Tulisan Oleh Rebbeca Kezia
Labya berilah Ratio waktu
August 23rd, 2010 Posted 9:50 am
(Rebbeca Kezia)
Di balik deru motor-motor yang menyalak satu sama lain, labya duduk dalam keheningannya sendiri. Tidak pernah dia begitu sulit memaafkan seperti hari ini. Walaupun telah pergi mengadu pada senja yang kini berlabuh, ia tidak menemukan suatu dorongan yang biasa didapatnya dalam perjalanan bersama senja. Ditariknya satu lagi batang putih, siap dihabisi. Dikulum dihisap ditelan racunnya. Ia bergumul dengan deru motor, sinar yang pergi perlahan dan asap yang berkabung di sekitarnya. Satu persatu lampu mulai menyala. Langit oranye peralahan bergradasi jadi biru yang gelap dan dalam. Yang selalu takut ia selami, sebab dalam gelap ia sulit untuk berenang.
Pikirannya mengambang. Di antara batas kesadaran logika dan kesakitan di dalam dada yang memantul-mantul tanpa ampun. Jika bukan karena dering telepon jahanam itu ia tidak perlu merasa begini bersalah. Dering telepon itu berbunyi di saat dimana ia harusnya paling bahagia. Kepul asap warnanya telah sama dengan pikirannya. Keruh. Ia tidak bisa memafkan dua hal hari ini. Dering telepon dan dirinya yang menjawab dering itu.
Tags: Cerpen
Posted in Rebbeca Kezia
seribu satu kerusakan,Tuan
May 6th, 2010 Posted 11:38 am
(Rebbeca Kezia)
Menagapa harus kau paksakan seutas senyum yang kau tahu akan diputuskannya, wanita. Tapi wanita itu enggan menjawab, dan terus ia kenakan seutas senyum di bawah hidungnya yang runcing. Dengan seutas senyuman itu ia tak malu memamerkan memar di tubuhnya, seolah memar-memar itu akan dipandang mereka sebagai tato mungkin. Ia kenakan seutas senyum lalu berjalan keluar. Di bawah sinar matahari yang terik, garis-garis seutas senyum itu makin tebal terlihat. Ia berjalan dengan pongahnya, walaupun sekujur tubuhnya sakit bukan main. Seolah senyum itu telah melindunginya dari rasa sakit dan membendung seluruh keinginannya untuk menangis. Kau kesakitan bukan, wanita. Tapi seperti yang telah lalu, wanita itu lebih suka menyimpan pahitnya di balik seutas senyum.
Tags: Cerpen
Posted in Rebbeca Kezia
selamat malam, ujar matamu ramah
April 14th, 2010 Posted 9:55 am
(Rebbeca Kezia)
Dari seribu sekian mata yang kukunjungi malam ini,
Matamu seolah menyapaku
Di antara mata yang merayu
Memaksakan gairahnya melalui tatapan
Matamu dengan sederhana menyapaku
Sapaan matamu yang lembut
Mengusapkan kehangatan di sekujur arteri nadiku yang beku oleh udara
Dan menyatakan ketulusan yang tak bernilai
Dimanakah akan kujumpai lagi matamu yang menyapa
Sebab, di antara ribuan mata itu
Matamu yang paling cepat berlalu
Tags: Puisi
Posted in Rebbeca Kezia
alasan kenapa kita harus terbangun dan menunggu sampai matahari terbenam
February 24th, 2010 Posted 9:24 pm
(Rebbeca Kezia)
aku hendak berbagi cerita
tentang sekelibat warna yang kusaksikan saat pergi ke tepi sungai
saat itu menjelang petang
dan aku asik terduduk di atas ayunan
dengan angin sesekali menyentuh punggung tangan kaki
dan menyibakkan rambut di wajahku
langit teduh dan tenang
seperti juga sungai yang menatapku tak bergeming
aku tak melakukan apapun kecuali berpegangan pada tali yang menggantung ayunanku
dan memainkan kaki-kakiku yang kutekuk menjauh dari tanah
Tags: Puisi
Posted in Rebbeca Kezia
februari, ruang hampa udara
February 24th, 2010 Posted 8:39 am
(Rebecca Kezia)
Aima menengadah ke langit, menatap pemandangan kesukaannya terbentang di atas. Menyaksikan kebesaran dari sebuah hidup yang tak pernah ia bayangkan. Sebuah misteri yang bergulung di dalam hidup seperti awan-awan yang menyelimuti langit kesukaannya.
Tubuh kaku ayahnya telah turun ke bawah tanah, ditimbun rapi oleh tumpukan tanah merah. Menjadi basah dan lumer kemana-mana. Dan Aima masih berdiri di sana. Kakinya telah penuh oleh lumpur yang menggenang di sekitar. Sementara rombongan simpatisan telah menjauh dari pemakaman ayahnya. Ia menghela nafas menikmati langit senja yang mencair bersama hujan menghantar pergi ayahnya ke pembaringan terakir.
Tags: Cerpen
Posted in Rebbeca Kezia
malam ini aku menolak pulang…
February 13th, 2010 Posted 7:33 pm
(Rebbeca Kezia)
Wajah itu lesu memandangi punggung yang diikat kencang oleh korset hitam polos. Seolah memberontak di tengah himpitan karet pada korset yang membentuk tubuh sintal itu. Menjadikannya melengkung dan meliuk membentuk angka delapan yang sempurna. Bahkan gelambir di sekitar perut dapat ditipu. Daging pada dada yang telah lesu terjun ke bawah, diangkat lebih tinggi dari langit. Membentuknya padat dan berisi. Sempurna. Namun wajah yang mengamati dari belakang itu tetap lesu. Tidak sumringah atau bergairah. Hanya lelah.
“apakah harus pergi, Min?”
