Tulisan Oleh Olyvia Santoso
(Olyvia Santoso)
Cinta dan Kasih adalah sepasang cahaya rupawan
Wajah dan bentuknya sama persis
Keanggunan dan keelokan parasnya tak tercela
Suaranya merekapun mengalun merdu mengalahkan suara apapun di muka bumi
Tapi coba perhatikan lebih teliti
Bisakah kau melihat perbedaannya?
Bisakah kau mengakui perbedaannya?
Kadang kala, aku juga tidak bisa melakukannya
Mereka terlalu mirip satu dengan lainnya
(more...)
(Olyvia Santoso)
i love you
aku cinta padamu
wo ai ni
dan sekawan-kawannya
mengapa seakan tali kekang?
Menahan orang yang kita sayangi selalu berada disisi kita?
Aku membencinya
(more...)
(Olyvia Santoso)
Sehat itu mahal.
Semua pasti setuju kalau kesehatan itu mahal. Apalagi biaya dokter dan rumah sakit yang melambung tinggi setiap detiknya. Tapi bukan itu yang mau kuceritakan sekarang, walau tetap berujung ke permasalahan finacial.
Kemarin, tetangga kiri kananku isinya nenek yang abis patah tulang kaki. Lumayan lama juga sich mereka nginap disini. Yang bed B uda ampir 20 hari, yang bed D uda 10 hari.
Oma D awalnya cukup membuatku kagum pada awalnya. Setiap ada yang bezuk disambut dengan sukacita, disambut dengan ucapan syukur pada Tuhan. Maklum, si oma mirip denganku, nginap tanpa ada yang jaga.
(more...)
(Olyvia Santoso)
Percaya tidak, kalau menolak cinta itu merupakan proses paling sulit dilakukan kalau dibandingkan dengan pernyataan dan penerimaan cinta?
Pada saat orang menyatakan cinta, orang itu sudah siapkan hatinya. Ditolak berarti sedih, diterima berarti senang. Opsi cuma dua. Selesai.
Menerima pernyataan cinta, orang itu juga sudah menyiapkan hatinya. Bersedia membagi hidupnya dengan si pasangan yang menyatakan cinta. Opsinya? Hanya satu. Simple kan?
(more...)
(Olyvia Santoso)
Suatu hari Kata bertemu dengan Angin. Terjadilah tegur sapa diantara mereka. Begini kira-kira.
Angin : "Hai Kata, mau kemana?"
Kata : "Tuanku menyuruhku ke telinga diseberang sana."
Angin : "Buat apa?" (kelihatan banget si angin hanya ingin tahu)
Kata : "Entahlah, tugasku hanya terucapkan."
Angin : "Berarti kata-katamu tak berarti dong?"
Kata : "Semua tergantung dengan Nada saja."
Angin : "Maksudmu?" (kali ini Angin penasaran beneren)
(more...)
(Olyvia Santoso)
jatuh cinta, sejuta rasanya.. (kalo ga salah penyanyinya oma titik puspa)
malam makin kelam
wajahmu mulai membayang
desir hati tak mampu kutahan
setiap tarikan nafasku menyerukan namamu
kala nadi mulai berteriak
kala hati mulai bergetar
air mataku mulai menetes
sedihkah? Atau bahagia?
(more...)
(Olyvia Santoso)
Koko
Sepasang mata sipit menghiasi wajahmu
Seuntai senyum malu-malu menghiasi bibirmu
Dengan body mungil dan kulit putih bersih
Semua orang mengganggapmu lebih muda dari usiamu
Hanya mama yang selalu menuntutmu lebih bertanggungjawab
(more...)
(Olyvia Santoso)
Lukisan itu sangat indah. Setiap goresan kuasnya terasa begitu nyata menggambarkan setiap lekuk. Terasa kekuatan, hasrat, emosi, dan pemujaan dalam lukisan itu. Semua warna yang tercampur membuat semburat indah diatas kanvas seukuran orang dewasa.
