Tulisan Oleh Giacinta Hanna

Si “Puppy”

No Comments »

June 21st, 2010 Posted 1:05 am

(Giacinta Hanna)

Diseberang sana, kobaran api iri hati semakin membara padahal dia tidak pernah melupakan kegiatan beibadah. Namun setelah itu, kembali rasa itu menguasai hati dan pikiran. Rasa itu nampak pada sikap dan perbuatan. Wajah tidak enak dipandang, tak ada senyum sedikitpun dan tidak bersemangat ketika melakukan pekerjaan. Ketika berbicara seringkali mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati. Tak ada lagi yang mampu diperbuatnya selain melawan. Emosi lebih dominan daripada logika.

Aku mengerti bahwa ada suatu ambisi yang tidak mampu dicapainya. Dan ketika kemampuan bertambah, ada suatu rasa tinggi hati yang mulai menyelimuti. Semua tidak terjadi secara tiba-tiba tetapi melalui suatu proses yang panjang. Aku mengerti namun dia tidak sadar bahwa disaat inilah godaan setan lebih sering mengganggu. Tak ada lagi rasa damai di hati. Pikiran dikuasai oleh hal-hal yang negatif dan menganggap dirinyalah yang benar.

(more...)

Posted in Giacinta Hanna

KELANA 2010-04-15 13:26:00

No Comments »

April 15th, 2010 Posted 1:26 pm

Sepenggal Nasehat
(Giacinta Hanna)

Ada kutipan yang menarik dari lagu yang berjudul "Jangan Menyerah"

Seringkali dengan mudah kita akan berkata bahwa kita tidak akan pernah mampu atau tidak bisa melewati segala sesuatu yang ada dihadapan kita hari ini. Namun satu yang perlu kita ingat bahwa dalam menempuh perjalanan ini, disaat naik ke gunung ataupun turun ke lembah, bahwa kita tidak pernah dibiarkan sendiri. Setiap melewati kehidupan, Tuhan selalu memberi kekuatan untuk menanggung segala perkara.

Dalam segala perkara, Tuhan punya rencana yang lebih besar dari semua yang terpikirkan. Apapun yang kuperbuat, tak ada maksud jahat. Sebab itu kulakukan semua dengan-Mu Tuhan. Ku tak akan menyerah pada apapun juga sebelum mencoba semua yang ku bisa, tetapi ku berserah kepada kehendakMu. Hatiku percaya Tuhan punya rencana.

Untuk itu, dalam setiap keadaan jangan pernah menyerah. Sebab Allah yang menyertai kita jauh lebih besar dari segala persoalan yang ada didalam kehidupan kita. Apapun yang kita alami tidak pernah melampaui kekuatan kita untuk menanggungnya.

catatan dariku :

Berat, memang terasa berat jika kita mengalami keadaan yang jauh dari harapan.
Lelah, memang terkadang ada rasa lelah ketika usaha yang sudah dilakukan belum memberi hasil.
Penat, memang rasa penat seringkali menghampiri jika perlawanan datang dari rasa cemburu

Namun janganlah bertumpu kepada persoalan yang ada. Lihatlah jauh ke depan. Ada impian yang hampir diraih. Jangan mudah menyerah ditengah jalan. Lawanmu akan bersorak sorai. Lawanmu akan merasa bahagia tanpa kehadiranmu. Karena sesungguhnya dia ingin menjatuhkan mentalmu demi memuaskan egonya sendiri. Dan kamu jangan terlena seditikpun.

Lawanlah dengan keyakinan penuh bahwa kamu berada di jalan yang benar. Galilah terus potensi yang ada untuk meraih hidup berkemenangan. Harapan dan semangat harus tetap ada dalam melalui kehidupan agar hidupmu tidak terbuang sia-sia. Setiap orang mempunyai arti asal diri sendiri menghargainya. Percayalah bahwa Tuhan memberikan anugerah yang besar untuk kita yang harus digali, dikembangkan, dibina agar nampak berkilau indah.

Posted in Giacinta Hanna

KELANA 2010-04-13 09:44:00

No Comments »

April 13th, 2010 Posted 9:44 am

ARTI BERSYUKUR

Giacinta Hanna


Ada butiran peluh yang mulai timbul disekitar kening dan punggung saat teriknya mentari tengah hari menyentuh kulit dari balik kaca depan mobil. Suhu ruangan sekitar semakin meningkat. Sungguh membuat hati dan tubuh terpengaruh sangat. Emosi semakin bertambah jika sesekali ada kendaraan roda dua yang mendahului dari sebelah kiri dan kanan tanpa perasaan. Seakan-akan kendaraan roda empat menjadi pengganggu kelancarannya berlalu-lintas.

Untuk mengurangi rasa penat, terlintas ide menekan tombol tape recorder berfasilitas radio yang semula off menjadi on. Diseberang sana mulai terdengar seseorang sedang bercerita. Nada suaranya bersemangat sekali dan cukup menguras perhatian. Dia adalah salah seorang motivator kenamaan di tanah air.

Ada nasehat yang diingat sampai saat ini dan sangat menyentuh hati. Beliau mengatakan bahwa jika orang tertawa ketika hatinya bahagia itu adalah hal yang wajar. Dan jika orang menangis saat bersedih itu juga hal yang biasa. Namun merupakan suatu hal yang luar biasa jika dalam keadaan bermasalah, orang mampu tersenyum manis. Tentunya senyuman manis yang tulus dan keluar dari hati yang terdalam. Sungguh sulit melaksanakan nasehatnya namun jika mau belajar, tentu aku bisa.

Aku teringat saudaraku yang juga seperti ini. Begitu banyak masalah hadir dalam kehidupannya. Kami semua mengkhawatirkan keadaannya. Khawatir depresi, tidak bahagia dan khawatir jatuh sakit. Akan tetapi aku jarang sekali melihatnya bersedih dan berkeluh kesah. Bahkan setiap kali bertemu, garis bibirnya senantiasa melengkung ke atas ditambah canda ceria yang menghangatkan suasana. Ada rasa heran mengapa masih mampu tersenyum dalam keadaan kalut, sedih dan gusar? Kok bisa ya menutupi perasaaan hati yang sebenarnya sedangkan orang disekitar saja merasa khawatir tanpa sempat tersenyum ceria seperti dia? Tentu ada kemampuan yang istimewa dan luar biasa dalam dirinya.

