Archive for the San San Tjahaya Category
Sekolah Kehidupan
March 9th, 2010 Posted 1:42 pm
(San San Tjahaya)
Selama kira-kira 1 bulan terakhir ini aku didera permasalahan yang cukup pelik. Selama itu pula aku merasa bahwa Tuhan mengingatkan dan mengajarkan beberapa hal mengenai kehidupan ini kepadaku.
Yang pertama adalah berserah penuh. Akumengalami titik di mana aku merasa tidak mempunyai jalan keluar dan tak ada satu hal pun yang dapat kulakukan lagi mengenainya. Aku belajar untuk menerima bahwa segala usahaku sungguh tak ada artinya. Dan di saat-saat seperti itu hanya satu hal yang dapat kami lakukan, yaitu berserah dan memasrahkan semuanya kepada Tuhan. Berharap hanya pada belas kasihan dan kasih setia-Nya karena aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan.
Tags: Kehidupan
Posted in San San Tjahaya
Bunga
March 4th, 2010 Posted 1:50 pm
Bunga itu tertunduk layu pada potnya. Warnanya mulai memudar. Helai-helai daunnya tampak kering, beberapa bahkan sudah tanggal dari tangkainya.
Pot itu kini teronggok di pojok, hampir tak terlihat dan tak mencolok. Pot baru yang berisi bunga segar nan cantik berseri berdiri riang menggantikan posisi kesayangan sang majikan di ambang jendela kamarnya.
Bentuknya yang mutakhir, warnanya yang cemerlang, sampai pada potnya yang tampak bersih mengkilap kelihatan pantas bertengger di sana. Sang majikan tak pernah lalai menyiraminya dengan air yang menyejukkan dan memberinya pupuk yang menyehatkan dan kian menonjolkan kecantikan si bunga baru.
Seandainya bunga bisa menangis, ia akan menangis. Meratapi kesederhanaan dirinya, meratapi kenangan yang seolah tak bernilai bagi sang majikan, dan meratapi kematiannya yang kian mendekat dan tak dapat ditampiknya.
Dia berjuang semampu dia bisa. Dicobanya untuk memancarkan sisa-sisa warnanya. Dicobanya untuk menghisap apa yang bisa didapatnya dari tanah kering yang ditempatinya. Dicobanya untuk menebarkan keharumannya meski hal itu akan menghabiskan seluruh tenaganya.
Sang majikan pun tak tega untuk membuangnya. Bunga kecil yang diperolehnya saat ia masih belum mempunyai apa-apa. Bunga kecil yang selalu ada di sana walaupun tidak membanggakan dan terkadang merepotkan. Mungkin itulah sebabnya sampai kini ia masih menaruhnya di pojok yang berdebu, meski sebisa mungkin tak dipandangnya.
Pagi itu, setelah melalui satu lagi malam yang begitu gelap dan membekukan, seperti biasa si bunga kecil berusaha mengangkat wajahnya untuk melihat sekilas bayangan sang majikan yang selalu membuka jendelanya di pagi hari.
Tak seperti biasanya, pagi itu embun terasa begitu menyejukkan. Tak seperti biasanya pula, pagi itu semua gerakan terasa begitu mudah. Si bunga kecil bisa mengangkat wajahnya, mengembangkan daun-daunnya, meliukkan batangnya.
Betapa cerahnya mentari bersinar pagi ini. Betapa ringan tubuhnya. Betapa cantiknya dirinya. Begitu ringan sehingga ia merasa dapat melayang. Dikembangkannya daun-daunnya yang lebat dan segar. Ditengadahkannya wajahnya yang berseri dan cemerlang kea rah matahari, dan ia pun terbang. Semakin tinggi ke angkasa, meninggalkan pot yang selama ini menjadi rumahnya. Meninggalkan semua cinta dan kepedihannya menuju sepasang tangan yang terbuka dan seraut wajah yang tersenyum menyambutnya pulang.
