Tulisan Oleh Grace Ekanegara

Putraku milik-Mu

No Comments »

June 10th, 2010 Posted 9:53 am

(Grace Ekanegara)

Hari ini seseorang telah mendandani aku, memakaikan pakaian bagus, menyisiri rambutku dan memakaikan sedikit parfum kesukaanku. Lalu seperti biasanya aku dituntunnya untuk duduk dikursi kesayanganku. Dihadapan meja tulis yang menghadap ke jendela. Memang biasanya aku suka duduk berlama-lama di kursi itu. Dari sini aku juga dapat melihat pohon rambutan yang tumbuh di halaman rumahku, rumput-rumput dan bunga-bunga yang tiap sore disirami oleh pak kebon bahkan cucu-cucuku yang berlarian kian kemari.

Dengan tangan yang sudah gemetar aku meraba permukaan meja tulis. Permukaannya yang halus mengalirkan getaran-getaran kenangan. Berapa banyak surat sudah kutulis untuk putra putriku, terutama untuk putra bungsuku? Rasanya sudah lama dia pergi dan aku tidak mendengar kabar darinya. Kapan terakhir kali aku menulis surat untuknya? Akh aku sudah banyak lupa.

(more...)

Posted in Grace Ekanegara

Intermezo Siang Hari

No Comments »

