Tulisan Oleh Maria Marselina
Sepatu Hitam
September 4th, 2009 Posted 1:34 pm
(Maria Marselina)
Semilir angin mulai memasuki celah-celah kaca nako. Merambat masuk membelai lembut wajahku yang tengah terlelap persis di bawahnya. Ahh… sudah mulai sore pikirku. Rasa kantuk masih belum hilang, mata masih enak dengan posisinya yang terpejam, dengan guling kelempes yang pasrah saat kupeluk, dialasi kasur kapuk keras yang sudah bertahun-tahun isinya tak pernah diregenerasi.
“Ceelll…!! Bangun kau!” Mingming teriak dari depan jendela nako sambil membuka pintu kamarku tanpa permisi dan tanpa perasaan..gedubraakk..!!
Aiiih..berisik kali kawanku satu ini.. Kutarik bantal dari bawah kepalaku dan kupindahkan ke atas kepalaku untuk menutupi kuping.
”Cel! Bangun, Cel! Sudah sore inii.. iih, kayak kerbau kau niih!” suara Mingming menggelegar seperti mercon tengah hari, dengan logat Bangka dan kosa kata yang dicampur bahasa jawa.
Posted in Maria Marselina
Don’t judge de book from de cover..
August 13th, 2009 Posted 11:46 am
(Maria Marselina)
“idiiih…, siapa niih..?? foto profilnya udah kayak preman jahanam gini..”, gerutu Lini ketika membuka fesbuknya.
”beuuh..dasar abegeh, bahasa statusnya gak jelas gini… males deeh, kepala gue udah muter-muter tetep aja gue gak ngerti.., kenapa gak nge-add kaum sebangsanya aja sehh..??” kemudian ditelusurinya lagi profil laki-laki yang memintanya untuk menjadi teman mayanya. Sambil duduk berselonjor di teras depan, ditemani kicauan burung yang tidak sempat lagi dinikmati, Lini asyik menekan tombol-tombol kecil telepon genggamnya.
”Selamat pagi Mbak Lini.”
” eh, slamat pagi Mang,” sahut Lini tanpa mengubah posisi tubuhnya, tanpa melihat orang yang mengajaknya bicara.
Posted in Maria Marselina
Dan siang itu…
August 10th, 2009 Posted 1:18 pm
(Maria Marselina)
Tersentuh aku siang itu ketika membaca status seorang sahabat di situs jejaring sosial. Bukan kebiasaanku untuk beriba-iba atas penderitaan orang, karena aku bantu atau tidak mereka, orang-orang papa itu, toh akan tetap dapat melanjutkan hidupnya. Bukankah Tuhan punya rencana yang baik dan indah bagi masing-masing kita?? Itu pun kalau Tuhan memang sungguh ada, dan aku percaya mereka meyakini itu.
Lagi pula, aku tidak tahu bantuan macam apa yang bisa sungguh dapat merubah kehidupan mereka, karena kalau aku bantu dalam bentuk dana, paling hanya bisa menutup biaya makan mereka 1-2 minggu, atau mungkin sebulan kalau mereka super irit.
Belum lagi tingkat kebenaran atas penderitaan yang semakin sulit di ketahui.
Coba tengok saja pengemis yang biasa beredar di KRL jakarta-bogor, ini sungguhan… ada seorang Ibu yang mengemis di kereta sambil menggendong anaknya yang cacat karena tidak memiliki tangan dan kaki yang utuh. Suatu siang tidak sengaja aku lihat Ibu itu di televisi, sedang di wawancara di dalam rumahnya dan kondisi rumahnya..?? Bagus!!
Tembok yang diplester semen dan di cat rapi, lantai keramik putih, seputih gigi yang menghiasi senyum mereka, fyiiiuuhh….
Posted in Maria Marselina











