Tulisan Oleh Grace Ekanegara

PEMBELAJARAN HATI

No Comments »

January 25th, 2012 Posted 4:40 pm

PEMBELAJARAN HATI

 

Sebelum berangkat untuk bakti kasih ke Manado

 

Dengan rasa malas aku memasukan barang-barang yang akan dibawa ke dalam koper kecil yang memang telah disiapkan untuk itu. Besok pagi subuh aku dan teman-teman dari grup KBKK (Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan) tempat yang selama ini aku bergabung akan berangkat melakukan bakti kasih ke Manado. Kali ini tidak ada bencana sehingga tidak juga ada persiapan yang pasti – kecuali obat-obatan yang diperlukan oleh para dokter ketika mengadakan pengobatan gratis – yang harus dipersiapkan secara khusus dan Kitab Suci yang akan dibagikan.

 

Aku merasa sudah lelah melakukan perjalanan jauh. Membayangkan duduk di dalam pesawat beberapa jam saja sudah membuat hatiku terasa tidak nyaman. Intinya mungkin, aku sedang tidak ingin melakukan apapun juga. Pikiranku penuh dan hatiku bertanya, sungguhkah aku ingin menjadi seorang missionaries awam? Sekarang ini aku lebih memilih duduk diam dan lebih melihat jauh kedalam diriku. Barangkali kegiatan meditatif lebih cocok untuk aku.

 

Aku duduk, mengambil nafas panjang dan coba mengingat-ingat lagi perjalanan terakhir yang aku lakukan. Betapa aku belajar dan diajar melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi saat itu. Ya betul, dalam setiap perjalanan selalu ada pelajaran baru yang pastinya, dan aku amini, merupakan hal yang paling utama bagiku untuk dipelajari atau dicermati. Dengan kata lain bagian itulah yang paling memerlukan perbaikan. Perjalanan terakhir . . . kepergian kali ini apa yang paling utama bagiku ya?…….Akh, semangatku mulai ada hanya karena aku memikirkannya.

 

Sepulangnya dari bakti kasih di Manado

 

Aku bercerita pada seorang teman pelajaran tentang hati yang aku dapatkan selama aku melakukan bakti kasih dalam rangka memperingati hari ulang tahun imamat yang ke 25 dari Romo Terry Thomas Ponomban Pr.

 

Pelajaran kali ini, menurutku, lebih sulit.  Karena semuanya menyangkut hati. Hati manusia yang konon katanya tempat bersemayam semua perasaan. Padahal hati yang dibicarakan itu, seringkali sudah menjadi tumpul karena keadaan. Atau seperti yang aku punya. Kalau diibaratkan lilin, ternyata hatiku nyalanya sudah sangat redup.

 

Mereka bertanya dari mana aku mengetahui pelajaran-pelajaran itu? Apakah teman-teman yang lain juga mendapatkan

pelajaran yang sama? Ataukah mereka memperoleh sesuatu pelajaran yang lain? Pertanyaan apakah teman-teman yang lain juga mendapatkan pelajaran yang sama ataupun memperoleh pelajaran yang lain, aku sungguh tidak dapat menjawabnya. Kemungkinan besar yang dapat aku perkirakan hanya, mereka pasti mendapatkan sesuatu dari perjalanan ini. Karena tentu setiap orang mempunyai pengalaman yang berbeda. Yang dapat aku ceritakan hanyalah pengalamanku dan sungguh berlaku untuk diriku saja. Dan inilah pengalamanku kali ini.

 

Pelajaran pertama aku peroleh dari cara penyambutan oleh para penduduk di desa Tarabitan. Hari itu anggota KBKK dibagi 3 kelompok. Kelompok pertama pergi ke desa di pulau Gangga, kelompok kedua di desa Kulu dan kelompok ketiga yang merupakan kelompokku pergi ke desa Tarabitan. Setiap kelompok akan bermalam di rumah-rumah penduduk yang telah disediakan oleh ketua lingkungan di desa itu bagi kami. Ada yang tinggal sendiri maupun berdua dalam satu rumah. Semuanya telah diatur oleh mereka.

 

Para penduduk desa begitu inginnya kami menginap di rumah mereka. Mereka memberikan tempat yang terbaik dengan tujuan agar kami dapat beristirahat dengan tenang dan nyaman. Mereka memberikan kamar utama, kamar pemilik rumah tersebut. Sedangkan mereka sendiri mengungsi ke kamar sebelah dan rela tidur berdesak-desakan dengan penghuni rumah yang lain. Bahkan ada pemilik rumah yang tidur di ruangan dapurnya malam itu.

 

Kegembiraan dan ketulusan hati mereka yang terpancar dari wajah-wajah yang berseri ketika menerima kami di rumah mereka membekas dalam. Kehangatan yang keluar dari hati mereka membakar hati kami dengan lembut. Aliran dari hati-hati yang hangat dan tulus menyentuh hati-hati yang kepekaannya sudah berkurang karena keadaan. Hati yang seperti api lilin yang hampir padam nyalanya membesar kembali. Akh berapa lama sudah hatiku tertutup untuk melakukan hal ini, berapa lama sudah aku melakukan segala sesuatu karena kebiasaan, kelayakan bahkan tuntutan sekitar? Berapa lama sudah aku tidak melibatkan hatiku dalam setiap tindakan yang aku lakukan bagi orang lain?

