Archive for the Martina Felesia Category
Perasaan
March 9th, 2010 Posted 3:55 pm
Posted in Martina Felesia
Ngaret
February 23rd, 2010 Posted 11:11 am
Posted in Martina Felesia
CeM-CeMan
February 11th, 2010 Posted 2:59 pm
(Martina Felesia)
Jika ada yang mengatakan bahwa masa muda adalah masa yang paling indah, maka aku adalah salah satu orang yang akan menyetujuinya 100%. Tidak kurang dan tidak lebih. Bagiku ia bukan hanya menjadi masa paling indah, tapi juga menjadi masa penuh dengan berjuta cerita.
Hari itu aku berkenalan dengan seseorang. Tinggi, jangkung dan berparas lumayan. Senyumnya manis dan jabat tangannya erat tanpa basa-basi.
”Dion!” ia menyebutkan namanya.
Untuk ukuran tubuhku yang cenderung mungil ia tampak begitu tinggi menjulang. Tinggiku hanya sampai sebatas lengannya. Kukira-kira tingginya minimal 170-an cm atau lebih di atas itu.
Tags: Cinta
Posted in Martina Felesia
Fixing A Broken Heart
February 9th, 2010 Posted 2:47 pm
(Martina Felesia)
Laki-laki itu kukenal sejak masih ingusan. Usianya empat atau lima tahun di atasku. Bagiku ia adalah satu-satunya laki-laki yang menarik waktu itu. Bukan karena berwajah tampan karena menurutku ia bertampang biasa-biasa saja. Atau kaya raya banyak uang. Tapi karena dia bertampang menyejukkan. Dan menurutku ia adalah laki-laki paling lucu sedunia, karena di dekatnya aku selalu merasa gembira dan ingin tertawa. Bisa jadi ia adalah duplikat Charlie Caplin yang dikirimkan Tuhan untukku.
Waktu itu menjelang SMA. Laki-laki itu begitu saja menyatakan cintanya. Tanpa kata. Tanpa lagu. Dalam diam ia merengkuh pundakku di bawah payung ketika hujan menderai-derai mengantar kami berangkat ke gereja sore itu. Aku senang bercampur takut. Diakah malaikat yang dikirimkan Tuhan untukku?
Tags: Cinta
Posted in Martina Felesia
Laron
February 4th, 2010 Posted 4:16 pm
(Martina Felesia)
Bermimpi dalam pelukan malam atau siang apa bedanya? Intinya bukan pada waktunya tapi lebih kepada apa yang bisa kau ceritakan tentang mimpi-mimpimu. Jika mimpi adalah bunga tidur, mengapa terkadang ia tak lagi wangi? Bahkan mengulangnya pun orang tak lagi mau.
Aku bertemu laron. Mata hitamnya memandangku dengan dingin. Sayapnya kurus terkepak seperti dalam posisi siaga. Ia berkacak pinggang dan dengan tegak menghadang langkahku. Sepertinya ada bara api yang menyala dari kedua bola matanya dan memancarkan kebencian berkobar-kobar.
Aku menggigil. Tubuhku basah oleh peluh. Ingin kusembunyikan mataku dari tatap matanya yang kelam. Tapi aku tak bisa. Tak ada tempat untuk bersembunyi. Kakiku terasa berat untuk berlari. Hanya desah nafasku terengah seperti tertindih beban berat. Degup jantungku terasa sampai ke ubun-ubun. Detaknya berpacu seirama aliran adrenalin yang memompa darahku lebih cepat dari biasanya. Wahai laron, salah apakah aku padamu? Mengapa kau pancarkan dendam kesumat tak bernama itu tanpa kutahu apa salahku?
Tags: Cerpen
Posted in Martina Felesia
Selingkuh
February 3rd, 2010 Posted 12:09 pm
(Martina Felesia)
"Suamiku selingkuh!" seorang teman mengabarkan. Pagi itu aku sedang mengecat kamar karena suamiku harus masuk kerja.
"Ha??? Masak sih???" aku terpana. Kubayangkan model suaminya yang serba perfect dan tipe setia setiap saat itu sedang menyelingkuhi seseorang.
"Kamu pasti lebih tidak percaya jika kuberitahu siapa selingkuhannya itu!" ia menambahkan lagi dengan berapi-api.
"Ha??? Emang siapa???" aku menghentikan sejenak acara cat-mengecat. Mataku tertuju pada temanku dengan rasa penasaran. Hampir aku terjengkang dari meja kecil yang kupakai sebagai pijakan ketika temanku itu menyebutkan nama seorang sahabat yang notabene kukenal baik dan juga sangat ia kenal baik.
