Tulisan Oleh Martina Felesia
Tiba2
No Comments »
November 10th, 2011 Posted 10:19 am
Jadi aku hanya bisa termangu ketika seorang teman yang sedang bermasalah besar dengan suaminya bertanya,"Terus aku harus bagaimana? Dalam hal ini kurasa sulit memberikan maaf atas apa yang telah dilakukannya padaku!". Masih terasa nada emosi jiwa dalam suaranya. Emosi yang sayup2 samar masih beraroma cinta. Emosi yang menurutku memang patut diluapkan daripada terlalu lama dipendam.
"Aku masih tidak percaya, mengapa ia tega melakukan ini padaku?! Bagaimana mungkin ini terjadi padaku?! Seumur hidup aku tidak pernah membayangkan bahwa pasangan hidupku akan melakukan hal demikian. Sudah main mata dengan perempuan lain, main kasar pula sama istri!"
Aku masih terdiam. Tambah terdiam melihatnya meneteskan air mata. Berusaha keras supaya air mata itu tidak jatuh berderai di depanku. Jujur saja aku tidak tahu harus berkata apa. Ini murni masalah rumah tangga. Masalah internal yang tidak semua orang bisa ikut campur di dalamnya. Hanya saja hatiku tiba2 ikut miris mendengar segala keluh kesahnya.
"Tahukah kamu, lima belas tahun yang lalu, bukan aku yang mengajaknya untuk mau menikah denganku. Dia yang berusaha keras meyakinkan aku untuk mau menikah dengannya. Janji2nya terasa manis waktu itu. Janji2 untuk selalu mencintai dan melindungi. Janji2 untuk selalu setia dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, dalam sakit dan sehat. Janji2 untuk melakukan apa saja yang penting aku mau menikah dengannya. Tapi sekarang....apa buktinya?!"
Aku sibuk mencoret-coret kertas. Mencoba menggambar sesuatu yang mungkin bisa kugambar. Tapi tak ada. Pikiranku pun kosong. Berlari ke masa lalu di mana aku mengenal kedua pasangan ini sebagai orang baik2 yang kupikir pada waktu itu, perjalanan hidupnya akan lancar2 saja. Dari segi finansial tidak ada yang kurang. Lebih dari cukup malah. Mereka dua orang yang bagiku saling melengkapi. Yang satu ramai dan gembira selalu. Yang satu lagi tidak banyak bicara tapi bisa menjadi pendengar yang mengasyikkan. Jika ternyata perjalanan hidup bisa menjadi sesuatu yang menyedihkan saat ini, aku sungguh tidak menduganya sama sekali.
"Sekarang aku tidak peduli lagi. Aku tidak mau peduli! Mau begini kek, mau begitu, kek, itu bukan urusanku! Aku hanya ingin bahagia! Jika ternyata menikah membuatku menderita, aku menyesal telah menikah. Tujuan hidupku cuma satu sekarang, anakku, dan masa depanku kelak!"
Tuhan, aku juga bukan manusia sempurna. Hidupku sendiri juga belum bisa dikatakan baik2 saja. Tapi dalam hal ini, apa yang harus kukatakan kepada temanku? Jika aku berada dalam posisinya, mungkin akan lebih parah lagi keadaanya. Belum tentu aku masih bisa tertawa sementara suamiku bermesra ria dengan perempuan lain. Belum tentu aku masih bisa berjalan tegak ketika terjadi kekerasan dalam rumah tanggaku. Diam2 aku bahkan iri pada temanku, mengapa ia bisa setegar itu.
Berjam-jam berlalu setelah mendengarkan curahan hati yang panjang, aku menatapnya. Aku tidak ganti memberikan "ceramah" panjang lebar tentang bagaimana seharusnya hidup berumah tangga. Atau menguliahinya tentang hal-hal yang harus dilakukanya sesudah ini semua terjadi. Aku hanya berusaha menjadi pendengar yang baik. Berusaha menjadi teman yang baik, "Tidak apa2, mbak! Semua akan baik2 saja! Meskipun tidak bisa memberikan maaf saat ini, besok, atau besoknya lagi, pasti akan selalu ada kesempatan untuk itu!"