 

Disini aku diingatkan dan diajar lagi untuk menggunakan hati. Hal yang paling sederhana dan tidak membutuhkan biaya adalah tersenyum pada setiap orang yang aku jumpai dengan tulus, senyum yang keluar dari kehangatan hati.

Pelajaran kedua juga menyangkut hati. Melilhat dengan hati membuat “rasa” yang dilihat berubah dan meninggalkan bekas yang dalam serta tak mudah dilupakan.

 

Pembelajaran yang lain mulai dari rasa keingintahuan untuk merasakan “enaknya” snorkeling seperti cerita seorang temanku belum lama ini. Jadi aku memberanikan diri untuk ikut mereka yang akan pergi snorkeling dengan keinginan seperti itu. Selain itu juga kata orang, mandi dilaut membersihkan dan menetralkan getaran-getaran negative yang ada di sekeliling tubuh kita. Jadi apa salahnya kan kalau dicoba . .

 

Pertama-tama memang agak sulit melakukan pernafasan lewat mulut. Beberapa kali aku harus meminum air laut karena kesalahan pernafasan yang dilakukan. Dan pada akhirnya ketika semakin pandai melakukannya, tidak menjadi masalah lagi bila ingin berenang kesana kemari mengejar ikan-ikan yang cantik atau hanya sekedar mengapung memperhatikan mereka.

 

Banyak kali aku hanya sekedar mengapung dan membenamkan kepalaku sedalam yang aku bisa untuk melihat kekedalaman laut. Didalam keheningan dasar laut yang jauh dari hiruk pikuk suara-suara yang tertangkap di telinga itulah aku belajar melihat bukan hanya dengan mata tetapi juga dengan hati. Didalam keheningan seluruh getaran panca indra menjadi berkurang. Satu-satunya alat untuk melihat keindahan disekitar dalam hening adalah dengan memakai hati. Mata hati persisnya. Ketika mata hati terbuka, keindahan terasa begitu mengharukan. Aku begitu merasa diberkati karena dapat melihat semua keindahan ini. Sebagian kecil dari keindahan yang diciptakan oleh-Nya. Dan betapa selama ini mata hatiku mulai tumpul.

 

Setelah pengalaman hari itu, aku melihat teman-temanku dengan kaca mata baru, kaca yang lebih bersih. Kaca yang merupakan pantulan dari hati. Pastinya aku mendapati lebih banyak kelebihan dan keistimewaan dari setiap orang yang aku jumpai. Aku mendapatkan sudut pandang baru dari setiap persoalan, sudut pandang yang bahkan mungkin tidak dapat dimengerti bagi banyak orang. Tapi bagiku Dia yang telah menuntunku, Dia yang telah mengajarku cara untuk melihat dari sudut pandang-Nya dan Dia tidak pernah salah.

 

Apabila dalam segala hal kita menggunakan hati maka peristiwa apapun yang terjadi selama bakti kasih ini berlangsung menjadi pembelajaran bagi masing-masing individu dengan hasil yang hanya mereka sendiri yang tahu. Menggunakan hati berarti mempunyai kasih. Dengan kasih kita mengalahkan segalanya. Dan apapun kejadiannya terutama yang tidak menyenangkan bukan masalah lagi.  

 

Akh … tiba-tiba jadi kangen Romo Terry, dengan motto 25 tahun ulang tahun immamatnya. TUHAN SAJA CUKUP. Setuju banget Romo . . . .  

 

 

Malam hujan deras di Jakarta.

 

 

Posted in Grace Ekanegara

Dapat apa dari Konas??? . . . .

No Comments »

February 28th, 2011 Posted 12:19 pm

Dapat apa dari Konas??? . . . .

 

 

“Kemana saja sih? Susah benar dicarinya.”

“Sebetulnya kamu kerjanya apa sih? Katanya tidak bekerja tapi tidak pernah ada di rumah”.

Konas? Apaan sih Konas?”

“Kerjanya ngapain kalau ikut acara seperti itu?”

“Dapat apa kalau ikut acara seperti itu?”

Seperti senapan mesin yang ditembakan, pertanyaan demi pertanyaan berhamburan ketika aku bertemu dengan teman-temanku. Kami memang biasa bertemu untuk sekedar berbagi cerita sambil minum kopi. Seperti acara ibu-ibu arisan, tetapi minus gossip.

 

Beberapa kali aku mendengar orang-orang berkata, kapan lagi ikut perayaan misa dengan dihadiri oleh 9 orang uskup yang berasal dari berbagai daerah, 99 pastor dan belum lagi para susternya. Betul juga sih kalau memang pengalaman itu yang menjadi tujuan utama untuk ikut Konas. Ya tidak salah dong, berfoto dengan para uskup yang biasanya susah sekali untuk ditemui bersama dengan para imam yang banyak itu akan menjadi kenangan. Bahkan kenangan yang membanggakan.Tidak banyak orang yang mendapat kesempatan demikian.

Ada juga yang berkata, kita sih cuma mau tahu saja, mereka itu sebetulnya mau ngapain ya? Mau ngomongin apa dan apa gunanya mereka berkumpul seperti itu.

 

Pertanyaan -dapat apa di Konas?-  adalah pertanyaan yang  paling menggelitik hatiku. Sebagai awam pemula yang sedang belajar makna hidup, aku sering mengamat-amati diriku dan juga orang-orang disekeliling yang aku temui. Setiap hari aku ingin belajar sesuatu yang dapat membuat jiwaku berkembang dan imanku akan Tuhan lebih bertumbuh.

