Tulisan Oleh Martina Felesia
(Martina Felesia)
Duluuuu......dulu sekali......aku selalu takut pada yang namanya "pernikahan"! Tidak seperti teman2 lain pada umumnya yang sibuk merancang dan memimpikan masa depan bersama pasangan, aku malah sibuk kesana-kemari tanpa tujuan demi menghindari keseriusan dalam menjalani sebuah hubungan. Pokoknya membayangkannya saja aku sudah parno banget.
(Martina Felesia)
Seminggu ini aku uhuk uhuk terus. Ketularan anak2 yang sudah duluan ambil jatah. Sampai2 waktu dibawa ke dokter, dokternya heran, sakit kok bisa rombongan ya?!. Dengan suara batuk yang bersahut-sahutan, lama-lama jadi kayak dengerin konser. Awalnya sih bising, tapi lama2 malah bikin pusing.
Yang namanya batuk ya memang nggak enak semua. Sakit di perut, sakit di dada, sakit di kepala. Belum lagi seperti biasa batuk selalu datang bersama saudara seperguruannya yaitu pilek. Hidung buntu, ngak enak makan, nggak enak tidur, apalagi nyanyi, lebih nggak enak lagi! Itu sebabnya kalau batuk bawaanya muram melulu, susah diajak senyum. Semuanya serba nggak enak untuk dilihat. Menyedihkan!
(Martina Felesia)
Akhir-akhir ini, setiap memandang wajah anak lelakiku, selalu terbesit rasa yang sama : PERASAAN BERSALAH! Apalagi jika mendengarnya selalu mengulang-ulang perkataan bahwa ia ingin pulang ke rumah. Pulang ke Batam!
Masih kuingat kurang lebih empat bulan yang lalu aku menyetujui begitu saja ketika ayahnya menyarankan untuk menitipkannya di Jogya. Saat itu kebetulan ia tepat berusia 4 tahun dan sudah waktunya masuk sekolah. Sekalian aku berharap supaya dia bisa memperlancar "omongan" mengingat bicaranya tidak selancar anak-anak lain seusianya. Jika bersekolah di Batam aku akan lebih banyak kuatir karena kakak pengasuhnya tidak bisa menungguinya di sekolah sama seperti pada saat si Sulung dulu bersekolah. Kakak pengasuh harus fokus pada si Bungsu yang masih berusia 2.5 tahun.
(Martina Felesia)
22 Juni 2010
Malang......I'm coming.....!!!
Akhirnya aku pulang juga setelah 6 tahun tidak pernah menginjakkan kaki di kampung halaman. Selain masalah teknis karena harus membawa 3 orang kurcaci yang tidak bisa duduk tenang....juga karena masalah waktu yang memang baru bisa terwujud hari itu. Pilar libur sekolah dan dua adiknya sudah bisa berjalan sendiri tanpa harus digendong-gendong. Minimal kerepotan dan keribetan saat liburan sudah bisa teratasi sebagian.
Dengan penerbangan sore hari yang tertunda selama dua jam, dilanjutkan dengan perjalanan darat dari Surabaya ke Malang akhirnya sampai rumah juga tepat jam 11 malam. Pfffiuhh........rasa penat dan stress sepanjang perjalanan akhirnya terselesaikan juga. Melihat raut bahagia di wajah bapak ibuku yang mulai beranjak tua segala kepenatan itu menguap entah kemana. Yang jelas aku
happy bisa pulang ke rumah bersama keluarga kecilku.
(more...)
(Martina Felesia)
Horeee......libur lagi.......!!!
Itulah seruan yang keluar dari mulutku ketika ada kesempatan untuk libur sekali lagi. Setelah hari Rabu, 26 Mei, KPU daerah memberikan jatah libur satu hari dalam rangka pemilihan gubernur Kepri, maka hari Jumat saat peringatan Waisak, sekali lagi, menjadi hari yang paling ditunggu-tunggu. Besoknya adalah Harpitnas (hari kejepit nasional). Dan besoknya lagi libur hari Minggu......!
Sesuai dengan rencana aku dan beberapa keluarga muda mantan Mudika Algonz (kumpulan mudika di salah satu kawasan industri di Batam) plus beberapa anggota mudika beneran pergi me"refreshing"kan diri ke pantai Mirota, Batam. Mau kemana lagi kalau bukan ke pantai? Satu2nya tujuan rekreasi yang asyik di Batam ya emang pantai. Nggak mungkin kan lesehan di mall pakai tikar?
