Tulisan Oleh Martina Felesia

Halo, 2012!

No Comments »

January 6th, 2012 Posted 10:52 am

Ini hari ke-6 di awal tahun 2012.

Cuaca cerah.  Bisa dibilang terik malah.  Jika Jakarta terlihat mengenaskan karena diguyur hujan badai seperti kutonton di televisi kemarin malam, maka Batam cenderung penuh dengan riak angin dan belum ada tanda2 akan turun hujan.  Kalau ada yang ingin “menggosongkan” kulit seperti Agnes Monica, sepertinya ini saat yang tepat untuk keluar tanpa harus memakai embel2 aksesoris penangkal sinar matahari di seluruh tubuh.  Untuk aku pribadi, kulit gosongku sekarang ini sudah cukup, tidak perlu ditambah dengan kegosongan yang lebih ekstrim lagi. 

Terus terang, aku belum punya resolusi yang “ngejreng” di tahun baru ini.  Resolusi terakhir yang kubuat, kupanjatkan dalam doa saat tutup tahun kemarin. Itu pun hanya satu : Semoga Tuhan memberikan kesehatan kepada keluargaku!  Yang lain belum ada. 

Berpijak dari pengalaman tahun lalu, aku tidak mau terlalu muluk dalam bermimpi.  Terlalu banyak mimpi terkadang membuat aku merasa stagnan.  Tidak tahu impian mana yang sesungguhnya kuinginkan.  Jadinya malah bingung mau melakukan apa.  Dan ujungnya malah tidak melakukan apa2.  Nil!  Jadi, di tahun ini, aku ingin menyelesaikan impianku satu-persatu.  Tiap tahun satu mimpi pun tak masalah.  Yang jelas semoga tidak hanya menjadi satu igauan tak berarti.

Tahun ini si Sulung masuk SMP.  Si Tengah masuk SD.  Dan si Bungsu masuk TK.  Aku bermimpi bisa menjadi full day mother bagi mereka.  Mengantar jemput sekolah.  Selalu ada saat dibutuhkan.  Siap menampung berbagai cerita yang mereka punya.  Sederhana saja, kan?  Hanya saja, meskipun kelihatannya sangat sederhana, implementasinya butuh keberanian tersendiri.  Keberanian itulah yang sekarang ini, perlahan tapi pasti, sedang kuperjuangkan.  Semoga tidak meleset jauh dari harapan.

“Ah, 2012!  Semoga perjalanan menapaki hari2mu nanti, tidak sengeri saat menonton film dengan judul yang sama.  Semoga ada banyak berkat, cinta dan waktu luang untuk bisa saling berbagi dengan banyak orang.  Semoga peziarahan panjang setahun ke depan, bisa terisi dengan banyak hal yang menyenangkan dan membahagiakan.  Semoga hari2ku senantiasa diwarnai dengan keceriaan, sama seperti udara di luar sana sekarang ini.  Apapun yang terjadi, semoga aku tidak lupa untuk selalu bersyukur dan berbagi senyuman”.

* Batam, saat terik menggantung -

Posted in Martina Felesia

Balada Demo UMK

No Comments »

