Tulisan Oleh L. Bekti Gojagie

A SCARY LOVE STORY

No Comments »

January 9th, 2010 Posted 4:15 am

(L. Bekti Gojagie)

(Catatan Penulis: Ini adalah cerita terbuka yang kelanjutan serta ending-nya bisa teman-teman teruskan sendiri. Terimakasih).

“Come to my country. I will surely marry you and find you a good job.”Marsini berbunga-bunga hatinya begitu membaca pm-an seorang pemuda Timur Tengahan yang di foto profilenya nampak begitu menawan dengan dada bidang dengan bulu lebatnya yang sedikit menyembul dari sisi atas baju yang tidak dikancingkan. Mereka baru berkenalan online dua minggu lalu dan si pemuda sudah berani mengungkapkan isi hatinya. Dia pasti sangat terpesona, demikian pikirnya.

(more…)



Tags:
Posted in L. Bekti Gojagie

SUPER PAIDI

4 Comments »

January 9th, 2010 Posted 3:43 am

(L. Bekti Gojagie)

Walau tidak selihai Leila Khaled dari Palestina, tidak sekampiun Eli Cohen dari Israel dan tidak selegendaris Margaretha Zelle – alias Matahari – intel cewek londo yang gemar blusak-blusuk dan pernah hidup di Indonesia, Lik Paidi ternyata telah dikenal cukup luas di kalangan kaum intelijen kawasan Asia Tenggara saat ini, khususnya dalam bidang petelik-sandian. Walau tidak punya afiliasi induk maupun bukan anggota dari unit resmi intelijen, diam-diam dia laris direkrut dalam operasi-operasi rahasia tingkat satu dan dua baik di dalam negeri maupun kawasan. Nama Paidi sendiri memang jarang disebut karena dia selalu memakai kode sandi SP3 dalam operasinya dan memakai identitas Pandu Daluadi sebagai cover-nya. Kabarnya, dia ini mumpuni, bahkan cukup sebanding jika dibandingkan dengan Allan Pope, agen CIA yang pernah menyelup dan beroperasi di Indonesia timur tahun 50-an. Dan yang jelas, dia bukanlah semacam intelijen rekaan ala sinetron Indonesia yang sering menepuk dada dan mengumumkan keras-keras bahwa dirinya adalah seorang intel. Dia memegang kode etik kerahasiaan baik-baik. Bahkan, tetangga-tetangganya tidak ada yang tahu. Mereka tahunya Lik Paidi ini hanyalah makelar barang antik yang sering keluyuran sana sini tidak ada juntrungnya.

(more…)



Tags:
Posted in L. Bekti Gojagie

Surat Cinta Orang Gila

1 Comment »

January 8th, 2010 Posted 12:08 pm

(L. Bekti Gojagie)

Aku berkeliling di lahan makam ini sekali lagi. Suasananya memang sudah begitu berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Di depan dan samping makam sudah dipatok dengan papan yang bertuliskan bahwa secara hukum lahan ini sudah dimiliki oleh Juragan Akri dan dalam kaitannya juragan itu telah berenana untuk membangun gedung perkantoran, yang katanya akan banyak menyumbang pada perbaikan ekonomi termasuk warga sekitar sini. Tetapi rencana akuisisi lahan ini sendiri masih terus saja mendapatkan tentangan dari sana-sini. Tak henti-hentinya para ahli waris dan simpatisan-simpatisan menggelar demonstrasi dan orasi untuk menentang semua itu.

Sebagai penjaga Regol Makam, aku sendiri tidak bisa berbuat banyak. Aku merasa tidak berhak dan tidak mampu untuk bertindak mengatas-namakan mereka yang sudah terbaring di sini. Sungguh, aku sama sekali tidak mampu mendengar aspirasi mereka. Tetapi bagaimanapun aku merasa harus untuk juga ikut menyuarakan sikapku. Aku memang sudah menolak orang-orang suruhan yang datang dengan amplop tebal untuk memperoleh dukunganku dan amplop tebal lain untuk ikut membujuk para ahli waris agar tidak kalap. Buatku itu belum cukup. Tetapi, untuk ikut berdemonstrasi, aku merasa diriku tidak berselera karena pengalaman buruk di masa lalu. Saat aku masih berdagang tahu petis, sudah tiga kali daganganku dirayah para demonstran tanpa pembayaran sepeserpun. Hanya malam tadi, saat dalam kesendirian aku berjaga di regol makam ini, aku merasa seperti mendapat wangsit untuk lebih baik menulis surat saja dan dikirim langsung pada juragan Akri. Demikianlah isi suratku:

(more…)



Tags:
Posted in L. Bekti Gojagie

CUNG BALONTHET!

