Tulisan Oleh Maria Marselina

Hujan Pagi Hari

No Comments »

January 23rd, 2011 Posted 3:07 pm

Sudah seminggu ini aku tidak bertemu dengan-Nya.  Cemas tentu saja… tapi bukan cemas karena takut sesuatu yang buruk menimpa-Nya, hanya takut kalau aku sudah melakukan kesalahan yang menyakiti hati-Nya.

Hari minggu kemarin aku coba datang ke taman, tempat kami biasa bertemu…

Di depan gua maria kami biasa duduk dan berbicara, namun seringkali kami diam sambil menikmati hembusan angin yang menerpa, gemericik daun yang bersenandung mengiringi setiap doa yang terucap, menaungi setiap hati…

Sore itu aku datang, duduk di kursi yang sama… menanti-Nya…

Kuperhatikan setiap jiwa yang datang, tapi tetap tak kurasakan kehadiran-Nya…

Kucoba pejamkan mataku… meneriakan nama-Nya dalam hati berharap Dia mendengar…

Tapi tak ada apa-apa… hanya kudengar seorang anak mendaraskan doa Salam Maria disebelahku, wajahnya tersenyum, matanya bulat bersinar menatap dengan sukacita patung Sang Bunda…

”Terima kasih sudah mengirim malaikat kecil ini untuk berdoa disebelahku,” aku membatin.

Dan akupun beranjak pergi….

Semalam aku coba susuri kembali jalan yang biasa aku lalui dengan-Nya. Aku menunggunya di ujung jalan, di bawah pancaran lampu dari Mesjid di seberang yang temaram.

Biasanya Dia selalu berdiri disana… menantiku… dan kami akan berjalan bersama menyusuri jalan menuju rumahku diringi suara adzan yang membahana menyuarakan damai bagi dunia.

Dan kembali… aku tak menemukan-Nya…

Aku merasa sendiri malam itu… hanya kesedihan yang tiba-tiba datang menyapa dan kebingungan karena tak tahu harus berbuat apa ketika seorang sahabat datang dengan kekecewaan yang mendalam…

Sudah beberapa hari ini aku mencoba menghiburnya… memberikan perhatian & kasih yang aku punya… tapi sepertinya aku tidak berhasil, hingga kekecewaan itu justru menyeretku pada kekecewaan yang sama dan kami terpuruk pada kekecewaan yang semakin dalam…

Aku hanya ingin menarik jubah-Nya saat itu dan meminta-Nya untuk mengirimkan roh penghiburan… bagi sahabatku…

Aku sendiri tadi malam… meringkuk dalam pelukan kesedihan…

Bunyi halilintar menggelegar tadi pagi, membangunkan setiap kepala dan membuatnya terjaga…

Tak lama hujan turun… airnya beriak meloncat dan menari seolah mau menertawakan hari… atau menertawakan hati..???

Kegelisahan masih tertinggal dalam diri… aku buka jendela, mencoba menikmati udara basah pagi hari… Tak ada burung yang bernyanyi pagi itu… semua sembunyi karena hujan pagi hari…

Aku coba mengirimkan pesan pendek pada sahabatku… pesan yang aku harap bisa memberikan sedikit kesejukan baru, bahwa aku dan Dia merindukan senyum sukacitanya hari ini… senyum yang dapat mengubah wajah dunia, duniaku…

Hujan belum reda… tapi hatiku bergembira… karena tepat di seberang sana, berteduh di depan warung yang belum buka, Dia bersama… hmm… bersama sahabatku!

Aku pun melonjak gembira… hujan tak lagi mentertawakan karena kini kami tertawa bersama…

Kulambaikan tanganku… kuteriakan nama-Nya keras-keras…

Dengan cool Dia hanya tersenyum sambil mengedipkan matanya.. aahhh, masih centil dan menyenangkan…

Kulihat Dia merangkul pundak sahabatku sambil tersenyum penuh kasih… sementara di pundak-Nya ada tas carrier besar yang Dia bawa…

Hujan belum lagi reda ketika Dia datang menerabas air yang menderas dan menghampiri jendela kamarku yang terbuka..

”Aku mencari-Mu!” kataku.

”Iya, Aku tahu dan Aku tahu juga kau tak akan marah jika tahu kalau Aku pergi untuk menemaninya,” kata-Nya sambil menatap sahabatku di seberang sana.

”Dia sedang menanggung beban yang berat..” ucapku sedih.

”Ya, tapi tak apa.. karena Aku sudah menanggung sebagian bebannya dalam tas carrier-Ku dan akan meminta sisanya agar bisa sekalian Ku bawa,” kata-Nya menjelaskan.

”Terima kasih karena Kau selalu baik. Tolong sampaikan maafku padanya, karena aku tak pernah cukup mampu untuk menghiburnya, apalagi meringankan bebannya.”

