Tulisan Oleh Ratna Fri
Bagi Kalian Ilmu Pengetahuan adalah Terang dan Iman Kepada-Ku… Kegelapan
April 27th, 2010 Posted 11:36 pm
Ya, Gereja-Ku tersembunyi seperti senantiasa demikian karena kurangnya iman kepada-Ku dan Sabda-Ku. Begitu banyak pembelot dari barisan-Ku karena kurangnya iman. Telah begitu banyak kelalaian sekarang dan di saat-saat lain karena kurangnya iman. Tetapi Aku telah menulis dan sekarang engkau menuliskannya lagi, kalau-kalau manusia telah kehilangan Injil: Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya. Yang menyelamatkan adalah iman. Andai ada lebih banyak iman dalam Gereja-Ku, si naga neraka tak akan dapat memenangkan begitu banyak kemenangan. Tetapi ilmu pengetahuan, sebagaimana engkau tahu, adalah penipuan manusia modern dan kesesatannya. Pengetahuan matematis yang menyajikan bukti akan fakta, pada saat yang bersamaan, adalah perusak jiwa-jiwa dan manusia.
Semuanya diperlihatkan secara matematis dan bahkan seorang buta harus menyerah pada bukti-bukti yang pasti, sementara imanlah yang memungkinkan kalian berjalan dalam kegelapan. Sebab itu, sulit untuk percaya kepada-Ku. Mereka berpura menyelidiki, menemukan dan, jika mungkin, bahkan membaca pikiran Tuhan. Semuanya atas nama “kemajuan”, “update”, dan Tuhan harus siaga, mengulang pada Diri-Nya Sendiri: Marilah kita waspada! Manusia telah menempatkan tangannya pada buah terlarang dan ia juga ingin menjadi “Tuhan”, menciptakan hidup dan merenggut hidup yang lain.
Sumber ( milis : renungandoa )
Posted in Ratna Fri
SAKIT…PEDIH..PILU…
April 9th, 2010 Posted 10:21 pm
Tak lihat kah kau berapa liter air mata yang tercurah karenamu
Tak lihat kah kau berapa banyak tamparan mendarat dipipiku
Tak lihatkah kau berapa kali tendanganmu menghantam tubuhku
Sakit….pedih…..pilu……..
Tak jua kau sembuh dari kesakitanmu
Tak jua ada kasih di hatimu
Tak jua kau berubah ntuk bisa lebih mencintaiku
Mati rasa
Tak ada lagi cinta untukmu
Tak ada lagi rasa yang tersisa
Tak ada rasa sakit
Tak ada rasa benci
Semuanya menjadi hampa………
Shock….aku benar-benar shock…..
Melihat malaikat kecilku…….
Berubah…dia berubah……..
Dia berteriak…..”mama…mama…..”
Dio jadi jagoan….!!!!!
Pukul….pukul….
Ayooo…mama…..pukul papa………
Bakar papa…………..!!!!!
Hancur, hatiku hancur
Melihat malaikat kecilku
Yang dulu lucu dan penuh tawa
Kini tak terkendali
Apa salah kami Tuhan………..?????
Hingga malaikatku menjadi seperti ini
Air mata kembali mengucur
Dengan kepedihan yang lebih menyayat hati
Smg, 9 April 2010
Teruntuk sahabatku :
“Kesabaran itu adalah pohon yang pahit namun berbuah manis”
Percayalah sobat, akan ada banyak orang yang akan berdoa untukmu, dan semoga hari ini kamu diberikan kesehatan agar terus berjuang untuk malaikat kecilmu , Tuhan Yesus selalu memberkati kamu sekeluarga.
Posted in Ratna Fri
Hujan di Bulan November
November 13th, 2009 Posted 9:18 pm
Bulan November biasanya selalu di awali dengan hujan deras. Tapi awal November ini terasa panas dan gerah. Langit kota Semarang memang sering kali mendung, tapi hujan belum juga turun. Setiap malam yang biasa terasa dingin di tahun-tahun yang lalu, kini terasa panas. Tuhan aku merindukan hujan di bulan November ini. Bulan yang selalu membuat aku tersenyum mengingat kenangan indah yang pernah aku lalui bersama-Mu.
Dimana bulan November selalu memberikan keceriaan tersendiri. Ketika masa adven dimulai di bulan ini. Merenungkan saat-saat Kau hadir pertama kalinya di bumi ini. Kabar sukacita yang selalu dinanti ada di tengah-tengah kami.
Saat hujan pertama di bulan November selalu ada kisah-kisah manis yang menanti. Di pagi hari ketika hujan berhenti, aku terbangun pukul 5 pagi. Ku melihat ke luar dari balik jendela. Melihat apakah cahaya matahari telah memperlihatkan dirinya pada dunia. Cahaya hangat mulai terasa, masuk melalui celah-celah ventilasi rumahku. Saat aku merasakan bahwa di luar sudah mulai terang. Aku mengambil gelas dari kaca dan tutup gelas. Lalu berlari keluar. Ternyata sudah banyak teman-temanku yang berada di depan rumahku.
