Tulisan Oleh Lusia Widijaningrum
Rasanya
January 2nd, 2012 Posted 12:09 am
# 1. Peng’aku’an
Rasanya tidak lengkap ber-fb tanpa kehadiran:
Sohiba Frans Nadeak
Berada di berandanya, seperti mengasah otak. pedang bisa tumpul jika tak di asah, apalagi jika hanya di pajang tak digunakan.
Di berandanya, semua bebas berekspresi ada yang senyum malu-malu Gadis Desa, ada Sist. Wan Ping yang mau gak mau ikutan ‘errornya’ Mas Sri, yang tadinya kukira Bu Sri. Hehe. Pak Baidowi dengan rayuan mautnya PDKT dengan Gadis Desa, setelah Risma Purnama ngumpet ,karena diajak adu manjat. Ditimpal Wow! Sama Bung Joseph K, atau komennya Mas Kus, yang tajam terpercaya, bergoyang melayu mbah Triwibs yang ngakunya sudah
bosan jatuh cinta. Karena giginya tinggal dua Kanyut di sungai berantas. Kang Umang,
yang Belik sini, Belik
sana, menyusun rencana membuat blocking untuk Gadis pujaan. Mas Arief dengan jurus pendek, mengatakan,” mencerahkan…, sekalipun di luar hujan.
Disini kopi dan snack ringan bisa dipesan di kedai Wan Ping, gratis tidak dipungut biaya tanpa kecuali di tanggung Halal karena Sista yang satu ini, telah tahan uji kesabaran.
Pemilik beranda ini Biasa juga di panggil Rabi. Kebanyakan orang suka belanja baju ber-merk, tapi buat pak Frans lebih memilih pergi ke toko buku, mojok duduk di sofa sambil ngopi di Barnes n Nobel, hanya Wanita elegan, yang bisa mengalihkan matanya dari buku. Jika sudah tak tahu harus menjawab para komentator biasanya Pak Frans akan menutup dengan kalimat,” komen-komen yang semakin membuat dunia ini indah”. Lanjutttt. Semoga di Tahun 2012, Acara Frans n Friends dapat perform 7 x dalam seminggu.
Ada gula ada semut.
Trims Pak Frans, nenek bilang Tanpa kehadiran Pesan Sponsor, persahabatan akan terjalin lebih akrab. He he he
Posted in Lusia Widijaningrum
Kelahiran Baru
December 25th, 2011 Posted 11:56 am
Bagaimana ya? Jika ku katakan, aku tahu, aku rasa, padahal tidak. Aku akan kembali terjebak dalam sangkar ketidakjujuran.
Bagaimana ya?
Tapi suara nyanyian itu, mendakir tanah kering, menembus ke dasar sumber yang mengendap air perwitasari ; menyegarkan yang letih
lesu, meredakan amarah dan Menumbuhkan Damai dan Cinta
Posted in Lusia Widijaningrum
Saat Hadir-Mu
December 14th, 2011 Posted 11:24 pm
*Ini sebuah cerita rekaan semata.
# 1.Lembaran kertas itu, kembali di unthel-unthel, dilempar ke keranjang sampah.
# 2. Layar monitor dipelototi, jari tangan tak-tik-tuk lalu ^ del kembali ke awal, layar putih bersih.
Aku gagal merangkai-Mu setiap kata yang tertuang , tanpa makna. Tak ada roh yang berdiam di dalamnya. No feel at all.
* tanpa bermaksut menolak. Skenario cerita, Allah yang menyamar.
Ku katakan, terserah Kau saja, penyamaran-Mu kali ini sungguh keterlaluan, seperti menjungkirbalikkan malam ke pagi. Aku bahkan di tertawakan, orang bilang,’ aku sudah tidak waras’.
* Kita berdebat cukup fair.
# 3. Layar monitor, seperti semula, begitupun dengan kertas itu.
Kita sudah sepakat, ku biarkan Kau menjadi diri-Mu sendiri, seperti Kaupun begitu, membiarkanku.
# 4. Selamat Natal Kawan, kataku. Dan ku dengar ucapan senada.
* ku yakinkan diri, itu Suara-Mu, dan bukan gema dari suaraku.
Saat Hadir-Mu adalah Damai dan Sejahtera di Bumi ini. Biar pun dianggap sebagai kebodohan. Aku di dalam ruang ini dengan lentera dan persediaan minyak menunggu Saat
Hadir-Mu
Yogya, 15 Des 11
Posted in Lusia Widijaningrum
Ber-Dua
November 16th, 2011 Posted 11:42 pm
(Jam berkunjung sudah habis, dipersilahkan kembali besok. )
———————-
Tik tak tik tak tik tak
Jarum pendek berdetak, mengabaikan-Mu tidaklah mudah.
Ku katakan, diamlah. Jangan mengajuk begitu, aku hanya mengubah kebiasaan. Untuk tidak ragu, mengandalkan-Mu.
Jogja 171111
Posted in Lusia Widijaningrum
Babak terakhir
November 12th, 2011 Posted 10:48 pm
Entah kamu,
————
Yang ini bukan seperti menonton drama, film, atau permainan dengan
ending menang atau
kalah.
Lalu disamakan dengan
apakah hidup ini ?
Ini tentang satu rasa yg
dirasakan.
Ku seperti memasuki
babak terakhir.
Bukan, bukan mati, ku
tak pernah tahu itu,
sekali waktu pernah
terpikir demikian.
Tapi belakangan tidak
lagi.
Hanya saja rasa itu,
makin kuat memegangiku.
Ku tak lagi menawar, di
setiap kesempatan,
tanganku lepas, bebas.
Bibirku, mengatup rapat.
Kakiku, melangkah pada
kehendak hari.
Hatiku, datar. Ada
rekaman peristiwa yg di-
rewind, bertemu teman
lama, di pesta
pernikahan, melihat bayi-
bayi bergerak lepas,
anak muda dengan sorot
mata berbinar, merekat
dunia, dengan tangan,
orang-orang tua dengan
gigi palsunya, terkekeh-kekeh, mengingat masa
lalu.
Satu hari, dari pagi
sampai petang.
Detik tiap detik menuju
perpindahan hari, itukah babak terakhir ?
Ku tak pernah tahu, tak
pernah. Kehadiran
peristiwa hari ini, bukan
dari hasil rancangan.
Dia datang, dan
kusambut. Begitu saja.
Tanganku ? Lepas,
bebas.
Cilacap 121111
Posted in Lusia Widijaningrum












