Tulisan Oleh San San Tjahaya
Retreat MoU (Moment of Unity) – Retreat Pasutri yang mengubahkan hidup berumah tangga
March 22nd, 2011 Posted 1:16 pm
Selama kurang lebih setahun terakhir, aku dan suamiku mengalami banyak pergumulan yang pada akhirnya membawa kami pada satu panggilan, kami terbeban untuk melayani pasangan-pasangan suami isteri, keluarga-keluarga kepada pemulihan dan pengenalan akan Kristus.
Berawal setahun yang lalu ketika rumah tangga kami sendiri mengalami guncangan yang cukup berat, di mana kami hampir menyerah dan menyudahi bahtera rumah tangga yang rasanya begitu berat untuk kami pertahankan. Padahal, saat itu kami melayani di Kelas Bimbingan Pra-Nikah di gereja kami sebagai mentor. Sempat kami mengajukan pengunduran diri dari pelayanan itu, tetapi puji Tuhan saat itu Ibu Helen, pembina Kelas Pra-Nikah sekaligus konselor gereja kami meminta kami untuk setia pada Janji Nikah kami dan setia pada pelayanan kami. Beliau terus mendukung kami dalam doa dan konseling sampai akhirnya kami mengurungkan niat kami untuk berpisah dan bertekad untuk sama-sama memperjuangkan pernikahan ini. Ibu Helen saat itu berkata, “Jika kalian berhasil melewati badai ini, saya yakin kalian akan jadi sepasang mentor yang powerful, dan rumah tangga kalian akan memberkati banyak pasangan lain.”
Tetapi tekad saja ternyata tidak cukup, selama kurang lebih 8 bulan kami terus berkutat dengan kepahitan, kesulitan mengampuni dan ketidakbahagiaan. Sampai suatu hari kami mendengar tentang MoU, sebuah retreat yang dikemas bagi pasangan suami isteri. Kami sempat ragu karena biayanya cukup besar, Rp.1.500.000,-/pasang dan lokasinya pun di luar kota, yang berarti kami harus meninggalkan anak-anak kami dan toko kami selama lebih kurang 4 hari. Tetapi mungkin Tuhan sudah merencanakan dan bila Dia sudah membuka pintu, tak ada satu hal pun yang dapat menutupnya bukan?
Maka akhirnya berangkatlah kami dari Bandung ke Sukabumi. Dan di sana, session demi session yang kami ikuti begitu memberkati dan membukakan mata hati kami sampai kami sungguh mengalami pemulihan dan breakthrough yang sesungguhnya di dalam hubungan kami.
Sampai saat ini kami masih melayani di Kelas Bimbingan Pra-Nikah, dan puji Tuhan kami sudah mendirikan sebuah Komsel Pasutri yang dari waktu ke waktu Tuhan tambahkan jiwa-jiwa ke dalamnya. Pemulihan terjadi di komsel kami, kesatuan hati terbentuk, persaudaraan terjalin, pengenalan akan Tuhan terus kami asah, dan kami berdoa Nama Tuhan dimuliakan melalui kesaksian hidup kami.
Kami rasakan tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan apa yang kami dapatkan di dalam retreat MoU ini, ulasan mengenai bahan yang disampaikan, gambaran mengenai visual aid dan cara penyampaian yang menarik, lokasi retreat dan hidangan yang memuaskan, semuanya itu tidak ada artinya dibandingkan dengan cara Tuhan mengubahkan hidup kami melalui retreat MoU ini.