Sore ini aku menonton tayangan ulang Kick Andy di Metro TV. Kali ini berkisah tentang pasangan kontroversial yang akhirnya bergulir ke pengadilan : Alter dan Jane. Alterina Hofan, si "laki2" yang sejatinya adalah perempuan di akte kelahiran, dan tuduhan tentang pemalsuan identitas diri oleh pengadilan. Istrinya, Jane, anak seorang taipan yang harus kehilangan warisan karena menikah dengan Alterina. Sebuah kisah yang mengharukan dilihat dari kacamata seorang perempuan sepertiku, sekaligus kisah yang menyedihkan dilihat dari kacamata kedua orangtua Jane yang merasa tertipu dengan identitas Alter.
Aku bukannya mau berpihak kepada siapa2. Aku hanya ingin memberikan sepenggal pendapat dalam kapasitasku sebagai seorang manusia biasa. Seorang manusia yang (mungkin) juga bisa mengalami hal yang sama.
Ketika Andy Noya menanyakan hal apa yang ingin disampaikan oleh Jane kepada ibundanya, Jane menangis sambil berlutut. Ia hanya minta ibunya membiarkannya hidup bahagia dengan pilihannya. Ia bahagia, kenapa orangtuanya harus susah? Hanya satu permohonannya kepada orangtuanya : hidup bahagia! Jadi apa yang salah dengan keinginan sederhana itu?
Melihat Jane berlutut sambil memohon seperti itu membuat perasaanku ikut tercabik. Seperti penonton lain yang hadir di studio air mataku mengalir. Menangisi nasib Alter dan Jane yang kurang beruntung. Menangisi sesuatu yang aku sendiri tidak tahu mengapa mesti kutangisi. Terlepas dari bagaimana kisah ini bermula, yang terlihat di mataku hanyalah dua orang anak manusia yang sedang bergulat memperjuangkan nasibnya. Jika "kelainan" yang dibawa Alterina dimulai sejak lahirnya, jadi siapakah yang mesti disalahkan? Tuhan sebagai pencipta ataukah orangtua yang tidak bisa menerima kekurangan anak apa adanya?
Dari banyak buku yang kubaca, kisah Alter ternyata tidak sendiri. Masih banyak manusia2 terbuang yang bingung dengan identitasnya. Jadi perempuan salah, jadi laki2 juga salah. Tidak tahu harus mencari pembenaran di mana ketika lingkungan dan masyarakat sekitar cenderung menyalahkan sekaligus mengucilkan. Ketika kita menghakimi seseorang atas kekurangannya, seharusnya kita juga bisa memberikan solusi atas permasalahan yang ada. Mendatanginya, menemani, bertanya apa yang bisa kita lakukan untuk mereka. Hanya saja, mungkin, memang sudah menjadi watak manusia, hanya bisa menghakimi tanpa bisa memberikan solusi.
Menonton Kick Andy sore ini, aku seperti disadarkan bahwa segala sesuatu bisa terjadi dalam hidup ini. Bisa saja peristiwa2 itu bukanlah peristiwa yang kita harapkan, seperti keinginan kita. Yang menjadi masalah adalah, sanggupkah kita menghadapinya? Sanggupkah kita menerima tatap mata mencemooh dari masyarakat yang pada dasarnya suka memberikan penghakiman atas apapun yang menimpa kita?
Belajar dari kasus Alter dan Jane, aku berharap untuk bisa menjadi orangtua yang sesungguhnya. Orangtua yang lebih baik.....manusia yang lebih baik........! Belajar untuk menyikapi apapun pendapat anak2ku sebijak mungkin. Belajar mendengar dengan lebih baik. Tidak egois. Tidak mau menang sendiri.
Jaman sudah berubah.......yang tidak akan pernah berubah seharusnya adalah cinta antara anak dan orangtua...!
* .....anakmu bukanlah milikmu.....(Kahlil Gibran)
Ujian Nasional? Siapa takut??!! - (diucapkan dengan penuh rasa percaya diri dan bangga)
Jangan pernah berharap jawaban seperti di atas, jika sekarang ini kita tanyakan masalah UN kepada anak-anak Indonesia. Kurasa 75% di antaranya akan mengangkat tangan tinggi2 dan menjawab : "Sayaaaa.......saya takut UN.......! Takut banget malah!"