 

Selama mengikuti Konas ini aku belajar beberapa hal :

Aku belajar kerendahan hati lagi. Lagi kataku karena ternyata pada saat-saat seperti ini dimana semua orang yang terlibat berusaha sebaik mungkin sesuai dengan rencana yang telah didiskusikan dalam rapat dan dituangkan dalam kertas kerja sebagai pedoman dalam pelaksanaan, tekanan menjadi demikian besar dan sumbu emosi otomatis menjadi lebih pendek. Ledakan-ledakan disana-sini terjadi, tudingan-tudingan dalam kacamata “keadilan” sebaiknya begini atau begitu, kata-kata yang seharusnya ditelan, hari itu dimuntahkan dengan gembira. Kerendahan hati bagiku, dan hanya bagiku yang mungkin tidak berlaku bagi orang lain, bukan hanya menerima keadaan seperti itu tetapi juga turut membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan ketika tugas utama yang ada sudah dipercayakan pada orang lain. Menerima tugas-tugas kecil yang tidak terlihat dan melakukannya dengan gembira. Apapun bentuknya serta menikmati kebersamaan yang ada.

 

Aku belajar lebih mendengarkan dengan hati. Disini aku bertemu dengan teman-teman baru yang membantu perkembangan imanku melalui sharing pengalaman pribadi. Bukan hanya suka duka kehidupan yang dilalui sehari-hari atau luka-luka hati yang masih jelas membekas, tetapi juga hari dimana hati bertemu dengan Tuhan. Mendengarkan mereka bercerita dengan perasaan yang mendalam, aku turut terhanyut dalam keharuan. Ada airmata, tawa dan juga kelegaan ketika pertemuan berakhir.

 

Aku belajar menerima bahwa para pastor itu juga manusia biasa dengan sifat bawaan masing-masing. Ada yang sombong karena merasa segala bisa dan menjadi marah karena kurangnya penghargaan baginya, ada yang merasa dirinya adalah orang penting sehingga harus dilayani dengan segera, ada yang merasa keinginannya adalah yang paling benar sehingga semua yang dilakukan panitia adalah salah berdasarkan kacamatanya. Tapi ada juga yang begitu rendah hati dalam melayani semua orang. Bekerja dalam keheningan batin yang penuh ucapan syukur. Mereka bisa juga tertawa terbahak-bahak tanpa membatasi diri mereka. Atau saling melontarkan lelucon-lelucon nakal sama seperti teman-temanku yang menyebut dirinya berkiblat ke rohana dan bukan rohani.Mereka memang masih manusia.

 

Aku belajar ketaatan yang lebih dari perjuangan para suster yang berkarya ditempat-tempat yang jauh. Para suster yang aku temui selama Konas berlangsung biasanya lebih rendah hati bila dibandingkan para pastor yang pastinya lebih leluasa bertemu dengan umat. Dalam pengamatanku,ketaatan mereka terhadap pimpinan adalah suatu harga mati. Walaupun menurutku, kembali menurutku, belum tentu pimpinan mereka selalu benar. Mungkin sama seperti perusahaan dimana biasanya para pimpinan jarang turun kelapangan sendiri sehingga kurang tanggap akan keadaan sekitar. Para karyawan yang sehari-hari terjun kelapangan yang biasanya lebih mengerti atau mengetahui apa yang paling penting dilakukan lebih dahulu. Ketaatan yang dilakukan para suster membuat mereka lebih sering melihat karya Tuhan.

 

Yang paling akhir dan menurutku paling menantang untuk dilakukan adalah, belajar untuk memberi diri lebih banyak bagi orang lain. Seperti ada terlulis, entah dibagian mana, “barang siapa mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu”.

 

Mengutip kata-kata Dokter Irene, semua yang telibat telah bersama-sama berusaha melakukan yang terbaik menurut versi dirinya masing-masing. Maka tidak ada masalah. Selalu ada sesuatu untuk dipelajari, untuk diperbaiki, untuk dibagikan guna memaknai hidup yang dipercayakan bagi kita.

 

Diiringi suara hujan

Grace

 

 

 ============================================================

NB:

Adakah teman-teman tergerak hati untuk mengalami sendiri pembelajaran makna hidup dan juga membagikan, apapun bentuknya, bagi yang membutuhkan? Kalau jawabnya ya, silahkan bergabung bersama KBKK (Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan) ke Wasior, bulan Mei nanti.

Posted in Grace Ekanegara

Putraku milik-Mu

No Comments »

June 10th, 2010 Posted 9:53 am

Putraku milik-Mu

Hari ini seseorang telah mendandani aku, memakaikan pakaian bagus, menyisiri rambutku dan memakaikan sedikit parfum kesukaanku. Lalu seperti biasanya aku dituntunnya untuk duduk dikursi kesayanganku. Dihadapan meja tulis yang menghadap ke jendela. Memang biasanya aku suka duduk berlama-lama di kursi itu. Dari sini aku juga dapat melihat pohon rambutan yang tumbuh di halaman rumahku, rumput-rumput dan bunga-bunga yang tiap sore disirami oleh pak kebon bahkan cucu-cucuku yang berlarian kian kemari.