Karenanya kami pulang membawa api, yang rindu kami bagikan pada pasangan-pasangan dan keluarga-keluarga di sekitar kami. Kami rindu pemulihan terjadi di dalam keluarga-keluarga di kota Bandung ini, seperti kami telah dipulihkan. Karenanya kami mau mengajak setiap pasangan suami isteri yang belum mengikuti MoU untuk mengikuti retreat ini. Dan kami berdoa serta berupaya supaya pada waktunya nanti MoU akan hadir dan memberkati keluarga-keluarga di Tatar Priangan ini. Aminnn…
Posted in San San Tjahaya
Sharing : Kejadian-kejadian dalam Hidup Berkeluarga Sehari-hari (6) Episode Nonton Toy Story 3
July 8th, 2010 Posted 7:15 pm
Pada hari Senin 28 Juni yang lalu kami berencana untuk mengajak anak-anak menonton Toy Story 3 di bioskop. Ini adalah pengalama pertama kali menonton di bioskop untuk Christopher, karenanya sebenarnya kami agak was-was juga karena entah dia bisa bertahan duduk dengan tenang sepanjang film ataukah dia akan rewel dan minta keluar sebelum film berakhir (bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk, hehehe…). Ini juga acara nonton bioskop yang pertama kalinya untuk aku dan suami sejak kami memiliki Chris karena sebelum ini kami merasa dia terlalu kecil untuk diajak ataupun ditinggal hanya dengan pembantu di rumah.
Kami berencana pergi dengan teman dekat keluarga kami, Teguh dan Johana (Jojo). Kebetulan mereka mempunyai kartu blitz megaplex yang menyediakan layanan pesan tiket on-line sehingga kami tidak perlu mengantri untuk membeli tiket. Sebetulnya sejak hari Sabtu sebelumnya Chandra suamiku sedang sakit dan agak tidak enak badan. Tetapi pagi ini dia sudah merasa jauh lebih baik dan kami antusias ingin merasakan nonton di bioskop lagi (ampun, kesannya kampungan banget ya?)
Siang itu kami sudah memesan tiket. 6 tiket untuk pertunjukan pk.19.30. Aku pun membereskan bon-bon di toko lebih awal dari biasanya dengan pertimbangan perjalanan ke Paris Van Java atau PVJ (yang selalu macet) dan perjuangan mencari tempat parkir di mall yang selalu penuh itu (apalagi sekarang musim liburan anak sekolah) akan memakan waktu sekitar 1 jam atau lebih. Aku pun menyiapkan susu dan baju meng kesayangnya Chris untuk berjaga-jaga seandainya dia rewel.
Pukul 18.30. Waktunya tutup toko. Teguh dan Jojo sudah hadir di rumah kami dan menunggu dengan manis. Segera kututup toko kami secepat mungkin. Langsung aku naik ke rumah kami di lantai 2. Aku berlari ke kamar, ternyata Chandra sedang tidur. Kubangunkan dia, kemudian aku pun menyiapkan anak-anak. Setelah mengganti pakaian anak-anak dan cuci muka ala kadarnya karena untuk mandi waktunya tidak cukup, aku kembali ke kamar dan kudapati Chandra terduduk di tempat semula.
“Kenapa Can?” tanyaku
“Ngga, cuman agak lemes aja,” jawabnya.
Waduh! Bagaimana ini? Padahal tiket sudah dipesan.
“Gimana dong? Bisa pergi ngga?” tanyaku lagi.
“Bisa kok,pake jaket aja,” katanya,”Tapi Teguh yang nyetir.”
Maka setelah bersiap-siap akhirnya kami berangkat pukul 19.00. Sangat pas-pasan, habis mau bagaimana lagi?
Ternyata di sepanjang perjalanan keadaan lalu lintas lumayan padat. Dengan agak berdebar-debar kami memandangi jam di sepanjang perjalanan kami. Akhirnya kami tiba di perempatan Pasirkaliki- Pajajaran dan di sana macet total dan banyak polisi. Kami berencana untuk mengambil jalan lurus karena itu adalah jalan yang paling singkat, tetapi karena lalu lintas macet polisi menutup jalan lurus dan membelokkan semua kendaraan ke kanan dan ke kiri.
“Ke kanan Guh! Jangan ke kiri, jauh lagi,” kata Chandra.
“Susah Ko, “kata Teguh agak bingung karena mobil terasa sangat berat dan berjalan sangat perlahan walaupun ia sudah menekan pedal gas sampai mentok dan mesin sudah mengaum –aum dengan kerasnya.