Kurasa tidak perlu dipertanyakan lagi. Sudah terbukti bahwa UN seolah menjadi ajang pembantaian bagi anak-anak Indonesia sekarang ini. Setelah UN ditetapkan sebagai standar penentu kelulusan bagi seorang siswa, maka hasil kerja keras selama masa 6 tahun SD, 3 tahun SMP, 3 tahun SMA hanya akan menjadi suatu kesia-siaan belaka. Tidak hanya siswa yang otaknya pas-pasan. Yang berotak encer pun terkadang bisa kebobolan dan akhirnya harus menanggung malu karena tidak lulus UN.
Sebagai seorang ibu aku patut merasa gundah. Sejujurnya aku tidak setuju jika prestasi seorang anak hanya dinilai dari beberapa mata pelajaran yang diujikan sekejab mata. Jika tidak tercapai target nilai satu saja, maka tidak lulus. Alangkah tragisnya nasib anak-anak kita. Menyedihkan dan sangat tidak masuk akal. Mengapa tidak diperhitungkan usaha dan kerja keras mereka selama beberapa tahun menuntut ilmu di sekolah? Mengapa tidak dilihat betapa mereka telah berusaha belajar dari titik nadir di mana mereka mulai dari tidak tahu apa-apa, menjadi tahu segala hal?
Anak sulungku sekarang memang baru kelas 4 SD. Tapi sudah cukup membuatku depresi memikirkan nasibnya kelak dalam perjalanan waktu. Berbagai peristiwa dan tayangan berita di media massa mengenai UN begitu menyengat dan memedihkan hatiku. Sanggupkah anak-anak ini menghadapi berbagai macam tekanan yang bertubi-tubi? Bagaimana dengan mereka yang akhirnya nekat mengakhiri hidup hanya gara-gara tidak lulus UN? Tidakkah anak-anak memiliki hak untuk belajar pelajaran apa yang mereka sukai dan mereka ingini? Mengapa pemerintah begitu ambisius untuk membentuk mereka menjadi suatu kesatuan yang sama? Bukankah dalam suatu taman bisa saja terdiri dari bunga mawar, melati, anggrek, atau bougenvil? Meskipun sama-sama bunga, tapi mereka tetap punya ciri khas masing-masing.
Doaku, harapanku adalah, ada PERUBAHAN secepatnya. Semoga negara ini mau dan bisa belajar dari negara-negara maju di mana potensi setiap anak begitu dihargai. Tidak penting mereka jatuh di nilai eksata atau bukan eksata. Yang penting mereka bisa menjadi seorang manusia Indonesia seutuhnya, yang menjadi diri sendiri, berkarya sesuai dengan kemampuan masing-masing, dan memiliki rasa cinta tanah air dan bangsa yang sesungguhnya. Tidak menjadi koruptor apalagi menjadi provokator.
Demi anggaran bermilyar-milyar.....akankah UN tetap ada???
(Martina Felesia)
Pagi yang hangat
Lelaki itu membangunkan aku dengan keharuman secangkir kopi
Dalam tatap romansa ia bertanya
“pahit atau manis?”
sementara dalam kantuk
kupaksa diri membuka mata
(more…)
"Mak Nyak....bagaimana rasanya memasuki usia kepala empat?" seorang teman menanyakan lewat SMS.
Kepala empat? Perasaan belum sampai ke sana deh. Hampir, iya ! Itu pun kalau tahun depan masih diberi kesempatan untuk memperpanjang hidup. Yang jelas umurku nambah dan "pekerjaan rumah" juga tambah banyak. Tugas sebagai istri, ibu, anak, menantu, dan warga masyarakat semakin complicated dan njlimet.
Diam-diam aku cengengesan. Perasaan nggak ada bedanya usia kepala satu....dua.....tiga.....atau empat...! Itu semua toh tidak akan mengubah diriku menjadi secantik Putri Salju atau Cinderella. Semua sama saja. Ini tetap aku yang sama seperti dulu. Cilik, ireng, mbeling, keras kepala, dan ngeyelan....! Tetap berambut cepak, bercelana jeans dan berkaos oblong. Tetap menggebu-gebu dan penuh semangat 45. Tetap cerewet dan penuh dengan canda tawa.