February 18th, 2010 Posted 11:59 am

Intermezo siang hari . . . . Aku melangkahkan kaki ke dalam sebuah café tempat aku dan teman-temanku biasa berkumpul. Harum aroma kopi menyambutku. “Sendirian?” Tanya pemilik café yang merangkap menjadi juru masak. “Iya, lagi iseng di rumah”. Jawabku. Segera aku menuju tempat duduk favoritku. Sofa dipojok berbataskan jendela kaca sehingga dapat melihat keluar ruangan. Tidak lama pelayan yang juga sudah mengenalku, mengantarkan segelas besar es kapucino dan sepiring pisang goreng panas. Ditanganku ada buku yang belum habis kubaca. Memang tujuanku ke café ini adalah untuk membaca buku sambil tentunya menyeruput kopi serta makan pisang goreng. Aku suka tempat ini. Suasana yang nyaman, suara musik jazz yang lamat-lamat terdengar, aroma harum kopi diseluruh ruangan serta pelayan yang ramah dan kekeluargaan membuat aku betah bertamu ketempat ini. Aku menyeruput es kapucino dan mengambil sepotong pisang goreng dan segera tengelam dalam buku yang sedang kubaca. Keheningan yang ada tiba-tiba dipecahkan oleh suara riuh beberapa orang wanita yang baru tiba dan mengambil tempat duduk tidak jauh dari tempatku duduk. Suaranya keras betul, kataku dalam hati. Kuteruskan membaca buku Dan Brown – The Lost Symbol - yang memang lagi seru-serunya, ketika profesor Robert sedang diburu oleh agen CIA. Aku kembali tenggelam dalam keasikanku sendiri. Namun suara-suara para wanita yang baru datang itu membuyarkan konsentrasiku. “Wah sekarang pake BB -Black Berry- ya?” “Iya, sengaja aku minta suamiku untuk beliin” “Biar bisa BBM -Black Berry Messengers- terus-terusan sama yayang ya . “. “Koq tau?, emang bener sih, pacar lamaku belum lama menghubungi aku lagi. Gara-garanya sih karena ikutan FB-an -Face Book- teman-teman lama. Dia jadi suka kirim pesan di hp-ku. Nah kan kalau pakai BB jadi lebih murah ‘’. Celoteh wanita yang berbaju biru dengan riang. ‘Eh hati-hati loh nanti ketahuan suami, dianya bisa marah tuh’ ‘Ya jangan sampai ketahuan dong. . . tapi sebetulnya sih ngga ngomongin apa-apa. Cuma kirim kata-kata biasanya aja, misalnya selamat pagi cantik, udah makan belum . .atau kalau siang-siang dia bisa sms . .jangan lupa makan ya cantik nanti sakit loh kalau makan terlambat. Biasa aja kan? ‘Emang sih biasa aja, tapi kenapa perlu sampai segitunya mengharapkan dapat sms dari dia?’ ‘Duh ga tahu ya, rasanya hati girang banget kalau dapat sms dari dia. Terus kalau habis balas sms maunya nungguin sms balasannya. Bisa sebentar-sebentar lihat hp seperti orang bingung.’ “Nih lihat deh, doi lagi ada di Café ngopi sama teman-temannya . . .tuh kan sekarang lagi mau jalan lagi, mau ketemuin pelanggannya . . .dia ngapain aja selalu kasih tau aku ‘ nada suara si banju biru terdengar begitu gembira. Aku tersenyum dari balik buku yang sedang kubaca. Orang yang sedang merasa diperhatikan, disanjung, dibelai hatinya selalu merasa bahagia. Penasaran, agar dapat lebih jelas mengamati mereka, kuturunkan sedikit buku yang sedang kubaca. Ternyata mereka sekelompok ibu-ibu muda yang cantik-cantik. Ada lima orang persisnya. Dari penampilan yang terlihat, aksesoris yang dipakai, merk tas yang dibawa bahkan merk handphone yang diletakkan diatas meja, aku menilai mereka berasal dari keluarga yang cukup berada. Usia mereka kutaksir belum sampai kepala empat. Rasanya belum pantas bila disebut sedang mengalami puber kedua. Pernah kubaca, tapi aku lupa di mana, banyak sekali perselingkuhan terjadi melalui pesan-pesan singkat di handphone. Banyak pula keluarga-keluarga bertengkar dan mengakibatkan perceraian. Misalnya istri yang mengetahui suaminya menerima pesan-pesan singkat mesra dari wanita lain, menjadi marah karena merasa dihianati. Pertengkaran tidak dapat dihindari. Ada pula suami yang secara tidak sengaja menemukan pesan-pesan singkat mesra di handphone istrinya, kemudian bertengkar dan berakibat fatal yaitu hancurnya perkawinan yang telah mereka bina selama ini. Sebagian orang mengatakan selama hanya berupa kata-kata maka tidak akan menjadi masalah. Kan cuma sebatas kata-kata di handphone jadi tidak berbahaya. Masalahnya pernahkah terpikirkan akibat yang akan terjadi dari pesan-pesan singkat itu. Pesan-pesan singkat seperti itu yang kemudian akan mengatur suasana hati dari hari kehari. Misalkan hari ini aku mendapatkan pesan singkat dari si dia maka hariku menjadi secerah matahari pagi. Aku merasa bahagia. Aku melakukan segala hal dengan kegembiraan luar biasa. Bahkan aku akan berlaku luarbiasa sabar. Sebaliknya bila aku tidak menerima pesan tersebut atau pesanku terlambat dibalas maka aku menjadi gelisah. Aku merasa tidak mempunyai gairah untuk melakukan apapun juga. Aku menjadi tidak sabar dan aku terus menerus memperhatikan telepon genggamku. Langit serasa berubah menjadi kelabu. Ada juga yang berpendapat selama masih bisa mengendalikan diri dan tidak melakukan perbuatan lebih lagi maka masih dalam batas wajar. Dengan adanya hal-hal seperti itu dapat membuat hidup menjadi lebih bergairah. Dapat memacu diri untuk lebih semangat lagi dalam menjalani hari-hari yang memang dirasakan mulai jenuh. Kejenuhan yang memang harus dihadapi dalam kehidupan berkeluarga. Persoalan-persoalan yang rasanya tidak mau pergi. Perhatian yang berkurang dan banyak lagi. Setiap orang tentu mempunyai batas pengendalian diri masing-masing, sejauh mana batas berbahaya baginya hanya dirinya sendiri yang tahu. Menurutku lebih baik jangan mulai dengan coba-coba untuk segala hal yang sifatnya mendatangkan kenikmatan sesaat. Sama seperti orang yang pertama kali mencoba menggunakan narkoba, mulanya biasa saja namun lama-lama tanpa terasa diri akan menagih lagi kenikmataan sesaat yang dirasakan. Bisa nagih lagi, lagi dan lagi. Lalu yang terjadi adalah mereka menjadi lupa diri karena tingkat kenikmatan yang terus bertambah dan sulit untuk ditolak. Bukan berarti orang tidak dapat memperbaiki diri dan berubah. Betul sekali. Seperti orang yang kecanduan tadi, bisa saja dia menyesal dan kemudian menjadi baik, tidak menjadi pecandu lagi. Tetapi penyesalan itu tidak sepadan dengan kerusakan hati dan perasaan pada orang-orang yang ada disekelilingnya. Biasanya yang paling terluka adalah orang-orang yang paling dekat di hati, yang paling dicintai. Jadi sesungguhnya yang dapat menjadi rem yang pakem agar manusia itu sadar apa yang boleh atau tidak boleh, baik atau buruk, pantas atau tidak pantas bahkan harus atau tidak harus itu sebenarnya apa ya. Agama? Menurutku tidak juga. Banyak orang yang kelihatan beragama bahkan menjadi pemuka agama kelakuannya nol besar. Tekanan-tekanan sosial dari lingkungan juga tidak membantu. Bisa dibilang, ini urusanku bukan urusanmu. Mungkin kalau manusia sudah berhadapan dengan dirinya sendiri dan mengenal dirinya, ia baru dapat menundukkan ke-aku-annya. Atau ada hal lain yang tak terlihat yang bertindak sebagai pagar batas? Akh aku sudah melamun terlalu jauh. Aku tidak kenal mereka, aku juga tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya dapat mengatakan, manusia bila sedang dalam keadaan kasmaran seperti itu, semua argumentasi apapun menjadi tumpul. Lagi pula biarlah mereka belajar dari kesalahannya sendiri. Bukankah manusia mempunyai kehendak bebas untuk memilih kemana dirinya akan melangkah? Yuk, mending lanjutin baca bukunya. Sampai dimana tadi ya . . . . . . .

