<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Yuk Nulis! &#187; Grace Ekanegara</title>
	<atom:link href="http://yuknulis.com/category/grace-ekanegara/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yuknulis.com</link>
	<description>Khusus untuk mewadahi penulis-penulis PEMULA yang ingin belajar nulis, bukan jurnalis aktif, dan sudah melahirkan buku.</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 18:16:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Putraku milik-Mu</title>
		<link>http://www.facebook.com/note.php?note_id=304056969876</link>
		<comments>http://www.facebook.com/note.php?note_id=304056969876#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 02:53:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Grace Ekanegara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Grace Ekanegara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.facebook.com/note.php?note_id=304056969876</guid>
		<description><![CDATA[Putraku milik-Mu


Hari ini seseorang telah mendandani aku, memakaikan pakaian bagus, menyisiri rambutku dan memakaikan sedikit parfum kesukaanku. Lalu seperti biasanya aku dituntunnya untuk duduk dikursi kesayanganku. Dihadapan meja tulis yang menghad...]]></description>
		<wfw:commentRss>http://yuknulis.com/grace-ekanegara/putraku-milik-mu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Intermezo Siang Hari</title>
		<link>http://www.facebook.com/note.php?note_id=309796459876</link>
		<comments>http://www.facebook.com/note.php?note_id=309796459876#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 04:59:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Grace Ekanegara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Grace Ekanegara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.facebook.com/note.php?note_id=309796459876</guid>
		<description><![CDATA[Intermezo siang hari . . . . 


Aku melangkahkan kaki ke dalam sebuah café tempat aku dan teman-temanku biasa berkumpul. Harum aroma kopi menyambutku. 

“Sendirian?” Tanya pemilik café yang merangkap menjadi juru masak.

“Iya, lagi iseng di rumah”. Jawabku.

Segera aku menuju tempat duduk favoritku. Sofa dipojok berbataskan jendela kaca sehingga dapat melihat keluar ruangan. Tidak lama pelayan yang juga sudah mengenalku, mengantarkan segelas besar es kapucino dan sepiring pisang goreng panas. Ditanganku ada buku yang belum habis kubaca. Memang tujuanku ke café ini adalah untuk membaca buku sambil tentunya menyeruput kopi serta makan pisang goreng.

Aku suka tempat ini. Suasana yang nyaman, suara musik jazz yang lamat-lamat terdengar, aroma harum kopi diseluruh ruangan serta pelayan yang ramah dan kekeluargaan membuat aku betah bertamu ketempat ini.
Aku menyeruput es kapucino dan mengambil sepotong pisang goreng dan segera tengelam dalam buku yang sedang kubaca.

Keheningan yang ada tiba-tiba dipecahkan oleh suara riuh beberapa orang wanita yang baru tiba dan mengambil tempat duduk tidak jauh dari tempatku duduk. Suaranya keras betul, kataku dalam hati.

Kuteruskan membaca buku Dan Brown – The Lost Symbol - yang memang lagi seru-serunya, ketika profesor Robert sedang diburu oleh agen CIA. Aku kembali tenggelam dalam keasikanku sendiri.  Namun suara-suara para wanita yang baru datang itu membuyarkan konsentrasiku.  
 
“Wah sekarang pake BB <i>-Black Berry-</i> ya?”

“Iya, sengaja aku minta suamiku untuk beliin”

“Biar bisa BBM <i>-Black Berry Messengers-</i> terus-terusan sama yayang ya . “.

“Koq tau?, emang bener sih, pacar lamaku belum lama menghubungi aku lagi. Gara-garanya sih karena ikutan FB-an <i>-Face Book-</i> teman-teman lama. Dia jadi suka kirim pesan di <i>hp</i>-ku. Nah kan kalau pakai BB jadi lebih murah ‘’. Celoteh wanita yang berbaju biru dengan riang.

‘Eh hati-hati loh nanti ketahuan suami, dianya bisa marah tuh’

‘Ya jangan sampai ketahuan dong. . . tapi sebetulnya sih ngga ngomongin apa-apa. Cuma kirim kata-kata biasanya aja, misalnya selamat pagi cantik, udah makan belum . .atau kalau siang-siang dia bisa <i>sms</i> . .jangan lupa makan ya cantik nanti sakit loh kalau makan terlambat.  Biasa aja kan? 

‘Emang sih biasa aja, tapi kenapa perlu sampai segitunya mengharapkan dapat <i>sms</i> dari dia?’

‘Duh ga tahu ya, rasanya hati girang banget kalau dapat sms dari dia. Terus kalau habis balas sms maunya nungguin sms balasannya. Bisa sebentar-sebentar lihat <i>hp</i> seperti orang bingung.’

“Nih lihat deh, doi lagi ada di Café ngopi sama teman-temannya . . .tuh kan sekarang lagi mau jalan lagi, mau ketemuin pelanggannya . . .dia ngapain aja selalu kasih tau aku ‘ nada suara si banju biru terdengar begitu gembira. 

Aku tersenyum dari balik buku yang sedang kubaca. Orang yang sedang merasa diperhatikan, disanjung, dibelai hatinya selalu merasa bahagia. 
Penasaran, agar dapat lebih jelas mengamati mereka, kuturunkan sedikit buku yang sedang kubaca. Ternyata mereka sekelompok ibu-ibu muda yang cantik-cantik. Ada lima orang persisnya. Dari penampilan yang terlihat, aksesoris yang dipakai, merk tas yang dibawa bahkan merk handphone yang diletakkan diatas meja, aku menilai mereka berasal dari keluarga yang cukup berada. Usia mereka kutaksir belum sampai kepala empat. Rasanya belum pantas bila disebut sedang mengalami puber kedua.

Pernah kubaca, tapi aku lupa di mana, banyak sekali perselingkuhan terjadi melalui pesan-pesan singkat di<i> handphone</i>. Banyak pula keluarga-keluarga bertengkar dan mengakibatkan perceraian. Misalnya istri yang mengetahui suaminya menerima pesan-pesan singkat mesra dari wanita lain, menjadi marah karena merasa dihianati. Pertengkaran tidak dapat dihindari. Ada pula suami yang secara tidak sengaja menemukan pesan-pesan singkat mesra di <i>handphone</i> istrinya, kemudian bertengkar dan berakibat fatal yaitu hancurnya perkawinan yang telah mereka bina selama ini.

Sebagian orang mengatakan selama hanya berupa kata-kata maka tidak akan menjadi masalah. Kan cuma sebatas kata-kata di <i>handphone</i> jadi tidak berbahaya. Masalahnya pernahkah terpikirkan akibat yang akan terjadi dari pesan-pesan singkat itu. Pesan-pesan singkat seperti itu yang kemudian akan mengatur suasana hati dari hari kehari. Misalkan hari ini aku mendapatkan pesan singkat dari si dia maka hariku menjadi secerah matahari pagi. Aku merasa bahagia. Aku melakukan segala hal dengan kegembiraan luar biasa. Bahkan aku akan berlaku luarbiasa sabar. Sebaliknya bila aku tidak menerima pesan tersebut atau pesanku terlambat dibalas maka aku menjadi gelisah. Aku merasa tidak mempunyai gairah untuk melakukan apapun juga. Aku menjadi tidak sabar dan aku terus menerus memperhatikan telepon genggamku. Langit serasa berubah menjadi kelabu.

Ada juga yang berpendapat selama masih bisa mengendalikan diri dan tidak melakukan perbuatan lebih lagi maka masih dalam batas wajar. Dengan adanya hal-hal seperti itu dapat membuat hidup menjadi lebih bergairah.
Dapat memacu diri untuk lebih semangat lagi dalam menjalani hari-hari yang memang dirasakan mulai jenuh. Kejenuhan yang memang harus dihadapi dalam kehidupan berkeluarga. Persoalan-persoalan yang rasanya tidak mau pergi. Perhatian yang berkurang dan banyak lagi.

