Archive for the Petrus Bayu Puja Mega Irawan Category
Lebay.com
March 6th, 2010 Posted 5:56 pm
(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)
“Ih! Gue ogah ye, gaul sama lu,..secara gitu ya,..elu tuh norak! Gue dong gaul. Rambut gue pirang, bokap gue pengacara. Sementara elu,..?! apaan. Kerjaannye Cuma nulis! Ih! Khayal kaleee..! gue dong, clubbing. Temen cowo gue keren-keren. Ga kayak elu. Punya pacar, Cuma satu aje pake alim banget. Gue dong cowonye sembilan. Kalo lu mau gaul ma gue, lu musti keren dong! Eatlis, rambut lu di cat lah. Trus bawaan lu tuh BMW. Dan bokap lu juga, ga boleh petani. Apa kata dunia, klo orang tau gue gaul sama anaknye petani kayak lu?! Hahahaha,.. gue kagak bisa bayangin dah!” (more…)
Tags: Curhat, Renungan
Posted in Petrus Bayu Puja Mega Irawan
Tuhan yang dianggap gagal
March 2nd, 2010 Posted 5:49 pm
(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)
Berkatalah aku kepada seorang teman wanitaku, yang ber make-up sangat tebal, sedang hidungnya terlihat lebih mancung, entah karena telah di suntik, atau karena apapun itu. Rambutnya tak lagi keriting, lurus dan berwarna tak lagi hitam. Kataku kepadanya.
“ teman, kau lihat langit itu?”
“iya. Kenapa?” jawabnya.
“ indah ya,.. dan itu adalah keagungan Tuhan. Sekarang coba kau lihat bukit-bukit yang berbaris itu.” Kataku selanjutnya.
Tags: Tuhan
Posted in Petrus Bayu Puja Mega Irawan
Pokoke cinta!
February 22nd, 2010 Posted 7:10 pm
(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)
Cintakah cintanya, cintanya cintakah
Cintaku cinta kau, cintakau cintakah
Cintaku, cinta kau, cinta-cintanya
Cintaku cintanya cintaku
Cinta-cintanya cintaku, cintanya cinta
Cintanya cinta, cintaku
Cintaku cinta cinta cinta
Cintakah kau cinta?
Cinta kau ku cinta. Cintakah kau cinta?
Cintaku kau cinta, cintaku kah kau cinta?
Cinta dicinta cintanya cinta
Cinta mencinta, cintanya cinta
Cintakan cinta. Cinta dicinta cinta
Cintakan cinta. Cintanya cinta
Cinta dan cinta, cintanya tercinta
Cinta mencinta, cintanya dicinta
Cinta cinta cinta
Cinta dicinta dan cinta
Cinta cinta cinta
Cinta mencinta dan cinta
Cinta mendekat cinta, menjadi cinta
Cintaku tercinta mari bercinta
Cintailah cinta, cinta mencinta
Cinta cintailah, mencintalah cinta
Cinta cinta dan cinta
Tak akan usai di tuliskan
Takkan habis dibicarakan
Satu kata yang melahirkan banyak kejadian
Cinta oh cinta…
Tags: Cinta, Puisi
Posted in Petrus Bayu Puja Mega Irawan
Tutup Panci Oh Tutup Panci
February 19th, 2010 Posted 8:31 pm
(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)
Sudah beberapa minggu ini, aku berada dirumah kedua orang tuaku. Kampung halaman dimana aku dilahirkan. Letaknya sangat terpencil, keheneingan masih menjadi sahabat setia diwaktu malam tiba.Walaupun pada sebagian penduduk, moderenisasi sudah mulai merambah, namun beberapa tradisi yang katanya kuno, tapi menurutku lebih beradab, masih aku temukan disini. Seperti misalnya, tradisi menyapa kepada setip orang yang berpapasan dengan kita, meskipun orang yang berpapasan tersebut sama sekali tak kita kenal. Senyum ramah, dan semangat “ontel” yang menyelip diantara sedan-sedan yang mengkilap milik bapak pejabat, atau anak dari petani yang sukses, masih aku temukan disini. Aku sendiri termasuk salah seorang yang sudah terserang arus modernisasi. Internet, sudah menjadi rokok dalam hidupku, sehingga candunya sudah melekat. (more…)
Tags: Curhat
Posted in Petrus Bayu Puja Mega Irawan
Kekuatan cinta
February 18th, 2010 Posted 9:03 pm
(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)
Ketika cinta, tak lagi berjalan dengan mulus. Rintangan menghadang tanpa belas kasih, mengusik dan teruslah menjadi halangan. Kekuatanku muncul seakan dibimbing oleh ruh-ruh yang bertebangan namun tak tampak. Mempertahankan cinta ini, merangkainya menjadi ikatan-ikatan yang tak lagi kusut. Mencoba menerjang restu orang tua yang terkunci dengan rapat. Menggenggamnya, seakan kuncinya telah jauh terbuang ke samudera kepedihan, hingga sulit untuk mengambilnya kembali.