Tak dilihatnya lagi apabila sang majikan menghela napas lega memandang sisa-sisa tubuhnya yang telah tak bernyawa dan menyingkirkannya dengan segera. Tak dilihatnya pula apabila sang majikan menangis dan merindukan kenangan bersamanya.
Kini hanya kedamaian yang dirasakannya. Tak ada duka, tak ada kesakitan, tak ada penyesalan.
Untuk semua bunga yang terluka…
Untuk semua bunga yang telah memudar…
Untuk semua bunga yang berjuang…
Tags: Cerpen
Posted in San San Tjahaya
Petualangan Jonah
February 4th, 2010 Posted 3:31 pm
(San San Tjahaya)
Ini adalah sebuah kisah tentang seekor anak tupai bernama Jonah. Jonah tinggal di dalam sebuah lubang pada sebatang pohon kenari bersama ayah dan ibunya di taman kota. Sebenarnya, Jonah adalah seekor anak tupai yang baik. Ia selalu mau membantu dan selalu ingin menyenangkan orang lain.Akan tetapi entah kenapa ia sering sekali dimarahi. Yahh, memang tupai dewasa itu sulit dimengerti. Jonah juga sering mengalami kecelakaan-kecelakaan yang sepertinya selalu menimpanya. Tapi toh sampai sekarang Jonah masih sehat dan giat berlompatan dari pohon ke pohon, jadi itu bukan masalah kan?
Hari itu Jonah akan pergi bermain ke kolam kecil di tengah taman.
“Bu, aku mau bermain dengan Toby di kolam!” seru Jonah
“Hati-hati Jonah, jangan dekat-dekat air!” ibunya balas berseru dari dalam rumah mereka.
“Baik Bu!” Jonah menyahut sambil melompat ke pohon sebelah. Karena melompat sambil menoleh, Jonah tidak melihat arah tujuannya dan… BUK! Jonah menabrak dahan tempat di mana ia seharusnya mendarat. GEDEBUG! Jonah jatuh telentang di tanah, untung tanah itu berumput tebal.
“Jonah! Kau jatuh lagi?!” Ibu Jonah menjulurkan kepalanya dari lubang tempat tinggal mereka.
“Tak apa-apa, Bu!” Jonah menjawab sambil meringis dan menggosok-gosok pinggangnya yang sakit. Ibu Jonah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil masuk kembali ke dalam rumah.
Tags: Cerpen, Fabel
Posted in San San Tjahaya
A Tribute to Fredy Widjaja
January 8th, 2010 Posted 10:54 pm
(San San Tjahaya)
Pada hari Sabtu, tanggal 26 Desember 2009 yang lalu, saya mendapat kabar yang sangat mengejutkan. Seorang teman meninggal dunia di usianya yang masih sangat muda karena serangan jantung mendadak. Padahal selama ini tidak ada gejala bahwa dia mengidap kelainan jantung. Dia meninggalkan seorang istri dan seorang putri berusia 8 bulan.
Dia bernama Fredy Widjaja. Pertama kali aku mengenalnya kira-kira 10 tahun yang lalu. Saat itu kami tergabung dalam suatu kelompok persekutuan yang bertempat di rumahku. Sebetulnya, dia adalah teman kuliah adikku. Adikku kemudian mengajaknya bergabung dalam pertemuan persekutuan doa kami.
Tags: Sahabat, Teman
Posted in San San Tjahaya
KUCING
January 5th, 2010 Posted 6:30 pm
(San San Tjahaya)
Pada dasarnya aku adalah seorang penyayang binatang. Hampir semua binatang aku suka. Memang terutama binatang yang berbulu halus atau yang menggemaskan. Tetapi banyak binatang lain seperti serangga, ikan, bahkan beberapa reptilia dan ular cukup menarik di mataku. Hanya ada beberapa hewan yang memang tak dapat kutoleransi dan menjadi phobia bagiku.