Tiba2 saja aku merasa, suamiku yang lelet, yang selalu "tar-sok" jika diminta mengerjakan sesuatu, adalah pasangan hidup yang terhebat di dunia. Tiba2 saja aku merasa, meskipun dari segi finansial kami biasa2 saja, kami adalah keluarga paling tajir sedunia. Tiba2 saja, mataku terbuka, untuk banyak hal yang "mungkin" belum sempat kusyukuri sampai detik ini. Tiba2 saja aku merasa, Tuhan telah memberikan yang TERBAIK dalam hidupku. He is my Salvation! He has saved my life....!
* renungan pribadi saat hari mendung
"Aku masih tidak percaya, mengapa ia tega melakukan ini padaku?! Bagaimana mungkin ini terjadi padaku?! Seumur hidup aku tidak pernah membayangkan bahwa pasangan hidupku akan melakukan hal demikian. Sudah main mata dengan perempuan lain, main kasar pula sama istri!"
Aku masih terdiam. Tambah terdiam melihatnya meneteskan air mata. Berusaha keras supaya air mata itu tidak jatuh berderai di depanku. Jujur saja aku tidak tahu harus berkata apa. Ini murni masalah rumah tangga. Masalah internal yang tidak semua orang bisa ikut campur di dalamnya. Hanya saja hatiku tiba2 ikut miris mendengar segala keluh kesahnya.
"Tahukah kamu, lima belas tahun yang lalu, bukan aku yang mengajaknya untuk mau menikah denganku. Dia yang berusaha keras meyakinkan aku untuk mau menikah dengannya. Janji2nya terasa manis waktu itu. Janji2 untuk selalu mencintai dan melindungi. Janji2 untuk selalu setia dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, dalam sakit dan sehat. Janji2 untuk melakukan apa saja yang penting aku mau menikah dengannya. Tapi sekarang....apa buktinya?!"
Aku sibuk mencoret-coret kertas. Mencoba menggambar sesuatu yang mungkin bisa kugambar. Tapi tak ada. Pikiranku pun kosong. Berlari ke masa lalu di mana aku mengenal kedua pasangan ini sebagai orang baik2 yang kupikir pada waktu itu, perjalanan hidupnya akan lancar2 saja. Dari segi finansial tidak ada yang kurang. Lebih dari cukup malah. Mereka dua orang yang bagiku saling melengkapi. Yang satu ramai dan gembira selalu. Yang satu lagi tidak banyak bicara tapi bisa menjadi pendengar yang mengasyikkan. Jika ternyata perjalanan hidup bisa menjadi sesuatu yang menyedihkan saat ini, aku sungguh tidak menduganya sama sekali.
"Sekarang aku tidak peduli lagi. Aku tidak mau peduli! Mau begini kek, mau begitu, kek, itu bukan urusanku! Aku hanya ingin bahagia! Jika ternyata menikah membuatku menderita, aku menyesal telah menikah. Tujuan hidupku cuma satu sekarang, anakku, dan masa depanku kelak!"
Tuhan, aku juga bukan manusia sempurna. Hidupku sendiri juga belum bisa dikatakan baik2 saja. Tapi dalam hal ini, apa yang harus kukatakan kepada temanku? Jika aku berada dalam posisinya, mungkin akan lebih parah lagi keadaanya. Belum tentu aku masih bisa tertawa sementara suamiku bermesra ria dengan perempuan lain. Belum tentu aku masih bisa berjalan tegak ketika terjadi kekerasan dalam rumah tanggaku. Diam2 aku bahkan iri pada temanku, mengapa ia bisa setegar itu.