Cintaku, jangan pernah menyerah. Mari kita lanjutkan, mari kita tunjukkan kekuatan cinta kita. Hantam kerasnya dunia dengan cinta kita. Jangan pernah menyerah, teruslah menjadi terang. Tegar, menjadi batu karang dihati kita. Berdiri kokoh, takkan terhempas badai.
Tags: Cinta
Posted in Petrus Bayu Puja Mega Irawan
Cintakan membawamu ke Cikini
February 15th, 2010 Posted 5:34 pm
(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)
Disini kita bertemu, ditempat ini kita mengawali sebuah perjalanan baru
Patung Ismail Marjuki, menjadi saksi ketika kau dan aku saling sepakat untuk memadu kasih
Gimbal anak IKJ, menhempaskan kesepian dihati kita berdua
Dentingan gitar pengamen jalanan mengalunkan nada keras cinta kita, digerbang masuk surganya para seniman itu
Kau dan aku melebur menjadi Satu
Bersamamu, aku sudah menikmati empedu rasa gula
Tags: Puisi
Posted in Petrus Bayu Puja Mega Irawan
Patah hati, tumbuh seribu
February 9th, 2010 Posted 8:27 pm
(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)
Sepertinya ini lukamu., namun aku tau rasanya itu
Sepertinya ini deritamu, namun aku pernah merasa juga
Jadi ketahuilah teman, kau tak sendiri
Tersenyumlah, dan lihat betapa beruntungnya kamu
Jangan pernah merasa sepi, lihatlah para kurcaci dan kurcaca menari
Jangan pernah merasa gelap, lihatlah ribuan bintang menyinarimu
Tags: Puisi
Posted in Petrus Bayu Puja Mega Irawan
Istirahat
February 6th, 2010 Posted 10:32 pm
(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)
Dan biar malam, tetaplah malam.
Berharap pagi, takkan berganti.
Kujulurkan tangan, kuremas klimaksnya
Sepertinya, luka ikut terpecah
Kupunguti satu-persatu otakku yang berceceran di dinding jiwa
Kuambil, lalu coba kurangkai dan kupersatukan kembali
Tags: Puisi
Posted in Petrus Bayu Puja Mega Irawan
Ampunilah Aku, Ya Tuhan
February 2nd, 2010 Posted 8:47 pm
(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)
Dulu, ketika aku masih kecil, ketika belum ada fasilitas listrik di kampungku, aku tak pernah mengeluh atas gelapnya malam. Bahkan menjadi sangat bersyukur, ketika bulan purnama tiba. Namun sekarang, setelah ada fasilitas listrik, aku menjadi penghujat. Ya, penghujat apabila terjadi mati lampu, maka minimal aku menunjuk satu sasaran atau lebih,untuk aku salahkan, dan kemudian kuhujat.
Dulu, ketika hanya ada pasar tradisional, aku selalu di sapa dengan ramah, dan berbincang dengan para pedagang, sebelum akhirnya terjadi ksepakatan atas barang yang hendakku beli. Namun sekarang, setelah ada pusat perbelanjaan yang modern, aku menjadi sangat angkuh. Hanya sekali terjadi perbincangan, pada saat aku berada di kasir, hendak membayar.
dulu, ketika aku hanya memiliki sepeda, aku sangat bersemangat dan tanpa keluh, mengayuhnya kemanapun tujuanku. Tapi kini, setelah aku memiliki sepeda motor, banyak yang harus aku salahkan. Aku sering memaki pengendara yang lain, di jalan raya.
