Tulisan Oleh Martina Felesia
Tikus
No Comments »
April 18th, 2012 Posted 2:05 pm
Aku paling sebel sama tikus. Jangankan berpapasan, membayangkan saja aku sudah parno. Moncong panjang, gigi pengerat yang tajam, mata kecil yang licik dan gerak-gerik yang mencurigakan membuatku sering berpikir, bagaimana caranya "melenyapkan" binatang menjijikkan ini dari hadapanku.
Hanya saja terkadang, takdir bicara lain. Dalam hidup ini, aku sering bertemu dengan manusia yang berwatak mirip tikus. Suka mengerat di mana saja dan menggerogoti apa saja, hanya untuk memuaskan nafsunya semata. Tidak peduli orang lain menderita atas ulahnya, ia akan terus menggerogoti apa saja, selagi ia hidup dan bernafas.
Manusia berwatak tikus ini, cenderung berpenampilan menipu. Jika tampang dan wataknya mirip, bisa jadi itu emang sudah nasib. Tetapi jika penampilannya licin, klimis, dan sangat alim, apakah masih bisa dibilang nasib? Berdandan trendi, berolah tapa seolah hidup hanya sampai hari ini, sering2 berwisata rohani, sering2 mengutip ayat kitab suci, sering2 berderma tanpa diminta, sering2 bernasehat bijak kepada orang lain, tapi......ujung2nya dia tetap berwatak tikus. Diam2 menggerogoti dan mengerat apa saja yang dia bisa.
Aku kenal seseorang, yang maaf, menurutku adalah representative si tikus. Lagaknya....alamak.....macem betul aja kata orang Melayu. Di satu sisi sibuk berkoar tentang wacana pemberantasan korupsi. Menuding orang lain berlaku curang. Di sisi lain diam2 memainkan peranan sebagai tokoh utama yang menyuburkan benih2 korupsi. Merekayasa bagaimana caranya supaya hasil korupsinya bisa dimainkan dengan cantik sehingga tidak mudah terdeteksi. Betul2 mendua muka. Betul2 tak tahu malu.
Lucunya lagi, si manusia berwatak tikus ini bisa bersikap dan bertingkah laku seolah-olah manusia yang lain tidak tahu menahu apa yang dilakukannya. Beranggapan bahwa yang lain hanyalah sekedar manusia2 bodoh dan bisa ditipu. Dengan pongah ia bertindak dan berkata-kata. Semakin banyak bicara, semakin terlihat kalau tidak berbobot (Jaka Sembung bawa golok : "Goblok banget, blok!"). Manusia seperti ini, tidak peduli orang mencibir di belakangnya ia akan tetap tebal muka (muka tembok, kataku). Yang penting, selagi ada duit yang bisa disikat, ia akan main sikat saja. Selagi ada proyek yang bisa dimainkan, ia akan main hajar saja. "Yang penting hepilah!"
Tiba2 saja aku merindukan Iwan Fals dengan lagu lawasnya berjudul Tikus2 Kantor. Meskipun aku sudah lupa sebagian syairnya tapi aku tahu, bahwa yang namanya tikus, akan tetap menjadi tikus. Meskipun didandani dengan jas dan dasi keren, atau dimodifikasi dengan penampilan religius dan murah hati enggak ngepek tuh. Naluri sebagai tikus akan tetap ada. Watak pertikusan yang sudah mendarah daging tidak akan hilang begitu saja. Yang jelas, dengan sembunyi2 atau terang2an.....semua itu halal, jika yang korup itu dirinya. Haram jika yang korup itu orang lain dan dia nggak kebagian.
Nasib.....nasib.......! Sampai kapan aku harus menahan diri melihat para tikus ini? Sampai kapan aku harus pura2 tidak tahu bahwa para tikus ini, sehari-hari banyak berseliweran di sekitarku, dan mungkin..... bisa jadi mereka adalah salah satu partner kerjaku. Hiiiii.....jijay.....amit2 deh.!!!