Posted in Grace Ekanegara

SAHABAT SEJIWA

1 Comment »

February 12th, 2010 Posted 3:27 pm

(Grace Ekanegara)

Disebuah kursi pesawat udara yang kutumpangi dalam suatu penerbangan panjang, aku membolak balikan tubuhku. Aku mencoba untuk tidur sejenak dan menenangkan pikiranku. Bahkan aku sudah menelan pil Antimo dengan pengharapan agar aku dapat jatuh tertidur selama perjalanan ini. Kegelisahan yang menyergapku ternyata lebih kuat . Ya, aku gelisah mereka-reka seperti apa pertemuan yang akan terjadi nanti. Tentang apa yang akan kukatakan ketika kita bertemu, perasaan-perasaan yang kira-kira akan bergejolak hingga pikiran yang bertanya adakah ia masih seperti dulu. Adakah kami masih mempunyai perasaan-perasaan seperti dulu.

Sesungguhnya adiknyalah yang pertama kali menjadi temanku. Kami menjadi baik dan akhirnya keluargaku dan keluarganya pun saling berkenalan. Aku juga sudah tidak ingat bagaimana mulanya aku menjadi lebih akrab dengan kakak perempuannya ini. Mugkin karena aku tidak mempunyai kakak sehingga bila bersamanya aku merasa disayang atau karena sifat kami sama sehingga omongan kami nyambung bahkan kata-kata seringkali tidak lagi kami perlukan untuk mengutarakan pikiran-pikiran kami. Tapi itu sudah lama sekali.

(more…)



Kado Istimewa . . .

No Comments »