Tanya suara pada wajah itu. Ia berharap wanita yang dipanggilnya, Min menjawab tidak. Ia berharap korset itu dapat lepas dari tubuhnya, dan Min itu kembali mengenakan daster bunga-bunganya. Ia memang berharap, walau ia tahu itu tidak akan terjadi. Jangankan melepas korset hitam itu, menjawab pertanyaannya saja nampak mustahil. Karena wanita yang dipanggil Min itu tengah asyik menyapukan serbuk putih ke atas pipinya yang kendur. Memberikan warna-warna terang untuk menutupi kerut-kerut di wajahnya.
Tags: Cerpen
Posted in Rebbeca Kezia
pengantin altar batu
February 12th, 2010 Posted 9:35 am
(Rebbeca Kezia)
“binot!!!!”
“jangan panggil gitu dong…”
“hahahaha biarin,wee.”
Anak perempuan itu kemudian mengejarnya, menarik-narik lengan baju yang kelonggaran sambil terus meneriakan nama itu. Binot. Yang dipanggil Binot hanya diam saja. Sebentar kemudian terduduk ke atas tanah. Diam sambil kadang memajukan bibirnya yang kecil di antara dua pipi yang beradu.
“ah… Binot marah ya??? Yah, Binot? Bin? Not?”
Jari telunjuknya ditekan-tekan ke kepala si Binot. Tersenyum-senyum, merayu dengan lenggak lenggok tubuhnya yang gempal. Lalu ia turut duduk di atas tanah, tangannya menggengam telapak si Binot yang dikepal.
“Binot itu kan bagus,”
“bagus dari Hongkong?!”
Si Binot angkat bicara. Ia tak terima panggilan itu.ia masih menatap ke depan dengan bibir yang dimajukan, persis seperti gurita di film kartun jepang kesukaannya. Anak perempuan itu makin jadi merayu-rayu dia.
“kenapa sih, kok Binot ga suka?”
“karena jelek.”
“ngga kok”
“emang iya?”
“iya”
“sebagus apa?”
“lebih bagus dari nicholas saputra?”
“siapa tuh?”
“kata kakakku, itu nama pacar dia yang ganteng banget.”
Lalu anak laki-laki itu tertawa. Keras sampai terguling-guling di atas tanah. Anak perempuan itu ikut tertawa. Mereka melepaskan semuanya di udara. Tertawa sampai pupil menangis, sampai perut terguncang dan kepala berdenging. Tertawa sampai burung-burung berkejaran dari sarangnya dan rumput-rumput bergoyang. Tertawa karena bahagia. Karena mereka bersuka ria satu dan yang lain. Karena tidak ada alasan untuk membenci atau menangis.
“tunggu, jangan tertawa saja. Ini hari apa?”
Seru Binot seketika. Anak perempuan itu ikut terdiam. Mereka berpikir keras menentukan hari apa itu. Telunjuk Binot diputar di udara, persis seperti orang sedang mencari ide. Anak perempuan itu berdiri dan berlompat-lompat bahagia.
“aku tahu, Not. Ini hari Burung gagak!”
“iya?”
“iya.”
Hari burung gagak adalah hari dimana mereka bisa bermain sampai larut karena orangtua mereka menonton pertunjukan di gedung kesenian. Setiap rabu minggu ketiga Lalu mereka berdua berlari menuju bongkahan batu di pinggir kali. Berkejar-kejaran seperti menemukan harta karun terpendam. Ketika sampai, saling memandang bangga. Siapa yang terdahulu, dia yang menang.
“aku deh kayaknya.”
“curang, Not. Kamu cowok.”
“lho kenapa?”
“kata kakakku, cowok ga bawa gunung di dada. Terus cowok ga punya bola di pantat.”
“ah, ngga bisa gitu dong. Cowok kan tulangnya lebih berat. Aku menang karena emang jago.”
“kalau kamu menang, kamu mau bikin rencana apa? Aku bosan main petak umpet berdua aja.”
Binot tersenyum-senyum sendiri. ia seperti memikirkan sebuah ide yang gila, namun urung disampaikan. Lalu tangannya memanggil anak perempuan itu, melambai sekali. Anak yang dipangggil turut mendekat memberikan telinganya. Dengan cepat Binot membisikan idenya. Dan anak perempuan itu berusaha mengerti secara cermat.
“HA APA ITU? MENIKAH?”
“iya, kita main menikah-menikah aja.”
“bukannya menikah itu buat orang gede?”
“makanya, kita main-main aja. Gausah beneran. Mau ga?”
“tapi caranya main gimana? Aku belum pernah menikah, Not”
“gampang, kita bikin batu ini jadi meja yang dipake pastur. Kita berdiri di sini aja, persis kayak om sama tanteku yang menikah kemaren.”
Anak perempuan menggeser tubuhnya ke hadapan bongkahan batu yang mereka jadikan altar pelaminan. Kini mereka berdua berdiri berhadapan layaknya sejoli pada ikrar sakral.
“gini nih,Not?”
“iya, iya gitu deh kayaknya.”
“terus ngapain?”
“nanti kalau aku bilang, dan tanya apapun kamu jawab aja ya. Terserah kamu mau jawab apa, ngerti ga kamu?”
Anak perempuan itu mengangguk pasti. Dan dengan sekali kerjapan, tangan Si Binot menggapai anak perempuan itu. Mereka berpegangan tangan, tanpa disadari mereka telah menatap lebih dalam satu sama lain. Lebih dalam dari apa yang bisa mereka lakukan dahulu.
“kalau ada angin yang gede, apa kamu mau tetep jadi istri aku”
“iya deh, tapi kamu mau janji jangan ngintipin rokku ya.”
“iya,janji deh. “ lalu angin bertiup di sekitar mereka. Menjatuhkan daun-daun dari rantingnya dan bunga-bunga dari tangkainya.. “terus kalau ada petir kamu mau ga tetep jadi istri aku?”
“mau deh, tapi kamu jangan takut-takutin aku lagi kalau ada petir, bener ya?”
“ok.” Dan petir menyambar di atas kepala mereka. Bersamaan dengan angin yang semakin ribut bertiup. “lanjut ya, kalau hujan turun deras banget, kamu tetep mau jadi istri aku?”