Dengan tangan yang sudah gemetar aku meraba permukaan meja tulis. Permukaannya yang halus mengalirkan getaran-getaran kenangan. Berapa banyak surat sudah kutulis untuk putra putriku, terutama untuk putra bungsuku? Rasanya sudah lama dia pergi dan aku tidak mendengar kabar darinya. Kapan terakhir kali aku menulis surat untuknya? Akh aku sudah banyak lupa.

* * *

Suamiku dan aku sepakat untuk mengangkat beberapa anak dari sebuah panti asuhan di kota kami. Bukan karena kami tidak dikaruniai anak-anak atau hidup kami begitu berlimpah, tetapi karena kami merasa begitu banyak anak yang kurang beruntung dalam hidup ini.

Sudah ada empat anak-anak yang tinggal di rumah kami. Tiga putra dan satu putri. Dua anak kandungku, putra dan putri dan dua lagi putra yang juga berasal dari panti asuhan ini. Dan saat ini kami akan menjemput lagi satu anak laki-laki yang membutuhkan rumah dan keluarga, kata pastor kepala pada suamiku.

Aku ingat hari itu, hari pertama aku melihat Max. Ketika pertama kali pergi untuk menjemputnya, aku membayangkan akan menjemput seorang anak yang dapat membuat aku langsung jatuh hati ketika kami pertama bertemu. Ada kan yang seperti itu, rasanya seperti mempunyai ikatan batin tersendiri. Tetapi Max tidak seperti yang kubayangkan.

Ketika kami tiba di panti asuhan, pastor menunjuk seorang anak laki-laki yang sedang duduk sendirian di bawah pohon di halaman asrama. Anak laki-laki kurus kering, dengan kulit agak hitam. Rupanya anak itu juga sedang flu, ingusnya yang mengalir dari hidung dihapusnya dengan menggunakan lengan baju. Matanya memandang kami penuh harap. Putraku yang terakhir batinku berkata. Max memang yang termuda dari anak-anakku yang lain.

Setelah tinggal bersama kami beberapa waktu, Max tidak lagi kurus kering. Tubuhnya menjadi lebih berisi. Matanya yang ternyata bening dan berbinar bila ia bertanya dan ingin mengetahui jawabannya merupakan daya tarik tersendiri bagi kami dan juga kakak-kakaknya. Dan yang membuat Max menjadi istimewa di keluarga kami, bukan hanya hatinya yang lembut tetapi juga sikapnya yang riang gembira. Tidak pernah sekalipun terlihat Max marah ketika ia diolok-olok oleh kakak-kakaknya. Kata-kata kasar tidak pernah keluar dari mulutnya. Max bagaikan matahari dalam keluarga kami.

* * * *

Rupanya aku terlelap ketika kurasakan ada elusan lembut pada lenganku diikuti kecupan lembut pada kedua belah pipiku. Kubuka kedua mataku dan kutemui seraut wajah cantik yang tak asing tersenyum dihadapanku. Aku membalas senyumnya dan melihatnya dengan penuh cinta. Andrea, bidadari kecilku, sudah berapakah umurmu sekarang nak? Aku bertanya tanpa suara.

Aku tidak mendengar jelas apa yang dikatakan putriku kecuali satu kata Max, nama putra bungsuku. Sebelum dipapahnya aku berdiri untuk pindah duduk dikursi roda. Lalu dengan perlahan ia mendorong kursi rodaku untuk keluar dari kamar. Max? Max datang? Aku bertanya tanpa suara seperti biasa kulakukan, pertanyaan hanya aku sendiri yang mendengar.

Dengan mataku yang sudah tidak jelas lagi melihat, aku mengetahui hari ini ada begitu banyak orang didalam rumahku. Aku tersenyum samar ketika banyak orang yang menyapa tetapi begitu banyak wajah yang sudah tidak ku kenali lagi. Disana sini terdengar suara-suara orang berbicara dan tertawa riang, namun semuanya seperti gumaman tak jelas, seakan dengungan lebah memenuhi telingaku.

* * * *

Hari ulang tahun Max yang ke-27. Ketika kami selesai membereskan meja makan setelah acara makan bersama sekeluarga, tiba-tiba Andrea –putriku, berkata :”Max, kapan calon istrimu diperkenalkan pada kami. Tinggal kamu sendiri yang belum punya pasangan.” Diaz juga menimpali, ”cari apa lagi sih lu Max. Mobil ada, kerjaan ada. Mau apa lagi?” Lalu suasana menjadi riuh rendah karena semua mulai mengolok-olok Max. Nama-nama gadis yang selama ini sering datang kerumahpun mulai terlontar disertai dengan komentar-komentar dari kami sekalian.

Max seperti biasanya ikut dalam kegembiraan saling ledek meledek ini. Hingga akhirnya, ”Iya deh aku mau ngaku nih”, katanya kemudian. Suara riuh yang tadinya mendominasi ruangan mereda. Kakak-kakak Max, suamiku dan aku, semua ingin mendengar apa yang akan dikatakan olehnya. Sesungguhnya yang ingin kami dengar adalah gadis yang mana yang akan dipilih oleh Max untuk menjadi pasangan hidupnya.

”Aku sudah lama memikirkannya” katanya ragu-ragu. Lanjutnya setelah terdiam sebentar, ” aku ingin masuk seminari”. Lalu pandangannya ditujukan padaku. Matanya yang bening dan berbinar menatapku, ”Bolehkan ma?”