January 29th, 2010 Posted 10:58 pm

KADO ISTIMEWA . . . . Harapanku pada diriku sendiri untuk tahun ini adalah mengikuti misa pagi paling tidak seminggu sekali pada hari biasa. Maksudku bukan hari minggu yang merupakan hari wajib, melainkan satu hari diantara hari senin sampai dengan jumat pagi. Karena misa pagi dimulai pada pukul 6 tepat, persiapan yang perlu sudah kulakukan. Misalnya memasang alarm jam dikamarku pada pukul 5 pagi. Dan karena letak rumah dan gereja yang akan kukunjungi tidak begitu jauh, aku hanya butuh lima belas menit berjalan kaki untuk sampai disana. Jadi pasti tidak terlambat. Sudah sejak senin kemarin aku memasang alarm agar terbangun pada pukul 5 pagi, tetapi yang terjadi adalah aku memang terbangun, mematikan alarm lalu tidur lagi. Tapi hari ini tak tahu mengapa aku terbangun dengan segar bahkan sebelum alarm berbunyi. Jadi tadi pagi sebelum misa dimulai aku sudah duduk manis di gereja. Bukan untuk pertama kalinya aku mengikuti misa pagi sehingga aku tahu betul bahwa hampir tidak pernah ada koor ataupun vokal group yang menyanyi untuk mengiringi misa pagi hari. Pada misa pagi untuk hari minggu saja jarang, apa lagi pada hari-hari biasa seperti ini. Dengan agak heran aku melihat ada beberapa orang penyanyi dari vokal group Grisela, yang cukup terkenal di lingkunganku,.sedang bersiap-siap menyanyikan lagu pembuka. Tepat pukul 6.00 pagi, setelah doa Malaikat Tuhan, mengalunlah suara bening ketiga orang anggota kelompok vokal group Grisela. Dan dengan diiringi alunan organ mereka menyanyikan lagu pembuka: Kedepan altar aku melangkah Seraya bermadah gembira ria Hari yang bahagia, Hari yang mulia, Hari yang penuh kenangan Reff : Tuhan berkenan pada yang hina Seumur hidup aku akan jadi abdi-Nya. Tak tahu mengapa kata-kata dalam lagu itu meyentuh hatiku. Lagu ini memang bukan lagu biasa tapi lagu khusus untuk para imam. Dinyanyikan ketika mereka berjanji setia untuk menjadi mempelai Kristus. Dan ternyata hari ini imam yang memimpin misa pagi merayakan hari ulang tahun imamatnya yang ke duapuluh delapan. Sehingga lagu tersebut dinyanyikan kembali. Seperti film yang diputar dihadapanku, aku diingatkan saat para pengantin melangkah kedepan altar untuk menerima sakramen perkawinan. Mereka pasti melangkah dengan bermadah gembira ria sebab hari dimana mereka menerima sakramen perkawinan merupakan hari yang bahagia. Hari yang telah mereka nantikan-nantikan untuk menyongsong masa depan, mengharungi hidup bersama. Hari yang mulia karena saat itu Tuhan hadir bagi mereka dan mereka berjanji dihadapan-Nya bahwa mereka akan saling setia dalam keadaan apapun juga sampai mereka kemudian menjadi tua dan kembali menjadi debu. Tentu merupakan hari yang penuh dengan kenangan, pastinya semua kenangan indah yang akan diceritakan pada anak-cucu dan akan tetap diingat lama kemudian. Aku jadi teringat akan teman-temanku. Teman-teman yang masih muda dan usianya terpaut jauh denganku. Juga teman-teman seusia dan yang usianya tidak jauh berbeda. Terutama teman-teman yang sedang mengalami masalah dalam kehidupan perkawinan mereka. Aku tidak habis mengerti, kalau mau jujur – aku tidak mau mengerti, mengapa harus menyerah pada masa-masa sulit dalam perkawinan dan berujung pada perceraian. Mengapa tidak bertahan sedikit lagi, sebentar lagi . . . . . Tak tertahankan, air mataku pun mulai mengalir perlahan. Sudah sejak beberapa waktu lamanya aku merefleksikan hidupku sendiri. Kalau aku dan suamiku masih bersama hingga hari ini, maka itu semata-mata karena anugrah-Nya yang luar biasa. Karena kami percaya bahwa kami telah berjanji pada-Nya pada hari yang bahagia, hari yang mulia, hari yang penuh kenangan itu. Bukan, bukan berarti kehidupan perkawinanku mulus-mulus saja seperti orang-orang lain yang beruntung dalam menjalani hidup ini. Tidaklah demikian. Kami pernah terjerumus kedalam jurang yang terjal, dalam dan gelap. Tikungan-tikungan tajam dan mematikan juga kami lalui. Kami pernah berlari, terjerembap, bersembunyi. Kami juga pernah ingin menyerah, sama seperti yang lain. Barangkali yang menjadi kekuatan bertahan adalah cinta-Nya pada kami. Kalau diingat lagi, banyak sekali malaikat-malaikat tanpa sayap dikirimkan oleh-Nya untuk menemani kami dalam menjalani masa-masa itu. Sehingga pengharapan yang terkubur jauh dalam lubuk hati kami akan janji-janji-Nya, walaupun hanya berkelap kelip dalam pijar cahaya lilin yang samar, mampu bertahan. Apa lagi ketika seorang romo berkata, kita selalu berkata kami telah memanggul salib kami mengikuti Engkau, tetapi hanya sampai memanggul saja, tidak turut tersalibkan bersama Dia. Jadi kami belajar menyalibkan diri kami, ego kami. Terutama ego-ku. Air mata semakin deras mengalir. Aku tidak berani mengangkat wajah, takut orang yang duduk didekatku melihat wajahku yang penuh dengan airmata. Dengan sedih dan malu aku mengakui bahwa seringkali aku merasa putus asa, merasa tidak sanggup untuk menjalani hidup lebih lama lagi. Bahkan sebagai teman, aku merasa tidak mampu memberi bantuan apapun juga bagi teman-temanku. Aku tidak dapat memberikan janji yang pasti bahwa semuanya akan segera menjadi baik. Bahwa selalu akan ada pelangi setelah hujan. Aku takut. Namun aku pernah dan telah berjanji pada-Mu bahwa aku akan berusaha sungguh untuk menjadi teman seperjalanan bagi teman-temanku dalam masa-masa sulit mereka. Engkau telah berkenan padaku orang yang hina ya Tuhan, dan hari ini aku memperbaharui janjiku pada-Mu, seumur hidupku aku akan menjadi abdi-Mu. Bisikku perlahan dan dalam isak tertahan. Setelah misa selesai, aku masih tinggal agak lama. Duduk sendirian, menikmati saat-saat hening bersama Dia. Aku baru beranjak keluar dari gereja ketika tiba-tiba hpku berbunyi tanda ada pesan yang masuk. Ternyata dari salah satu adik perempuan suamiku. Setengah bertanya dan dengan enggan kubaca pesannya yang berbunyi HAPPY 25TH WEDDING ANNIVERSARY! Kubaca berulang kali dengan sedikit heran dan menghitung dalam hati, tanggal berapa sekarang ya?. Setelah beberapa saat aku baru sadar, ya ampun, ternyata aku lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahun perkawinanku yang ke-25. Duh kembali mataku berkaca, aku memang dapat saja lupa tetapi Tuhan tidak pernah lupa. Hari yang istimewa ini, istimewa bagiku, terutama bagi-Nya, diberikan-Nya aku kado istimewa. Ungkapan-ungkapan cinta-Nya padaku. Mulai dari bangun pagi dengan segar, adanya vokal group pada misa biasa pagi hari, pilihan lagu yang dinyanyikan sampai dengan kilasan-kilasan ingatan peristiwa yang terjadi dalam hidupku. Bagaimana mungkin tidak kuamini kata-kata dalam lagu penutup tadi . .. Besar anugrah-mu, berlimpah kasih-mu, semakin hari s’makin bertambah besar anugrah-Mu.Terima kasih Tuhan. *Hepi anivesari Hubby . . . Pada hari Pesta 3 Raja