“mau, mau. Pokoknya Binot, aku tetep jadi istri kamu asal kamu jangan nakalin aku.”
Si Binot mengangguk-angguk sekuat tenaga. Dan gerimis mulai menjamah atas tuubuh mereka. Binot mendekat pada anak perempuan itu, tangannya ditaruhkan di atas kepalanya.
“tenang aja, kalau kamu jadi istrinya aku, tangan aku akan jagain kamu deh dari angin atau hujan atau panas atau alien. Ya…”
Mereka tersenyum, dan di bawah hujan sore itu mereka berpelukan. Sebagai suami-istri yang menikah di hadapan altar batu bersama hujan badai. Binot dan anak perempuan itu.
“kamu selalu seneng sama sore ya kalau hujan?”
Secangkir teh hangat yang masih mengepulkan asap menyentuh lengan Derma. Ia membalikan tubuhnya dan menyambut cangkir teh itu. Tersenyum tipis saja, hingga orang tak mampu menebak padanya ada senyum atau tidak.
“ngga kok, Tam. Aku suka sore aku juga suka hujan. Aku suka mereka berdua, terpisah atau bersamaan.”
Tampan mengangguk-angguk. Ia mengerti kalau kekasihnya suka fenomena alam itu, yang tidak ia mengerti kenapa Derma begitu menyukainya. Adakah yang istimewa dengan hujan atau sore? Apa mungkin itu hanya bagian dari secuil sentimentil wanita. Ia meniup-niup telapaknya yang beku karena dingin di dalam kamar Derma.
Derma melirik pada Tampan. Sudah setahun ini, ia dan Tampan berjalan bersama sebagai kekasih. Tidak tahu darimana predikat itu melekat di dirinya dan Tampan. Hanya saja tidak pernah Tampan menembak atau memohonkan diri menjadi kekasihnya. Itu semua terjadi lepas begitu saja. Seperti saat matahari terbit, dan kita tidak sadar kapan ia sudah berdiri di atas kepala kita, demikianlah status kekasih itu datang untuk mereka.
“dingin ya?”
Derma meraih remote AC di dinding kamarnya, menaikan derajat agar lebih hangat. Ia menyodorkan secangkir teh itu pada Tampan, kalau-kalau Tampan butuh sesuatu yang hangat. Saat bersentuhan, tangan Tampan dingin sekali. Jari-jarinya yang putih bersih, seolah beku jadi keping es.
“kamu sakit ya, Tam? Dingin amat.”
“kamu tuh yang sakit, hujan-hujan nyetel AC dingin banget.”
Derma tertawa geli menanggapi ocehan Tampan di telinganya.
“siapa suruh diem aja, gengsi sih…”
“ngga.”
Mereka tertawa, dan Derma melanjutkan tugasnya menyusun kliping. Tampan membantunya sesekali, dengan menempelkan artikel di kertas-kertas berita. Mereka bekerja bersama sampai larut. Sampai waktu menembus kantuk mereka berdua.
“jam berapa nih?”
“sepuluh kali.”
Tampan berdiri meraih telepon genggam di atas rak buku Derma. Menekan tombol untuk mendapat nyala lampu.
“gile, jam setengah satu. Matilah…”
“serius, tam?”
Tampan mengangguk dan membereskan barang-barangnya. Ia meraih tas dan jaket kulitnya dari atas sofa.
“makanya, Ma. Kamu tuh beli jam dipasang di kamar. jangan sok-sok ga mau berteman sama waktu deh.”
Tampan menggodanya dengan kerlingan di mata. Derma diam saja. Tidak, kali ini ia tidak tersenyum walau hanya tipis saja. Tapi Tampan tak menyadari humornya terasa satir bagi Derma. Ia lalu saja setelah mencium kekasihnya. Derma selalu enggan berciuman dengan pria di bibir. Pria manapun yang dekat dengannya dan mendapat berbagai status, hanya boleh puas dengan sapuan cium singkat di pipi atau kening. Cukup. Tak ada yang boleh menjamahnya lebih dari itu. Keintiman tidak menarik bagi Derma.
“makasih ya, Tam…”
Mobil itu melaju menembus gelapnya dini hari. Hujan sudah reda, dan hari sebentar lagi berganti. Derma merapikan sisa pekerjaannya dan melompat naik ke tahta tidurnya yang nyaman. Dan terlelap bagai putri dalam cerita dongeng.
Jumat, Jakarta sore hari
Tampan sangat yakin itu kekasihnya. Iya, wanita yang berdiri di sana itu pasti Derma. Sesaat lalu ia ingin menyapanya dari balik mobil. Namun urung niatannya saat menyaksikan itu. Wanitanya yang ia puja, memapah masuk seorang pria dan membawa masuk ke dalam sebuah losmen tua yang reot. Ia berubah jadi kalut, saat kemudian pria itu mengecup bibir kekasihnya. Dan Derma tak melawan atau marah, seperti jika Tampan hendak menciumnya. Biasanya ia berontak, dan kalau sampai berani Tampan memaksa maka tangannya akan memukul Tampan. Pasti.
Tampan memukul setir. Ia kesal, marah dan cemburu. Ia ingin turun dari mobilnya, dan mendapati penghinaan dari kekasihnya ini. Tapi ia bersabar. Ia masih percaya kekasihnya punya motif di balik ini semua. Ia percaya, Derma tak mungkin tega mengkhianatinya walau hanya dengan sebuah ciuman. Ia menunggu di dalam mobil yang terparkir beberapa kios dari losmen itu. Ia berharap dalam beberapa menit kekasiihnya turun dan ia bisa mengajak pulang.
Namun harapannya kosong. Yang ditunggu tak kunjung turun. Derma sudah menghabiskan sesorean di dalam losmen dengan pria yang tak dikenal oleh Tampan. Dan yang mengenaskannya, Tampan menyaksikan dan menunggu semuanya sampai selesai. Dalam pandangan yang berharap, Tampan mencoba sekali lagi menghubungi Dermal. Sia-sia,Derma tak mengankat teleponnya. Pikirannya bertambah rumit. Bayang-bayang kecemburuannya memproyeksikan imajinasi yang posesif dalam otaknya. Sayang, ia tak mampu menapakan kaki dan menjemput kekasihnya. Ia tak tahu di kamar mana kekasihnya itu sekarang.