Dulu, ketika belum ada lemari es, pada saat aku memiliki buah nangka, aku selalu berbagi dengan tetanggaku. Meski terkadang hanya bermaksud kalau buat saya sendiri nantinya nangka tersebut tidak habis dan menjadi busuk. Tapi kini, setelah ada lemari es, kumasukan saja nangka itu semua ke dalam lemari es, sambil berkata “besok kalo dah dingin, pasti tambah enak nih”.
Sungguh, betapa berdosanya aku.
Tags: Renungan
Posted in Petrus Bayu Puja Mega Irawan
Kangen 2
January 31st, 2010 Posted 8:42 pm
(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)
Gulita malam, gemulai bayangan
Hati merintih menahan sakit yang tak terlihat
Dalam gelap, kuciptakan sendiri sosokmu
Kuciptakan tawa dan senyummu, seperti saat kita masih bersama dulu
Kupejamkan mata, kukunci mulutku rapat
Dalam gelap, aku berbincang dibalik diam
Tak ada seorangpun yang tau, tak juga bintang
Saat ini, aku sudah membuat kau tertunduk, dan mengikuti apapun yang aku mau
Kusuruh kau memelukku, kau langsung memelukku
Kusuruh kau menciumku, kau langsung menciumku
Kusuruh kau membelaiku, kau langsung membelaiku
Kusuruh kau tersenyum kepadaku, kau langsung tersenyum kepadaku
Kuselipkan jemariku, diantara ribuan helai rambutku
Hanya senyumku yang terlihat, ketika kau ku ajak mengarungi samudera nan biru
Riuh nyayian burung bersahutan, namun hanya aku dan tuhan yang mendengar
Kupeluk engkau, dalam ketidak tahuanmu
Dalam diam, kupanggil engkau
Dalam diam, kupeluk engkau
Dalam diam, kucium engkau
Dalam diam , kumaki engkau
Dan disaat aku membuka mata, maka disanalah aku baru menyadari bahwa aku sedang sendiri…
Tags: Cinta
Posted in Petrus Bayu Puja Mega Irawan
Tumbuh Satu, Mati Seribu
January 30th, 2010 Posted 4:36 pm
(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)
Pagi ini, kulihat awan tak begitu cerah. Mendung, dan sepertinya akan sgera turun hujan. Dari balik jendela, kulihat pak Kidal sedang mengelapi flute kesayangan miliknya, di teras rumahnya. Sambil sesekali diangkat, dan di usapnya kembali, dipandanginya flute tersebut dengan penuh makna, tampaknya.
Pak Kidal adalah seorang tua, yang sejak mudanya menjadi seorang pemain musik keroncong, dalam sebuah paguyuban yang dibinanya. Kecintaannya pada aliran musik tersebut, bagaikan mempertaruhkan hidupnya sendiri. Betapa tidak, hingga menjelang usianya yang kini sudah menginjak kepala tujh itu, pak Kidal masih saja tetap memainkan nada-nada keroncong, langgam, dan jenaka, yang di gandrunginya tersebut, meski hanya sebatas di rumahnya, dan tak pernah sekalipun melakukan pertunjukkan, seperti ketika aku masih kanak-kanak dulu.
Tags: Sharing
Posted in Petrus Bayu Puja Mega Irawan
Cinta kasih, ketulusan, dan harapan
January 24th, 2010 Posted 9:51 pm
(Petrus bayu puja mega irawan)
“Bunda lihat bun,..!!! bunda,..!!! cepat kesini bunda,..!!! cepat,..!!!”.
Teriak seorang suami kepada istrinya yang sedang berada di dapur, dengan ekspresi yang mungkin untuk kita sangatlah berlebihan ketika untuk pertama kalinya sang suami tersebut melihat anak pertamanya dapat berjalan.
“bunda,…cepat bunda,..!!! sini cepat.!!
Dan sang istripun kemudian mendekat kearah sang suami, dan tak lama setelah itu, sang istri mendorong kursi roda yang memang sudah diduduki oleh sang suami sejak lahir, karena kelumpuhan yang diderita oleh sang suami, mendekat kearah sang anak, yang meski sesekali tejatuh, tetap berusaha untuk berjalan.