Posted in Grace Ekanegara

Menjadi relawan??? . . .siapa takut!!!

No Comments »

January 8th, 2010 Posted 9:51 pm

1 Beberapa bulan yang lalu. “Eh Grace, mau jadi relawan tidak?” “Mau aja. . . .eh tapi emangnya jadi relawan itu ngapain aja sih? Aku tidak punya pengalaman menjadi relawan loh’’ ‘’Pengalaman tidak begitu penting, yang harus di bawa adalah hati yang mau melakukan pekerjaan apa saja yang ada saat itu.’’ ‘’Kerja apaan? Paling banter bagi-bagi makanan atau jadi kuli angkut’’. ‘’Yang paling utama kalau kita pergi ke tempat bencana adalah dapur umum. Biasanya mereka membutuhkan hal ini. Kamu bisa membantu membuka dapur umum bagi mereka’’. “Yaelah masak? Ada yang lain tidak? Sudah deh aku kursus jadi perawat aja biar bisa bantu-bantu. Kalau masak bisa mati berdiri tuh . . kebayang tidak kalau seandainya aku masak nasi bisa jadi bubur ?” Hehehe . . Memasak bukanlah salah satu kegemaranku. Aku tidak suka memasak dan hanya melakukannya bila terpaksa itupun dengan catatan makanan yang aku masak cukupan rasanya. Yang pasti lumayan untuk dimakan. Kalau bisa aku memilih untuk membeli makanan di tempat lain daripada harus memasak sendiri. Jadi bila banyak orang membicarakan tentang masak memasak aku biasanya menghindar. Topik yang membuatku tidak percaya diri. 2 Padang, 2 Oktober 2009 Sekarang disinilah aku, duduk dalam gelap dengan bingung. Tidak tahu apa yang pertama harus kulakukan terlebih dahulu. Satu-satunya cahaya remang-remang yang ada, datang dari dalam gereja di mana diadakan misa Jumat Pertama malam ini. Walaupun kawan-kawanku sering berkata, jangan takut untuk menjadi pencetus dapur umum, karena bukan kamu yang harus memasak makanan. Pasti akan ada para wanita setempat yang akan datang membantu. Yang harus dilakukan adalah menyediakan peralatan dan juga bahan mentahnya. Tetap saja aku takut. Ini kali pertama aku menjadi relawan dan bertugas untuk membuka dapur umum. Aku tidak mempunyai gambaran apapun tentang tugas ini. Seperti orang yang tidak bisa berenang langsung kecebur di kolam, itulah yang aku rasakan . Otakku beku rasanya, tidak mampu lagi berfikir. Aku takut tidak mampu melakukan apa yang diharapkan oleh teman-teman dan para donatur. Dalam hati aku berdoa kalang-kabut, semoga Tuhan mendengar doaku. Tidak tahu dari mana datangnya, ketika tiba-tiba aku menyadari aku tidak duduk sendirian. Seorang ibu dengan anaknya telah menempati batu, yang merupakan tempat duduk, di sampingku. Kami duduk dalam diam beberapa saat lamanya, lalu aku memberanikan diri menyapa. Mulai dengan basa-basi tentang keadaan yang terjadi sampai akhirnya bagaimana membantu para korban. ‘’ Mestinya buka dapur umum kali ya’’ ‘’ Iya, saya juga berpikiran demikian ‘’ Gayung pun bersambut. Aku mulai merasakan pengharapan yang bersinar hangat di hati. Kami berbicara cukup lama mengenai berbagai macam hal seputar dapur umum, dimana akan memasak, alat-alat dan bahan mentah yang diperlukan, makanan yang akan dimasak hingga siapa yang akan menyiapkan itu semua. Ketika misa selesai, kami pun bertukar nomor telepon genggam dengan janji besok akan saling menghubungi. 3 Pastor Franco Qualizza sibuk membuka dapur pastoran yang sering digunakan oleh para ibu memasak makanan bila di gereja ada acara tertentu. Dengan semangat beliau mengajak kami untuk melihat keadaan dapur dan mengatakan bahwa kami dapat memakainya untuk kegiatan memasak bagi dapur umum. Setelah melihat-lihat keadaan dapur tersebut, kami memutuskan untuk mulai belanja alat-alat keperluan memasak yang kurang dan diperlukan di dapur serta bahan-bahan mentahnya. Panci besar, sendok sayur, ember, tampah dan kertas pembungkus merupakan daftar barang teratas yang kami beli. Di pasar sayur kami membeli dalam jumlah banyak. Seakan-akan kami berbelanja untuk keperluan sebuah rumah makan. Bukan, bukan aku yang memasak makanan itu semua. Beberapa ibu yang mengungsi ke pastoran dan ibu-ibu anggota lingkungan gereja langsung turun tangan tanpa perlu di komando duakali. Mereka mulai membantu di dapur menyiapkan segala keperluan untuk meramu semua bahan mentah menjadi makanan siap saji. Semua sibuk menangani bagiannya masing-masing. Celoteh riang dalam bahasa setempat juga terdengar sementara tangan sibuk mempersiapkan segala yang diperlukan. 4 Nasi bungkus pertama yang akan dibagikan berisi sepotong telur dadar, sepotong kecil ayam balado dan satu kantong plastik kecil berisi tumis sayuran. Tersedia 65 nasi bungkus pada hari pertama kami membuka dapur umum yang dibagikan kepada para pengungsi di dan sekitar pastoran. Permintaan terus bertambah hingga 165 nasi bungkus untuk sekali masak dan dibagikan pula kepada orang-orang yang sedang menunggu para korban di rumah sakit Yos Sudarso. Dalam satu hari, para ibu di dapur umum memasak dua kali, sekali untuk makan siang dan sekali lagi untuk makan malam. Dan dengan dibantu oleh para muda mudi yang ada di gereja tersebut, mereka membagikannya pada yang membutuhkan. 5 Saat ini Ternyata benar apa yang sering aku dengar bahwa Tuhan memerlukan manusia sebagai perpanjangan tangan-Nya untuk membantu banyak orang. Tidak diperlukan pikiran yang rumit ketika berkata, aku mau menjadi perpanjangan tangan kasih-Mu. Tidak juga logika yang mengkalkulasikan segala kemungkinan yang ada. Yang perlu hanya membawa hati yang dipenuhi keinginan untuk berkerja bagi kemuliaan-Nya. Ia akan mengatur selebihnya. Bila suatu hari nanti ada lagi yang menawarkan padaku apakah mau menjadi relawan, maka aku akan menjawab dengan yakin . . .jadi relawan? . . siapa takut!!! Grace Pada : Hari Raya Penampakan Tuhan