Tetapi di atas semua jenis hewan, kucing merupakan hewan favoritku. Mengapa kucing? Padahal ada sebagian orang justru membenci hewan yang satu ini. Mitos yang banyak kita dengar adalah bahwa kucing itu hewan yang egois dan hanya memanfaatkan majikannya. Susah diatur dan berbuat sekehendak hatinya, datang dan pergi pun semaunya, tidak setia seperti anjing misalnya. Justru alasan inilah yang menggelitikku untuk sedikit membagikan sedikit pengalamanku berinteraksi dengan jenis hewan ini.
Tags: Belajar, Sharing
Posted in San San Tjahaya
Minggu Stress
December 18th, 2009 Posted 11:15 pm
(san San Tjahaya)
Seminggu kemarin mungkin adalah salah satu minggu terberat yang kualami selama tahun ini. Padahal selama ini jarang-jarang aku menyerah terhadap deraan masalah, tapi seminggu kemarin sepertinya batas ketahananku sudah melewati titik puncaknya.
Pertama-tama suamiku jatuh sakit, setelah sembuh, giliran anakku yang jatuh sakit. Seolah belum cukup, pembantuku yang biasa membantu mengasuh si kecil pun jatuh sakit dan minta pulang kampung. Ditambah lagi tamu bulananku memilih datang pada hari itu. Sakit kepala, sakit kaki dan mulas-mulas pun menemani hari-hariku. Akhirnya aku dan suamiku memutuskan untuk bergilir antara menjaga toko dan mengasuh anak yang sakit.
Tags: Belajar, Hari-hari, Maaf
Posted in San San Tjahaya
Bahasa Kasih
November 22nd, 2009 Posted 11:07 am
(San San Tjahaya)
Setiap orang mempunyai cara masing-masing untuk menyatakan atau menunjukkan kasihnya kepada orang-orang di sekitarnya. Memang ada banyak cara untuk menyatakan kasih, akan tetapi sayangnya seringkali pernyataan cinta ini disalah artikan atau tidak disadari oleh orang yang menerimanya. Padahal memahami bahasa kasih ini juga adalah salah satu bagian dari ilmu komunikasi yang sangat penting dalam memastikan kelancaran hubungan dan interaksi antar manusia.
Sebetulnya ada referensi ilmiah mengenai bahasa kasih ini, dan mungkin ada yang akan melengkapi artikel ini nantinya. Tapi saya sebagai orang awam akan mencoba membahasnya sedikit karena seringkali dalam kehidupan sehari-hari justru kesalahpahaman mengartikan bahasa kasih ini seringkali menjadi pemicu timbulnya konflik dalam suatu hubungan, khususnya hubungan suami istri atau kekasih, tetapi tak jarang juga terjadi dalam hubungan persahabatan atau hubungan antara orang tua dan anak.
Tags: Belajar
Posted in San San Tjahaya
Tik… Tok…!
November 17th, 2009 Posted 8:27 pm
(San San Tjahaya)
Tik… tok…! Tik… tok…!
Detik jam di sudut kamarku
Bandulnya tak lelah mengayun
Jarumnya tak lelah berputar
Terus… dan terus… dan terus…
Seperti jantungku
Dag… dug…! Dag… dug…!
Detak jantung di dalam dadaku
Tak hentinya berdenyut
Seperti napasku
Sst…hah…! Sst… hah…!
Tarikan dan hembusan
Tak putus-putus silih berganti
Posted in San San Tjahaya
My Brother Christopher
November 17th, 2009 Posted 8:22 pm
(San San Tjahaya)
Hi! My name is Lucky. I’m 9 years old. I want to tell you a story about my little brother. His name is Christopher. He’s fifteen months old. He can walk already, but he cannot talk yet.
My mom says I have to give good examples because Chris imitates everything I do. When I play ball, he will try to catch the ball, and my mom will shout, “Be careful, don’t kick your brother!”
When I play with my toy cars, he will grab the cars and throw them everywhere!
