Tulisan Oleh Olyvia Santoso
Catatan dari rumah sakit
August 2nd, 2010 Posted 10:14 pm
Sehat itu mahal.
Semua pasti setuju kalau kesehatan itu mahal. Apalagi biaya dokter dan rumah sakit yang melambung tinggi setiap detiknya. Tapi bukan itu yang mau kuceritakan sekarang, walau tetap berujung ke permasalahan finacial.
Kemarin, tetangga kiri kananku isinya nenek yang abis patah tulang kaki. Lumayan lama juga sich mereka nginap disini. Yang bed B uda ampir 20 hari, yang bed D uda 10 hari.
Oma D awalnya cukup membuatku kagum pada awalnya. Setiap ada yang bezuk disambut dengan sukacita, disambut dengan ucapan syukur pada Tuhan. Maklum, si oma mirip denganku, nginap tanpa ada yang jaga.
Berbeda dengan oma B yang memang dijaga denga sekompi pasukan keluarga tua muda. Semua pembezuk di sambut dengan suka cita juga. Tapi setelah pembezuk pulang, mereka langsung menggosipi si pembezuk. Ga ada kerjaan laen kali ya?
Akhirnya ada kejadian yang menarik hatiku ketika si oma D mulai menelpon kiri kanan pamitan buat pulang. Sebenarnya wajar aja kalo kita uda mo ninggalin rumah sakit, lalu nelpon teman, saudara, dan handai tolan buat ngucapin terima kasih atas doa dan kunjungannya.
Yang anehnya, dalam salah satu teleponnya, si oma menekankan betapa jeleknya tabiat salah satu pembezuknya hanya karena memberikan ‘sumbangan’ yang tidak sesuai harapannya. Lalu mulai membandingan dengan sumbangan si A, si B, dan seterusnya.
WHAT’S??? Emang pembezuk sekarang harus bayar ke pasien ya kalo bezuk? O NO!!! Aturan dari mana pula itu? Aku dibesuk siapa saja, dengan tujuan apa saja, membawa atau tidak membawa apapun, semua kusambut suka cita. Mereka semua membawa kegembiraan, perhatian, sampai cerita yang berbeda. Jadi kenapa masalah si ‘buah tangan’ dijadiin masalah? Ckckck
Ternyata telepon itu masih berkelanjutan sampai dia pulang. Aku dengan kuping tebal mendengarkan sambil menggerutu betapa tidak bersyukurnya oma ini. Apalagi ternyata si oma punya simpanan yang cukup besar tapi tidak mau digunakan. Lama kelamaan gerutu itu berubah menjadi belas kasihan. Melihat oma ditolak kiri kanan. Kalaupun dikasih, jumlahnya tidak sesuai harapan oma.
Seandainya itu hanya berlaku pada saudara-saudaranya saja, aku akan merasa si oma “mungkin” emang reseh, suka merepotkan mereka, sikapnya menjengkelkan. Tapi ketika aku mendengar betapa anak kandungnya sendiri menolak menerima teleponnya (kayaknya sich udah tauk mo di kirimi berkas pajak), hatiku menangis. Serendah itukah seorang mama akan menyerahkan harga dirinya hanya untuk “PINJAMAN UANG” buat membayar rekening rumah sakitnya? (si oma beneren bilang gini , “Anggap aja mama minjam ke kamu. Nanti pasti mama kembaliin begitu punya uang.”) Mungkinkah oma emang tidak punya dana lebih? Aku tidak tahu. Yang kutahu sekarang hanya, ternyata kesehatan bukan hanya mahal secara finasial, namun juga MAHAL SAMPAI HARUS MENJUAL HARGA DIRI SEORANG IBU YANG MEMOHON BELAS KASIHAN SAUDARA KANDUNG, SAMPAI MEMINJAM DANA PADA ANAK KANDUNGNYA.
Mengenang hal itu, hatiku masih menangis sampai sekarang. Maafkan aku oma, yang sudah sempat mengerutu ketika mendengarmu nelpon kesana kemari. Semoga aku tidak harus merasakan seperti oma. Oma sudah mengingatkanku pada mama yang begitu setia menyayangiku selama ini. Semoga Tuhan mengijinkanku memberi secercah kebahagiaan pada mamaku suatu hari nanti dengan segenap kemampuanku.
PS :
Trima kasih buat yang uda bezuk, nelpon, sms, imel, doa, de el el. Semoga Tuhan membalas kalian semua.
Posted in Olyvia Santoso
Cinta
August 2nd, 2010 Posted 4:49 pm
Percaya tidak, kalau menolak cinta itu merupakan proses paling sulit dilakukan kalau dibandingkan dengan pernyataan dan penerimaan cinta?