Setiap orang tentu mempunyai batas pengendalian diri masing-masing, sejauh mana batas berbahaya baginya hanya dirinya sendiri yang tahu. Menurutku lebih baik jangan mulai dengan coba-coba untuk segala hal yang sifatnya mendatangkan kenikmatan sesaat. Sama seperti orang yang pertama kali mencoba menggunakan narkoba, mulanya biasa saja namun lama-lama tanpa terasa diri akan menagih lagi kenikmataan sesaat yang dirasakan. Bisa nagih lagi, lagi dan lagi. Lalu yang terjadi adalah mereka menjadi lupa diri karena tingkat kenikmatan yang terus bertambah dan sulit untuk ditolak. 

Bukan berarti orang tidak dapat memperbaiki diri dan berubah. Betul sekali. Seperti orang yang kecanduan tadi, bisa saja dia menyesal dan kemudian menjadi baik, tidak menjadi pecandu lagi. Tetapi penyesalan itu tidak sepadan dengan kerusakan hati dan perasaan pada orang-orang yang ada disekelilingnya. Biasanya yang paling terluka adalah orang-orang yang paling dekat di hati, yang paling dicintai.

Jadi sesungguhnya yang dapat menjadi rem yang pakem agar manusia itu sadar apa yang boleh atau tidak boleh, baik atau buruk, pantas atau tidak pantas bahkan harus atau tidak harus itu sebenarnya apa ya. Agama? Menurutku tidak juga. Banyak orang yang kelihatan beragama bahkan menjadi pemuka agama kelakuannya nol besar. Tekanan-tekanan sosial dari lingkungan juga tidak membantu. Bisa dibilang, ini urusanku bukan urusanmu.  Mungkin kalau manusia sudah berhadapan dengan dirinya sendiri dan mengenal dirinya, ia baru dapat menundukkan ke<i>-aku-</i>annya. Atau ada hal lain yang tak terlihat yang bertindak sebagai pagar batas?

Akh aku sudah melamun terlalu jauh. Aku tidak kenal mereka, aku juga tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya dapat mengatakan, manusia bila sedang dalam keadaan kasmaran seperti itu, semua argumentasi apapun menjadi tumpul. Lagi pula biarlah mereka belajar dari kesalahannya sendiri. Bukankah manusia mempunyai kehendak bebas untuk memilih kemana dirinya akan melangkah?

Yuk, mending lanjutin baca bukunya. Sampai dimana tadi ya . . . . . . .]]></description>
		<wfw:commentRss>http://yuknulis.com/grace-ekanegara/intermezo-siang-hari/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SAHABAT SEJIWA</title>
		<link>http://yuknulis.com/grace-ekanegara/sahabat-sejiwa</link>
		<comments>http://yuknulis.com/grace-ekanegara/sahabat-sejiwa#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 08:27:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Grace Ekanegara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Grace Ekanegara]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Valentine]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yuknulis.com/?p=61996</guid>
		<description><![CDATA[(Grace Ekanegara) Disebuah kursi pesawat udara yang kutumpangi dalam suatu penerbangan panjang, aku membolak balikan tubuhku. Aku mencoba untuk tidur sejenak dan menenangkan pikiranku. Bahkan aku sudah menelan pil Antimo dengan pengharapan agar aku dapat jatuh tertidur selama perjalanan ini. Kegelisahan yang menyergapku ternyata lebih kuat . Ya, aku gelisah mereka-reka seperti apa pertemuan yang [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://yuknulis.com/grace-ekanegara/sahabat-sejiwa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kado Istimewa . . .</title>
		<link>http://www.facebook.com/note.php?note_id=273081769876</link>
		<comments>http://www.facebook.com/note.php?note_id=273081769876#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 15:58:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Grace Ekanegara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Grace Ekanegara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.facebook.com/note.php?note_id=273081769876</guid>
		<description><![CDATA[KADO ISTIMEWA . . . .


Harapanku pada diriku sendiri untuk tahun ini adalah mengikuti misa pagi paling tidak seminggu sekali pada hari biasa. Maksudku bukan hari minggu yang merupakan hari wajib, melainkan satu hari diantara hari senin sampai dengan jumat pagi. Karena misa pagi dimulai pada pukul 6 tepat,  persiapan yang perlu sudah kulakukan. Misalnya memasang  alarm jam dikamarku pada pukul 5 pagi. Dan karena letak rumah dan gereja yang akan kukunjungi tidak begitu jauh, aku hanya butuh lima belas menit berjalan kaki untuk sampai disana.  Jadi pasti tidak terlambat.

Sudah sejak senin kemarin aku memasang alarm agar terbangun pada pukul 5 pagi, tetapi yang terjadi adalah aku memang terbangun, mematikan alarm lalu tidur lagi. Tapi hari ini tak tahu mengapa aku terbangun dengan segar bahkan sebelum alarm berbunyi. Jadi tadi pagi sebelum misa dimulai aku sudah duduk manis di gereja.

Bukan untuk pertama kalinya aku mengikuti misa pagi sehingga aku tahu betul bahwa hampir tidak pernah ada  koor ataupun vokal group yang menyanyi untuk mengiringi misa pagi hari. Pada misa pagi untuk hari minggu saja jarang,  apa lagi pada hari-hari biasa seperti ini. Dengan agak heran aku melihat ada beberapa orang penyanyi dari vokal group Grisela, yang cukup terkenal di lingkunganku,.sedang bersiap-siap menyanyikan lagu pembuka. 

Tepat pukul 6.00 pagi, setelah doa Malaikat Tuhan, mengalunlah suara bening ketiga orang anggota kelompok vokal group Grisela. Dan dengan diiringi alunan organ mereka menyanyikan lagu pembuka:

<i>Kedepan altar aku melangkah
Seraya bermadah gembira ria
Hari yang bahagia,
Hari yang mulia,
Hari yang penuh kenangan
Reff : Tuhan berkenan pada yang hina
           Seumur hidup aku akan jadi abdi-Nya.</i>

Tak tahu mengapa kata-kata dalam lagu itu meyentuh hatiku. Lagu ini memang bukan lagu biasa tapi lagu khusus untuk para imam. Dinyanyikan ketika mereka berjanji setia untuk menjadi mempelai Kristus. Dan ternyata hari ini imam yang memimpin misa pagi merayakan hari ulang tahun imamatnya yang ke duapuluh delapan. Sehingga lagu tersebut dinyanyikan kembali.

Seperti film yang diputar dihadapanku, aku diingatkan saat para pengantin melangkah kedepan altar untuk menerima sakramen perkawinan. Mereka pasti melangkah dengan bermadah gembira ria sebab hari dimana mereka menerima sakramen perkawinan merupakan hari yang bahagia. Hari yang telah mereka nantikan-nantikan untuk menyongsong masa depan, mengharungi hidup bersama. Hari yang mulia karena saat itu Tuhan hadir bagi mereka dan mereka berjanji dihadapan-Nya bahwa mereka akan saling setia dalam keadaan apapun juga sampai mereka kemudian menjadi tua dan kembali menjadi debu. Tentu merupakan hari yang penuh dengan kenangan, pastinya semua kenangan indah yang akan diceritakan pada anak-cucu dan akan tetap diingat lama kemudian.

Aku jadi teringat akan teman-temanku. Teman-teman yang masih muda dan usianya terpaut jauh denganku. Juga teman-teman seusia dan yang usianya tidak jauh berbeda. Terutama teman-teman yang sedang mengalami masalah dalam kehidupan perkawinan mereka. Aku tidak habis mengerti, kalau mau jujur – aku tidak mau mengerti, mengapa harus menyerah pada masa-masa sulit dalam perkawinan dan berujung pada perceraian. Mengapa tidak bertahan sedikit lagi, sebentar lagi  . . . . . 

