Tulisan Oleh Martina Felesia

Pemenang atau Pecundang?

2 Comments »

December 29th, 2009 Posted 1:56 pm

(Martina Felesia)

Sering dalam hidup ini, kita mengalami suatu peristiwa yang sungguh tidak diharapkan. Tapi apa mau dikata, peristiwa yang sungguh tidak diharapkan itu, terkadang malah mampir dan singgah di rumah kita, mencakar dan melukai dengan jari jemari yang runcing, tajam dan menyakitkan. Pada akhirnya, kita hanya mampu berteriak ,”Why, God?”

Banyak orang terluka, malah menjauh dari obat yang bisa menyembuhkan lukanya. Banyak orang tersesat, malah lari dari lampu penerang yang bisa menunjukkan jalannya. Banyak orang hilang harap, malah menghindar dari berbagai asa yang mendekat di hidupnya. Hingga akhirnya, yang tertinggal hanyalah rasa benci, frustasi, hilang iman dan harapan, bahkan hilang kendali atas diri sendiri.

(more…)



Tags: , , ,
Posted in Martina Felesia

26 Desember

1 Comment »

December 29th, 2009 Posted 9:57 am

(Martina Felesia)

26 Desember

Bisa jadi adalah tanggal yang biasa2 saja bagi sebagian orang. Tapi menjadi tanggal yang tidak biasa2 saja bagiku. Selain berdekatan dengan hari Natal, tanggal 26 Desember menjadi tanggal yang amat istimewa karena pada tanggal itu aku memutuskan untuk mengakhiri masa lajangku. Ini adalah suatu keputusan yang amat sangat penting karena di sanalah masa depanku dipertaruhkan. Masa depan yang akan kujalani bersama orang yang disebut “belahan jiwa” seumur hidup dan sampai selama-lamanya. (more…)



Tags: ,
Posted in Martina Felesia

Jodoh

No Comments »

December 15th, 2009 Posted 12:30 pm

Aku sebenarnya bukan pakar perjodohan, apalagi pakar percintaan. Wajahku pun tidak mirip dengan Meike Rose yang (katanya) ahli perjodohan itu. Tapi anehnya, kok ya ada saja para single (man/woman) yang suka curhat dan berkonsultasi masalah jodohnya kepadaku. Ini sungguh bertentangan dengan my motto bahwa jodoh itu di tangan Tuhan, bukan di tangan hansip, apalagi satpam, dan juga bukan di tangan para pakar perjodohan.

Dulu, sewaktu masih muda belia (sekarang dah nenek2 kale), ada rasa senang yang tidak tersembunyikan apabila melihat ada seorang pemuda tampan berpacaran dengan pemudi cantik dan sebaliknya. Padahal mereka tidak ada hubungannya denganku. Tapi anehnya aku ikutan senang. Pokoknya hanya ada rasa senang waktu melihat mereka. Sepertinya Tuhan sungguh mengerti tentang seni keindahan. Buktinya, yang ganteng rupawan dipasangkan dengan yang cantik jelita dan sebaliknya.

Pas giliran melihat cowok ganteng atau cewek cantik mendapatkan pasangan yang nggak "karuan" bentuknya, aku ikutan sewot dan (diam2) ikutan mendikte-dikte Tuhan. Walah, Tuhan ini gimana sih, masak cowok kayak gitu dipasangin dengan cewek secantik itu ? Atau, masak cowok sekeren itu dapetnya hanya cewek kayak gitu doang? Pokoknya akan ada banyak kalimat berderet-deret yang menjelaskan definisi seperti apa seharusnya yang musti dipakai patokan oleh Tuhan dalam menentukan pasangan seseorang. Biasanya beberapa teman dekat akan mendengarkan celotehanku yang nggak ada habisnya dari A sampai Z dengan terdiam seribu bahasa. Bingung mau menyampaikan sanggahan apa lagi untuk penjelasanku yang sungguh panjang lebar sampai2 tidak bisa disanggah itu.

Setelah dewasa, pengalaman mengubah cara pandangku yang norak tersebut seratus delapan puluh derajat. Ternyata seiring berjalannya waktu, tidak semua yang tampilan luarnya "bagus" itu juga bagus secara keseluruhan. Dalam arti sampai ke dalam2nya juga bagus. Dan tidak semua yang bungkusan luarnya "tidak bagus" itu tidak bagus pula isi dalamnya. Tidak. Bagus dan tidak bagus hanyalah sekedar pembungkus. Sekedar hiasan. Di atas semua itu, sifat, karakter dan kepribadian seseorang kurasa lebih penting dan lebih utama daripada hanya sekedar tampilan luar semata.

Mengingat cara pandangku yang telah berubah, tidak aneh jika sampai hari ini aku masih terheran-heran, jika ada seseorang yang ingin mendapat jodoh, tapi cara pandangnya masihlah cara pandang jadul yang dulu pernah kupakai. Sebut saja seperti berikut ini :

"Gimana ya, Bun, supaya dapat jodoh yang seganteng Bradd Pitt tanpa harus secantik Angelina Jolie?" - Yang ngomong ini nggak pernah ngaca atau memang nggak punya kaca di rumah. Jangankan Brad Pitt, yang bukan Bradd Pitt pun mungkin akan pikir panjang untuk jadi pasangannya kalau melihat omongannya yang mirip air selokan. Bau dan nggak mutu.

"Gimana, Bun, bisa nggak ya aku dapat suami yang tajir dan sayang sama aku?" - Bisa sih bisa, cuman ada nggak calon suami tajir yang mau sama perempuan sok cantik, sok pinter dan sok punya inner beauty? Yang namanya "sok" itu sudah pasti bukan betulan. Hanya rekayasa. Dibuat-buat. Aslinya sih berbalik seratus persen dengan gambarannya. Pas ketahuan belangnya dah pasti jodohnya akan kabur entah kemana.

"Bunda, gimana caranya dapat jodoh...ya....yang biarpun ganteng tapi kaya gitu....!" - Waks! seperti ini nih kalau terlalu lama njomblo.....siang2 jadinya ngigau. Tapi aku suka banget dengan idenya ^^.