“Belok Ko, belok!” Jojo yang tampaknya belum menyadari ada keanehan pada mobil kami merasa aneh karena mobil kami tidak maju-maju.
Mobil kami merayap dengan sangat berat dan berisik, dan beberapa sentimeter kemudian tiba-tiba Chandra berseru,”Matiin Guh, itu ngebul!”
Dan benarlah dari bawah kap mesin tampak asap tebal mengepul naik ke atas.
Teguh pun mematikan mesin mobil, saat itu posisi mobil kami tepat berada di perempatan jalan yang sangat ramai itu. Chandra dan Teguh segera turun dan membuka kap mesin mobil kami. Bagaikan sepanci sop yang baru matang, begitu dibuka tutupnya asap tebal pun menguar ke mana-mana. Air radiator tampak menggelegak mendidih dan hawa panas membuat Chandra dan Teguh mundur beberapa langkah. Anak-anak ingin ikut turun untuk melihat tetapi tidak kuperbolehkan walaupun semakin lama mereka semakin rewel dan mulai berkelahi karena di mobil sempit dan panas. Bayangkan saja kami berada tepat di tengah perempatan yang ramai dengan banyak mobil dan motor berseliweran di sekitar mobil kami.
“Ci, kata Koko ada air?” tiba-tiba Teguh melongokkan kepala ke dalam mobil. Untunglah aku selalu membawa air minum untuk anak-anak. Kuberikan botol itu kepadanya. Tidak 10 detik kemudian botol itu kembali kepadaku dalam keadaan kosong. Tak lama kemudian aku melihat Chandra sedang berlari menjauh. Rupanya ia mencari mini market terdekat karena ia kembali dengan menjinjing sekantong besar penuh berisi botol-botol besar berisi air mineral. Liter demi liter isi botol-botol itu mengalir ke dalam pipa radiator. Chandra pun sudah melepas jaketnya dan keringat mengalir deras di keningnya. Tetapi tampaknya suhu mobil kami tak kunjung menurun. Akhirnya Chandra menelepon Papa untuk meminta bantuan kalau-kalau mesin mobil tidak dapat dihidupkan kembali. Tetapi sambil menunggu ia terus mencoba untuk mendinginkan mesin mobil dengan air yang dibelinya tadi. Seorang Bapak polisi sempat menghampiri kami, tetapi setelah bertanya apa yang terjadi, ia pun ngeloyor pergi tanpa mencoba menolong ataupun menawarkan bantuan. Yahh, mungkin ia sedang sibuk sekali kali ya?
Saat itu waktu menunjukkan pukul 19.36 (Lucky bahkan mengecek waktu dengan menelepon 103). Sudah terlambat. Kami sudah pasrah karena kelihatannya kami tidak akan jadi nonton dan tiket yang sudah dibayar itu akan sia-sia saja. Lucky sudah cemberut dan berdiam diri di jok belakang. Kalau Chris lain lagi reaksinya. Begitu Lucky bilang sudah terlambat untuk menonton ia langsung berkomentar,”Kita ke IP aja yuk! Tuh udah deket,” katanya sambil menunjuk Istana Plaza yang memang terletak di perempatan jalan itu, tepat di depan mobil kami.
Beberapa menit kemudian Chandra dan Teguh menutup kap mesin dan masuk ke dalam mobil.
“Udah?” aku bertanya setengah tak menyangka bisa secepat ini.
“Bisa lah kayanya mah, pelan-pelan aja,” jawab Chandra, karena sekarang dia yang mengemudikan mobil kami. Aku pun kembali menelepon Papa untuk memberi kabar bahwa mobil sudah bisa jalan kembali. Kasihan Papa karena dia sudah dibangunkan dari tidurnya dan membawakan air untuk kami. Saat aku menelepon pun dia sudah berada di depan IP dari arah yang berlawanan.