Pada saat orang menyatakan cinta, orang itu sudah siapkan hatinya. Ditolak berarti sedih, diterima berarti senang. Opsi cuma dua. Selesai.
Menerima pernyataan cinta, orang itu juga sudah menyiapkan hatinya. Bersedia membagi hidupnya dengan si pasangan yang menyatakan cinta. Opsinya? Hanya satu. Ga peduli apapun alasan penerimaan itu sendiri. Simple kan?
Menolak pernyataan cinta itu rumit. Percaya ato nggak terserah anda.
Pada saat penolakan terjadi, orang itu masih dalam kebimbangan. Takut kalau keputusannya salah. Takut kalau ternyata ada penyesalan setelah menolak si cinta. Takut dicuekin sama pelantun pernyataan cinta sampai putusnya jalur persahabatan (padahal masih ingin berteman).
Takut kalau akhirnya hukum ‘karma’ berlaku, “tolak sekarang, nti malah tergila-gila” (tanpa proses dukun beraksi ya). Kenapa ‘karma’ dalam kutip? Karena saya tidak mengerti kenapa itu dibilang karma.
Jadi dalam menolak cinta, ga ada namanya opsi, yang ada cuman impact. Apa kehilangan teman baek, kehilangan calon cinta sejati, ketakutan ‘karma’, plus banyak lagi yang belom kepikiran sekarang.
Tapi satu yang pasti. Saya sangat mendukung penolakan cinta yang ditawakan daripada penerimaan cinta karena belas kasihan. Karena cinta yang dilandasi belas kasihan bisa membawa dua hal dalam hidup. Kebahagiaan karena sudah mengubah cinta belas kasihan menjadi cinta beneren, atau kesedihan berkepanjangan karena merasa menderita dalam menjalani hubungan cinta belas kasihan.
PS : “cinta belas kasihan” itu beda banget ama “cinta belas kasih” yaaaa….
Posted in Olyvia Santoso
Kata dan Angin
August 2nd, 2010 Posted 4:38 pm
Suatu hari Kata bertemu dengan Angin. Terjadilah tegur sapa diantara mereka. Begini kira-kira.
Angin : “Hai Kata, mau kemana?”
Kata : “Tuanku menyuruhku ke telinga diseberang sana.”
Angin : “Buat apa?” (kelihatan banget si angin hanya ingin tahu)
Kata : “Entahlah, tugasku hanya terucapkan.”
Angin : “Berarti kata-katamu tak berarti dong?”
Kata : “Semua tergantung dengan Nada saja.”
Angin : “Maksudmu?” (kali ini Angin penasaran beneren)
Kata : “Kalau Nada sedang naik, artinya bisa marah. Kalau Nada sedang turun, artinya bisa kecewa. Kalau nada lagi tidak ada, artinya memang bisa membingungkan. Karena yang dengar hanya merasakan sesuatu yang datar. Belum lagi kalau nada lagi mabuk…” (penjelasan Kata panjang lebar banget)
Angin : “Emang Nada bisa mabuk? Apa jadinya kalau Nada mabuk?” (mata Angin mulai termuka)
Kata : “Semuanya bisa berubah arti, sekarang begitu sebentar begini.”
Angin (mangut-mangut tanda mengerti) : “Kalau begitu tetap enak jadi angin.”
Kata : “Koq bisa?” (mulai tertarik)
Angin : “Aku bisa menghembuskanmu kemana saja Kata. Tanpa maupun dengan Nada. Bahkan lebih cepat yang kau bisa bayangkan. Lebih enaknya lagi, kalau membawa Nada, semua gerakan Nada aku yang atur. Begitu cepatnya, aku bahkan bisa membuat orang jadi salah mengerti maksudmu. Atau malahan tidak mengerti maumu apa. Hebatkan?” (sambil meninggalkan Kata berfikir sendiri dan kehilangan jati dirinya/kehilangan kata-kata).
Posted in Olyvia Santoso
jatuh cinta
July 29th, 2010 Posted 11:54 pm
jatuh cinta, sejuta rasanya.. (kalo ga salah penyanyinya oma titik puspa)
malam makin kelam
wajahmu mulai membayang
desir hati tak mampu kutahan
setiap tarikan nafasku menyerukan namamu
kala nadi mulai berteriak
kala hati mulai bergetar
air mataku mulai menetes
sedihkah? Atau bahagia?
Kerlip bintang seakan menggodaku
menampilkan sosok impian
pada senyum sendu sang rembulan,
kutitipkan rasa rinduku
bilakah kau bersama denganku disini?
inspirated by friends that have been in love.
