbesar berarti….
Paling hebat, paling cantik, paling pintar, paling dahsyat….
Jadi yang terhebat… Jadi nomor satu.
Itulah yang dituju oleh banyak orang, termasuk diriku…
Hari berganti. Persoalan hidup silih berganti…
Kedewasaan pun pelan-pelan bertumbuh.
Persepsi yang berbeda kudapati.
Kemenangan itu terasa indah, tetapi terkadang segera sesudahnya terasa hampa. Sebentar saja kehilangan maknanya.
Di saat menang, tentunya senang.
Tetapi rasa riang itu tak bertahan lama.
Ia hanya perasaan yang singgah sekejap saja.
Kemenangan sejati…
Bukan lagi ketika bisa mengalahkan orang lain dan bersombong diri.
Melainkan…
Ketika kita mampu menaklukkan diri sendiri.
Menaklukkan keegoisan, kesombongan, keangkuhan, kebencian, kemarahan, dendam, tidak mau mengampuni…
Berganti dengan penerimaan tulus yang walaupun harus diperjuangkan…
Tetapi tetap bisa dijalankan…
Kemenangan terbesar hari ini…
Adalah kemenangan bersama Yang Kuasa
Kasih-Nya yang senantiasa baru setiap hari akan mampukan kita.
Lakukan yang mustahil bagi dunia…
Karena tiada yang mustahil bagi-Nya.
HCMC, 21 Februari 2012
-fon-
Posted in Fonny Jodikin
Di Suatu Hari Penuh Kecewa
February 8th, 2012 Posted 1:10 pm

*** cerpen – Jelang Valentine’s Day
Akhir-akhir ini Vin berontak.
Kecewa erat berhubungan dengan ekspektasi. Pengharapan. Semakin tinggi harapan yang diletakkan pada sesuatu atau seseorang, semakin dalam pula rasa kecewa yang akan dirasakan bila hal yang diharapkan tidak menjadi nyata. Vin tahu sebetulnya akan hal itu, tetapi agaknya sulit juga baginya karena yang melukainya adalah orang-orang yang terkasih. Orangtuanya, pacarnya, adik-kakaknya. Yah, terkadang harus diakui, merekalah sukacita terbesar di dalam hidupnya. Sekaligus banyak kali juga, mereka jugalah yang membuat kesedihan di hatinya memuncak. Perasaan dicuekkan, tidak lagi dipedulikan, jarang diperhatikan bahkan oleh pacarnya sendiri yang berada di lain
Orangtuanya memang tak pernah mendukung hubungan mereka. Salah satu alasan utamanya adalah papa dan mama Vin selalu merasa bahwa Adit bukanlah yang terbaik bagi Vin. Terlalu banyak hal yang membuatnya demikian. Adit bukan dari keluarga yang kaya seperti keluarga Vin. Juga bukan dari keluarga terpandang. Adit adalah anak seorang petani miskin dari luar pulau yang jujur dan bekerja keras. Adit juga pekerja keras dan pintar, itu yang membuatnya menyelesaikan kuliahnya dengan bea siswa dari Universitas yang mempertemukan mereka di
Vin memang idealis. Dia selalu mengutamakan sikap hidup seseorang. Jangan bicara soal latar-belakang, kekayaan, kepandaian, spiritualitas yang mengindoktrinasi padanya. Dengan keras, dia akan menyanggah semuanya. Bagaimana orang tersebut hidup, itu yang terpenting baginya!
Kini, Adit harus pergi. Ke negeri tetangga, di Malaysia. Tempat ada kesempatan baru terbuka. Mungkin juga bagi masa depan mereka. Dengan demikian, Adit bisa jadi lebih mapan dan semoga lebih dipandang oleh orangtuanya. Vin harus rela melepas Adit walau dengan berat hati. Dan di Jakarta, Vin selalu mendapat gangguan dari pria-pria di sekitarnya. Yang walaupun mereka tahu bahwa Vin sudah punya pacar, tetapi tidak disetujui ortunya dan jauh di negeri tetangga.