Aku berpikir dan akhirnya mulai tahu. Dia mampu keluar dari rasa ego yang seringkali membelenggu diri. Kemampuan untuk menanggung segala masalah bukan menjadi beban hidup melainkan merupakan bagian dari proses pembentukan diri menjadikan dirinya kuat. Dengan kerelaan dan kepasrahan penuh akan campur tangan Tuhan dalam menyelesaikan segala perkara, membuat diri mampu tersenyum dalam keadaan kalut, sedih, gusar. Ya, dia memang senantiasa berbincang akrab dan mencurahkan semua masalahnya kepada Tuhan. Dia mau belajar dan merendahkan diri dihadapanNya.

Apakah ini yang dinamakan hidup penuh syukur? Aku percaya, ada sumur sukacita dalam diri yang memang telah dianugerahkan Tuhan untuk manusia. Saudaraku mampu menimba air dari sumur sukacita di dalam diri sehingga dalam keaadaan sedih masih mampu bersukacita. Disinilah letak keistimewaan yang seringkali diabaikan. Kemauan untuk belajar menerima keadaan apapun yang dialami dan menganggap semua adalah proses bertumbuh dalam iman kepada Tuhan.

Aku mengerti bahwa sungguh sulit menerima keadaan buruk dengan senyuman namun jika kita mau membuka diri dan belajar tentang misteri Tuhan untuk kita, maka kita akan senantiasa hidup penuh syukur. Aku mempunyai ide untuk membuka hari kita dengan menyapaNya, “Terima kasih Tuhan karena Engkau menambahku hidup satu hari lagi, kesahatanku baik, dan hatiku bahagia. Aku juga masih diberi kesempatan untuk merasakan kebaikanMu. Akan kujalani hidupku sepanjang hari ini sesuai keinginanMu.”

Ada kesimpulan yang kudapat dari pemikiran ini. Dengan menanamkan terus menerus pengertian akan kebaikan Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari, maka akan tercermin pula di wajah yang selalu ceria, sikap yang ramah dan perilaku yang tenang. Inilah yang dinamakan hidup penuh syukur. Syukur kepada Tuhan apapun yang terjadi, baik ataupun buruk.

Suhu udara yang meningkat di dalam kendaraan tidak sempat lagi kurasakan dengan analisa yang cukup panjang ini. Tanpa terasa perjalananku berakhir dan ada sesuatu yang berubah dalam diri. Aku tidak lagi mengumpat pengendara roda dua itu meskipun meninggalkan goresan panjang dan cukup dalam di kendaraan yang aku bawa. Emosiku menjadi lebih terkendali dan ketika kulihat wajahku di cermin, garis lengkung di bibir mulai naik. Aku hanya berpendapat bahwa goresan ini toh masih bisa kuperbaiki. Masih untung bukan tubuhku yang tersentuh. Jika tubuhku yang diserempet bahkan ditabraknya , tentu masalah akan lebih besar lagi. Mungkin tubuhku akan memiliki goresan luka dimana-mana. Terima kasih Tuhan untuk hari berkesan yang Engkau berikan melalui seorang motivator.

Posted in Giacinta Hanna

KELANA 2010-03-25 08:17:00

No Comments »

March 25th, 2010 Posted 8:17 am

Hanya Cinta

Oleh : Giacinta Hanna

Hanya cinta yang membuat gusar
Cinta pula yang mampu menguras energi
Energi positif menjadi energi cemburu
Kamu hanya milikku, tiada yang lain
Hanya itu yang ada dibenak

Untuk seseorang yang merasa diacuhkan
Untuk satu orang yang selalu merasa dipersalahkan
Ungkapan rasa yang sulit dimengerti
Ungkapan kemarahan
Hanya untuk satu nama


Ada rasa tersanjung sekaligus asing
Diperlakukan secara khusus
Perfeksionis, melankolis, romantis
Ada rasa bahagia
Ada rasa takut kehilangan

Hanya cinta yang membuatmu mengamuk
Hanya cinta yang menjadikanmu cemburu
Goresan pena yang mampu membuat reaksi
Keberhasilan ungkapan rasa nampak
Proses pembentukan diri berlangsung

Selama nafas masih berhembus
Selama cinta masih bisa dirasakan
Dalam dada, dalam hati
Dalam diri dan dalam jiwa
Hanya cinta yang menjadikanmu seperti ini.

Posted in Giacinta Hanna

KELANA 2010-03-10 21:55:00

No Comments »

March 10th, 2010 Posted 9:55 pm

Wah, kok jadi gini?

Oleh : Giacinta Hanna

Ada cerita tetapi bukan dongeng menjelang tidur. Ini memang benar terjadi dan mungkin ada hal-hal kecil yang bisa diambil hikmahnya bagi kehidupan.

Di warung tempatku berjualan yang istilah 'ngetren'nya disebut kafetaria, pengurus foodcourtnya diganti. Semula jabatannya sebagai bagian Administrasi dan Logistik. Sejak pengelolaan dialihkan ke pemilik gedung, dia diangkat sebagai manajer foodcourt. Latar belakang pendidikannya adalah eks mahasiswa fakultas hukum. Ada yang memberi kabar bahwa orang ini adalah eks preman. Ah, gosiplah itu! Tetapi jika diamati ada benarnya juga gosip itu. Gayanya memang seperti preman jika berhadapan dengan para tenan. Hm,...apa iya dia eks preman? Aku jadi terpengaruh juga.

Terkadang latar belakang pendidikan tidak terlalu berpengaruh dengan dimana dan menjadi apa seseorang itu kelak. Namun ada kalanya biarpun hanya belajar satu semester, sikapnya seolah-olah seperti sudah sangat profesional di tempat menimba ilmu. Seperti Bapak yang satu ini. Gayanya sudah seperti ahli hukum profesional, pandai berkelit dan tidak mau kalah. Yang penting nada bicaranya keras dan menyerang terlebih dahulu.

Sekali waktu dia membagikan satu lembar daftar menu yang harus diisi oleh para tenan. Di lembaran itu tertulis Daftar Menu Tenan dan Gaya Makanan. Aku mengisi 22 jenis menu makanan dari Western Style yang sebenarnya tidak murni dan sudah dmodifikasi, disesuaikan dengan lidah kita. Namun menu ke-10 berupa Sapo Tahu Ayam dia coret. Katanya itu bukan dari Western Style tetapi dari Chinese Style. Dia benar, tetapi Sapo Tahu yang ada di warungku ini sudah aku modifikasi dengan ditambahkan bahan-bahan yang bukan berasal dari Cina seperti Bawang Bombay, Paprika Merah, Paprika Hijau dan Chicken Katzu. Aku berpendapat bahwa orang ini cuma tahu nama dari jenis makanan tanpa pernah mencicipinya. Dan aku salah memberi nama. Seharusnya aku pakai nama yang berbau 'bule'.