Airmatanya menuruni dagunya yang berbelah. Dan setir di hadapannya basah karenanya. Tangannya gemetar saat hendak memutar kemudi dan berjalan meninggalkan tempat itu. Ia masih berharap kekasihnya pulang bersamany malam ini. Ia masih berharap menemukan kekasihnya malam ini. Karena tak mudah mengetahui wanita yang dicintai berkasih dengan yang lain, dan kau menunggu di luar. Sendrian tanpa melakukan apapun. Bagaimanapun,Tampan adalah pria. Ia tak sudi direndahkan. Tak sudi dipermainkan. Ia memutar kendali dan berbalik haluan.
“halo, Kiara? Kamu di rumah? Aku mau main ke sana nih. On the way…”
Derma berdiri di depan toko buku. Tampan mengejarnya dari belakang. Mereka tidak berkomunikasi setelah seminggu dari kejadian itu. Tak ada yang mau memulai. Tampan pun tidak. Tapi hari ini, Tampan ingin segera menyelesaikannya. Masalahnya, ia terlalu cinta pada Derma. Dan jika ditunda lebih lama lagi, Tampan takut tak bisa bertahan.
“kemana aja sih kamu?”
Tampan menahan Derma yang sudah mengambil ancang-ancang memasuki toko buku tempatnya bekerja.
“kemana? Ya sekolah dan kerja. Aneh.”
Tampan kehilangan pegangannya pada lengan Derma. Saat itu ia tidak fokus. Lebih lagi terkejut dengan tanggapan Derma yang acuh tak acuh padanya. Kalau boleh ia menangis, ia rela menangis supaya Derma mau mengasihaninnya dan tetap mencintainya.
“kamu kok gitu? Aku ada salah apa sih?”
“salah apa sih, Tam? Lagi ngomongin apa sih?”
Sekali lagi derma berjalan menjauhi Tampan, dan sekali lagi pula Tampan mencegah langkahnya.
“tunggu,Ma. Aku perlu ngomong sama kamu…”
“ngomong sekarang? Ga bisa, mau kerja. Uda ya…”
“ok, aku tunggu kamu selesai dan kita ngomong ya. Please, I beg you…”
Tanpa membalas tatapannya, Derma mengangguk dan memasuki toko buku. Tampan kecewa. Ia tak menyangka mendapati Derma seperti ini. Dalam otaknya ia merasa kecil sekali. Bukankah ia yang seharusnya bersikap demikian? Bukankah Derma yang bermain api di belakangnya, bukankah Derma itu yang berdosa? Mengapa aku yang memohon? Mengapa aku seolah mengusahakan segala cara mendapatkannya? Ia berpikir keras sembari menunggu kekasihnya usai bekerja. Dan selama itu pula ia menghadapi kesulitn menjawab semuanya.
Ia telah menunggu Derma selama mungkin. Dari awal berkenalan,ia jatuh hati pada Derma. Berupaya untuk mendapatkan perhatian Derma bukan perkara mudah. Derma orang yang tertutup, ia jarang mengungkap rasa pada orang banyak. Memang selain itu Derma sangat ramah dan baik pada yang lain, tapi sejauh ini Derma bukanlah orang yang mudah didekati untuk cinta. Ia seperti menggunakan baju zirah yang berat dan tebal. Tak bisa dibuka. Bahkan setelah setahun mereka dekat, Tampan menyadari ia tak tahu apapun soal kekasihnya. Kecuali satu, ia orang yang baik. Dan peristiwa sore di Jumat lalu itu, seolah memutarbalikan fakta kebaikan hati seorang Derma bagi Tampan. Tapi Tampan tetaplah pria yang mencintai Derma dengan seluruh kapasitas hatinya. Sejauh apapun Derma melarikan diri, ia pasti mengejarnya. Dan setajam apapun pisau yang diiriskan Derma pada hatinya, ia pasti berusaha mengampuni Derma. Itu pasti.
“daritadi di sini?”
Suara Derma memecah perenungannya. Ia berdiri dari duduknya di pinggir jalan depan toko buku. Mengangguk dan menatap Derma lama.
“belum makan kan? Kalau mau ngobrol di Kiyu aja ya. Gue juga laper.”
Derma melunak. Sedikit namun berarti. Setidaknya dengan begitu Tampan lebih bersemangat untuk berusaha lagi dengan Derma.
Derma memilih berjalan kaki daripada naik mobil. Kiyu memang warung makan di sekitar situ. Dekat, tak perlu naik mobil. Sekitar sepuluh menit dan sampailah kita di sana. Selama perjalanan, Derma menghindar bersisian dengan Tampan. Tiap kali Tampan berusaha menyamai langkah, ia mundur. Atau sebaliknya. Tampan mengalah, ia takkan memaksa Derma untuk berjalan bersisian jika tidak mau. Sepuluh menit lalu dalam bisu, dan sampailah mereka di Kiyu.
Warung makan Kiyu itu tempatnya tak besar, lebih banyak yang berada di luar. Di dalam untuk daerah non-smoking. Di luar anda bebas merokok. Karena Derma ingin merokok mereka memilih tempat di luar. Selain itu, sore ini mendung. Derma ingin menikmatinya langsung.
“saya nasi uduk aja mba. Sama es jeruk nipis.”
“saya capucino, kentel gula dipisah mba…”
“kamu ga makan,Ma?”
Derma Cuma menggeleng dan meniupkan asap dari mulutnya. Ia membuang wajah keluar, dan Tampan kehilangan bahasa untuk mengutarakan segalanya. Ia merasa sekali lagi kerdil saat itu. Bahkan ia tak sanggup untuk merayu atau memohon lagi pada Derma. Ia berubah gumamnya.
“mau ngomong apa?”