Posted in Grace Ekanegara

Pembelajaran diri yang lain . . .

No Comments »

November 7th, 2009 Posted 10:32 pm

(Grace Ekanegara)

Aku teringat percakapan ku dengan seorang teman muda, Vico, beberapa waktu yang lalu. Vico (V) : “Bu ikut baksos yuk hari minggu ini di cilincing . .mau ga?” Aku (A) : “Ngapain disana? Dan perlu bawa apa aja?” V : “Datang aja ngga perlu bawa apa-apa koq, ibu lihat aja tempatnya kan ibu belum pernah ke cilincing”. A ; “Baksos koq ngga perlu ngapa-ngapain gimana sih kamu?” V :”Sebetulnya sih kami ngadain pengobatan gratis bu, tapi sudah ada dokter dan obat-obatannya, terus ada juga pembagian sembako serta jualan baju layak pakai . . jadi ya ibu ngga perlu bawa apa2 lagi”. A :”Betul nih ngga perlu apa2?” V : “he he he . .ya kalau ada sih mau dokter yang bisa diajak keliling sebentar untuk periksa orang-orang tua yang sudah tidak bisa jalan lagi . . .tapi kalau ngga ada juga ngga apa-apa koq bu . . .datang aja deh.”

(more...)

Tags:
Posted in Grace Ekanegara

Nonton Yuk . . . .

No Comments »

October 27th, 2009 Posted 10:55 pm

(Grace Ekanegara)

Nonton yuk . . . .