Aku jadi terpikir untuk mengerjai orang ini. Akhirnya aku bertukar pikiran dengan anak-anakku. Kepada merekalah aku berdiskusi banyak hal termasuk mengenai hal ini. Mereka jualah 'tester'ku. Sebelum makanan yang sudah aku modifikasi dipasarkan, mereka cicipi terlebih dahulu. Jika mereka sudah berujar,"enak, ma. Enak!" sambil melahap makanan itu sampai habis, barulah aku yakin untuk menjualnya.

Kali ini aku bertanya pada mereka,"Nak, mama ingin jual Mpek-mpek tetapi itu kan bukan makanan 'bule'. Supaya si manajer itu tidak tahu, sebaiknya pakai nama apa ya?"
Kening mereka berkerut yang menandakan sedang berpikir keras. Mereka diam beberapa saat. Tidak lama kemudian si sulung berujar,"grandpa aja, ma."
"Wah, ide yang brilian."
Aku mengembangkan idenya. Kalau Mpek-mpek lenjer namanya jadi Long Grandpa. Mpek-mpek kapal selam jadi Titanic Grandpa, Mpek-mpek isi keju jadi Cheese Grandpa.
"Ma, kalau Cheese Grandpa itu kepala 'mpek'nya dikasih keju parut?" kata si bungsu.
"Wah, kok jadi gini? Mama jadi bingung sendiri nih!"

Posted in Giacinta Hanna

KELANA 2010-02-20 23:24:00

No Comments »

February 20th, 2010 Posted 11:24 pm

Ibu Idaman


Oleh : Giacinta Hanna

Tulisan iseng ini muncul ketika aku lebih mementingkan egoku dibandingkan kepentingan orang lain. Tidak ada salahnya jika aku bagikan pemikiran ini. Siapa tahu ada yang pernah mengalami hal yang sama. Siapa tahu bisa diambil manfaatnya bagi kehidupan.

Ibu impianku adalah ibu yang menyediakan waktunya untuk mendengarkan dan welas asih. Memaklumi dan mengerti kesulitan anak-anaknya. Memahami bahwa ada suatu waktu anaknya mengalami masalah yang tidak mampu ditanggungnya sendiri dan bersedia menjadi teman seperjuangan.

Ibu mertua yang kurindukan adalah seorang ibu yang bijak dalam bertutur maupun bersikap, menyayangi menantu layaknya anak sendiri, tidak menuntut terlalu banyak, tidak mengutamakan harta duniawi, tidak suka bergosip tentang keburukan menantu dan tidak terlalu sering mencari perhatian.

Tentunya seorang ibu bahkan ibu mertua memiliki impian tentang anak dan menantu idamannya. Sebaliknya, tentu tidak ada salahnya jika seorang anakpun memiliki impian tersendiri mengenai ibu dan ibu mertua idaman. Itu menurutku. Si pemberotak sejati.

Ada kemungkinan seorang ibu tidak pernah menanyakan bahkan mencari tahu bagaimana sosok ibu yang menjadi impian anak dan menantu. Ada kemungkinan seluruh hidupnya hanya digunakan untuk membentuk anak dan menantu agar sesuai dengan impian dan keinginannya. Lagi-lagi menurut pemikiranku.

Ketika aku sudah menjadi seorang ibu dari kedua anakku, akupun belum pernah mencari tahu bagaimana sosok ibu yang anak-anakku impikan. Padahal setiap hari aku bergaul dan bersenda gurau dengan mereka. Ada kemungkinan aku terlalu menfokuskan pada kepentingan diri sendiri. Hidup di dalam kotak yang berisi obsesi untuk menjadi istri dan ibu yang baik.

Pernah suatu waktu aku bertanya pada anakku, “nak, ibu idamanmu seperti apa sih?”

“Nggak ada, ma. Yang penting baik”.

Ternyata begitu sederhana jawabannya. Dia akan menerima seperti apapun ibunya yang penting baik sama dia. Yah, itu yang anakku impikan tentang seorang ibu. Bukan seorang ibu yang pandai berbisnis, ibu yang pandai memasak, ibu yang cantik sekaligus wanita karir ataupun ibu yang brilian, ‘super mom’, bla…bla…bla.

Mungkin tidak semua anak memiliki pemikiran yang sama seperti diatas. Pemikiran tergantung keadaan dimana dia dibesarkan dan apa yang menyenangkan bahkan menyakiti hati, juga tergantung usia anak. Semakin dewasa seorang anak, semakin berpengalaman dalam hidup, pemikiran mengenai ibu idamanpun akan semakin berkembang. Perkembangan pemikiran akan banyak berubah terutama bagi anak yang banyak mengalami luka batin dan tidak merasa puas ketika dalam perawatan ibunya.

Pemikiran anakku terhadap aku sebagai ibunya jauh berbeda dengan pemikiranku terhadap ibu dan ibu mertuaku. Begitu banyak persyaratan yang aku berikan agar mereka bisa berkenan bagiku. Begitu banyak hal yang harus mereka lakukan untukku. Aku terhenyak. Aku tersadar. Tuntutan itu terlalu berlebihan dan tidak mungkin mereka lakukan. Anak dan menantu seperti apa aku ini? Ow…ow…ow…!

“Ah, ada kemungkinan mereka kurang mampu mengungkapkan rasa cinta dan perhatian yang bisa dipahami seorang anak”, lagi-lagi aku berpikir negatif. Namanya juga ego lagi dominan.

Selang beberapa waktu, kembali aku ingat jawaban anakku. Jawaban itu menyadarkanku akan perkiraanku yang keliru tentang bagaimana menjadi ibu yang baik. Jika begitu, sangat tidak adil jika aku berniat membentuk orang tua sesuai keinginanku, bukan keinginannya. Dan mungkin aku terlalu berlebihan dan kaku dalam menilai. Sebab baik menurutku belum tentu baik menurut para orang tuaku.

Isengku kambuh lagi. Kali ini kepada anak-anakku sambil mencari tahu. Ibu yang baik menurut versi anakku itu seperti apa sih? Untuk mengetahui ini semua tentunya harus melalui pengamatan dan pergaulan sehari-hari dengan anak-anak. Lah,……bagaimana bisa tahu jika sehari-hari tidak bergaul dengan mereka?

Aku ingat sesuatu. Ketika anakku sedang asyik bermain game, aku mengingatkannya agar tidak lupa belajar. Reaksinya hanya bersuara, “hmm…. bentar, Ma.”