November 23rd, 2011 Posted 2:32 pm

Sebenarnya, sejak kemarin aku sudah membahas hal ini sama suamiku.  Aku berencana mau berangkat kerja agak pagian, bonceng misua naik motor, karena diperkirakan akan ada demo besar2an menuntut kenaikan UMK keesokan harinya.?  Berhubung kami pisah tempat kerja, maka suami tersayangku ini, merelakan diri untuk mengantarkan aku terlebih dahulu.  Masalahnya kalau naik motor kan masih bisa nlusep2 dibandingkan kalau naik angkot.  Yang jelas dengan satu syarat yaitu : Harus berangkat pagi2!.
Lha tapi yang namanya emak2, susah juga kalau harus berangkat pagi2 sesuai rencana awal.  Meskipun sudah bangun jam lima pagi, tetap juga tidak bisa berangkat pagi beneran.  Rutinitas pagi hari dan urusan menyiapkan bekal anak2 sekolah tetap harus dikerjakan.  Memastikan mereka sudah sarapan pagi dan siap untuk berangkat sekolah adalah tanggungjawab yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Jadi, meski dikebut kayak mana pun, ternyata jam tujuh-an juga baru bisa berangkat dari rumah.
Ternyata oh ternyata, jam tujuh pun jalanan sudah macet total.  Berbagai macam kendaraan dan berbagai rupa manusia tumplek blek jadi satu.  Dengan berbagai pertimbangan, aku dan suamiku memutar jalan dan menyempatkan diri duduk2 di pinggiran jalan, yang apesnya, nggak ada satu pun warung kopi ada di situ.  Sampai jam 9 kemacetan semakin bertambah.  Para peserta demo semakin banyak berdatangan dari segenap penjuru Batam.  Alamat kalau “bonek” malah akan semakin susah lewat.  Puncaknya kami memutuskan untuk pulang ke rumah dan berniat berangkat lagi jam dua belasan.  Lumayan bisa ngopi2 dulu dan berpesbuk ria.
Demo UMK kali ini sepertinya tidak main2.  Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) yang terkenal vokal dan serikat2 pekerja lainnya nampaknya berhasil membuat lumpuh kota Batam.  Rasa geram terhadap akal2an pengusaha dan pemerintah bisa jadi menjadi salah satu pemicu yang siap meletup kapan saja.  Bayangkan saja, Batam yang penuh dengan para investor asing, UMK-nya dari tahun ke tahun tidak pernah beranjak ke arah yang lebih baik.  Dengan biaya hidup yang sangat tinggi, UMK segitu2 saja tidak akan pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup pekerja.  Untuk yang lajang saja kurang, apalagi yang sudah berumah tangga.
Tahun 2011 UMK Batam hanya Rp1.180.000.  Tahun 2012 pengusaha mengusulkan Rp1.260.000, sementara Serikat Pekerja mengusulkan Rp1.302.900 sesuai dengan survey Kebutuhan Hidup Layak (KHL) .  Sialnya lagi, KHL yang semula sudah disetujui oleh pengusaha akan direvisi lagi (yang sudah jelas berdasarkan kepentingan pengusaha) karena dianggap tidak menguntungkan pengusaha.  Dalam hal ini, ketidaktegasan pemerintah dalam mengambil keputusan semakin menambah runyam nasib buruh di kota Batam (berita terbaru menyebutkan buruh menuntut UMK 2012 sebesar Rp1.760.000 – KHL versi FSPMI).
Sebenarnya, meskipun para investor asing itu bersedia membayar UMK sesuai tuntutan para pekerja, tetap saja tidak akan bisa dinikmati oleh para pekerja itu sendiri.  Berbagai macam pungli dan tingginya biaya siluman lain2 yang berlaku bagi investor asing membuat para pekerja tidak bisa menerima haknya sesuai dengan standar KHL yang diinginkan.  Jika pemerintah belum bisa membenahi mental “korupsi” dan “sogok-menyogok” di negara ini, maka jangan harap nasib para pekerja akan diperhatikan.
Di rumah, aku terus memantau situasi dari status FB beberapa teman.  Sampai jam sebelasan belum ada kabar bahwa jalanan lancar.  Setengah jam kemudian sudah ada kabar kalau demo sudah bubaran dan aku nekat berangkat.  Ternyata jalanan tak juga lancar.  Kami terseok-seok di atas motor, menyelip sana sini, berkutat di antara ribuan motor dan manusia yang juga terseok-seok mencari celah.  Alamak!! Tahu gini, mendingan aku ngorok aja di rumah.
Akhirnya dengan perjuangan yang “terpaksa”, karena rutenya sudah maju kena mundur kena, sampai juga aku di tempat kerja.  Aku turun di persimpangan dan lanjut perjalanan dengan jalan kaki dan naik ojek karena suamiku tidak bisa berputar lagi.  Sampai kantor jam setengah satu.  Lumayanlah…ada yang nawarin sarapan lontong sayur (makan siang kali yeee??).  Baru datang langsung makan.  Bukannya itu namanya rejeki?
Menurut informasi, jika tuntutan kenaikan UMK kali ini dipenuhi, maka seluruh aktifitas akan berjalan normal kembali.  Tetapi jika mengalami jalan buntu, maka demo besar2an akan berlanjut lagi.  Aku sih senang2 saja.  Ada alasan untuk nggak masuk kerja……hehehe.  Tetapi sejujurnya, aku berharap Batam akan kembali jaya seperti dulu lagi.  Dulu, meskipun biaya hidup tinggi, segalanya masih bisa terbeli.  Sekarang ini, ada Pemkot, ada DPRD, ada Badan Pengelola kota Batam tapi nasib buruh tetap begitu2 saja.  Tidak berubah!  Jadi apa gunanya ada mereka?
* Beruntung  aku adalah seorang Golput tulen