Mungkin derma tahu, kekasihnya kehilangan nyali seketika. Dan ia bukan tipikal orang yang gemar berbasa basi. Menghabiskan waktu tanpa suatu kegiatan sama saja membuang uang . ia harus kembali bekerja. Ia ambil shift double hari ini.
“kamu tahu, aku tahu semuanya, Ma.”
Kalimat yang terlanjur keluar dari bibir Tampan, justru memanaskan situasi.
“tahu apa?”
Nada suara Derma meninggi. Tampan ciut lagi. Bukan karena takut pada Derma, lebih karena menyesal membuka percakapan langsung tanpa pengantar yang baik.
“kenapa diam, Tam? Tadi lo ngomong tahu, gue tanya tahu apa? Ha?”
“lo..losmen.”
Bukan, ia tergagap bukan takut. Tapi menyesal. Suasana jadi tak kondusif untuk melanjutkan. Ia tahu, akhirnya mereka pasti ribut.
“oh…”
Suara Derma merendah. Ia mematikan rokok yang tinggal setengah. Tapi ia tak melanjutkan apa-apa lagi. Hanya diam saja, menatap keluar. Menikmati gerimis yang mulai turun sore itu. Pesanan mereka datang, dan Derma tak menggubrisnya. Tampan juga tak tertarik untum memulai makan meilhat kekasihnya termenung. Maka disngkirkannya piring ke kiri, jauh dari hadapannya. Ia amati Derma lekat-lekat. Yang diamati tak bergeming. Diam saja.
“aku lihat kamu dan pria itu,Ma. Kamu papah dia, lalu masuk ke losmen itu. Kamu tahu, aku tunggu kamu di mobil berjam-jam tapi kamu ga turun juga. Makanya aku pergi dan…”
“dan kamu main malam itu sama Kiara.”
“itu bukan apa-apa. Kami hanya dance all night long, aku antar dia pulang dan kita Cuma…”
Derma menghela napas. Kali ini ia melihat pada kekasihnya. Matanya sayu menatap, Tampan baru sadar ada garis hitam di sekitar mata Derma. Wajahnya terlihat lelah sekali. Tak seperti biasa.
“it’s ok. I felt nothing. Gue pikir gue cemburu saat tahu lo main sama si Kiara, but then I realised… hm I just don’t care.”
Kata-katanya terhenti. Ia bangkit dari duduknya. Dan berlari ke halaman luar seperti orang kesurupan. Dari jauh, Tampan melihat laki-laki yang tempo hari bersama dengan Derma di dekat losmen. Ya pria yang sama, yang mencium kekasihnya. Derma mengejar Pria itu. Ia berlari dan menyebrang jalan. Tampan hendak menyusul, saat pelayan menghadangnya karnena belum membayar. Dengan cepat dirogohnya kantong, tapi tak ada uang.
“mba, saya harus kejar pacar saya. Nanti saya pasti balik lagi…”
“ga biisa mas, bayar dulu baru pergi. Kalau mas ga balik nanti gmana dong, bisa…”
“iya,iya.”
Tampan menyerahkan kartu kreditnya, dan berusaha melihat kemana mereka pergi. Namun percuma, gerimis sore itu membuyarkan pandangan. Keduanya telah lenyap di balik langit sore yang mendung.
Tampan menendang kaki meja, kesal dan patah hati….
“ia mati… mati… pergiii!!!”
Derma menghambur ke pelukan Tampan. Malam itu pukul 00.07, setelah peristiwa sore tadi. Tampan menahan tubuh Derma yang lunglai pada dadanya, dan menggendongnya masuk. Menidurkannya pada sofa. Seluruh tubuhnya basah dan pucat. Mengigil bibirnya itu. Berkali-kali ia menggumamkan kata mati dan pergi. Namun matanya terpejam. Ia tak sadar, pikir Tampan.
“bun… sini dong!”
Seorang wanita tengah baya keluar dari kamar. sebentar terkejut menatap tubuh Derma yang membujur di atas sofa, lalu bergegas mengambil handuk dan pakaian bersih. Dikeringkan seluruh Derma, lalu bersalin pakaianlah. Tampan ke dapur menyiapakan minuman dan kudapan hangat.
“kenapa si Derma?”
“kehujanan bu, kayaknya mobil dia mogok.”
Tampan berbohong. Ia tahu kedatangan kekasihnya ke sini ada hubungan dengan pria yang dikejarnya tadi sore, dan ia tahu gadisnya patah hati saat ini. Ia tak mendendam, hanya iba. Seperti yang sudah-sudah kapasitas hati Tampan sudah maksimum untuk Derma. Jadi tak pernah ada kata tidak.
Ia mengusap kepala Derma yang basah. Bibirnya membiru, dan wajahnya semu seperti menahan derita. Ia mengusap kepalanya dan waajahnya. Ditatap dalam-dalam untuk mendapatkak gambaran utuh kekasih yang telah mengobrak-abrik hatinya.
“sayang… sayang… Dermaku, sayang.”
Perlahan mata Derma terbuka, sedikit sekali. Bibirnya bergerak seolah mengutarakan suatu hal. Tapi tak jelas, karena tak ada suara keluar. Dan matanya berkedip-kedip. Ia seperti kesulitan merespon.
“apa?”
Tampan mendekatkan telinganya ke bibir kekasihnya, dan ia berusaha mencernanya.
“bbbb….iii…bbinnooot”
“binot?”
Mata derma terjaga. Lebih lebar dari sebelumnya. Dan suaranya mulai terdengar walau hilang dan timbul sesekali. Ia mengepalkan jari berusaha mendapatkan daya melanjutkan.
“dia suamiku, 15 tahun yang lalu… kami menikah saat usia 8 tahun. Dia 10 tahun.”
Tampan memegang tangan Derma, memintanya tenang dan perlahan. Karena suaranya sulit dicerna. Tampan dengan sabar mendengarkan…
“saat hari gagak, kami bermain sampai lupa waktu. Bermain menikah pura-pura. Bermain di depan altar batu.”