Lukisan itu bertutur tentang seorang wanita. Dilatar belakangi sebuah taman indah, wanita itu tampak begitu rapuh, duduk seorang diri ditepi kolam. Dengan posisi tangan terjuntai meraih air kolam yang bening, wajahnya tampak jelas menatap kearah Nisa. Namun berbeda dengan sikap tubuhnya yang lemah gemulai dan wajah cantiknya yang seperti lukisan dewi Yunani, mata wanita itu terasa keras menantang siapapun yang menatapnya. Ataukah itu hanya perasaannya ditengah keheningan ruang pameran ini?
"Cantik bukan?" bisik seseorang disamping Nisa lirih.
"E-he," angguk Nisa tanpa menoleh.
(more...)
(Olyvia Santoso)
satu menit tanpamu,
hidupku baik-baik saja.
Dua menit tanpamu,
hidupku tenang-tenang saja.
Tiga menit tanpamu,
aku mulai melihat sekelilingku.
Empat menit tanpamu,
sebuah perasaan mulai hinggap dihatiku.
Lima menit tanpamu,
membuatku mulai berfikir mengenai dirimu.
(more...)
(Olyvia Santoso)
pa, ly kangeeeeeeeeeeeennnnn...
Miss u so much.....
Papa baek-baek aja disana?
Papa kangen ga sama ly?
Kangen ga marah-marahin ly, ade ama budi?
(more...)
(Olyvia Santoso)
Kemaren pas bersih-bersih rumah, aku mendengarkan suara cit-cit. Sepertiga takut, sepertiga jengkel, sepertiga penasaran, aku nyari sumber suara dari lantai atas. Semakin keatas, ketiga perasaan itu makin memacu hatiku. Mungkin sebagian dari kalian membayangkan binatang yang sama denganku. Anak tikus!!!
Selangkah demi selangkah kudekati sumber suara. Entah dari mana si tikus bisa naek ke loteng aku tidak tahu. Tapi kalo sampai ketemu sarangnya, pasti aku akan manggil suamiku buat bersihin sarangnya. Bukan apanya, bagiku bintang pengerat itu cukup menjijikan, meresahkan, ditambah jangan sampai anak-anakku ketular penyakit karena si tikus. Rasa tidak percaya kalau si tikus berhasil menyelinap membuatku jengkel. Apalagi selama ini aku sudah meyakinkan diri kalau si tikus tidak bisa masuk rumah. Itu sebabnya aku penasaran dengan sumber suara itu.
Semakin dekat semakin penasan...
(more...)
(Olyvia Santoso)
Kutatap nanar
Kepala Berputar
Perasaanku terhentak
Berbagai rasa tercampur
Benci
Bosan
Jengkel
Heran
Bagaimana mungkin ini terjadi
Saat aku butuh ketenangan
Pandanganku kembali nanar
Malas
Marah
Kekhi
Lebay
Melanda
Namun haruskah kumengeluh
Walau kutahu
Semua harus kuhadapi
Kumantapkan hati
Menatap jalan didepanku.
Ps: terinspirasi melihat cucian menumpuk hanya dalam sehari :(
Mendengar semua cerita Sam membuatku terdiam. Ternyata banyak sisi cerita dalam kehidupan ini. Bahkan dalam kisah yang berhubungan dengan dirikupun banyak yang tidak kuketahui. Kutarik nafas panjang dan menghembuskannya, berusaha melegakan diri.
"Lissie, lu mau kan?" ulang Sam.
"Jujur, gue ga tauk. Semuanya terlalu mendadak. Gue uda berusaha menghapus semua ini selama lima tahun. Dan sekarang semua muncul seperti tsunami," jawabku lemah.
"Gue bakal nunggu sampe lu siap. Kalo gue udah nunggu lima tahun, kenapa gue ga bisa nunggu lebih lama?" sahut Sam tak mau menerima alasanku.
"Tapi gue udah janji, Sam," kataku memohon pengertiannya.
"Janji? Sama Gio?" tanya Sam sambil melirikku dengan kecemburuan yang nyata.
"Yups," kepalaku menggangguk cepat.