Mobil pun merayap perlahan sampai ke Jalan Sukajadi. Tepat di pintu masuk PVJ asap kembali mengepul dari kap mobil dan jalannya mobil pun mulai terseok-seok. Dengan tidak sabar kami menunggu antrian pengambilan tiket parkir di gerbang masuk. Begitu kami mendapatkan tiket parkir dan berbelok ke kanan ke arah tempat parkir mesin mobil kembali mati. Untunglah beberapa petugas parkir membantu kami mendorong mobil dan mencarikan tempat parkir untuk mobil kami.
Sementara Chandra dan Teguh memarkirkan mobil, Jojo, Lucky dan aku yang menggendong Chris berlari kea rah bioskop. Jojo langsung menuju ke mesin untuk mencetak tiket menggunakan kartu blitz nya sementara aku yang kebelet pipis menitipkan Chris kepada Lucky dan berpesan kepada mereka untuk tidak ke mana-mana dan menungguku kembali kemudian berlari ke toilet wanita yang untungnya tidak jauh dari sana.
Begitu keluar dari toilet aku menjumpai anak-anak dan Jojo yang berdiri di tempat aku meninggalkan mereka.
“Ampun Ci, gua ajak geser sedikit ke arah pintu bioskop aja mereka ngga mau bergerak sesenti pun,” kata Jojo,”Kata anak-anak Mama bilang ngga boleh ke mana-mana.”
Hatiku senang bercampur bangga karena mereka anak-anak yang patuh dan dapat dipercaya. Dan kami pun masuk ke dalam ruangan bioskop yang saat itu sudah gelap. Tetapi alangkah terkejutnya aku karena ternyata layar masih menampilkan iklan-iklan untuk film-film yang akan tayang berikutnya. Film nya sendiri belum lagi dimulai. Entah jam di Blitz Megaplex memang lebih lambat atau memang film nya terlambat dimulai. Yang jelas kami sangat bersyukur karena Tuhan mengijinkan kami menonton film tersebut dengan lengkap malam itu.
Sesampainya di deretan kursi kami ternyata kursi-kursi itu sudah ditempati orang lain. Ya ampun! Apalagi ini? Akhirnya kami pun memanggil petugas dan ternyata memang orang-orang yang menempati kursi kami yang salah duduk. Seharusnya mereka duduk di deretan kursi di atas kami. Baru saja kami duduk, tiba-tiba telepon Jojo berbunyi. Rupanya Chandra dan Teguh sudah selesai memarkir mobil dan menunggu di depan pintu. Aku pun kembali keluar untuk memberikan tiket kepada mereka.
Setelah itu kami pun dapat menikmati film dengan tenang, karena ternyata Chris sangat menikmati film tersebut dan duduk dengan tenang. Sesekali ia tertawa apabila ada adegan yang lucu. Aku sangat senang karena anak bungsuku sudah besar. Film nya sendiri sangat bagus dan menghibur, ada adegan-adegan yang membuat kami tertawa terpingkal-pingkal, ada juga adegan-adegan yang menegangkan. Dan keseluruhan cerita membawa pesan moral yang baik tentang persahabatan, kesetiaan, keuletan dan kerja sama. Kami sangat menikmati film tersebut.
Tetapi kira-kira di pertengahan film Chris mulai agak rewel dan ingin keluar, mungkin karena bosan atau mungkin juga takut karena ada adegan yang sangat menegangkan ketika para tokoh utama sedang mencoba kabur dari daerah kekuasaan si boneka beruang jahat dan beberapa kali nyaris tertangkap. Akhirnya aku membujuknya dengan membelikannya pop corn (yang berarti keluar bioskop untuk kesekian kalinya. Mungkin penonton lain agak kesal melihatku bolak-balik keluar masuk bioskop. Untung aku sudah mengantisipasi kemungkinan ini dan memilih tempat duduk paling pinggir tepat di sisi lorong.) Pop corn itu menahan Chris tetap tenang selama kira-kira 15 sampai 20 menit.