Aku terbiasa kemana-mana sendiri. Seringkali teman-temanku merasa heran dengan kebiasaanku ini. Menurut mereka aneh karena mereka merasa tidak nyaman melakukannya sendirian. Misalnya pergi makan di food court sendirian, jalan-jalan ke luar kota sendirian bahkan yang membuat mereka seringkali menggelengkan kepala adalah nonton film di bioskop sendirian.

Menonton film adalah salah satu dari beberapa kegemaranku. Tentunya aku memilih nonton film yang ringan-ringan misalnya film komedi, bertemakan music dan terutama haruslah happy-ending. Secara pikiran aku sih, menonton itu sebagai hiburan jadi harusnya menyenangkan.

(more...)

Posted in Grace Ekanegara

Pada hari aku belajar menjadi relawan

No Comments »

October 22nd, 2009 Posted 10:38 am

(Grace Ekanegara)

Pada hari aku menjadi relawan

Kamis malam 1 Oktober 2009

*Yang mau jadi relawan, di harap standby. Tas kecil untuk menginap berisi keperluan secukupnya harus disiapkan dan selalu tersedia karena sewaktu-waktu dapat dipanggil dan langsung berangkat.*

Begitu berita yang aku terima melalui email malam itu. Jadilah aku mulai menyiapkan tas kecil berisi keperluan sehari-hari.

“Loh mau kemana?” tanya suamiku ketika dilihatnya aku sedang memasukan kaos kedalam tas.

(more...)

Tags:
Posted in Grace Ekanegara

Arti pelayanan bagiku . . .

No Comments »

October 18th, 2009 Posted 11:47 pm

(Grace Ekanegara)

Pelayanan bagiku . . . . .

Banyak teman yang sering bercerita padaku, bagaimana mereka melakukan pelayanan. Maksudku bukan menjadi pelayan, tetapi secara perkataan berarti melayani orang lain yang membutuhkan. Baik berupa suatu kegiatan sosial dengan mengadakan pengobatan gratis, mengunjungi parti werda/asuhan dan membagikan berkat atau memberikan penghiburan dengan gerak dan lagu, mendoakan orang sakit bahkan melayani orang yang di penjara dan banyak lagi lainnya.

Mengambil bagian dari suatu pelayanan atau istilah lainnya bakti sosial merupakan hal yang penting bagi sebagian orang. Di dalam kehidupan nyaman dan cukup mapan, mereka berbagi kasih dengan meluangkan waktu untuk melayani orang lain. Bahkan di tambah pula dengan berkorban materi. Orang yang seperti apa yang dilayani, tentu menurut ukuran mereka adalah orang yang kurang beruntung dalam hal ini orang yang berkekurangan, baik kekurangan materi ataupun juga kekurangan kasih.

(more...)

Posted in Grace Ekanegara

Gelisah

No Comments »

October 1st, 2009 Posted 12:24 am

(Grace Ekanegara)

Gelisah . . . . . .

Aku duduk ditepi pantai sambil membidikkan kameraku kesana kemari. Menghabiskan waktu dengan mencari-cari objek yang menarik hatiku. Bukan hanya membidik pemandangan alamnya tetapi juga turis-turis asing wanita yang berjemur telanjang dada.

Hampir sebagian besar waktuku kuhabiskan di pantai ini. Mulai dari sekedar jalan-jalan tanpa tujuan disepanjang pesisir pantai, menyapa satu dua turis wanita yang menarik hatiku hingga memanggang ikan sebagai makananku. Seringkali pula yang kulakukan hanya duduk memandangi ombak yang bergulung datang dan pergi.

(more...)

Posted in Grace Ekanegara

Aku menyerah . . .

No Comments »

September 24th, 2009 Posted 10:52 pm

(Grace Ekanegara)

Aku menyerah . . . . .

Ini kali ketiga aku dirawat di rumah sakit dalam kurun waktu 3 bulan. Kali ini sudah beberapa hari aku terbaring di ranjang rumah sakit ini. Jarum infus menyakiti punggung tangganku, membuat aku susah bergerak dan membuat aku sadar kalau aku tidak berdaya. Suhu tubuhku naik turun tidak menentu. Otakku seakan membeku di hajar rasa sakit yang datang dan pergi. Kejadian demi kejadian yang menimpaku seperti film yang di putar berulang-ulang dalam pikiranku dan hasilnya selalu sama, tidak ada jalan keluar.

Kupejamkan mataku walau tidur adalah hal yang terakhir yang mungkin terjadi padaku. Sebelumnya aku seringkali tidak tidur berhari-hari, kadang 2-3 hari sekali baru aku tidur 12 jam lamanya. Seperti beruang berhibernasi kata beberapa temanku. Aku malas berbicara, malas bertemu dengan orang-orang siapapun mereka. Dengan berpura-pura tidur aku menghindari banyak pertanyaan dan basa basi. Tubuhku memang memberi kesan tidur tetapi pikiranku berkelana liar kesana kemari dan aku juga mendengar setiap pembicaraan disekelilingku.

