Tulisan Oleh Rini Giri

PEREMPUAN TANPA LELAKI?

No Comments »

October 3rd, 2009 Posted 12:53 pm

(Rini Giri)

Apa benar perempuan bisa mengerjakan hal-hal hebat tanpa campur tangan kaum pria? Mustahil! Begitu jawaban sebagian besar orang, apalagi kalau yang menjawab kaum adam. Tentu bisa! Dan sangat bisa! Itu jawabanku. Kami, kaum perempuan, membuat sebuah perhelatan besar tanpa sentuhan laki-laki secuilpun. Seratus persen karya perempuan. Waktu itu kaum cowok hanyalah para tamu yang kami undang untuk menyaksikan betapa menakjubkan karya yang telah kami hasilkan.

Pamer, pamer, pamer! Dan suatu sikap bahwa kami bukan elemen dunia yang bisa disepelekan. Kami adalah bagian dunia yang sama hebat. Atau malah lebih hebat? Ah, kami toh tak sesombong itu. Ini bukan gerakan kaum perempuan tak butuh laki-laki kok. Ini hanya suatu tantangan apakah kami bisa mengerjakannya sendiri atau tidak, dan nyatanya kami mampu. Kami toh tetap kaum hawa yang butuh pendamping lawan jenis yang secitra dan setara. Kalau kaum lelaki bilang, “No woman, nuangiiis!!!” Maka kami bilang, “No man, bikin geregetan!!!” Hohohoho.

(more…)



Tags:
Posted in Rini Giri

Tertusuk Padaku, Luka Padamu Jua

14 Comments »

September 8th, 2009 Posted 2:00 am

(Rini Giri)
Lomba Nulis Hari Aksara 2009

Persahabatan kami sudah berumur 28 tahun. Sejak kami mulai masuk SD, 1982. Jangan sangka kami memiliki banyak kesamaan sehingga klop. Kami sangat berbeda, namun saling mengisi dan melengkapi. Apa yang tidak kupunya dia ada. Apa yang tidak dikuasainya aku mampu. Keunggulan dan kelemahan itu membuat kami saling menghargai dan membantu. Berbagi adalah nyawa hubungan ini.

Dia pandai pelajaran eksak, aku telmi abis. Makanya aku selalu belajar padanya. Keunggulanku menggambar dan kami bisa membuat lukisan cat air bersama. Aku banyak ketularan sifat baiknya. Antara lain jadi rajin belajar. Tapi aku gak bisa ikut suka pada pelajaran eksakta.

“Aku mumet, Re. Lebih baik aku cari pacar anak eksakta aja deh. Yang jago matematika, fisika, kimia, gitu.” Keluhku suatu hari.

(more…)



ASRAMA BIKIN AKU GILA!!!

3 Comments »

September 5th, 2009 Posted 1:25 am

(Rini Giri)

Tanggal 23 September  1994, asrama resmi jadi rumahku. “Jangan lupa ember, gayung, piring, gelas, sendok-garpu, speri, sarung bantal, dan gembok.” Kata Suster Kepala ketika aku mendaftar seminggu sebelumnya. Wah, aku datang seperti orang pindah rumah. “Sil, antar adikmu ini ke kamarnya. Kasih tahu barang-barang apa aja yang jadi haknya!” Kakak angkatan yang dipanggil suster langsung menghampiriku dan membantu membawa barang-barangku.

“Namaku Silvi. Kamu pasti Rini ya. Kami sudah menunggu kedatanganmu. Aku pikir akan datang pagi. Ternyata baru sampai sore-sore begini.” Aku tersenyum. Hangat rasanya mendapat sambutan seperti itu. Setiap melewati warga lain di lorong-lorong, mereka selalu tersenyum. “Adik gua ni, baru datang.” Begitu Silvi memperkenalkanku. “Oya, kebetulan tadi aku ambil makan siang untukmu. Kamu pasti capek dan belum makan. Makan dulu aja ya, baru bebenah.” Ujarnya lagi. Oh, alangkah nikmatnya punya kakak angkatan seperti dia. Seramah dan seperhatian itu meskipun sama sekali belum pernah jumpa denganku.