Oh rupanya pada saat itu menurutnya aku ini ‘si pengganggu’ yang mengusik keasyikannya bermain. Dan rupanya teguranku kurang tepat waktu. Mungkin dalam pikirannya aku bukanlah ibu yang dia idamkan. Aku hanya ‘si cerewet Jaka Sembung’ yang tidak perlu didengarkan. Jadi aku harus mencari cara agar teguranku ditanggapi dengan baik.

Suatu saat aku melihat anakku ingin sekali minum air es padahal tenggorokannya sangat sensitif. Tentu saja ketika aku melihatnya aku melarang, “ehh….jangan minum air es. Nanti radang tenggorokan.”

“Lah mama curang. Setiap hari aku lihat mama juga minum air es. Kenapa aku nggak boleh?”

Begitu banyak hal yang bisa dipelajari dari percakapan dan sikap sehari-hari seorang anak bahkan orang tua. Begitu banyak ucapan polos seorang anak yang seringkali secara tidak langsung menegur kita sebagai orang tua. Kembali aku ditegur bahwa jika posisiku sebagai orang tua, agar saranku bisa mereka terima dengan baik, aku terlebih dahulu harus memberi contoh yang baik dihadapan mereka.

Dan jika posisiku sebagai anak dan menantu, agar aku bisa diterima dengan baik, pertama-tama harus memiliki pemikiran positif tentang mereka kemudian merubah sikap diri kearah yang lebih baik dari sebelumnya. Sikap seperti apa ya? Yaitu merubah sikap negatif yang masih ada dalam diri menjadi positif dan selanjutnya raihlah dunia !

Posted in Giacinta Hanna

KELANA 2009-11-22 21:37:00

No Comments »

November 22nd, 2009 Posted 9:37 pm

Aku Goyah, Aku Menjerit
Oleh : Giacinta Hanna


Terlalu banyak sudah beban yang harus kutanggung.
Terlalu banyak penyesuaian yang harus aku lakukan.
Terlalu banyak keinginan yang harus kupenuhi.
Dayaku semakin lama semakin mengendur.
Kemampuanku semakin lama semakin menurun.
Aku tak mampu lagi memenuhi semua ambisimu.
Ragaku tak kuat menopang hasil rekayasamu terhadap tubuhku.
Aku sudah berubah terlalu banyak.
Diriku bukanlah aku.
Aku berubah menjadi seonggok ‘bom’ yang siap meledak.
Menjadi gunung aktif yang siap menumpahkan lahar panas.
Kebotakkan semakin membuatku tidak menarik.
Bahkan lalatpun tak sudi meskipun hanya sekedar singgah.
Aku menjadi panas dan semakin panas.
Tak ada yang melindungiku.
Aku goyah, aku menjerit.

Dari sahabatmu,
Bumi.

Bekasi, 21 November 2009
Tulisan ini disumbangkan untuk GPMA (Gerakan Penghijauan Mata Air)



Posted in Giacinta Hanna

KELANA 2009-11-20 11:26:00

No Comments »

November 20th, 2009 Posted 11:26 am

Hati yang Gembira

Oleh : Giacinta Hanna

Hati yang gembira adalah obat terutama ketika merasa kesepian, terasing dan tertekan. Namun perasaan ini akan terasa lebih berat dan sangat menyiksa jika kita patah semangat. Bagaimana membuat hati kita senantiasa bergembira?

Kerjakan semua pekerjaan dengan cinta dan kesukaan penuh. Dengan mencintai keluarga, pekerjaan, teman-teman dan hidup, semua tugas akan terasa mudah dan ringan. Hasilnyapun akan maksimal. Cobalah mencintai hidup dan sekitar, apapun itu, bagaimanapun itu.

Terkadang kita butuh penyegaraan, akan tetapi pilihlah yang baik terutama untuk mempererat hubungan seperti jalan bersama, piknik bersama, menonton film komedi, dan jika sudah berkeluarga tidak ada salahnya melakukan hubungan sex dengan gaya yang berbeda dari biasanya bersama pasangan. Perasaan akan kembali ringan bagaikan terbang di awan, melayang dan melambung tinggi. Wow !

Hati yang Gembira

Hati yang gembira adalah obat
Seperti obat hati yang senang
Tapi semangat yang patah
Keringkan tulang
Hati yang gembira, Tuhan senang



Posted in Giacinta Hanna

KELANA 2009-11-12 10:58:00

No Comments »

November 12th, 2009 Posted 10:58 am

Ikatan Batin Ibu dan Anak

Oleh : Giacinta Hanna

Masih dicarinya puting-puting itu meskipun tubuh mereka hampir menyamai tubuh sang ibu. Air susupun sudah tidak diproduksinya lagi. Namun, ada suatu rasa kehilangan jika tidak mengisapnya barang sehari saja. Padahal perut mereka baru saja diisi potongan-potongan hati ayam mentah. Desert harus selalu ada untuk menyempurnakan menu makan yaitu berupa puting-puting susu sang ibu.

Dengan perut penuh rasanya mata tidak bisa berkompromi untuk tetap terjaga. Agar dapat tidur nyenyak dan nyaman, mereka mendekati sang ibu dan mulai menghisap puting-puting itu perlahan-lahan. Rupanya air susu tidak juga keluar sehingga jemari mereka ikut menekannya untuk beberapa waktu. Tentunya mereka tahu air susu tidak akan pernah muncul lagi namun gerakan refleks menekan masih digunakannya.


Gigi geligi dan cakar yang sudah tumbuh juga tajam tidak ditolak oleh sang ibu. Dengan suka rela diberikannya putting-putting itu demi memuaskan kebutuhan sang anak. Akhirnya mereka tertidur lelap dengan mulut masih menempel di tubuh sang ibu. Sang ibu tak kuasa bergerak, khawatir anak-anaknya terbangun dari tidur lelap. Tentunya pegal sangat terasa di tubuh namun demi anak-anak, dia rela menjadi patung untuk beberapa waktu, sampai mereka mencabut isapannya.


Sikap sang ibu yang begitu sabar dan mencintai anak-anaknya nampak jelas. Dirinya selalu menjaga hati sang anak dari luka dan derita agar mereka bisa tumbuh sehat, lincah dan bahagia. Tanpa rasa letih ataupun lelah, dijagainya mereka sepanjang hari. Dilaluinya bersama ketika mereka lapar, bermain, ketika ada rintangan atapun sekedar keinginan untuk saling membelai.

Ada ikatan batin antara ibu dan anak yang tidak dapat dipisahkan pleh apapun. Ada suatu kebutuhan yang harus dipenuhi untuk memberikan rasa bahagia. Kebutuhan untuk dicintai dan mencintai, diperhatikan dan memperhatikan, dilindungi dan melindungi. Kebutuhan yang tidak dapat digantikan oleh apapun atau siapapun karena mereka berasal dari darah yang sama.