Posted in Olyvia Santoso
kesatria menangis, from Diana Liu (millis)
July 29th, 2010 Posted 9:51 pm
From:
Diana Liu
To:
Members of White Dove & Great Eagle
Generation
When:
Today at 9:36pm
Message:
Well, ketika mau married Guys, gue
yakin semua wanita ketika menikah
pasti mengidam-idamkan sosok suami
yaangg … co banget. Mereka pikir,
suami mereka akan selalu tegar,
beriman teguh, tabah menghadapi
godaan, pantang menyerah, selalu
berpendirian, selalu tau apa yang
akan mereka lakukan. Tapi ketika
sosok suami mereka mulai
menunjukkan kelemahan, banyak
perempuan kaget.
“Loh kok begini?!?! Mana figur pacar
yang selalu tau apa yang harus dia
lakukan!?!? Mana my hero yang dulu
begitu gagah perkasa? Kok ternyata
ngadepin tekanan di tempat kerja aja
udeh lemes?!
Padahal gals, suami kita itu manusia.
Katanya salah satu alasan perceraian
yang paling sering adalah mereka
menolak untuk menerima bahwa
pasangan mereka manusia!! Yang
bisa lupa, bisa down, bisa cape, bisa
kesel, bisa sedih, bisa nangis, bisa
broken …
Selama married 6 bulan, gue dah
pernah liat Tepen kecewa, stress,
bingung, pusink, panik, sedih, putus
asa, broken … Pertamanya gue kaget,
“Hah? Cowok kok kayak begini?!?!”
tapi lama-lama gue belajar bahwa ini
salah satu peran gue sebagai istri.
Menghibur dan menguatkan.
Bagian kita lah me-recharge suami
kita sehingga besok dia bisa berjuang
lagi di tempat kerjanya.
Btw, jadi inget dengan sebuah tulisan
yang dulu banget pernah gue tulis.
En erhm … kalo gue ngga salah inget,
tulisan ini diinspirasi ama beberapa
cowok en salah satunya Tepen.
wekekekek :p
***
Iih Cowok Kok Nnagis??
“Nan ren ku ba ku ba ku ba, bu shi
zui ….” *Hai Pria, menangislah,
menangislah, menangislah. Itu bukan
dosa.* Itu kata Andy Lau. :p Well saya
biasanya ngga suka Andy Lau, tapi
saya suka lagu itu. Karena saya
setuju dengan Andy Lau. Co nangis,
so what gitu loh??
Dulu saya sentiment sama co, saya
sering ngerasa bahwa masyarakat
hanya bersikap tidak adil dan kejam
terhadap para wanita. Standart
kecantikan yang tidak masuk akal,
yang membuat banyak ce begitu
sengsara karena mesti diet mati-
matian buat mendapatkan ‘body
ideal’ bak Angelina Jolie. *tapi yang
jelas gue ngga akan mau menukar
kehidupan gue dengan kehidupan
Angelina Jolie. No waaayyy!!!*
Diskriminasi terhadap kaum wanita,
blablabla. Sampai saya tidak sadar
bahwa sebenernya kaum pria juga
menghadapi kejamnya dunia.
Standart Maskulinitas yang
sebenernya sama sekali ‘ngga
jantan’.
Co macho diidentikkan dengan body
six packs, tampang sok cool, maniak
bola, gonta ganti spare part mobil,
kantong tebel, mobil keren, gonta
ganti pacar, nge-gym. Well
kenyataannya berapa banyak sih co
yang bisa begitu?? Jujur guys, saya
mengamati co-co di sekitar saya en
kesimpulan saya dengan sahabat
saya adalah, Ternyataaaa semua co
samaa …. Perutnya ngga rataaaa
*dinyanyikan pake nada Aku Makin
Cinta-Vina Panduwinata*. Guys,
standart ke-macho-an co menurut
dunia, itu sama sekali ngga macho.
Serius.
Salah satu dari banyak pantangan
yang haram dilakukan oleh para co
‘ macho’ adalah meneteskan air
mata alias menangis. Katanya co
hukumnya haram untuk menangis. Co
harus tegar. Cuman ce yang
menangis. Menangis itu tanda
kelemahan.
Guys, kalo emank menurut Tuhan co
itu tidak perlu menangis, Tuhan ngga
akan kasih kalian air mata. Serius.
Para co tidak mengeluarkan ASI
kan ?? Kenapa? Karena menurut
Tuhan, co ngga perlu ASI, co tidak
akan pernah menyusui, so kalian
tidak butuh ASI. Buat Tuhan itu hal
mudah untuk mendesign tubuh
kalian supaya tidak perlu
mengeluarkan ASI, so itu hal yang
sama mudahnya buat Tuhan untuk
merancang kalian tidak
mengeluarkan air mata. Tapi Tuhan
tetap memberikan air mata buat para
co …. Karena buat Tuhan, tidak ada
yang salah dengan seorang pria yang
menangis.