(more…)



Posted in Rini Giri

MALU DI METROMINI

No Comments »

September 4th, 2009 Posted 10:16 pm

(Rini Giri)

Persahabatan kami sudah berumur 28 tahun. Akupun heran kenapa bisa sebetah itu. Jangan sangka kami punya banyak kesamaan, sehingga bisa klop. Beda dari A sampai Z. Sifat, pandangan, dan selera kami benar-benar tak sama. Tapi itulah nikmatnya perbedaan. Yang aku tidak punya, dia ada. Yang dia tidak bisa, aku mampu. Saling mengisi dan melengkapi, membuat kami jadi saling butuh.

Kedekatan itu dimulai sejak masuk SD. Selama SMP selalu sebangku. Kegiatan ekstra kurikuler pun sama. Bahkan kami sering dijadikan satu tim dalam berbagai kegiatan karena dianggap cemistry-nya udah jadi dan tinggal jalan. Baru setelah SMA, mulai tampaklah perbedaan bakat itu. Dia masuk IPA dan aku masuk IPS. Tapi setiap istirahat, kami segera ketemuan lagi.

(more…)



Posted in Rini Giri

GANK DAN DRAMA PERTAMAKU

1 Comment »

September 2nd, 2009 Posted 2:14 pm

(Rini Giri)

Punya teman-teman dekat adalah sebuah berkat. Dari mereka kita bisa belajar aneka rupa. Kitapun merasa berguna ketika mereka meminta peran aktif kita. Ada lima gadis cilik yang  membuat suatu kelompok bermain. Mereka sekelas dan rumahnya saling berdekatan. Dari mereka telah lahir empat pementasan drama. Tentu saja hasil karya sendiri. Latihannyapun ngumpet-ngumpet di belakang sekolah atau di kamar salah satunya.

Pentas pertama dalam acara perpisahan guru praktik tahun 1987. Tentang anak yang nakal dan anak yang jujur. Pementasan berikutnya dalam acara Gerakan KB Nasional dan  Kunjungan Bupati Boyolali tahun 1988 di dusun Kalisari, Ampel, Boyolali, Jawa Tengah. Tentang  banyak anak banyak bencana. Drama ini Ibu Kepala Sekolah yang meminta dan mengisi pesannya. Pentas berikutnya tahun 1988 di perpisahan kakak kelas. Tentang anak yang nakal lantas minta maaf pada ibunya. Dan pentas terakhir tahun 1989 dalam perpisahan kelulusan mereka, tentang saudara yang saling bertengkar lantas bersatu kembali.

(more…)



Posted in Rini Giri

BANTARAN CODE, APA KABAR?

3 Comments »

September 2nd, 2009 Posted 2:13 pm

(Rini Giri)

Aku turun ke Code sebenarnya hanya karena penasaran sama Romo Mangun. Turun di sini dalam arti harafiah lho. Karena Kampung Code itu memang berada di bawah jalan raya, di sepanjang Kali Code, dan kolong jembatan Gondolayu. Antara jalan raya dan perkampungan dihubungkan dengan jalan bertangga yang cukup curam. Jadi aku benar-benar turun! Bukan karena aku merasa lebih tinggi derajatnya lantas merasa harus turun ketika berkunjung ke kampung itu. Sama sekali bukan.

“Pakai baju biasa dan sandal jepit!” Pesan temanku yang mengajakku pertama bertandang ke kampung itu. Bukan apa-apa, itu hanya strategi pergaulan saja. Kalau aku berpakaian biasa, tentu akan lebih gampang berkenalan dengan anak-anak di sana. Temanku ini tergabung dalam sebuah kelompok mahasiswa yang mendampingi belajar anak-anak Code. Setelah Romo Mangun tidak tinggal di Code lagi, acara belajar tiap malam di balai-balai RT didampingi oleh muda-mudi setempat dan kelompok mahasiswa ini.

(more…)



Posted in Rini Giri

ROMO MANGUN, KAU CINTAKU

11 Comments »

September 1st, 2009 Posted 11:36 am

(Rini Giri)

Aku jatuh cinta pada kakek-kakek itu sejak membaca buku pertama yang kutemukan. Burung-Burung Manyar. Wah, ada ya simbah-simbah secerewet ini? Batinku. Tapi petuahnya gak habis buat digali. Waktu itu, masih SMA,  aku belum tahu banyak tentangnya. Lantas dia muncul di koran-koran daerah yang kubaca. Rupanya kakek ini sedang dimusuhi pemerintah yang berkuasa kala itu. Karya-karyanya dalam membela kaum miskin dianggap subversif, karena bisa menghambat proses pembangunan. Wah, apa aku jatuh cinta sama orang yang salah? Udah kakek-kekek, masih terlibat kasus  subversif pula. Ah, nyatanya tidak. Aku malah makin cinta.