Hanya saja terkadang, takdir bicara lain. Dalam hidup ini, aku sering bertemu dengan manusia yang berwatak mirip tikus. Suka mengerat di mana saja dan menggerogoti apa saja, hanya untuk memuaskan nafsunya semata. Tidak peduli orang lain menderita atas ulahnya, ia akan terus menggerogoti apa saja, selagi ia hidup dan bernafas.
Manusia berwatak tikus ini, cenderung berpenampilan menipu. Jika tampang dan wataknya mirip, bisa jadi itu emang sudah nasib. Tetapi jika penampilannya licin, klimis, dan sangat alim, apakah masih bisa dibilang nasib? Berdandan trendi, berolah tapa seolah hidup hanya sampai hari ini, sering2 berwisata rohani, sering2 mengutip ayat kitab suci, sering2 berderma tanpa diminta, sering2 bernasehat bijak kepada orang lain, tapi......ujung2nya dia tetap berwatak tikus. Diam2 menggerogoti dan mengerat apa saja yang dia bisa.
Aku kenal seseorang, yang maaf, menurutku adalah representative si tikus. Lagaknya....alamak.....macem betul aja kata orang Melayu. Di satu sisi sibuk berkoar tentang wacana pemberantasan korupsi. Menuding orang lain berlaku curang. Di sisi lain diam2 memainkan peranan sebagai tokoh utama yang menyuburkan benih2 korupsi. Merekayasa bagaimana caranya supaya hasil korupsinya bisa dimainkan dengan cantik sehingga tidak mudah terdeteksi. Betul2 mendua muka. Betul2 tak tahu malu.
Lucunya lagi, si manusia berwatak tikus ini bisa bersikap dan bertingkah laku seolah-olah manusia yang lain tidak tahu menahu apa yang dilakukannya. Beranggapan bahwa yang lain hanyalah sekedar manusia2 bodoh dan bisa ditipu. Dengan pongah ia bertindak dan berkata-kata. Semakin banyak bicara, semakin terlihat kalau tidak berbobot (Jaka Sembung bawa golok : "Goblok banget, blok!"). Manusia seperti ini, tidak peduli orang mencibir di belakangnya ia akan tetap tebal muka (muka tembok, kataku). Yang penting, selagi ada duit yang bisa disikat, ia akan main sikat saja. Selagi ada proyek yang bisa dimainkan, ia akan main hajar saja. "Yang penting hepilah!"
Tiba2 saja aku merindukan Iwan Fals dengan lagu lawasnya berjudul Tikus2 Kantor. Meskipun aku sudah lupa sebagian syairnya tapi aku tahu, bahwa yang namanya tikus, akan tetap menjadi tikus. Meskipun didandani dengan jas dan dasi keren, atau dimodifikasi dengan penampilan religius dan murah hati enggak ngepek tuh. Naluri sebagai tikus akan tetap ada. Watak pertikusan yang sudah mendarah daging tidak akan hilang begitu saja. Yang jelas, dengan sembunyi2 atau terang2an.....semua itu halal, jika yang korup itu dirinya. Haram jika yang korup itu orang lain dan dia nggak kebagian.
Nasib.....nasib.......! Sampai kapan aku harus menahan diri melihat para tikus ini? Sampai kapan aku harus pura2 tidak tahu bahwa para tikus ini, sehari-hari banyak berseliweran di sekitarku, dan mungkin..... bisa jadi mereka adalah salah satu partner kerjaku. Hiiiii.....jijay.....amit2 deh.!!!
Posted in Martina Felesia
Stupid??
No Comments »
March 19th, 2012 Posted 10:53 am
Seseorang, dengan wajah berseri masuk ke dalam ruanganku pagi itu.
"Besar ya kenaikan gaji kita kali ini?!" ia tersenyum sumringah. Wajahnya menunjukkan kepuasan yang teramat dalam dengan keputusan manajemen yang telah diumumkan sehari sebelumnya.