"Aku pengin punya pasangan hidup yang ideal, Bunda. Yang selevel sama aku. Kan malu kalau dapat jodoh nggak selevel!" - Lha kok seperti main games online saja. Pakai level2an segala macem. Untuk masalah level2 gini hanya masalah perjuangan dan doa saja. Jadi harus sabar dan tetap berusaha.

Pada akhirnya, aku hanya sekedar memberikan saran dan pendapat. Tidak harus dituruti. Tidak harus diikuti. Temukanlah jodohmu sesuai dengan kata hatimu. Jika bukan kamu yang menemukannya, ia yang akan menemukanmu. Hati lebih bisa berbicara jujur. Sekiranya Tuhan memberikanmu jodoh yang tampan atau cantik sesuai harapanmu, anggaplah itu sebagai bonus. Karena hanya Dia yang tahu siapa dan seperti apa jodohmu nantinya. Bukan masalah gampang atau tidaknya dapat jodoh, tapi lebih kepada bisa atau tidaknya menjalani hidup bersama dengan sang jodoh.

Saran teranyar, bagi yang masih penasaran dalam mencari dan nggak dapat2, boleh dicoba tuh ikutan kontes di Indosiar. Who knows gitu loh? Berdasarkan pengamatan "bungkusan" tidak mutlak menentukan kok. Hanya mereka yang serius mencari akan mendapatkan yang terbaik. Once again, who knows gitu loh....?! Selamat berjuang dan good luck ^^

Posted in Martina Felesia

Interview

3 Comments »

December 11th, 2009 Posted 7:26 pm

(Martina Felesia)

“Hai….! Maukah kamu jadi pacarku?”

“Ha? Apa? Jadi pacarmu? Yang bener aja…..! Emangnya kamu tahu siapa aku?”

“Ya pasti tahulah…..masak aku nawarin pacaran sama hantu? Hantu kan nggak ada wujudnya, sedangkan kamu ada wujudnya”.

“Ee…jangan kurang ajar ya….emang aku wanita apa’an?”

“Loh…emangnya kamu wanita apa’an? Wanita jadi-jadian? Bencos dong…..!”

“Huuh..nyebelin banget sih kamu!”

(more…)



Tags:
Posted in Martina Felesia

Rumah paling pojok

No Comments »

December 7th, 2009 Posted 2:11 pm

Rumah itu terlihat biasa2 saja. Bercat merah muda dan berpagar campur sari hijau dan merah. Terletak paling pojok dengan sebatang pohon beringin tumbuh di samping halaman. Di halaman depan tumbuh sebatang pohon jambu yang sebagian batangnya harus ditebang karena terkontaminasi dengan ulat bulu yang kalau kebetulan nempel di kulit menimbulkan rasa panas dan gatal luar biasa. Hanya berjarak kurang lebih 10 meter dari jalan raya. Dan kurang lebih 20 meter dari pasar rakyat yang selalu sibuk dari pagi sampai paginya lagi.

Pohon beringin di samping halaman itu memang tidak sebesar pohon beringin yang lain. Hanya saja untuk ukuran rumah tipe 21/90, daunnya yang rindang cukup berguna untuk menahan debu beterbangan yang berasal dari tepian jalan. Pohon beringin yang tidak sempat dipindahkan ke tanah yang lebih lapang dan tiba-tiba saja sudah hampir setinggi atap rumah. (Lumayanlah untuk nakut-nakutin orang lewat karena katanya pohon beringin selalu menimbulkan sensasi angker bagi sebagian orang. Katanya sih ada "penghuninya". Jadi tidak perlu sewa satpam sudah ada yang jagain rumah...hehehe.....)

Di rumah yang biasa2 saja itu hidup seorang ayah, seorang ibu, dan tiga anak hiperaktif yang selalu mau tahu. Si Ayah adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta dan si ibu juga demikian adanya. Anak-anak hampir separuh hari bersama pengasuh dan separuh hari menghabiskan waktu bersama ayah dan ibu. Anehnya biarpun setiap hari ditinggal pergi, mereka tetap menjadi anak ayah dan ibu, tidak pernah menjadi anak pembantu.

Tahun ini adalah tahun ke-10 rumah itu berdiri. Dalam masa sepuluh tahun itu, ada banyak lukisan yang bisa dikumpulkan dan dirangkai satu-persatu menjadi sebuah jalinan cerita panjang. Sebuah cerita bagaimana menjadikan hidup ini indah meskipun dijalani dalam sebuah rumah yang biasa-biasa saja. Sebuah cerita bagaimana Tuhan selalu menjadi juri dan hakim yang agung dalam menyelesaikan silang sengketa di dalam rumah. Sebuah cerita tentang pengorbanan, doa dan pengharapan yang tak kunjung putus untuk saling menguatkan di dalam mengarungi samudra raya yang setiap saat bisa menenggelamkan penghuninya.

Rumah itu memang biasa2 saja. Tapi di dalamnya hidup manusia2 yang (kuharap) luar biasa. Manusia2 yang tidak pernah lelah untuk belajar. Belajar untuk menjalani hidup. Belajar untuk menerima hidup. Belajar untuk menangis dan tertawa sesuai porsinya. Belajar untuk memandang orang lain dengan tatapan istimewa. Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Tidak ada yang dimanipulasi. Semua guratan dan warna telah digoreskan sesuai dengan yang seharusnya.

Rumah bercat merah muda berpagar hijau merah. Menjadi surga dunia bagi penghuninya. Di dalamnya memang tidak terdapat emas dan permata. Tapi setiap orang yang lewat di depannya akan selalu menolehkan wajah, rindu untuk mampir atau sekedar menyapa penghuninya. Dalam usianya yang menginjak hampir sepuluh tahun, kuharap rumah itu akan semakin kuat dan kokoh, mampu menyinarkan cinta dan pengharapan bagi banyak orang. Amin.