Menjadi tua atau muda apa bedanya? Tidak semua yang muda itu menggairahkan dan tidak semua yang tua itu membosankan. Yang membedakan adalah cara pandang masing2 dalam menjalani hidup. Ada yang berusia muda tapi "mlempem" sebelum tua dan ada yang mendekati tua tapi masih full dengan semangat muda. Intinya terletak pada cara kita mensyukuri segala sesuatu.
Bersyukur karena diberikan anak-anak yang sehat. Bersyukur karena masih bisa mencintai dan dicintai pasangan. Bersyukur karena masih bisa memberi dari kekurangan. Bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menjalani hidup. Bersyukur karena masih bisa mengungkapkan rasa syukur.....
Bisa jadi peringatan hari lahir tidak selalu istimewa buatku. Tetapi semangat orang-orang tercinta di sekelilingku selalu membuatnya terasa istimewa. Whatever they are, special birthday is dedicated for special person only.
* When my 39 years is coming.......
(Martina Felesia)
“Bunda, Siapakah ibu Kartini itu?” tiba-tiba si Sulungku bertanya ketika kami sedang asyik menonton TV sore itu. Tangannya sibuk memegang remote control sambil memilih-milih channel yang disukainya.
“Loh….bukankah di sekolah sudah diajarkan?” aku balik bertanya. “Setahu Bunda ia merupakan salah satu pahlawan wanita yang dimiliki oleh Indonesia!” aku menjelaskan secara umum.
“Iya sih….aku tahu kalau dia itu pahlawan. Tapi pahlawan apa? Yang namanya pahlawan itu kan orang yang berperang membela tanah air dan berjuang sampai mati?!” ia bertanya lagi masih dengan gayanya yang cuek.
“Bunda, Siapakah ibu Kartini itu?” tiba-tiba si Sulungku bertanya ketika kami sedang asyik menonton TV sore itu. Tangannya sibuk memegang remote control sambil memilih-milih channel yang disukainya.
“Loh….bukankah di sekolah sudah diajarkan?” aku balik bertanya. “Setahu Bunda ia merupakan salah satu pahlawan wanita yang dimiliki oleh Indonesia!” aku menjelaskan secara umum.
“Iya sih….aku tahu kalau dia itu pahlawan. Tapi pahlawan apa? Yang namanya pahlawan itu kan orang yang berperang membela tanah air dan berjuang sampai mati?!” ia bertanya lagi masih dengan gayanya yang cuek.
Aku sedikit bingung. Bukan karena tidak tahu apa maksud pertanyaannya. Tapi bingung bagaimana hendak menjelaskan arti pahlawan kepada seorang anak kelas 4 SD yang baru berumur sembilan tahun, supaya jawabannya tidak menjadi semakin membingungkan.
”Yang namanya pahlawan adalah orang yang berjuang untuk membela tanah airnya. Membela bangsanya. Intinya pahlawan adalah orang -orang yang membela kebenaran dan berjuang bagi orang lain terutama bagi mereka yang yang tertindas!” aku berusaha memberikan penjelasan.
Setelah beberapa waktu sempat tertunda karena berbagai alasan, akhirnya kesampaian juga aku ketemuan sesama nuliser yang ada di Batam. Dan ini adalah sekilas infonya........theng...theng........=>
Sabtu, 17 April 2010
Aku janjian sama Imelda Wijaya. Seorang teman nuliser berprofesi dokter yang punya hobi nulis dan sudah menghasilkan banyak tulisan di blog rame-rame kami yaitu YukNulis. Mumpung hari Sabtu adalah hari kemerdekaanku karena bisa klayapan untuk beberapa saat, maka kami sepakat untuk ketemu sore itu jam 15.30 WIB di sebuah mall. Kebetulan Imel harus mengantar Nanda, putri tunggalnya, untuk les balet sore itu.
Oke! Deal! Solaria, 15.30 sore!
Sambil menunggu jam setengah empat aku ikutan mengantar seorang teman ke bandara (temanku itu mau hunting ke Malang ngapelin cowoknya). Di bandara kongkow2 sampai jam 2. Terus lanjut ke mall tempat aku dan Imel janjian.