"Emang lu janji apa?" tanya Sam dengan nada jengkel.
"Gue janji buat ngasih dia kesempatan memperbaiki semuanya. Seperti yang lu bilang, setiap orang butuh kesempatan kedua kan?" jelasku cepat. Rasanya tidak enak membuat Sam cemberut seperti yang dilakukannya saat ini.
"Selain itu gue juga uda janji ama Quinny," lanjutku berusaha mengalihkan perhatian Sam dari sosok Gio dalam masalah kami.
"Quin? Emang apalagi yang dia lakuin?" ternyata benar Sam langsung tertarik.
Sejenak aku merasa seperti seorang penghianat saat akan membicarakan soal Quinny. Bukankah aku sudah berjanji buat merahasiakan pertemuan kami dari Sam? Lagi pula, aku sudah berjanji akan menyerahkan Sam dengan suka rela kedalam pelukannya, agar Zhera memiliki kedua orangtuanya secara lengkap.
"Quinny ngomong kalo lu uda janji mo nikahin dia kalo gue ga balik. Dia minta gue janji balikin lu ke dia, supaya Zhera bisa memiliki daddynya secara utuh," akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutku, "dan gue setuju."
"What? Lu gila!" teriakan Sam yang menggelegar juga berpengaruh dengan sikapnya dalam menyetir. Sesaat mobil seperti oleng ke kiri lalu berhenti mendadak di sisi jalan.
"Kenapa? Gue salah kalo mikirin masa depan Zhera?" tak terasa nada suaraku juga ikut meningkat.
Bersamaan dengan itu, emosiku mulai terusik. Bagaimana mungkin Sam bisa mengesampingkan masalah Zhera semudah itu? Bukankah Zhera jelas darah dagingnya? Bagaimana Sam bisa menolak Zhera? Dimana rasa empati Sam?
Saat kutatap dengan tatapan jengkel. Tak terlintas dalam pikiranku kalau Sam akan sepicik itu melupakan Zhera. Namun aku kaget menemukan sikap terluka diwajah dan mata Sam. Suatu hal yang tidak pernah kuduga.
"Jadi itu janji lu ke Quinny? Menyediakan orangtua yang lengkap?" tanya Sam dengan tatapan penuh selidik.
"Emang salah? Zhera juga punya hak buat bahagia Sam," bujukku tak tahu apa yang salah dari janjiku.
"Gue setuju, tapi bukan berarti harus ngorbanin gue ato lu kan?" balas Sam jengkel. Sorot mata terluka mulai tercampur aduk dengan kejengkelan dan amarah.
"Maksud lu?" tanyaku bingung.
"Lu juga bisa jadi mamanya Zhera kan? Tidak selamanya Quinny berhak nentuin siapa yang bisa jadi orangtua Zhera. Lagian, Zhera juga senang ama lu. Gue yakin itu," kata Sam tegas.
"Sam, yang namanya ibu kandung itu ga ada gantinya. Sejelek apapun dia, itu mama yang uda melahirkan dan menjaga kita," kali ini aku ingin bisa menyakinkan Sam walau aku tidak yakin apa Quinny bisa jadi mama yang baik untuk Zhera setelah apa yang telah terjadi.
"Lissie, yang kita bicarakan ini Quinny. Seorang mama yang tega ngasih obat tidur buat anaknya hanya supaya dia bisa pergi senang-senang. Pergi clubbing, mabuk-mabukkan," jelas Sam dengan suara mulai naik satu oktaf.
Terlihat jelas kalau Sam mulai jengkel dengan sikapku yang mengalah untuk kebahagiaan Zhera. Wajahnya sudah mulai mengeras, mulutnya membentuk garis tipis. Dengan sebuah dengusan jengkel melihat kekerasan kepalaku, Sam memukul setir mobil. Aku menjerit kecil.
"Tapi lu tetap daddynya kan? Lu bisa ngubah Quinny. Ato paling tidak, lu bisa menjaga Zhera supaya tidak niru sikap Quinny," bantahku bersikeras.
"Itu kalo emang gue bokapnya," sahut Sam singkat.