Diam. Ia tercekat oleh sesuatu. Matanya berair, entah menangis atau menahan sakit. Tampan menyodorkan segelas teh hangat yang disambut olehnya. Kemudian membantunya duduk tegap di sofa. Kini sedikit wara mulai memburat di kulit yang tadinya pucat kehilangan warna.
“lalu, kamu ketemu binot?”
“aku dan binot dipisah sama tante Binot… orangtuanya Binot meninggal dalam kecelakaan, dan sejak itu ia tinggal sama Tantenya yang jahat. Kalau Binot main sampai lupa waktu sama aku, ia dipukuli. Besoknya tubuhnya sudah memar.”
Derma menangis, ia menahan haru dan mempertahankan intonuasinya.
“saat itu umurku 15 dan dia 17, ia datang padaku terburu-bur u,Tam. Pake sepeda kuno punya bapaknya. Badannya memar dimana-mana, matanya lebam. Aku menangis lihat dia, karena itu yang terparah. Aku suruh dia masuk ke kamar. aku obati dia,Tam. Dia teriak-teriak kesakitan. Terus aku kasih dia makan dan susu. Dia makan kayak anjing yang puasa setahun. Aku iba, sangat iba…
“kamu kenapa,Not?”
“sstt… jangan nangis terus, Der. Aku baikbaik saja, Cuma lapar.”
Aku elus pipinya dia,rambutnya dan aku peluk dia. Dia balas pelukanku, dan untuk pertama kalinya dia cium bibirku.
“aku mau pergi, pergi jauh sekali…”
“kemana?”
“ga tahu, tanteku mau nikah lagi sama orang bule katanya. Aku disuruhnya ikut.”
“jangan, kamu tinggal saja,Not. Main sama aku di sini. Antar aku sekolah, lihat aku masuk SMA. Ya, ya?”
Dan aku belai-belai dia, merayunya untuk tak pergi. Ia Cuma menatapku, menangkap tanganku lalu diletakan di depan dadanya.
“aku titip hatiku ini padamu saja ya, bisa?”
“maksudmu?”
“nanti saat kamu 20 dan aku 22, kita menikah sungguhan. Ya?”
“mau, Not. Aku mau…”
“ya, tapi kau temui aku di statiun Kota saat hari ulangtahunku. Ingat kan? Bisa ingat?”
Aku mengangguk semangat. Aku peluk dia, dia peluk aku juga. Dan ia elus-elus rambutku,Tam. Terus dan terus… kami bertatapan berdua, terus. Tapi tanganku masih belum mau melepaskan dia. Aku kuat mencengkram bajunya, supaya ia tidak dapat pergi dan meninggalkanku.
“sekarang aku pergi dulu, sampai saat itu kau boleh berkasih-kasih dengan yang lain.”
“ngga, jangan pergi. Aku ngga bisa berkasih sama yang lain,Not. Dari kecil aku Cuma tahu pria kau seorang”
“jangan manja, aku bilang aku pasti pulang untuk menikah denganmu. Asalkan kau terus ingat janji kita ya?ya?”
Dan ia menciumku lagi, di seluruh wajahku sampai kami rebah ke lantai. Ia hampir membuka pakaianku, tapi diurungkannya. Ia yang memakaikannya lagi. Ia menepuk kepalaku,
“ingat ya,Der… hanya ada satu laki-laki yang boleh menjamah-jamah kamu, yaitu suami kamu nanti. Ya, itu pasti aku. Tapi sampai saat itu, aku mau kamu sempurna.”
Lalu dikecupnya keningku dan segera beranjak. Aku tak tega melepas kepergiannya. Saat di halaman depan, ia telah siap meluncur pulang. Tantenya lewat dengan mobil sedan hitam, memaki dari dalam dan menyuruhnya masuk. Tapi ia bersikeras hendak membawa sepeda peningggalan alm. Bapaknya. Sayang, tantenya tak peduli.
“aku ga berangkat tanpa sepeda ini!”
Dan tantenya keluar dari mobil sambil membawa tongkat, dipukulnya badan Binot. Sampai darah menetes,aku berusaha melerai. Tapi apalah daya tubuh perempuan berusia 15 tahun, tak sanggup menghadang malah ikut merasakan tongkat. Ibuku datang dari belakang dan menarikku masuk. Aku menyaksikan Binot diseret masuk ke mobil. Pakaiannya habis dilindas tanah, dan ia diam saja. Sepedanya masih kusimpan di rumah sampai sekarang. Dan itu terakhir kali aku melihatnya.
Tampan menarik tangan Derma dan mengecupnya. Derma tak melawan, ia menyeka airmatanya yang sulit dibendung. Dan menarik napas dalam-dalam…
“kemudian…”
Aku menepati janjiku untuk menunggunya di statiun kota pada hari ulangtahunnya. Saat itu usiaku 20 tahun. Aku menunggu seharian, namun ia tak datang. Tidak. Dan aku skecewa hari itu, aku menangis semalaman, dan memutuskan untuk menunggunya. Aku terus datang ke statiun kota di tiap ulangtahunnya, sampai usiaku yang ke 22. Lalu aku bertemu denganmu, dan kau, Tam, selalu berusaha menarik perhatianku. Aku tahu itu. Maka akhrinya aku membuka diri padamu, walaupun jujur, aku tidak tahu rasa apa yang kulimpahkan untukmu…
Derma diam sejenak. Ia menatap Tampan yang kehilangan fokus pada pandangannya. Ia mengusap buku tangan Tampan yang menggenggam dia.
“aku ngga apa-apa,Ma. Kamu boleh lanjut kalau kamu mau…”
Jumat itu, adalah hari ulangtahun Binot yang ke-25, dan aku sudah berusia 23 tahun saat itu. Aku memang sudah punya kau, tapi hati ini memang selalu milik Binot. Maka aku berjalan ke statiun Kota. Aku masih berharap ia akhirnya datang. Aku menunggunya di peron 15. Selalu, karena ia selalu bilang padaku, 15 adalah kebanggannya. Aku duduk di situ, sampai sore hari. Lalu kudapati ketololanku, dan aku menangis. Aku mencium tiang peron 15 dan bersumpah takkan kembali lagi. Karena kupikir,aku akan serius denganmu saja. Yang sungguh nyata di depanku.