Tags: Cinta, Harapan, Kasih
Posted in Petrus Bayu Puja Mega Irawan
Heninglah malam
January 24th, 2010 Posted 11:57 am
(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)
Pagi, aku belum menginginkan terbitmu, sekarang. Aku masih ingin bersama malam. Aku masih ingin dalam keheningan. Takku harapkan riuh, takku harapkan keramaian. Matahari, menjauhlah.tenggelamlah dan kembali ke peraduanmu. Biar gelap dan pekat, dan dingin yang meresap, kunikmati dulu sampai aku puas. Disini, di tempat ini. Dulu kita sepakat untuk mengarungi sebuah perjalanan baru. Perjalanan dimana aku dan kamu sama-sama melebur, dan menjadi satu dalam menghadapi setiap aralnya. Disini, di tempat ini. Aku dan kamu sama-sama menjalani hari dan menjadi satu pada waktu itu. Dan, disini, di tempat ini. Kemarin kita bertemu, dan sama-sama berujar, “ kita sudah tak sejalan”. Maka, disini, di tempat ini, kita harus mengakhiri kesepakatan yang telah kita buat dulu. Kupandangi malam, kutelan bulan bulat-bulat, kemudian ku muntahkan lagi. ku pandangi engkau, ku ajak kau menangis, kemudian ku lepaskan, sesaat setelah ku kecup keningmu. Sambil berlari, kau usap bulir-bulir air mata yang menetes di pipimu, kemudian perlahan menjauh, dan menghilang dari pandanganku. Semesta seakan tak merestui. Gelapnya semakin pekat, dan dinginnya semakin meresap. Memakiku dalam kesendirian, berhamburan rasa yang tak lagi terasa. Tak ada halilintar, namun gelegarnya jelas tedengar. Tak ada hujan, namun derasnya terpampang di depan mata. Tak ada yang menikam, namun sakitnya jelas terasa. Maka janganlah engku mendekat, wahai matahari. Karna aku masih menunggu malam kembali dalam keheningan.
Tags: Puisi
Posted in Petrus Bayu Puja Mega Irawan
Cemburu
January 18th, 2010 Posted 1:35 pm
(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)
Aku cemburu kepada langit, luasnya tak terbatas, dan birunya tak pernah pudar. Awan yang gelap dan pekat, mampu di usirnya hanya dalam waktu yang singkat.
Aku cemburu kepada matahari. Sinarnya tak pernah padam, setia menerangi, tanpa mengharap untuk meminta lagi.
Aku cemburu kepada samudera. Ia sanggup menyembunyikan kedalamannya, dan menutupinya dengan ketenangannya.
Aku cemburu kepada sang ombak. Tak henti-hentinya ia bergerak. Menari dan tertawa, hingga riuh tawanya mampu menembus langit pada keheningan malam.
Aku cemburu kepada terumbu karang. Meski di hancurkan dengan menggunakan bom sekalipun. Ia mampu menata kembali hidupnya sedikit demi sedikit.
Cemburu,..!!!
Aku cemburu,..!!!
Tags: Puisi
Posted in Petrus Bayu Puja Mega Irawan
Dan jalan terakhirmu, adalah penyesalanku
January 15th, 2010 Posted 11:03 pm
(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)
Aku tau, bahwa luka itu memang tak sepantasnya kau dapatkan
Tak pantas untuk kau rasakan, dan tak pantas untuk kau miliki
Tak seperti yang kau inginkan, tak seperti yang selalu kau harapkan.
Kenyata’an telah mengalahkan keyakinanmu
Terlalu berat, untuk kau hadapi sendiri
Terlalu naïf, untuk kau nikmati sendiri
Buramnya makna, kau reguk dalam kenyataan
Kelamnya nista, kau lahap dalam ketidak berdayaan
Mawarmu layu, tak lagi berbinar
Cantikmu memudar, berganti melati
Karangmu remuk, tak lagi tegar
Bintangmu jatuh, tak lagi berbentuk
Kutemui engkau dalam kegelapan
Tergantung pada pengikat maut
Ku temui penyesalan pada diriku
Terlambat aku hadir, saat kau yakinkan diri tuk pergi
Tangisku penyesalan
Doaku, selamat jalan
Petimu keabadian
Nisanmu kejujuran
Posted in Petrus Bayu Puja Mega Irawan