(more...)

Posted in Grace Ekanegara

Merah-Putih berkibarlah juga di hati kami.

No Comments »

August 17th, 2009 Posted 2:09 am

(Grace Ekanegara)

Merah-Putih, berkibarlah juga dihati kami

Setiap tanggal 17 Agustus, bendera Merah – Putih selalu berkibar dengan gembira, lagu Indonesia Raya berkumandang membangkitkan semangat dan kerapkali membuat aku terharu serta menitikkan air mata bila turut serta menyanyikannya – Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku . . . . . . . Dan ada pekikan Merdeka, ketika aku menyerukannya menimbulkan rasa gembira dan pengharapan tersendiri dalam hati.

Menurut keterangan guru sejarah sewaktu aku masih duduk di Sekolah Dasar dulu, Merah melambangkan keberanian. Berani untuk maju membela dan berjuang untuk Negara. Sekarang kataku, Merah juga berarti berani melangkah keluar dari kenyamanan diri untuk membantu orang lain dan bersama-sama mengurus kampung tempat kediaman kami.

(more...)

Posted in Grace Ekanegara

Menulis bagiku . . .

No Comments »

August 15th, 2009 Posted 11:14 am

(Grace Ekanegara)

Menulis itu sukar. Itu kataku. Secara pengalaman yang aku punya, biasanya aku hanya menulis dalam buku harian. Itu pun kalau mood lagi bagus, atau memang mau curhat yang menurut aku tidak dapat dibagikan pada orang lain. Walaupun menuangkan isi hati dalam buku harian telah dilakukan bertahun-tahun lamanya, tetap saja merangkaikan kata-kata sehingga enak dibaca untuk orang lain itu sukar bagiku.

Menulis itu sukar kataku kembali, walaupun kadang-kadang kalau lagi mood aku menulis juga dengan gaya bahasaku yang amburadul dan hanya ditujukan untuk teman-teman dekatku. Sekedar untuk membagikan cerita, petualangan, perasaan atau segala hal yang menarik hatiku apapun bentuknya pada sahabat-sahabatku.

Meskipun demikian, menulis menurutku tetap sukar. Barangkali aku memang tidak mempunyai bakat untuk menulis atau karena menulis untukku itu tergantung mood yang kadang hilang tak tentu rimbanya sehingga sulit untuk merangkaikan kata-kata dalam tulisan setiap hari.

(more...)

Posted in Grace Ekanegara

Selamat kembali, Sahabat

1 Comment »

August 5th, 2009 Posted 10:56 pm

(Grace Ekanegara)

Agak terkejut aku membaca pesan singkat di telepon gengam ku pagi ini, “Ketemuan dong, penting!!” Memang sudah agak lama seorang sahabat lamaku terus menerus mengirimkan pesan singkat yang mengatakan ia ingin bertemu untuk berbagi cerita. Sudah berapa tahun lewat kami tidak pernah bertemu hingga hari ini aku menerima pesan singkat itu lagi.

Keragu-raguanku untuk bertemu berdua dengannya membuatku menunda-nunda waktu untuk menjawab pesan-pesan singkatnya yang dikirimkan bertubi-tubi. Penting!! Penting!! Penting!! Sepenting apakah masalahnya sehingga aku berani melanggar janjiku dalam hati untuk bertemu dengannya? Janjiku dalam hati yang kuikrarkan ketika ia mengatakan bahwa istrinya cemburu bila ia masih berhubungan denganku, cemburu bila ia masih berbagi cerita tentang banyak hal dan juga berbagi tawa yang hanya kami berdua yang mengerti maknanya.

(more…)



Posted in Grace Ekanegara

ABU-ABU GAMBAR BISU-KU

No Comments »

July 18th, 2009 Posted 10:00 pm

Seseorang meminta gambar-gambar bisu yang aku buat. Menurutnya gambar2 itu menyiratkan berjuta kenangan, tempat2 yang pernah dikunjungi, orang2 yang pernah dijumpai dan juga pengalaman2 yang dialami saat itu.

Ku pandangi beribu gambar-gambar bisu yang ku punya. Ketika ku sentuh, seperti film ia memutar kembali ingatan-ingatan masa lalu dan saat ini yang baru ku alami. Kebanyakan rekaman yang diulang adalah masa-masa bahagia, terlihat dari banyaknya warna-warna cerah yang timbul. Ada juga terekam tawa sedih dibalik ceria yang terlihat, tapi siapa yang dapat mengartikannya?

(more…)



Posted in Grace Ekanegara

←Older