Tulisan Oleh Grace Ekanegara

Kado Istimewa . . .

No Comments »

January 29th, 2010 Posted 10:58 pm

KADO ISTIMEWA . . . .


Harapanku pada diriku sendiri untuk tahun ini adalah mengikuti misa pagi paling tidak seminggu sekali pada hari biasa. Maksudku bukan hari minggu yang merupakan hari wajib, melainkan satu hari diantara hari senin sampai dengan jumat pagi. Karena misa pagi dimulai pada pukul 6 tepat, persiapan yang perlu sudah kulakukan. Misalnya memasang alarm jam dikamarku pada pukul 5 pagi. Dan karena letak rumah dan gereja yang akan kukunjungi tidak begitu jauh, aku hanya butuh lima belas menit berjalan kaki untuk sampai disana. Jadi pasti tidak terlambat.

Sudah sejak senin kemarin aku memasang alarm agar terbangun pada pukul 5 pagi, tetapi yang terjadi adalah aku memang terbangun, mematikan alarm lalu tidur lagi. Tapi hari ini tak tahu mengapa aku terbangun dengan segar bahkan sebelum alarm berbunyi. Jadi tadi pagi sebelum misa dimulai aku sudah duduk manis di gereja.

Bukan untuk pertama kalinya aku mengikuti misa pagi sehingga aku tahu betul bahwa hampir tidak pernah ada koor ataupun vokal group yang menyanyi untuk mengiringi misa pagi hari. Pada misa pagi untuk hari minggu saja jarang, apa lagi pada hari-hari biasa seperti ini. Dengan agak heran aku melihat ada beberapa orang penyanyi dari vokal group Grisela, yang cukup terkenal di lingkunganku,.sedang bersiap-siap menyanyikan lagu pembuka.

Tepat pukul 6.00 pagi, setelah doa Malaikat Tuhan, mengalunlah suara bening ketiga orang anggota kelompok vokal group Grisela. Dan dengan diiringi alunan organ mereka menyanyikan lagu pembuka:

Kedepan altar aku melangkah
Seraya bermadah gembira ria
Hari yang bahagia,
Hari yang mulia,
Hari yang penuh kenangan
Reff : Tuhan berkenan pada yang hina
Seumur hidup aku akan jadi abdi-Nya.


Tak tahu mengapa kata-kata dalam lagu itu meyentuh hatiku. Lagu ini memang bukan lagu biasa tapi lagu khusus untuk para imam. Dinyanyikan ketika mereka berjanji setia untuk menjadi mempelai Kristus. Dan ternyata hari ini imam yang memimpin misa pagi merayakan hari ulang tahun imamatnya yang ke duapuluh delapan. Sehingga lagu tersebut dinyanyikan kembali.

Seperti film yang diputar dihadapanku, aku diingatkan saat para pengantin melangkah kedepan altar untuk menerima sakramen perkawinan. Mereka pasti melangkah dengan bermadah gembira ria sebab hari dimana mereka menerima sakramen perkawinan merupakan hari yang bahagia. Hari yang telah mereka nantikan-nantikan untuk menyongsong masa depan, mengharungi hidup bersama. Hari yang mulia karena saat itu Tuhan hadir bagi mereka dan mereka berjanji dihadapan-Nya bahwa mereka akan saling setia dalam keadaan apapun juga sampai mereka kemudian menjadi tua dan kembali menjadi debu. Tentu merupakan hari yang penuh dengan kenangan, pastinya semua kenangan indah yang akan diceritakan pada anak-cucu dan akan tetap diingat lama kemudian.

Aku jadi teringat akan teman-temanku. Teman-teman yang masih muda dan usianya terpaut jauh denganku. Juga teman-teman seusia dan yang usianya tidak jauh berbeda. Terutama teman-teman yang sedang mengalami masalah dalam kehidupan perkawinan mereka. Aku tidak habis mengerti, kalau mau jujur – aku tidak mau mengerti, mengapa harus menyerah pada masa-masa sulit dalam perkawinan dan berujung pada perceraian. Mengapa tidak bertahan sedikit lagi, sebentar lagi . . . . .