Spontan aku menoleh. Setengah suprise dengan kata-katanya. Aku menatapnya seolah-olah melihat allien. Lebih tepatnya lagi seperti melihat makhluk ter'stupid' di kantor ini.
"Besar? Besar apaan? Hanya orang bodoh saja yang bilang kenaikan gaji tahun ini besar!" aku menjawab dengan dingin. "Ini kan sama saja dengan kenaikan gaji kita tahun lalu. 12% doang! Padahal kalau berdasarkan kenaikan UMK tahun ini, paling tidak kenaikan gaji kita seharusnya 18% dong!"
"Lha, tapi, kan lumayan dapat upah sundulan?" ia menjawab.
"Memang benar dapat upah sundulan. Tapi prosentasi kenaikan tahunan kemudian dipangkas. Kalau diitung-itung, yeee....sama saja dengan nggak dapat upah sundulan! Upah sundulan dan kenaikan tahunan jika ditotal prosentasenya sami mawon kok!"
"Kenapa kemarin waktu briefing nggak komplain?"
"Emang kalau komplain bisa direvisi keputusannya? Bisa diganti saat itu juga? Apa nggak setelah itu kita malah di'black-list'? Sudah jelas perusahaan nggak mau rugi. Titik. Makanya dicari cara supaya gaji karyawan naiknya juga nggak terlalu tinggi. Pokoke gimana caranyalah supaya karyawan dapat kenaikan tahunan sekaligus upah sundulan, tapi dengan prosentase kenaikan tahun lalu, bukan tahun ini!" aku mulai terprovokasi. Itu jelas dari nada suaraku yang terdengar mulai tinggi.
Seseorang itu, akhirnya ngacir keluar dari ruanganku. Meninggalkan aku dengan sejuta uneg2 yang tak tersalurkan. Dengan grundelan2 yang diam2 mempengaruhi kualitas kerjaku selama bertahun-tahun bekerja di perusahaan ini.
Jujur saja, di satu sisi, aku sudah kehilangan semangat dan loyalitas dalam bekerja. Tapi di sisi lainnya, aku masih butuh biaya untuk kelangsungan hidup banyak orang. Jadi, mau tidak mau aku harus mau. Mau tidak mau aku tetap harus melaksanakan tugas2ku seperti biasa, meskipun sudah tidak dijiwai dengan semangat 45 seperti dulu.
Kupikir-pikir, ternyata bukan hanya seseorang yang masuk ke dalam ruanganku pagi itu yang very stupid. Yang berbicara seolah-olah sudah "macam betul aja"! Aku sendiri juga merasa stupid karena telah membiarkan diri bekerja tanpa jiwa. Melakukan sesuatu tanpa rasa. Apa bedanya aku dengan robot?! Bedanya mungkin, robot tidak pernah merasa lelah. Sedangkan aku, bisa lelah luar biasa. Jiwa dan raga!
"Am I very stupid too?"
Posted in Martina Felesia
Seragam Baru
No Comments »
February 24th, 2012 Posted 11:02 am
Sejak di-launching bulan Desember kemarin, sebenarnya aku sudah gatel pengin ngomentari seragam baru di kantor kami. Tapi karena urusan males yang nggak selesai2, maka baru sekarang otakku mau diajak kompromi.
Sejak awal, dari pemilihan model, warna, maupun penempatan budget yang mau dipakai, urusan seragam ini menjadi sesuatu yang agak mbulet. Masalahnya dari awal perusahaan ini berdiri kurang lebih 20 tahun yang lalu, baru sekarang yang namanya staff, disetujui untuk pakai seragam. Dulu2 sih yang pakai seragam hanya mereka, yang memang divisinya ngurusi operasional perusahaan seperti customer service, orang listrik, orang maintenance, satpam dan pemadam kebakaran. Untuk staff kantor yang umumnya diisi oleh para awewek ini, nggak pernah ada seragam karena nggak pernah disetujui meskipun sudah pernah diusulkan.