"Maksud lu?" tanyaku heran.
"Lu kira hanya gue yang pernah tidur ama Quinny? Coba lu tanya Gio, berapa kali dia tidur dengan perempuan murahan itu? Berapa kali Gio nemuin pria lain dirumah Quinny dalam keadaan mabuk?" kali ini Sam tidak menutup-nutupi kesinisan dalan suaranya. Mulutnya juga menyunggingkan senyuman sinis yang menghina.
"Maksud lu?" tanyaku masih tidak percaya.
Aku tahu kalau Gio pernah tidur dengan Quinny. Tapi Gio tidak pernah bercerita kalau di masih punya hubungan istimewa dengan Quinny setelah itu. Dan tentang kelakuan Quinny, semurah itukah dia sampai melampiaskan nafsu dengan pelbagai orang? Kepalaku mendadak pusing memikirkan semuanya.
"Yups, Quinny is Quin of dance floor. Bukan cuman itu, dia juga nyediain pelayanan plus buat teman kencannya, termasuk Gio. Biar dia terobsesi buat jadi istri gue, bukan berarti dia hanya nyediain diri buat gue," jelas Sam pelan melihat ketidakpercayaan diwajahku.
"Gio, kata lu?" tanyaku meyakinkan diri.
"Ya, Gio yang ngaku nungguin lu selama ini. Mungkin lu ga percaya, takut gue kibulin. Gue bukan orang yang ga fair hanya supaya orang percaya ama gue. Bagi gue, kalo emang Gio mo bertanding fair ngeraih hati lu, gue trima," kata Sam sambil mulai menyalakan mesin mobil lagi.
Tak lama kemudian mobil Sam kembali meluncur mulus membelah jalanan. Keheningan melingkupi kami. Tak ada percakapan, tak ada cerita. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku benar-benar merasa kecewa pada Gio yang tidak menceritakan semuanya. Namun disisi lain aku juga masih tidak percaya pada penuturan Sam. Benarkah Gio bohong?
"What? Jadi lu juga tauk masalah itu?" jeritku kaget, "Tapi Gio bilang.."
"Gio bilang, jangan critain semua itu sama gue. Iya kan?" potong Sam tenang.
"E-he," anggukku mengiyakan.
"Gio memang berniat begitu, tapi Quinny tidak. Bagi Quinny, semua cara bakal dihalalin buat dapatin maunya," jelas Sam.
"Emang Quinny bilang apa?" tanyaku bingung. Tak pernah kusangka kalau Quinny sejahat itu, mau menghianati Gio dan merusak persahabatan mereka.
"Kira-kira sebulan sejak gue pulang dari perkebunan, Quinny muncul di apartemenku. Waktu itu Quinny mabuk berat. Sesuai perintah gue, ga ada satu orang juga yang boleh nginjakin kaki di apartement gue tanpa seijin gue, so dia ditahan di area lobby. Quinny muncul dalam keadaan mabuk berat. Pas gue turun ke lobby, dia lagi jerat jerit seperti biasa. Salah satunya, dia ngomong kalo gue salah milih lu. Mestinya gue milih dia, de el el deh. Ya uda, gue tarik dia ke mobil, plus nganterin dia pulang," cerita Sam.
"Trus?" kejarku penasaran.
"Pas gue lagi bawa dia ke kamarnya, dia mulai ngoceh sambil ngerayu gue. Awalnya sich gue ga tertarik, pas dia nyebut nama Gio plus nama lu, itu baru gue perhatiin," kali ini Sam memasang wajah serius.
"Pas gue pancing dikit, pura-pura kemakan rayuannya, brodol deh ceritanya. Semua cerita mengenai perasaan Gio ke lu mengalir lancar. Termasuk cincin yang uda dibeli Gio. Puncaknya, Quinny mulai nari striptis sambil tertawa-tawa, trus dia cerita bagaimana Gio nolongin dia ngejebak gue malam itu," entah mengapa, aku merasa kalau Sam tersenyum senang sejenak mengingat kenangan itu.