* menjelang 26 Desember

Posted in Martina Felesia

Tebak-Tebak Buah Manggis

4 Comments »

December 3rd, 2009 Posted 5:10 pm

(Martina Felesia)

Seperti biasa sebelum sekolah di mulai, aku dan gengku biasa nongkrong-nongkrong dulu di bangku panjang depan laboratorium biologi.  Seperti biasa pula, meskipun kami dibedakan oleh jurusan yang berbeda-beda di kelas dua SMA, tapi kami dipersatukan oleh kebawelan dan keunikan kami masing-masing.  Namanya juga geng Bawel.  Tidak heran kalau pagi-pagi acaranya sudah membahas berbagai macam gosipan yang tengah hangat dibicarakan pada saat itu.  Jangankan ada yang dibahas, nggak ada yang dibahas pun semua sibuk menyumbangkan idenya masing-masing dengan celotehan-celotehan  yang seringkali membuat kami tertawa terbahak-bahak mirip para preman di Pasar Senggol (nama pasar di kota Malang yang ramenya pada saat malam hari sampai menjelang pagi saja).

Sedang asyik-asyiknya ngrumpi, kami melihat pemandangan yang tidak biasa.  Bu Zer, ibu guru sejarah kami, terlihat turun dari boncengan sepeda motor.  Sebenarnya sih bukan masalah dia turun dari sepeda motor, dari angkot, dari mobil mercedes keren atau apa.  Yang bikin mata kami melotot adalah makhluk keren yang  kami lihat memboncengkan Bu Zer saat itu.

(more…)



Tags:
Posted in Martina Felesia

Mau U-U

1 Comment »

December 2nd, 2009 Posted 1:25 pm

(Martina Felesia)

Malam itu seperti biasa aku mengantarkan anak-anak tidur dengan iming-iming bahwa mereka akan mendapatkan sebuah cerita sebagai pengantar tidur.  Jadi jam sembilan tepat setelah semua selesai menggosok gigi dan mencuci kaki, merekapun menagih janji yang sudah kuucapkan beberapa menit sebelumnya.

”Sudah siap semua? Nah, sekarang Bunda mau mulai bercerita.  Ceritanya mengenai seekor anjing, si Kingkong (ini nyomot nama anjing temenku yang meskipun kupikir nggak nyambung banget dengan Kingkong beneran, tapi tetep kupakai sebagai tokoh utama ceritaku) dan seekor kucing namanya Manis…..”

“Bukan Anis, Buda….. Miong,” kata anak tengahku Altar dengan ucapan yang (seperti biasa) susah untuk diterjemahkan.

(more…)



Kecanduan Kopi

No Comments »

November 17th, 2009 Posted 3:57 pm

Sebenarnya, kalau ditilik dari sejarahnya aku bukanlah pecandu kopi. Aku hanyalah korban dari para pecandu kopi sejati, yang sejauh ini (kuharap) baik2 saja keadaannya, biarpun sudah bertahun-tahun jadi pecandu.

Bertahun yang lalu aku masihlah seorang lajang, yang hobinya minum air putih. Bergelas-gelas air putih bisa kuhabiskan dalam satu hari. Maklum saja, aku alergi minum teh, susu, apalagi kopi. Jadi sebenarnya selain mengajarkan hidup sehat, secara tidak langsung juga mengajarkan aku untuk hidup berhemat karena untuk minum teh, susu atau kopi, perlu anggaran devisa yang secara tidak langsung memang harus disediakan.

Masalah timbul setelah aku sering sowan (Jawa=berkunjung) ke salah satu biara yang tidak terkenal di salah satu kota di Jawa Barat. Namanya saja area tinggal para lajang sejati, maka jika libur tiba, kegiatannya pun tidak jauh2 dari yang namanya aktifitas yang berbau kelaki-lakian. Main volley, basket, berkebun, tenis meja, sampai mandiin anjing seminari. Dan ujung2nya tiba pada saat yang telah dinanti-nantikan, yaitu coffee time.

Sebagai salah satu tamu kehormatan (walah....^^), para penghuni seminari tersebut dengan penuh sopan santun akan menawari diriku untuk ikutan menikmati acara coffee time tersebut. Sebenarnya sih ada dua pilihan, teh atau kopi. Tapi melihat bagaimana ekspresi para calon pastor itu dalam meneguk kopinya, membuatku ngiler untuk ikut-ikutan mencoba. Pertama secangkir kecil. Berikutnya, pada kunjungan selanjutnya, naik peringkat ke cangkir sedang. Berikutnya lagi aku sudah punya gelas favorit sendiri, di mana aku bisa membuat kopi sesuai porsi yang kuinginkan. Lama2 hidupku sudah tidak jauh2 lagi dari yang namanya ngopi tiap hari.

Beberapa teman suka nyelutuk, "Wes ireng, senengane ngopi, tambah peteng" (Jawa = udah item, sukanya ngopi, tambah gelap). Biasanya aku cengengesan saja. Lha gimana lagi. Yang namanya nyandu itu ya tiap hari. Kalau tiap bulan namanya ngopi months. Kayak orang gajian, hanya sebulan sekali. Kalau tiap hari gajian namanya nodong suami...hehehe.....

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya ngopi tiap hari nggak ada untungnya. Udah bikin aku tambah gosong (betul nggak ya?), bikin gigiku jadi nggak kinclong lagi. Dulu, kalau ketemu orang lain, tanpa malu2 aku akan memamerkan gigi yang tak seberapa ini. Sekarang setiap ada yang ngajak senyum, aku hanya bisa senyum dikulum saja, macam orang lagi makan permen (meskipun sebenarnya lebih mirip orang sakit gigi).

Kata orang, kalau ngantuk ngopi dulu. Itu teorinya. Faktanya, biarpun minum segalon kopi, aku kalau ngantuk ya tetep ngantuk, nggak ngaruh sama kopi yang sudah kuminum. Jadi, mau diterusin apa tidak ya acara nyandu kopi ini? Daripada nyandu narkoba atau shabu2?

Posted in Martina Felesia

Marahan Sama Tuhan

10 Comments »

November 7th, 2009 Posted 2:17 pm

(Martina Felesia)

Beberapa bulan ini aku lagi marahan sama Tuhan. Lagi ngambek. Lagi nggak pengin menyapaNya walau hanya sepatah kata. Doa komunitas banyak absennya. Misa hari Minggu banyak bolongnya. Misa Jumat Pertama datang kalau ingat saja. Doa pribadi apalagi. Jangankan membuka buku ibadat harian (brevir), berdoa yang paling sederhana saja otakku suka error. Doa yang kudaraskan hanyalah doa ala anak-anakku menjelang mau tidur. Doa yang itu-itu juga. Tapi kurasa lebih menjiwai daripada doa yang manapun juga.