Tak tertahankan, air mataku pun mulai mengalir perlahan. Sudah sejak beberapa waktu lamanya aku merefleksikan hidupku sendiri. Kalau aku dan suamiku masih bersama hingga hari ini, maka itu semata-mata karena anugrah-Nya yang luar biasa. Karena kami percaya bahwa kami telah berjanji pada-Nya pada hari yang bahagia, hari yang mulia, hari yang penuh kenangan itu. Bukan, bukan berarti kehidupan perkawinanku mulus-mulus saja seperti orang-orang lain yang beruntung dalam menjalani hidup ini. Tidaklah demikian. Kami pernah terjerumus kedalam jurang yang terjal, dalam dan gelap. Tikungan-tikungan tajam dan mematikan juga kami lalui. Kami pernah berlari, terjerembap, bersembunyi. Kami juga pernah ingin menyerah, sama seperti yang lain. 

Barangkali yang menjadi kekuatan bertahan adalah cinta-Nya pada kami. Kalau diingat lagi, banyak sekali malaikat-malaikat tanpa sayap dikirimkan oleh-Nya untuk menemani kami dalam menjalani masa-masa itu. Sehingga pengharapan yang terkubur jauh dalam lubuk hati kami akan janji-janji-Nya, walaupun hanya berkelap kelip dalam pijar cahaya lilin yang samar, mampu bertahan. Apa lagi ketika seorang romo berkata, kita selalu berkata kami telah memanggul salib kami mengikuti Engkau, tetapi hanya sampai memanggul saja, tidak turut tersalibkan bersama Dia. Jadi kami belajar menyalibkan diri kami, ego kami. Terutama ego-ku.

Air mata semakin deras mengalir. Aku tidak berani mengangkat wajah, takut orang yang duduk didekatku melihat wajahku yang penuh dengan airmata. Dengan sedih dan malu aku mengakui bahwa seringkali aku merasa putus asa, merasa tidak sanggup untuk menjalani hidup lebih lama lagi. Bahkan sebagai teman, aku merasa tidak mampu memberi bantuan apapun juga bagi teman-temanku. Aku tidak dapat memberikan janji yang pasti bahwa semuanya akan segera menjadi baik. Bahwa selalu akan ada pelangi setelah hujan. Aku takut. Namun aku pernah dan telah berjanji pada-Mu bahwa aku akan berusaha sungguh untuk menjadi teman seperjalanan bagi teman-temanku dalam masa-masa sulit mereka. Engkau telah berkenan padaku orang yang hina ya Tuhan, dan hari ini aku memperbaharui janjiku pada-Mu, seumur hidupku aku akan menjadi abdi-Mu. Bisikku perlahan dan dalam isak tertahan.

Setelah misa selesai, aku masih tinggal agak lama. Duduk sendirian, menikmati saat-saat hening bersama Dia. Aku baru beranjak keluar dari gereja ketika tiba-tiba <i>hp</i>ku berbunyi tanda ada pesan yang masuk. Ternyata dari salah satu adik perempuan suamiku. Setengah bertanya dan dengan enggan kubaca pesannya yang berbunyi  HAPPY 25TH WEDDING ANNIVERSARY! Kubaca berulang kali dengan sedikit heran dan menghitung dalam hati, tanggal berapa sekarang ya?. Setelah beberapa saat aku baru sadar,  ya ampun, ternyata aku lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahun perkawinanku yang ke-25. 

Duh kembali mataku berkaca, aku memang dapat saja lupa tetapi Tuhan tidak pernah lupa. Hari yang istimewa ini, istimewa bagiku, terutama bagi-Nya, diberikan-Nya aku kado istimewa. Ungkapan-ungkapan cinta-Nya padaku. Mulai dari bangun pagi dengan segar, adanya vokal group pada misa biasa pagi hari, pilihan lagu yang dinyanyikan sampai dengan kilasan-kilasan ingatan peristiwa yang terjadi dalam hidupku. Bagaimana mungkin tidak kuamini kata-kata dalam lagu penutup tadi . ..<i> Besar anugrah-mu, berlimpah kasih-mu, semakin hari s’makin bertambah besar anugrah-Mu.</i>Terima kasih Tuhan.

*Hepi anivesari  Hubby . . . 
Pada hari Pesta 3 Raja]]></description>
		<wfw:commentRss>http://yuknulis.com/grace-ekanegara/kado-istimewa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi relawan??? . . .siapa takut!!!</title>
		<link>http://www.facebook.com/note.php?note_id=238414224876</link>
		<comments>http://www.facebook.com/note.php?note_id=238414224876#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 14:51:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Grace Ekanegara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Grace Ekanegara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.facebook.com/note.php?note_id=238414224876</guid>
		<description><![CDATA[1

<b>Beberapa bulan yang lalu.</b>

“Eh Grace, mau jadi relawan tidak?”

“Mau aja. . . .eh tapi emangnya jadi relawan itu ngapain aja sih? Aku tidak punya pengalaman menjadi relawan loh’’

‘’Pengalaman tidak begitu penting, yang harus di bawa adalah hati yang mau melakukan pekerjaan apa saja yang ada saat itu.’’

‘’Kerja apaan? Paling banter bagi-bagi makanan atau jadi kuli angkut’’.

‘’Yang paling utama kalau kita pergi ke tempat bencana adalah dapur umum. Biasanya mereka membutuhkan hal ini. Kamu bisa membantu membuka dapur umum bagi mereka’’.

“Yaelah masak? Ada yang lain tidak? Sudah deh aku kursus jadi perawat aja biar bisa bantu-bantu. Kalau masak bisa mati berdiri tuh . . kebayang tidak kalau seandainya aku masak nasi bisa jadi bubur ?” Hehehe . . 

Memasak bukanlah salah satu kegemaranku. Aku tidak suka memasak dan hanya melakukannya bila terpaksa itupun dengan catatan makanan yang aku masak cukupan rasanya. Yang pasti lumayan untuk dimakan. Kalau bisa aku memilih untuk membeli makanan di tempat lain daripada harus memasak sendiri. Jadi bila banyak orang membicarakan tentang masak memasak aku biasanya menghindar. Topik yang membuatku tidak percaya diri.

2

<b> Padang, 2 Oktober 2009</b>

Sekarang disinilah aku, duduk dalam gelap dengan bingung. Tidak tahu apa yang pertama harus kulakukan terlebih dahulu. Satu-satunya cahaya remang-remang yang ada, datang dari dalam gereja di mana diadakan misa Jumat Pertama malam ini.

Walaupun kawan-kawanku sering berkata, jangan takut untuk menjadi pencetus dapur umum, karena bukan kamu yang harus memasak makanan. Pasti akan ada para wanita setempat yang akan datang membantu. Yang harus dilakukan adalah menyediakan peralatan dan juga bahan mentahnya.
Tetap saja aku takut. Ini kali pertama aku menjadi relawan dan bertugas untuk membuka dapur umum. Aku tidak mempunyai gambaran apapun tentang tugas ini.

Seperti orang yang tidak bisa berenang langsung kecebur di kolam, itulah yang aku rasakan . Otakku beku rasanya, tidak mampu lagi berfikir. Aku takut tidak mampu melakukan apa yang diharapkan oleh teman-teman dan para donatur. Dalam hati aku berdoa kalang-kabut, semoga Tuhan mendengar doaku.

Tidak tahu dari mana datangnya, ketika tiba-tiba aku menyadari aku tidak duduk sendirian. Seorang ibu dengan anaknya telah menempati batu, yang merupakan tempat duduk, di sampingku. Kami duduk dalam diam beberapa saat lamanya, lalu aku memberanikan diri menyapa. Mulai dengan basa-basi tentang keadaan yang terjadi sampai akhirnya bagaimana membantu para korban.

‘’ Mestinya buka dapur umum kali ya’’ 
‘’ Iya, saya juga berpikiran demikian ‘’

Gayung pun bersambut. Aku mulai merasakan pengharapan yang bersinar hangat di hati. Kami berbicara cukup lama mengenai berbagai macam hal seputar dapur umum, dimana akan memasak, alat-alat dan bahan mentah yang diperlukan, makanan yang akan dimasak hingga siapa yang akan menyiapkan itu semua. Ketika misa selesai, kami pun bertukar nomor telepon genggam dengan janji besok akan saling menghubungi. 