* * * *

Rupanya aku terlelap lagi. Kali ini sebuah pelukan kuat dan kecupan pada kening membuat aku kembali membuka kedua mataku. Kali ini kutemui sepasang mata yang bening dan berbinar manatapku penuh cinta. Tidak pernah aku lupa pandangan mata ini. Mata milik Max.

Perlahan kuangkat kedua tanganku untuk membelai wajahnya. Kuperhatikan, sudah ada kerutan disana sini, di kedua sudut mata pun jelas terlihat. Aku tersenyum dan mengucapkan namanya perlahan . . . ”Max, pastor Max” dan senyumnya mengembang.

Pendengaranku memang payah sekarang ini, namun herannya aku dapat mendengar kata-kata Max dengan jelas. ”Ma, hari ini kita merayakan ulang tahun immamatku yang ke-25. Kita misa bersama ya. Mama duduk paling depan, dekat aku.”

Aku mengerjapkan mata, seperti baru kemarin rasanya. Surat pertama yang aku terima dari Max masih aku ingat jelas. Juga surat-suratnya yang lain yang datang kemudian. Kata-kata yang tertuang dalam setiap suratnya selalu membawa ciri khas dirinya, penuh dengan nada-nada riang, ada kerinduan yang jelas terbaca di situ. Ma, aku ingin makan soto ayam kesukaanku yang mama buat itu. Ma, tidak lama lagi aku boleh pulang. Ma, kapan kita bisa pergi ke toko buku babah Oen ya. . . .dan masih banyak lagi.

Lalu ada pula tahun-tahun berat dalam hidupnya. Semua tertuang pada kertas yang menjadi curahan isi hatinya. Malam-malam gelap dalam menjalani panggilannya. Putus asa, kecewa, bimbang, terasing bahkan kesepian.

Aku tidak dapat mengingat lagi banyaknya surat yang kutulis untuk Max. Namun seakan aku selalu berada bersamanya setiap saat. Memberikan semangat, kekuatan bahkan harapan dan doa agar tetap teguh dalam menjalani panggilan hidup yang dijalaninya.

*Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia . . . .*

Sayup-sayup aku dapat mendengar suaranya. Aku memang sudah lama tidak lagi mampu menulis, bahkan akhir-akhir ini aku sering lupa dan mudah merasa lelah. Tetapi hatiku tetap mengalirkan kata-kata tak henti, memberikan semangat, untaian harapan dan doa yang tak kunjung putus mohon kekuatan bagi putra-putriku. Terutama bagi Max, putraku yang menjadi milik-Mu ya Allah, jagalah dia agar tetap setia.

Peliharalah mereka, ya Allahku

Peliharalah, karena mereka milik-Mu

Para imam-Mu yang mengalami kelelahan dalam hidupnya

Di hadapan hadirat kudus-Mu

Perliharalah mereka di dunia ini, walau terpisah dari dunia,

saat kesenangan duniawi datang menggoda

bawalah mereka kembali kepada-Mu dan

naungilah mereka dalam Hati-Mu.

Perliharalah dan hiburlah mereka

Dalam masa-masa kesepian dan kepedihannya,

Saat pengorbanan mereka bagi jiwa-jiwa bagai tidak berarti.

Peliharalah mereka dan ingatlah ya Tuhan,

Mereka tidak memiliki siapapun selain Engkau,

Dan hanya memiliki hati manusia yang rapuh,

Mudah jatuh dalam pencobaan.

Peliharalah mereka bagai Hosti tak bernoda

Pelayanan kasih mereka sehari-hari.

Limpahkanlah berkat-Mu ya Allah,

Bagi setiap pikiran dan perkataan dan perbuatan mereka.

(Terjemahan bebas, doa bagi para imam – Imprimatur D.Card.Dougherty, Arch of Philadelphia)

Posted in Grace Ekanegara

Intermezo Siang Hari

No Comments »

February 18th, 2010 Posted 11:59 am

Intermezo siang hari . . . .

Aku melangkahkan kaki ke dalam sebuah café tempat aku dan teman-temanku biasa berkumpul. Harum aroma kopi menyambutku.

“Sendirian?” Tanya pemilik café yang merangkap menjadi juru masak.

“Iya, lagi iseng di rumah”. Jawabku.

Segera aku menuju tempat duduk favoritku. Sofa dipojok berbataskan jendela kaca sehingga dapat melihat keluar ruangan. Tidak lama pelayan yang juga sudah mengenalku, mengantarkan segelas besar es kapucino dan sepiring pisang goreng panas. Ditanganku ada buku yang belum habis kubaca. Memang tujuanku ke café ini adalah untuk membaca buku sambil tentunya menyeruput kopi serta makan pisang goreng.

Aku suka tempat ini. Suasana yang nyaman, suara musik jazz yang lamat-lamat terdengar, aroma harum kopi diseluruh ruangan serta pelayan yang ramah dan kekeluargaan membuat aku betah bertamu ketempat ini.
Aku menyeruput es kapucino dan mengambil sepotong pisang goreng dan segera tengelam dalam buku yang sedang kubaca.

Keheningan yang ada tiba-tiba dipecahkan oleh suara riuh beberapa orang wanita yang baru tiba dan mengambil tempat duduk tidak jauh dari tempatku duduk. Suaranya keras betul, kataku dalam hati.