Selamat Malam ya Yesus

Terima kasih atas berkatMu hari ini

Sekarang Pilar, Altar, Lunar, Ayah, Bunda mau tidur

(more…)



Tags: , ,
Posted in Martina Felesia

Dua Tipe Sopir Angkot Langgananku

No Comments »

October 29th, 2009 Posted 2:58 pm

Dua minggu ini sopir angkot yang angkotnya biasa kunaiki, ganti dengan sopir pengganti. Kalau nggak salah, si Tommy, sopir yang lama lagi pulang kampung untuk suatu keperluan penting di kampungnya. Jadilah seorang temannya diminta menggantikan tugasnya selama dia nggak ada, dengan maksud supaya tidak kehilangan good customer, contohnya yang kayak aku ini.

Dalam tempo beberapa hari saja aku sudah bisa menilai, bahwa dua orang ini, yang sama2 sopir angkot, ternyata punya dua kemampuan yang jauh sekali berbeda. Yang satu, si Tommy, sopir lama, punya daya tarik untuk jadi marketer yang jempolan. Pagi-pagi dia sudah ngetem depan rumahku, terus pakai acara jemput bola ke beberapa penumpang yang lainnya. Para penumpang ini sebelumnya sudah diincarnya dan sudah dipelajari kebiasaannya. Kerja di perusahaan apa, nunggu angkot tiap pagi di mana, masuk kerja kira2 jam berapa. Selanjutnya ia tinggal "ambil" penumpang "langganan" ini tanpa harus mencari-cari penumpang lain lagi. Yang aku salut ia punya kemampuan untuk menghafal dengan cepat, di mana harus menurunkan masing2 penumpang sesuai dengan rute dan tujuannya. Kita nggak perlu teriak "pinggir...pinggir.....!" ia sudah hafal di luar kepala.

Senangnya lagi naik angkot si Tommy adalah, mobil selalu bersih, wangi, dan full musik. Musiknya keren2 lagi. Selain itu pasti tersedia koran pagi terbaru hari itu. Meskipun seringkali angkotnya ngebut, tapi ngebutnya nggak mirip preman pinggir jalan itu. Ngebutnya aluuuss......nggak bikin jantung loncat2. Dan yang penting lagi, sopirnya selalu wangi setiap kali jemput penumpang (nampak kali kalo abis mandi gitu loh.....!). Penumpang senang karena bisa masuk kerja tepat waktu sementara si sopir senang karena secara nggak langsung punya pelanggan tetap. Jadi nggak perlu repot2 lagi ngetem nunggu dan cari2 penumpang.

Cilakanya sang sopir pengganti selama si Tommy pergi, bukan tipe marketer yang baik. Dilihat dari tampangnya yang "aras-arasen" (boso jowo = males2an), sudah bisa ditebak tipe seperti apa dia itu. Kalau nggak kepagian jemput, ya kesiangan. Penumpang yang biasanya naik angkotnya jadi dilema. Ditunggu takutnya nggak datang, nggak ditunggu takutnya dia pula yang nunggu kita. Pernah dalam beberapa hari aku telat karena nunggu angkot yang nggak dateng2. Ujung2nya aku harus naik angkot lain, meskipun untuk itu harus nyambung naik ojek.

Besoknya lagi, kurasa mobil sudah tidak wangi seperti biasanya. Mungkin terkontaminasi dengan sopirnya yang bau dan acak2an. Sudah gitu aku lihat dia pun juga secara acak saja ambil penumpang. Bukan penumpang seperti biasanya, tapi asal ngetem dan mendapatkan penumpang. Tidak peduli bahwa gerombolan penumpang itu bukanlah satu arah lagi. Yang penting dapat penumpang. Jadi kalau biasanya aku sampai kantor pagi, dengan jam yang sama berangkat dari rumah, aku bisa sampai kantor lewat beberapa menit. Payoyeh kan?

Dari dua tipe sopir di atas aku bisa menyimpulkan, bahwa biarpun hanya sopir angkot, penampilan atau bahasa kerennya performance itu penting. Dengan sikap yang ramah, sopan dan "mengerti" kebutuhan penumpang, maka pendapatan yang diperoleh akan berbeda dengan sopir yang penampilannya acak2an, bau lagi. Kalau sopir angkot saja perlu menjaga image, apalagi aku?

Paling tidak aku bisa belajar satu hal : Jangan pernah lelah untuk memperbaiki penampilan. Tidak perlu menor, tidak perlu terlalu keren. Yang penting rapi, bersih, wangi dan enak untuk dilihat. Jangan lupa pasang senyum termanis yang kita punya. Keuntungannya, sopir angkot jadi terhibur melihat wajah kita, dan dengan sukarela akan mengantar kita sampai depan tempat kerja. Beneran loh ini....nggak bo'ong.....^_^

Posted in Martina Felesia

Suatu Hari

9 Comments »

October 28th, 2009 Posted 5:57 pm

(Martina Felesia)

Suatu hari, ketika aku membuka profile seorang teman di salah satu jejaring pertemanan dunia maya.  Aku melihatnya.  Fotonya terpampang sebagai salah satu bagian dari teman yang kubuka profilenya.  Aku melihatnya setelah bertahun-tahun kami kehilangan kata-kata.  Kehilangan secercah sinar penunjuk arah, yang pernah menjadi penghantar hari-hari kami dalam sebuah persahabatan menyejukkan.

Yap.  Tiba-tiba saja semua gambar itu terbayang kembali dengan jelas di benakku.  Gambar-gambar manis masa lalu, yang jujur saja sudah mulai kubuang satu persatu dari ingatan.  Bukannya aku tak mau menyimpannya.  Hanya saja bagiku, cerita itu telah usai, meskipun perjalanan belum lagi selesai.  Dan tidak mesti harus selesai dalam sepersekian detik ketika waktu memisahkan segalanya.  Kusadari pasti, aku dan dia bukanlah kami yang dulu lagi.