Vin harus berjuang melawan rasa sepinya. Yang semakin lama semakin sering mengganggunya. Yah, Adit pulang setahun 2-3 kali. Sementara Vin pun bisa setahun 2-3 kali ke
***
Di suatu hari.
Papa- mama marah-marah lagi. Sementara di rumah, adik dan kakaknya berbalik memusuhinya karena menurut mereka, dia sudah mencoreng nama keluarga mereka.
Hmmm, tunggu dulu… Mencoreng??? Memangnya apa yang sudah dia lakukan? Vin mengangkat bahunya. Blackberry messenger dengan Adit di seberang
Nonton TV salah. Berbaring di ranjang salah. Browsing internet salah. Lihat Blackberry dan Whatsapp malas. Entahlah, ketika kecewa sudah terlalu dalam, rasanya apa pun salah saja. Vin juga tak ingin ke mana-mana. Entahlah, akhir-akhir ini dia selalu kehabisan enerji selepas kerja. Kerja pun dipaksakan untuk terus konsentrasi karena kalau tidak kariernya bisa jeblok gara-gara ini. Tetapi, dia sendiri sangat sulit konsentrasi. Segala sesuatu tertuju pada permasalahan ini saja. Tetapi, untuk putus dari Adit, dirinya juga tak kuasa. Haruskah jalinan cinta mereka yang saling menyanyangi itu hancur gara-gara orang-orang di sekelilingnya?
Yang satu-satunya dia bisa lakukan, agaknya berdoa. Hal yang sudah sungguh lama tidak dilakukannya. Ke gereja pun kadang pergi, kadang tidak. Tetapi, sungguh hari ini, dia butuh ketenangan dari Tuhan. Rasanya, dia sudah tak sanggup lagi atasi semuanya ini sendiri.
“ Tuhan, ini aku.”
Dengan kaku, dimulainya doanya itu.
“ Katanya Engkau Maha Tahu, ya Tuhan. Aku sudah begitu lelah dengan hidupku.
Vin diam. Hanya air mata menggenangi kedua belah pipinya. Mengalir deras bak sungai kecil. Diambilnya secarik tissue, lalu melanjutkan doanya…
“ Tuhan… Apa aku harus putus dengan Adit, sementara kami sudah saling cinta mendalam begini? Dan bagaimana dengan Papa dan Mama, yang seolah tak mengerti bahwa kami sudah cinta dan Adit pun anak yang baik dan mau berusaha keras untuk masa depan kami? Dia memang bukan orang kaya. Tetapi apa orang yang tidak punya, tidak bisa jadi calon suamiku, Tuhan?”
Dia diam lagi. Tetapi, satu sisi mulai merasakan kelegaan dan merasa nyaman dengan komunikasi yang walaupun masih satu arah, dia yang curhat melulu. Tetapi, dia sukai itu.
“ Dan Rei juga Ai, kakak dan adikku, ikut-ikutan. Itu yang tambah menyebalkan dan bikin pusing kepala, Tuhan. Apa urusan ini gak cukup? Harus ditambah permasalahan dan permusuhan dengan mereka? Bukannya membantu, malah menyebalkan…Huh!”
“ Adit juga semakin sulit dihubungi, Tuhan. Meeting, meeting, dan meeting terus. Kadang aku sendiri ragu. Apa meeting beneran ato tidak, ya Tuhan?”
“ Tiba-tiba hidup terasa berat. Memuakkan. Tak lagi ada warna keceriaan. Membosankan. Mengecewakan. Menyakitkan. Uhhh, gak tau lagi deh, Tuhan. Yang pasti aku sedang kecewa berat. Malas ngapa-ngapain, mungkin sedikit depresi. “
Lagi-lagi dia diam. Tetapi, tiba-tiba dari dalam hatinya muncul suatu kelegaan. Karena sudah berdoa dan curhat dengan Tuhan. Ehhh, berdoa? Kata yang tak pernah ada di kamusnya itu koq tiba-tiba jadi sesuatu yang mengasyikkan. Kesendirian, kesepian, yang berpadu dengan permasalahan kehidupan yang membelit, membuatnya mencari Tuhan. Memang, tidak selalu harus dalam penderitaan manusia baru ingat Tuhan, tetapi seringkali manusia menjadi sombong kala semuanya lancar dan baik-baik saja, lalu cenderung melupakan Tuhan. Ketika dirundung permasalahan, barulah ia sadar bahwa tanpa Tuhan, dia bukanlah siapa-siapa… Seperti Vin. Hari itu malah menjadi hari yang bersejarah. Malah menjadi hari yang menyukakan. Hari hari itu, dia pertama kalinya berkomunikasi dengan Tuhan.
