Archive for the Rini Giri Category
CARA JITU HADAPI MORNING SICKNESS
February 25th, 2010 Posted 3:03 pm
(Rini Giri)
Ini sebuah pengalaman pribadi ketika kandunganku mulai berusia delapan minggu dan rasa mual serta pusing melanda hari-hariku. Untuk kaum perempuan yang sedang menanti kelahian buah hatinya, di manapun anda berada.
- Mandi dengan air hangat. Air hangat memberi efek menenangkan dan memanjakan sehingga membantu melawan mual dan pusing.
- Gosok gigi pada saat perut kosong. Biasanya jika gosok gigi dan lambung terisi makanan, kita akan cenderung mual dan ingin muntah jika sikat gigi atau pasta gigi menyenggol rahang atas atau pangkal lidah. Gosok gigi saat perut kosong tetap akan bikin mual tapi paling tidak kita tidak akan muntah sebab tak ada makanan di lambung. Misalnya saat bangun tidur atau malam menjelang tidur.
SENANDUNG GIGI PALSUKU
October 3rd, 2009 Posted 1:09 pm
(Oleh Rini Giri)
Apa ada cowok yang mau sama cewek bergigi palsu? Gimana kalau mereka nanti malah jijik? Wajah manis, tapi ada seonggok akrilik yang mengganjal rahang atasnya. Wuih serem!!! Aku berjanji dalam hati, tak akan ada seorangpun yang boleh tahu tentang keberadaan gigi palsuku ini! Nggak ada satupun! Seumur hidup!
Padahal waktu itu umurku baru 13 tahun, kelas 2 SMP. Dua gigi seri atasku berlubang dan tidak segera dibawa ke dokter. Aku kurang terbuka pada ayah dan ibu, akibatnya merekapun tidak tahu kalau aku sedang dalam masalah serius. Sesal kemudian hari tak berguna. Harusnya, sekecil apapun lubang pada gigi harus segera mendapat penanganan sehingga tidak berakibat fatal. Masalah sesimpel apapun sebaiknya dibahas bersama orang tua. Mereka baru paham ketika aku mulai menangis dan mengeluh bibirku bengkak sebesar pisang Lampung.
Posted in Rini Giri
JIKA MENCINTAI DEMONSTRAN
October 3rd, 2009 Posted 12:56 pm
(Rini Giri)
Apakah cinta harus selalu tersentuh? Teraba? Dan terasakan? Bagaimana jika perasaan itu ada namun tak mungkin terjangkau? Tapi aku tahu dia mempunyai perasaan yang sama persis denganku. Apakah tatapan mata pernah bohong? Apakah bahasa tubuh bisa mengibul? Ataukah tutur kata sanggup berdusta? Jatuh cinta pada seorang demonstran? Apa yang bisa kuharapkan? Hanya rasa kagum ketika dia menyala dan iba ketika dia redup. Tapi itulah nikmatnya jatuh cinta. Tak pernah memilih. Datang begitu saja. Sakit perihnya menahan rindu menjadi orgasme kala mendengarkan orasinya yang berapi-api dan kepalan tangannya yang penuh pemberontakan.
Aku melihatnya pertama kali dalam OPSPEK Universitas. Semua anak baru dari segala fakultas berkumpul di lapangan kampus. Dia dengan semangat menyala-nyala dan bahasa penuh gelora, mengobarkan perlawanan terhadap rejim yang sedang berkuasa. Tangannya mengepal ke udara yang disambut dengan sorak-sorai sekian ribu mahasiswa baru. Sang orator ulung, yang selalu berada di barisan terdepan dalam setiap aksi turun ke jalan. Jika sudah bicara, semua mata akan tertuju padanya. Semua telinga akan menjadi corong penampung segala perkataannya. Dan semua hati akan terbakar oleh api perjuangan yang dipercikkannya dari atas podium.
Posted in Rini Giri
PEREMPUAN TANPA LELAKI?
