Tulisan Oleh Petrus Bayu Puja Mega Irawan

Facebook Syndication Error

No Comments »

December 26th, 2011 Posted 11:01 am

This feed URL is no longer valid. Visit this page to find the new URL, if you have access: http://www.facebook.com/notes.php?id=100002519311802

Tentang kita

No Comments »

December 14th, 2011 Posted 11:16 pm

Dalam pekat malam yang mendung, tak mungkin ku kan menelan rembulan

Tentang denting yang tak lagi “ting”

Membiru luka sekujur duka

 

aku tak harap cinta

Setia, itu saja

 

Dan ku mau, kau pun begitu

 

biar perih

biar terluka

 

ini setia, anaknya bernama cinta

 

Kesabaranku, untukmu

Hati ini, milikmu

 

***

kembalilah kepadanya, Sayank. bahagiamu menanti…

 

Klaten. 141211

Pagi

No Comments »

December 8th, 2011 Posted 7:07 am

Sejenak terlupakan perih yang mendaras

Melambung sukma gemawan biru

Dan kicau, tengger derap kecil berpindah batang

Laksananya kabur

Bijak tak lahir dari mulut yang sedang berkumur

 

Ah! Titisan Dewata

Larung janur berharap surga

 

Sirihmu masih menempel di gigi palsumu, Mak!

Sementara hatiku belum kembali

 

Kutautkan jiwa ini pada ikrar

Menetas…

Meretas kekal lajunya cahaya

 

Kerinduan ini melahirkan pilu…

 

Bali. 061211

Kangen

No Comments »

December 5th, 2011 Posted 8:59 am

Dan disaat yang seperti ini, bilur air yang merambat melalu kaca jendela diatas roda.

Menyibak ranting2 jejak yang masih terlihat bak varises hidup, berpacu dengan deru mengejar mimpi.

 

***

Hela nafas yang masih sama.

 

Adakah masih sama dengan apa yang kurasa? Sebab tak ada yang lain yang ku rindu selain engkau.

Obat yang tak pernah tergantikan bagi lelahku.

(Tasik. 041211)

Hujan

No Comments »

November 17th, 2011 Posted 9:45 am

Ah! kecipak-kecipik

 Tapi banjir tak hanya crit!

Tak beda dengan hidupku yang malang, yang digilai banyak perempuan,-

 

Sampai kapan kau mampu bertahan?

 

Tuang saja kedalam gelas, Sayank

Biar hujan tak menjadi bah!

Biar ramai, biar menari

Biar malang mampu kau pahami

 

Ah! kecipak-kecipik

Lebih baik ku ambil kendang dan bernyanyi

Basahmu, basahku

basah-basahan

 

Sampai kapan ku mampu bertahan?

 

***

Ssssttt….!

Coba dengar alunan rinai hujan

Setiap bulir bernyanyi untuk keutuhan kita

 

Peluk aku. lupakan “Sampai kapan?”

 

Jogja. 171111

←Older