3

Pastor Franco Qualizza sibuk membuka dapur pastoran yang sering digunakan oleh para ibu memasak makanan bila di gereja ada acara tertentu. Dengan semangat beliau mengajak kami untuk melihat keadaan dapur dan mengatakan bahwa kami dapat memakainya untuk kegiatan memasak bagi dapur umum.

Setelah melihat-lihat keadaan dapur tersebut, kami memutuskan untuk mulai belanja alat-alat keperluan memasak yang kurang dan diperlukan di dapur serta bahan-bahan mentahnya. Panci besar, sendok sayur, ember, tampah dan kertas pembungkus merupakan daftar barang teratas yang kami beli. Di pasar sayur kami membeli dalam jumlah banyak. Seakan-akan kami berbelanja untuk keperluan sebuah rumah makan.

Bukan, bukan aku yang memasak makanan itu semua. Beberapa ibu yang mengungsi ke pastoran dan ibu-ibu anggota lingkungan gereja langsung turun tangan tanpa perlu di komando duakali. Mereka mulai membantu di dapur menyiapkan segala keperluan untuk meramu semua bahan mentah menjadi makanan siap saji. Semua sibuk menangani bagiannya masing-masing. Celoteh riang dalam bahasa setempat juga terdengar sementara tangan sibuk mempersiapkan segala yang diperlukan.

4

Nasi bungkus pertama yang akan dibagikan berisi sepotong telur dadar, sepotong kecil ayam balado dan satu kantong plastik kecil berisi tumis sayuran.

Tersedia 65 nasi bungkus pada hari pertama kami membuka dapur umum yang dibagikan kepada para pengungsi di dan sekitar pastoran. Permintaan terus bertambah hingga 165 nasi bungkus untuk sekali masak dan dibagikan pula kepada orang-orang yang sedang menunggu para korban di rumah sakit Yos Sudarso. 

Dalam satu hari, para ibu di dapur umum memasak dua kali, sekali untuk makan siang dan sekali lagi untuk makan malam. Dan dengan dibantu oleh para muda mudi yang ada di gereja tersebut, mereka membagikannya pada yang membutuhkan.

5

<b>Saat ini</b>

Ternyata benar apa yang sering aku dengar bahwa Tuhan memerlukan manusia sebagai perpanjangan tangan-Nya untuk membantu banyak orang. Tidak diperlukan pikiran yang rumit ketika berkata, aku mau menjadi perpanjangan tangan kasih-Mu. Tidak juga logika yang mengkalkulasikan segala kemungkinan yang ada. Yang perlu hanya membawa hati yang dipenuhi keinginan untuk berkerja bagi kemuliaan-Nya. Ia akan mengatur selebihnya.

Bila suatu hari nanti ada lagi yang menawarkan padaku apakah mau menjadi relawan, maka aku akan menjawab dengan yakin . . .jadi relawan? . . siapa takut!!!


Grace
Pada : Hari Raya Penampakan Tuhan]]></description>
		<wfw:commentRss>http://yuknulis.com/grace-ekanegara/menjadi-relawan-siapa-takut/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembelajaran diri yang lain  . . .</title>
		<link>http://www.facebook.com/note.php?note_id=169380884876</link>
		<comments>http://www.facebook.com/note.php?note_id=169380884876#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 15:32:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Grace Ekanegara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Grace Ekanegara]]></category>
		<category><![CDATA[Pelayanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.facebook.com/note.php?note_id=169380884876</guid>
		<description><![CDATA[Aku teringat percakapan ku dengan seorang teman muda, Vico, beberapa waktu yang lalu.
Vico (V) : “Bu ikut baksos yuk hari minggu ini di cilincing . .mau ga?”
Aku (A) : “Ngapain disana? Dan perlu bawa apa aja?”
V : “Datang aja ngga perlu bawa apa-apa koq, ibu lihat aja tempatnya kan ibu belum pernah ke cilincing”.
A ; “Baksos koq ngga perlu ngapa-ngapain gimana sih kamu?”
V :”Sebetulnya sih kami ngadain pengobatan gratis bu, tapi sudah ada dokter dan obat-obatannya, terus ada juga pembagian sembako serta jualan baju layak pakai . . jadi ya ibu ngga perlu bawa apa2 lagi”.
A :”Betul nih ngga perlu apa2?”
V : “he he he . .ya kalau ada sih mau dokter yang bisa diajak keliling sebentar untuk periksa orang-orang tua yang sudah tidak bisa jalan lagi . . .tapi kalau ngga ada juga ngga apa-apa koq bu . . .datang aja deh.”

Dan akhirnya disinilah kami hari minggu itu, di salah satu pojokan kelurahan cilincing yang lumayan luas, kami - saya, Andrew berserta 2 orang kawannya Cika dan Rizka, bertemu orang-orang yang membuat hati terasa terduh dan mata berbinar karena merasakan kehangatan yang keluar dari hati. 

Ada ibu Hajjah Yenny – wanita menarik dengan gaya berbicara yang menawan berserta teman-temannya, dokter serta para perawat. Beliau menyempatkan diri untuk berbincang dan bercerita bagaimana beliau mengajar anak-anak dengan bahan seadanya terutama menanamkan budi perkerti yang sekarang sering dilupakan.

Ada pak Yohanes – yang  bercerita tentang kehidupan sekitar cilincing dan dengan tenang memperhatikan hiruk pikuk para pasien yang ingin diperiksa. Pak Yoh ini mengantar seorang tetangganya, ibu Ade berserta kedua putrinya. Salah satu putri ibu Ade ini ingin merayakan hari ulang tahunnya dengan memberikan bingkisan bagi orang-orang yang kurang mampu dengan memakai uang tabungannya sendiri.

Ada beberapa lagi yang aku lupa namanya. Mereka saling bahu membahu bekerja dalam suasana gembira. Tidak ada perbedaan, semua satu dalam semangat membagikan kasih yang mengalir dari hati setiap orang yang ada. Canda dan tawa riang terdengar bukan saja diantara para relawan tetapi juga diantara para penduduk yang datang, baik untuk berobat,  membeli baju-baju layak pakai yang dijual seribu rupiah perpotong atau mendapatkan jatah sembako yang dibagikan. Udara dipenuhi  aroma damai dan suka cita. 

Dengan membawa obat-obatan ringan, multivitamin, alat-alat pemeriksaan kesehatan, beberapa calon dokter muda dan dengan di pandu oleh Vico, kami pergi mengunjungi rumah-rumah orang-orang tua yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan.

Kunjungan ke rumah nenek Kartini, merupakan kunjungan paling berkesan. Karena letaknya agak jauh di dalam perkampungan, kami harus berjalan melalui tepian sungai <i> yang tentu saja penuh dengan sampah </i>, meniti jembatan yang hanya dapat dilalui satu orang dan terbuat dari papan dan bilah-bilah bambu, melalui gang-gang sempit diantara rumah-rumah berukuran 3x5 meter. 
Rumah-rumah mungil ini hampir seluruhnya terbuat dari tripleks, gedeg, bahkan beberapa ada juga yang semi permanen. Kebanyakan satu rumah di huni oleh satu keluarga yang berjumlah 3-5 orang. Tanpa ventilasi cukup dan  tanpa wc/kamar mandi. Segala aktifitas keseharian dilakukan di tepi sungai yang berwarna hitam dan penuh dengan sampah. Di rumah petak kecil itu pula mereka memasak hingga memelihara binatang. Hingga tidak heran bila mendapati ayampun berkeliaran di dalam rumah. Ketika kami berjalan melalui rumah-rumah tersebut tercium segala macam bau-bauan, campur aduk jadi satu. Kebersihan merupakan salah satu hal yang kurang dipahami di sini.  