Hari yang penuh kecewa. Memuncak sehingga ia kehilangan arah. Tak tahu harus apa, bagaimana, dan ke mana. Kepada Tuhanlah ia menuju, curahkan semua rasa. Tak ada yang bisa menemaninya setiap waktu. Walaupun itu Adit. Tetapi Tuhan Maha Hadir dan bisa melakukannya… Tiba-tiba ia tak lagi kesepian, tiba-tiba di punya seseorang yang selalu ada untuknya. DIA jadi sahabat sejatinya.
***
14 Februari 2012
Valentine’s Day.
Ahhh, Valentine’s Day? Valentine’s Day apaaa?
It’s just another day passes by… Plus embel-embel dinner mahal yang ditawarkan restoran dan hotel. Bunga, cokelat, kue tart, dan kado buat pacar yang mendadak bertebaran mengisi hari itu…
Vin berjalan. Agak gontai.
Mal itu terlalu manis dengan hiasaan berbentuk hati di mana-mana. Warna pink mendominasi. Tetapi, yang dia hadapi hanya sunyi. Namun, agak ada perbaikan kali ini… Karena dia sudah bisa curhat dengan-Nya…
Makan siang di mal jadi membosankan. Vin mendadak kenyang. Hanya rekan sekerjanya yang keheranan. Vin hanya diam, berusaha memasukkan suapan makanannya dengan tak bernafsu.
Pulang ke rumah. Biasa. Sepi lagi.
Papa-Mama, adik-kakaknya sedang pergi ke Singapura. Hanya untuk wiken. Seperti biasa kalau mereka tidak ada kegiatan. Vin sudah lama sekali tidak ikut-ikutan kegiatan itu. Sejak kondisi yang kurang mengenakkan. Sejak ia pacaran dengan Adit.
Diparkirnya mobil dengan perlahan. Pintu mobil dibuka dengan lemas. Tak bertenaga. Masuk ke ruang tamu, koq gelap. Tumben Si Iis-pembantu rumah mereka tidak menyalakan lampu.
Dicarinya tombol lampu di dalam gelap. Dan klik. Terang seketika.
Ada Adit di
“ Adittt, katanya kamu sibukkk… Bahkan, kamu bilang mau meeting ke Thailand segala…. Jadi be-te, dehhh.” Dipukulnya Adit dengan mesra.
Adit pun mengucek-ucek rambutnya dan memeluknya.
“ Sori, aku sengaja. Ha ha ha…”
“ Huh, udah puasss?” Tanya Vin.
Adit masih cengar-cengir saja.
Ditambah lagi, satu per satu anggota keluarganya mulai memenuhi rumah. Papa, Mama, Rei, dan Ai. Ah, mereka ternyata tidak ke Singapura. Bohonggg…
“ Halo, Vin. Kami mau jadi saksi.” Kata mereka hampir berbarengan.
“ Saksi? Saksi apa?” Ujar Vin kebingungan…
“ Ini…” Ujar Adit serius sambil menyodorkan cincin berlian ke hadapannya.
“ Vincenzia Marsha Salim, will you marry me?” Bisik Adit lembut di telinganya.
Vin hampir pingsan. Tetapi sempat mengangguk dan mengatakan: IYA.
Entah bagaimana caranya, keluarganya bisa mencapai kesepakatan dengan Adit. Adit pun sudah mendapatkan karier yang baik dan dipromosi di
“ Terima kasih, Tuhan.” Bisik Vin perlahan.