Posted in Martina Felesia
Lontong
January 22nd, 2010 Posted 11:52 am
(Martina Felesia)
Ini cerita tentang lontong. Lontong adalah makanan terbuat dari beras yang dibungkus dengan daun pisang. Setelah dikukus maka berubah bentuklah ia menjadi makanan padat, kenyal dan sering dipakai sebagai pengganti nasi untuk lauk dan sayur tertentu. Cocoknya sih dimakan dengan opor ayam atau gulai nangka muda. Itu pengertian lontong di Jawa.
Nah, di Batam lain lagi ceritanya. Lontong adalah nama lain dari PSK (Pekerja Seks Komersial) atau kupu2 malam. Jadi kalau Anda dapat kesempatan jalan2 atau bahkan tinggal di Batam, jangan coba2 membicarakan masalah lontong ini sembarangan atau di tempat2 umum yang sudah pasti bisa dengan gampang diketahui oleh banyak orang. Jika Anda nekat melakukan hal itu, siap2 saja dipelototi oleh banyak orang yang penasaran dengan tingkah pola Anda atau jika ada yang merasa jadi bagian dari “lontong” ini, dengan sukarela mereka akan menimpuk kepala Anda dengan apa saja yang bisa ditimpukkan ke kepala Anda tentunya (^=^).
Tags: Sharing
Posted in Martina Felesia
Aku Suka Lini
January 12th, 2010 Posted 12:14 pm
Aku suka Lini
cekingnya
rambutnya
senyumnya
tawanya
bahkan marahnya
Tags: Sahabat
Posted in Martina Felesia
Belajar Dari Anak-anak
January 8th, 2010 Posted 10:00 am
Posted in Martina Felesia
Pemenang atau Pecundang?
December 29th, 2009 Posted 1:56 pm
(Martina Felesia)
Sering dalam hidup ini, kita mengalami suatu peristiwa yang sungguh tidak diharapkan. Tapi apa mau dikata, peristiwa yang sungguh tidak diharapkan itu, terkadang malah mampir dan singgah di rumah kita, mencakar dan melukai dengan jari jemari yang runcing, tajam dan menyakitkan. Pada akhirnya, kita hanya mampu berteriak ,”Why, God?”
Banyak orang terluka, malah menjauh dari obat yang bisa menyembuhkan lukanya. Banyak orang tersesat, malah lari dari lampu penerang yang bisa menunjukkan jalannya. Banyak orang hilang harap, malah menghindar dari berbagai asa yang mendekat di hidupnya. Hingga akhirnya, yang tertinggal hanyalah rasa benci, frustasi, hilang iman dan harapan, bahkan hilang kendali atas diri sendiri.
Tags: Belajar, Doa, Harapan, Maaf
Posted in Martina Felesia
26 Desember
December 29th, 2009 Posted 9:57 am
(Martina Felesia)
26 Desember
Bisa jadi adalah tanggal yang biasa2 saja bagi sebagian orang. Tapi menjadi tanggal yang tidak biasa2 saja bagiku. Selain berdekatan dengan hari Natal, tanggal 26 Desember menjadi tanggal yang amat istimewa karena pada tanggal itu aku memutuskan untuk mengakhiri masa lajangku. Ini adalah suatu keputusan yang amat sangat penting karena di sanalah masa depanku dipertaruhkan. Masa depan yang akan kujalani bersama orang yang disebut “belahan jiwa” seumur hidup dan sampai selama-lamanya. (more…)
Tags: Keluarga, Sharing
Posted in Martina Felesia
Jodoh
December 15th, 2009 Posted 12:30 pm
Posted in Martina Felesia
Interview
December 11th, 2009 Posted 7:26 pm
(Martina Felesia)
“Hai….! Maukah kamu jadi pacarku?”
“Ha? Apa? Jadi pacarmu? Yang bener aja…..! Emangnya kamu tahu siapa aku?”
“Ya pasti tahulah…..masak aku nawarin pacaran sama hantu? Hantu kan nggak ada wujudnya, sedangkan kamu ada wujudnya”.
“Ee…jangan kurang ajar ya….emang aku wanita apa’an?”
“Loh…emangnya kamu wanita apa’an? Wanita jadi-jadian? Bencos dong…..!”
“Huuh..nyebelin banget sih kamu!”
Tags: Cinta
Posted in Martina Felesia
Rumah paling pojok
December 7th, 2009 Posted 2:11 pm
Rumah itu terlihat biasa2 saja. Bercat merah muda dan berpagar campur sari hijau dan merah. Terletak paling pojok dengan sebatang pohon beringin tumbuh di samping halaman. Di halaman depan tumbuh sebatang pohon jambu yang sebagian batangnya harus ditebang karena terkontaminasi dengan ulat bulu yang kalau kebetulan nempel di kulit menimbulkan rasa panas dan gatal luar biasa. Hanya berjarak kurang lebih 10 meter dari jalan raya. Dan kurang lebih 20 meter dari pasar rakyat yang selalu sibuk dari pagi sampai paginya lagi.