Posted in Martina Felesia

Tiba2

No Comments »

November 10th, 2011 Posted 10:19 am

Jadi aku hanya bisa termangu ketika seorang teman yang sedang bermasalah besar dengan suaminya bertanya,”Terus aku harus bagaimana?  Dalam hal ini kurasa sulit memberikan maaf atas apa yang telah dilakukannya padaku!”.  Masih terasa nada emosi jiwa dalam suaranya.  Emosi yang sayup2 samar masih beraroma cinta.  Emosi yang menurutku memang patut diluapkan daripada terlalu lama dipendam.

“Aku masih tidak percaya, mengapa ia tega melakukan ini padaku?!  Bagaimana mungkin ini terjadi padaku?!  Seumur hidup aku tidak pernah membayangkan bahwa pasangan hidupku akan melakukan hal demikian.  Sudah main mata dengan perempuan lain, main kasar pula sama istri!”

Aku masih terdiam.  Tambah terdiam melihatnya meneteskan air mata.  Berusaha keras supaya air mata itu tidak jatuh berderai di depanku.   Jujur saja aku tidak tahu harus berkata apa.  Ini murni masalah rumah tangga.  Masalah internal yang tidak semua orang bisa ikut campur di dalamnya.  Hanya saja hatiku tiba2 ikut miris mendengar segala keluh kesahnya.

“Tahukah kamu, lima belas tahun yang lalu, bukan aku yang mengajaknya untuk mau menikah denganku.  Dia yang berusaha keras meyakinkan aku untuk mau menikah dengannya.  Janji2nya terasa manis waktu itu.  Janji2 untuk selalu mencintai dan melindungi.  Janji2 untuk selalu setia dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, dalam sakit dan sehat.   Janji2 untuk melakukan apa saja yang penting aku mau menikah dengannya.  Tapi sekarang….apa buktinya?!”

Aku sibuk mencoret-coret kertas.  Mencoba menggambar sesuatu yang mungkin bisa kugambar.  Tapi tak ada.  Pikiranku pun kosong.  Berlari ke masa lalu di mana aku mengenal kedua pasangan ini sebagai orang baik2 yang kupikir pada waktu itu, perjalanan hidupnya akan lancar2 saja.  Dari segi finansial tidak ada yang kurang.  Lebih dari cukup malah.  Mereka dua orang yang bagiku saling melengkapi.  Yang satu ramai dan gembira selalu.  Yang satu lagi tidak banyak bicara tapi bisa menjadi pendengar yang mengasyikkan.  Jika ternyata perjalanan hidup bisa menjadi sesuatu yang menyedihkan saat ini, aku sungguh tidak menduganya sama sekali. 

“Sekarang aku tidak peduli lagi.  Aku tidak mau peduli!  Mau begini kek, mau begitu, kek, itu bukan urusanku!  Aku hanya ingin bahagia!  Jika ternyata menikah  membuatku menderita, aku menyesal telah menikah.  Tujuan hidupku cuma satu sekarang, anakku, dan masa depanku kelak!”