“ Tak kusangka akhirnya seindah ini. Oh, tentunya ini juga awal bagi kami ya, Tuhan… Aku dan Adit, serta keluarga kami… Dan nantinya anak-cucu yang Kautitipkan pada kami…”
Mungkin Vin akan bekerja di Malaysia, mungkin juga tidak. Mungkin hanya mengurus anak. Mungkin… Semuanya masih mungkin.
Secepat itu juga tanggal pernikahan ditentukan. Tempat pernikahan dicarikan. Dan kehidupan baru sudah menanti di depan mata…
Satu yang pasti, di suatu hari penuh kecewa beberapa waktu yang lalu, dia sudah menemukan persahabatan dengan-Nya. Dia sungguh bahagia karenanya. Dan Vin percaya, dalam segala kondisi kehidupannya. Apa pun yang terjadi nanti, susah-senangnya… Dia persembahkan kepada Tuhan. Selalu ada jalan bagi mereka yang percaya kepada-Nya.
Ini sungguh hadiah Valentine tak terlupakan baginya.
“Terima kasih, Tuhan!” Senyum bahagia mengiringi wajahnya.
HCMC, 8 Februari 2012
-fon-
Posted in Fonny Jodikin
Hari Ini
January 31st, 2012 Posted 10:42 pm

Hari ini tidak begitu menyenangkan, Tuhan.
Pada orang-orang yang tak mengenalku dengan baik, mungkin bisa… Tetapi, pada mereka yang dekat denganku, pasti terasa.
***
Hari ini sungguh membahagiakan, Tuhan!
Dari terbit matahari sampai terbenamnya, keceriaan saja yang kudapat. Semua lancarrrr. Ah, aku bahagia. Sungguh!
Kuceritakan pula semua sumber bahagiaku hari ini, karena kupercaya bahwa di atas itu semua, Engkaulah sumber sukaku…Bahkan semua kembang pun turut bernyanyi, angin semilir berhembus, cuaca ramah, lalu lintas lancar…
Terima kasih, Tuhan… Berkat-Mu sungguh terasa hari ini. Kebaikan dan kesetiaan-Mu tetap nyata… Perlindungan-Mu sungguh luar biasa… Kuasa-Mu dahsyat tiada
***
Hari ini kulalui dengan perasaan campur-aduk, Tuhan…
Paginya begitu menyenangkan, siangnya menyebalkan, malamnya sedang-sedang saja. Flat. Datar. Kututup hari dengan perasaan gamang. Campuran dan pilinan suasana hati yang naik-turun terasa melelahkan. Inginku hanya tidur saja, Tuhan… Tetapi pikiranku nampaknya enggan untuk beristirahat, dia masih sibuk… Begitu juga perasaanku yang datar itu… Kuputar kembali kejadian seharian. Ah, Engkau selalu bersamaku, ‘
***
Hari ini…
Apa pun yang kualami, ‘
Apa pun perasaanku, pikiranku, biarlah kuceritakan kepada-Mu
Biarlah Engkau bertakhtah atas hidupku…
Sejak Engkau hidup di dalamku dan kuada dalam-Mu,
Hidup ini bukanlah lagi milikku semata…
Tetapi akan kupersembahkan hanya bagi-Mu
Hari akan berganti.
Yang aku tahu pasti…
Engkau adalah setia.
Di sepanjang hidupku sampai selamanya…
Kupersembahkan hariku ini kepada-Mu
Semoga Engkau berkenan, Ya Tuhanku…
Aku ingin selalu memberikan yang terbaik bagi-Mu
Di tengah seluruh kelemahanku, biarlah Engkau yang jadi sumber kuatku
Biarlah itu semua, kupersembahkan untuk-Mu.