Hanya saja sejak harga baju kantoran semakin mencekik leher dan banyak yang telat ngantor gara2 kelamaan milih baju kalau mau ngantor (entah karena bingung milih bajunya atau karena bingung nggak punya baju), makanya ada beberapa divisi yang staffnya mulai nyuri2 bikin seragam seragam dari sisa budget di divisinya masing2. Ujung2nya GM sendiri ikutan bingung setiap kali ketemu kami.
"Iki sakjane karyawan endi, seh? Kok seragamnya nggak ada yang sama?!"
Sejak itu, barulah ada harapan untuk bisa pakai seragam bagi staff lainnya. Mulailah kami berunding, bagaimana bagusnya. Modelnya kayak mana? Warnanya apa? Bisa nggak diterima berbagai pihak? Yang gendut maupun yang kurus, yang berjilbab maupun yang nggak berjilbab, yang berkulit terang maupun yang berkulit sawo bosok kayak aku ini? Wah, pokoke setiap meeting, ributnya minta ampun deh. Maklum, yang hadir mayoritas para emak. Ngalah-ngalahin rapat anggota dewan yang terhormat di Senayan. Hanya saja kalau anggota dewan masih sempat ngiler2 saat rapat, kami malah lebih banyak cengengesannya daripada seriusnya. Lha semua punya ide dewe2. Pas giliran idenya nyangkut, giliran budget yang jadi masalah. Budget HRD atau budget Divisi?
"Mbulet maning...mbulet maning....! Capek dueh....!"
Mungkin karena manajemen sudah blenger dengan urusan seragam yang nggak kunjung kelar ini, maka dengan berat hati, tahun kemarin budget pembelian seragam disetujui. Hanya saja setelah menunggu berbulan-bulan, akhirnya......alamaak.....warna yang disetujui kok melenceng jauh dari kesepakatan waktu meeting gitu loh. Uelek pol, rek!! Setelan blezer warna abu2 plus daleman merah maroon untuk yang cewek, celana panjang abu2 dan hem kantor merah maroon juga untuk yang cowok. Bukannya tambah keren, perasaan aku jadi tambah koyok sogok telik (sejenis kumbang, berwarna merah bertotol hitam, biasanya hidup di tengah sawah atau kebon). Warna merah maroon ini semakin membuatku nggak enak bodi, kalau kebetulan satu angkot dengan anak perusahaan lain, yang kebetulan warna seragamnya sama. Pasti deh semua langsung ngeliatin dengan tatapan seolah-olah aku ini allien, yang tentu saja, diem2 hanya bisa nyumpah2 dalam hati.
"Sapa seh yang kemarin milih warna ini? Nggak kreatip! Aku jadi korban. Wes ireng, klambine abang......wes...mbuak byuk pollll!!"
Karena baru disetujui dan dibuat menjelang akhir tahun, maka jatah yang seharusnya tiga stel untuk satu tahun, baru bisa dapet dua stel. Wajib dipakai Senin sampai Kamis. Jumat Batik, Sabtu boleh ngejins dan berkaos oblong. Jatah yang baru dua stel tadi, agak susah juga kalau harus dipakai Senin sampai Kamis. Mosok harus dipakai per dua hari. Waduh, tobat, tenan. Nggak kuat karo ambune!
Tapi ngemeng2, daripada dicap sebagai karyawan yang nggak tau diri dan nggak tau terima kasih, menurutku ada enaknya juga sih pakai seragam. Semua terlihat sama. Dari level executive maupun non executive nggak ada beda. Yang beda hanya isi dompetnya kale! Wajah GM pun jadi lebih sumringah kalau berpapasan dengan kami. Bukan karena warna seragam yang merah maroon tadi, tapi karena kami nggak pernah nanya kapan naik gaji kalau ketemu beliau. Ora wani..hehehe!!!