When I try to sleep at night, Chris will climb up my bed, sit down on my belly, and then he will pinch and poke every part of my face, then he will jump up and down on my belly, and he will laugh happily if I laugh at him.
Tags: Cerpen
Posted in San San Tjahaya
Cape Deehhh!!!
November 14th, 2009 Posted 11:49 pm
(San San Tjahaya)
Seonggok bangunan besar mendominasi pemandangan di jendela kamarku di lantai 2. Letaknya menyisi, sehingga aku bisa melihat sisi samping dan belakangnya.
Dari depan, aku pernah melihatnya. Dicat berwarna pink, dengan jendela-jendela yang cantik berhiaskan tirai berwarna senada.
Tapi bagian samping dan belakangnya, berwarna abu-abu semen yang buruk dan kusam. Beberapabagian mulai retak, dan bahkan lumut berwarna hijau kehitaman menandai tempat mengalirnya air hujan. Jendela-jendela yang mati bejejer, menatap nanar dalam kekosongan. Apakah isinya? Gudangkah? Rumahkah? Ditingkahi antena rumah sebelah dan semrawutnya kabel-kabel PLN, sungguh menyedihkan.
Tags: Curhat, Motivasi
Posted in San San Tjahaya
Cerpen : Hamil
November 13th, 2009 Posted 3:13 pm
(San San Tjahaya)
Kupandangi benda di tanganku yang bergetar hebat hingga tampak kabur. Ada banyak garis merah muda di sana. Ada 1? 2? 4? Kupegangi pergelangan tangan kananku dengan tangan kiri untuk menghentikan getarannya. Tampak 2 garis merah muda di sana. Sambil menahan nafas aku melihat kembali kemasan test-pack yang kuletakkan di tepi bak mandi, kubaca petunjuknya.
1 garis merah muda berarti negatif, artinya Anda tidak hamil.
2 garis merah muda berarti positif, artinya Anda hamil.
Hatiku mencelos, kubaca lagi kemasan test-pack itu, kulihat lagi strip putih itu, 2 garis merah muda. Kubaca sekali lagi, berharap aku salah membaca petunjuknya, tapi yang terbaca tetap sama. Mendadak tubuhku menggigil hebat, semburan air es mengalir di setiap tulang dan syaraf tubuhku, dan aku pun bersandar pada dinding kamar mandi, merosot hingga kuterduduk di lantai kamar mandi yang dingin. Strip putih dan kemasan test-pack itu tergeletak di lantai di hadapanku.
Tags: Belajar, Cerpen, Maaf
Posted in San San Tjahaya
4 Sekawan part.2 (The Reunion)
November 11th, 2009 Posted 6:17 pm
(San San Tjahaya)
Akhirnya, terjadi juga reuni 4 sekawan yang dinanti-nanti. Lokasinya di rumah Amul, waktunya Hari Minggu jam 11 siang (menjelang makan siang). Acaranya makan siang bersama dan ngobrol ngalor ngidul tentunya.
Sejak beberapa hari sebelumnya aku sudah berkirim-kiriman SMS dengan anggota 4 Sekawan lainnya, memastikan kehadiran mereka dan mengatur menu yang akan disajikan untuk acara makan siang bersama nanti. Diputuskan setiap orang akan membawa makanan untuk kemudian memakannya bersama-sama.
Seperti anak sekolah menanti rencana darmawisata, kami pun tidak sabar menanti hari reuni kami. Bahkan malam hari sebelum hari H aku sempat bermimpi sedang berkumpul bersama teman-teman 4 sekawanku.
Tags: Maaf, Sahabat, Teman
Posted in San San Tjahaya
Disiplin pada Anak
October 31st, 2009 Posted 11:29 pm
(San San Tjahaya)
Akhir-akhir ini sangat banyak berita tentang kekerasan dalam rumah tangga, yang menyita perhatian saya khususnya kekerasan fisik terhadap anak-anak. Baru-baru ini seorang rekan mengutip berita kematian seorang gadis cilik berusia 2 tahun karena dipukuli ayah kandungnya sendiri. Si ayah mengajukan pembelaan tidak bersalah dengan alasan ingin mendisiplinkan putrinya . Dunia macam apa ini?
