Tulisan Oleh Nuning Soedibjo

Terasing

No Comments »

August 5th, 2010 Posted 10:08 pm

(Nuning Soedibjo)

Adakalanya gelap gulita membungkus atmosfer di sekeliling kehidupan, hingga secercah sinar cahaya matahari pun tak dibiarkan sama sekali menembus kegelapan itu.

Geliatnya makin mencekik napas, membutakan indera penglihatan, mematikan indera peraba, menulikan indera pendengaran, membunuh indera perasa.

Melumpuhkan raga yang tak dapat tergerakkan oleh uluran tangan siapapun, bagaikan tiadanya kesadaran diri secara penuh.

(more…)

Tags:
Posted in Nuning Soedibjo

Sebuah Rumah

No Comments »

June 1st, 2010 Posted 12:58 pm

(Nuning Soedibjo)
Tujuh tahun yang lalu, orang-orang berkumpul di sebuah rumah yang bercat putih. Halaman depannya dihiasi tanaman hijau, serta rumput yang menutupi permukaan tanahnya, membuat rumah itu makin adem untuk ditempati. Menyertakan kehampaan yang melingkupi rumah itu hingga makin sepi.

Salah satu wanita muda di antara kumpulan orang itu, berkata kepada si pemilik rumah itu :

“Janganlah jual rumah ini, sebab banyak sejarah yang terkandung di dalamnya”

Pemilik rumah dan keluarga menyetujui pernyataan itu, sebab mereka juga sangat mencintai rumah yang telah mereka bangun dengan susah payah.
(more…)

Tags:
Posted in Nuning Soedibjo

Keindahan Alam Semesta

No Comments »

June 1st, 2010 Posted 12:57 pm

(Nuning Soedibjo??)

Di Alam Semesta yang berkilau indah
Terdapat pusaran energi yang dipenuhi jutaan cahaya dan bintang
Hanya satu-satunya Bumi yang berdinamika tinggi
Diapit oleh Birunya Lautan dan Hijaunya Hutan

Lihatlah Sang Matahari…,
Meski energi panasnya begitu membara,
Sinarnya memberi napas kehidupan kepada para makhluk hidup
Cengkeramannya begitu besar hingga ke dalam jurang laut sekalipun
Tidak hanya napas kehidupan, bahkan napas kematian pun dapat terlontarkan dari sang Matahari

(more…)

Tags:
Posted in Nuning Soedibjo

Kasih Sayang Tanpa Batas

No Comments »

May 20th, 2010 Posted 5:10 pm

(Nuning Sudibyo)

Dua hari yang lalu, aku menghubungi dia untuk meredam kesedihanku yang tiba-tiba muncul karena teringat pada topeng itu. Aku pernah mencintainya, tetapi aku menyadari terlalu banyak hambatan antara kami dan aku takkan pernah bisa melawannya.

Aku sudah tidak mencintainya lagi dengan benar-benar, sebab topeng yang masih kurindukan hingga sekarang, sudah menggantikannya.

Itu adalah saat kami benar-benar “berbicara”, bahwa sebenarnya kami pernah pada angka seratus persen, tetapi kemudian kami menguranginya sekitar duapuluh persen. Meski demikian, aku takkan bisa menyangkal bahwa apa yang ada diantara kami berdua adalah kasih sayang tanpa batas, rasa pengertian yang sangat tinggi bahwa kami takkan pernah bisa saling memiliki. (more…)

Tags:
Posted in Nuning Soedibjo