Mengingat para "sahabat" dalam perut yang belum dikasih makan seharian, maka aku sempatkan untuk berbaikan dulu dengan mereka. Menu pilihan adalah seporsi bakso kuah dan es teh. Betul2 gak sehat blas! Tapi karena pas seleranya itu ya mau apalagi. Itu juga yang diembat. Duduk di Lapangan Tembak beberapa waktu sambil termenung...membayangkan wajah si Imel.......(penasaran.com).
Masih ada waktu! Jadi aku muter2 dulu di mall. Melihat ini, melihat itu. Mengobrak-abrik diskonan......membolak-balik pilihan.....antusiasme tinggi ketika melihat banyak baju baby lucu2....(untung nggak terhipnotis untuk beli karena anakku bukan bayi lagi). Terus menyempatkan diri nelpon suami minta disamperin saat dia pulang kerja.
15.30 WIB! Imelda SMS dia datang agak telat. Ketemuan mundur ke jam 16.00. Yo wes gak popo...nanggung nih...jadi mesti ditunggu. Nggak mungkin mundur setelah beberapa lama nunggu. Ditemani segelas teh tarik dan sepiring pangsit goreng (yang bener2 gak garing) aku menunggunya. "Mbak'e penjual pangsit......aku pesen pangsit goreng....bukan pangsit mlempem......!"
Dan....eng ing eng.......yang ditunggu2 pun muncul.....! Imelda Wijaya and husband.....! Dia baju ungu....aku kaos kuning.....! Karena ketemuannya di tempat umum ya kami tidak seberapa histeris teriakannya...! Hanya senyum lebar yang mewakili betapa we are very happy atas pertemuan ini. Cipika cipiki bentar.....muah....muah...! Imelda yang wangi karena sudah sempat mandi.....dan diriku yang asem karena belum kesentuh air......hehehe....(itu sebabnya aku agak malu2 waktu diphoto......takut orang yg ngliat photonya pada kabur......mambuuu....).
Tidak sempat membahas beberapa buku dan kaos pesanan. Kami langsung ngrumpi ngalor ngidul....tentang ibu kost yuk nulis.....(sorry Lini! Ai lop yu...).......tentang anak2....tentang jejaring sosial yang bikin mumet...tentang internet yang suka ngadat......deelel....deelel.....! Sayang begitu singkat. Cuman setengah jam! Kurang man.......^-*
Teryata sesuai dengan photonya.... si ibu dokter satu ini emang ayu.....ramah.....dan suka tersenyum.....(pasti senang tuh yang jadi pasiennya). Suaminya pun menyenangkan. Ramah. Pokoke biarpun waktunya serba terbatas....aku puas! Kalau nggak inget umur sudah mau kepala empat....pasti aku sudah loncat2 kayak si Pilar kalau lagi happy.....! Saking senengnya aku malah lupa kalau bawa digital camera. Giliran udah salam pisah baru inget......wuaaah......piye toh iki? Bahkan ambil poto pakai hp pun aku gak ingat.
Untung sebelumnya si Imel kreatif....! Sang misua ambil foto kami berdua pakai hp dirinya. Satu gula satu kopi.....hahaha....! Senyum lebar....piss.....! Maunya kami bergaya banyak2 ya.....tapi mengatisipasi pandangan mata banyak orang ya terpaksa agak terkontrol gayane.....malu2....tapi mau.....(padahal malu2in). Kalau photo banyak2 takutnya ada yang datang minta tanda tangan......^^
Setengah jam berlalu dan kami harus berpisah. Suamiku sudah telpon2 dan Imel pun harus segera menjemput sang buah hati. Akhirnya cipika cipiki lagi.......dan say good bye.....diiringi janji2 lain kali mau ketemuan lagi......! Ya....semoga terkabul dah....siapa tahu next time ada peserta yg lain lagi....!
Itulah sekilas info dari Batam. Tina melaporkan untuk Anda para sahabat tercinta di dunia maya......GBU
Setelah berhari-hari nggak ngeblog dan pesbukan rasanya seperti berabad-abad nggak ketemu orang tersayang. Alasannya sih banyak.....ada yang klise ada yang jujur. Semuanya sama2 alasan. Jadi para pembaca dipersilahkan untuk memilih sendiri alasan mana yang pas untuk tidak meng-update blog ataupun untuk tidak mengomentari status kawan sementara waktu...!