“Derma…”
Seorang pria lusuh, sangat lusuh oleng di depanku setelah menyebut namaku. Kutahan tubuhnya itu. Padahal ia pria,namun aku kuat menahannya. Karena tubuhnya kurus kering. Kupapah ia keluar dari statiun, dan berjalan menyusuri trotoar. Di dekat statiun memang banyak hotel dan losmen bukan? Maka di situlah kau melihatku.
“derma, aku pulang…”
Pria itu berbisik di sampingku. Aku mendengar dan mencerna suaranya. Kukenali ia sebagai Binotku, kucium ia. Dan diciumnya bibirku. Tapi kurasai tubuhnya panas dari ciuman itu. Aku merasa ada yang tak beres. Maka kubawa ia masuk ke losmen, supaya ia dapat beristirahat dan makan.
Kata dokter yang memeriksanya, sakitnya parah dan ia butuh banyak istirahat. Tunggu satu atau dua hari baru adakan cek kelanjutan. Aku menurut maka kurawat ia malam itu. Tadinya aku bermaksud mengundangmu ke sana, agar kau tahu langsung yang sebenarnya. Namun aku tahu dari teman-teman kita yang lain, kau dan Kiara sedang asik berpesta di club malam itu.
Tampan menatap kosong ke depan. Ia seolah menyesal mendengar pengakuan dari Derma. Kalau begini, Derma tak bersalah. Ialah si pendosa yang dengan keji menyelinap ke dalam penantian Derma, dan bermain api dengan yang lain.
“maafkan aku..”
“oh, it’s ok Tam. As I said before, aku tidak cemburu…”
Tampan kecewa, namun ia mengatur kembali dirinya untuk menjadi pendengar kekasih hatinya malam ini.
Maka selama seminggu itu aku larut merawa Binot. Ia tak bicara, tak membuka mata atau mullut. Aku menginap di sana, aku tak meninggalkan dia. Dan hari ini, kau mengajakku berbicara, saat itu aku melihat Binot berlari di jalanan. Aku panik sekali. Bagaimana ia bisa keluar. Aku segera mengejarnya, kondisi fisiknya tak baik. Ia tak mampu mengingat hal-hal secara utuh. Aku taku t ia ia tersesat atau tertabrak mobil.
“BINOOOOOTT!!!!”
Aku berseru memanggilnya, namun ia tak pedulikan aku. Aku terus mengejarnya. Dan tahulah aku kemana ia hendak perg. Ia ingin mengunjungi rumah lamanya, namun sayang rumahnya sudah rata dan jadi taman bermain. Ia terduduk di tanah tak berdaya dan menerawang. Aku memelulknya dalam dadaku. Aku menenagkannya, ia menangis histeris. Ia histeris. Seperti orang gila.
“ssst…Binot, ada Der di sini. Ayo kita pulang ke rumah Der yang baru. Ada sepeda onthel Bapak lho.”
Raungannya makin kencang. Mungkin karena ngeri, orang-orang itu menelpon polisi atau rumah sakit. Yang jelas sebuah ambulans dan paramedis turun dan menenangkan Binot. Aku tak berdaya pada mereka, aku meminta ikut. Maka ikutlah aku di mobil yang membawa Binot ke rumah sakit jiwa. Disana ia disuntik agar tenang, aku iba meliahat ia ketakutan dengan jarum suntik.
“binot, sayangku…”
Sebentar kemudian Binot tenang. Matanya kembali menerawang saja menatap keluar, lalu ia menggeser tubuhnya menghadap tembok. Ia kemudian menggigit jarinya hingga berdarah. Dalam diam dan ketenangan itu, ia menggambar sebuah pohon besar persis seperti yang ada di rumahnya dulu. Di pohon itu ia dibuatkan rumah burung oleh bapaknya. Keluarganya sering duduk santai di bawaj pohon itu. Ia menggambarnya, namun tanpa daun. Seperti pohon yang kering dan layu. Aku menatapnya dari belakang punggungnya. Saat haru tak bisa kutahan, kupeluk ia dari belakang. Kepalanya berbaring di dadaku. Dan dari matanya ia mencairkan dukanya…
Bapak maaf sepeda onthelmu rusak
Bu, ibunda pohonnya sudah tebang jadi gedung
Pak bapak kenapa pergi
Ibu juga pergi ngga pamit Binar dulu…
Binar mau pulang
Derma derma,
Binar boleh pulang?
Binar capek nih
Dan ia menarik kepalaku mendekati wajahnya. Ia menciumku lama dan dalam. Sangat dalam. Sampai air mataku menetes dan mengenai wajahnya. Lalu tersenyum manis padaku. Aku mengangguk padanya, mengusap wajahnya yang letih
“ya,Binot Binarku sayang…kamu boleh pulang, istirahatlah.”
Maka tak lama setelahnya, Binot atau Binar melepas nafas dalam pelukanku. Dan ia pulang, beristirahat dari deritanya yang membelenggu.
Derma tersedu-sedu. Ia memeluk Tampan sekuat tenaga, bahunya bergetar hebat dan wajahnya terbenam dalam lautan airmata. Tampan mengsuap rambut wanita yang dicintai tanpa henti ini. Ia tahu ia harus berhenti mencintai wanita ini sekarang, karena jauh di lubuk hati wanita ini ia telah menikah,telah bercinta dengan Binar pujaannya sepanjang masa.
Jika boleh kutuliskan suatu rahasia, Binot bernama asli Binar. Binot adalah panggilan ejekan sayang Derma pada Binar. Artinya BINarlemOT, karena Binar suka telat berpikir.
