Tulisan Oleh Lisa Hendrawan

Oh Lady Oh Babu

1 Comment »

December 6th, 2008 Posted 3:02 pm

“Bu, kapan bapak pulang?” tanya Meira anakku. Sudah berkali-kali dia menanyakan bapaknya. Aku hanya memandang dan mengelus rambutnya yang hitam dan keriting seperti rambutku.
“Ini lho nduk, mbah punya jajan,” kata ibuku sambil mengulurkan pisang goreng pada Meira. Trenyuh hatiku tiap kali mendengar petanyaannya.

Kemiskinan yang bersahabat erat dengan keluargaku, menyebabkan aku pergi dari desa dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kota. Mbak Surti, tetanggaku, mengajak aku bekerja pada keluarga majikannya. Tentu saja aku mau, karena majikannya orang baik, buktinya mbak Surti telah bekerja di sana selama belasan tahun. Jodohnya, mas Rochmat yang bekerja sebagai sopir merangkap tukang kebun, didapat di rumah itu.

Bu Ani yang biasa dipanggil nyonya oleh para pembantu, mengurus ketiga orang anaknya, Rika, Ivan dan Mieke. Nyonya Ani tidak pernah marah, kalau kami salah paling-paling cuma menegur sambil tersenyum. “Lho piye toh kok gosong? Babat gorengnya hitam seperti kumisnya Rochmat”. Dan kami semua tertawa. Pak Rudy jarang di rumah, dia bekerja di luar pulau. Tugasku mengurus keperluan ketiga anaknya. Menyiapkan pakaian bila mereka akan mandi, menyiapkan makanan, mencuci dan menyetrika.

Rika, puteri pertamanya galak, kata-katanya kasar bila marah, tetapi tentu saja hanya berani bila ibunya tidak ada di rumah. “Ini apa? Masih kayak sayur asin, nyetrika gini aja gak becus? Dasar wong ndeso, orang kampung!” Gaya bicaranya seakan-akan dia pandai setrika, padahal aku belum pernah melihatnya menyetrika sehelai saputangan sekalipun.

Mieke, si puteri bungsu, seperti ibunya, ramah dan murah senyum serta tidak pernah marah, bicaranya juga sopan. “Mbak Ipah, minta tolong aku dibuatkan susu ya, pakai coklat ya mbak.” Permintaannya selalu menggunakan kalimat “minta tolong” sambil bibirnya menyungging senyum. Ivan, satu-satunya anak laki di keluarga itu. Inilah sumber kebahagiaanku, sekaligus malapetaka.

Pada suatu hari di rumah akan ada pertemuan lingkungan, aku sibuk membantu nyonya Ani menata kursi dan menyusun panganan kecil ke dalam piring. Sore itu aku tidak menyiapkan pakaian Ivan sebelum mandi. Ketika masuk ke kamarnya mau meletakkan buku pelajaran yang terserak di meja makan, dia masih mengenakan handuk yang dililit di perutnya. Membawa guling yang dijadikan gitar sambil jingkrak-jingkrak seperti penyanyi rock idolanya. Punggungnya menghadap ke pintu kamar dan tidak menyadari aku masuk. Ketika dia memutar tubuhnya, handuknya terlepas dan jatuh di lantai, matanya terpejam masih menikmati musik dengan gulingnya.
“Hiii Ivan,” teriakku sambil mengambil handuk yang jatuh. Dia cuma melongo, terkejut, lalu tersenyum malu.
“Sana, sana, sana keluar,” teriaknya sambil memutar tubuhku, mendorong keluar kamar sambil memukul pantatku.

Sejak kejadian itu, kami sering senyum-senyum bila berpapasan, kadang dia hidungku, tentu saja bila tidak ada orang di sekitar kami. Dia juga lebih banyak bercerita padaku tentang gurunya, teman-teman di sekolahnya, mengajak bergurau bahkan mencubit pipiku yang katanya gembil. Tentu saja aku senang, semakin sayang padanya dan sering berada di kamarnya. Sampai kemudian aku menyadari bahwa aku hamil.

Ketika usia kehamilanku memasuki bulan ketujuh, perutku tidak dapat lagi disembunyikan. Mbak Surti mulai bertanya-tanya, tetapi aku mengelak. Orang-orang di rumah itu mengira aku punya pacar, seorang tukang yang bekerja di rumah sebelah dan suka menggodaku. Pada hari kelahiran tiba, nyonya Ani membawaku ke klinik bersalin bersama mbak Surti dan mas Rochmat. Ketika aku diperkenankan keluar dari rumah sakit bersama bayi perempuanku, aku diantar pulang ke desa dengan diberi bekal pakaian bayi dan sejumlah uang. Mereka bertiga juga yang mengantarku.

“Oalah nduk, siapa yang berbuat ini padamu?” teriak ibuku sambil menangis tersedu-sedu. Bapak hanya berdiam diri, tetapi air mata menggenang di sudut-sudut matanya. Aku menutup mulutku rapat-rapat. Aku percaya pada janji Ivan, aku dimintanya menunggu waktu yang tepat, dan setelah itu kami akan menikah.

