Tulisan Oleh Onggo Lukito
Ketika Aku Mati
August 27th, 2009 Posted 9:05 am
(Onggo Lukito)
Ketika aku mati,
aku tidak ingin dikenang sebagai seorang beriman yang takut akan Tuhan,
atau orang yang hanya berdoa sebagai sebuah ritual.
Ketika aku mati,
aku tidak ingin dikenang sebagai orang kaya raya yang kelimpahan harta,
atau orang miskin yang hanya bisa mengemis dan tidak punya apa-apa.
Ketika aku mati,
aku tidak ingin dikenang sebagai seorang tokoh masyarakat yang dihormati orang,
atau orang biasa yang hanya tahu nama tetangganya.
Tags: Doa, Harapan, Motivasi, Puisi
Posted in Onggo Lukito
Sekali Plagiator Tetap Plagiator???
August 19th, 2009 Posted 5:52 pm
(Onggo Lukito)
Belakangan ini saya rajin ikutan forum kaskus.us, ternyata di sana juga banyak diskusi tentang plagiat dan plagiator (orang yang melakukan plagiat). Karena di sana adalah forum bebas, jadi banyak postingan yang hanya mencacimaki tanpa menyebut alasannya. Korban cacimakinya antara lain band D’Masiv, Pee Wee Gaskins, Vierra. Di antara ketiganya D’Masiv yang paling sering disebut karena memang band yang satu ini banyak mencontek lagu orang lain di album pertama mereka.
Saya merasa beruntung tidak ikut mencacimaki, ini lebih karena perasaan saya sebagai seorang pencipta lagu yang walaupun tanpa disengaja, tetap ada kemungkinan lagu yang saya buat ternyata mirip dengan lagu orang lain.
Posted in Onggo Lukito
Semakin Dilarang, Semakin Penasaran
April 2nd, 2008 Posted 10:55 am
Selanjutnya jika pesan ini diterapkan dalam mengasuh anak tinggal masalahnya tega atau tidak tega. Tegakah kita jika anak kita belajar menaiki tangga dan kemudian terjatuh? Atau tegakah kita saat pulang kerja membiarkan anak bermain di dekat knalpot yang sangat panas itu? Jika pertanyaan ini ditanyakan kepada Ibu, ia pasti akan menjawab “Ya, saya tega”. Dan jika ditanyakan kepada saya, sayapun tega untuk seperti itu karena saya dibesarkan oleh Ibu yang tega.
Seringkali saya disebut sebagai Bapak yang tidak perhatian oleh istri saya hanya karena ketika bersama saya, anak saya sering terjatuh atau kejedot, hal yang tidak pernah terjadi jika anak saya bersama ibunya. Di situlah masalahnya, maksud hati membiarkan anak bermain sesukanya namun akibatnya ada luka atau memar di sana-sini. Pada saat diomelin istri, biasanya saya akan menjawab “kalau orang tidak pernah jatuh, maka ia tidak akan pernah merasakan sakitnya jatuh” atau “kalau orang dilarang bermain air, maka ia tidak akan merasakan nikmatnya bermain air”. Makanya jika saya memandikan anak durasinya dua kali lebih lama dibanding istri saya, karena selalu ada sesi main air.
Kalau diingat-ingat kembali memang saat kecil hingga remaja Ibu tidak pernah berkata “jangan” pada saya. Jangan merokok, jangan pulang malam, jangan berantem, jangan mencontek, dan jangan-jangan yang lain, yang mungkin sering diucapkan oleh orang tua teman-teman saya. Ibu membiarkan saya merokok supaya saya tahu rasanya rokok. Saat sekolah saya sering pulang malam dan Ibu tidak pernah berkata “jangan”, Ibu biasanya berkata kalau pulang malam maka besoknya susah bangun pagi. Seandainya saat itu ibu berkata jangan pulang malam, saya pasti tidak tahu seramnya suasana Kp. Melayu dan Cililitan selepas jam 10 malam.
Intinya adalah: Jangan berkata “jangan” pada anak-anak, karena semakin dilarang ia akan menjadi semakin penasaran.
Posted in Onggo Lukito
Refleksi Jalan Raya
March 27th, 2008 Posted 2:43 pm
Pernahkah walau sekali Anda melakukan refleksi atas cara berkendara Anda di jalan raya? Jika pernah mungkin refleksi Anda tidak jauh berbeda dengan saya. Jika belum mungkin refleksi saya berikut ini akan bermanfaat bagi Anda.
- Pernahkah ketika macet, Anda melaju di atas trotoar???? Jika pernah maka ijazah SD Anda patut dipertanyakan. Mengapa? Karena waktu SD diajarkan “trotoar untuk pejalan kaki”, jadi bukan untuk kendaraan bermotor. Pajak kendaraan bermotor yang dibayarkan setiap tahunnya adalah untuk berkendara di jalan raya, dan bukan di trotoar. Dengan demikian jika Anda berkendara di atas trotoar, Anda telah mengambil apa yang sesungguhnya bukan hak Anda.
- Pernahkah ketika di lampu merah, Anda tidak berhenti di belakang garis putih??? Tahukah Anda gunanya garis putih itu? Sadarkah Anda bahwa setelah garis putih ada yang namanya zebra cross?? Nah untuk sekedar mengingatkan pelajaran di SD, bahwa zebra cross itu ditujukan untuk pejalan kaki yang hendak menyeberang jalan. Jika Anda melewati garis putih dan berada tepat di atas zebra cross, sekali lagi Anda mengambil yg bukan hak Anda.
- Pernahkah Anda menerobos lampu merah? Jika pernah berarti Anda sungguh menyedihkan. Kenapa? Karena sekali lagi Anda mengambil yg bukan hak Anda.
Konon para pengendara yang melakukan hal-hal tersebut memiliki alasan agar cepat sampai tujuan. Jadi ada “awal” (tempat berangkat) dan ada “tujuan” (tempat yg ingin dicapai). Dari “awal” menuju “tujuan” ingin dicapai dalam waktu yang secepat-cepatnya, kendati harus naik trotoar, jembatan penyebrangan, menerobos lampu merah, dll. Yang saya yakin pengendara itu tahu mana yg boleh dan mana yg tidak boleh. Konon orang-orang yang melakukan korupsi uang negara salah satu motivasinya karena terbelit kemiskinan (atau pas-pasan) dan ingin cepat kaya. Jadi ada “awal” (miskin atau pas-pasan) dan ada “tujuan” (kaya raya). Kalau bisa dalam waktu singkat bisa menjadi kaya, dengan menghalalkan segala cara.
Lalu apa hubungan keduanya? Saya yakin Anda tahu hubungannya, jika tidak, mungkin ijazah SD Anda palsu.
(Onggo Lukito)
Posted in Onggo Lukito