Berjam-jam berlalu setelah mendengarkan curahan hati yang panjang, aku menatapnya. Aku tidak ganti memberikan "ceramah" panjang lebar tentang bagaimana seharusnya hidup berumah tangga. Atau menguliahinya tentang hal-hal yang harus dilakukanya sesudah ini semua terjadi. Aku hanya berusaha menjadi pendengar yang baik. Berusaha menjadi teman yang baik, "Tidak apa2, mbak! Semua akan baik2 saja! Meskipun tidak bisa memberikan maaf saat ini, besok, atau besoknya lagi, pasti akan selalu ada kesempatan untuk itu!"
Tiba2 saja aku merasa, suamiku yang lelet, yang selalu "tar-sok" jika diminta mengerjakan sesuatu, adalah pasangan hidup yang terhebat di dunia. Tiba2 saja aku merasa, meskipun dari segi finansial kami biasa2 saja, kami adalah keluarga paling tajir sedunia. Tiba2 saja, mataku terbuka, untuk banyak hal yang "mungkin" belum sempat kusyukuri sampai detik ini. Tiba2 saja aku merasa, Tuhan telah memberikan yang TERBAIK dalam hidupku. He is my Salvation! He has saved my life....!
* renungan pribadi saat hari mendung
Posted in Martina Felesia
Homeschooling
No Comments »
September 17th, 2011 Posted 12:02 pm
Beberapa hari ini aku punya kesibukan baru. Searching blog mengenai homeschooling. Itu loh....tentang "sekolah rumah". Sekolah di mana anak2 tidak perlu pergi ke sekolah untuk belajar tapi cukup "belajar" di rumah bersama orangtuanya.? Bayangkan saja, anak2 bersekolah bersama kita orangtuanya! Anak2 bisa belajar di mana saja dan kapan saja mereka mau. Tidak perlu pakai seragam atau apapun aksesoris yang tidak mereka suka. Bisa bergaul dengan siapa saja dan belajar apapun yang mereka mau. Tidak perlu takut ibu guru marah atau teman terganggu kalau kita ribut atau ingin melakukan sesuatu. Apakah itu tidak amazing?
Dari beberapa blog yang kubaca aku menemukan pengalaman2 seru dari para orangtua yang sudah mulai menerapkan homeschooling bagi anak2nya. Para orangtua hebat ini begitu bersemangat untuk memberikan pendidikan yang "terbaik" untuk anak2nya. Mereka terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran anak2 mereka mulai dari A - Z. Berbagai cara dan metode pembelajaran bisa dicoba sekaligus langsung dipraktekkan bersama anak2.
Sebagai orangtua yang masih menggantungkan hidup pada pekerjaan dan sebagai orangtua yang anak2nya masih bersekolah di sekolah, terus terang aku iri. Waduh, enak banget ya seandainya kita sendiri bisa jadi partner belajar bagi anak2 kita. Kita bisa jadi guru mereka atau sebaliknya kita bisa belajar dari mereka. Selama ini aku hanya bisa mendampingi anak2 belajar sepulang kerja. Itu pun tidak bisa total karena keterbatasan waktu dan tenaga. Meskipun menurutku sudah maksimal, tapi kok tetap saja terasa ada yang kurang ya :(
Anakku sulung, si Pilar, sekarang sudah kelas 6 SD. Kalau diperhatikan, bukannya makin hepi bersekolah tapi malah semakin muram. Dengan berbagai macam pelajaran yang jumlahnya berjibun sesuai standar sekolah nasional plus, masa kanak2nya nyaris habis untuk belajar saja. Yang namanya pelajaran berdasarkan text book ya otomatis teori saja, kan? Harus hafal ini, harus hafal itu. Masalah prakteknya seperti apa itu urusan nanti. Yang penting kalau ditanya jawabannya harus sesuai text book. Kalau diminta menjelaskan dengan kata2 sendiri malah bingung. Memang sih selalu masuk tiga besar di kelasnya, tapi "mood"nya seringkali jadi tidak stabil karena kecapekan. Menjadi lebih mudah marah dan jarang tertawa. Sebagai orangtua aku jadi merasa bersalah.