Dari lubuk hati ibu dan anak yang terdalam akan mempunyai kebutuhan yang sama. Meskipun seringkali terjadi pertengkaran, sikap memberontak, silang pendapat bahkan tidak pernah mengenal satu sama lain secara dekat, namun ikatan batin itu akan selalu ada. Kebutuhan untuk saling mengisi akan selalu meminta untuk dipenuhi, hanya dari darah yang sama.

Posted in Giacinta Hanna

KELANA 2009-10-22 11:27:00

No Comments »

October 22nd, 2009 Posted 11:27 am

Berbohong Lagikah Kamu?

Oleh : Giacinta Hanna

Malam itu, aku dikejar-kejar seseorang yang sangat aku benci. Aku panik dan berlari kencang dilorong yang tidak pernah aku kunjungi sebelumnya. Nafasku tersengal-sengal dan keringat mulai membasahi wajah serta pakaian malamku. Kudengar orang itu membawa besi yang dipukul kencang. Suara yang nyaring mengganggu genderang telinga.

“Treng…..treng………….treng….!”

Dalam kesendirian malam aku kehilangan arah. Ku tak tahu jalan mana yang harus dipilih namun aku lalui saja agar tidak terkejar. Lari dan berlari terus sampai terdengar suara berteriak,

“Permisi, Bu ! Permisi……..!”

Ketukan bernada ‘cepat buka!” di pintu pagar membuat aku terjaga. Kuterbangun dari mimpi buruk ketika mendengar teriakan dan bunyi besi yang persis sama seperti dalam mimpiku.

“Oh, itu bunyi besi pagar yang beradu cepat dengan gembok. Kenapa suara bising itu bisa sampai terbawa dalam mimpi?” pikirku selanjutnya sambil menyeka keringat di dahi.

Aku tidak langsung membukakan pintu. Aku intip dari balik tirai jendela untuk mengetahui siapa orang yang datang malam-malam seperti ini, tanpa tata karma dan sangat tidak sabaran pula.

“Astaga, dia yang datang!” gumamku sangat terkejut. “Dia baru saja mengejar-ngejarku dalam mimpi tadi. Pertanda apa ini?” Gumamku lagi.
Namun dengan keberanian yang mulai menghampiriku kembali, aku membukakan pintu untuk dia dan menyapa dengan berpura-pura ramah,

“Eh, bapak Agus. Apa kabar, Pak? Ayo masuk,” ujarku sambil tersenyum penuh percaya diri.

“Baik, Bu. Saya dari rumah teman yang dekat dengan rumah Ibu, jadi saya sekalian mampir kesini,” ujarnya cepat sambil tersenyum-senyum dan duduk di ruang tamu.

Aku meminta menunggu ketika suamiku aku panggil untuk ikut menemani. Setelah berbasa-basi yang cukup panjang dan membosankan, dia menjelaskan maksud kedatangannya,

“Begini Pak, Bu. Anak saya sakit di kampung sedangkan saya baru keluar dari pekerjaan saya karena ada penyusutan karyawan, ketika toko roti di tempat saya bekerja terbakar akibat gas yang meledak. Saya mau pinjam uang sama Bapak, Ibu. Ini pinjam loh, Bu bukannya saya mau minta. Nanti awal bulan setelah saya mendapatkan gaji terakhir, akan dikembalikan. Pasti saya kembalikan.”

Pak Agus adalah mantan karyawan kami yang dipecat 10 bulan yang lalu. Kehidupannya jauh dari cukup. Dengan menyewa kamar berukuran 2,5 x 2,5 m2 yang tidak layak huni karena berdinding kayu bekas dan beralaskan tanah, dia tinggal bersama istri dan ketiga anak yang berusia satu, tiga dan lima tahun.

Istrinya yang sedang hamil empat bulan, bekerja sebagai kuli cuci-seterika di tiga tempat, di sekitar rumah mereka. Selama kedua orang tuanya bekerja, anak sulungnya yang menjaga si kecil. Mengganti popok, memberi susu, menggendong ketika rewel atau sekedar menemani bermain. Kegiatan rutin ini berakhir ketika sang ibu pulang dengan tubuh letih pada pukul 18.00 sore, sambil membawa makanan sisa yang diberikan para majikannya.

Bantuan sudah sering kami berikan secara cuma-cuma terutama susu untuk ibu hamil dan susu untuk bayinya yang mempunyai cacat yaitu kepala yang membesar. Terkadang kami juga memberikan obat-obatan yang diperlukan.

Ketika akhir tahun, kami berinisiatif untuk menyisihkan sebagian dari bonus tahunan untuk membantu keluarga Pak Agus. Kami kunjungi kediaman mereka untuk memberikan bantuan sembako, beberapa pakaian dan mainan bekas layak pakai. Mesikipun tidak begitu banyak, namun cukuplah untuk menambah persediaan mereka beberapa hari.

Sangat disayangkan selama Pak Agus bekerja, banyak tingkah laku yang membuat kami depresi. Sering tidak masuk kerja tanpa pemberitahuan, kas-bon setiap minggu, membawa pulang stok makanan tapa diketahui, marah terhadap karyawan yang lain juga terhadap kami, tidak mau menerima teguran kami karena kesalahan ketika masak untuk pelanggan, sering berbohong mengenai istri, anak atau paman yang sakit agar bisa meminjam uang.

Kami tidak langsung memecatnya, mengingat begitu banyak nyawa di rumahnya yang membutuhkan biaya untuk menyambung hidup. Terjadi konflik dalam batin ini antara tidak tahan dengan tingkah lakunya, menjaga kualitas serta keberlangsungan café dan mulut-mulut kecil yang membutuhkan makan. Prioritas apa yang harus kami pilih? Semua dalam kebuntuan.

Dalam kepasrahan selalu ada jalan keluar. Saat itu dia tidak masuk kerja dengan alasan mengantar anaknya ke rumah sakit, namun setelah kami cek ke rumahnya, seluruh keluarga ada. Ketika istrinya kami ajak bicara, dia memberikan informasi bahwa anaknya tidak pernah dibawa ke rumah sakit. Pak Agus tidak masuk kerja karena sengaja ingin menguji saya apakah mampu bekerja sendiri tanpa kehadirannya, disaat café sedang ramai pengunjung. Dan setiap akhir bulan, gaji Pak Agus sebagian dia ambil untuk kepentingan pribadi. Memancing bersama teman-temannya.