Setelah berjalan cukup lama akhirnya kami tiba di rumah nenek Kartini. Nenek Katini tinggal seorang diri, rumah yang dihuni olehnya juga sama kecilnya. Dulu rumah ini terbuat dari karton-karton bekas, beratap plastik bekas dan hampir roboh. Lantainya juga dialasi oleh karton bekas dan bila diinjak akan mengeluarkan air hitam dari bawah. Bila musim hujan tiba, air hujan akan masuk kedalam dan membasahi seluruh rumah. Sekarang setelah mendapatkan bantuan dari relawan, menurut beliau menjadi sangat nyaman untuk ditinggali. Karena sekarang rumah itu setengahnya dibuat dari bata dan setengah dinding atasnya dari gedeg. Atapnya dari genting yang tentu tidak bocor lagi bila hujan. Lantainya pun sudah nyaman untuk diijak karena di lapisi semen. Yang juga membuat nenek Kartini bersyukur adalah rumahnya juga mempunyai wc/kamar mandi sendiri (lihat domuskaristatis.wordpress.com). 

Di dalam rumah mungilnya, tidak ada lemari pakaian. Pakaian yang ada bertumpuk di kaki tempat tidurnya dan diatasnya bergelung malas seekor kucing yang menjadi teman sehari-hari nenek Kartini. Selain si kucing kecil, beliau juga ditemani oleh sebuah televisi hitam putih 12”, yang menghasilkan gambar buram seperti banyak semutnya. Lumayan katanya untuk teman hiburan dan mengetahui berita sehari-hari. Untuk menerangi ruangan yang remang-remang itu ada sebuah bohlam hemat energy dari relawan.  Oh ya, listrik sudah ada walaupun aku tidak tahu dialirkan lewat mana.

Biarpun nenek Katini sudah tidak mampu berjalan lagi, beliau melakukan aktivitas sehari-hari sendiri. Misalnya dengan merangkak beliau pergi ke kamar mandi dan tetap memasak makanannya sendiri. Kegiatan memasak ini dilakukan di gang sempit depan rumahnya. Kompor minyak tanah yang digunakan untuk memasak bila menyala menimbulkan jelaga hitam di sekeliling rumah serta pada bawah dan tepi luar panci yang dipakai. Pancinya pun sudah tidak  jelas bentuk dan warnanya. Ketika kuintip isinya, hanya ada nasi yang sudah berupa bubur dan beberapa kacang polong diatasnya. Untuk minum mereka harus membeli air dari tukang-tukang air yang memang menjual air keperluan sehari-hari.

Potret kemiskinan di Jakarta sering kali kita lihat dari jauh. Kita turut prihatin bahkan membantu sebagai donatur bila ada relawan yang meminta sumbangan bagi mereka. Kita dengar dan kita lihat mereka melalui berita di surat kabar, radio dan televisi. Kita bahkan seringkali berinteraksi sejenak ketika  memberikan uang di lampu merah atau membagikan nasi bungkus kepada pengemis, pemulung atau tuna wisma. Melihat kehidupan mereka dari dekat rasanya jarang terjadi.

 “Kalau mau bantu orang jangan kasih ikannya, kasih pancingnya dong supaya mereka juga berusaha”, begitu kata seorang teman padaku. Hari itu, mengingat kata-kata tersebut membuat aku bertanya-tanya tidak mengerti. Bagaimana mungkin mereka bisa memancing bila tidak ada ikan yang dapat dipancing? Bagaimana mungkin mereka bekerja bila tidak ada yang mau mempekerjakan mereka, bagaimana mungkin mereka bisa pergi ke dokter dan membeli obat bila tidak punya uang untuk membayar itu semua. Sejuta bagaimana mungkin dapat dipertanyakan . . . . .  .

Memang benar bahwa mempunyai uang segudangpun tidak dapat membantu mereka semua. Tetapi juga benar bahwa membantu mereka bukan semata dengan uang. Hari itu, belajar dari para relawan yang memberikan tenaga mereka dengan suka cita, aku lebih menghayati bahwa dengan meluangkan sedikit waktu mengajar anak-anak cilincing membaca, membacakan buku-buku cerita yang berisi budi pekerti atau hanya sekedar cerita, menyapa mereka dengan senyum yang tulus, meluangkan sedikit waktu untuk mendengar yang terjadi disekeliling juga merupakan bantuan.

Pada dasarnya setiap orang diberikan talenta sendiri. Tergantung orang tersebut mempergunakannya untuk apa dan bagi siapa. Seperti ada tertulis, setiap orang pada akhirnya akan ditanya sudahkah engkau mempergunakan talenta yang diberikan padamu bagi kemuliaan-Nya? Sudahkan aku mengunakannya? Sudahkan kita menggunakannya? Satu hari berlalu dengan pembelajaran diri yang lain lagi.

]]></description>
		<wfw:commentRss>http://yuknulis.com/grace-ekanegara/pembelajaran-diri-yang-lain/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nonton Yuk . . . .</title>
		<link>http://www.facebook.com/note.php?note_id=161595864876</link>
		<comments>http://www.facebook.com/note.php?note_id=161595864876#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 15:55:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Grace Ekanegara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Grace Ekanegara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.facebook.com/note.php?note_id=161595864876</guid>
		<description><![CDATA[Nonton yuk . . . . 


Aku terbiasa kemana-mana sendiri. Seringkali teman-temanku merasa heran dengan kebiasaanku ini. Menurut mereka aneh karena mereka merasa tidak nyaman melakukannya sendirian. Misalnya pergi makan di food court sendirian, jalan-jalan ke luar kota sendirian bahkan yang membuat mereka seringkali menggelengkan kepala adalah nonton film di bioskop sendirian.

Menonton film adalah salah satu dari beberapa kegemaranku. Tentunya aku memilih nonton film yang ringan-ringan misalnya film komedi, bertemakan music dan terutama haruslah happy-ending. Secara pikiran aku sih, menonton itu sebagai hiburan jadi harusnya menyenangkan. 

Pernah kualami, dengan menonton sendiri aku mendapatkan teman baru. 
Kebetulan kami duduk bersebelahan. Aku datang lebih dahulu kemudian Lina yang datang sendiri, menempati kursi disebelahku. Kami mulai dengan bertukar senyum lalu basa-basi bertanya –sendirian juga? Saat itulah kami berkenalan dan aku tahu bahwa Lina juga tidak ragu untuk nonton bioskop sendiri. Hingga kinipun kami masih saling berkiriman SMS mengomentari film yang baru saja kami lihat. Senang rasanya punya teman baru yang mempunyai hobby yang sama. 

Kejadian bertemu lalu berkenalan dengan orang seperti Lina ini amat jarang terjadi, karena biasanya para penonton duduk berjauhan. Dan orang yang ada di dalam bioskop, nonton bersama dengan kami sedikit. Maklum nontonnya siang hari, jadi tentunya banyak orang yang sedang bekerja. Hanya orang-orang seperti akulah yang akan memilih nonton siang hari.

Siang tadi aku mempunyai pengalaman yang lain. Sama seperti biasa yang kulakukan, aku memutuskan untuk pergi nonton film FAME yang telah lama kutunggu sendirian. Aku suka film musik seperti ini, anak-anak muda yang penuh semangat dengan bakat masing-masing berusaha keras untuk meraih cita-cita mereka. Jam tayang pertama adalah jam 12.00 WIB. Satu jam sebelumnya setelah menyelesaikan segala urusan rumah tangga aku sudah ada di ruang tunggu bioskop. 

Tiket belum dapat dibeli karena menurut petugas pengaman yang ada para karyawan sedang ada briefing. Jadi akan mulai melayani jam 11.30WIB. Karena masih ada setengah jam, aku melihat-lihat iklan yang ada disepanjang dinding ruangan. Keadaan masih sepi, pengunjung seperti biasanya sedikit. Malah kalau mau dibilang hanya ada aku seorang saat itu.