*******

(more…)



Tags:
Posted in Martina Felesia

Karna Hanya Kau Berarti Bagiku

No Comments »

October 23rd, 2009 Posted 12:25 pm

Judul di atas adalah penggalan sebuah lagu berjudul : Ada Dunia Baru, yang dulu dengan semangat empat lima kupilih sebagai salah satu lagu favorit dalam upacara pernikahanku. Lagunya manis, romantis dan tidak agamis (berbau religius). Tapi menurutku, kata demi kata, kalimat demi kalimat, sungguh sangat menyentuh dan sangat terasa kebenarannya.

Ada dunia baru, negeri harapan,
Ku kan sampai di sana, bila kau membimbingku,
Kuharapkan selalu kau ada di sampingku,
Kar' na hanya kau berarti bagiku.......

Bagi setiap insan ada pasangannya,
Dan sudah kuputuskan, kau lah teman hidupku,
Meski ku jelajah dunia, sampai akhir hayatku,
Namun hanya kau berarti bagiku......

Jalannya masih jauh, dampingilah aku,....
Bila topan menderu, jadilah kau panduku,
Melimpahnya harta, apalah artinya,
Mungkin besok hilang lagi, dan aku tak perduli,
Tapi bila hilang cintamu, patahlah semangatku....
Karna hanya kau berarti bagiku,........

Yap, bisa jadi siapapun yang menciptakan lagu itu berharap, supaya setiap pasangan yang pada akhirnya berani mengucapkan janji setia di depan altar, bisa setia kepada sumpah dan janji yang telah diucapkan di depan Tuhan dan di depan seluruh umat undangan (sebagai saksi).

Sekarang, setiap menyanyikan lagu itu, selalu saja selarik tanya berdenging di kepalaku, apa betul engkau sungguh berarti bagiku? Dan segera semua bayangan sifat buruk yang ada pada pasanganku berjubel-jubel memenuhi batok kepalaku. Menutupi semua bayangan kebaikan yang sudah dibagikan dan dijalani bersamaku selama ini (Segala harapan seperti yang tercantum dalam lagu, hilang begitu saja, menguap entah kemana).

Bisa jadi saat ini pasangan hidupku juga tengah mendengungkan pertanyaan yang sama, apa betul aku sungguh berarti baginya? Bisa jadi ada penyesalan menikah dengan "nenek bawel" seperti aku ini. Keras kepala, nggak mau kalah, sok ngatur, dan segala macam keburukan lainnya. Bisa jadi dia lupa, bahwa dulu segala kebaikan dalam diriku, menjadi semangat untuk menjalin satu komitmen dalam sebuah hubungan yang diberkati Tuhan (betul2 apa yang tercantum dalam syair lagu itu sungguh tidak masuk akal untuk dilaksanakan).

Baru kusadari bahwa lagu tersebut membawa konsekuensi berat bagi pasangan yang baru menikah, pasangan dengan usia pernikahan masih balita, atau bahkan bagi pasangan yang sudah menikah sejak lama. Bagaimana mungkin kita percaya kepada pasangan kita sedemikian rupa, sementara belum tentu pasangan kita percaya kepada kita sedemikian rupa? Bagaimana mungkin kita mencintai pasangan kita sedemikian rupa sementara pasangan kita belum tentu mencintai kita sedemikian rupa? Bukankah harus ada timbal balik yang seimbang dalam mempercayai dan mencintai pasangan?

Menikah memang mudah. Yang sulit adalah menjalaninya. Jika setiap orang yang menikah percaya, bahwa Tuhan sendiri yang telah memilih pasangan hidupnya, aku rasa tidak akan ada yang namanya perceraian, seperti yang selalu digembar-gemborkan dan dibangga-banggakan oleh sebagian kalangan.

Pada akhirnya, semua tidak akan ada artinya jika setiap pasangan tidak bisa mempertahankan adanya cinta dalam rumah tangga. Apalah arti jabatan, pangkat, kemasyuran, dan segala kenikmatan duniawi jika harus kehilangan cinta di dalam sebuah biduk rumah tangga? Apalah artinya kesuksesan, jika hanya diukur dari kemewahan duniawi semata? Apalah artinya pencapaian karir tertinggi dalam sebuah pekerjaan jika mesti kehilangan tawa dan senyuman orang2 tercinta?

Dengan bertahan untuk saling mencintai, aku yakin apa yang tercantum dalam syair lagu di atas, bisa sungguh terlaksana dalam perjalanan hidup yang sesungguhnya. Jalannya masih jauh...! Ini baru suatu permulaan. Baru langkah awal dari sebuah peziarahan panjang. Akan ada banyak tantangan. Akan ada banyak onak dan duri. Hanya dengan kekuatan cinta semua akan bisa ditaklukkan.

Tapi bila hilang cintamu, patahlah semangatku, karna hanya kau berarti bagiku.......

* Try to reach the best love in your life....!

Posted in Martina Felesia

Belajar Berkomitmen

No Comments »

October 8th, 2009 Posted 12:39 pm

Hampir sepuluh tahun. Dan rasanya seperti baru kemarin aku memutuskan untuk mengatakan "iya".

Pertama kali diajak married, aku 1000% ragu. Nggak yakin pada diri sendiri. Nggak yakin pada pasangan. Nggak yakin bahwa semua akan berjalan baik2 saja. Nggak yakin bahwa dua orang yang sungguh amat sangat berbeda akan bisa hidup bersama, sehati sejiwa, sehidup semati. Bayangan2 mengerikan adanya KDRT dalam rumah tangga atau penindasan terselubung antar pasangan membuatku gamang untuk mengambil keputusan.

Terbayang di benakku betapa sedih dan tragisnya nasib beberapa sahabat yang terpaksa harus kehilangan kebahagiaan dan keceriaan dalam hidup ketika memutuskan untuk menikah. Terpatri dalam ingatan betapa ternyata keindahan dan kata2 manis saat pacaran, bukanlah suatu jaminan akan tercipta suatu relasi yang indah saat sampai di gerbang pernikahan. Semua itu begitu melekat dalam relung jiwa dan membuatku berpikir ribuan kali sebelum mengatakan iya. Kegamangan dan ketakutan itu, begitu erat membelenggu hidupku.

