Archive for the Levina Widyarsa Category

Ya Bapa, Ijinkan Aku

1 Comment »

March 2nd, 2010 Posted 12:40 pm

(Levina Widyarsa)

Ya, Bapa..

Ijinkan aku meratap malam ini,

atas cinta yang tak direstui,

atas masa depan yang tak boleh dijalani

atas pasangan yang tak boleh dicintai. (more…)

Tags: , ,
Posted in Levina Widyarsa

Perjalanan Pulang

No Comments »

February 23rd, 2010 Posted 9:47 pm

(Levina Widyarsa)

“Parah…Kacau ni anak !”, gerutu Ben dalam hati. Dinginnya pagi tak mempengaruhi suasana hatinya yang sudah panas. Ditatapnya HP dalam genggaman tangannya. Kemarin malam ia mengirimkan SMS kepada adiknya untuk mengajaknya beribadah hari Minggu ini. Kosong, tidak ada tanggapan hingga pagi berikutnya menjelang. Dan tidak ada tanda-tanda SMS balasan dikirim semalam.

“Biarlah. Aku jemput saja ke kosnya.” Pikir Ben sambil bangkit menuju kamar mandi.

Di bawah dinginnya guyuran air, Ben mulai bisa berpikir. Benaknya berjalan mundur, memandangi peristiwa-peristiwa dan percakapan-percakapan yg pernah terjalin antara dia dan adik semata wayangnya. Teringat setiap pagi yang ia alami ketika ia menjemput adiknya di kos.

(more…)

Tags: , ,
Posted in Levina Widyarsa

Esok Belum Tentu Pagi

No Comments »

February 22nd, 2010 Posted 10:09 am

(Levina Widyarsa)

Pagi datang menjemputku

Tangannya menggapaiku dan menggandengku

Tapi aku tak mau pergi

Dan pagi pun berjanji akan datang lagi

Esok kulihat pagi

Masih setia menantiku

Kapan kau mau pergi

Aku masih ingin bersama malamku

Pagi datang tiap hari

Selalu merengkuh dan membujukku

Sungguh ingin aku mengikuti pagi

Tapi kutak mampu tinggalkan malamku

Malamku yang gelap dan dingin

Di mana harapan lalu bersama angin

Menyisakan setitik kenyamanan semu

Di tengah hidup yang tak menentu

Tanpa asa tanpa mimpi

Terdiam pasrah digenggam waktu

Malam membuatku terlena

Hilang hasratku bertarung dengan dunia

Akankah pagi datang lagi?

Setelah kuusir berkali-kali

Yang kutolak tapi juga kunanti

Hanya ragu yang  kini pasti

-in absence of my sanity, my hope, my dream-

Tags: ,
Posted in Levina Widyarsa

Sekilas Sinetron

1 Comment »

November 15th, 2009 Posted 4:09 am

(Levina Widyarsa)

Terus terang butuh waktu lama untukku mempertimbangkan untuk menulis tentang ini.

Well, terus terang aku sama sekali bukan penggemar sinetron. Dengan segala hormat kepada mereka yang hobby nongkrongin sinetron, bagiku tak banyak hal yang bisa kupelajari dari kegiatan tersebut. Pendek kata, ngga ada manfaatnya. Tapi namanya juga manusia, kadang2 aku pun bertoleransi kalau mamiku kebetulan sedang hobby dengan satu kisah (kan gak mungkin setiap penghuni rumah dapat TV masing-masing). Kadang aku memang membiarkan emosiku diaduk-aduk oleh jalan ceritanya yang mendadak jadi seru kalau sudah hampir tamat.

Belum lama ini ada satu adegan dari sebuah sinetron yang tayang di RCTI tiap jam 9 malam, yang cukup bikin gatal untuk dibahas. Satu adegan saja…membuatku mengambil resiko ‘dicerca’ dan ‘dihina’ oleh kawan2 ’sejenis’ku yang benci sinetron.

(more…)

Tags: ,
Posted in Levina Widyarsa

This Is How I love You

No Comments »

October 2nd, 2009 Posted 8:06 pm

(Levina Widyarsa)

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada"

(“Aku ingin” by Sapardi Djoko Damono)

To my friends in Atelier T(W)O… it takes only a month to have your names written in my heart…

Sekitar bulan November 2007, seorang sahabat memperkenalkan aku pada sebuah puisi karya Sapardi Djoko Damono. Sebuah puisi pendek yang cukup mencuri perhatianku pada keindahan kata2nya. Tak pernah terpikir olehku untuk memahami puisi itu, sampai suatu saat yang tak pernah kusangka akan terjadi.

(more…)

Posted in Levina Widyarsa

It’s All Coming Back To YOU

1 Comment »

October 1st, 2009 Posted 12:50 am

(Levina Widyarsa)

Manusia itu munafik? Yup, manusia itu memang munafik. Kerapkali manusia menutupi kelemahan dan ketidakmampuan mereka dengan sesuatu yang hebat yang mereka akui sebagai karya mereka.

IQ-Intelligence Quotient- telah menjadi “tuhan” bertahun-tahun lamanya, hingga tanpa manusia sadari,  diri mereka telah habis digerogoti oleh “tuhan” yang mereka sembah-sembah. Pendewaan terhadap IQ telah melahirkan jiwa-jiwa yang sakit dan lapar.

Berbagai macam hal seperti teori terciptanya alam semesta, pemetaan DNA, kode-kode genetika, segala macam hal yang coba dijawab oleh manusia dengan kecerdasannya, semakin hari semakin mempertegas sebuah maha-kekuatan dari Sang Maha Pencipta. Semua bukti semakin mengarah pada kenyataan bahwa manusia hanyalah sebuah karya dari Sang Arsitek Yang Maha Agung.

(more…)

Posted in Levina Widyarsa

Satu Yang Belum Bisa Lepas

No Comments »

October 1st, 2009 Posted 12:48 am

(Levina Widyarsa)

Pada suatu siang, di antara hari libur lebaranku di kampung halaman, mami mengajakku menemaninya menyetrika pakaian di loteng rumah kami. sambil mengobrol, tiba-tiba mami teringat sesuatu. Sesuatu yang ingin beliau lakukan bersamaku, kalau aku pulang ke rumah. Mami berlari ke dalam kamar, kemudian keluar lagi dengan 2 buah bungkusan plastik. Dibukanya kedua bungkusan plastik itu di hadapanku, yang ternyata isinya dalah baju-baju bekas pakai aku dan adikku ketika masih kecil, serta ada juga baju-baju bekas papi dan mami.

“Bantu mami memilih baju bekas yang masih bisa dipakai ya. Mami mau sumbangkan sebagian ke panti.” ujarnya seraya menyebut sebuah nama Yayasan yang cukup terkenal di kota kami.

(more…)

Tags:
Posted in Levina Widyarsa