Anak keduaku baru TK B. Sama seperti kakaknya, sekolah seolah menjadi masalah besar. Mesti berhadapan dengan teman yang nakal, guru yang terkadang tidak "fair", atau suasana sekolah yang tidak nyaman, membuat pikirannya selalu dipenuhi dengan kata libur dan libur. Tapi bagaimana lagi? Dengan segala keterbatasan sebagai orangtua kami hanya bisa "merasa" kasihan. Dengan alasan di rumah tidak ada siapapun selain pembantu, ya akhirnya kami putuskan untuk tetap bersekolah (meskipun sebenarnya hati ini tidak tega).
Bungsuku, si Lunar, meskipun kata orang sudah waktunya masuk TK A karena sudah hampir 4 tahun, tetap belum kusekolahkan. Sebisa mungkin belajar di rumah bersama Bunda. Dengan nyanyian, dengan tarian, dengan permainan, dengan cerita made in Bunda. Sementara ini aku melihat, dia senang belajar dan selalu ingin belajar (sampai Bunda tidak punya kesempatan untuk nonton drama Korea).
Akhirnya, meskipun hanya sebagai peminat dari "jauh", sedikit demi sedikit aku mulai belajar metode pembelajaran homeschooling. Nggak papa kan, meneladan sesuatu yang kuanggap bagus? Yang jelas aku punya kemauan kuat untuk menjadikan bahwa belajar itu sesuatu yang menyenangkan, bukan sesuatu yang menakutkan. Itu sebabnya, secapek apapun, aku menyempatkan diri untuk terlibat secara penuh dengan anak2. Belajar, nonton TV dan bermain bersama. Beruntung karena pembantuku pulang hari. Pagi datang sore pulang, tanggal merah libur. Jadi ketergantungan anak2 kepada pembantu bisa diatasi.
Sebagai ibu yang anak2nya tidak (belum punya kesempatan) menjadi siswa homeschooling, aku berharap bahwa suatu saat nanti ada kesempatan untuk itu. Mungkin akan ada pro dan kontra. Tapi bukankah anak2 juga punya hak untuk memilih? Bukankah anak2 punya hak untuk bahagia? Kita saja sebagai orangtua masih pengin hepi2. Apalagi anak2. Tapi.....kapan ya semua mimpi itu bisa kuwujudkan???
Posted in Martina Felesia
Homeschooling
No Comments »
September 17th, 2011 Posted 12:02 pm
Beberapa hari ini aku punya kesibukan baru. Searching blog mengenai homeschooling. Itu loh....tentang "sekolah rumah". Sekolah di mana anak2 tidak perlu pergi ke sekolah untuk belajar tapi cukup "belajar" di rumah bersama orangtuanya.? Bayangkan saja, anak2 bersekolah bersama kita orangtuanya! Anak2 bisa belajar di mana saja dan kapan saja mereka mau. Tidak perlu pakai seragam atau apapun aksesoris yang tidak mereka suka. Bisa bergaul dengan siapa saja dan belajar apapun yang mereka mau. Tidak perlu takut ibu guru marah atau teman terganggu kalau kita ribut atau ingin melakukan sesuatu. Apakah itu tidak amazing?
Dari beberapa blog yang kubaca aku menemukan pengalaman2 seru dari para orangtua yang sudah mulai menerapkan homeschooling bagi anak2nya. Para orangtua hebat ini begitu bersemangat untuk memberikan pendidikan yang "terbaik" untuk anak2nya. Mereka terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran anak2 mereka mulai dari A - Z. Berbagai cara dan metode pembelajaran bisa dicoba sekaligus langsung dipraktekkan bersama anak2.