October 3rd, 2009 Posted 12:53 pm
(Rini Giri)
Apa benar perempuan bisa mengerjakan hal-hal hebat tanpa campur tangan kaum pria? Mustahil! Begitu jawaban sebagian besar orang, apalagi kalau yang menjawab kaum adam. Tentu bisa! Dan sangat bisa! Itu jawabanku. Kami, kaum perempuan, membuat sebuah perhelatan besar tanpa sentuhan laki-laki secuilpun. Seratus persen karya perempuan. Waktu itu kaum cowok hanyalah para tamu yang kami undang untuk menyaksikan betapa menakjubkan karya yang telah kami hasilkan.
Pamer, pamer, pamer! Dan suatu sikap bahwa kami bukan elemen dunia yang bisa disepelekan. Kami adalah bagian dunia yang sama hebat. Atau malah lebih hebat? Ah, kami toh tak sesombong itu. Ini bukan gerakan kaum perempuan tak butuh laki-laki kok. Ini hanya suatu tantangan apakah kami bisa mengerjakannya sendiri atau tidak, dan nyatanya kami mampu. Kami toh tetap kaum hawa yang butuh pendamping lawan jenis yang secitra dan setara. Kalau kaum lelaki bilang, “No woman, nuangiiis!!!” Maka kami bilang, “No man, bikin geregetan!!!” Hohohoho.
Tertusuk Padaku, Luka Padamu Jua
September 8th, 2009 Posted 2:00 am
(Rini Giri)
Lomba Nulis Hari Aksara 2009
Persahabatan kami sudah berumur 28 tahun. Sejak kami mulai masuk SD, 1982. Jangan sangka kami memiliki banyak kesamaan sehingga klop. Kami sangat berbeda, namun saling mengisi dan melengkapi. Apa yang tidak kupunya dia ada. Apa yang tidak dikuasainya aku mampu. Keunggulan dan kelemahan itu membuat kami saling menghargai dan membantu. Berbagi adalah nyawa hubungan ini.
Dia pandai pelajaran eksak, aku telmi abis. Makanya aku selalu belajar padanya. Keunggulanku menggambar dan kami bisa membuat lukisan cat air bersama. Aku banyak ketularan sifat baiknya. Antara lain jadi rajin belajar. Tapi aku gak bisa ikut suka pada pelajaran eksakta.
“Aku mumet, Re. Lebih baik aku cari pacar anak eksakta aja deh. Yang jago matematika, fisika, kimia, gitu.” Keluhku suatu hari.
Tags: Lomba Nulis Hari Aksara 2009
Posted in Rini Giri
ASRAMA BIKIN AKU GILA!!!
September 5th, 2009 Posted 1:25 am
(Rini Giri)
Tanggal 23 September 1994, asrama resmi jadi rumahku. “Jangan lupa ember, gayung, piring, gelas, sendok-garpu, speri, sarung bantal, dan gembok.” Kata Suster Kepala ketika aku mendaftar seminggu sebelumnya. Wah, aku datang seperti orang pindah rumah. “Sil, antar adikmu ini ke kamarnya. Kasih tahu barang-barang apa aja yang jadi haknya!” Kakak angkatan yang dipanggil suster langsung menghampiriku dan membantu membawa barang-barangku.
“Namaku Silvi. Kamu pasti Rini ya. Kami sudah menunggu kedatanganmu. Aku pikir akan datang pagi. Ternyata baru sampai sore-sore begini.” Aku tersenyum. Hangat rasanya mendapat sambutan seperti itu. Setiap melewati warga lain di lorong-lorong, mereka selalu tersenyum. “Adik gua ni, baru datang.” Begitu Silvi memperkenalkanku. “Oya, kebetulan tadi aku ambil makan siang untukmu. Kamu pasti capek dan belum makan. Makan dulu aja ya, baru bebenah.” Ujarnya lagi. Oh, alangkah nikmatnya punya kakak angkatan seperti dia. Seramah dan seperhatian itu meskipun sama sekali belum pernah jumpa denganku.
Posted in Rini Giri
MALU DI METROMINI
September 4th, 2009 Posted 10:16 pm
(Rini Giri)
Persahabatan kami sudah berumur 28 tahun. Akupun heran kenapa bisa sebetah itu. Jangan sangka kami punya banyak kesamaan, sehingga bisa klop. Beda dari A sampai Z. Sifat, pandangan, dan selera kami benar-benar tak sama. Tapi itulah nikmatnya perbedaan. Yang aku tidak punya, dia ada. Yang dia tidak bisa, aku mampu. Saling mengisi dan melengkapi, membuat kami jadi saling butuh.