Bertahun kemudian, ketika Tuhan menghadiahkan padaku, seorang malaikat yang biasa2 saja. Bukan si Mikael yang berani mati. Atau Gabriel yang tingkat religiusnya tinggi. Bukan juga Rafael yang kadar intelektualitasnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Bisa jadi ia adalah malaikat tanpa nama. Tapi pada malaikat yang biasa2 saja itu, akhirnya kuberanikan diri untuk menggantungkan asa.

Hampir sepuluh tahun. Dan seperti baru kemarin aku mengatakan "iya". Kepada malaikat yang biasa2 saja itu aku patut berterima kasih. Karena bersama dia aku bisa menimba banyak hal. Saat2 pahit, saat2 manis. Saat2 sedih, saat2 penuh gelak tawa. Semua terangkum dalam satu rangkaian ikatan manis yang kami sebut Komitmen. Dengan belajar berkomitmen, kami belajar untuk menjadikan dua manusia yang berbeda, menjadi satu kesatuan yang indah. Tanpa harus mengubah sifat, tanpa harus berubah gaya. Aku adalah aku dan dia akan tetap menjadi dia yang kukenal dulu.

Belajar berkomitmen, memang tidak mudah. Lebih mudah lagi adalah melanggar komitmen dan merusakkannya. Tapi selagi masih bernafas dan berjalan di kehidupan nyata, tidak ada salahnya untuk senantiasa belajar dan belajar. Sehingga dari dulu dan akhir nanti, pasangan hidupku, akan menjadi satu2nya yang terbaik bagiku. Tidak ada yang lain.....

Bagi orang yang percaya.....segala sesuatu akan menjadi indah pada waktunya.

(Menikah itu mudah. Yang tidak mudah adalah menjalaninya)

Posted in Martina Felesia

Biar Kuikat Tali Sepatumu

3 Comments »

October 1st, 2009 Posted 1:25 pm

(Martina Felesia)

(Minggu, 26 April 2009)
Siang itu garing. Halaman depan gereja Katedral sudah mulai sepi. Ben tengah merunduk membetulkan tali sepatu ketika seseorang menubruknya dari belakang. Membuatnya hampir terjerambab karena kaget. Sekaligus membuatnya meringis kesakitan karena pinggangnya terantuk ujung sepatu. Dengan spontanitas kegeraman yang tinggi ia berbalik untuk mencari siapa yang menabraknya tadi.

”Aduuuh….maaf….maaf……nggak sengaja…., betul-betul tidak sengaja…!” seraut wajah tirus memandangnya penuh penyesalan. Matanya memandang Ben dengan tatapan menghiba. ”Aku tidak melihatmu tadi,” ia melanjutkan dengan suara terbata-bata.

Tiba-tiba saja amarah Ben menguap entah kemana. Niat untuk mengganjar penabraknya dengan sumpah serapah terpaksa ditelannya mentah-mentah. Entah karena wajah tirus yang memelas di depannya itu. Atau karena suara lembut bernada permintaan maaf yang samar-samar sampai di telinganya.

(more…)



Posted in Martina Felesia

Miskin Inspirasi

No Comments »

September 29th, 2009 Posted 12:11 pm

Beberapa hari ini otakku macet. Tak ada ide. Tak ada sepercik cahaya bersinar "thuing" di kepalaku. Semuanya blank. Kalau biasanya otakku dipenuhi dengan banyak kalimat berderet-deret untuk dipadu-padankan sekarang ini hasilnya nihil. Jangankan berderet-deret, satu deret pun susah sekali mikirnya. Nggak tahu ya, mungkin ini imbas dari liburan yang nggak komplit. Maksudnya pas liburan anak-anak malah huk huk huk huk karena batuk dan hidung meler karena pilek.

Kucoba untuk buka link Yuk Nulis punya Lini. Siapa tahu ada yang bisa memberiku inspirasi. Nihil. Kubuka link cerbung di femina on line. Sama saja. Malah membuat mataku sakit karena kebanyakan membaca dari komputer. Kuulang membaca novelnya si Welly. Membuatku kembali sesak nafas karena terlalu penghayatan dalam membaca (isinya keren.....jadi sayang kalau nggak diseriusi membacanya).

Setiap pergi pulang kerja kupelototi sepanjang jalan. Siapa tahu aku bertemu ide di sana. Ternyata tidak juga. Yang namanya ide menguap entah kemana. Yang namanya inspirasi hanya sekedar menjadi angan-angan. Padahal biasanya pepohonan yang melambai-lambai tertiup angin bisa jadi bahan cerita. Orang gila yang berseliweran di jalan bisa jadi bahan pembelajaran. Atau angkot ngetem nunggu penumpang bisa membuat pikiranku melayang kemana-mana.

Tapi ya sudahlah....yang namanya inspirasi itu pasti akan datang sendiri. Nggak perlu ditunggu, nggak perlu dicari. Mirip2 jodoh. Kalau sudah jodoh ya pasti akan datang sendiri. Akan tiba saatnya nanti. Nggak perlu ditunggu. Nggak perlu dicari. Ah, yang bener? Masak sih jodoh nggak perlu dicari?

Sepertinya aku mesti merendam kepala panasku ini sejenak. Siapa tahu dingin air bak mandi bisa menyejukkan rasa...menyegarkan jiwa......dan mengirimkan ide2 cemerlang untuk otakku yang tengah kosong.

Posted in Martina Felesia

Kenangan Lebaranku

No Comments »

September 18th, 2009 Posted 2:18 pm

Dulu, setiap kali lebaran datang, bisa dikatakan aku adalah salah satu orang yang sangat antusias menyambutnya. Sudah terbayang di depan mata serunya liburan dan mudik ke desa di mana nenek dan kakekku tinggal. Biarpun keluargaku tidak merayakan lebaran karena kami non muslim, tapi keluarga besarku hampir semua merayakannya. Yang jelas lebaran adalah saatnya mengumpulkan seluruh anggota keluarga yang tersebar di mana-mana.