Sebagai orangtua yang masih menggantungkan hidup pada pekerjaan dan sebagai orangtua yang anak2nya masih bersekolah di sekolah, terus terang aku iri. Waduh, enak banget ya seandainya kita sendiri bisa jadi partner belajar bagi anak2 kita. Kita bisa jadi guru mereka atau sebaliknya kita bisa belajar dari mereka. Selama ini aku hanya bisa mendampingi anak2 belajar sepulang kerja. Itu pun tidak bisa total karena keterbatasan waktu dan tenaga. Meskipun menurutku sudah maksimal, tapi kok tetap saja terasa ada yang kurang ya :(
Anakku sulung, si Pilar, sekarang sudah kelas 6 SD. Kalau diperhatikan, bukannya makin hepi bersekolah tapi malah semakin muram. Dengan berbagai macam pelajaran yang jumlahnya berjibun sesuai standar sekolah nasional plus, masa kanak2nya nyaris habis untuk belajar saja. Yang namanya pelajaran berdasarkan text book ya otomatis teori saja, kan? Harus hafal ini, harus hafal itu. Masalah prakteknya seperti apa itu urusan nanti. Yang penting kalau ditanya jawabannya harus sesuai text book. Kalau diminta menjelaskan dengan kata2 sendiri malah bingung. Memang sih selalu masuk tiga besar di kelasnya, tapi "mood"nya seringkali jadi tidak stabil karena kecapekan. Menjadi lebih mudah marah dan jarang tertawa. Sebagai orangtua aku jadi merasa bersalah.
Anak keduaku baru TK B. Sama seperti kakaknya, sekolah seolah menjadi masalah besar. Mesti berhadapan dengan teman yang nakal, guru yang terkadang tidak "fair", atau suasana sekolah yang tidak nyaman, membuat pikirannya selalu dipenuhi dengan kata libur dan libur. Tapi bagaimana lagi? Dengan segala keterbatasan sebagai orangtua kami hanya bisa "merasa" kasihan. Dengan alasan di rumah tidak ada siapapun selain pembantu, ya akhirnya kami putuskan untuk tetap bersekolah (meskipun sebenarnya hati ini tidak tega).
Bungsuku, si Lunar, meskipun kata orang sudah waktunya masuk TK A karena sudah hampir 4 tahun, tetap belum kusekolahkan. Sebisa mungkin belajar di rumah bersama Bunda. Dengan nyanyian, dengan tarian, dengan permainan, dengan cerita made in Bunda. Sementara ini aku melihat, dia senang belajar dan selalu ingin belajar (sampai Bunda tidak punya kesempatan untuk nonton drama Korea).
Akhirnya, meskipun hanya sebagai peminat dari "jauh", sedikit demi sedikit aku mulai belajar metode pembelajaran homeschooling. Nggak papa kan, meneladan sesuatu yang kuanggap bagus? Yang jelas aku punya kemauan kuat untuk menjadikan bahwa belajar itu sesuatu yang menyenangkan, bukan sesuatu yang menakutkan. Itu sebabnya, secapek apapun, aku menyempatkan diri untuk terlibat secara penuh dengan anak2. Belajar, nonton TV dan bermain bersama. Beruntung karena pembantuku pulang hari. Pagi datang sore pulang, tanggal merah libur. Jadi ketergantungan anak2 kepada pembantu bisa diatasi.
Sebagai ibu yang anak2nya tidak (belum punya kesempatan) menjadi siswa homeschooling, aku berharap bahwa suatu saat nanti ada kesempatan untuk itu. Mungkin akan ada pro dan kontra. Tapi bukankah anak2 juga punya hak untuk memilih? Bukankah anak2 punya hak untuk bahagia? Kita saja sebagai orangtua masih pengin hepi2. Apalagi anak2. Tapi.....kapan ya semua mimpi itu bisa kuwujudkan???
Posted in Martina Felesia
"Ayo Rek, Upacara!"