Kedekatan itu dimulai sejak masuk SD. Selama SMP selalu sebangku. Kegiatan ekstra kurikuler pun sama. Bahkan kami sering dijadikan satu tim dalam berbagai kegiatan karena dianggap cemistry-nya udah jadi dan tinggal jalan. Baru setelah SMA, mulai tampaklah perbedaan bakat itu. Dia masuk IPA dan aku masuk IPS. Tapi setiap istirahat, kami segera ketemuan lagi.
Posted in Rini Giri
GANK DAN DRAMA PERTAMAKU
September 2nd, 2009 Posted 2:14 pm
(Rini Giri)
Punya teman-teman dekat adalah sebuah berkat. Dari mereka kita bisa belajar aneka rupa. Kitapun merasa berguna ketika mereka meminta peran aktif kita. Ada lima gadis cilik yang membuat suatu kelompok bermain. Mereka sekelas dan rumahnya saling berdekatan. Dari mereka telah lahir empat pementasan drama. Tentu saja hasil karya sendiri. Latihannyapun ngumpet-ngumpet di belakang sekolah atau di kamar salah satunya.
Pentas pertama dalam acara perpisahan guru praktik tahun 1987. Tentang anak yang nakal dan anak yang jujur. Pementasan berikutnya dalam acara Gerakan KB Nasional dan Kunjungan Bupati Boyolali tahun 1988 di dusun Kalisari, Ampel, Boyolali, Jawa Tengah. Tentang banyak anak banyak bencana. Drama ini Ibu Kepala Sekolah yang meminta dan mengisi pesannya. Pentas berikutnya tahun 1988 di perpisahan kakak kelas. Tentang anak yang nakal lantas minta maaf pada ibunya. Dan pentas terakhir tahun 1989 dalam perpisahan kelulusan mereka, tentang saudara yang saling bertengkar lantas bersatu kembali.
Posted in Rini Giri
BANTARAN CODE, APA KABAR?
September 2nd, 2009 Posted 2:13 pm
(Rini Giri)
Aku turun ke Code sebenarnya hanya karena penasaran sama Romo Mangun. Turun di sini dalam arti harafiah lho. Karena Kampung Code itu memang berada di bawah jalan raya, di sepanjang Kali Code, dan kolong jembatan Gondolayu. Antara jalan raya dan perkampungan dihubungkan dengan jalan bertangga yang cukup curam. Jadi aku benar-benar turun! Bukan karena aku merasa lebih tinggi derajatnya lantas merasa harus turun ketika berkunjung ke kampung itu. Sama sekali bukan.
“Pakai baju biasa dan sandal jepit!” Pesan temanku yang mengajakku pertama bertandang ke kampung itu. Bukan apa-apa, itu hanya strategi pergaulan saja. Kalau aku berpakaian biasa, tentu akan lebih gampang berkenalan dengan anak-anak di sana. Temanku ini tergabung dalam sebuah kelompok mahasiswa yang mendampingi belajar anak-anak Code. Setelah Romo Mangun tidak tinggal di Code lagi, acara belajar tiap malam di balai-balai RT didampingi oleh muda-mudi setempat dan kelompok mahasiswa ini.
Posted in Rini Giri
ROMO MANGUN, KAU CINTAKU
September 1st, 2009 Posted 11:36 am
(Rini Giri)
Aku jatuh cinta pada kakek-kakek itu sejak membaca buku pertama yang kutemukan. Burung-Burung Manyar. Wah, ada ya simbah-simbah secerewet ini? Batinku. Tapi petuahnya gak habis buat digali. Waktu itu, masih SMA, aku belum tahu banyak tentangnya. Lantas dia muncul di koran-koran daerah yang kubaca. Rupanya kakek ini sedang dimusuhi pemerintah yang berkuasa kala itu. Karya-karyanya dalam membela kaum miskin dianggap subversif, karena bisa menghambat proses pembangunan. Wah, apa aku jatuh cinta sama orang yang salah? Udah kakek-kekek, masih terlibat kasus subversif pula. Ah, nyatanya tidak. Aku malah makin cinta.