Tuhan, aku juga bukan manusia sempurna.  Hidupku sendiri juga belum bisa dikatakan baik2 saja.  Tapi dalam hal ini, apa yang harus kukatakan kepada temanku?  Jika aku berada dalam posisinya, mungkin akan lebih parah lagi keadaanya.  Belum tentu aku masih bisa tertawa sementara suamiku bermesra ria dengan perempuan lain.  Belum tentu aku masih bisa berjalan tegak ketika terjadi kekerasan dalam rumah tanggaku.  Diam2 aku bahkan iri pada temanku, mengapa ia bisa setegar itu.

Berjam-jam berlalu setelah mendengarkan curahan hati yang panjang, aku menatapnya.  Aku tidak ganti memberikan “ceramah” panjang lebar tentang bagaimana seharusnya hidup berumah tangga.  Atau menguliahinya tentang hal-hal yang harus dilakukanya sesudah ini semua terjadi.  Aku hanya berusaha menjadi pendengar yang baik.  Berusaha menjadi teman yang baik, “Tidak apa2, mbak!  Semua akan baik2 saja!  Meskipun tidak bisa memberikan maaf saat ini, besok, atau besoknya lagi, pasti akan selalu ada kesempatan untuk itu!”

Tiba2 saja aku merasa, suamiku yang lelet, yang selalu “tar-sok” jika diminta mengerjakan sesuatu, adalah pasangan hidup yang terhebat di dunia.  Tiba2 saja aku merasa, meskipun dari segi finansial kami biasa2 saja, kami adalah keluarga paling tajir sedunia.  Tiba2 saja, mataku terbuka, untuk banyak hal yang “mungkin” belum sempat kusyukuri sampai detik ini.  Tiba2 saja aku merasa, Tuhan telah memberikan yang TERBAIK dalam hidupku.  He is my Salvation!  He has saved my life….!

* renungan pribadi saat hari mendung

Posted in Martina Felesia

Homeschooling

No Comments »