Aku terkejut ketika tiba-tiba ada seorang bapak yang tanpa kuketahui sudah berada disampingku. Sudah paruhbaya juga, yang pasti sama seperti diriku, tidak lagi mempunyai kewajiban untuk bekerja di kantor atau menjaga toko pada jam seperti ini. Bajunya cukup rapih, ditangannya ada tas plastik berisi barang yang kelihatannya baru dibeli. Tanyanya: 

“Ruangan bioskopnya dimana ya?”
“Di sekeliling ini pak, kan ada 9 ruangan kalau tidak salah”.

Kesan pertamaku bapak ini cukup sopan dan agak lugu, jadi aku layani pertanyaan-pertanyaannya seputar mau nonton film apa, jam berapa,  tentang apa dan apa film yang menarik yang diputar siang ini. Kami terlibat percakapan ringan beberapa lama hingga akhirnya,

“Nonton dengan siapa?”
“Sendiri”, jawabku spontan tanpa rasa bersalah.

Ia menatapku setengah tidak percaya. Lalu dinilainya diriku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Menurutku penampilanku seperti biasanya, dengan pakaian kebangsaanku, T-shirt dan celana selutut. Tidak ada yang berlebihan. Namun karena ia melihatku dengan pandangan mata berbeda dari pertama kita bertemu, aku merasa ada yang salah disini. Benar saja, bapak yang kuanggap lugu itu ternyata tidak seperti penampilannya. Ia mulai pasang senyum dan aku menangkap sinar <i>coba-coba</i> dalam matanya. Aku langsung sadar dan mulai menangkap apa yang ada didalam pikirannya. 

“Saya temani nonton ya, jadi kan tidak sendirian”
“Terima kasih pak, saya tidak jadi nonton saja hari ini”, kataku sopan sambil <i>ngeloyor</i> pergi. 

Gimana sih tuh orang, tadi katanya mau nonton film horror tiba-tiba berubah pikiran. Memangnya aku anak kemarin sore yang tidak mengerti apa yang tersirat. Aku menggerutu dalam hati. 

Untuk menghindar dari bapak tersebut dan karena merasa masih mempunyai waktu agak lama, aku berjalan melihat-lihat toko-toko yang ada. Aku baru membeli tiket sepuluh menit sebelum film diputar, lalu segera masuk ke dalam ruang. Lega rasanya mendapati suasana nyaman seperti biasa kurasakan bila aku nonton sendiri, Terlebih lagi ketika aku melayangkan pandanganku keseluruh ruangan, aku tidak melihat tanda-tanda bapak tersebut ada diruangan yang sama.  

Selama iklan pendahuluan, aku sempat berfikir, sesungguhnya apa yang ada didalam pikiran bapak tersebut ya? Terkejut karena mengetahui ada perempuan yang berani nonton sendiri atau karena telah dimasukan gambaran buruk dalam otaknya tentang perempuan yang nonton sendiri sehingga iapun mulai <i>coba-coba</i>? Atau memang penampilan luarnya saja yang menipu.

Seandainya saja bapak tersebut tetap baik dan sopan serta aku tidak merasakan adanya keanehan, mungkin teman -hobby nonton sendiri- ku bertambah lagi satu. Atau mungkin pula tidak . . . . . . Yang pasti hal tersebut tidak akan menyurutkan hobbyku untuk nonton sendiri atau yuk siang-siang ada yang mau nonton bareng? . . . 



]]></description>
		<wfw:commentRss>http://yuknulis.com/grace-ekanegara/nonton-yuk/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pada hari aku belajar menjadi relawan</title>
		<link>http://www.facebook.com/note.php?note_id=156066279876</link>
		<comments>http://www.facebook.com/note.php?note_id=156066279876#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 03:38:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Grace Ekanegara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Grace Ekanegara]]></category>
		<category><![CDATA[Relawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.facebook.com/note.php?note_id=156066279876</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari aku menjadi relawan


Kamis malam 1 Oktober 2009

<i>*Yang mau jadi relawan, di harap standby. Tas kecil untuk menginap berisi keperluan secukupnya harus disiapkan dan selalu tersedia karena sewaktu-waktu dapat dipanggil dan langsung berangkat.*</i>

Begitu berita yang aku terima melalui email malam itu. Jadilah aku mulai menyiapkan tas kecil berisi keperluan sehari-hari. 

“Loh mau kemana?” tanya suamiku ketika dilihatnya aku sedang memasukan kaos kedalam tas.

“Kata Dr. Irene semua yang mau jadi relawan harus standby. Jadi bisa langsung berangkat bila ada instruksi”.

Aku melanjutkan berkemas tanpa mengerti apa arti menjadi relawan. Yang ada dalam pikiranku adalah aku akan bekerja menjalankan petunjuk yang diberikan oleh teman-temanku yang sudah berpengalaman menjadi relawan.


Jumat pagi 2 Oktober 2009

Pukul 07.00 WIB, aku melihat hp-ku. Ternyata ada 7 panggilan tak terjawab. Segera aku menelpon balik dan ternyata instruksi untuk segera berangkat ke bandara Halim Perdana Kusuma sekarang juga dan diharapkan hadir sebelum pukul 08.00 WIB. Ada pesawat menuju kota Padang dan akan berangkat pagi hari ini.

Pukul 11.00 WIB kami, aku dan Dr Linda sudah tiba di Lapangan udara Minangkabau-Padang. Dari sini kami menuju Rumah Sakit Yos Sudarso seperti instruksi yang kami dapatkan. Baru kemudian akan dilihat perkembangan selanjutnya di mana akan dibuka posko dapur umum.

Perjalanan dari bandara menuju Rs Yos Sudarso agak jauh. Disepanjang jalan menuju pusat kota tidak begitu terlihat akibat gempa yang terjadi. Walaupun adalah rumah-rumah yang roboh tetapi letaknya berjauhan.   Yang lebih menarik adalah antrian panjang mobil dan motor untuk mengisi bahan bakar di pompa bensin yang kami lalui. Aku mendengar kabar kemudian bahwa hari itu harga bensin premium mencapai Rp.30.000.- perliter.

Seperti baru saja terjadi perang di daerah Pondok, itu kesan pertamaku ketika kami berjalan melalui daerah tersebut. Rumah-rumah yang amblas kebawah, tinggal setengah atau rata dengan tanah. Puing-puing berserakan di sepanjang jalan, kabel listrik malang melintang. Di sebuah rumah duka berjejer peti-peti jenasah untuk dimakamkan. Suasana muram menggantung diudara. Sungguh pemandangan yang mengharukan. 

Tiba di rumah sakit keadaan lebih heboh lagi. Ruang Gawat Darurat sudah seperti pasar layaknya. Hilir mudik para perawat dan dokter yang melayani ditambah dengan kedatangan para pasien dan keluarganya yang ingin dilayani membuat suasana riuh.  Para medis bekerja dalam diam dan dengan cekatan, seperti robot-robot yang sudah terprogram. Wajah-wajah mereka terlihat lelah dan kurang tidur. 
 
Karena lantai dua dan tiga dari bangunan rumah sakit rusak, pasien-pasien diungsikan kesegala tempat yang masih memadai dan dirasakan aman. Di ruang makan, di lorong-lorong penghubung antar ruangan dan didalam tenda-tenda darurat di halaman parkir. 

Tidak pernah sebelumnya aku merasakan begitu banyak penderitaan dan kesedihan. Hatiku menolak untuk menerima. Otakku membeku. Yang tinggal hanya rasa tidak berdaya. Betapa tidak mampunya aku melakukan sesuatu untuk meringankan beban saudara-saudariku yang menderita. Aku ingin pulang. Ingin bersembunyi dalam ruangan nyamanku. Aku marah karena ketidak berdayaanku.

Melihat aku berdiri mematung, bingung, Dr Irene mendekatiku dan berbisik: “ tidak banyak yang dapat kita lakukan tapi kita dapat memberikan pastoral counseling sehingga dapat membangkitkan semangat”. Lalu ia mulai berjalan mendekati salah satu pasien dan bercakap-cakap sebentar dengannya. Hal yang sama dilakukannya lagi pada pasien yang lain dan yang lain dan yang lain lagi. 