No Comments »

January 7th, 2010 Posted 10:10 am

Cung balonthet

Sangu gedang kemepet

Ora entek diepret-epret.

Itu adalah tembang dolanan bocah dari masa lampau yang terakhir kali ku dengar ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Waktu itu aku diolok-olok karena berak di celana merah yang gombrong menutup setengah lutut. Mereka menyanyi sambil idal-idul dan jejingkrakkan dengan paduan suara mereka yang parau nan cempreng yang menandai mulai tumbuh membesarnya jakun alias apelnya Mbah Adam yang mirip tembolok. Remah-remah ingredient berakan yang melekat di celana itulah yang dianalogikan sebagai pisang yang matang dan terpenyet.

(more…)



Mencari Jati Diri part 2

No Comments »

March 24th, 2008 Posted 1:49 pm

Saya tumbuh di keluarga dimana nilai-nilai kejawen cukup kental, dengan komposisi agama yg cukup heterogen, keluarga bapak yang Kerasulan Baru dan mayoritas keluarga ibu yang “Islam Abangan”. Saya ingat banyak peristiwa waktu kecil, yang menyiratkan kedekatan kami kepada alam semesta dan juga pada hal-hal yang cukup bersifat ‘supra’. Misalnya, seperti pada malam bulan purnama, kami sering nggelar tikar bareng2 di halaman depan, seraya memandangi langit.

Tak heran, sejak kecil, pertanyaan2 terkait dengan “eksistensi manusia” sudah berkutat di pemikiran bocah saya. “Saya lahir dari bapak ibu, bapak ibu lahir dari orang tuanya, orang2 tua bapak ibu dari orang-orang tuanya dst dst, dan lalu ketika mereka mati lalu kemana? Jika manusia ini diciptakan Tuhan, lalu Tuhan diciptakan oleh siapa? Tuhannya Tuhan?”

Hal itu semua menjelma menjadi ‘mozaik-mozaik’ yang nantinya akan bertemu ‘pada waktunya’.
Pertanyaan-pertanyaan absurd itu terus ada dalam diri saya, sesuai masa pertumbuhan saya, tidak pernah hilang, tidak terhapus oleh logika-logika relasis tentang yang kasad indrawi, tapi setidaknya sebagian dari hal-hal ini bias bertemu dalam lini pragmatis. Hidup ini tidaklah melulu untuk suatu kemapanan hidup, apalagi dalam konsepsi materi, tetapi dunia ini juga adalah realitas bagi tubuh materi, yang kebutuhannya harus dipenuhi, hidup ini juga bukanlah juga semata ruang pembuktian, dan sebagainya dan seterusnya.

Lalu pencarian jati diri saya bagaimana? Saya cenderung mengatakan bahwa saya ini tidak mencari, saya tidak mencari dalam hidup ini, tidak mencari jati diri saya, tidak mencari tujuan hidup saya, tapi saya lebih suka mengatakan saya menjalani hidup ini. Dalam basa jawa ‘saya nglakoni – dengan syarat laku – tentunya, yang aktif sebagai lakon tetapi tetap menyisikan ruang hening untuk bias setidaknya meraba arahnya ‘lelakon’. Jadi, saya memaknai bahwa jati diri ditemukan dalam bertemunya mozaik-mozaik nilai yang masuk dalam hati saya, pemikiran-pemikiran dan konsep-konsep2 yang masuk dalam pemikiran saya, yang terbingkai dalam ‘datangnya kesadaran akal budi saya’, lewat berbagai konfirmasi2 yang boleh saya alami, baik secara empiris maupun pragmatis, tanpa terlepas benang merah dengan sisi idealis saya.

(L. Bekti Gojagie)



Posted in L. Bekti Gojagie