"Seragam...oh...seragam........! Dulu kurindu....sekarang kubenci.......! Benci tapi rindu gitulah kira2....!"
Posted in Martina Felesia
Halo, 2012!
No Comments »
January 6th, 2012 Posted 10:52 am
Ini hari ke-6 di awal tahun 2012.
Cuaca cerah. Bisa dibilang terik malah. Jika Jakarta terlihat mengenaskan karena diguyur hujan badai seperti kutonton di televisi kemarin malam, maka Batam cenderung penuh dengan riak angin dan belum ada tanda2 akan turun hujan. Kalau ada yang ingin "menggosongkan" kulit seperti Agnes Monica, sepertinya ini saat yang tepat untuk keluar tanpa harus memakai embel2 aksesoris penangkal sinar matahari di seluruh tubuh. Untuk aku pribadi, kulit gosongku sekarang ini sudah cukup, tidak perlu ditambah dengan kegosongan yang lebih ekstrim lagi.
Terus terang, aku belum punya resolusi yang "ngejreng" di tahun baru ini. Resolusi terakhir yang kubuat, kupanjatkan dalam doa saat tutup tahun kemarin. Itu pun hanya satu : Semoga Tuhan memberikan kesehatan kepada keluargaku! Yang lain belum ada.
Berpijak dari pengalaman tahun lalu, aku tidak mau terlalu muluk dalam bermimpi. Terlalu banyak mimpi terkadang membuat aku merasa stagnan. Tidak tahu impian mana yang sesungguhnya kuinginkan. Jadinya malah bingung mau melakukan apa. Dan ujungnya malah tidak melakukan apa2. Nil! Jadi, di tahun ini, aku ingin menyelesaikan impianku satu-persatu. Tiap tahun satu mimpi pun tak masalah. Yang jelas semoga tidak hanya menjadi satu igauan tak berarti.
Tahun ini si Sulung masuk SMP. Si Tengah masuk SD. Dan si Bungsu masuk TK. Aku bermimpi bisa menjadi full day mother bagi mereka. Mengantar jemput sekolah. Selalu ada saat dibutuhkan. Siap menampung berbagai cerita yang mereka punya. Sederhana saja, kan? Hanya saja, meskipun kelihatannya sangat sederhana, implementasinya butuh keberanian tersendiri. Keberanian itulah yang sekarang ini, perlahan tapi pasti, sedang kuperjuangkan. Semoga tidak meleset jauh dari harapan.
"Ah, 2012! Semoga perjalanan menapaki hari2mu nanti, tidak sengeri saat menonton film dengan judul yang sama. Semoga ada banyak berkat, cinta dan waktu luang untuk bisa saling berbagi dengan banyak orang. Semoga peziarahan panjang setahun ke depan, bisa terisi dengan banyak hal yang menyenangkan dan membahagiakan. Semoga hari2ku senantiasa diwarnai dengan keceriaan, sama seperti udara di luar sana sekarang ini. Apapun yang terjadi, semoga aku tidak lupa untuk selalu bersyukur dan berbagi senyuman".
* Batam, saat terik menggantung -
Cuaca cerah. Bisa dibilang terik malah. Jika Jakarta terlihat mengenaskan karena diguyur hujan badai seperti kutonton di televisi kemarin malam, maka Batam cenderung penuh dengan riak angin dan belum ada tanda2 akan turun hujan. Kalau ada yang ingin "menggosongkan" kulit seperti Agnes Monica, sepertinya ini saat yang tepat untuk keluar tanpa harus memakai embel2 aksesoris penangkal sinar matahari di seluruh tubuh. Untuk aku pribadi, kulit gosongku sekarang ini sudah cukup, tidak perlu ditambah dengan kegosongan yang lebih ekstrim lagi.
Terus terang, aku belum punya resolusi yang "ngejreng" di tahun baru ini. Resolusi terakhir yang kubuat, kupanjatkan dalam doa saat tutup tahun kemarin. Itu pun hanya satu : Semoga Tuhan memberikan kesehatan kepada keluargaku! Yang lain belum ada.