Setelah pop corn ludes disantap Chris pun mulai gelisah lagi. Untung aku sudah menyiapkan senjata pamungkas untuk menghadapinya. Sekotak susu kemasan (karena Chris sudah tidak minum susu pakai dot lagi) dan baju meng yang tak pernah gagal membuatnya tenang. Chris pun bergelung nyaman dengan baju meng nya dan menyeruput susunya dengan manis sampai film berakhir. Akhirnya acara nonton ke bioskop pun berhasil dengan sukses. Yeeaaa!!!
Selesai menonton kami kembali dihadapkan dengan masalah yang untuk beberapa waktu tadi kami tinggalkan. Mobil yang mogok! Di lapangan parkir Chandra dan Teguh pun kembali sibuk mengutak-atik radiator di bawah kap mesin. Sungguh beruntung bahwa di ujung lapangan tersebut ada keran air sehingga kami tidak perlu sulit mencari dan membeli air untuk mendinginkan serta mengisi radiator mobil. Lucky kebagian tugas bolak-balik mengisi botol air kemasan dengan air dari keran tersebut. Entah berapa belas kali ia bolak-balik mengisi botol air itu. Sementara aku dan Jojo kebagian tugas menghibur dan memberi kegiatan kepada Chris supaya dia tidak bosan. Kami sempat menelepon beberapa teman untuk meminta bantuan. Ada teman yang malah menertawakan nasib kami, ada teman yang bersimpati tapi tidak dapat membantu, dan akhirnya kami pun kembali membangunkan Papa untuk menanyakan nomor telepon service panggilan Toyota 24 jam. Kasihan Papa, apalagi ternyata nomor tersebut pun sia-sia karena tidak ada yang menjawab panggilan kami padahal kami menelepon lebih dari 10 kali selama lebih dari 15 menit tanpa henti. Maaf ya Pa, hehehe…
Chandra membutuhkan selotip keran untuk mengencangkan baut penutup radiator. Aku, Jojo dan Lucky pun berlari ke pasar swalayan yang berada di lantai bawah pusat perbelanjaan itu. Sebenarnya Chris pun kami ajak, tetapi kira-kira 10 meter dari mobil ia berubah pikiran.
“Chris anter sampe sini aja yah, dadah Mama!” dan ia pun berlari kembali ke arah mobil. Maka setelah menitipkannya pada Chandra kami meneruskan perjalanan kami ke pasar swalayan. Sesampainya di sana ternyata pasar swalayan itu sudah tutup. Pintu masuknya sudah dihalangi oleh bangku-bangku walaupun para karyawannya masih ada dan sedang membereskan barang-barang.
“Maaf mas, boleh ngga saya masuk? Saya perlu selotip keran untuk membetulkan mobil kami yang mogok di tempat parkir,” aku pun meminta tolong karyawan yang ada di sana. Untunglah ia memperbolehkannya. Kami bertiga pun berlari-lari di sepanjang lorong-lorong pasar swalayan yang telah kosong itu untuk mencari barang yang kami perlukan. Rasanya seperti sedang mengikuti kuis yang pada tahun 90-an pernah ditayangkan di televisi, di mana peserta harus menghabiskan sejumlah uang tertentu dengan daftar barang-barang yang harus dipenuhi dalam waktu yang terbatas. Ternyata sulit juga mencari selotip keran. Setelah bertanya pada pramuniaga yang bertugas pun ia tak dapat menemukannya. Untunglah berkat kegigihan Jojo yang rela sampai bertiarap di lantai dan merogoh-rogoh sampai ke setiap ujung rak akhirnya kami menemukannya. Sontak kami bertiga bersorak sorai dan segera berlari ke kasir yang sudah akan ditutup.