No Comments »
August 18th, 2011 Posted 12:01 pm
Jadi ceritanya, kemarin, pagi2 sekali aku sudah dijemput untuk ikut upacara di kantor. Perasaan sih masih pagi sekali ketika suara "than thin" klakson mobil di depan rumah mengganggu tidurku yang lelap. Gedubrak!!! Aku baru ingat kalau pagi itu mesti pergi upacara. Waks! Ternyata sudah jam 6 kurang seperempat.
Secepat kilat aku lari ke kamar mandi. Menggosok gigi cepat2 dan mencuci muka dengan tak kalah cepat. Membasahi rambut sedikit dan bergegas ganti "onderdil" serta memakai baju batik sesuai instruksi dalam undangan. Semua serba kilat. Pakai bedak sekaligus nyomot parfum si Pilar biar agak wangi dikit. Lipstik bisa diurus nanti dalam mobil. Rambut tinggal diacak-acak dikit sudah rapi sendiri. Lha wong potongannya sudah mirip dengan Catam (maksute : Calon Tamtama). Yang penting siap dulu untuk berangkat.....eng ing eng......!!!
Jalanan sepi. Entah pengaruh puasa atau pengaruh libur 17 Agustusan aku nggak tahu. Yang jelas sampai tujuan ternyata memang masih sepi. Hanya ada para petugas upacara yang sudah siap siaga sejak pagi. Walah...tahu gitu aku sempatkan mandi dulu. Sudah datang kepagian ternyata arena masih kosong. Mencoba update status di FB ternyata server Indosat lagi macet. Mungkin disetting biar pada pergi upacara duluan kali ya? Terpaksalah duduk manis menunggu datangnya peserta upacara yang lain.
Ngemeng2.....mungkin inilah salah satu sebab mengapa negaraku nggak maju2 meskipun sudah 66 tahun merdeka. Nggak bisa tepat waktu! Tertulis di undangan jam 06.30WIB. Kenyataannya satu jam kemudian baru dimulai. Bagaimana bisa mengisi kemerdekaan jika dengan sengaja telat melulu? Jadi tengsin diriku dengan pak Bosku yang ganteng, si expatriat yang sedari pagi sudah njagong di situ. Wah...maaflah ya Pak.....!!
Meskipun setengah mengantuk karena tidak sempat mandi, sedikit banyak aku bisa menikmati ikut upacara 17 Agustusan kali ini. Marching Band anak2 sekolah yang lumayan apik. Inspektur upacara yang kumisnya lebat nggak ketulungan (dari TNI kayaknya). Pasukan pengibar bendera yang ciamik meskipun mayoritas adalah anggota Satpam. Lagu2 kebangsaan yang "untunglah" masih kuingat dan bisa kunyanyikan dengan baik. Pokoknya jadi bernostalgia ke masa muda saat dulu sering mimpin lagu Indonesia Raya kalau upacara bendera. Hanya satu yang ketinggalan dari upacara ini : Pembacaan Pancasila! Entah memang lupa atau sengaja lupa aku tidak tahu. Yang jelas, Bapak Inspektur upacara yang berkumis lebat itu, tugasnya hanya membacakan amanat yang sudah diketik di secarik kertas dari paduka yang terhormat Bapak Gubernur Kepri.
Akhirnya, dengan segala keterbatasannya upacara pun selesai. Setelah berpamitan kepada pak Bosku yang ganteng, aku langsung ngacir meninggalkan arena. "Sorry Pak, I have to get coffee........my eyes can't open....!"
Sampai di rumah suasana betul2 seperti merdeka betulan. Anak2 sudah hilang sendiri2 dan meninggalkan rumah seperti medan perang. Misua yang tadinya libur ditelpon kantor supaya masuk karena ada masalah yang harus diselesaikan. Tidak mau kalah dengan mereka, aku pun merayakan kemerdekaan dengan sepenuh jiwa. Buka laptop....main Sudoku....sambil nontonin orang ganteng pinter yang lagi diwawancara di TV One (Anis Bawesdan emang ganteng, kan?). Wawancara yang hanya sekelumit itu betul2 ciamik dan sanggup membuatku mengangguk-angguk mirip "manuk engkuk".