Berpijak dari pengalaman tahun lalu, aku tidak mau terlalu muluk dalam bermimpi. Terlalu banyak mimpi terkadang membuat aku merasa stagnan. Tidak tahu impian mana yang sesungguhnya kuinginkan. Jadinya malah bingung mau melakukan apa. Dan ujungnya malah tidak melakukan apa2. Nil! Jadi, di tahun ini, aku ingin menyelesaikan impianku satu-persatu. Tiap tahun satu mimpi pun tak masalah. Yang jelas semoga tidak hanya menjadi satu igauan tak berarti.
Tahun ini si Sulung masuk SMP. Si Tengah masuk SD. Dan si Bungsu masuk TK. Aku bermimpi bisa menjadi full day mother bagi mereka. Mengantar jemput sekolah. Selalu ada saat dibutuhkan. Siap menampung berbagai cerita yang mereka punya. Sederhana saja, kan? Hanya saja, meskipun kelihatannya sangat sederhana, implementasinya butuh keberanian tersendiri. Keberanian itulah yang sekarang ini, perlahan tapi pasti, sedang kuperjuangkan. Semoga tidak meleset jauh dari harapan.
"Ah, 2012! Semoga perjalanan menapaki hari2mu nanti, tidak sengeri saat menonton film dengan judul yang sama. Semoga ada banyak berkat, cinta dan waktu luang untuk bisa saling berbagi dengan banyak orang. Semoga peziarahan panjang setahun ke depan, bisa terisi dengan banyak hal yang menyenangkan dan membahagiakan. Semoga hari2ku senantiasa diwarnai dengan keceriaan, sama seperti udara di luar sana sekarang ini. Apapun yang terjadi, semoga aku tidak lupa untuk selalu bersyukur dan berbagi senyuman".
* Batam, saat terik menggantung -
Posted in Martina Felesia
Balada Demo UMK
No Comments »
November 23rd, 2011 Posted 2:32 pm
Sebenarnya, sejak kemarin aku sudah membahas hal ini sama suamiku. Aku berencana mau berangkat kerja agak pagian, bonceng misua naik motor, karena diperkirakan akan ada demo besar2an menuntut kenaikan UMK keesokan harinya.? Berhubung kami pisah tempat kerja, maka suami tersayangku ini, merelakan diri untuk mengantarkan aku terlebih dahulu. Masalahnya kalau naik motor kan masih bisa nlusep2 dibandingkan kalau naik angkot. Yang jelas dengan satu syarat yaitu : Harus berangkat pagi2!.
Lha tapi yang namanya emak2, susah juga kalau harus berangkat pagi2 sesuai rencana awal. Meskipun sudah bangun jam lima pagi, tetap juga tidak bisa berangkat pagi beneran. Rutinitas pagi hari dan urusan menyiapkan bekal anak2 sekolah tetap harus dikerjakan. Memastikan mereka sudah sarapan pagi dan siap untuk berangkat sekolah adalah tanggungjawab yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Jadi, meski dikebut kayak mana pun, ternyata jam tujuh-an juga baru bisa berangkat dari rumah.
Ternyata oh ternyata, jam tujuh pun jalanan sudah macet total. Berbagai macam kendaraan dan berbagai rupa manusia tumplek blek jadi satu. Dengan berbagai pertimbangan, aku dan suamiku memutar jalan dan menyempatkan diri duduk2 di pinggiran jalan, yang apesnya, nggak ada satu pun warung kopi ada di situ. Sampai jam 9 kemacetan semakin bertambah. Para peserta demo semakin banyak berdatangan dari segenap penjuru Batam. Alamat kalau "bonek" malah akan semakin susah lewat. Puncaknya kami memutuskan untuk pulang ke rumah dan berniat berangkat lagi jam dua belasan. Lumayan bisa ngopi2 dulu dan berpesbuk ria.