Alasan Pertama : Tidak ada waktu
Menurutku ini alasan klise meskipun situasinya ya memang benar2 seperti itu. Gimana mau ngeblog kalau pekerjaan di kantor nggak habis2. Ditambah lagi dengan boss yang terlalu banyak mau maka komplitlah alasan tidak ada waktu untuk mengeblog. Jangankan untuk update, hanya sekedar baca2 saja susah cari waktunya.
Pas giliran sampai rumah dan ide kembali muncul, lagi2 tidak ada waktu untuk update. Selain jaringan internet yang terkadang mati hidup sesukanya, juga karena skala prioritas yang pasti sudah harus berganti sasaran kalau sudah sampai di rumah. Anak2! Si Sulung yang mesti ditungguin kalau belajar. Dan si Bontot yang lagi cerewet2nya karena sedang berada dalam taraf menambah perbendaharaan kata (Untung si Tengah lagi ngungsi di Jogya). Dalam hal ini jangan pernah mengharapkan bantuan bapaknya. Melihatnya terkapar lelah sepulang kerja rasanya tidak etis kalau mesti meminta bantuannya untuk menghandle anak2 sementara emaknya sibuk ngenet. Itu namanya ORA SOPAN!!! Bisa2 netbooknya dilempar ke parit sama doi...hahaha....
Alasan Kedua : (Kalender Liturgi Gereja Katolik) Masa Puasa dan Pantang
Sudah menjadi komitmen pribadi untuk mengurangi kegiatan yang bersifat duniawi pada saat masa puasa dan pantang. Bukan karena disuruh oleh Gereja. Bukan karena disuruh oleh suami. Apalagi disuruh oleh pastor paroki. Bukan! Ini adalah sebagai bentuk keinginan sendiri untuk bisa lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan bukan kepada manusia (Apalagi manusia di dunia maya). Jadi dalam hal ini tidak ada penyesalan karena memang sudah diniati.
Sementara waktu karena tidak ngenet ya fokus pada kegiatan di gereja. Apalagi bagiku secara pribadi, Paska adalah saat2 spesial untuk berekonsiliasi dengan Tuhan dan dengan sesama. Jadi....hidup Paska....horeee.....!!!
Alasan Ketiga : Jaringan FB dibanned (kantor)
Sudah sebulan lebih jaringan pesbukan di kantorku di banned. Meskipun bagiku alasannya terkesan tidak masuk akal dan terlalu dibuat-buat ya mau nggak mau aku terima saja. Jadi kalau biasanya bisa bersay hello2 sama banyak orang lewat dunia maya....maka sekarang hanya bisa bersay hello lewat hp.....wuaaahhh.....(tulisane cilik2 rek !) Mungkin saja si Big Boss ngiri karena dia nggak bisa pesbukan......sementara anak buahnya pesbukan melulu....jadi diperintahkannya untuk nutup FB.....mungkin sih.......:))
Meskipun kata orang di kantor pesbuk itu tidak berguna, tapi bagiku tetap ada gunanya. Lewat pesbuk aku bisa kenal beberapa orang sealiran. Yang ngocol....yang sehobi.....yang seide.....yang gila...yang waras.....pokoke dari sekian persen yang negatif...aku banyak memperoleh hal yang positif....! Aku banyak mendapatkan sahabat dadakan di pesbuk....! Aku banyak mendapatkan pengetahuan yang (juga) dadakan di pesbuk. Pokoke pesbuk is cool man !
Alhasil meskipun FB dibanned di kantor....pesbukan tetap jalan terus........(ngeyel.com). Nggak bisa di kantor ya di rumah....ngak sempat di rumah ya pakai hp.....gitu aja kok repot....!
Tiga alasan di atas adalah alasan utama selain alasan MALES dan KEHABISAN IDE. Kalau yang dua ini ya mau nggak mau, lengkap nggak lengkap fasilitasnya, ya tetap saja nggak bakalan bisa jalan. Mau dipaksa kayak manapun tetap saja otak dan tangan tidak bisa diajak bekerjasama mengalirkan ide2 yang cemerlang. Padahal maunya nulis....nulis...dan nulis....! Tapi otak stagnan. Mirip robot.
Hari ini lembaran baru dimulai. Dengan semangat 45 aku mulai berbenah. Mulai berangan-angan dan berencana. Sesibuk-sibuknya aku nanti, tetap harus ada waktu untuk menulis. Tentang apa saja. Minimal untuk dibaca sendiri.....dibaca suami...dan dibaca si Pilar karena dia sudah pintar mengkritik tulisan emaknya....!