September 17th, 2011 Posted 12:02 pm

Beberapa hari ini aku punya kesibukan baru.  Searching blog mengenai homeschooling.  Itu loh….tentang “sekolah rumah”.  Sekolah di mana anak2 tidak perlu pergi  ke sekolah untuk belajar tapi cukup “belajar” di rumah bersama orangtuanya.?  Bayangkan saja, anak2 bersekolah bersama kita orangtuanya!    Anak2 bisa belajar di mana saja dan kapan saja mereka mau.  Tidak perlu pakai seragam atau apapun aksesoris yang tidak mereka suka.  Bisa bergaul dengan siapa saja dan belajar apapun yang mereka mau.  Tidak perlu takut ibu guru marah atau teman terganggu kalau kita ribut atau ingin melakukan sesuatu. Apakah itu tidak amazing?
Dari beberapa blog yang kubaca aku menemukan pengalaman2 seru dari para orangtua yang sudah mulai menerapkan homeschooling bagi anak2nya.  Para orangtua hebat ini begitu bersemangat untuk memberikan pendidikan yang “terbaik” untuk anak2nya.  Mereka terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran anak2 mereka mulai dari A – Z.  Berbagai cara dan metode pembelajaran bisa dicoba sekaligus  langsung dipraktekkan bersama anak2.
Sebagai orangtua yang masih menggantungkan hidup pada pekerjaan dan sebagai orangtua yang anak2nya masih bersekolah di sekolah, terus terang aku iri.  Waduh, enak banget ya seandainya kita sendiri bisa jadi partner belajar bagi anak2 kita.  Kita bisa jadi guru mereka atau sebaliknya kita bisa belajar dari mereka.  Selama ini aku hanya bisa mendampingi anak2 belajar sepulang kerja.  Itu pun tidak bisa total karena keterbatasan waktu dan tenaga.  Meskipun menurutku sudah maksimal, tapi kok tetap saja terasa ada yang kurang ya :(
Anakku sulung, si Pilar, sekarang sudah kelas 6 SD.  Kalau diperhatikan, bukannya makin hepi bersekolah tapi malah semakin muram.  Dengan berbagai macam pelajaran yang jumlahnya berjibun sesuai standar sekolah nasional plus, masa kanak2nya nyaris habis untuk belajar saja.  Yang namanya pelajaran berdasarkan text book ya otomatis teori saja, kan?   Harus hafal ini, harus hafal itu.  Masalah prakteknya seperti apa itu urusan nanti.  Yang penting kalau ditanya jawabannya harus sesuai text book. Kalau diminta menjelaskan dengan kata2 sendiri malah bingung.  Memang sih selalu masuk tiga besar di kelasnya, tapi “mood”nya  seringkali jadi tidak stabil karena kecapekan.  Menjadi lebih mudah marah dan jarang tertawa.  Sebagai orangtua aku jadi merasa bersalah.
Anak keduaku baru TK B.  Sama seperti kakaknya, sekolah seolah menjadi masalah besar.  Mesti berhadapan dengan teman yang nakal, guru yang terkadang tidak “fair”, atau suasana sekolah yang tidak nyaman, membuat pikirannya selalu dipenuhi dengan kata libur dan libur.  Tapi bagaimana lagi?  Dengan segala keterbatasan sebagai orangtua kami hanya bisa “merasa” kasihan.  Dengan alasan di rumah tidak ada siapapun selain pembantu, ya akhirnya kami putuskan untuk tetap bersekolah (meskipun sebenarnya hati ini tidak tega).
Bungsuku, si Lunar, meskipun kata orang sudah waktunya masuk TK A karena sudah hampir 4 tahun, tetap belum kusekolahkan.  Sebisa mungkin belajar di rumah bersama Bunda.  Dengan nyanyian, dengan tarian, dengan permainan, dengan cerita made in Bunda.  Sementara ini aku melihat, dia senang belajar dan selalu ingin belajar (sampai Bunda tidak punya kesempatan untuk nonton drama Korea).
Akhirnya, meskipun hanya sebagai peminat dari “jauh”, sedikit demi sedikit aku mulai belajar metode pembelajaran homeschooling.  Nggak papa kan, meneladan sesuatu yang kuanggap bagus?  Yang jelas aku punya kemauan kuat untuk menjadikan bahwa belajar itu sesuatu yang menyenangkan, bukan sesuatu yang menakutkan.  Itu sebabnya, secapek apapun, aku menyempatkan diri untuk terlibat secara penuh dengan anak2.  Belajar, nonton TV dan bermain bersama.  Beruntung karena pembantuku pulang hari.  Pagi datang sore pulang, tanggal merah libur.  Jadi ketergantungan anak2 kepada pembantu bisa diatasi.
Sebagai ibu yang anak2nya tidak (belum punya kesempatan) menjadi siswa homeschooling, aku berharap bahwa suatu saat nanti ada kesempatan untuk itu.  Mungkin akan ada pro dan kontra.  Tapi bukankah anak2 juga punya hak untuk memilih?  Bukankah anak2 punya hak untuk bahagia?  Kita saja sebagai orangtua masih pengin hepi2.   Apalagi anak2.  Tapi…..kapan ya semua mimpi itu bisa kuwujudkan???

Posted in Martina Felesia

Homeschooling

No Comments »