Kuteruskan membaca buku Dan Brown – The Lost Symbol – yang memang lagi seru-serunya, ketika profesor Robert sedang diburu oleh agen CIA. Aku kembali tenggelam dalam keasikanku sendiri. Namun suara-suara para wanita yang baru datang itu membuyarkan konsentrasiku.

“Wah sekarang pake BB -Black Berry- ya?”

“Iya, sengaja aku minta suamiku untuk beliin”

“Biar bisa BBM -Black Berry Messengers- terus-terusan sama yayang ya . “.

“Koq tau?, emang bener sih, pacar lamaku belum lama menghubungi aku lagi. Gara-garanya sih karena ikutan FB-an -Face Book- teman-teman lama. Dia jadi suka kirim pesan di hp-ku. Nah kan kalau pakai BB jadi lebih murah ‘’. Celoteh wanita yang berbaju biru dengan riang.

‘Eh hati-hati loh nanti ketahuan suami, dianya bisa marah tuh’

‘Ya jangan sampai ketahuan dong. . . tapi sebetulnya sih ngga ngomongin apa-apa. Cuma kirim kata-kata biasanya aja, misalnya selamat pagi cantik, udah makan belum . .atau kalau siang-siang dia bisa sms . .jangan lupa makan ya cantik nanti sakit loh kalau makan terlambat. Biasa aja kan?

‘Emang sih biasa aja, tapi kenapa perlu sampai segitunya mengharapkan dapat sms dari dia?’

‘Duh ga tahu ya, rasanya hati girang banget kalau dapat sms dari dia. Terus kalau habis balas sms maunya nungguin sms balasannya. Bisa sebentar-sebentar lihat hp seperti orang bingung.’

“Nih lihat deh, doi lagi ada di Café ngopi sama teman-temannya . . .tuh kan sekarang lagi mau jalan lagi, mau ketemuin pelanggannya . . .dia ngapain aja selalu kasih tau aku ‘ nada suara si banju biru terdengar begitu gembira.

Aku tersenyum dari balik buku yang sedang kubaca. Orang yang sedang merasa diperhatikan, disanjung, dibelai hatinya selalu merasa bahagia.
Penasaran, agar dapat lebih jelas mengamati mereka, kuturunkan sedikit buku yang sedang kubaca. Ternyata mereka sekelompok ibu-ibu muda yang cantik-cantik. Ada lima orang persisnya. Dari penampilan yang terlihat, aksesoris yang dipakai, merk tas yang dibawa bahkan merk handphone yang diletakkan diatas meja, aku menilai mereka berasal dari keluarga yang cukup berada. Usia mereka kutaksir belum sampai kepala empat. Rasanya belum pantas bila disebut sedang mengalami puber kedua.

Pernah kubaca, tapi aku lupa di mana, banyak sekali perselingkuhan terjadi melalui pesan-pesan singkat di handphone. Banyak pula keluarga-keluarga bertengkar dan mengakibatkan perceraian. Misalnya istri yang mengetahui suaminya menerima pesan-pesan singkat mesra dari wanita lain, menjadi marah karena merasa dihianati. Pertengkaran tidak dapat dihindari. Ada pula suami yang secara tidak sengaja menemukan pesan-pesan singkat mesra di handphone istrinya, kemudian bertengkar dan berakibat fatal yaitu hancurnya perkawinan yang telah mereka bina selama ini.

Sebagian orang mengatakan selama hanya berupa kata-kata maka tidak akan menjadi masalah. Kan cuma sebatas kata-kata di handphone jadi tidak berbahaya. Masalahnya pernahkah terpikirkan akibat yang akan terjadi dari pesan-pesan singkat itu. Pesan-pesan singkat seperti itu yang kemudian akan mengatur suasana hati dari hari kehari. Misalkan hari ini aku mendapatkan pesan singkat dari si dia maka hariku menjadi secerah matahari pagi. Aku merasa bahagia. Aku melakukan segala hal dengan kegembiraan luar biasa. Bahkan aku akan berlaku luarbiasa sabar. Sebaliknya bila aku tidak menerima pesan tersebut atau pesanku terlambat dibalas maka aku menjadi gelisah. Aku merasa tidak mempunyai gairah untuk melakukan apapun juga. Aku menjadi tidak sabar dan aku terus menerus memperhatikan telepon genggamku. Langit serasa berubah menjadi kelabu.

Ada juga yang berpendapat selama masih bisa mengendalikan diri dan tidak melakukan perbuatan lebih lagi maka masih dalam batas wajar. Dengan adanya hal-hal seperti itu dapat membuat hidup menjadi lebih bergairah.
Dapat memacu diri untuk lebih semangat lagi dalam menjalani hari-hari yang memang dirasakan mulai jenuh. Kejenuhan yang memang harus dihadapi dalam kehidupan berkeluarga. Persoalan-persoalan yang rasanya tidak mau pergi. Perhatian yang berkurang dan banyak lagi.

