Tulisan Oleh Irene Wibowo
SUDUT MILA
April 30th, 2012 Posted 5:10 pm
Di sudut, aku duduk. Telingaku terbuka, cukup mendengar detik kaki yang melangkah. Aku hanya diam, memeluk kedua kakiku, memendamkan wajahku dengan kedua tanganku. Denting berbunyi seirama jarum jam yang berputar. Udara semakin merasuk ke dalam kulitku.
” MILA..MILA…” suara wanita memanggil terdengar semakin kencang. Suara sepatu melangkahkan kaki keseluruh sudut. Bising dalam hening, aku hanya diam. Air mata mengalir, takut memeluk jiwa yang terasa kosong hampa.
“MILA…MILA..” sekarang suara tersebut bercabang. Kaki yang berdera terdengar semakin banyak. Aku? Tetap duduk di sudut.
“MILA…MILA… Tolong selamatkan adikku!Dia didalam! MILA…MILA…”
Sudutku semakin gelap. Doa berucap di bibirku, terasa asin di lidahku. Aku peluk semakin erat. Bunyi, suara, denting, terus mengalun membalur panasnya api.
Posted in Irene Wibowo
Manis
April 29th, 2012 Posted 10:39 pm
Angkasa, ukirkan cintaku pada langit yang merindukan rembulan, di bawahnya, sang putri menanti alunan nada berputar.
Cafe ini bergaya sederhana. Interiornya vintage. Aku suka tempat ini. Aku duduk di meja tepat di samping jendela. Aku hirup coklat hangat yang menemaniku menunggu. Di sampingku sekelompok wanita sedang bergosip. Di depanku sepasang kekasih berbagi kisah.
” Mbak, ini untuk mbak,” ujar seorang waiters membuyarkan lamunanku sambil memberikanku sepiring kue coklat.
” Ah, terima kasih. Dari siapa?” balasku.
” Seseorang mbak,” balasnya.
” Terima kasih.”
Aku tatap kanan kiriku. Lalu, mulai mencicipi kue coklat di depanku.
” Menikahlah denganku,” bisiknya ditelingaku.
Aku palingkan wajahku, aku lihat pria berkemeja putih. Dia tersenyum, kemudian berlutut di depanku.
Aku lihat sebuah cicin bergemerlap di antara potongan kue. Aku balas senyumnya, dan mengangguk.
Manis, meski hanya khayalan.
Posted in Irene Wibowo
Satu dan Hanya Satu
April 28th, 2012 Posted 11:25 pm
Aku. Kamu. Bernama Kita. Satu rasa, melebur dalam cinta. Tergoreskan kisah.
Kau buka sebuah buku dongeng dalam genggamanmu. Aku berbaring dalam pelukan tanganmu. Malam menyapa semakin larut. Kau mulai membacakan barisan pertama dalam buku itu. Cinta, katamu. Lalu melirik mataku. Angin merasuk dalam pori-pori tubuh yang telanjang. Bermadu cinta kita habiskan bersama.
“Sayang, kamu hanya satu,” bisikmu sejenak saat cerita cinta mengalun dari mulutmu.
Aku tersenyum, mengenggam erat tubuh gagahmu. Kau kecup dahiku, lalu menutup buku yang baru beberapa lembar kau bacakan.
“ Sayang, kalau kisah kita tidak berakhir indah, bagaimana?” tanyamu.
Aku tersenyum.“ Menikahlah denganku!” lanjutmu melingkarkan cincin di jariku.
“ Baiklah. Setelah kau meninggalkan kekasihmu sayang!” jawabku.
“ Pasti, Sephiaku!”
Posted in Irene Wibowo
Suri
April 26th, 2012 Posted 7:08 pm
Aku berdiri di dalam bus yang membawaku pulang. Namaku Suri, biasa aku digunakan untuk menemani kata mati. Yang menjadi mati Suri, artinya mati sementara.
Mamaku bilang, aku cantik. Mengingat dia berkata padaku berulang kali, membuat aku tersenyum. Detik terus berputar. Hening sekali keadaan bus ini. Mungkin, tidak seperti biasanya. Entahlah. Aku baru pertama kali menaikinya.
” De, kau mau kemana?” tanya seorang wanita separuh baya yang duduk di sebelahku tiba-tiba. Aku tatap matanya, “pulang”, jawabku sambil tersenyum.
” Darimana?” lanjutnya. Aku diam,
oh tidak, aku tidak mengingatnya! Akui pejamkan mataku, mencoba menggali ingatanku. Putih.
” Masih belum sadar?” Dia mengelengkan kepala,” Maaf,” katanya. Aku dengar suara detak jantung terputus-putus.
Posted in Irene Wibowo
Ketika Tuhan Bicara
April 26th, 2012 Posted 5:01 pm
Senja. Langit bermekaran dalam warna jingga. Riuk pikuk kota terdengar seperti biasa. Aku berjalan bersama doa yang terucap ketika pagi membuka mata. Hari yang sama. Hanya waktu yang berbeda. Sekelompok penjual makanan, menjajahkan masakannya kepada para pekerja yang beristirahat sejenak.
Dimana aku? Di pinggir jalan pusat kota bernama Jakarta. Sering aku panggil namaNya, berulang kali dalam hati yang terluka, tidak tahan akan sakit yang terinjak setelah bersinar di bawah terik matahari.
“ Kamu harus tetap cantik!” bisik seorang anak kecil menghampiriku dan membersihkan tubuhku dari debu dan kotoran yang menempel di tubuhku
“ Angel, ayo pulang,” ajak seorang wanita.
Mungkin aku hanya bunga dipinggir jalan, namun Tuhan tidak berhenti bicara pada hatiku untuk tetap hidup.
Posted in Irene Wibowo












