Tulisan Oleh Mercy Sitanggang
SEPOTONG JANJI DI WARNA ABU – ABU
May 18th, 2010 Posted 1:54 pm
(Mercy Sitanggang)
Mata sudah mengantuk, guling sudah kulingkari, tapi mata tidak mau terpejam, badan seperti menolak meniduri kasur yang empuk ini. Aku terpelanting jatuh, dan kusadari aku sedang merokok di balkon depan kamar, asapnya aku butuhkan penyelaras gundah hati sejak semalam. Semua ini karena mata yang tidak janjian melihat pada seragam putih abu – abu yang masih tersimpan rapi di dalam almari, aku hanya melihat sebentar, lalu membiarkan lagi tergantung. Mulai sejak malam itu, pikiranku tidak pernah semata sudah mengantuk, guling sudah kulingkari, tapi mata tidak mau terpejam, badan seperti menolak meniduri kasur yang empuk ini.
Aku terpelanting jatuh, dan kusadari aku sedang merokok di balkon depan kamar, asapnya aku butuhkan penyelaras gundah hati sejak semalam. Semua ini karena mata yang tidak janjian melihat pada seragam putih abu – abu yang masih tersimpan rapi di dalam almari, aku hanya melihat sebentar, lalu membiarkan lagi tergantung. Mulai sejak malam itu, pikiranku tidak pernah selesai kembali pada masa abu – abu itu. harusnya tersenyum mengenang masa itu, tapi kenapa kecut bibirku ? kecut itu dinetralisir oleh batang rokokku yang sudah kesekian. Aku mengenang itu dan membiarkannya cair dalam ranah mimpiku.
Tags: Cerpen
Posted in Mercy Sitanggang
DASI
May 14th, 2010 Posted 5:48 pm
(Mercy Sitanggang)
Muka saya merah. Itu karena, saya marah.
Menurut saya, sebagai seorang isteri, saya sudah mendekati angka sempurna, bukan hanya pintar pada urusan asmara di dalam bilik dua kali tiga milik kami berdua, dan gerakan badan saya setiap malam yang tanpa busana, tapi juga jago untuk urusan memanjakan lidah dengan segala masakan ciptaan saya. Seorang anak yang juga bertumbuh dengan baik dalam pola asuh saya, tidak ada yang kurang sedikitpun, malah berlebih kasih sayang.
Saya rela mengorbankan cita – cita dalam kepala, menanggalkannya dan menjadi seorang ibu rumah tangga.
Jadi, saat ini, saya protes keras.
Kalau citra saya yang sangat baik tersebut, menjadi luntur, hanya karena saya tidak bisa memakaikan suami saya… DASI..!!
Dan hebatnya lagi. Hanya karena hal itu, saya menerima talaknya. Bukan talak satu, melainkan langsung loncat pada angka tiga.
Saya marah, sangat marah..!! (more…)
Tags: Cerpen
Posted in Mercy Sitanggang
ROKOK
May 10th, 2010 Posted 12:46 am
(Mercy Sitanggang)
Berawal dari kelingking dan berakhir dengan kelingking juga.
Tergesa – gesa aku berlari masuk kamar mandi, menutup pintunya dengan tidak sopan, aku yakin pintu itu menaruh dendam padaku, tapi untuk sekali ini, biarkan aku dengan ketidaksopananku yang lainnya lagi ini, membuang teriakan di sana, dan membuka keran menghambur – hamburkan air yang bayaran setiap bulannya juga semakin mencekik leher. Keresahan ini hanya bisa selesai dengan sebatang rokok terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengahku, tidak butuh waktu terlalu lama, hanya untuk membuat ruang ini berasap, aku merokok bagai kereta, lepas satu digantikan dengan batang berikutnya, dan puntung itu berserakan di lantai, hancur berantakan di sapu air yang masih terus mengalir, bentuk ketidaksopananku yang lainnya.
Tags: Cerpen
Posted in Mercy Sitanggang
Pacarku Kurus Kering
May 8th, 2010 Posted 1:14 am
( MERCY SITANGGANG )
“ Sayang, udah minum vitaminnya ? “
“ Sayang, udah makan berapa kali hari ini ?”
“ Sayang, plis jangan begadang…!! “
Sementara cowok di seberang telpon hanya menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang sekenanya, alias cuek.
“ Belum… vitaminnya ketinggalan di kamar.. “
“ Makan seperti biasanya… “
“ Tidak bisa. Penerbit menunggu ceritaku minggu ini.. “
Tags: Cerpen
Posted in Mercy Sitanggang
DIA (Perempuanku)
May 2nd, 2010 Posted 12:40 pm
(Mercy Sitanggang)
Malam ini aku pulang telat lagi. Selalu telat setiap malam, aku selalu berusaha untuk tidak telat, tapi kakiku tidak terlalu cepat mengalahkan waktu, ataupun jarum jam yang bergerak begitu cepat.
Pulang telat dan basah, karena hujan menitipkan airnya kembali malam ini, dan aku menerima titipan itu dengan senang hati..
Aku pulang telat dan basah kuyup.
Namun begitu, tepat di beranda rumah, aku menghentikan langkah, ingin rasanya sekaligus menghentikan jalan waktu, tapi tidak bisa. Karena waktu begitu sombong. Berjalan terus, tanpa membagi pandangan.
Aku sisakan waktuku dengan menduduki kursi teras yang seketika basah keluar dari air dari sekujur tubuh, duduk yang sambil membakar mulut lalu membiarkannya berasap, sebelum langkah ini dipaksa masuk karena waktu yang semakin terlewat dan rasa menggigil yang sudah sedemikian rupa.
Tags: Cerpen
Posted in Mercy Sitanggang