Burung-Burung Manyar tidak mudah dipahai alur ceritanya seperti aku baca novel lainnya. Temanku yang lain pada gandrung pada Lupus dan Olga, tapi kenapa aku malah terobsesi dengan Larasati dan Setodewo? Bahkan aku butuh tiga kali baca dalam kurun waktu lima tahun baru bisa ngeh!Soalnya aku memang tidak cerdas. Bahkan sering telmi. Dulu waktu masih kerja jadi wartawan, redakturku sampai sering nyuruh aku balik ke narasumber gara-gara banyak hal penting yang kelewat. Buntutnya , karena aku lebih bisa menulis daripada liputan, aku dipindah ke rubrik feature yang bahannya cukup baca di perpustakaan dan browsing internet. Telmi-ku memang sungguh terlalu!

(more…)



Tags:
Posted in Rini Giri

DAYA INGATKU, DENDAMKU

No Comments »

August 30th, 2009 Posted 3:56 pm

(Rini Giri)

Aku kadang merasa tidak normal. Segala sesuatu bisa kusimpan lama dalam hatiku. Bahkan aku masih ingat secara detail kejadian belasan tahun silam ketika orang yang mengalami peristiwa yang sama sudah lupa sama sekali. Apa yang terjadi dengan diriku?

“Kau masih ingat adik kelas kita yang manis itu? Yang sering kita kecengi bareng? Yang selalu naik bus mini yang sama dengan kita.”  Tanyaku pada Rere, sahabatku, beberapa hari lalu.

“Yang mana? Aku lupa.” Jawabnya. Aku berusaha menjelaskan ciri-cirinya lebih rinci lagi, tapi dia tetap tak bisa mengingat. “Apa kau yakin kita pernah sememalukan itu?” Rere sama sekali lupa pada peristiwa dan sosok yang kumaksud. Padahal wajah anak itu jelas-jelas masih terekam di otakku. Bahkan bentuk bibirnya saat tersenyum dan tahi lalat di dagu kanannya.

(more…)



Posted in Rini Giri

KENAPA AKU LELET, BU?

No Comments »

August 30th, 2009 Posted 11:52 am

(Rini Giri)

“Kenapa di masa kecil aku kurang mendapat perhatian orang, Bu? Kenapa rasanya masa itu tidak seindah masa remajaku? Kenapa seingatku aku  tidak pernah disertakan dalam lomba-lomba? Kenapa pula guru tariku tak pernah mengajakku pentas? Kenapa aku juga selalu tertinggal dan tidak selincah lainnya?” Aku bertanya pada ibu.

“Kau penyakitan waktu kecil dulu. Waktumu habis untuk jadwal berobat. Penyakitmu itu bikin kamu tidak pernah bisa konsentrasi.” Jawab ibuku. Ya, aku ingat. Waktu itu aku kelas empat, ikut les tari tradisional. Ketika teman-teman diajak pentas di kelurahan, aku tidak disertakan. Guruku bilang, aku belum juga hapal gerakannya. Aku memang luwes menari, tapi urutan gerakannya hanya mengikuti teman. Tidak bisa menghapal sendiri. Waktu kelas lima SD aku ikut lomba paduan suara tingkat kecamatan. Sebenarnya aku disertakan karena suaraku lumayan lantang, tapi di tengah proses latihan, tempatku ditukar dengan anak lain dan aku hanya dijadikan cadangan. Alasan guruku, aku tidak fokus.

(more…)



Tags: ,
Posted in Rini Giri

LELAKI KECIL YANG KUCINTA

No Comments »

August 28th, 2009 Posted 1:02 pm

(Rini Giri)

Apa ya yang membuatku jatuh cinta padanya? Badannya kecil dan rambutnya keriting. Jauh dari unsur-unsur kegantengan pada umumnya. Tapi aku suka. Aku sempat menyesal telah menolaknya dan mati-matian berusaha meraih perhatiannya kembali. Apa karena dia anak eksakta, sosok yang kuimpikan untuk melengkapi kekuranganku? Ah, sebenarnya bukan itu alasan utamanya.