Itulah sekilas info dari Batam tanah airku tercinta.....!!! Have a nice day for all of you.......muah...muah....lop yu pul....!!!
"Bagaimanapun juga, aku tidak bisa lagi percaya penuh kepadanya seperti dulu. Sekeras apapun aku berusaha, aku merasa ada sesuatu yang telah hilang di sini, di relung hati ini!" kata temanku yang beberapa waktu yang lalu di"selingkuhi" oleh suaminya.
Aku tersenyum simpul. Berusaha memaklumi sikapnya meskipun itu terlihat aneh dalam pandanganku. Aneh karena aku tahu bahwa sebenarnya dia masih sangat mencintai suaminya. Pada saat dia berkata begitu mungkin ia masih punya perasaan sakit hati akan perbuatan suaminya. Perasaan tidak rela karena kesetiaan yang dipupuknya selama bertahun-tahun dikhianati begitu saja.
Sebagaimana manusia biasa, kurasa wajar-wajar saja jika masih bisa melampiaskan segenap rasa yang membuncah di dada. Masih bisa merasakan bahagia. Masih bisa merasakan sedih, senang atau sakit hati. Masih bisa merasakan kangen. Masih bisa merasakan sepinya hidup dalam kesendirian tanpa teman. Dengan pernah merasakan berbagai macam rasa itu , maka akan sangat mudah untuk bisa bersimpati dan berempati terhadap penderitaan dan kebahagiaan orang lain. Dengan pernah merasakan berbagai macam rasa itu, kita akan menjadi manusia yang tidak hanya pandai berteori tapi juga tahu tahu prakteknya dalam kehidupan sehari-hari.
Yang jadi masalah adalah jika seseorang itu sudah tidak bisa merasakan apa-apa. Sudah mati rasa. Orang seperti ini jelas tidak akan sinkron lagi antara pikiran dan hatinya. Orang seperti ini kalau bukan menjadi orang berkepala batu sudah pasti akan menjadi orang berhati batu. Orang yang tidak punya perasaan karena sekali lagi, antara pikiran dan hatinya hanya ada gang buntu. Jaka Sembung makan ampas, nggak nyambung blas!.
Beberapa waktu lalu ada seorang temanku pulang kampung ke Jogya. Keluarga di Jogya ingin menitip sesuatu sebagai oleh2 untuk anak2ku. Yang namanya titip pastilah dilihat dulu apakah orang yang dititipi mau dan tidak merasa keberatan. Temanku itu bilang tidak masalah. Tapi ia tidak pernah muncul, menelepon atau mengkonfirmasi ulang apakah keluargaku di Jogya jadi menitip sesuatu. Dengan tanpa beban mereka balik dari Jogya dan mengabarkan beberapa hari kemudian setelah sampai, bahwa tidak ada titipan. Oke, tidak masalah. Aku anggap bahwa temanku ini mungkin sedang sibuk dan terburu-buru.
Yang membuat keki adalah ketika suamiku mendapat kesempatan pulang kampung. Keluarga temanku di Jogya ada menitip sesuatu sebagai oleh2. Entah keluarganya berpikir pakai otak atau (maaf) pakai pantat karena ternyata barang titipannya itu besarnya melebihi barang yang harusnya dibawa oleh suamiku. Sudah besar, berat lagi. Gimana nggak berat, lha wong isinya panenan alpukat?! Aku yakin temanku itu pasti tahu apa isi titipan keluarganya. Tapi dia pura2 tidak tahu dan merasa biasa2 saja bisa menyengsarakan suamiku. Kali ini mulut ceriwisku yang giliran berkomentar," Dasar tidak tahu diri dan tidak punya perasaan!"
Itu adalah salah satu contoh kasus ^-^
Kasus teranyar adalah kasus hatiku yang beberapa hari ini harus kacau balau menahan rindu. Anak lanangku yang ngganteng dan ireng dewe dipinjam Budenya untuk beberapa waktu. Ini bukan mengada-ada. Si Altar benar2 dipinjam. Jarak antara Jogya dan Batam bukanlah jauh sangat. Hanya 2 jam dengan pesawat terbang. Tapi rasa hatiku ini yang tidak bisa diajak bekerjasama. Setiap detik menjadi saat yang meresahkan karena aku hanya bisa mendengar suaranya di gagang telepon. Tidak bisa memeluk dan memberikan ciuman seperti biasa yang sudah pasti rasanya begitu menyakitkan.
