Tulisan Oleh Rebbeca Kezia

Labya berilah Ratio waktu

No Comments »

August 23rd, 2010 Posted 9:50 am

(Rebbeca Kezia)

Di balik deru motor-motor yang menyalak satu sama lain, labya duduk dalam keheningannya sendiri. Tidak pernah dia begitu sulit memaafkan seperti hari ini. Walaupun telah pergi mengadu pada senja yang kini berlabuh, ia tidak menemukan suatu dorongan yang biasa didapatnya dalam perjalanan bersama senja. Ditariknya satu lagi batang putih, siap dihabisi. Dikulum dihisap ditelan racunnya. Ia bergumul dengan deru motor, sinar yang pergi perlahan dan asap yang berkabung di sekitarnya. Satu persatu lampu mulai menyala. Langit oranye peralahan bergradasi jadi biru yang gelap dan dalam. Yang selalu takut ia selami, sebab dalam gelap ia sulit untuk berenang.

Pikirannya mengambang. Di antara batas kesadaran logika dan kesakitan di dalam dada yang memantul-mantul tanpa ampun. Jika bukan karena dering telepon jahanam itu ia tidak perlu merasa begini bersalah. Dering telepon itu berbunyi di saat dimana ia harusnya paling bahagia. Kepul asap warnanya telah sama dengan pikirannya. Keruh. Ia tidak bisa memafkan dua hal hari ini. Dering telepon dan dirinya yang menjawab dering itu.

(more…)

Tags:
Posted in Rebbeca Kezia

seribu satu kerusakan,Tuan

No Comments »

May 6th, 2010 Posted 11:38 am

(Rebbeca Kezia)

Menagapa harus kau paksakan seutas senyum yang kau tahu akan diputuskannya, wanita. Tapi wanita itu enggan menjawab, dan terus ia kenakan seutas senyum di bawah hidungnya yang runcing. Dengan seutas senyuman itu ia tak malu memamerkan memar di tubuhnya, seolah memar-memar itu akan dipandang mereka sebagai tato mungkin. Ia kenakan seutas senyum lalu berjalan keluar. Di bawah sinar matahari yang terik, garis-garis seutas senyum itu makin tebal terlihat. Ia berjalan dengan pongahnya, walaupun sekujur tubuhnya sakit bukan main. Seolah senyum itu telah melindunginya dari rasa sakit dan membendung seluruh keinginannya untuk menangis. Kau kesakitan bukan, wanita. Tapi seperti yang telah lalu, wanita itu lebih suka menyimpan pahitnya di balik seutas senyum.

(more…)

Tags:
Posted in Rebbeca Kezia

selamat malam, ujar matamu ramah

No Comments »

April 14th, 2010 Posted 9:55 am

(Rebbeca Kezia)

Dari seribu sekian mata yang kukunjungi malam ini,

Matamu seolah menyapaku

Di antara mata yang merayu

Memaksakan gairahnya melalui tatapan

Matamu dengan sederhana menyapaku

Sapaan matamu yang lembut

Mengusapkan kehangatan di sekujur arteri nadiku yang beku oleh udara

Dan menyatakan ketulusan yang tak bernilai

Dimanakah akan kujumpai lagi matamu yang menyapa

Sebab, di antara ribuan mata itu

Matamu yang paling cepat berlalu

Tags:
Posted in Rebbeca Kezia

alasan kenapa kita harus terbangun dan menunggu sampai matahari terbenam

No Comments »

February 24th, 2010 Posted 9:24 pm

(Rebbeca Kezia)

aku hendak berbagi cerita
tentang sekelibat warna yang kusaksikan saat pergi ke tepi sungai
saat itu menjelang petang
dan aku asik terduduk di atas ayunan
dengan angin sesekali menyentuh punggung tangan kaki
dan menyibakkan rambut di wajahku
langit teduh dan tenang
seperti juga sungai yang menatapku tak bergeming
aku tak melakukan apapun kecuali berpegangan pada tali yang menggantung ayunanku
dan memainkan kaki-kakiku yang kutekuk menjauh dari tanah

(more…)

Tags:
Posted in Rebbeca Kezia

februari, ruang hampa udara

Comments Off

February 24th, 2010 Posted 8:39 am

(Rebecca Kezia)

Aima menengadah ke langit, menatap pemandangan kesukaannya terbentang di atas. Menyaksikan kebesaran dari sebuah hidup yang tak pernah ia bayangkan. Sebuah misteri yang bergulung di dalam hidup seperti awan-awan yang menyelimuti langit kesukaannya.

Tubuh kaku ayahnya telah turun ke bawah tanah, ditimbun rapi oleh tumpukan tanah merah. Menjadi basah dan lumer kemana-mana. Dan Aima masih berdiri di sana. Kakinya telah penuh oleh lumpur yang menggenang di sekitar. Sementara rombongan simpatisan telah menjauh dari pemakaman ayahnya. Ia menghela nafas menikmati langit senja yang mencair bersama hujan menghantar pergi ayahnya ke pembaringan terakir.

(more…)

Tags:
Posted in Rebbeca Kezia

←Older