"Enak dong, bisa nikmatin tarian khusus," tanpa dapat kuhalangi, terselip nada jengkel dalam suaraku.
"Hahaha.. Lu cemburu?" tawa Sam langsung menggelegar. Tangan kirinya terulur mengacak-acak poniku, sementara matanya melirikku dengan tatapan menggoda.
"Ga! Sapa juga cemburu?" elakku sambil membuang muka agar Sam tidak melihat wajahku merona merah.
Kupandangi jendela mobil tanpa benar-benar melihat pemandangan yang disediakan. Ini hanya sebagai kamulflase saja, biar Sam tidak mengetahui perasaanku yang sedang tercampur aduk. Harus kuakui memang, hatiku merasa cemburu membayangkan Sam menikmati gerakan seronok yang ditampilkan Quinny. Namun disisi lain, aku merasa tidak pantas untuk cemburu karena sudah meninggalkan Sam sendiri waktu itu.
"Ngambek nih critanya?" goda Sam sambil menarik tangan kananku, lalu menciumnya sambil tetap memperhatikan jalanan.
"Gak. Ngapain juga ngambek? Itu kan hak lu buat menikmati tarian Quinny," sahutku sambil menghempaskan tubuh ke jok dan memajukan bibir bawahku. Tanpa sengaja kutekankankan kata 'menikmati' dalam suaraku, hal itu membuat Sam tersenyum simpul.
"Tenang aja, sayang. Sejak malam laknat itu, gue ga pernah tergoda sama yang namanya Quinny," sahut Sam sambil tetap menggenggam tanganku.
"Dinikmati juga ga'papa koq. Ga ada yang larang," tegasku, berusaha meyakinkan Sam. Namun penegasan itu malah membuat senyuman Sam semakin lebar.
"Kalo gue tauk lu bakalan cemburu seperti ini, dari dulu gue bakal manas-manasin lu ama Quinny. Hahaha," senyum Sam berubah menjadi tawa menggoda.
"Idiiiih... Sapa juga yang cemburu? Narsis deh lu!" balasku. Mau tidak mau bibirku yang mayun mulai membuat senyuman.
"Percayaaa... Percaya. Lu mau gue lanjutin cerita gue lagi ga?" balas Sam yang masih tersenyum simpul.
Mendengar penawaran Sam itu, aku langsung mengubah posisi dudukku menghadap Sam. Kepalaku dipenuhi rasa ingin tahu. Perlahan tangan kananku diletakkan Sam dipahanya. Namun sebelum aku sempat menarik tanganku, Sam kembali menggenggamnya. Terpaksa aku membiarkan Sam melakukan hal itu, walau hatiku berdebar kencang.
"Gue sempat marah waktu itu. Bahkan tangan gue udah terayun buat nampar Quinny. Gue ga terima kalo sohib gue dibilangin seperti itu. Tapi kata-kata Quinny berikutnya membuat gue sadar kalo itu semua bener," lanjut Sam sambil memperlambat laju mobil karena mendekati loket Tol.
"Emang Quinny bilang apa?" tanyaku heran.
"Dia bilang.." kalimat Sam terhenti sejenak karena harus mengambil kartu Tol sementara aku menunggu dengan sabar.
Setelah itu, Sam kembali berbicara, "Betapa menyedihkannya menjadi Gio yang cintanya tertepuk sebelah tangan. Walau sudah berusaha bagaimanapun, masih harus mengalah dengan sahabatnya sendiri. Malahan sekarang harus kehilangan sang cinta yang hilang ditelan bumi."
"Saat itu gue sadar kalo cerita Quinny itu beneran. Tapi gue juga sadar banget kalo Gio juga pasti merasa bersalah sama gue, plus kehilangan lu sama seperti yang gue alami," sambil berkata begitu, Sam menciumi lagi tanganku.
"Sam, lu ga marah lagi ama Gio?" tanyaku hati-hati.
"Gue marah Lis, tapi gue juga harus berterima kasih ama Gio," balas Sam serius.
"Terima kasih?" tanyaku heran.