Saya pernah menyaksikan beberapa
pria menangis di depan saya. Ada
yang saya bikin nangis *yah waktu
itu saya masih SD, en co itu nangis
karena kalah berantem sama saya :p
Bukan karena cintanya saya tolak.
Wekekekek*, beberapa karena alasan
pribadi lainnya, en beberapa karena
dijamah Tuhan. Saya menghargai para
co yang berani untuk menangis
*dengan alasan yang jelas tentunya*.
Beberapa co yang pernah deket
dengan saya punya hati yang lembut.
Dari luar mereka mungkin keliatan
sombong, keras, cuek, tapi
sebenernya jauh di dalam mereka
punya hati yang lembut. Kadang-
kadang para co inilah yang cukup
menderita. Coz mereka takut
ditertawakan oleh dunia kalo
ketauan berhati lembut. Krn itu
mereka menggunakan banyak cara
untuk melindungi hati mereka, diri
mereka. Dan kadang guys, justru hal
itu yang membuat saya sedih. Kenapa
kau harus menyembunyikan dirimu,
hatimu dengan topeng seperti itu??
Karena supaya mereka bisa
‘ cocok’ dengan standart ke-
macho-an dunia, mereka merubah diri
mereka, merubah hati mereka. Sedih
tau ngeliatnyeee!!!
Guys, tau kah kalian bahwa Tuhan
Yesus yang adalah co tulen 1000%, co
paling macho, co paling co yang
hidup di dunia ini itu adalah seorang
yang berhati lembut?? Taukah kalian
bahwa ayat terpendek di dalam
Alkitab itu berbunyi “Jesus
wept” (maka menangislah Yesus)
Yohanes 11:35. Ayat terpendek di
Alkitab tidak berbicara tentang
keperkasaan Allah, kehebatan Allah,
tapi justru tentang sesuatu yang
dianggap tabu oleh dunia. Jesus
wept. Allah menangis. Sang Pria
sejati, Allah pencipta seluruh
semesta, seluruh galaksi, Allah yang
menciptakan Singa, Harimau, Macan,
Buaya, Gajah, pencipta dari orang
yang menciptakan Rambo, Superman,
Batman, Hulk, Goggle-Five, Ksatria
Baja Hitam, MENANGIS. Iya. Jesus
wept.
Guys, saya tidak menyuruh kalian
menangis sebanyak-banyaknya
supaya makin mirip dengn JC,
KAGAKKK …. Tapi saya rindu, para Pria
Sejati Allah belajar tentang manhood
bukan dari prinsip dunia, tapi dari
Jesus, Sang Pria Sejati.
Kalian merusak diri kalian sendiri kalo
kalian mengukur diri kalian pake
prinsip dunia. Berusaha jadi macho
pake standart dunia. Berharap
dengan begitu bisa menarik banyak
ce, duh guys. Serius. Itu cara kuno.
Ngga gaul.
Kalo kalian mo jadi Pria Sejati,
belajarlah dari Alkitab, belajarlah dari
Allah sendiri. Minta supaya Tuhan
menggantikan konsep yang salah
yang selama ini kalian pegang
dengan pikiran yang baru dari Allah.
Guys, dunia kita butuh banyak Pria
Sejati. Pria yang belajar dari Sang
Pencipta.
Pria yang mencerminkan citra Allah,
yang punya hati Bapa.
Pria yang mengerti bahwa kekuatan
yang sejati itu bukan datang dari
latihan barbell di Gym tapi dari lutut
yang berdoa di hadapan Allah.
Pria yang mengerti bahwa cinta yang
sejati didapat bukan dari mengobral
kata-kata manis tapi dari sebuah
komitmen dan kerelaan untuk
berkorban.
Pria yang mengerti bahwa kepintaran
yang sejati tidak didapat dari buku-
buku maupun pengalaman hidup tapi
semata-mata hikmat dan anugerah
dari Allah.
Pria yang mengerti bahwa
keberhasilan dalam hidup tidak
ditentukan dari seberapa banyak
keringat yang diteteskan, seberapa
keras dia berusaha tapi keberhasilan
itu didapat semata-mata berkat
Tuhan.
Pria sejati bukan pria yang bisa hidup
independent, tapi justru pria yang
berani ‘dependent’ pada Allah.
Pria sejati bukan pria yang sanggup
menyelesaikan semua masalah, tapi
pria yang berani mengakui bahwa dia
tidak bisa hidup tanpa Allah.
Guys, kalo kalian ingin menjadi Pria
yang macho, co yang co bangeeettt,
datanglah pada Allah. Dia rindu dan
sudah menunggu lama untuk
mengubah kalian menjadi Pria yang
segambar dan serupa dengan Dia.
China , 25 Oktober 2006
Posted in Olyvia Santoso












