Tulisan Oleh Nchus Assaini
Lelaki Tua dan Buta
September 15th, 2009 Posted 2:14 pm
(Nchus Assaini)
Seperti biasa, pagi itu sekitar jam 06.00 saya meluncur ke terminal bus. Pukul 06.15 sampai di terminal dan langsung mencari bus yang selalu setia mengantarkan saya ke kantor di daerah Kelapa Gading. Mencari posisi duduk yang enak dan nyaman di bus ini sangat susah didapatkan sebab penghuninya terlalu banyak.
Setelah para penghuni mendapatkan tempatnya masing masing, kini giliran para pengasong, pengamen yang sibuk menawarkan dagangannya. Nyanyian cempreng pengamen pagi itu sungguh mengganggu dan saya pun harusnya tidur-kali ini tidak.
Seorang tua, usia 80-an dan buta masuk ke bus yang saya tumpangi. Tergopoh gopoh mencari tempat duduk, semua orang memperhatikan orangtua itu. Saya ingin sekali mempersilakan tempat duduk saya untuk dia duduki tapi keinginan saya tidak tercapai karena orangtua buta itu memilih duduk paling belakang. Tak lama kemudian bus pun berangkat.
Posted in Nchus Assaini
Olok-oloklah temanmu
March 29th, 2008 Posted 1:35 am
Apa yang kamu bayangkan ketika kamu sedang memperolok temanmu? Pasti kamu merasa bahwa teman kamu itu rendah dan kamu merasa bahwa kamulah satu-satunya orang yang hebat. Karena jika kamu tidak merasa demikian (merasa hebat) tidak mungkin kamu akan memperolok teman kamu sendiri.
Saudaraku…
Memperolok teman adalah sebuah dosa mungkin itu engkau anggap sebuah gurauan tapi ingatkah engkau bahwa kebanyakan orang lalai (lupa kepada Allah) karena meraka banyak tertawa.
Saudaraku…
Jikalau engkau menyadari betapa pedihnya siksaan api neraka tidaklah mungkin engkau akan banyak tertawa tapi sebaliknya pasti engkau akan banyak menangis. Ingatlah tak ada yang sempurna di dunia ini, hanya Allahlah yang Maha Sempurna.
Saudaraku…
Allah menciptakan kita bukan untuk saling mengejek, mengolok-olok sesama, tetapi Allah menjadikan kita agar kita beribadah kepadanya.
Saudaraku…
Ibadah bukan saja sholat, puasa atau haji tetapi makna ibadah itu universal. Engkau memberikan senyum kepada temanmu saja adalah ibadah bahkan engkau tidak menyakiti hatinya saja itu termasuk ibadah. Lalu mengapa engkau masih saja memperolok-olok temanmu apakah engkau masih merasa hebat? Tidak malu kah engkau nanti di hadapan Allah semua kejelekanmu akan dipertontonkan? Naudzubillahiminzalik.
Saudaraku…
Semoga kita bisa saling mengisi, saling membantu sesama teman. Karena teman adalah seseorang yang akan selalu menemani kita kemana saja kita pergi. Hendaklah setiap langkah ini kita jadikan sebuah pahala. Dan kepergian kita akan selalu dirindukan orang. (Nchus Assaini)
Posted in Nchus Assaini
Sopir dan Kondektur
March 29th, 2008 Posted 1:27 am
Dulu ketika saya berusia 10 tahun, saya selalu berfikir kenapa pak kondektur begitu nurut sekali kepada pak sopir padahal kalau saya pikir pak sopirlah yang harus tunduk kepada pak kondektur. Tanpa kondektur mungkin pak sopir ga bakalan dapat penumpang atau sekalipun dapat pasti sedikit, di samping itu dengan pak kondekturlah arah mobil bisa terkendali. Pak sopir kan cuman duduk dan pegang kendali.
Aneh juga ya, sampai ingin sekali saya protes kepada pak sopir kalau pak kondektur tuh lebih tinggi darinya. Terkadang saya merasa jengkel ketika melihat pak sopir memarahi pak kondektur. Dalam hati berujar dialah lebih tinggi, tanpa dia kamu ga ada apa-apanya tapi kenapa kamu merasa sok tinggi.
Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantui diriku sampai suatu hari – ketika saya sudah beranjak 24 tahun. Ternyata perasangka saya selama ini salah. Ternyata memang pak sopirlah yang lebih tinggi dari pak kondektur. Memang pak kondektur yang menunjukan arah, yang memanggil dan mencari penumpang tapi dia tetaplah pak kondektur yang keberadaanya hanya sebagai pelangkap atau bisa dibilang partner lah gitu. Pak sopirlah yang selama ini me-manage mobilnya sehingga kapan dan kemana ia harus mengendalikan arah mobilnya dengan baik. Dengan pak sopir sebagai “bapak” semua kendala yang selalu menghadang ketika dalam perjalanan ia hadapi dengan senyum dan kekuatannya.
Memang, kalau saya lihat pak sopir hanya duduk diam di kursi sambil memegang kendali tapi tahukah itu begitu berat bebannya ketimbang pak kondektur.
Sahabat…
Begitu juga dengan rumah tangga. Karenanya tak heran Allah memberikan kelebihan kepada pria dibandingkan wanita. karena label “bapak” yang ia sandang sungguh sangat berat baginya. Jika boleh mengilustrasikan “bapak” dalam rumah tangga adalah seperti pak sopir tadi dan pak kondektur adalah “ibu” yang notabene adalah istrinya. Sedangkan penumpangnya adalah anak-anaknya.
Pak sopir tahu dan mungkin tidak tahu hendak kemana ‘penumpang-penumpang’nya akan pergi dan juga berhenti ketika mereka sudah naik kendaraannya. Tapi dengan kerendahan hati dan tanpa pamrih ia tetap akan mengantarkan penumpangnya itu kemana saja yang meraka mau.
Hasil kerja sama yang baik antara sopir dan kondektur tadi akan membuahkan kepuasaaan tersendiri bagi penumpangnya. Ia akan dihormati dan disayangi bahkan para penumpangnya akan merasa tenang ketika berada dalam naungannya.
Bapak dan ibu yang baik adalah selalu mendengar apa yang diresahkan oleh anak-anaknya. Ia akan menuntun kemana anak-anaknya pergi. Hari-harinya hanya dipersembahkan untuk mereka.
Sahabat…
Saya dan juga Anda kelak akan menjadi seorang bapak, marilah kita tuntun anak-anak kita menjadi anak yang sholeh dan sholehah tak lupa didik pula istri kita yang notabene adalah sang kondektur yang akan selalu membantu kita menghantarkan anak-anak ke tujuannya masing-masing.
Ingatlah bahwa ketika satu diantara kita (suami istri) sudah tidak saling menghormati maka malapetakalah yang akan terjadi. Karenanya dalam sebuah rumah tangga dituntut sebuah kejujuran, kesiapan, keterbukaan dan tentunya saling menghormati. Karena tujuan pernikahan selain menambah keturunan juga adalah bagaimana kendaraan kita bisa tetap stabil dalam perjalanan. Stabil disini saya artikan mawadah, warrahmah.
Posted in Nchus Assaini
Cinta & Perkawinan
March 29th, 2008 Posted 1:16 am
Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apakah itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya..?”
Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas di depan sana, berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting.
Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta.”
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”
Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja ranting dan saat berjalan tidak boleh berbalik mundur. Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tidak kuambil ranting tersebut. Saat aku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya.”
Gurunya kemudian berkata, “Jadi, ya itulah cinta.”
Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?”
Gurunya pun menjawab, “Ada hutan yang subur di depan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan.”
Plato pun kemudian berjalan dan tak seberapa lama ia telah kembali, lalu menjawab, “Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi di kesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya.”
Gurunya pun kemudian berkata, “Dan ya, itulah perkawinan.”
Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan.
Cinta itu adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih.
Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… Tiada sesuatupun didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali.
Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.
Perkawinan adalah kelanjutan dari cinta, adalah proses mendapatkan kesempatan.
Ketika kamu mencari yang terbaik di antara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya.
Posted in Nchus Assaini