Aku lebih merasa nyaman saja berada di dekatnya. Keluguan, kurang gaulku, introvert-ku,  minderku bisa dilindunginya. Dia melihat suatu sisi lain yang layak dibanggakan dari hidupku yang serba kurang lengkap. Di depan teman-temannya, dia selalu tanpa beban memperkenalkanku.

Bukankah dirimu sendiri keki jika pergi ke mana-mana dengan seseorang yang lebih sering menundukkan kepala, diam, canggung, dan asyik dengan dunianya sendiri? Itulah aku. Tapi dia malah menganggapnya sebagai sesuatu yang menarik. “Kenapa harus menjadi seperti orang lain jika dirimu nyaman dengan keadaanmu? Tapi, ada baiknya kalau lebih ramah pada orang lain. Sapaan dan senyuman kan bisa mendatangkan teman. Punya teman banyak itu enak lho. Kita jadi punya banyak jalan untuk meraih sesuatu.” Begitu komentarnya. Ya, dari dia, dan sejak dekat dengannya, aku mulai bisa belajar membuka hati  dan menjadi lebih ramah pada orang lain.

(more…)



Posted in Rini Giri

KARTU NATAL, JODOHKU

3 Comments »

August 26th, 2009 Posted 7:52 am

(Rini Giri)

Dia pernah kutolak. Tapi akhirnya aku kelimpungan sendiri karena menyesal. Apa ada kesempatan kedua? Wah, dia udah gak nawarin lagi tuh! Lagipula, mana mungkin aku menjilat ludahku sendiri? Gengsi dong! Tapi gimana ya, apa ada cara untuk memancingnya kembali? Waktuku tidak banyak. Jika aku tidak segera bertindak, bisa-bisa dia keburu berpaling sama yang lain. Kata teman, dia jagoan di bidangnya. Banyak cewek-cewek yang bertandang buat tanya ini-tanya itu. Gimana kalau salah satu diantara mereka bisa mengalihkan dunianya dalam waktu singkat? Oh, tidak! Kali ini aku harus jadi juaranya!

Natal sudah berlalu. Hatiku sepi. Kemana kegembiraan yang baru saja kumiliki dalam derai tawa, saling jabat tangan, dan lagu Gloria In Excelsis Deo? Aku merasa sendirian lagi. Sudah berumur sembilanbelas tapi tidak punya pacar. Gerimis  dan turunnya kabut dari lereng Merbabu membuatku bergidik. Hatiku terasa dingin. Sudah saatnya aku mengenal cinta. Sudah sangat ingin. Tapi kenapa tak datang juga yang seperti kumau? Katanya jodoh itu di tangan Tuhan. Gak usah dicari bakal datang sendiri. Tapi kok gak datang-datang? Padahal sohibku sudah gonta-ganti tiga kali! Atau jangan-jangan dia cuma try and error ya, tanpa menunggu yang seperti dia mau. Jadi kalau sudah ketahuan gak sesuai selera, putus aja! Amit-amit!

(more…)



Tags: ,
Posted in Rini Giri

TENTANG RERE

2 Comments »

August 25th, 2009 Posted 6:26 pm

(Rini Giri)

Persahabatan kami sudah berumur 28 tahun. Sejak kami mulai masuk SD, 1982. Jangan sangka kami sama sehingga menemukan kecocokan. Kami sangat berbeda. Tapi perbedaan justru bisa mengisi dan melengkapi. Apa yang tidak kupunya dia ada. Apa yang tidak dimilikinya aku mampu. Itulah kenapa hubungan baik kami bisa berjalan seimbang cukup lama. Perbedaan itu saling memperkaya dan membuat kami betah. Masing-masing punya keunggulan dan kelemahan, sehingga kami saling menghargai dan membantu.