Tak tertahankan, air mataku pun mulai mengalir perlahan. Sudah sejak beberapa waktu lamanya aku merefleksikan hidupku sendiri. Kalau aku dan suamiku masih bersama hingga hari ini, maka itu semata-mata karena anugrah-Nya yang luar biasa. Karena kami percaya bahwa kami telah berjanji pada-Nya pada hari yang bahagia, hari yang mulia, hari yang penuh kenangan itu. Bukan, bukan berarti kehidupan perkawinanku mulus-mulus saja seperti orang-orang lain yang beruntung dalam menjalani hidup ini. Tidaklah demikian. Kami pernah terjerumus kedalam jurang yang terjal, dalam dan gelap. Tikungan-tikungan tajam dan mematikan juga kami lalui. Kami pernah berlari, terjerembap, bersembunyi. Kami juga pernah ingin menyerah, sama seperti yang lain.

Barangkali yang menjadi kekuatan bertahan adalah cinta-Nya pada kami. Kalau diingat lagi, banyak sekali malaikat-malaikat tanpa sayap dikirimkan oleh-Nya untuk menemani kami dalam menjalani masa-masa itu. Sehingga pengharapan yang terkubur jauh dalam lubuk hati kami akan janji-janji-Nya, walaupun hanya berkelap kelip dalam pijar cahaya lilin yang samar, mampu bertahan. Apa lagi ketika seorang romo berkata, kita selalu berkata kami telah memanggul salib kami mengikuti Engkau, tetapi hanya sampai memanggul saja, tidak turut tersalibkan bersama Dia. Jadi kami belajar menyalibkan diri kami, ego kami. Terutama ego-ku.

Air mata semakin deras mengalir. Aku tidak berani mengangkat wajah, takut orang yang duduk didekatku melihat wajahku yang penuh dengan airmata. Dengan sedih dan malu aku mengakui bahwa seringkali aku merasa putus asa, merasa tidak sanggup untuk menjalani hidup lebih lama lagi. Bahkan sebagai teman, aku merasa tidak mampu memberi bantuan apapun juga bagi teman-temanku. Aku tidak dapat memberikan janji yang pasti bahwa semuanya akan segera menjadi baik. Bahwa selalu akan ada pelangi setelah hujan. Aku takut. Namun aku pernah dan telah berjanji pada-Mu bahwa aku akan berusaha sungguh untuk menjadi teman seperjalanan bagi teman-temanku dalam masa-masa sulit mereka. Engkau telah berkenan padaku orang yang hina ya Tuhan, dan hari ini aku memperbaharui janjiku pada-Mu, seumur hidupku aku akan menjadi abdi-Mu. Bisikku perlahan dan dalam isak tertahan.

Setelah misa selesai, aku masih tinggal agak lama. Duduk sendirian, menikmati saat-saat hening bersama Dia. Aku baru beranjak keluar dari gereja ketika tiba-tiba hpku berbunyi tanda ada pesan yang masuk. Ternyata dari salah satu adik perempuan suamiku. Setengah bertanya dan dengan enggan kubaca pesannya yang berbunyi HAPPY 25TH WEDDING ANNIVERSARY! Kubaca berulang kali dengan sedikit heran dan menghitung dalam hati, tanggal berapa sekarang ya?. Setelah beberapa saat aku baru sadar, ya ampun, ternyata aku lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahun perkawinanku yang ke-25.

Duh kembali mataku berkaca, aku memang dapat saja lupa tetapi Tuhan tidak pernah lupa. Hari yang istimewa ini, istimewa bagiku, terutama bagi-Nya, diberikan-Nya aku kado istimewa. Ungkapan-ungkapan cinta-Nya padaku. Mulai dari bangun pagi dengan segar, adanya vokal group pada misa biasa pagi hari, pilihan lagu yang dinyanyikan sampai dengan kilasan-kilasan ingatan peristiwa yang terjadi dalam hidupku. Bagaimana mungkin tidak kuamini kata-kata dalam lagu penutup tadi . .. Besar anugrah-mu, berlimpah kasih-mu, semakin hari s’makin bertambah besar anugrah-Mu.Terima kasih Tuhan.

*Hepi anivesari Hubby . . .
Pada hari Pesta 3 Raja

Posted in Grace Ekanegara

Menjadi relawan??? . . .siapa takut!!!

No Comments »

January 8th, 2010 Posted 9:51 pm

1

Beberapa bulan yang lalu.

“Eh Grace, mau jadi relawan tidak?”

“Mau aja. . . .eh tapi emangnya jadi relawan itu ngapain aja sih? Aku tidak punya pengalaman menjadi relawan loh’’

‘’Pengalaman tidak begitu penting, yang harus di bawa adalah hati yang mau melakukan pekerjaan apa saja yang ada saat itu.’’

‘’Kerja apaan? Paling banter bagi-bagi makanan atau jadi kuli angkut’’.