Dia tersenyum dan mengusap dahiku dengan lembut.

Sesaat kemudian Dia berbalik dan kulihat tas carrier besar tergantung di pundak-Nya.

Ada tulisan ’Masa lalu’, ’Kecewa’, ’Amarah’, ’Kesedihan’ di bagian depan tas itu. Dia membawa semuanya….

Ku tarik tas itu sehingga Dia berbalik lagi menghadapku.

”Tolong jaga sahabatku, lebih dari Engkau menjagaku. Sayangi dia lebih dari Engkau menyayangiku.”

”Pasti! Aku akan mendekap-Nya erat dan meninggalkanmu..” kata-Nya berseloroh sambil tertawa lebar.

Dia pergi berlari menembus rimbunan hujan pagi hari kembali menemui sahabatku.

Di dekap-Nya erat sahabatku seolah mau memastikan bahwa dia tidak sendiri…

Dia memang selalu ada… bahkan di hujan pagi hari…

Jakarta, 18 Januari 2011

Posted in Maria Marselina

Sesak :’(

2 Comments »

May 24th, 2010 Posted 11:42 am

(Maria Marselina)

triing..

sms masuk.. aku baca pesan dari Abangku,

“MOHON DOA: untuk kesembuhan Rm. Harda Pr (Pastor Paroki Gereja Perbatasan) yang saat ini sedang koma dan sudah menerima sakaramen perminyakan di ICU RS. Mulia Cibubur Hayam. Mohon disebarkan ke umat yang lain.”

aku terdiam… mendung di luar menambah suram suasana…

“gak mungkin!”, sergahku… baru sebulan lalu aku datang ke Gereja Perbatasan dan kulihat Romoku masih sangat sehat dan terlihat sibuk menabur benih panggilan. Beliau tidak pernah sakit berat sebelumnya. Aku tahu banget, beliau selalu jaga kesehatannya!

Tapi kenapa saat itu aku tidak menemuinya? mengatakan yang perlu dikatakan…

tentang tulisan itu… tentang buku itu… (more…)

Tags:
Posted in Maria Marselina

Negeri Matematika

No Comments »

April 28th, 2010 Posted 9:47 am

(Maria Marcelina)
Negeri ini negeri matematika
Semua diukur dgn angka
Semua dinilai dgn logika
Tidak ada tempat bagi hati berbicara

Negeri ini negeri matematika
Orang miskin dan tak berdaya
Hanya ditunjukan dalam persentase semata
Digusur & dibersihkan demi kenyamanan mata

(more…)

Tags:
Posted in Maria Marselina

Nyanyian Ibu (cerpen anak yg kurang anak2..?!)

No Comments »

February 24th, 2010 Posted 11:57 am

(Maria Marselina)

Nyanyian Ibu

Halo teman, apakah kalian suka menyanyi? Waah, aku juga suka sekali menyanyi, Ibuku bercerita bahwa waktu aku masih bayi, Ibu selalu menyanyikan lagu-lagu indah untukku. Sekarang pun Ibuku masih suka bernyanyi tapi bedanya sekarang Ibuku kalau bernyanyi nyariiiing sekali. Aku rasa banyak diantara kalian juga sering mendengar Ibu atau Ayah kalian bernyanyi untuk menghibur kita atau sekedar menghibur diri mereka sendiri bukan? Tapi nyanyian Ibuku bukan nyanyian biasa, beliau tidak menyanyikan lagu seperti yang diajarkan Ibu guru di sekolah, bukan juga nyanyian nina bobo yang bisa membawa kita ke alam mimpi yang indah.  Syair lagunya pun tidak panjang, dengan intonasi yang semakin tinggi di setiap ujung kalimatnya dan memperpanjang pengucapan untuk suku kata terakhir pada setiap kalimatnya. Aku beri contoh beberapa yaa…

(more…)

Tags:
Posted in Maria Marselina

Anak-anak

2 Comments »

January 4th, 2010 Posted 5:08 pm

(Maria Marselina)

Anak-anak

Suatu hari saya diajak keponakan yang baru berusia 6 th memasuki sebuah toserba yang sudah sangat dikenalnya.  Ditunjukannya beberapa barang yang disukainya, seperti botol minum bergambar princess warna merah muda, serta sekumpulan boneka Barbie yang tertata rapi di etalase.

Kemudian saya tanyakan mana yang dia ingin beli saat itu tapi seolah tak mendengar dia berlalu sambil mengajak saya keluar toko tanpa ada yang dimintanya.

Sebagai orang yang lebih dewasa, dalam hal ini dewasa dari segi umur, saya mencoba memahami apa yang dipikirkannya. Ada beberapa kemungkinan dalam hal ini:

(more…)

←Older