Tulisan Oleh Melati Silaban

pribadi yang mencintai

No Comments »

August 26th, 2010 Posted 9:40 am

(Melati Silaban)

setelah perjalan panjang dan melelahkan..

setelah kejatuhan, penyesalan, pertentangan, penyangkalan dan pergumulan..

saat ini Tuhan..

bila Engkau masih disana mendengar,melihat,mengerti kepedihanku..

hanya ada satu permintaan lagi disisa malamku..

(more…)

Tags:
Posted in Melati Silaban

sungai itu kuberi nama “hidup”

1 Comment »

September 25th, 2009 Posted 7:51 am

(Melati Silaban)

dia mengalirkan begitu banyak tawa

di setiap percikannya terlihat senyum bahagia

suara tawa ceria anak-anak yang bermain dengannya terdengar indah

terlebih saat dia melegakan banyak dahaga

ucapan syukurpun menjadikannya semakin jernih disetiap tetesnya

hingga keindahan dunia berlutut bercermin padanya

tapi terkadang..

saat hujan airmata sederas itu turun menerjang tanggul-tanggulnya

airnya menjadi keruh oleh luka

lengkingan tangis disetiap tepinya terdengar memerihkan hati

deru airnya yang semakin deras selaras dengan kegundahan diri

amarah yang larut didalamnya membuat alirannya menjadi ganas dan mematikan.

sungai itu kuberi nama hidup..

dia mengalirkan setiap tawa bahagia

namun juga mengalirkan sedih dan airmata

meski kutau dia hanya bertugas membawanya..mengalirkannya

dia menghantarkannya kesebuah tujuan

dimana semua berasal dan kembali bermuara ditempat yang sama.

Posted in Melati Silaban

syukur yang sederhana

1 Comment »

September 11th, 2009 Posted 11:33 am

(Melati Silaban)

Dua bulan ini menjadi  masa yang kukira paling memusingkan bagiku. Dimulai dari kehilangan pekerjaanku, kehilangan penghasilan seolah membuat semuanya semakin kacau. Perlahan-lahan yang kuiniginkan hanyalah membunuh diriku sendiri agar semua kesusahan ini menghilang. Tapi ternyata, aku tidak punya cukup nyali untuk mengakhirinya dan punya cukup nyali juga untuk menjalaninya. Perlahan namun pasti aku menjadi seorang zombie,zombie yang hanya bernafas tapi tidak merasakan lagi udara melewati alat pernafasannya. Tak lagi merasakan bagaimana rasanya lapar atau haus bahkan kenyang sekalipun. Akupun mulai mengubur diriku sendiri dengan sendok dan garpu dibelakang rumahku.

Semua kekacauan ini seakan tak mau berhenti. kemudian aku mendapat beberapa tawaran pekerjaan. Tapi itu hanyalah pekerjaan yang sama seperti yang sudah kutinggalkan karena merasa muak  dengannya, untuk itu kuputuskan untuk menolaknya. Kemudian masalah makin bertambah ketika aku tak lagi bisa membayar tagihan-tagihanku. Bahkan untuk makanpun aku harus memutar otak. Rasanya kepala satu ingin kubelah menjadi beberapa biar tak lagi sepusing sekarang ketika dihadapkan pada semua masalah itu. Arghh..aku ingin lari, lari sekencang-kencangnya. Aku ingin tersesat ketempat dimana tak ada orang yang mengenaliku dan tak satupun kukenali.

(more…)

Posted in Melati Silaban

Pak, marahlah demi Ibu

No Comments »

August 30th, 2009 Posted 3:55 pm

(Melati Silaban)

Ibu..lihat apa yg mereka lakukan padamu..

lebam serta lukamu yg menganga bukti keji perlakuan mereka padamu..

ahh..Tuhan..

harus berapa senja lagikah Ibu harus terbaring tak berdaya??..

berapa banyak senyum lg dia umbar tuk sejenak lupakan perihnya luka??..

Pak..tertuju surat ini untukmu

sesampai pulang dari berlayar aku mohonkan..

(more…)

Posted in Melati Silaban

damailah sobat..

No Comments »

August 26th, 2009 Posted 7:28 pm

(Melati Silaban)

kau orang yg paling bisa kuandalkan saat aku dalam kesulitan,.

Bahkan ketika aku mengabaikanmu,kau selalu memperhatikanku.

akhirnya hanya sesal ketika kau pergi secepat ini.. menghadapNya..

kenapa sobat??

kenapa kau biarkan mereka menjebakmu??

kenapa kau lenyapkan keluguanmu hanya karna mereka menyuguhkan madu yang menjadi racun dalam darahmu??

(more…)

Posted in Melati Silaban

←Older