Telah lima tahun aku menunggu, Meira semakin besar, dia mulai menanyakan siapa bapaknya, permintaannya juga mulai banyak.
“Bu, aku pingin sepeda seperti punya Nunik itu lho.”
“Iya, nanti kalau lebaran ya.” Janjiku. Dari mana aku dapat uang untuk membeli sepeda? Aku memang telah bekerja lagi sebagai pembantu di rumah keluarga Bu Ninik, yang rumahnya tidak jauh dari rumah Ivan, sehingga kami bisa saling bertukar surat lewat pagar. Tetapi tetap saja gajiku tidak akan mencukupi untuk membeli sepeda roda tiga. Uang yang kutabung habis untuk biaya rumah sakit dan berobat bapak yang kata dokter sakit jantung.

Ketika Lebaran hampir tiba aku pulang kampung.
“Ipah, bapakmu ini wis tuwo, sudah tua, penyakitku tidak sembuh-sembuh, bentar lagi bapak meninggal, sakjané lho Pah, siapa toh bapaké Meira?” tanya bapakku.
“Bentar lagi Meira sekolah, uangnya dari mana?” lanjut ibu.
Aku tidak kuatir memikirkan biaya sekolah Meira, bukankah Ivan janji bila selesai kuliahnya akan mengawini aku? Dan itu katanya tidak lama lagi. Biayanya ya tentu dari papanya Ivan. Setelah berkali-kali didesak, akhirnya aku mengaku.

Tiga hari kemudian bapak dan ibuku mengajak serta Meira menuju ke rumah Pak Rudy, tentu saja terlebih dahulu meminta bantuan Pak ertenya Pak Rudy. Untuk apa? Tentu saja untuk meminta agar Ivan memenuhi janjinya. Aku menunggu di rumah, membaca surat-surat Ivan yang penuh kata-kata cinta dan janji-janji. Aku membayangkan memakai kebaya beludru bersanding dengan Ivan yang pasti ganteng dengan baju beludru yang sama warnanya. Dulu waktu mbak Surti menikah dengan mas Rochmat di desa, mereka mendapat sumbangan wayang kulit dari keluarga Pak Rudy. Tapi kalau aku yang menikah pasti akan lebih “wah”, lebih meriah, karena aku menantunya Pak Rudy, orang kaya. Pasti pestanya di gedung besar yang pakai ac, tamu-tamunya banyak dan wangi-wangi, dan tentu saja ada grup musik favorit Ivan.

Ternyata rundingan itu tidak berjalan dengan mulus. Dalam waktu tiga bulan bapak dan ibuku mondar-mandir beberapa kali ke rumah keluarga Pak Rudy, aku tidak berani bertanya karena wajah mereka seperti mendung bergelayut.
“Ivan akan melanjutkan kuliah ke luar negeri”, hanya itu yang kudengar dari mulut bapak.

Suatu hari aku diajak serta kembali ke rumah Pak Rudy. Kondisinya masih tetap seperti dulu, bunga teratai dalam pot besar masih terletak di tengah halaman. Mas Rochmat membukakan pintu gerbang, mbak Surti juga keluar menanyakan kabarku. Lady, anjing Golden Retriever, kesayangan keluarga ini ikutan menyambut dengan melonjak-lonjak dan menjilati kakiku, diikuti dengan enam ekor anaknya yang masih kecil-kecil. Di ruang tamu sudah menunggu Pak Rudy, Bu Ani, Pak erte dan seorang bapak lagi yang memperkenalkan diri sebagai utusan dari elbeha, entah apa itu. Mereka semua tanpa senyum, setelah bersalaman kami dipersilahkan duduk.

“Pak, Bu, Ipah,” Pak Rudy mengawali pembicaraan. “Sesuai dengan pembicaraan kita dua minggu yang lalu, ini uang yang sudah kita sepakati bersama.” Katanya sambil menyorongkan amplop coklat. Aku terkejut, uang?
“Dan ini suratnya, cap jempolnya di sini,” kata utusan dari elbeha.
Bapak mengulurkan ibu jarinya dan menempelkan cap jempol di surat yang sudah diketik itu.
“Ipah, kamu tanda tangan di sebelah sini.” Aku hanya menurut saja tanpa mengerti apa isi surat itu. Pak Rudy dan Pak erte juga tanda tangan.

Sampai di rumah aku baru meraung-raung. Marah dan kecewa. Uang sejumlah enam juta rupiah itu sebagai biaya untuk Meira dan surat yang aku tanda tangani itu ternyata pernyataan bahwa bapak, ibu dan aku tidak menuntut keluarga Pak Rudy atau pun Ivan. Kasusnya dianggap selesai.

Selesai? Selesai bagaimana? Bagi keluarga Pak Rudy tentu saja selesai. Mereka bisa mengirim Ivan ke luar negeri dan mengawinkannya dengan anak orang kaya, seolah Ivan masih jejaka. Uang enam juta rupiah itu tidak ada artinya bagi mereka. Biaya sebulan untuk makan dan salon Lady bisa mencapai satu juta. Jadi inikah nasibku? Lebih rendah dari Lady, yang cuma seekor anjing!

Pembantu, wong ndeso, wong cilik, kaum yang selalu dilindas oleh kemiskinan dan kesewenang-wenangan mereka yang punya uang. Mereka tak sudi mempunyai menantu bekas pembantunya sendiri. Tidak layak aku bersanding dengan anaknya. Derajat babu lebih rendah dari pada majikannya. Apakah mereka lupa bahwa aku juga manusia yang punya perasaan dan harga diri?

September 10, 2005
Direvisi December 6, 2008

Lisa Hendrawan



Tags:
Posted in Lisa Hendrawan