"Yups, say thank's to him. Kalo bukan karena Gio, gue ga bakalan seperti ini. Gio itu salah satu orang yang mendorong gue buat bangkit lagi. Gio juga yang ikut bantuin gue buat nyari lu. Biar akhirnya detektif sewaan gue berhasil nemukan lu, tapi kalo bukan karena desakan Gio, mungkin gue masih belom berani nemuin lu," kesungguhan tampak jelas dalam setiap ekspresi wajah dan nada suara Sam.
"Gue juga berutang ama Gio waktu dia nolongin jagain lu, abis kejadian di kantor gue. Kalo bukan Gio yang nemani lu, mungkin gue bakalan gila mikir lu dimana," sambil berkata begitu, Sam menolehkan wajahnya menatapku lembut.
"Sam.." bisikku pelan, tak tahu harus mengatakan apa.
"Gue emang salah, tapi gue berharap lu mau ngasih gue kesempatan sekali lagi. Lu mau kan?" tanya Sam serius.
"Gue mo ke kamar mandi," sahutku menghindar dengan wajah merona karena mengingat apa yang tadi kami lakukan.
"Hahaha Jadi hanya itu alasan yang bisa lu kasih?" tawa menggoda Sam terasa membuatku ingin segera menghilang dari hadapannya.
"Ok.. Ok.. Jangan ngambek dong sweety," senyum Sam masih mengembang melihatku tak mampu membalas perkataannya, "Kamar mandi disana," tunjuk Sam pada sudut kamar yang ditutupi tirai putih.
Dengan langkah cepat karena mau menghindari Sam, aku masuk kedalam kamar mandi tanpa suara. Sekilas terlintas diotakku agar mandi biar terasa segar, namun teriakan Sam dari kamar tidur yang mengatakan kalau dia bakal menunggu dimobil membuatku bergegas. Kuambil sebuah sikat gigi dan pasta gigi baru yang diletakkan diatas wastafel, dan mulai menggunakannya. Setelah itu, aku mencuci muka secepat kilat. Sambil menarik handuk kecil dari rak gantungannya, aku menyisir rambut dengan tangan. Tak terpikir lagi untuk mencari sisir dan alat make-up lainnya. Selesai mengeringkan wajah, akupun langsung bergerak keluar, dan menyusul Sam.
Rumah ini masih tidak berubah. Walau dulu aku hanya sebulan sekali kesini buat membantu mama bersih-bersih, namun aku masih mengingat posisi semua barang disini. Tanpa sempat bernostalgia, aku berlari ke pintu depan dan mendapati Sam mulai menyalakan klakson menggegasku. Tak membuang waktu, aku mengambil posisi duduk dikursi depan. Sam memberikanku sebuah kotak makanan sebelum dia mulai menjalankan mobilnya.
"Thank's Sam," sahutku sambil menerima kotak itu.
Didalamnya terdapat beberapa tangkap roti dan dua cangkir teh yang diletakkan digelas sterofoam. Melihat itu, aku yakin Sam juga belum sempat sarapan. Jadi, aku mengambil setangkap roti dan menyuapi Sam yang menyetir dengan penuh konsentrasi. Kami sarapan dengan diam dan hikmat.
"Sam, gue mo ngomong," kataku setelah mengumpulkan semua sisa sarapan kami kedalam kotak lagi.
"Ngomong aja, gue dengar koq," sahut Sam cuek.
"Soal Gio," sampai sini mulutku seakan terkunci. Sebab raut wajah Sam langsung mengeras, tangannya mencengkram erat setir mobil.
"Ada apa dengan Gio," suara Sam berubah menjadi dingin.
"Tidak apa-apa," sahutku lemah.
Entah mengapa, tapi perasaanku mengatakan Sam tidak suka aku menyebut nama Gio. Dan itu dibenarkan dengan sikap Sam yang tiba-tiba menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Untung saja ini masih daerah pedesaan dengan lintas kendaraan relatif sepi, jadi tidak ada kecelakaan karena kelakukan Sam.