Dalam jatuh-bangunnya aku melalui hari-hari hidup yang Kauanugerahkan kepadaku…
Biarlah aku tetap berusaha setia dan ikut jalan-Mu
Yang meski terjal dan berliku…
Tetapi, kutahu aku takkan kecewa…
Ikut Engkau sepanjang hidupku
Sampai ke keabadian bersama-Mu…
Karena kutahu, semua rencana-Mu
Membawa kebaikan bagiku…
HCMC, 27 Januari 2012
-fon-
Posted in Fonny Jodikin
Hal Penghakiman
January 20th, 2012 Posted 4:56 am

Di suatu pesta.
Sekelompok ibu keren yang tak kukenal memandangiku. Beberapa di antaranya dengan tampilan mereka yang prima dan super-branded. Mahal dan bling-bling di sekujur tubuhnya. Menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mulai dari wajah, pakaian, sandal, sampai tas yang kupakai. Semua tak lepas dari sorot mata mereka. Aku jadi salah tingkah, sedikit tak berkutik. Terlanjur dihakimi. Rasanya tak enak sekali.
Memang bajuku hanya gaun sederhana. Bukan yang mewah, tetapi nyaman kupakai. Tasku, bukan yang mahal sekali seperti milik mereka. Yang harus menghabiskan budget ribuan dollar untuk mendapatkannya. Sandalku pun asal
Ini kompetisi perempuan. Yang mungkin kurang sehat, tetapi sering kali terjadi. Kompetisi. Penghakiman. Atas dasar fisik dan apa yang dikenakan.
Tiba-tiba perasaan muak itu datang lagi. Lebih baik aku beranjak pergi. Makan dan minum saja sampai puas hati. Dengan mereka? Cuek saja, tokh ‘gak kenal’ ini….Huh, hari ini mendadak jadi kurang menyenangkan. Kucoba tepis perasaan itu, tetapi dia masih ada. Ah, kusibukkan diriku sajalah daripada pusing dengan tingkah mereka….
Beberapa hari kemudian.
Di restoran cepat saji ini, kunikmati kentang goreng dan burger. Ditemani ‘iced lemon tea’ aku menikmati siang hari ini. Mumpung aku lagi cuti dari pekerjaanku, kapan lagi? Seorang ibu masuk ke restoran. Tampak lusuh. Seperti pengemis. Dan dia duduk di meja sebelahku. Segera kupindahkan tasku yang tadinya dekat mejanya, ke sisi sebelah jendela sehingga aman. Kuhabiskan makananku terburu-buru. Lalu ambil langkah seribu. Dia sudah membuyarkan hariku!
Malam hari saat ingin memejamkan mata di peraduanku…
Kejadian beberapa hari lalu di pesta melintas di depan mata.
Dan suara yang lembut itu menggema di batinku…
“ Anak-Ku, bagaimana perasaanmu ketika dihakimi? Apakah kau senang? Apakah kau bahagia? Lalu, mengapa pula kaulakukan penghakiman atas orang lain hari ini? Apakah kaunikmati saat menghakimi itu? Puaskah hatimu menganggap dirimu lebih tinggi dari orang lain, lalu boleh menghina dengan pandangan atau pikiranmu yang mungkin saja keliru?”
Aku terdiam.
Sungguh jahat diriku hari ini. Curiga hanya karena tampilan luar seseorang. Sama halnya seperti aku dihakimi mereka yang lebih berkelas dariku. Apa enak?
Dihakimi tak pernah enak. Tetapi, ketika menilai, menghakimi, bahkan bergosip tentang seseorang, betapa menyenangkannya! Bagaimana jika dibalik dan aku yang jadi bahan gosip dan tertawaan itu, apakah aku juga akan senang?
Lakukanlah kepada orang lain, sebagaimana kauingin diperlakukan…(Suara itu bergema lembut di hatiku..)
Ah, Tuhan…
Maafkan diriku…
Semoga aku belajar untuk lebih memandang penuh kasih kepada sesamaku. Bukan dengan tatapan mencela, bukan pula pandangan menghina…
Penghakiman? Mutlak hanya milik-Mu semata…
HCMC, 17 Januari 2011
-fon-
*Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. (book of Matthew)
Posted in Fonny Jodikin