Baru minggu yang lalu di gereja, khotbah pendeta minggu itu bertema tentang mendidik dan mendisiplinkan anak. Sempat pula dikutip ayat tentang menghajar anak dengan tongkat. Yang menjadi masalah di sini mungkin penafsiran tentang “tongkat” itu sendiri. Apakah ayat ini harus diartikan secara harfiah?
Tags: Anak, Maaf, Pendidikan, Pola asuh
Posted in San San Tjahaya
Pudding vs Cinta
October 24th, 2009 Posted 8:09 pm
(San San Tjahaya)
Minggu yang lalu saya mendapat pesanan pudding untuk peringatan empat puluh hari kelahiran putri salah seorang teman saya. Sebanyak 54 parsel pudding dalam dua model dipesannya untuk dibagikan kepada sanak saudara dan teman-temannya.
Diawali dengan diskusi soal desain dan pembuatan sampel. Akhirnya diputuskan untuk sanak saudara akan dibuat berbentuk hati, terdiri dari 5 lapisan, yang teratas jelly kenyal berwarna merah dengan taburan buah strawberry di dalamnya, lapisan kedua pudding susu berwarna merah muda, lapisan ketiga agar-agar berwarna merah dengan rasa strawberry, lapisan keempat pudding susu merah muda lagi dan lapisan terakhir adalah pudding coklat sebagai dasar. Sedangkan untuk teman-teman akan dibuat pudding dalam gelas-gelas mini dengan jumlah lapisan yang sama, hanya saja lapisan teratas akan dibuat menonjol berbentuk hati mungil. Kemudian pudding-pudding ini akan dikemas dalam kotak mika tansparan dan dihiasi dengan pita satin merah muda, kartu yang memuat foto, nama dan tanggal lahir si bayi, hiasan boneka berbentuk bayi dan sepasang telur yang juga terbuat dari jelly berwarna merah yang dibungkus kertas mika dan diberi pita.
Tags: Cinta
Posted in San San Tjahaya
Wajah dalam Cermin
October 7th, 2009 Posted 12:57 am
(San San Tjahaya)
Wajah itu menatapku dari dalam cermin. Wajah yang sangat familier, tapi juga asing karena selama ini aku kurang akrab bergaul dengan cermin. Boleh dibilang bahkan aku cenderung untuk menjauhi cermin karena aku kurang menyukai apa yang kutemukan di sana.
Tetapi malam itu aku menatap wajah itu dengan seksama. Memperhatikan setiap detilnya, menganalisa setiap bagiannya.
Aku melihat dahi yang lebar, persis dahi ayahku, dengan warna kulit yang sedikit lebih gelap dari bagian wajahku yang lain (yang juga tidak putih). Ibuku bilang sewaktu melahirkanku dulu, dokter meninggalkan ibuku yang baru mencapai bukaan lima untuk menangani pasien yang sudah mencapai bukaan sepuluh di rumah sakit lain dengan pesan untuk jangan dulu mengejan sebelum dokter kembali. Ternyata dalam waktu yang relatif singkat ibuku sudah mencapai bukaan sepuluh dan aku mulai mendesak keluar. Cukup lama beliau menahanku tepat di jalan lahir. Ketika dokter kembali, begitu melihat ujung rambut sang dokter, ibuku melepas semua pertahanannya dan akupun meluncur keluar dalam satu dorongan. Dahi dan ubun-ubunku berwarna kehitaman karena pembuluh-pembuluh darah di sana sempat terjepit cukup lama ketika ibuku menanti dokter yang tak kunjung datang. Untunglah lama kelamaan warna kehitaman itu memudar walaupun tidak sama persis dengan bagian wajahku yang lain.
Posted in San San Tjahaya