Suara anak-anak kecil mulai ramai, mereka berlari-lari, sambil membawa gelas bahkan jaring kecil yang biasa digunakan untuk menangkap ikan. Pemandangan ini sering kali terjadi pada saat hujan pertama di bulan November.
“Hai Ta…., wah kamu kesiangan lihat gelasku sudah penuh” kata Novi teman sepermainanku.
“Wah…udah dapat banyak yach……” ujarku dengan sedikit kecewa kenapa tidak dari tadi aku keluar rumah.
“Iya tadi aku mau keluar tapi masih agak gelap, jadi nunggu terang dulu” tambahku
“Ayoo…cepetan cari, kalau keburu siang nanti ke sekolah bisa telat” kata Novi mengingatkanku.
“Iya..ya.., nih aku baru dapat lima” terangku
Pagi itu sehabis hujan pertama di bulan November, selalu saja muncul laron-laron kecil yang terbang keluar dari sarangnya. Aku dan teman-temanku tidak melewatkan kesempatan ini. Jika mereka muncul di saat hujan telah reda. Kami selalu mengatakan kemunculan laron-laron ini sebagai olahraga pagi. Biasanya aku selalu bangun siang, tapi dengan adanya laron aku selalu bangun pagi. Mengejar mereka yang berterbangan di udara, lalu menangkapnya.
Ada beberapa cara yang selalu dilakukan, ada teman yang menangkapnya dengan jaring. Sekali tangkap pasti langsung dapat banyak. Kalau aku selalu mengejar laron yang terbang rendah dan menepuk mereka hingga jatuh ke tanah. Setelah jatuh baru aku tangkap dan memasukannya ke gelas.
Karena aku sudah kesiangan dan tidak banyak laron yang beterbangan. Selalu saja ada akal bagaimana agar gelasku penuh dengan laron. Oiya aku ingat di rumah Pak RW selalu ada sarangnya. Tanpa berpikir panjang aku berlari menuju rumah Pak RW. Benar saja, di sana ada sarangnya. Aku pun tidak perlu berlari-lari lagi untuk mengejarnya.
Aku duduk di tanah, di dekat sarang laron. Hanya dalam waktu 10 menit gelasku sudah penuh. Duch senang sekali. Akhirnya gelasku penuh juga. Tidak kalah dengan punya Novi. Aku berlari dengan senang dan gembira, terus memperlihatkan gelasku ke teman-temanku.
Mereka bertanya, “Ta…, dapat banyak juga ya!”
“Iya donk….., nih penuh khan!!”
“Dapat di mana, cepat banget bisa penuh”
“Di rumah Pak RW, banyak sarangnya”
“Benaran Ta…,yukk kita ke sana”
Beberapa teman kecilku berlomba berlari menuju rumah Pak RW yang di penuhi sarang-sarang laron. Sedangkan aku berlari pulang ke rumah, karena waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Aku harus cepat mandi dan berangkat ke sekolah.
Laron yang aku dapat, aku berikan ke ibu untuk di masak. Biasanya kami memasaknya dengan di goreng memakai telur dan di beri garam sedikit. Dulu aku merasa jijik dengan binatang kecil itu. Tapi setelah mencicipinya hmmm rasanya enak juga, gurih dan renyah.
Kata ayahku, di dalam tubuh laron memiliki sumber protein yang tinggi. Dan tentu saja aman di konsumsi oleh manusia.
Di kota Boyolali, laron sudah biasa dijual sebagai lauk pauk. Biasanya di buat peyek laron. Sekarang sudah jarang sekali yang menjualnya. Padahal rasa peyek laron ini lezat sekali. Mungkin karena laron juga susah untuk di dapatkan.
Pagi itu hujan pertama di bulan November, kami sekeluarga sarapan dengan menu Laron goreng. Lezat dan enak sekali, menikmati makanan yang disediakan oleh alam.
Hujan yang terjadi sekarang ini, sudah berbeda dengan hujan di saat-saat aku kecil. Hujan yang dulu sering kali mendatangkan laron-laron kecil. Hujan yang sekarang ini mendatangkan banjir. Laron pun sudah jarang aku jumpai di saat-saat musim penghujan. Mungkin karena sekarang sudah banyak rumah-rumah yang terbuat dari beton. Jalanan sudah banyak di aspal. Dan sudah jarang ada lapangan di kota-kota. Bahkan pohon-pohon sebagai sumber oksigen pun sudah jarang sekali di tanam di tengah-tengah jalan. Adanya mereka di tebang untuk pelebaran jalan.
Pohon-pohon yang ada di hutan ditebang oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Banyak perbukitan di keruk, untuk perumahan. Banyak gunung di gundulin, untuk dijadikan perkebunan teh, kopi. Di perkotaan banyak di bangun gedung-gedung bertingkat, yang mengurangi daya serap air. Sungguh ironis. Manusia mengeksploitasi alam dengan tidak bertanggung jawab. Dan sekarang akibatnya hujan beberapa jam saja sudah mengakibatkan banjir. Seringkali juga terjadi banjir bandang disertai tanah longsor di pedesaan. Bencana ada di mana-mana. Dan yang sering dibicarakan sekarang ini adalah global warming.