Setelah menghentikan mobilnya, Sam menarik nafas panjang dan menghembuskankannya dengan kasar. Dibalikkan badannya, lalu Sam menatapku tajam. Badanku sampai merinding ketakutan melihat tatapan Sam. Tak lama kemudian Sam kembali menatap kedepan, jari jemarinya bergerak diatas setir seperti bermain piano. Tanpa suara, Sam kembali menjalankan mobilnya. Kali ini dengan ketenangan yang cukup baik.
"Ada apa dengan Gio?" tanya Sam dingin, tapi tanpa amarah.
"Kalo lu nggak mau gue ngomongi Gio, ga'papa koq," sahutku cepat.
"Sorry kalo udah buat lu takut tadi," desah Sam, "tapi jujur, emang gue ga suka lu ngomongi Gio."
"Kalo gitu, laen kali aja ya," kataku menawarkan alternatif waktu lain.
"Ga usa, sekarang aja. Toh nanti juga lu bakal ngomongin itu kan?" sahut Sam mulai santai.
"Betul lu ga'papa?" tanyaku meyakinkan diri. Aku tidak mau mengambil resiko sekecil apapun yang bisa membuat Sam marah mengingat Sam adalah pengemudi ugal-ugalan kalau sudah emosi.
"It's ok. Lu mau cerita ato nanya apa, terserah," sahut Sam menyakinkanku. Senyumnya tampak mengembang sedikit, matanya mulai melirikku nakal karena mengetahui ketakutanku.
"Gue mo nanya soal cincin," kataku singkat.
"Cincin? Emang kenapa ama cincin itu?" lirik Sam ketanganku yang sudah tidak memakai cincin itu.
Tanpa bisa kucegah, tangan kananku memegang jari manis kiriku yang kosong tanpa perhiasan apapun. Kemarin pagi aku melepaskan cincin itu dan menyimpannya dalam tas kerjaku. Aku merasa tidak pantas menggunakan cincin itu sebelum yakin dengan perasaanku sendiri. Aku tidak mau memberikan perasaan semu pada Gio setelah pengakuannya.
"Waktu di Rumah Sakit, lu bilang gue harus nanya Gio, kalo cincin itu sebenarnya buat siapa. Emang cincin itu buat siapa, Sam?" tanyaku lugas.
"Buat lu," jawab Sam pendek.
"Tapi.." aku merasa ragu dengan jawaban Sam.
"Lu ga yakin? Dalam cincin yang lu pake kemaren, ada nama Gio diukir. Kalo cincin yang Gio pake, ada nama lu diukir. Puas?" kali ini Sam memberikan jawaban tegas.
"Kalo gitu lu tauk kalo.."
"Kalo Gio jatuh cinta ama lu dari dulu?" potong Sam.
"E-he," anggukku cepat.
"Tauklah, emang gue bego apa? Semuanya bisa gue liat jelas dimuka Gio. Tadinya malah gue udah niat jodohin lu ama dia. Sampe Mami ngambil keputusan buat mempertunangkan kita," kali ini Sam memberiku jawaban mantap dengan senyuman menggoda. Ketakutanku mulai mencair dan rasa ingin tahuku meningkat.
"Emang kenapa? Kan lu nolak abis-abisan waktu itu," kejarku ingin tahu.
"Lissie sayang, gue suka ama lu. Lu lucu, lugu, manis, dan polos. Jadi gue ga bisa salahin kalo sobat karib gue juga jatuh cinta ama lu. Tapi kalo emang lu itu jodoh gue, berarti bukan salah gue dong kalo Gio yang harus mengalah? Lagian lu juga ga nolak kan waktu Mami nyeritain rencananya?" tutur Sam lancar.
"Gue sayang ama lu, tapi gue juga ga mau kehilangan sohib gue," lanjut Sam tenang.
"Jadi lu tauk perasaan Gio ke gue uda lama?" tanyaku tidak percaya.
"Ya iya lah. Makanya gue marah banget waktu tauk kalo Gio bantuin Quinny buat misahin kita," jawab Sam dengan nada jengkel. Wajahnya kembali keras.