Pohon beringin di samping halaman itu memang tidak sebesar pohon beringin yang lain. Hanya saja untuk ukuran rumah tipe 21/90, daunnya yang rindang cukup berguna untuk menahan debu beterbangan yang berasal dari tepian jalan. Pohon beringin yang tidak sempat dipindahkan ke tanah yang lebih lapang dan tiba-tiba saja sudah hampir setinggi atap rumah. (Lumayanlah untuk nakut-nakutin orang lewat karena katanya pohon beringin selalu menimbulkan sensasi angker bagi sebagian orang. Katanya sih ada "penghuninya". Jadi tidak perlu sewa satpam sudah ada yang jagain rumah...hehehe.....)
Di rumah yang biasa2 saja itu hidup seorang ayah, seorang ibu, dan tiga anak hiperaktif yang selalu mau tahu. Si Ayah adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta dan si ibu juga demikian adanya. Anak-anak hampir separuh hari bersama pengasuh dan separuh hari menghabiskan waktu bersama ayah dan ibu. Anehnya biarpun setiap hari ditinggal pergi, mereka tetap menjadi anak ayah dan ibu, tidak pernah menjadi anak pembantu.
Tahun ini adalah tahun ke-10 rumah itu berdiri. Dalam masa sepuluh tahun itu, ada banyak lukisan yang bisa dikumpulkan dan dirangkai satu-persatu menjadi sebuah jalinan cerita panjang. Sebuah cerita bagaimana menjadikan hidup ini indah meskipun dijalani dalam sebuah rumah yang biasa-biasa saja. Sebuah cerita bagaimana Tuhan selalu menjadi juri dan hakim yang agung dalam menyelesaikan silang sengketa di dalam rumah. Sebuah cerita tentang pengorbanan, doa dan pengharapan yang tak kunjung putus untuk saling menguatkan di dalam mengarungi samudra raya yang setiap saat bisa menenggelamkan penghuninya.
Rumah itu memang biasa2 saja. Tapi di dalamnya hidup manusia2 yang (kuharap) luar biasa. Manusia2 yang tidak pernah lelah untuk belajar. Belajar untuk menjalani hidup. Belajar untuk menerima hidup. Belajar untuk menangis dan tertawa sesuai porsinya. Belajar untuk memandang orang lain dengan tatapan istimewa. Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Tidak ada yang dimanipulasi. Semua guratan dan warna telah digoreskan sesuai dengan yang seharusnya.
Rumah bercat merah muda berpagar hijau merah. Menjadi surga dunia bagi penghuninya. Di dalamnya memang tidak terdapat emas dan permata. Tapi setiap orang yang lewat di depannya akan selalu menolehkan wajah, rindu untuk mampir atau sekedar menyapa penghuninya. Dalam usianya yang menginjak hampir sepuluh tahun, kuharap rumah itu akan semakin kuat dan kokoh, mampu menyinarkan cinta dan pengharapan bagi banyak orang. Amin.
* menjelang 26 Desember
Posted in Martina Felesia
Tebak-Tebak Buah Manggis
December 3rd, 2009 Posted 5:10 pm
(Martina Felesia)
Seperti biasa sebelum sekolah di mulai, aku dan gengku biasa nongkrong-nongkrong dulu di bangku panjang depan laboratorium biologi. Seperti biasa pula, meskipun kami dibedakan oleh jurusan yang berbeda-beda di kelas dua SMA, tapi kami dipersatukan oleh kebawelan dan keunikan kami masing-masing. Namanya juga geng Bawel. Tidak heran kalau pagi-pagi acaranya sudah membahas berbagai macam gosipan yang tengah hangat dibicarakan pada saat itu. Jangankan ada yang dibahas, nggak ada yang dibahas pun semua sibuk menyumbangkan idenya masing-masing dengan celotehan-celotehan yang seringkali membuat kami tertawa terbahak-bahak mirip para preman di Pasar Senggol (nama pasar di kota Malang yang ramenya pada saat malam hari sampai menjelang pagi saja).
Sedang asyik-asyiknya ngrumpi, kami melihat pemandangan yang tidak biasa. Bu Zer, ibu guru sejarah kami, terlihat turun dari boncengan sepeda motor. Sebenarnya sih bukan masalah dia turun dari sepeda motor, dari angkot, dari mobil mercedes keren atau apa. Yang bikin mata kami melotot adalah makhluk keren yang kami lihat memboncengkan Bu Zer saat itu.
Tags: Sekolah
Posted in Martina Felesia