Pada hari dimana mereka seharusnya bertemu, Binar telah menunggu Derma. Dari balik tiang di kejauhan peron 15. Namun saat melihat Derma telah tumbuh menjadi wanita yang baik adanya, cantik dan sempurna, Binar mngurungkan niatnya untuk kembali pada Derma. Ia merasa tak layak karen tak memiliki apapun, terutama ia tak memiliki masa depan. Ia tak rela membiarkan wanita yang dicintainya berkelliaran denga perut kelaparan di masa depan nanti. Namun ia tak kuasa menahan rindu pada Derma, saat mendapati Derma terus setia mengunjungi dan menungguinya. Satu-satunya harapan hidup Binar adalah pernikahan dengan Derma. Dan karenanya, Binar bertahan hidup. Sampai semuanya usai, ia pulang dalam keletihan dan kebahagiaan yang terakhirn.
Aku,Tampan… tak pernah memaksanya mencintaiku. Derma hidup selibat sampai akhir hayatnya. Aku merawat dan menafkahinya, selayaknya suami pada istrinya. Pernikahanku tak pernah sukses, tiga kali aku bercerai dan pada perceraian ketiga aku memilih untuk tak menikah lagi…
Setelah kurenungkan, dari kisah merekalah aku mndapati pelajaran cinta yang tak terbatas yang tak kenal waktu. Terjawablah tanyaku mengapa Derma benci jam. Mengapa ia suka sore dan huja.
Maka tulisan ini kudedikasikan bagi dua pengatin altar batu itu. Biarlah keduanya bersatu dalam kekekalan…
Tags: Cerpen
Posted in Rebbeca Kezia
aku akan pulang setelah lelah menyukaimu dalam gelap
February 11th, 2010 Posted 11:31 pm
(Rebbeca Kezia)
kita pasti berpisah setelah begitu intim bertemu. dengan atau tanpa airmata, tangan harus digerakan dan melepas apa yang kita kira selama ini kekal. waktu pernah menghembuskannya sampai tiba ke dekatku. dan waktu memberikanku sedikit lebih banyak kesempatan untuk mengenal rasa bersamanya… sesuatu yang selama ini disangkal dan terlupakan.
memang pada dasarnya, dia dan mereka semua sama saja. pasti akan ada waktu menangisi pertemuan itu. lalu kemudian melupakannya dan kembali menjadi batu tanpa kekasih. tapi untuk sekali ini, aku ingin menikmati rasa tanpa tandingannya ini. mencoba membayangkan bercinta dengannya di bawah langit warna kejora. tertawa sampai habis suara ditelan gemuruh ombak tepi laut. atau meneruskan kebutaan kita tentang satu sama lain.
Tags: Cinta
Posted in Rebbeca Kezia
aku mau adil mencintaimu
February 11th, 2010 Posted 11:30 pm
(Rebbeca Kezia)
aku mau mencintaimu dengan adil
seperti belajar memberi,
sebelum menerima
dan mencintaimu dengan senyuman
tanpa gerutu
atau rasa sesal
aku ingin bisa melakukannya
walau dunia tempat kau hidup
adalah lautan bagiku
dan duniaku
bagai angkasa untukmu
tapi aku mau
belajar adil mencintaimu
dan tidak
meninggalkanmu dalam kelam
Tags: Puisi
Posted in Rebbeca Kezia
Humoris dan tangis
February 8th, 2010 Posted 10:03 am
(Rebbeca Becky)
Seperti pagi yang lain dan seperti seorang yang lain, ia dan koran di tangan. Asyik membaui kopi yang tak kunjung sejuk untuk siap dicicip. Tangannya yang terbungkus rapi oleh kemeja yang berwarna kelabu saja, membolak balik tiap halaman kertas koran. Sekedar melirik judul pada bagian atas, atau mengomentari berita-berita yang dianggapnya fiktif. Kadang kedua bola matanya melirik ke luar dari balik bingkai kaca mukanya. Menatapi sedetik atau dua, lalu menghela napas puas dan gembira karena menikmati tanaman yang ditanamnya sepanjang akhir pekan kemarin. Kadang sembari bergumam, “indahnya” atau “sebaiknya kuganti dengan…”
Dan aku di situ. Ya, memperhatikannya. Mencatat dengan baik, bagaimana ia berlaku. Bagaimana matanya yang telah serupa redup dengan usianya, menikmati apa yang disebutnya indah. Bagaimana bibirnya yang tebal menempel pada cangkir, dan berusaha keras mecicipi seduhan kopi yang mengepul itu. Atau tangannya, yang bergerak lemah menggapai piring lauk dan disodorkan padaku. Ia, ayahku, ramah menyapa pada pagi-pagiku. Kami tidak selalu duduk bersama untuk makan begini, sekalinya ada akan kugunakan untuk menyimpan gambar terbaik tentang dirinya. Karena kita tidak pernah tahu, kapan kenyataan berakhir. Dan kapan kita harus terbangun sendirian.
Tags: Cerpen
Posted in Rebbeca Kezia
Laki-laki Mencair dalam Merah
February 4th, 2010 Posted 11:59 pm
(Rebbeca Becky)
Aku akan pergi berkeliling pantai sambil menghabiskan mimpi tentang kamu di balik batu karang itu. Ditemani deburan ombak yang pecah saat menyentuh pasir di bawah kakiku, dan burung-burung camar yang melintas mengamatiku dari langit. Oh rasanya, aku tak mau berhenti bermimpi bahwa kamu dan aku ternyata hanya dibatasi oleh dunia nyata. Ini sudah kesekian kalinya aku berniat berhenti dari mimpi-mimpi tentang kamu. Menguburnya di bawah tanah atau sekedar menyerakannya di tempat sampah. Namun sungguh sulit. Semakin kejam aku coba hempaskan mimpi-mimpi itu, mereka akan datang kembali. Bertubi-tubi dengan serangan yang mematikan. Jadi kuputuskan bermeditasi ke pantai, di suatu senja yang hangat. Aku akan menikmati setiap sensasi memilikimu dalam mimpi. Dengan begitu aku berharap, kau akan lepas dengan sendirinya. Tanpa paksaan, tanpa siksaan… (more…)
Tags: Cinta
Posted in Rebbeca Kezia