Ah, perasaan! Betapa hebatnya orang yang mampu mengendalikan rasa. Mengendalikannya supaya tidak menjadi tumpah ruah. Menerimanya dengan penuh cinta dan menjalaninya dengan penuh keikhlasan. Jika setiap orang bisa melakukan ini, maka tidak akan ada sakit hati yang terlalu sakit. Tidak akan ada girang hati yang terlalu girang. Tidak akan ada kesedihan yang terlalu menyedihkan. Yang pasti, tidak akan ada orang yang tidak punya perasaan!
Jelek2 begini...aku paling anti dengan yang namanya Jam Karet. Aku lebih suka jam asli terbuat dari stainless atau kulit sekalian karena lebih cantik dan lebih enak untuk dilihat (walah...kok malah jadi ngomingin jam sih???). Jam karet identik dengan mengulur-ulur dan memperlambat segala sesuatu yang berkaitan dengan waktu. Kalau bisa molor ya molor semolor-molornya. Kalau perlu ngaret ya ngaret sengaret-ngaretnya.
Dari jaman aku muda sampai sekarang ini, aku paling sebel kalau harus berurusan dengan masalah karet-mengaret ini. Bukan mau sok on time atau apalah namanya, tapi yang namanya menunggu itu adalah saat2 yang paling menyebalkan buatku (nggak tahu kalau buat orang lain). Apalagi kalau harus menunggu orang yang dengan sengaja ngaret dan mengulur-ulur waktu.
Herannya di tanah tumpah darahku di mana aku tinggal sekarang ini, kebanyakan yang suka ngaret adalah mereka yang menyebut dirinya kaum muda, yang notabene masih segar bugar, tidak penyakitan, tidak punya tanggungan anak/ istri/ suami dan belum terlalu disibukkan dengan berbagai macam urusan di kampung dengan segala pernak-perniknya. Memang sih tidak semua kaum muda seperti itu, tapi mayoritas di sini menurutku berlaku seperti itu.
Misalnya ada janji ketemuan, entah ketemuan dalam satu wadah perkumpulan atau organisasi tertentu, bisa dipastikan bahwa urusan molor waktu akan terjadi. Jika seharusnya ketemuan ditentukan jam 19.00WIB misalnya, maka acara baru akan dimulai jam 19.30 WIB atau kalau bisa lebih dari itu. Padahal menurutku (lagi) jika janji ditentukan jam 19.00 WIB ya minimal sebelum jam itu kita sudah harus ada di tempat atau paling tidak datang tepat waktu.
Karena masalah karet-mengaret ini cenderung sudah mendarah daging, maka orang sering kena amnesia dengan bersikap seolah-olah itu menjadi hal yang biasa2 saja. Mereka lupa bahwa kecenderungan untuk ngaret dengan sengaja ini, bisa jadi merugikan orang lain tanpa mereka sadari. Tidak ada awareness dari dalam diri sendiri bahwa bukan hanya mereka (yang sengaja ngaret ) yang punya kepentingan, tapi ada orang lain yang sudah pasti juga punya kepentingan. Orang yang suka ngaret sering lupa bahwa mereka tidak hidup sendiri tapi hidup bersama orang lain.
Sebenarnya aku juga bukan orang yang on time sangat. Tapi aku selalu berusaha untuk tidak mengecewakan orang lain dengan datang di suatu acara minimal beberapa menit sebelum jam yang ditentukan. Jika terpaksa sekali ada suatu keperluan yang tidak bisa ditunda maka selalu ada informasi dan konfirmasi bagi orang yang menunggu supaya mereka pun tidak menjadi sebal seperti aku.
Intinya bagiku, kalau bisa datang tepat waktu mengapa harus memperlambat waktu? Kalau bisa memulai suatu acara pada jam yang telah ditetapkan, mengapa harus mengulur-ulur jamnya? Jika disiplin itu tidak dimulai dari diri sendiri bagaimana bisa meminta orang lain untuk berdisiplin?
Bagusnya aku tidak punya jam karet...jadi tidak terinspirasi untuk selalu ngaret di setiap waktu dan di setiap saat.....^^