Dia pandai pelajaran eksak, aku oon abis. Dia disiplin dan selalu rapi, aku lamban dan sesuka hati. Dia irit dan sederhana, aku boros walau juga sederhana hahaha. Dia lebih cepat tanggap, aku telmi. Dia realistis, aku suka berkhayal. Dia diam dan lebih banyak kerja, aku mau kerja tapi banyak omongnya. Dia penuh kesadaran dan sepenuh hati, aku lupa-lupa ingat. Keunggulanku hanyalah, aku bisa gambar pemandangan lebih bagus. Kalu nembang, suaraku lebih bagus, tapi dia lebih titis dalam membaca notnya. Tapi dari situ kami saling belajar dan menyesuaikan diri.

(more…)



Posted in Rini Giri

COWOK EK-SIM? KAPOK!!!

10 Comments »

August 25th, 2009 Posted 12:16 pm

(Rini Giri)

Cowok eksim? Eks seminari? Kenapa tidak? Secara fisik, mereka fit karena dapur seminari selalu menghidangkan menu diet sehat. Rendah kolesterol, lemak, tapi kaya protein dan vitamin. Rata-rata mereka lurus, tak ada yang buncit. Raut wajahnya juga bersih, pakaian biasa rapi, bersahaja dan yang jelas mereka bisa cuci baju sendiri. Hebatnya lagi, gak ada yang berjalan sambil nunduk atau tengadah pongah. Serba percaya diri dan tersenyum yakin. Mungkin ada kurikulum khusus yang membuat mereka rata-rata (!) jadi seperti itu.

Di kelas agama, ada enam anak lulusan seminari menengah. Dari berbagai jurusan di fakultas. Ada tiga yang berkesan. Dalam setiap sesi, mereka tampak menonjol. Banyak tanya, banyak sanggah, banyak kritik, dan banyak juga sarannya. Walau begitu gayanya sederhana sekali, mungkin sudah dididik untuk tidak terikat pada hal duniawi.

(more…)



Posted in Rini Giri

DIA MASUK NOVISIAT? PEDULI AMAT!

No Comments »

August 23rd, 2009 Posted 3:41 pm

(Rini Giri)

Pernah ditaksir orang dan kau tidak suka? Bagaimana perasaanmu jika dia tiba-tiba datang ke rumah dan membawakan segepok bunga anggrek ungu? Wuhh, dongkol sekali. “Bunga-bunga ini kupetik sebagai panenan pertama. Tolong kautaruh di mejamu ya. Dari kebunku, hasil keringatku, hanya buatmu.” Ujarnya di suatu Hari Minggu. Untunglah aku diajari sopan-santun oleh ibu.

“Bunga sebanyak itu sebaiknya buat altar gereja saja. Kan bagus tuh…warnanya ungu…cocok buat masa adven.” Kataku beralasan. “Nggak. Bunga ini buatmu.” Dia sungguh-sungguh. Kedua tanganku bergerak-gerak mengisyaratkan penolakan. Tapi kedua tangannya terus-terusan mengulurkan segepok anggrek itu. Aku hampir berteriak.

“Ya sudah, ambil saja bunganya. Nanti sore ada pertemuan adven di rumah Bu Gito. Biar bisa dipakai di sana.” Kilah ibu yang seolah sengaja lewat dan ingin menyelamatkanku. Hoh, terselamatkanlah aku. Muka tukang anggrek itu agak pucat, seolah tak rela bunganya salah sasaran. “Terima bunganya, Rin. Nanti biar ibu yang mengantar ke rumah Bu Gito. Pasti beliau senang.” Aku tersenyum, lantas menerima bunga itu. “Makasih ya.” Ucapku. Meraih gepokan bunga itu dari tangannya dan berlalu masuk rumah meninggalkan pemuda itu terbengong-bengong.

(more…)



Posted in Rini Giri

I MISS YOU, BRO!!!

1 Comment »

August 23rd, 2009 Posted 3:39 pm

(Rini Giri)

Apa kau punya kakak? Gimana rasanya? Aku lahir sebagai anak perempuan sulung dengan dua adik laki-laki. Anak pertama dituntut untuk jadi sempurna, supaya para adik bisa menjadikannya teladan. Oh, berat sekali kewajiban yang harus kupikul. Sedikit saja aku melakukan hal yang menyimpang, teguran langsung datang. “Kau ini anak tertua, harapan keluarga! Apa jadinya keluarga ini jika kau berbuat sesukamu! Kau mau adik-adikmu juga ikut-ikut tidak benar?”