Setelah membayar harga selotip tersebut kami pun berlari lagi ke tempat parkir. Sesampainya di tempat parkir dengan terengah-engah kami menyerahkan selotip itu. Chandra berujar,”Beli senter ngga? Gelap nih, ngga keliatan apanya yang rusak. Soalnya airnya ngga habis, tapi setiap mesin menyala jadi mendidih.” Gubrak! Mana bisa? Orang begitu kami selesai membayar tadi pihak pasar swalayan langsung menarik rolling door dan mematikan lampu kok. Kenapa ngga kepikir dari tadi yah?
Cukup lama juga Chandra dan Teguh memutar otak mencari sumber masalahnya. Chandra bahkan sempat menelepon Papi nya untuk meminta masukan apa yang harus dilakukan, tetapi semuanya sia-sia. Sementara itu anak-anak mulai mengeluh lapar. Ya, saat itu sudah lebih dari pukul 22.00 dan kami belum makan malam. Untuk kesekian kalinya malam itu Jojo dan aku berlari-lari melintasi lapangan parkir menuju sebuah restoran waralaba yang berada di halaman pusat perbelanjaan itu. Kami hanya membeli 2 buah burger dan lemon tea untuk anak-anak. Alasannya, pertama karena sedang sibuk Chandra dan Teguh tidak mau makan. Kedua karena tegang dan khawatir aku dan Jojo pun tidak mau makan. Ketiga karena terburu-buru sebelum berangkat aku lupa mengambil uang sebelum berangkat sedangkan di dompet Jojo hanya ada uang yang tak seberapa. Untuk mengambil uang di ATM kami harus masuk lagi ke dalam gedung sedangkan kami lelah dan anak-anak sudah kelaparan, jadi ya sudahlah.
Sekembalinya di mobil anak-anak sudah menanti dengan tidak sabar. Selama mereka makan kami berusaha mencari pinjaman senter pada petugas parkir, petugas keamanan dan pada teman kami yang kebetulan bekerja di salah satu gerai di pusat perbelanjaan PVJ itu. Sayang, usaha kami sia-sia karena tidak ada satu orang pun yang mempunyai senter di sana.
Saat kami sudah hampir putus asa dan berpikir mungkin kami harus menginap di lapangan parkir malam itu, tiba-tiba Chandra menyuruh Teguh masuk ke dalam mobil dan menyalakan AC. Tak lama kemudian dengan berseri-seri Chandra menutup kap mesin mobil dan masuk ke balik kemudi.
“Ayo masuk semuanya!” serunya sambil memasang sabuk pengaman.
“Udah bener emang?” aku bertanya kebingungan.
Mobil pun menggelinding perlahan tapi stabil. Sambil mengusahakan agar mesin tidak bekerja terlalu berat, kilometer demi kilometer kami lalui dengan mulus tanpa kepulan asap dari balik kap mesin. AC dinyalakan sampai batas maksimum dan kami semua menggigil kedinginan. Sambil mengemudi Chandra menjelaskan bahwa tampaknya kipas radiatornya yang mati, bukan radiatornya yang kehabisan air. Karena itulah radiator menjadi panas. Idenya, dengan menjalankan AC sampai batas maksimum kipas AC yang letaknya bersebelahan dengan radiator akan ikut mendinginkan radiator tersebut. Akhirnya kami pun tiba di rumah dengan selamat. Papi Chandra tampak menanti di halaman rumah kami. Setelah melihat kami pulang dengan selamat beliau pun pulang. Terima kasih Papi buat perhatiannya . Teguh dan Jojo pun pamit pulang. Saat itulah rasa lapar mulai terasa di perut kami. Teguh dan Jojo berencana mampir ke McD dalam perjalanan pulang mereka sementara kami yang sudah sampai di rumah cukup senang untuk menghabiskan apa yang ada di meja makan kami.