Kami sudah merasa bahwa dia sering berbohong perihal ijin tidak masuk kerja yang seringkali dia perbuat, namun kami ingin membuktikan sendiri agar dia tidak dapat berkilah lagi. Dan malam itu terbukti dia berbohong untuk kesekian kalinya ditambah caranya ingin menguji saya adalah sangat keterlaluan. Kami dengan berat hati memintanya berhenti kerja di café untuk jangka waktu tak terbatas.

Dan malam ini, tanpa rasa bersalah ataupun malu dia kembali menemui dan memaksa kami agar memberikan pinjaman uang. Apa yang ada didalam benaknya? Kami tidak mempu membacanya namun kami belum lupa tabiatnya yang buruk itu. Berbohong. Dalam kurun waktu 10 bulan, apakah tabiatnya bisa berubah? Kami menyangsikannya. Konflik dalam batin ini kembali muncul. Apa yang harus kami lakukan padanya untuk kali ini? Membantunya atau menolaknya? Berbohong lagikah kamu?

Jika kami berikan pinjaman, suatu saat dia akan kembali dengan karangan baru yang lebih heboh agar tujuannya tercapai, begitu seterusnya tanpa ada penyelesaian. Dan dia akan tetap berbohong kepada orang-orang yang merasa iba, akan memanfaatkan kebaikan orang untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Jika kami menolaknya, bagaimana jika kali ini memang benar anaknya sedang sangat membutuhkan bantuan? Akan sangat berdosa sekali jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Kami terdiam dalam galau sambil menarik nafas panjang untuk memberikan sedikit ruang kosong dalam dada yang sesak oleh permasalahan ini.

Inilah arti mimpiku. Aku dikejar-kejar orang ini. Setelah dia berhentipun, aku masih dicarinya untuk dipinjami uang. Apakah aku terlalu lemah dan tidak tega terhadap dia sehingga akhirnya dia memanfaatkan aku melalui cerita-cerita sedih tentang anak-anaknya?

Kali ini aku harus tegar. Jika orang ini akan menjadi parasit dalam kehidupanku, aku dengan tegas menolaknya bagaikan menyemprotkan hama pada pohon belimbing yang sedang tumbuh subur agar tidak mengganggu, agar bisa berbuah lebat, besar dan manis.

Akhirnya keberanian itu muncul dan aku berujar,

"Maaf Pak Agus. Saya tidak dapat memberikan pinjaman uang. Saya harap Bapak memakluminya."

Aku harus tega menolak permintaannya untuk sesuatu hal yang lebih penting. Ketenangan hidup. Maafkan aku. Maafkan atas keputusanku ini. Untuk kali ini aku menolak memberimu pinjaman. Kuharap kita tidak pernah bertemu lagi dimasa yang akan datang karena aku belum melupakan perlakuanmu padaku di masa lalu meskipun aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu berhenti kerja.


Aku tidak tahu apakah keputusan yang aku ambil ini benar atau tidak. Namun, ada perasaan lega dalam dada ini ketika aku mampu menolaknya. Sudah bebaskah aku dari kejarannya?

....................Baru kusadari kau seperti parasit

Minta ini itu kau minta padaku dengan semaumu...........

...........Pergi kau ke ujung dunia.............

...........Hilang di segitiga bermuda...............

...................Dan jangan kembali, parasit, parasit, parasit................

Kau memang parasit.


Posted in Giacinta Hanna

KELANA 2009-10-09 11:04:00

No Comments »

October 9th, 2009 Posted 11:04 am

Aku Percaya Engkau

Oleh : Giacinta Hanna

Sudah sering kubasahi pakaian-Mu dengan air mata kepedihanku, namun ini semua belum usai. Aku masih butuh bahu bidang-Mu untuk kujadikan tempat berlindung. Pinjami aku sekali lagi. Ijinkanlah aku 'tuk merebahkan kepala barang sejenak. Kehangatan dan kelembutan-Mu memberikan kekuatan 'tuk bertahan dalam salibku.

Ku tahu, Engkau pasti memberikannya karena Kau mencintaiku sungguh. Ku tahu, Engkaupun terluka melihatku seperti ini. Cobaan ini bukan salah-Mu. Aku percaya itu. Tidak mungkin Engkau membuatku bersedih. Engkau selalu menjaga hatiku agar senantiasa bahagia. Aku percaya itu.

Seberat apapun ujian yang menimpaku, tak akan pernah ku berpaling dari-Mu. Semustahil apapun ujian yang kualami, tak akan pernah sedetikpun aku melupakan-Mu. Hanya engkau pengharapanku, tumpuan hidupku. Cinta pertamaku hanya untuk-Mu, tiada yang lain dan akan tetap seperti ini selamanya.

Kutahu keajaiban akan datang dalam kepasrahan. Ku menyerahkan diriku kepada-Mu. Pakailah aku sesuai kehendak-Mu karena aku percaya pada-Mu. Sungguh.

Kasih Setia-Mu Yang Kurasakan - Ir. Niko

Kasih Setia-Mu Yang Kurasakan
Lebih Tinggi Dari Langit Biru
Kebaikan-Mu Yang T'lah Kau Nyatakan
Lebih Dalam Dari Lautan

Berkat-Mu Yang Telah Kuterima
Sempat Membuatku Terpesona
Apa Yang Tak Pernah Kupikirkan
Itu Yang Kau Sediakan Bagiku

Reff:

Siapakah Aku Ini Tuhan
Jadi Biji Mata-Mu
Dengan Apakah Kubalas Tuhan
S’lain Puji Dan Sembah Kau

Posted in Giacinta Hanna

KELANA 2009-10-02 08:44:00

No Comments »

October 2nd, 2009 Posted 8:44 am

He is not Him Sometimes

By : Giacinta Hanna

He is not him sometimes. He is to be another person who didn't know me also people around him. His act when changed made us scared. It was full off anger and hate. He forgot about people who always protect him when he got a trouble. All because he is easy influence of people said about him and his family, expecially about me.

Yes. He love his family very much, expecially his mother and his old sister. He believe what they said whatever it is. And if he has a problem, he always share all to them. The result is they go to a 'clever man' who can tell everythings with his mind. "Magic knowledge??"

He don't realize that someone who his believe has told lie about person who has been living beside him for 12nd years old. They has told lie about me. And his acted has changed to be his old sister who hate me very much. Shouted to me, hit me, angry to me.

I know his act came not from himself but some one has influence him. It was horrible for me and for my sons. We don't believe it. How can he able to do that to us who his love very much and important in his life? He is not him sometimes. What to do? What i must do?