‘’Yang paling utama kalau kita pergi ke tempat bencana adalah dapur umum. Biasanya mereka membutuhkan hal ini. Kamu bisa membantu membuka dapur umum bagi mereka’’.

“Yaelah masak? Ada yang lain tidak? Sudah deh aku kursus jadi perawat aja biar bisa bantu-bantu. Kalau masak bisa mati berdiri tuh . . kebayang tidak kalau seandainya aku masak nasi bisa jadi bubur ?” Hehehe . .

Memasak bukanlah salah satu kegemaranku. Aku tidak suka memasak dan hanya melakukannya bila terpaksa itupun dengan catatan makanan yang aku masak cukupan rasanya. Yang pasti lumayan untuk dimakan. Kalau bisa aku memilih untuk membeli makanan di tempat lain daripada harus memasak sendiri. Jadi bila banyak orang membicarakan tentang masak memasak aku biasanya menghindar. Topik yang membuatku tidak percaya diri.

2

Padang, 2 Oktober 2009

Sekarang disinilah aku, duduk dalam gelap dengan bingung. Tidak tahu apa yang pertama harus kulakukan terlebih dahulu. Satu-satunya cahaya remang-remang yang ada, datang dari dalam gereja di mana diadakan misa Jumat Pertama malam ini.

Walaupun kawan-kawanku sering berkata, jangan takut untuk menjadi pencetus dapur umum, karena bukan kamu yang harus memasak makanan. Pasti akan ada para wanita setempat yang akan datang membantu. Yang harus dilakukan adalah menyediakan peralatan dan juga bahan mentahnya.
Tetap saja aku takut. Ini kali pertama aku menjadi relawan dan bertugas untuk membuka dapur umum. Aku tidak mempunyai gambaran apapun tentang tugas ini.

Seperti orang yang tidak bisa berenang langsung kecebur di kolam, itulah yang aku rasakan . Otakku beku rasanya, tidak mampu lagi berfikir. Aku takut tidak mampu melakukan apa yang diharapkan oleh teman-teman dan para donatur. Dalam hati aku berdoa kalang-kabut, semoga Tuhan mendengar doaku.

Tidak tahu dari mana datangnya, ketika tiba-tiba aku menyadari aku tidak duduk sendirian. Seorang ibu dengan anaknya telah menempati batu, yang merupakan tempat duduk, di sampingku. Kami duduk dalam diam beberapa saat lamanya, lalu aku memberanikan diri menyapa. Mulai dengan basa-basi tentang keadaan yang terjadi sampai akhirnya bagaimana membantu para korban.

‘’ Mestinya buka dapur umum kali ya’’
‘’ Iya, saya juga berpikiran demikian ‘’

Gayung pun bersambut. Aku mulai merasakan pengharapan yang bersinar hangat di hati. Kami berbicara cukup lama mengenai berbagai macam hal seputar dapur umum, dimana akan memasak, alat-alat dan bahan mentah yang diperlukan, makanan yang akan dimasak hingga siapa yang akan menyiapkan itu semua. Ketika misa selesai, kami pun bertukar nomor telepon genggam dengan janji besok akan saling menghubungi.

3

Pastor Franco Qualizza sibuk membuka dapur pastoran yang sering digunakan oleh para ibu memasak makanan bila di gereja ada acara tertentu. Dengan semangat beliau mengajak kami untuk melihat keadaan dapur dan mengatakan bahwa kami dapat memakainya untuk kegiatan memasak bagi dapur umum.

Setelah melihat-lihat keadaan dapur tersebut, kami memutuskan untuk mulai belanja alat-alat keperluan memasak yang kurang dan diperlukan di dapur serta bahan-bahan mentahnya. Panci besar, sendok sayur, ember, tampah dan kertas pembungkus merupakan daftar barang teratas yang kami beli. Di pasar sayur kami membeli dalam jumlah banyak. Seakan-akan kami berbelanja untuk keperluan sebuah rumah makan.

Bukan, bukan aku yang memasak makanan itu semua. Beberapa ibu yang mengungsi ke pastoran dan ibu-ibu anggota lingkungan gereja langsung turun tangan tanpa perlu di komando duakali. Mereka mulai membantu di dapur menyiapkan segala keperluan untuk meramu semua bahan mentah menjadi makanan siap saji. Semua sibuk menangani bagiannya masing-masing. Celoteh riang dalam bahasa setempat juga terdengar sementara tangan sibuk mempersiapkan segala yang diperlukan.