Aku harus jaga citra. Diriku maupun keluarga. Harus menjadi contoh, kalau perlu tempat semua harapan keluarga ditaruh. Sekian tahun aku harus lurus berada dalam cara pandang orang tua dalam mengungkapkan kasih sayang pada anaknya. “Ini semua kami lakukan karena kami sangat mengasihimu.” Begitu alasan mereka. Aku lahir dan dihidupi mereka, jadi apa daya, hanya lurus menurut yang aku bisa.

(more…)



Posted in Rini Giri

INDONESIAKU, JANGAN BERLALU!

1 Comment »

August 17th, 2009 Posted 1:00 pm

(Rini Giri)

Indonesia. Gugusan pulau-pulau subur. dari Sumatra hingga papua. Untaian tanah-tanah makmur. dari barat hingga ke timur. Negeri agraris yang kaya akan budaya. Bumi persada yang santun dan bernorma.

Indonesia. Laut biru menjadi bingkainya. Selat dan teluk menjadi penghubungnya. Pasir putih dan debur ombak pantai menjadi pesonanya. ajaran samudra yang kaya. Jalinan budaya maritim yang gagah berani. Dengan galangan kapal da armada bahtera yang kuat.

Indonesia. Negeri pulau kelapa. Dengan angin muson barat dan timur. Yang mendatangkan musim untuk menuai dan menabur. Dirgantara yang jaya. Langit biru bersih dengan awan kumulus putih. Kaya akan satwa dan bunga-bunga. Dimana matahari berbinar sepanjang tahunnya.

(more…)



Posted in Rini Giri

Tangis Sang Cucu

No Comments »

August 9th, 2009 Posted 8:30 pm

(Rini Giri)

Gadis belia dengan dua kuncir memandang meja. Semangkuk agar-agar telah membeku. Belum ada yang menyuapkan atau memang tidak selera makan? Dia menoleh pada ibunya. Perempuan itu tersenyum dan mengangguk setuju. Si dua kuncir segera memburu ke meja. Sendok di nampan yang sama juga diambil.

Bibir kering dan mengelupas tersentuh sendok dan sejuknya agar-agar. Sedikit terbuka dan menerima suapan siapa saja yang rela. Si gadis belia sangat gembira. Mengetahui apa yang dilakukannya. Tapi bibir itu tetap bisu. Padahal gadis belia sangat ingin dipanggil namanya. Dia hanya ingin mendapat balasan cinta lewat kata-kata. Tapi rupanya tak bisa.

“Apa dia senang aku suapi, Bu?” Tanyanya ragu.”Tentu, dia tau kau mengasihinya.” Tapi bibir itu tak bergerak, kecuali ada sendok dingin yang menyentuhnya. “Kenapa dia dulu memanggilku dengan nama Inka? Bukankah namaku Moni? Apa ibu salah memperkenalkanku?” Ibunya menggeleng. “Apa aku mirip anak yang bernama Inka itu?” Ibunya mengangguk. Tampak ada getaran di bibir perempuan itu. Diam-diam tangannya mengusap ujung mata. “Apa Inka juga suka menguncir rambutnya?” Ibunya memejamkan mata, dan sekarang aliran itu tak terbendung lagi. “Kenapa menangis, Bu? Apa ibu kenal Inka? Apa dia sudah tidak ada lagi?” Gadis belia menanti jawaban. Tapi ibunya hanya tertunduk sambil mengelus tangan beku berbibir kaku  itu.

(more…)



Posted in Rini Giri

SURGAKU BERLALU

No Comments »

August 7th, 2009 Posted 1:59 pm

(Rini Giri)

Masa kecilku habis di Kaki Merbabu. hamparan tanah hijau penuh bahan makanan. Pisang, jambu, ubi, talas, singkong, dan labu tinggal memetik di kebun jika mau. Ladang-ladang penuh jagung dan kelapa. Bahkan jika aku dan teman-teman menyusuri tepi jurang, buah-buah kecil masak bisa mengenyangkan perut kami. Caplukan, ranti, dan ucen-ucen.

Sebuah kali membelah desa kami. Airnya jernih seperti hati bayi. Semua orang mandi, mencuci dan mengguyang ternak di sepanjang alirannya. Ceruk di dekat pancuran adalah sahabat anak-anak. Melompat, mencebur, dan mandi tanpa sabun. Pupus daun sengon biasa untuk menggosok badan dan tubuh sapi. Sesuatu yang surgawi dan alami.