Kupaksakan mulutku tersenyum lalu menyapa pasien yang berada paling dekat denganku. Bertanya apa yang terjadi. Mendengarkan ceritanya dengan tetap tersenyum walaupun pikiranku tidak tau dimana. Setelah ia selesai bercerita, serasa mimpi aku mendengar mulutku mengeluarkan suara, hatiku gamang, memberikan kata-kata penghiburan dan pengharapan. Semuanya akan teratasi dan ia pasti sembuh. Aku berusaha sekuat tenaga agar kata-kata yang kuucapkan terlihat meyakinkan. Begitu yang berkali-kali kulakukan.

Hingga akhirnya pekerjaan hari pertama selesai, hari sudah agak larut.
Aku merasa begitu lelah sehingga segera merebahkan diri diatas tikar yang disediakan untuk kami tidur. Kututup kedua mataku dengan sapu tangan handuk. Kutarik nafasku dalam dan air mataku pun turun perlahan. Aku mengamat-amati diriku dan perasaan-perasaan yang datang dan pergi sepanjang hari.

Menjadi relawan bagi korban bencana ternyata membutuhkan kekuatan hati yang mengalahkan segala bentuk kata tidak mungkin menjadi mungkin. 
Tidak mungkin melakukan apapun juga pada mereka yang sedang berbaring sakit tidak berdaya. Mungkin, membantu mereka walaupun sedikit dengan memberikan perhatian dan kata-kata pengharapan sehingga mereka akan merasa sedikit lebih sembuh. 
Tidak mungkin memberikan bantuan pada semua orang yang tertimpa musibah. Mungkin, karena bila setiap orang memberi sedikit maka akan terkumpul cukup bagi semua. Tidak mungkin menolong semua orang satu persatu. Mungkin karena aku tidak sendirian.  Akan selalu ada orang-orang lain yang menolong orang yang tidak sempat aku tolong. Akh, berjuta kemungkinan lainnya yang ada. 

Bagiku menjadi relawan harus mempunyai hati yang lebih besar dan sangat besar bila dibandingkan dengan melakukan bakti sosial lainnya yang pernah aku lakukan. Pengalaman batin yang didapat dengan menjadi relawan jauh lebih kaya dan dengan bermacam variasinya. Ada rasa takut, tidak berdaya, berpengharapan, takjub, bahagia, terharu dan bersyukur, semua campur aduk jadi satu. 

Pada hari itu aku belajar -<i>walau pengertian tentang hal tersebut masih samar -</i>, mengalami, <i>merasakan emosi yang datang silih berganti dengan cepat </i>untuk menjadi seorang relawan. Terutama sekali belajar untuk mengubah hatiku menjadi hati seorang relawan. Kuakui hal itu tidaklah mudah dan tidak dapat segera terlihat hasilnya, namun aku pastikan diriku akan berusaha keras untuk itu.

MISI BERARTI MENINGGALKAN

Misi berarti meninggalkan,
pergi,
melepas segala sesuatu,
keluar dari diri sendiri,
memecah dinding keegoisan
yang memenjarakan kita
dalam ke”AKU”an

Misi berarti berhenti berkisar
pada diri sendiri
seolah-olah kita adalah pusat 
dunia dan kehidupan

Misi berarti menolak terikat
pada masalah-masalah dunia yang kecil
dimana kita termasuk didalamnya:
Kemanusiaan itu jauh lebih besar.

Misi selalu berarti meninggalkan
tetapi tidak selalu
Mengadakan perjalanan.

Di atas semua itu, misi berarti
membuka diri sendiri bagi sesama,
sebagai saudara dan saudari,
menemukan mereka,
menjumpai mereka.

Dan jika, untuk menemukan mereka 
dan mencintai mereka
perlu menyeberangi lautan
dan terbang menarungi cakrawala
maka, misi berarti
pergi sampai ke ujung dunia.

(Uskup Agung Helder Camara)


-Grace
Oleh-oleh dari Padang

*Terima kasih Dr. Irene yang tak kenal lelah memberikan semangat dan mengajar tanpa menggurui.
Terima kasih Dr. Linda yang dengan kesabarannya menenangkan gejolak emosi yang timbul.
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://yuknulis.com/grace-ekanegara/pada-hari-aku-belajar-menjadi-relawan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Arti pelayanan bagiku . . .</title>
		<link>http://www.facebook.com/note.php?note_id=154921894876</link>
		<comments>http://www.facebook.com/note.php?note_id=154921894876#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 16:47:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Grace Ekanegara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Grace Ekanegara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.facebook.com/note.php?note_id=154921894876</guid>
		<description><![CDATA[Pelayanan bagiku . . . . . 


Banyak teman yang sering bercerita padaku, bagaimana mereka melakukan <i>pelayanan</i>. Maksudku bukan menjadi pelayan, tetapi secara perkataan berarti melayani orang lain yang membutuhkan. Baik berupa suatu kegiatan sosial dengan mengadakan pengobatan gratis, mengunjungi parti werda/asuhan dan membagikan berkat atau memberikan penghiburan dengan gerak dan lagu, mendoakan orang sakit bahkan melayani orang yang di penjara dan banyak lagi lainnya. 

Mengambil bagian dari suatu <i>pelayanan</i> atau istilah lainnya bakti sosial merupakan hal yang penting bagi sebagian orang. Di dalam kehidupan nyaman dan cukup mapan, mereka berbagi kasih dengan meluangkan waktu untuk melayani orang lain. Bahkan di tambah pula dengan berkorban materi. Orang yang seperti apa yang dilayani, tentu menurut ukuran mereka adalah orang yang kurang beruntung dalam hal ini orang yang berkekurangan, baik kekurangan materi ataupun juga kekurangan kasih.  

Karena <i>pelayanan</i> begitu digembar gemborkan dan dengan iming-iming besarnya pahala di surga nantinya maka kelihatannya melakukan <i>pelayanan</i> menjadi tren tersendiri. Banyak kenalan yang kebetulan aku tau begitu menggebu-gebunya melakukan <i>pelayanan</i> sehingga lupa bahwa ia masih mempunyai keluarga, suami/isteri, anak-anak dan orang tua yang harus dilayani terlebih dahulu. Atau bahkan yang lebih ekstrim lagi ada yang dengan bangga bercerita bahwa dirinya telah melakukan <i>pelayanan</i> ini-itu sehingga kenal si anu dan anu.

<i>Pelayanan</i> berhubungan pula dengan kalimat –cari dulu Kerajaan Allah . . . .  . Kalimat ini merupakan kalimat yang sering kali terdengar atau merupakan kalimat sakti agar orang mau berpartisipasi melakukan <i>pelayanan</i>. Memangnya salah kalau menolak untuk turut berpartisipasi dalam suatu kegiatan sosial seperti itu? Bukankah setiap orang mempunyai daftar utama sendiri-sendiri dan juga alasan-alasan sendiri sehingga menolak untuk berpartisipasi? Bukankah melakukan pelayanan harus dengan hati yang penuh sukacita dan bukan karena terpaksa? Bukankah melayani keluarga, tetangga dan orang sekitar dengan lebih baik juga merupakan suatu bentuk <i>pelayanan</i>?

Wah aku koq jadi agak emosi kalau dengar kalimat seperti itu. Pertanyaannya kemudian mengapa emosi? Ya . . karena aku tidak sependapat dengan mereka. Loh koq begitu? Memang, karena menurutku melayani –sekecil apapun bentuknya- yang dilakukan dengan hati maka sudah menghadirkan Kerajaan Allah. 