Setiap orang tentu mempunyai batas pengendalian diri masing-masing, sejauh mana batas berbahaya baginya hanya dirinya sendiri yang tahu. Menurutku lebih baik jangan mulai dengan coba-coba untuk segala hal yang sifatnya mendatangkan kenikmatan sesaat. Sama seperti orang yang pertama kali mencoba menggunakan narkoba, mulanya biasa saja namun lama-lama tanpa terasa diri akan menagih lagi kenikmataan sesaat yang dirasakan. Bisa nagih lagi, lagi dan lagi. Lalu yang terjadi adalah mereka menjadi lupa diri karena tingkat kenikmatan yang terus bertambah dan sulit untuk ditolak.

Bukan berarti orang tidak dapat memperbaiki diri dan berubah. Betul sekali. Seperti orang yang kecanduan tadi, bisa saja dia menyesal dan kemudian menjadi baik, tidak menjadi pecandu lagi. Tetapi penyesalan itu tidak sepadan dengan kerusakan hati dan perasaan pada orang-orang yang ada disekelilingnya. Biasanya yang paling terluka adalah orang-orang yang paling dekat di hati, yang paling dicintai.

Jadi sesungguhnya yang dapat menjadi rem yang pakem agar manusia itu sadar apa yang boleh atau tidak boleh, baik atau buruk, pantas atau tidak pantas bahkan harus atau tidak harus itu sebenarnya apa ya. Agama? Menurutku tidak juga. Banyak orang yang kelihatan beragama bahkan menjadi pemuka agama kelakuannya nol besar. Tekanan-tekanan sosial dari lingkungan juga tidak membantu. Bisa dibilang, ini urusanku bukan urusanmu. Mungkin kalau manusia sudah berhadapan dengan dirinya sendiri dan mengenal dirinya, ia baru dapat menundukkan ke-aku-annya. Atau ada hal lain yang tak terlihat yang bertindak sebagai pagar batas?

Akh aku sudah melamun terlalu jauh. Aku tidak kenal mereka, aku juga tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya dapat mengatakan, manusia bila sedang dalam keadaan kasmaran seperti itu, semua argumentasi apapun menjadi tumpul. Lagi pula biarlah mereka belajar dari kesalahannya sendiri. Bukankah manusia mempunyai kehendak bebas untuk memilih kemana dirinya akan melangkah?

Yuk, mending lanjutin baca bukunya. Sampai dimana tadi ya . . . . . . .

Posted in Grace Ekanegara

Sahabat Sejiwa

No Comments »

February 12th, 2010 Posted 5:02 pm

SAHABAT SEJIWA

Disebuah kursi pesawat udara yang kutumpangi dalam suatu penerbangan panjang, aku membolak balikan tubuhku. Aku mencoba untuk tidur sejenak dan menenangkan pikiranku. Bahkan aku sudah menelan pil Antimo dengan pengharapan agar aku dapat jatuh tertidur selama perjalanan ini. Kegelisahan yang menyergapku ternyata lebih kuat . Ya, aku gelisah mereka-reka seperti apa pertemuan yang akan terjadi nanti. Tentang apa yang akan kukatakan ketika kita bertemu, perasaan-perasaan yang kira-kira akan bergejolak hingga pikiran yang bertanya adakah ia masih seperti dulu. Adakah kami masih mempunyai perasaan-perasaan seperti dulu.

Sesungguhnya adiknyalah yang pertama kali menjadi temanku. Kami menjadi baik dan akhirnya keluargaku dan keluarganya pun saling berkenalan. Aku juga sudah tidak ingat bagaimana mulanya aku menjadi lebih akrab dengan kakak perempuannya ini. Mugkin karena aku tidak mempunyai kakak sehingga bila bersamanya aku merasa disayang atau karena sifat kami sama sehingga omongan kami nyambung bahkan kata-kata seringkali tidak lagi kami perlukan untuk mengutarakan pikiran-pikiran kami. Tapi itu sudah lama sekali.

Hampir tigapuluh tahun sudah ia mengikuti suaminya pergi dan tinggal dibelahan dunia yang lain, di negara lain. Selama kurun waktu itu kami hanya bertemu tiga kali dan setahun dua kali bercakap-cakap lewat telepon. Biasanya pada hari ulang tahun salah satu dari kami. Cerita yang diutarakan hanyalah cerita-cerita ringan seputar keluarga. Apa dan siapa yang sakit, promosi, pensiun atau kesibukan dalam pekerjaan yang banyak menyita waktu. Tidak ada kata-kata atau cerita yang melibatkan emosi, semua terkesan datar dan biasa-biasa saja. Seakan-akan kami menjadi dua orang kenalan yang sedang berbagi informasi dan berusaha saling menjajaki satu sama lain. Akh . . . .

Serasa aku terus menghitung tiap detik yang dilalui dalam kegelisahan pikiranku hingga akhirnya pesawat mendarat dengan mulus. Dengan perasaan tidak menentu aku turut mengantri dalam antrian panjang untuk melalui pemeriksaan yang ketat hingga akhirnya semua urusan dokumen terselesaikan.

Aku menyalakan telepon genggamku dan segera kulihat pesan singkatnya bahwa ia akan datang sedikit terlambat karena ada pertemuan mendadak dikantornya. Dia juga memintaku menunggu di luar pintu kedatangan nomor 2 agar ia tidak perlu lagi memarkir mobil.

Kudorong kereta yang berisi koper kecilku keluar pintu kedatangan nomor 2 seperti yang diinstruksikan. Dan brrr . . .segera angin dingin menerpa wajahku. Untung aku sudah mempersiapkan diri dengan memakai mantel cukup tebal. Dalam udara dingin aku membiarkan pikiranku terus sibuk bertanya kira-kira apa yang akan terjadi nanti.