Itu cerita tentang kaki Merbabu duapuluh lima tahun lalu. Kini anak-anak sudah tidak main boneka jagung atau wayang batang lamtoro lagi. Tapi robot-robaotan plastik yang kan segera jadi sampah jika rusak. Aku tidak melihat buah-buah pohon perdu lagi. Aliran kali itupun sudah mati, tinggal batu-batu kali yang merana sendiri.

(more…)



Posted in Rini Giri

Hai, Nulisers! Salam kenal dari Rini Giri

5 Comments »

August 5th, 2009 Posted 9:14 pm

(Rini Giri)

Aku mulai suka menulis sejak mengenal huruf dan bisa baca. Waktu SD aku menulis di buku harian berupa buku tulis biasa. Setelah SMP aku sering membaca tulisanku di ulang tahun teman. Di SMA akupun mulai ikut lomba tulis-menulis. Saat menentukan jurusan di universitas, aku sudah tahu pasti mau memilih yang mana. Aku ingin jadi wartawan.

Tapi rupanya aku hanya bisa bertahan empat tahun sebagai wartawan di beberapa media cetak Jakarta. Pernikahan dan kelahiran anak, membuat profesi itu sudah tidak cocok lagi bagiku. Dengan kesadaran dan kerelaan penuh, akupun mundur. Namun keinginan untuk menulis selalu menggerakkan jari-jariku untuk mengetik sebuah kalimat, paragraf, dan jadilah ratusan file di komputerku.

Sebagian kecil naskahku laku di media massa, tapi sebagian besar hanya mengendap saja di komputer. Aku pikir menulis itu harus mendatangkan uang. Jadi aku stress sendiri ketika sebagian besar naskah dikembalikan lagi padaku.

(more…)



Posted in Rini Giri

Moto hidupku

No Comments »

April 29th, 2009 Posted 11:09 am

Kata-kata yang menyentuh bagiku adalah :

Dengan memberi, maka kelimpahan akan diberikan padamu. Mungkin yang diberikan pada kita bukan kelimpahan materi tapi kelimpahan akan rasa bahagia. Sebab tak ada satupun wajah seorang pemberi yang muram durja. Pasti ada senyum di sana.

Dengan menyapa, maka kesegaran jiwa akan kaudapatkan. Mendahului tersenyum pada orang lain tentu membawa sensasi yang luar biasa. Kalau orang ingin tersenyum pada kita, maka kita yag harus tersenyum lebih dahulu pada orang lain.

Dengan rendah hati, maka rasa hormat akan datang menghampiri dengan sendirinya. Jika kita ingin menjadi yang terdepan maka kita harus berani untuk mendorong di barisan paling belakang. Jika kita ingin menjadi pemimpin maka kitapun harus mau mendengar bawahan. Sebab yan terkecil akan menjadi yang terbesar. Layanilah, dan bukannya malah minta dilayani.

Dengan mengampuni, maka luka dalam batin akan tersembuhkan. Kadang kita tertekan justru oleh dendam dan amarah yang tak berkesudahan. Semua itu bisa menggerogoti tubuh dan mental kita menjadi penyakit dan gangguan jiwa. Namun bila kita mau mengampuni dan memaafkan, rasa lega yang kita dapat akan menyembuhkan luka-luka kita dan kitapun terbebas dari penyakit-penyakit itu.

Maka :

Aku ingin memberi bukan karena ingin dipuji. Tapi hanya karena belaskasihan.

Aku ingin menyapa bukan karena ingin dianggap terpandang, tapi karena sapaan mengekalkan pertemanan.

Aku ingin rendah hati supaya dikagumi, tapi karena rendah hati itu ringan tanpa beban.

Aku ingin mengampuni bukan karena ingin dianggap suci dan gemar cari pahala, tapi karena ingin mempertahankan sedikit cinta yang masih tersisa di hatiku. Bagaimana jadinya aku jika sudah tak punya lagi perasaan yang namanya cinta?

Ditulis Rini Giri di Bekasi Utara, 29 April 2009 pukul 11.00 WIB

Posted in Rini Giri