Adalah menjadi tugas kita semua untuk menjadikan negara ini menjadi sebuah negara yang besar. Bukan hanya tugas pemerintah. Bukan hanya tugas DPR. Tugas kita semua. Jangan pernah puas dengan hasil yang sudah kita capai sekarang. Mengkritiklah dengan bijak. Berikanlah solusi. Lakukanlah sesuatu yang baik mulai dari diri sendiri. Ajarkanlah dari rumah nilai2 kejujuran dan keadilan yang sebenarnya. Para koruptor yang merajalela adalah bukti bahwa masih banyak orangtua yang belum menanamkan hakikat kejujuran yang sebenarnya kepada anak2 mereka. Bagaimana bisa mengajarkan kejujuran kepada anak jika kita sendiri suka berkata bohong kepada mereka? Bangsa ini akan benar2 menjadi bangsa yang sakit dan akhirnya sekarat jika tidak ada yang mau peduli satu sama lain....dst...dst.....
Jadi, memasang bendera di rumah, ikut upacara di manapun tempatnya, itu belumlah cukup. Kita akan menjadi bangsa yang betul2 merdeka, jika setiap orang mau berusaha untuk merdeka. Merdeka dari keserakahan. Merdeka dari ketidakjujuran. Merdeka dari kemunafikan. Merdeka dari kebodohan. Merdeka dari KKN. Merdeka dari rasa dendam, iri hati dan benci. Memerdekakan diri sendiri, adalah kunci untuk menuju kemerdekaan yang sejati. MERDEKA!!!!
* 17 Agustus 2011
Dirgahayu Tanah Airku, Indonesia
Posted in Martina Felesia
"Ayo Rek, Upacara!"
No Comments »
August 18th, 2011 Posted 12:01 pm
Jadi ceritanya, kemarin, pagi2 sekali aku sudah dijemput untuk ikut upacara di kantor. Perasaan sih masih pagi sekali ketika suara "than thin" klakson mobil di depan rumah mengganggu tidurku yang lelap. Gedubrak!!! Aku baru ingat kalau pagi itu mesti pergi upacara. Waks! Ternyata sudah jam 6 kurang seperempat.
Secepat kilat aku lari ke kamar mandi. Menggosok gigi cepat2 dan mencuci muka dengan tak kalah cepat. Membasahi rambut sedikit dan bergegas ganti "onderdil" serta memakai baju batik sesuai instruksi dalam undangan. Semua serba kilat. Pakai bedak sekaligus nyomot parfum si Pilar biar agak wangi dikit. Lipstik bisa diurus nanti dalam mobil. Rambut tinggal diacak-acak dikit sudah rapi sendiri. Lha wong potongannya sudah mirip dengan Catam (maksute : Calon Tamtama). Yang penting siap dulu untuk berangkat.....eng ing eng......!!!
Jalanan sepi. Entah pengaruh puasa atau pengaruh libur 17 Agustusan aku nggak tahu. Yang jelas sampai tujuan ternyata memang masih sepi. Hanya ada para petugas upacara yang sudah siap siaga sejak pagi. Walah...tahu gitu aku sempatkan mandi dulu. Sudah datang kepagian ternyata arena masih kosong. Mencoba update status di FB ternyata server Indosat lagi macet. Mungkin disetting biar pada pergi upacara duluan kali ya? Terpaksalah duduk manis menunggu datangnya peserta upacara yang lain.