Mungkin - Potret

Mungkin aku bisa bercinta dengan kamu
Kendati kata kata mu selalu
Menusuk jantung melukai ku

Mungkin ku mau memaafkan mu kembali
Demi cinta yang ada di hatiku
Meloloskan mu dari kata pisah

Mungkin sang fajar dan sayap burung burung patah
Menyaksikan kita berseteru
Slalu tak pernah damai

Mungkin cintaku terlalu kuat dan menutupi
Jiwa yang dendam akan kerasmu
Sehingga kita bersama mungkin

October 2, 2009

Posted in Giacinta Hanna

KELANA 2009-08-24 09:39:00

No Comments »

August 24th, 2009 Posted 9:39 am

Arti Kelahiran

Oleh : Giacinta Hanna


Ketika baru tiba di rumah sehabis menjemput dua pengawal terkasih, aku menemukan kucingku mengeong-ngeong dengan sikap tidak seperti biasanya.
“Ada apa?” tanyaku

“Ngeong, ngeong….” Ujarnya dengan tubuh bergerak kesana-kesini.

Kami semua bingung. Ada apa ini? Hanya itu yang bisa dia perbuat.

Tiba-tiba terdengar suara yang lain. Berfrekwensi tinggi, bertempo cepat mirip seperti suara tikus kejepit.

“Eh, suara darimana itu?”

Kami mencari-cari sumber suara itu dan akhirnya ditemukan juga. Suara itu berasal dari bawah tanaman rambat Sirih Belanda. Bergegas kami mendekat. Ketika kami tengok ternyata ada dua mahluk kecil, masih memiliki plasenta, bergerak-gerak seperti mencari sesuatu.

“Oh, si Penjelajah beranak!” teriak kami serentak.

“Pantas dia mengeong-ngeong panik begitu. Rupanya ada yang ingin dia bertahukan kepada kita”, ujarku sambil menengok kepada kedua pengawalku.


Sangat tidak layak tempat mereka dilahirkan. Hanya beralaskan tanah dan beratapkan tanaman rambat. Kedua tubuh mungilnya masih basah oleh darah sehingga jika bergerak, tanah-tanah menempel pada tubuh dan juga plasentanya. Kasihan sekali melihat mereka.

Akhirnya aku punya ide untuk memindahkannya ke tempat yang lebih layak dan nyaman. Kuambil keranjang pakaian yang pinggirnya berlubang-lubang. Kualasi dengan keset kain beberapa lapis.

Aku ingin mengangkat mereka namun ada rasa jijik menyelimuti karena plasenta itu terbawa kemanapun mereka pergi.

“Bagaimana ini?” gumamku bingung.

Tiba-tiba pengawalku berujar, “Ma, biar aku yang angkat.”

“Weihh, berani ya?!” ujarku.


Dia mengambil kain pel bekas kaus dalam papanya, kemudian mengangkat mereka satu persatu kedalam keranjang pakaian yang telah aku sediakan.

“Wah, hebat! Kamu mau tolong mama, ya,” ujarku memujinya.

Pengawalku tersenyum tersipu-sipu namun terlihat bahagia karena telah berhasil menolong dua mahluk mungil itu dan membuat mamanya terkagum-kagum.

Kemudian aku taruh keranjang itu di tempat terbuka, di belakang rumah. Si Penjelajah terkejut melihat kedua anaknya telah berada didalamnya. Akan tetapi dia cepat tanggap. Dia masuk kedalamnya dan mendekati kedua buah hatinya yang sedang berbunyi dan mencari-cari sesuatu. Akhirnya mereka mendapat yang dicari, puting-puting susu ibunya.

Kami bertiga mengamati tingkah laku mereka. Si Penjelah meskipun baru pernah melahirkan namun mampu mengatasi keadaan yang ada. Diantara kebingungan akan hadirnya dua mahluk baru, dia menerima mereka dengan lapang dada.

Naluri seorang ibu yang ingin melindungi anak-anaknya dan memberikan kasih sayang begitu nyata terlihat. Sambil memberikan makanan pertama, dijilat-jilat tubuh keduanya perlahan namun terus-menerus. Dibersihkannya tubuh kotor mereka dari tanah-tanah yang menempel. Dimakannya kembali plasenta-plasenta itu. Dan akhirnya mereka terlihat sangat bersih dan lucu.

Sepanjang malam, si Penjelah tidak pernah beranjak meninggalkan anak-anaknya. Disusuinya sampai mereka kenyang dan tertidur. Selama mereka tidur, dia terus membersihkan keduanya sekaligus membelainya dengan lidah, tanda dia menyayangi kedua anaknya. Keduanya merasa nyaman dan tenang berada dalam pelukan ibunya.

Dari pengamatan hari itu, aku berpikir lebih lanjut. Seekor binatang yang jauh dari sempurna dibandingkan dengan manusia, mampu menyayangi dan melindungi anak-anaknya dengan sepenuh hati. Meskipun keduanya hadir tanpa perencanaan, namun diterima dan dirawatnya dengan penuh kasih sayang.

Sebaliknya dengan manusia. Kesimpulan apa yang kita dapat dengan tingkah laku mereka akhir-akhir ini? Kita melihat begitu banyak bayi yang baru lahir dan tidak dikehendaki kedua orang tuanya, dibuang begitu saja di tempat sampah, di sawah ataupun ditempat-tempat lain yang tidak mudah terlihat, Kabarnya seringkali hasil hubungan gelap. Dan begitu banyak aborsi yang dilakukan karena berbagai macam alasan. Bagaimana mereka mempertanggung-jawabkan tingkah laku mereka dihadapan sesama terlebih dihadapanNya?

Posted in Giacinta Hanna

KELANA 2009-08-20 15:48:00

No Comments »

August 20th, 2009 Posted 3:48 pm

Dicari 'Neng Geulis'
Oleh : Giacinta Hanna

Neng Geulis, pujaan engkang
Neng Geulis, engkang hoyong tepang
Upami teu aya pamengan
Langkung sae urang tunangan
Itu saha, anu make acuk beureum
Itu saha, anu make acuk hejo
pipi koneng
irung mancung
putri Bandung

Ketika aku berbicara dengan seorang teman yang tinggal di kota kembang, tiba-tiba aku teringat lagu Neng Geulis. Sebuah lagu yang menceritakan tentang seorang pemuda yang sedang merayu dan meminang gadis Sunda.

Temanku ini baru datang dari Dubai dan menceritakan bahwa mencari pasangan disana sulit karena postur neng geulisnya besar-besar dan tinggi melebihi dia. Anehnya yang dicari 'neng' yang ada di Jawa Barat. Apa ya kelebihannya?Hm,...jadi penasaran. Setelah aku selidiki, ternyata karena rumahnya di Bandung, jadi agar dapat berbicara bahasa Sunda.