Jika kebetulan tidak mudik ke tempat nenek, biasanya kami hanya berkumpul dengan saudara2 yang tinggal di kota yang sama. Aku senang karena ikutan mendapat jatah baju dan sepatu baru dari bapak ibu. Kata ibuku sih biar tidak malu2in kalau mesti "ngider" keliling dari rumah saudara yang satu ke rumah saudara yang lainnya. Sejak itu lebaran menjadi ritual khusus bagi aku dan saudara2ku untuk mengharapkan baju dan sepatu baru.

Selain mendapatkan baju dan sepatu baru, yang kusenangi dari lebaran adalah berlimpahnya makanan enak. Para "bude" dan "bulik" dari pihak bapak maupun ibu pagi2 sekali sudah mengirimkan ketupat dan "lepet" (makanan terbuat dari ketan yang dibungkus daun). Ada juga yang mengirimkan lontong. Dan ada pula yang mengirimkan kue2 lebaran. Ibuku tinggal memasak opor ayam dan kami bisa berpesta ria makan enak selama beberapa hari. Belum lagi kiriman makanan dari tetangga kiri kanan. Wah, pokoknya ditanggung bisa makan sampai muntah kalau mau.

Seingatku lebaran adalah saat di mana semua orang berbagi kegembiraan. Lebaran adalah saat berkumpul, bercanda ria dan berbagi tawa. Yang tua, yang muda, yang miskin, yang kaya, yang pemalu, yang ramah, semua ingin bergembira. Aku ingat, tidak ada yang pernah menyinggung tentang kepercayaan kami yang non muslim. Tidak ada yang mempersoalkan apakah aku Kristen atau tidak. Bahkan saat bagi2 "angpao" , aku juga mendapatkan bagian yang sama seperti sepupu2ku yang lain. Rasanya indah sekali berlebaran di kampung halaman. Sama indahnya ketika pada saat merayakan natal, semua saudara dan tetanggaku juga datang untuk berbagi kegembiraan dan kebahagiaan yang sama.

Saat ini aku hidup di tanah rantau. Herannya biarpun sama2 Indonesia, banyak masyarakatnya yang bersikap seperti bukan orang Indonesia. Rasa persaudaraan, kebersamaan, sepertinya hanya menjadi omong kosong belaka. Semua sibuk memikirkan dirinya sendiri. Semua sibuk menciptakan sekat2nya sendiri. Semua orang punya persepsi tentang surganya masing2. Seolah-olah Tuhan hanya memandang mereka saja. Seolah-olah Tuhan hanyalah punya mereka. Perbedaan adalah haram hukumnya. Betul2 berbalik seratus delapan puluh drajat dengan warga kampungku dulu.

Ah, aku rindu lebaran yang damai. Aku rindu lebaran yang ceria. Aku rindu lebaran yang gembira. Aku rindu lebaran yang menampung semua orang. Merangkul semua orang. Aku rindu lebaran yang tidak memandang bulu. Aku rindu lebaran yang penuh warna-warni. Aku rindu lebaran yang menyejukkan semua orang. Aku rindu lebaran di kampung halaman.

Aku rindu mengucapkan salam lebaran kepada para saudara, sahabat dan handai taulan. Tulus, tanpa beban. Sama rindunya pengharapanku akan mereka, untuk mengucapkan selamat pada saat aku merayakan natal.

Tapi inilah Batam....dengan segala realitanya. Bukankah kenyataan terkadang tidak sesuai dengan harapan? Dan akupun terpekur......sejenak membawa anganku melayang...menjenguk kampung halaman tercinta.

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430 H buat para sahabatku yang merayakan.

Posted in Martina Felesia

Kasih Ibu Sepanjang Jalan

No Comments »

September 10th, 2009 Posted 12:00 pm

Beberapa hari ini, aku hobi nontonin Ibunya Sheila Marcia di TV. Itu loh...artis muda yg nasibnya bisa dibilang tragis banget. Sudah jatuh ketimpa tangga pula. Sudah divonis bebas akibat narkoba kok musti masuk bui lagi. Berita terkini malah menyebutkan kalau dia tengah hamil di luar nikah (ps : ini hasil nonton gosipan pagi-pagi).

Bingung kan? Kok nontonin ibunya Sheila? Yang jadi bahan pembicaraan kan si Sheilanya?

Iya. Melihat semangat ibu satu ini mengingatkanku pada sebuah peribahasa yang berbunyi : Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Nampak nyata dan jelas betapa seorang ibu, apapun yang terjadi, mau salah mau bener, ia akan tetap jadi pelindung dan pengayom terbaik untuk si anak. Kasih sayangnya tak kan lekang oleh apapun juga.

Sudah jelas bahwa anaknya memang "kurangajar" dan nggak tahu diri. Tapi sebagai seorang ibu, ia telah menunjukkan kemampuan terbaiknya. Tetap mengalirkan semangat dan pengharapan, tetap menyuntikkan kasih sayang dan memberikan kekuatan. Bagiku, Maria Caecilia Yoseph, is really the best mother. Melihatnya berbicara dengan penuh cinta tentang sang anak yang penuh dosa, aku seperti sedang membaca Kitab Suci berjalan : Iman tanpa perbuatan adalah mati.

Aku membayangkan, seandainya aku berada di posisinya saat ini, apakah aku akan kuat menghadapi semua beban berat itu? Anak terkasihku terjerat narkoba dan hamil di luar nikah dan tidak jelas siapa yang menghamilinya. Ah, membayangkan saja serba mengerikan, apalagi menjalaninya?. Bisa jadi aku malah akan gantung diri dan berusaha lari dari kenyataan jika peristiwa itu menimpaku. Bisa jadi juga aku akan "membuang" anakku karena telah mencoreng harkat dan martabat keluarga. Bisa jadi aku akan gelap mata dan lupa bahwa anak, apapun adanya mereka, adalah hadiah terindah dari surga, yang dititipkan Tuhan padaku.

Sebagai seorang anak yang memiliki ibu aku jadi ingat ibuku. Sebagai seorang ibu yang memiliki anak2, aku pun ingat keluargaku. Betapa ibuku tidak pernah membenciku, senakal apapun aku dulu. Sama seperti aku sekarang yang tidak pernah bisa terlalu lama marah kepada anak2ku, senakal apapun mereka. Aku jadi lebih paham apa arti kasih sayang seorang ibu setelah aku sendiri menjadi ibu.