Ngemeng2.....mungkin inilah salah satu sebab mengapa negaraku nggak maju2 meskipun sudah 66 tahun merdeka. Nggak bisa tepat waktu! Tertulis di undangan jam 06.30WIB. Kenyataannya satu jam kemudian baru dimulai. Bagaimana bisa mengisi kemerdekaan jika dengan sengaja telat melulu? Jadi tengsin diriku dengan pak Bosku yang ganteng, si expatriat yang sedari pagi sudah njagong di situ. Wah...maaflah ya Pak.....!!
Meskipun setengah mengantuk karena tidak sempat mandi, sedikit banyak aku bisa menikmati ikut upacara 17 Agustusan kali ini. Marching Band anak2 sekolah yang lumayan apik. Inspektur upacara yang kumisnya lebat nggak ketulungan (dari TNI kayaknya). Pasukan pengibar bendera yang ciamik meskipun mayoritas adalah anggota Satpam. Lagu2 kebangsaan yang "untunglah" masih kuingat dan bisa kunyanyikan dengan baik. Pokoknya jadi bernostalgia ke masa muda saat dulu sering mimpin lagu Indonesia Raya kalau upacara bendera. Hanya satu yang ketinggalan dari upacara ini : Pembacaan Pancasila! Entah memang lupa atau sengaja lupa aku tidak tahu. Yang jelas, Bapak Inspektur upacara yang berkumis lebat itu, tugasnya hanya membacakan amanat yang sudah diketik di secarik kertas dari paduka yang terhormat Bapak Gubernur Kepri.
Akhirnya, dengan segala keterbatasannya upacara pun selesai. Setelah berpamitan kepada pak Bosku yang ganteng, aku langsung ngacir meninggalkan arena. "Sorry Pak, I have to get coffee........my eyes can't open....!"
Sampai di rumah suasana betul2 seperti merdeka betulan. Anak2 sudah hilang sendiri2 dan meninggalkan rumah seperti medan perang. Misua yang tadinya libur ditelpon kantor supaya masuk karena ada masalah yang harus diselesaikan. Tidak mau kalah dengan mereka, aku pun merayakan kemerdekaan dengan sepenuh jiwa. Buka laptop....main Sudoku....sambil nontonin orang ganteng pinter yang lagi diwawancara di TV One (Anis Bawesdan emang ganteng, kan?). Wawancara yang hanya sekelumit itu betul2 ciamik dan sanggup membuatku mengangguk-angguk mirip "manuk engkuk".
Adalah menjadi tugas kita semua untuk menjadikan negara ini menjadi sebuah negara yang besar. Bukan hanya tugas pemerintah. Bukan hanya tugas DPR. Tugas kita semua. Jangan pernah puas dengan hasil yang sudah kita capai sekarang. Mengkritiklah dengan bijak. Berikanlah solusi. Lakukanlah sesuatu yang baik mulai dari diri sendiri. Ajarkanlah dari rumah nilai2 kejujuran dan keadilan yang sebenarnya. Para koruptor yang merajalela adalah bukti bahwa masih banyak orangtua yang belum menanamkan hakikat kejujuran yang sebenarnya kepada anak2 mereka. Bagaimana bisa mengajarkan kejujuran kepada anak jika kita sendiri suka berkata bohong kepada mereka? Bangsa ini akan benar2 menjadi bangsa yang sakit dan akhirnya sekarat jika tidak ada yang mau peduli satu sama lain....dst...dst.....
Jadi, memasang bendera di rumah, ikut upacara di manapun tempatnya, itu belumlah cukup. Kita akan menjadi bangsa yang betul2 merdeka, jika setiap orang mau berusaha untuk merdeka. Merdeka dari keserakahan. Merdeka dari ketidakjujuran. Merdeka dari kemunafikan. Merdeka dari kebodohan. Merdeka dari KKN. Merdeka dari rasa dendam, iri hati dan benci. Memerdekakan diri sendiri, adalah kunci untuk menuju kemerdekaan yang sejati. MERDEKA!!!!
* 17 Agustus 2011
Dirgahayu Tanah Airku, Indonesia
Posted in Martina Felesia