Burung-Burung Manyar tidak mudah dipahai alur ceritanya seperti aku baca novel lainnya. Temanku yang lain pada gandrung pada Lupus dan Olga, tapi kenapa aku malah terobsesi dengan Larasati dan Setodewo? Bahkan aku butuh tiga kali baca dalam kurun waktu lima tahun baru bisa ngeh!Soalnya aku memang tidak cerdas. Bahkan sering telmi. Dulu waktu masih kerja jadi wartawan, redakturku sampai sering nyuruh aku balik ke narasumber gara-gara banyak hal penting yang kelewat. Buntutnya , karena aku lebih bisa menulis daripada liputan, aku dipindah ke rubrik feature yang bahannya cukup baca di perpustakaan dan browsing internet. Telmi-ku memang sungguh terlalu!
Tags: Tahun Baru
Posted in Rini Giri
DAYA INGATKU, DENDAMKU
August 30th, 2009 Posted 3:56 pm
(Rini Giri)
Aku kadang merasa tidak normal. Segala sesuatu bisa kusimpan lama dalam hatiku. Bahkan aku masih ingat secara detail kejadian belasan tahun silam ketika orang yang mengalami peristiwa yang sama sudah lupa sama sekali. Apa yang terjadi dengan diriku?
“Kau masih ingat adik kelas kita yang manis itu? Yang sering kita kecengi bareng? Yang selalu naik bus mini yang sama dengan kita.” Tanyaku pada Rere, sahabatku, beberapa hari lalu.
“Yang mana? Aku lupa.” Jawabnya. Aku berusaha menjelaskan ciri-cirinya lebih rinci lagi, tapi dia tetap tak bisa mengingat. “Apa kau yakin kita pernah sememalukan itu?” Rere sama sekali lupa pada peristiwa dan sosok yang kumaksud. Padahal wajah anak itu jelas-jelas masih terekam di otakku. Bahkan bentuk bibirnya saat tersenyum dan tahi lalat di dagu kanannya.
Posted in Rini Giri
KENAPA AKU LELET, BU?
August 30th, 2009 Posted 11:52 am
(Rini Giri)
“Kenapa di masa kecil aku kurang mendapat perhatian orang, Bu? Kenapa rasanya masa itu tidak seindah masa remajaku? Kenapa seingatku aku tidak pernah disertakan dalam lomba-lomba? Kenapa pula guru tariku tak pernah mengajakku pentas? Kenapa aku juga selalu tertinggal dan tidak selincah lainnya?” Aku bertanya pada ibu.
“Kau penyakitan waktu kecil dulu. Waktumu habis untuk jadwal berobat. Penyakitmu itu bikin kamu tidak pernah bisa konsentrasi.” Jawab ibuku. Ya, aku ingat. Waktu itu aku kelas empat, ikut les tari tradisional. Ketika teman-teman diajak pentas di kelurahan, aku tidak disertakan. Guruku bilang, aku belum juga hapal gerakannya. Aku memang luwes menari, tapi urutan gerakannya hanya mengikuti teman. Tidak bisa menghapal sendiri. Waktu kelas lima SD aku ikut lomba paduan suara tingkat kecamatan. Sebenarnya aku disertakan karena suaraku lumayan lantang, tapi di tengah proses latihan, tempatku ditukar dengan anak lain dan aku hanya dijadikan cadangan. Alasan guruku, aku tidak fokus.
Tags: Natal, Tahun Baru
Posted in Rini Giri
LELAKI KECIL YANG KUCINTA
August 28th, 2009 Posted 1:02 pm
(Rini Giri)
Apa ya yang membuatku jatuh cinta padanya? Badannya kecil dan rambutnya keriting. Jauh dari unsur-unsur kegantengan pada umumnya. Tapi aku suka. Aku sempat menyesal telah menolaknya dan mati-matian berusaha meraih perhatiannya kembali. Apa karena dia anak eksakta, sosok yang kuimpikan untuk melengkapi kekuranganku? Ah, sebenarnya bukan itu alasan utamanya.
Aku lebih merasa nyaman saja berada di dekatnya. Keluguan, kurang gaulku, introvert-ku, minderku bisa dilindunginya. Dia melihat suatu sisi lain yang layak dibanggakan dari hidupku yang serba kurang lengkap. Di depan teman-temannya, dia selalu tanpa beban memperkenalkanku.