Suatu waktu tanpa sengaja aku ngobrol dengan salah satu teman yang lain. Dia kalau pacaran tidak pernah mencapai waktu satu tahun. Dan pacar yang terakhir ini dipilih karena ingin mencari hal-hal yang berbeda yang tidak ditemukan dari pacar-pacar terdahulu. Ceweknya yang sekarang ini berusia 4 tahun lebih tua, merokok, sedikit 'badung' dan hidup 'nyantai'. Tapi katanya dia lebih merasa enjoy dengan yang terakhir ini.

Teman yang lain lagi gemar berpetualang dengan ibu muda dan usia lebih tua darinya, dengan alasan tidak perlu bertanggung jawab, lebih bisa menikmati, dan memiliki banyak uang. Namun ketika dia benar-benar jatuh hati kapada teman kantornya, cintanya bertepuk sebelah tangan karena temannya itu akan bertunangan dengan yang lain. Akhirnya dia mempunyai syarat dalam mencari pasangan hidup. Syaratnya adalah pasangan harus 'virgin' dan dia berjanji ketika telah mendapatkannya, akan bertobat dan akan menyerahkan seluruh hidup hanya untuk pasangannya.

Terdapat berbagai macam alasan dalam perjalanan mencari pasangan hidup. Terdapat berbagai macam jalur untuk menemukannya. Semua alasan itu sah-sah saja karena setiap manusia berhak menentukan pilihan yang bisa membahagiakan hidupnya. Namun ada suatu kekuatan yang ikut berperan sampai kita berhasil menuju ke jenjang perkawinan.

Amatilah dialog dibawah ini dan hubungkanlah dengan cerita diatas.

“ Mengapa minyak dan air tidak bisa bersatu?”
“Karena mereka berbeda,” ujarku
“Namun, mengapa mereka bisa bersama dalam satu wajan?”
“Karena koki memasukkan mereka bersamaan. Jadi mau tidak mau bersatu juga”

Begitu pula ketika telah mendapatkan pasangan hidup. Terkadang kita bertanya dalam hati. Mengapa pasanganku tidak sesuai dengan impian dan keinginanku, bahkan sangat bertolak belakang?

Seringkali sifat kita sangat berbeda dengan pasangan. Dua sifat yang berbeda kenapa dapat dipersatukan? Apakah untuk saling melengkapi agar menjadi suatu keluarga yang baru? Tentunya ada suatu kekuatan yang merencanakan ini semua. Siapa koki yang mempertemukannya? Dia yang peduli akan masa depan kita.

Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi pada diri. Kita juga tidak akan pernah tahu bagaimana jadinya diri kita di masa yang akan datang. Kita juga tidak pernah menduga siapa yang akan mendampingi kita dalam suatu wajan bernama perkawinan. Namun ada suatu kekuatan yang menginginkan kita hidup sesuai kehendakNya. Karena bukan kehendakku yang jadi, namun kehendakNya.

Berkat kehendakNya maka wajan perkawinan mempersatukan minyak dan air, dua perbedaan menjadikan hal baru yang lebih bermakna. Oleh sebab itu sudah menjadi kehendakNya jika kita dipersatukan dengan pasangan meskipun sangat berbeda sifat dan perilakunya. Semuanya ini untuk hidup yang lebih baik, saling melengkapi dan untuk memuliakan namaNya.

Posted in Giacinta Hanna

KELANA 2009-08-17 12:03:00

No Comments »

August 17th, 2009 Posted 12:03 pm

Anak Ready Stok

Oleh : Giacinta Hanna

“Ma, aku tidak lulus ekstra kulikuler Robotik. Tesnya susah,Ma. Programming,” ujar anakku sedikit kecewa menceritakan hasil tesnya.

“Lho, kog tes programming? SMP kan belum diajarin? Apa harus ikut les dulu dan setelah mahir baru diterima di ekstra kulikuler Robotik?” ujar papanya terheran-heran.

“Katanya yang diterima khusus untuk lomba,” ujar anakku pasrah.

Apalah artinya sebuah piala jika itu hasil dari les di luar sekolah namun dipakai untuk membesarkan nama sekolah? Kemanakah engkau para pendidik murni yang ingin mencerdaskan anak-anakmu? Apakah hanya piala kebanggaan yang kau kejar? Relakah engkau mendidik mereka dari nol sampai mereka benar-benar mahir?

Ekstra kulikuler di sekolah berguna agar anak-anak didik lebih trampil dalam praktek dan juga untuk melatih kreativitas, motivasi dalam diri. Jika hanya segelintir anak dianggap berbakat padahal diterima karena sudah les diluar, bagaimana dengan anak-anak yang lain? Apakah tidak diberi kesempatan yang sama? Apakah termasuk anak-anak yang tidak berbakat? Terus, kemana mereka dapat menyalurkan kreatifitasnya? Ataukah akan selalu dicap sebagai “si bodoh tak punya bakat”?

Sangat praktis rasanya menunjuk anak-anak ‘ready stok’ untuk kepentingan lomba di sekolah. Dan seringkali yang dipilih adalah anak-anak yang sama dari tahun ke tahun. Ini hanya untuk mengejar piala, suatu alat yang dipakai sebagai tanda prestasi. Dan anak-anak yang lain hanya menjadi penonton yang pasif.

Dalam perayaan kemerdekaan kali ini, ada baiknya kita merenung sejenak. Sudahkah kita peduli terhadap generasi bangsa ini? Sudahkah kita mencoba untuk mencari dan menemukan bakat anak-anak kita ? Sudahkah kita mencetak anak ‘ready stok’ dengan hasil keringat sendiri bukan untuk kepentingan pamer tetapi semata-mata untuk masa depan mereka?

Bagi para pendidik, sudahkah engkau besikap adil kepada anak-anak didikmu? Sudahkah bersikap lebih bijak kepada mereka? Mereka mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan kepercayaan.

Mulailah dari sekarang.

Mereka membutuhkan bimbingan kita. Mereka ingin dihargai sebagai pribadi yang berguna. Berilah kepercayaan diri bahwa mereka pasti mampu berkreasi dalam bidang masing-masing. Sediakanlah penyaluran bakat mereka dalam karya nyata.

Adalah suatu hal yang sangat baik jika terjalin kerjasama antara orang tua dan para pendidik di sekolah demi menghasilkan generasi penerus yang tangguh dan mempunyai kepercayaan diri yang kuat untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik lagi. Akankah itu dapat terlaksana? Pasti bisa. Jika ada kemauan, saya yakin pasti bisa.

Dirgahayu Indonesiaku ! Majulah generasi penerus. Masa depan bangsa ini ada ditanganmu.


Posted in Giacinta Hanna

←Older