Cukup lama aku duduk menunggu ketika tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna coklat metalik gelap mendekat. Dari jendela mobil yang terbuka terdengar teriakan dengan suara khasnya :”kelamaan nunggu ya, udah jadi es batu belum??? . . .” Bruk, bruk terdengar pintu mobil tergesa dibuka. Segera ia berdiri dihadapanku dengan senyum merekah lalu kami berpelukan. Celoteh riang ciri khasnya segera memenuhi telinga, perlahan tapi pasti melambungkan kegembiraan dalam jiwa.

Dalam perjalanan selama empatpuluh lima menit dari airport menuju kerumahnya kami saling bertukar berita. Sesekali saling mengolok tentang tubuh yang kelihatan tambah montok, rambut yang sudah mulai menipis, mata yang tambah lamur dan masih banyak lagi. Masih dalam batas-batas penjajakan. Perlahan tapi pasti rasa hangat mulai menjalar dihati.

Baru setelah beberapa hari bersama-sama, ikatan-ikatan yang tak terlihat diantara kami mulai bermunculan. Ikatan-ikatan yang juga tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata bahkan barangkali tidak sepenuhnya kami sadari. Hal-hal kecil yang membuat kami selalu merasa nyaman bila bersama. Misalnya ketika kami pergi berbelanja hampir setiap kali kami memilih barang yang sama. Bila memilih pakaian salah satu dari kami selalu berkata dengan yakin, elo pilih yang hijaukan? Dan dugaan itu 90% benar. Atau bahkan ketika kami mempunyai pikiran-pikiran iseng mengenai seseorang yang kami temui dijalan, kami cukup saling melempar pandang dan pastinya diikuti dengan suara tawa kami bersamaan. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Sttt, . . . . bahkan ia juga mempunyai baju tidur yang sama seperti yang aku bawa, padahal kami tidak janjian ketika membelinya. Suatu kebetulan-kebetulan yang manis.

Seorang teman pernah bertanya dengan heran mengapa aku suka sekali pergi ke negara tempat tinggal sahabatku itu. Bahkan bila kemudian aku berkunjung kesana aku lebih suka menghabiskan waktuku dirumahnya. Menurut hemat temanku itu mestinya aku dapat mengisi waktu dengan pergi mengunjungi tempat-tempat yang memang belum pernah aku kunjungi dan bukan menghabiskan waktu dirumah saja. Jarang ada kesempatan seperti itu katanya beragumentasi.

Mungkin memang benar seharusnya itu yang aku lakukan, tapi aku lebih suka menghabiskan waktuku bersamanya dan menikmati kebersamaan kami. Untukku menunggu saat sahabatku pulang dari kantor setiap hari merupakan kegembiraan tersendiri karena setelahnya kami dapat menonton tv bersama, mengomentari ini itu, mempersiapkan bahan makan malam bersama, bahkan sekedar duduk bersebelahan tanpa kata-kata. Aku masih suka tidur bergelung disisinya diatas sofa ketika kami nonton tv. Bahkan pernah pula kami berdua tertidur di sofa sementara tv masih menyala, tak tahu lagi apa yang kami bicarakan atau kami tonton hehehe . . . Dia juga masih cerewet mengatur kesehatanku seperti dulu.

Ketika kami bersama, kata-kata menjadi tidak ada artinya bila dibandingkan perasaan yang melingkupi, mengetahui bahwa kita ada bersama. Sahabatku dan aku membagikan cerita kehidupan yang kami lalui dengan cara kami sendiri. Lembah gelap, jalan curam, tikungan tajam yang pernah dilalui tidak membutuhkan cerita lengkap dalam ungkapan penuh kata-kata dan derai air mata. Tatapan mata berkabut, elusan lembut dikepala, tepukan ringan pada bahu sudah sanggup mengangkat beban yang ada dan membagikan rasa, aku mengerti. Kalau mau lebih diperhatikan lagi, kami lebih banyak berkomunikasi lewat perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran kami.

Perasaan dicintai tanpa syarat, diterima apa adanya dan dimengerti membuat hati terasa teduh dan hangat sehingga yang lain menjadi kurang menarik lagi. Perasaan-perasaan yang kemudian menjadi ikatan-ikatan yang tak terlihat tapi ada. Mungkin itu yang membuat aku betah berlama-lama didekatnya. Mungkin juga itu yang dinamakan sahabat sejiwa.

Akh, aku jadi tidak sabar menunggu kesempatan untuk dapat meluangkan waktu bersama sahabatku itu lagi. Duduk bersama dalam diam memperhatikan daun-daun pohon yang berguguran dan tupai yang belarian kian kemari. Menikmati angin dingin yang membelai wajah. Ditemani sebuah buku dan segelas kopi panas yang masih mengepul.

Namun untuk sementara ini aku harus puas dengan memeluk engkau dalam hatiku, penuh dengan ucapan syukur karena aku punya engkau. Dan karena menyadari bahwa jarak dan waktu tidak mengubah perasaan-perasaan yang ada. Dan aku juga tahu walaupun engkau jauh disana engkau juga mempunyai dan turut merasakan perasaan yang sama.

Happy Valentine Sahabat Sejiwaku . . . . . .

Posted in Grace Ekanegara

←Older