Cuaca panas yang terjadi akhir-akhir ini, juga mencerminkan kondisi negara yang saat ini sedang memanas. Dimana ada konflik diantara lembaga kenegaraan. Seolah-olah para petinggi negara membenarkan argumennya masing-masing. Tidak ada yang mau berusaha untuk saling mendengarkan satu sama lain. Semua saling menuntut, semua saling menuding dan semua saling mengklaim bahwa merekalah yang paling benar. Tidakkah mereka menyadari, dunia ini sedang di uji oleh Yang Maha Esa. Apakah mereka tidak melihat tanda-tanda itu.
Keinginan untuk tetap berkuasa dan menjabat di posisi yang paling tinggi. Seringkali membutakan seseorang, untuk tetap berada di tempat itu. Dengan segala cara di lakukan untuk mempertahankannya. Bahkan tanpa ragu-ragu membuat sebuah skenario untuk menjatuhkan yang lain. Dengan tipu muslihat yang sama sekali tidak pernah di sangka-sangka. Dan membuat orang yang benar harus menanggung rasa malu, rasa sakit dan harus dikucilkan oleh keluarga, teman bahkan masyakarat. Pada akhirnya kebenaran akan terungkap.
Hujan di bulan November, berikan kesejukan buat kami. Juga buat orang-orang yang menjabat di posisi tertinggi. Untuk bisa menyelesaikan kasus-kasus yang ada dengan bijaksana. Dengan arif mau untuk mengakui kesalahan masing-masing.
Indahnya dunia jika semua orang mau untuk berdamai. Seperti damai Natal yang selalu hadir di setiap hati manusia. Tuhan sukacita-Mu selalu hadir untuk kami. Berikan kami kasih dan berkat-Mu untuk dapat kembali berdamai dengan orang-orang yang kami kasihi.
Semarang, 13 November 2009
Posted in Ratna Fri
Menulis di atas pasir
November 12th, 2009 Posted 8:28 am
(Sumber : Buku Toserba Sugarwi)
Kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar dan salah seorang tanpa dapat menahan diri menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir, “Hari ini, sahabat terbaik-ku menampar pipiku”
Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, di mana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang untuk menyejukkan galaunya.
Namun ternyata oasis tersebut cukup dalam sehingga ia nyaris tenggelam, dan di selamatkanlah ia oleh sahabatnya.
Ketika ia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, ia menulis di sebuah batu, “Hari ini, sahabat terbaikku menyelamatkan nyawaku.”
Si penolong yang pernah menampar sahabatnya tersebut bertanya, “Kenapa setelah saya melukai hatimu kau menulis di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di atas batu?”
Temannya sambil tersenyum menjawab, “Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berembus dan menghapus tulisan itu. Dan apabila di antara sahabat terjadi sesuatu kebajikan sekecil apa pun, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tetap terkenang tidak hilang tertiup waktu.
Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik dari sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masa lalu. Belajarlah menulis di atas batu.
Posted in Ratna Fri
Ternyata Aku Fobia Juga
November 5th, 2009 Posted 12:53 am
(Ratna Fri)
Sore ini ketika saya membeli rokok untuk ayah di warung dekat rumah, pemilik warung sebut saja namanya Ibu Sirun bercerita kalau cucunya yang bernama Reza yang berusia 7 tahun itu sangat takut dengan yang namanya Kuda Lumping. Dan beberapa hari yang lalu ada pengamen kuda lumping sekitar 2 orang yang datang ke area pemukiman kami. Waktu itu Reza sedang asyik main sepeda di jalan, ketika melihat pengamen kuda lumping ini dari kejauhan, Reza sangat kaget dan dia langsung saja meninggalkankan sepedanya di jalanan dan sandalnya di buang begitu saja, dia berlari ke arah warung tempat Ibu Sirun berjualan. Sambil berteriak-teriak “Nenek….nenek…takut nek! Cepat itu….orangnya di kasih uang biar cepat pergi” Reza begitu histerisnya melihat pengamen itu. Neneknya yang sedang duduk sambil menimbang telur-telur untuk dijual keheranan dengan tingkah Reza ini. “Kenapa mas Reza, kamu takut apa” tanya sang nenek yang belum mengerti mengapa Reza tiba-tiba saja ketakutan. “Itu nek, ada kuda lumping, Reza takut…., cepat di kasih uang biar cepat pergi” teriak Reza lagi sambil menarik-narik baju sang nenek. “Kuda Lumpingnya masih jauh, belum ke sini mas” jelas Ibu Sirun sambil menenangkan Reza. “Tidak usah takut, cuma kuda lumping saja mas” kata neneknya lagi. “Ayoo…nek, jangan sampai masuk ke sini, cepatan di kasih uang…” rengek Reza lagi yang badannya sudah gemetaran dan keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Neneknya yang melihat Reza benar-benar ketakutan jadi kasihan, lalu beliau keluar ke depan warung sambil membawa uang kecil untuk pengamen kuda lumping itu.