4

Nasi bungkus pertama yang akan dibagikan berisi sepotong telur dadar, sepotong kecil ayam balado dan satu kantong plastik kecil berisi tumis sayuran.

Tersedia 65 nasi bungkus pada hari pertama kami membuka dapur umum yang dibagikan kepada para pengungsi di dan sekitar pastoran. Permintaan terus bertambah hingga 165 nasi bungkus untuk sekali masak dan dibagikan pula kepada orang-orang yang sedang menunggu para korban di rumah sakit Yos Sudarso.

Dalam satu hari, para ibu di dapur umum memasak dua kali, sekali untuk makan siang dan sekali lagi untuk makan malam. Dan dengan dibantu oleh para muda mudi yang ada di gereja tersebut, mereka membagikannya pada yang membutuhkan.

5

Saat ini

Ternyata benar apa yang sering aku dengar bahwa Tuhan memerlukan manusia sebagai perpanjangan tangan-Nya untuk membantu banyak orang. Tidak diperlukan pikiran yang rumit ketika berkata, aku mau menjadi perpanjangan tangan kasih-Mu. Tidak juga logika yang mengkalkulasikan segala kemungkinan yang ada. Yang perlu hanya membawa hati yang dipenuhi keinginan untuk berkerja bagi kemuliaan-Nya. Ia akan mengatur selebihnya.

Bila suatu hari nanti ada lagi yang menawarkan padaku apakah mau menjadi relawan, maka aku akan menjawab dengan yakin . . .jadi relawan? . . siapa takut!!!


Grace
Pada : Hari Raya Penampakan Tuhan

Posted in Grace Ekanegara

Pembelajaran diri yang lain . . .

No Comments »

November 7th, 2009 Posted 10:32 pm

(Grace Ekanegara)

Aku teringat percakapan ku dengan seorang teman muda, Vico, beberapa waktu yang lalu. Vico (V) : “Bu ikut baksos yuk hari minggu ini di cilincing . .mau ga?” Aku (A) : “Ngapain disana? Dan perlu bawa apa aja?” V : “Datang aja ngga perlu bawa apa-apa koq, ibu lihat aja tempatnya kan ibu belum pernah ke cilincing”. A ; “Baksos koq ngga perlu ngapa-ngapain gimana sih kamu?” V :”Sebetulnya sih kami ngadain pengobatan gratis bu, tapi sudah ada dokter dan obat-obatannya, terus ada juga pembagian sembako serta jualan baju layak pakai . . jadi ya ibu ngga perlu bawa apa2 lagi”. A :”Betul nih ngga perlu apa2?” V : “he he he . .ya kalau ada sih mau dokter yang bisa diajak keliling sebentar untuk periksa orang-orang tua yang sudah tidak bisa jalan lagi . . .tapi kalau ngga ada juga ngga apa-apa koq bu . . .datang aja deh.”

(more...)

Tags:
Posted in Grace Ekanegara

Nonton Yuk . . . .

No Comments »

October 27th, 2009 Posted 10:55 pm

(Grace Ekanegara)

Nonton yuk . . . .

Aku terbiasa kemana-mana sendiri. Seringkali teman-temanku merasa heran dengan kebiasaanku ini. Menurut mereka aneh karena mereka merasa tidak nyaman melakukannya sendirian. Misalnya pergi makan di food court sendirian, jalan-jalan ke luar kota sendirian bahkan yang membuat mereka seringkali menggelengkan kepala adalah nonton film di bioskop sendirian.

Menonton film adalah salah satu dari beberapa kegemaranku. Tentunya aku memilih nonton film yang ringan-ringan misalnya film komedi, bertemakan music dan terutama haruslah happy-ending. Secara pikiran aku sih, menonton itu sebagai hiburan jadi harusnya menyenangkan.

(more...)

Posted in Grace Ekanegara

Pada hari aku belajar menjadi relawan

No Comments »

October 22nd, 2009 Posted 10:38 am

(Grace Ekanegara)

Pada hari aku menjadi relawan

Kamis malam 1 Oktober 2009

*Yang mau jadi relawan, di harap standby. Tas kecil untuk menginap berisi keperluan secukupnya harus disiapkan dan selalu tersedia karena sewaktu-waktu dapat dipanggil dan langsung berangkat.*

Begitu berita yang aku terima melalui email malam itu. Jadilah aku mulai menyiapkan tas kecil berisi keperluan sehari-hari.

“Loh mau kemana?” tanya suamiku ketika dilihatnya aku sedang memasukan kaos kedalam tas.

(more...)

Tags:
Posted in Grace Ekanegara