Bukankah dirimu sendiri keki jika pergi ke mana-mana dengan seseorang yang lebih sering menundukkan kepala, diam, canggung, dan asyik dengan dunianya sendiri? Itulah aku. Tapi dia malah menganggapnya sebagai sesuatu yang menarik. “Kenapa harus menjadi seperti orang lain jika dirimu nyaman dengan keadaanmu? Tapi, ada baiknya kalau lebih ramah pada orang lain. Sapaan dan senyuman kan bisa mendatangkan teman. Punya teman banyak itu enak lho. Kita jadi punya banyak jalan untuk meraih sesuatu.” Begitu komentarnya. Ya, dari dia, dan sejak dekat dengannya, aku mulai bisa belajar membuka hati dan menjadi lebih ramah pada orang lain.
Posted in Rini Giri
KARTU NATAL, JODOHKU
August 26th, 2009 Posted 7:52 am
(Rini Giri)
Dia pernah kutolak. Tapi akhirnya aku kelimpungan sendiri karena menyesal. Apa ada kesempatan kedua? Wah, dia udah gak nawarin lagi tuh! Lagipula, mana mungkin aku menjilat ludahku sendiri? Gengsi dong! Tapi gimana ya, apa ada cara untuk memancingnya kembali? Waktuku tidak banyak. Jika aku tidak segera bertindak, bisa-bisa dia keburu berpaling sama yang lain. Kata teman, dia jagoan di bidangnya. Banyak cewek-cewek yang bertandang buat tanya ini-tanya itu. Gimana kalau salah satu diantara mereka bisa mengalihkan dunianya dalam waktu singkat? Oh, tidak! Kali ini aku harus jadi juaranya!
Natal sudah berlalu. Hatiku sepi. Kemana kegembiraan yang baru saja kumiliki dalam derai tawa, saling jabat tangan, dan lagu Gloria In Excelsis Deo? Aku merasa sendirian lagi. Sudah berumur sembilanbelas tapi tidak punya pacar. Gerimis dan turunnya kabut dari lereng Merbabu membuatku bergidik. Hatiku terasa dingin. Sudah saatnya aku mengenal cinta. Sudah sangat ingin. Tapi kenapa tak datang juga yang seperti kumau? Katanya jodoh itu di tangan Tuhan. Gak usah dicari bakal datang sendiri. Tapi kok gak datang-datang? Padahal sohibku sudah gonta-ganti tiga kali! Atau jangan-jangan dia cuma try and error ya, tanpa menunggu yang seperti dia mau. Jadi kalau sudah ketahuan gak sesuai selera, putus aja! Amit-amit!
Tags: Natal, Tahun Baru
Posted in Rini Giri
TENTANG RERE
August 25th, 2009 Posted 6:26 pm
(Rini Giri)
Persahabatan kami sudah berumur 28 tahun. Sejak kami mulai masuk SD, 1982. Jangan sangka kami sama sehingga menemukan kecocokan. Kami sangat berbeda. Tapi perbedaan justru bisa mengisi dan melengkapi. Apa yang tidak kupunya dia ada. Apa yang tidak dimilikinya aku mampu. Itulah kenapa hubungan baik kami bisa berjalan seimbang cukup lama. Perbedaan itu saling memperkaya dan membuat kami betah. Masing-masing punya keunggulan dan kelemahan, sehingga kami saling menghargai dan membantu.
Dia pandai pelajaran eksak, aku oon abis. Dia disiplin dan selalu rapi, aku lamban dan sesuka hati. Dia irit dan sederhana, aku boros walau juga sederhana hahaha. Dia lebih cepat tanggap, aku telmi. Dia realistis, aku suka berkhayal. Dia diam dan lebih banyak kerja, aku mau kerja tapi banyak omongnya. Dia penuh kesadaran dan sepenuh hati, aku lupa-lupa ingat. Keunggulanku hanyalah, aku bisa gambar pemandangan lebih bagus. Kalu nembang, suaraku lebih bagus, tapi dia lebih titis dalam membaca notnya. Tapi dari situ kami saling belajar dan menyesuaikan diri.
Posted in Rini Giri