September 17th, 2011 Posted 12:02 pm

Beberapa hari ini aku punya kesibukan baru.  Searching blog mengenai homeschooling.  Itu loh….tentang “sekolah rumah”.  Sekolah di mana anak2 tidak perlu pergi  ke sekolah untuk belajar tapi cukup “belajar” di rumah bersama orangtuanya.?  Bayangkan saja, anak2 bersekolah bersama kita orangtuanya!    Anak2 bisa belajar di mana saja dan kapan saja mereka mau.  Tidak perlu pakai seragam atau apapun aksesoris yang tidak mereka suka.  Bisa bergaul dengan siapa saja dan belajar apapun yang mereka mau.  Tidak perlu takut ibu guru marah atau teman terganggu kalau kita ribut atau ingin melakukan sesuatu. Apakah itu tidak amazing?
Dari beberapa blog yang kubaca aku menemukan pengalaman2 seru dari para orangtua yang sudah mulai menerapkan homeschooling bagi anak2nya.  Para orangtua hebat ini begitu bersemangat untuk memberikan pendidikan yang “terbaik” untuk anak2nya.  Mereka terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran anak2 mereka mulai dari A – Z.  Berbagai cara dan metode pembelajaran bisa dicoba sekaligus  langsung dipraktekkan bersama anak2.
Sebagai orangtua yang masih menggantungkan hidup pada pekerjaan dan sebagai orangtua yang anak2nya masih bersekolah di sekolah, terus terang aku iri.  Waduh, enak banget ya seandainya kita sendiri bisa jadi partner belajar bagi anak2 kita.  Kita bisa jadi guru mereka atau sebaliknya kita bisa belajar dari mereka.  Selama ini aku hanya bisa mendampingi anak2 belajar sepulang kerja.  Itu pun tidak bisa total karena keterbatasan waktu dan tenaga.  Meskipun menurutku sudah maksimal, tapi kok tetap saja terasa ada yang kurang ya :(
Anakku sulung, si Pilar, sekarang sudah kelas 6 SD.  Kalau diperhatikan, bukannya makin hepi bersekolah tapi malah semakin muram.  Dengan berbagai macam pelajaran yang jumlahnya berjibun sesuai standar sekolah nasional plus, masa kanak2nya nyaris habis untuk belajar saja.  Yang namanya pelajaran berdasarkan text book ya otomatis teori saja, kan?   Harus hafal ini, harus hafal itu.  Masalah prakteknya seperti apa itu urusan nanti.  Yang penting kalau ditanya jawabannya harus sesuai text book. Kalau diminta menjelaskan dengan kata2 sendiri malah bingung.  Memang sih selalu masuk tiga besar di kelasnya, tapi “mood”nya  seringkali jadi tidak stabil karena kecapekan.  Menjadi lebih mudah marah dan jarang tertawa.  Sebagai orangtua aku jadi merasa bersalah.
Anak keduaku baru TK B.  Sama seperti kakaknya, sekolah seolah menjadi masalah besar.  Mesti berhadapan dengan teman yang nakal, guru yang terkadang tidak “fair”, atau suasana sekolah yang tidak nyaman, membuat pikirannya selalu dipenuhi dengan kata libur dan libur.  Tapi bagaimana lagi?  Dengan segala keterbatasan sebagai orangtua kami hanya bisa “merasa” kasihan.  Dengan alasan di rumah tidak ada siapapun selain pembantu, ya akhirnya kami putuskan untuk tetap bersekolah (meskipun sebenarnya hati ini tidak tega).
Bungsuku, si Lunar, meskipun kata orang sudah waktunya masuk TK A karena sudah hampir 4 tahun, tetap belum kusekolahkan.  Sebisa mungkin belajar di rumah bersama Bunda.  Dengan nyanyian, dengan tarian, dengan permainan, dengan cerita made in Bunda.  Sementara ini aku melihat, dia senang belajar dan selalu ingin belajar (sampai Bunda tidak punya kesempatan untuk nonton drama Korea).
Akhirnya, meskipun hanya sebagai peminat dari “jauh”, sedikit demi sedikit aku mulai belajar metode pembelajaran homeschooling.  Nggak papa kan, meneladan sesuatu yang kuanggap bagus?  Yang jelas aku punya kemauan kuat untuk menjadikan bahwa belajar itu sesuatu yang menyenangkan, bukan sesuatu yang menakutkan.  Itu sebabnya, secapek apapun, aku menyempatkan diri untuk terlibat secara penuh dengan anak2.  Belajar, nonton TV dan bermain bersama.  Beruntung karena pembantuku pulang hari.  Pagi datang sore pulang, tanggal merah libur.  Jadi ketergantungan anak2 kepada pembantu bisa diatasi.
Sebagai ibu yang anak2nya tidak (belum punya kesempatan) menjadi siswa homeschooling, aku berharap bahwa suatu saat nanti ada kesempatan untuk itu.  Mungkin akan ada pro dan kontra.  Tapi bukankah anak2 juga punya hak untuk memilih?  Bukankah anak2 punya hak untuk bahagia?  Kita saja sebagai orangtua masih pengin hepi2.   Apalagi anak2.  Tapi…..kapan ya semua mimpi itu bisa kuwujudkan???

Posted in Martina Felesia

←Older