Begini ceritanya. Ketika aku sedang bertugas membungkus nasi dan lauk ala kadarnya untuk dibagikan pada para korban gempa. Aku bertemu dengan seorang ibu. Badannya kurus, bajunya cukup bersih dan sederhana. Ibu itu menatapku dan dari tatapannya aku tau bahwa ia lapar. Secara keadaan saat itu memang amat sulit untuk memperoleh makanan matang di sana. 
Aku tersenyum dan berkata :”Ibu mau nasi bungkus?” 
Ia mengangguk. Kuberikan  sebuah nasi bungkus yang diterimanya dengan mata berbinar. Tetapi ia belum beranjak pergi. 
“Ibu mau lagi?” tanyaku. 
“Boleh saya minta satu bungkus lagi, untuk tetangga saya yang rumahnya roboh. Mereka sudah tua dan tidak mampu lagi berjalan jauh”, katanya takut-takut dan dengan mata penuh harap. 
Mataku langsung berkabut. Aku berikan nasi bungkus yang diminta. Diterimanya pula dan kali ini ia menatapku lekat dengan tatapan terimakasih yang tulus. 

Bayangkan ibu itu yang sedang mengalami sendiri arti kekurangan. Rumah yang ditinggalinya hancur, ia tidak lagi mempunyai tempat tinggal. Harta benda yang ada di dalam rumahnya juga ikut hancur. Yang dimiliknya hanya baju yang melekat di badan. Walaupun demikian di dalam kekurangannya ia tidak mementingkan dirinya sendiri tetapi juga memikirkan orang lain. Karena kasih didalam hatinyalah maka ia memberanikan diri untuk meminta nasi bungkus lebih agar dapat ia bagikan pada tetangganya yang juga mengalami musibah. Aku yakin, seandainya permintaannya aku tolak, maka ia tidak akan ragu berbagi nasi bungkus yang ia dapat dengan tetangganya itu. Mungkin ibu tersebut tidak mengerti arti <i>pelayanan </i>bahkan juga tidak berfikir kalau upah <i>pelayanan</i>itu besar di surga.  Tetapi tidak dapat dipungkiri apa yang telah dilakukannya juga merupakan suatu pelayanan - pelayanan kasih - yang mengalir dari hati yang juga penuh dengan kasih. Dan aku percaya Kerajaan Allah hadir saat itu.


Grace
Oleh-oleh dari Padang
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://yuknulis.com/grace-ekanegara/arti-pelayanan-bagiku/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gelisah</title>
		<link>http://www.facebook.com/note.php?note_id=140483409876</link>
		<comments>http://www.facebook.com/note.php?note_id=140483409876#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 17:24:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Grace Ekanegara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Grace Ekanegara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.facebook.com/note.php?note_id=140483409876</guid>
		<description><![CDATA[Gelisah . . . . . . 

Aku duduk ditepi pantai sambil membidikkan kameraku kesana kemari. Menghabiskan waktu dengan mencari-cari objek yang menarik hatiku. Bukan hanya membidik pemandangan alamnya tetapi juga turis-turis asing wanita yang berjemur telanjang dada. 

Hampir sebagian besar waktuku kuhabiskan di pantai ini. Mulai dari sekedar jalan-jalan tanpa tujuan disepanjang pesisir pantai, menyapa satu dua turis wanita yang menarik hatiku hingga memanggang ikan sebagai makananku. Seringkali pula yang kulakukan hanya duduk memandangi ombak yang bergulung datang dan pergi. 

Pantai ini adalah halaman rumahku sekarang karena aku tinggal di sebuah gubuk milik penduduk di tepi pantai ini. Gubuk yang kusewa dengan harga yang sangat murah. Didalamnya hanya ada bale bambu tanpa kasur sebagai tempat tidurku. Kamar kecil dan mandi air bersih ala kadarnya. Lisrik hanya menyala mulai jam 6 sore hingga jam 5 pagi. Itupun masih untung karena seringkali listrik tidak menyala sama sekali. 

Aku memilih tinggal di sini ketika aku merasa tidak kuat lagi untuk menjadi diriku seperti apa yang orang-orang lihat atau inginkan. Walau banyak teman-temanku berkata mereka iri akan kehidupanku, ingin menjadi diriku. Seandainya saja mereka tau siapa aku sesungguhnya aku rasa mereka tidak akan berkata seperti itu.
Aku ingin merdeka, ingin terbang pergi dan menghapus segala ingatanku tentangmu. Namun mengapakah sekecil apapun ingatan tentang engkau dapat membuat hatiku menggigil hebat, seluruh syarafku tegang dan otakku membeku.

Aku coba meredam segala kegelisahanku dengan melakukan semua yang hatiku ingini. Aku ingin menikmati hidupku, ingin melakukan apapun juga sekehendak hatiku. Tanpa beban. Hanya menjalani hari-hari. Dan di sini tak seorangpun mengenal aku. Seandainya saja aku tidak pernah bertemu denganmu mungkin hari-hari terasa lebih ringan, setidaknya tidak ada engkau yang terus mengganggu perasaanku.

Aku bangkit berdiri ketika matahari mulai terbenam dan pantai mulai ditinggalkan pengunjung. Dengan perlahan aku berjalan menuju tempat tinggalku. Kubuka pintu kayu lalu membaringkan tubuhku di atas dipan. Mendengarkan suara deburan ombak di tambah dengan suara angin yang bertiup melalui sela-sela dinding bambu membuat aku gelisah. 

Tiba-tiba telepon genggamku bergetar tanda seseorang mencoba menghubungiku. Hatiku berdebar, setengahnya mengharap itu engkau sedangkan setengah yang lain lebih pada harga diriku. Tak kuangkat, aku sedang malas bicara. Aku membayangkan seandainya aku menghubungimu, mulai dengan menekan nomor-nomor yang kuhafal mati diluar kepala, mendengarkan nada tunggu yang sama yang selalu kau gunakan, lalu suaramu menjawab panggilanku. Ternyata semua masih segar dalam ingatanku. Seperti baru kemarin semua itu kulakukan.

Kubolak-balikkan tubuhku beberapa kali. Pikiranku mengembara lagi. Mungkin engkau mencintaiku, lebih dari aku mencintaimu. 

Harga diriku berkata (**) : ‘tidak, tidak, mungkin engkau mencintaiku tapi aku tidak mencintaimu. Aku terlalu takut membagi hidupku denganmu’.

Hatiku berkata (*) : ‘engkau yang memulai semua itu, engkau sendiri yang mengatakannya’.

(**) ‘Memang benar, tapi waktu itu aku pikir aku sudah berubah. Aku pikir aku dapat membebaskan ketakutanku kehilangan kemerdekaan. Aku tidak mau hidup diatur, aku adalah tuan atas diriku sendiri’.

(*) ‘Jadi yang ingin kau katakan bahwa keputusanmu untuk hidup bersama dia adalah salah ?’.

(**) ‘Keputusan yang kubuat terburu-buru. Perbedaan antara dia dan aku sangat besar’.

(*) Maksudnya engkau yang selama ini menjadi pembuat keputusan, hidup sesuai dengan segala apa yang kau ingini dan kemudian setelah bertemu dengannya harus juga mendengarkan apa pendapat dia.

(**) Aturan-aturan yang dibuat, pandangan hidupnya, caranya menunjukan apa yang dilakukan benar dan segala kekawatirannya menggangguku. 

Perbantahan yang tak ada ujungnya. Selalu dimenangkan oleh harga diriku dan ketakutanku untuk terikat. Sampai kapan aku berani mengambil keputusan yang akan mengalahkan harga diri dan ketakutanku? Dan ketika saat itu tiba adakah aku berani menghadapinya? Dan adakah engkau masih sendiri, menungguku? 

<i>My memory
I remember everything
I can see even a little thing
When I close my eyes

You are far away
Somewhere that I can’t reach
I didn’t say I love you
Or I‘ll wait for you

I really didn’t imagine meeting you again

I still love you
I confess to you now
I wanna love you forever
If it’s not too late
Forever with me

Even though my heart live without you 
for a long time
You still here in my heart 
 
From  Winter Sonata – My Memory </i>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://yuknulis.com/grace-ekanegara/gelisah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