Ah, berbahagialah mereka, yang masih memiliki seorang ibu. Berbahagialah mereka, yang masih diberi kesempatan untuk mencintai dan membahagiakan ibu mereka. Ingatlah selalu, sampai kapanpun, pengorbanan seorang ibu tak akan pernah bisa terbalaskan.

Posted in Martina Felesia

Memori Bulan September

17 Comments »

September 8th, 2009 Posted 4:00 am

(Martina Felesia)
Lomba Nulis Hari Aksara 2009

7 September.

Seperti tahun-tahun  lalu aku mengenangmu.  Tiada pernah bosan meskipun aku tak pernah tahu apakah engkau masih mengingatku atau tidak.  Hanya saja bagiku, 7 September selalu mengalirkan magma.  Kehangatan dan kenangan akan tawamu, jauh menusuk relung hati, dulu dan sampai saat ini.

Hari itu aku bertemu makhluk aneh.  Makhluk yang dibawa pulang Anas teman satu asramaku.  Makhluk sok jaim, yang senyumnya aduh, sungguh amat sangat mahal dan pelit sekali.  Padahal wajahnya nggak keren-keren amat.  Dengan kacamata minus begitu terus terang dia bukan tipikal cowok yang (bakalan) kusukai.  Pasti model serius dan nggak bisa diajak ”guyon”.  Minimal dari gayanya yang acuh tak acuh aku bisa menilai, dia pasti bukan tipe cowok yang menyenangkan.

(more…)



THR

No Comments »

September 4th, 2009 Posted 3:27 pm

Hari-hari terakhir ini aku lihat ada yang beda di kantor. Semua wajah tampak sumringah. Yang biasanya kayak "kutu kupret" senyumnya jadi maniiiiss kayak permen kopiko. Yang biasanya adem ayem kulihat udah mulai lincah berkicau dan bercuap-cuap kesana kemari. Yang biasanya hobi duduk diam tenang di kantor pada ikutan daftar ikut klayapan. Pokoknya suasana kantor jadi gimana gitu.......!

Ternyata eh ternyata, ceritanya nggak jauh-jauh dari THR alias Tunjangan Hari Raya yang sudah bisa dicairkan dari kemarin. Pantesan rombongan ke mall hari ini full. Biarpun naik "merci" cap transkib tapi semua hepi berebut mau pergi. Semua-mua mau "mborong" untuk lebaran. Apalagi sekarang ini lagi ngetrend diskon mendiskon. Jadi ada harapan dapat barang bagus harga murah. Kapan lagi bisa begini kalau nggak hari raya?

Aku jadi inget salah satu judul artikel di Intisari bulan ini. Temanya tentang diskonan. Ada apa di balik diskon? Intinya adalah, yang namanya diskonan, apapun bentuknya dan berapapun harganya, ternyata memang sudah disetel dan diplanning sebagus mungkin biar laku. Itu adalah salah satu trik supaya barang dagangan bisa laku dan sisa tahun kemarin bisa cepet habis tahun ini. Dan penjual yang pinter bisa cepet menangkap mana celah2 yang bisa diambil dalam menggaet pembeli, terutama pembeli yang gampang tergoda "rayuan gombal".

Buktinya hari ini mall penuh sekali. Padahal masih hari Jumat. Matahari menawarkan diskon besar-besaran. Toko2 kecil di sekelilingnya juga tak mau kalah. Toko baju, toko sepatu, toko mainan anak2, toko perlengkapan bayi, de el el. Sepertinya yang nggak ada diskonan cuman urusan makan. Buktinya harga makanan tetap seperti biasa plus ditarik pajak tambahan untuk sewa restoran. Wah, kapan ya restoran dan gerai2 makanan di mall rame2 menawarkan diskon pas hari2 seperti ini? Jangan hanya pas promo doang menawarkan diskonan. Kasihan orang2 yang hobinya makan kayak aku ini...!

Alhasil sepulang dari melalak di mall, merci kami jadi tambah sumpek. Bagaimana tidak? Semua orang menjinjing tas dari hasil inspeksi masing2. Tidak ada yang pulang dengan tangan kosong. Namanya juga baru terima THR. Jadi masih seneng2nya belanja dan sedang semangat2nya untuk menghabiskan duit. Pokoke hari ini, biarpun hujan deras datang menghadang, pantang untuk tidak pergi belanja keperluan lebaran.

Yaitulah, kalau dipikir-pikir THR itu bukan hanya sekedar Tunjangan Hari Raya, melainkan menjadi satu kata perintah untuk ...."Terus Habiskan (tuh) Rupiah".....maksudnya jangan segan2 menghabiskan rupiah yang kau dapat bulan ini, karena besok toh masih ada bulan2 yang lainnya di mana rupiahmu akan tergantikan. Itupun kalau perusahaan masih mau makai kita2 ini untuk jadi karyawannya...hihihihi......

Selamat bersenang-senang dengan uang THR......bravo my friends!

Posted in Martina Felesia

Marmut Ireng

7 Comments »

September 1st, 2009 Posted 4:00 pm

(Martina Felesia)

“Woiiii……marmutttt……!”

Suara-suara samber itu bersahut-sahutan meningkahi langkahku.  Begitu tiap hari.  Suara-suara yang kubenci sekaligus kukangeni jika satu hari saja aku tidak masuk sekolah.  Suara-suara yang terkadang membuat aku naik darah.  Dan semakin aku naik darah, semakin senang para pembuat suara bising itu.  Iya, itu adalah nama panggilan kesayangan dari teman-teman SD ku dulu.

“Marmut ireng……!  Heiiii…..tungguuu……!”belum lagi yang ini.  Nyebelin banget nggak sih?  Sudah panggil nama orang seenaknya, ditambah lagi dengan embel-embel “ireng” di belakangnya.  Marmut artinya kelinci (sejenis hamster ?).  Ireng artinya hitam.  Marmut ireng.  Kelinci hitam.  Nah loh.  Siapa yang nggak marah kalau begitu?

(more…)



Posted in Martina Felesia