Archive for the Ika Devita S Category
Diam
November 12th, 2009 Posted 8:26 pm
(Ika Devita S.)
Diam
bukan berarti aku marah
bukan berarti aku bisu
bukan berarti aku tidak perduli
Diam
bukan berarti aku bodoh
bukan berarti aku bosan
bukan berarti aku tidak mendengar
Diam
bukan berarti semua salah
bukan berarti semua gila
bukan berarti semua tidak masuk akal
Diam
bukan berarti aku mengijinkan
bukan berarti aku melarang
bukan berarti aku menggantung
Diam
bukan berarti aku merajuk
bukan berarti aku mencari masalah
bukan berarti aku membenci
Diam
karena sesuatu tidak dapat diucap
karena sesuatu sulit keluar
karena sesuatu terhalang ego
Diam
karena perasaan tidak dapat berbohong
karena perasaan menemukan jawaban
karena perasaan menyadari suatu hal
Diam
karena tidak cukup kata mengungkap
karena tidak cukup tindakan bekerja
karena tidak cukup lagu dimainkan
Diam
karena ego lebih berkuasa
karena malu menutup langkahku
karena hati tidak ingin mengaku
Diam
karena aku cinta padamu..
regards,
Tags: Puisi
Posted in Ika Devita S
Cintaku Terlarang
July 15th, 2009 Posted 8:44 pm
Fiksi oleh: Ika Devita S
“Aku suka kamu”
“Kenapa?”
“Kalau ga ada kamu, ga seru”
Hatiku berdebar-debar mendengar kalimat yang dia ucapkan itu. Sok-sok jual mahal, aku menimpalinya dengan rajukan, “Kamu kan sudah punya Lina”
“Iya, tapi aku sudah bosan sama dia. Sekarang, di hatiku ada kamu” Sambil memegang tanganku erat.
Semakin melambung hatiku mendengar kalimat terakhir itu. Aku tahu sudah beberapa lama ini aku men-jomblo. Bukan berarti aku ga laku yah, tapi aku memang tipe orang yang pemilih. Aku ga suka cowok yang lebay. Aku juga ga suka cowok yang suka cari perhatian. Aku suka cowok yang misterius. Cowok yang membuat kita penasaran untuk mengenal dia. Bagiku, cowok yang suka tebar pesona berarti dia ga laku. Jangan salahkan aku, paling tidak, itulah tipe orang-orang yang ada di sekitarku.
Posted in Ika Devita S
A Letter For My Mom
July 9th, 2009 Posted 9:38 pm
(Ika Devita)
Tangan itu mulai berkerut
Sinar mata itu sudah dihalangi sebuah kaca
Rambut putih mulai bermunculan dan…
Badan itu mulai rapuh
Namun, apakah yang kulihat ini?
Tangan yang berkerut itu masih kuat menopang
Tangan yang berkerut itu masih mampu membuat masakan-masakan yang lezat
Tangan yang berkerut itu masih mampu bercocok tanam
Tangan yang berkerut itu masih mampu menciptakan keajaiban di rumah kami
Tags: Puisi
Posted in Ika Devita S