Demo UMK kali ini sepertinya tidak main2. Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) yang terkenal vokal dan serikat2 pekerja lainnya nampaknya berhasil membuat lumpuh kota Batam. Rasa geram terhadap akal2an pengusaha dan pemerintah bisa jadi menjadi salah satu pemicu yang siap meletup kapan saja. Bayangkan saja, Batam yang penuh dengan para investor asing, UMK-nya dari tahun ke tahun tidak pernah beranjak ke arah yang lebih baik. Dengan biaya hidup yang sangat tinggi, UMK segitu2 saja tidak akan pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup pekerja. Untuk yang lajang saja kurang, apalagi yang sudah berumah tangga.
Tahun 2011 UMK Batam hanya Rp1.180.000. Tahun 2012 pengusaha mengusulkan Rp1.260.000, sementara Serikat Pekerja mengusulkan Rp1.302.900 sesuai dengan survey Kebutuhan Hidup Layak (KHL) . Sialnya lagi, KHL yang semula sudah disetujui oleh pengusaha akan direvisi lagi (yang sudah jelas berdasarkan kepentingan pengusaha) karena dianggap tidak menguntungkan pengusaha. Dalam hal ini, ketidaktegasan pemerintah dalam mengambil keputusan semakin menambah runyam nasib buruh di kota Batam (berita terbaru menyebutkan buruh menuntut UMK 2012 sebesar Rp1.760.000 - KHL versi FSPMI).
Sebenarnya, meskipun para investor asing itu bersedia membayar UMK sesuai tuntutan para pekerja, tetap saja tidak akan bisa dinikmati oleh para pekerja itu sendiri. Berbagai macam pungli dan tingginya biaya siluman lain2 yang berlaku bagi investor asing membuat para pekerja tidak bisa menerima haknya sesuai dengan standar KHL yang diinginkan. Jika pemerintah belum bisa membenahi mental "korupsi" dan "sogok-menyogok" di negara ini, maka jangan harap nasib para pekerja akan diperhatikan.
Di rumah, aku terus memantau situasi dari status FB beberapa teman. Sampai jam sebelasan belum ada kabar bahwa jalanan lancar. Setengah jam kemudian sudah ada kabar kalau demo sudah bubaran dan aku nekat berangkat. Ternyata jalanan tak juga lancar. Kami terseok-seok di atas motor, menyelip sana sini, berkutat di antara ribuan motor dan manusia yang juga terseok-seok mencari celah. Alamak!! Tahu gini, mendingan aku ngorok aja di rumah.
Akhirnya dengan perjuangan yang "terpaksa", karena rutenya sudah maju kena mundur kena, sampai juga aku di tempat kerja. Aku turun di persimpangan dan lanjut perjalanan dengan jalan kaki dan naik ojek karena suamiku tidak bisa berputar lagi. Sampai kantor jam setengah satu. Lumayanlah...ada yang nawarin sarapan lontong sayur (makan siang kali yeee??). Baru datang langsung makan. Bukannya itu namanya rejeki?
Menurut informasi, jika tuntutan kenaikan UMK kali ini dipenuhi, maka seluruh aktifitas akan berjalan normal kembali. Tetapi jika mengalami jalan buntu, maka demo besar2an akan berlanjut lagi. Aku sih senang2 saja. Ada alasan untuk nggak masuk kerja......hehehe. Tetapi sejujurnya, aku berharap Batam akan kembali jaya seperti dulu lagi. Dulu, meskipun biaya hidup tinggi, segalanya masih bisa terbeli. Sekarang ini, ada Pemkot, ada DPRD, ada Badan Pengelola kota Batam tapi nasib buruh tetap begitu2 saja. Tidak berubah! Jadi apa gunanya ada mereka?
* Beruntung aku adalah seorang Golput tulen
Posted in Martina Felesia