Kami sungguh bersyukur atas pengalaman kami hari itu. Dari kejadian itu begitu banyak kami menjumpai kebaikan dan penyertaan Tuhan dalam hidup kami. Pertama, saat di mini market akan membeli air, di dompet Chandra hanya ada 1 lembar uang senilai Rp.2.000,- Sambil berdoa ia mengorek setiap lipatan dan selipan di dompetnya. Tiba-tiba di salah satu celah dompet itu ia menemukan selembar uang Rp.10.000,- yang entah kapan ia selipkan di sana. Kedua, walaupun kami tiba di bioskop sangat terlambat ternyata kami tidak ketinggalan film barang 1 menit pun. Ketiga, kami bisa tiba di tujuan dan kembali pulang ke rumah dengan selamat dengan keadaan mobil yang demikian. Keempat, dengan ajaib Tuhan menyediakan keran air di sisi lapangan tempat kami memarkirkan mobil. Kelima, kami masih sempat membeli selotip keran walaupun sebetulnya pasar swalayan itu sudah tutup saat itu. Keenam, Tuhan memberikan hikmat kepada Chandra untuk menemukan permasalahan mesin dan pemecahannya. Dan terakhir, yang paling ajaib, Chandra sembuh total dari masuk angin, lemas-lemas dan pegal-pegal yang dideritanya sejak hari Jumat minggu sebelumnya. Mungkin dengan berolah raga lari ke mini market dan dengan mengucurkan begitu banyak keringat terkena uap panas dari mobil membuat semua angin keluar dari tubuhnya.
Sungguh satu pengalaman yang sangat berkesan bagi kami semua malam itu. Tetapi kami harap pada acara menonton ke bioskop berikutnya kami tidak akan menjumpai kendala seperti yang kami alami malam ini. Hahaha…
Posted in San San Tjahaya
Diam
June 26th, 2010 Posted 10:09 am
Apakah diam?
Diam = marah
Diam = sedih
Diam = malas
Diam = sakit gigi
Diam =???
Perlukah kita mengetahui mengapa seseorang berdiam?
Ataukah kita mencari masalah dengan memberi perhatian?
Apakah diam adalah solusi? Atau justru suatu penyakit?
Adakah hal-hal yang perlu dikunci dalam diam?
Atau diamkah yang menimbulkan masalah?
Saat kita diam orang akan mencari alasan kita berdiam.
Saat kita ungkapkan orang akan berharap kita diam saja.
Saat orang berdiam dan kita biarkan dia akan merasa tidak diperhatikan.
Saat kita bertanya kita dianggap tidak memberikan ruang.
Apakah diam berarti kebisuan?
Atau ketidakpedulian?
Ataukah diam itu suatu cara untuk berkomunikasi?
Diam = bingung
Jadi lebih baik aku diam saja lah…
Posted in San San Tjahaya
Denny (Kesaksian Komsel)
June 25th, 2010 Posted 2:50 pm
Berikut ini adalah kesaksian inspiratif rekan kita Anton Jo (komsel Petra), Ko Herry (Ie She Cung) dan istrinya Ci Gwat (Shie Su Ye) (komsel Dewasa Umum) tentang Tuhan yang hidup, yang campur tanganNya membuat kehidupan mereka saling berjalinan melalui kehidupan anak mereka almarhum, Denny, dan membuat hidup mereka diubahkan dan menjadi berkat.
Pada menjelang pertengahan tahun 2002 Ko Herry dan Ci Gwat menghadapi suatu cobaan hidup yang sungguh berat. Pada saat itu setelah sekian lama bolak balik menemani putra mereka Denny menjalani perawatan di RS Boromeus, akhirnya mereka mendapatkan vonis dari dokter yang merawat Denny bahwa putra mereka mengidap kanker nasofaring stadium 4. Dalam keadaan shock dan sedih karena kemungkinan seseorang bertahan hidup dengan kondisi penyakit seperti Denny sangat kecil, mereka tetap bertekad memberikan dan mengusahakan yang terbaik untuk Denny.
Pada awalnya seluruh keluarga menutupi kenyataan ini dari Denny agar dia tidak menjadi down dan putus semangat. Tetapi toh akhirnya Denny mengetahuinya dari seorang suster yang tanpa sengaja mengatakan keadaan yang sebenarnya kepada Denny. Seluruh keluarga besar mereka berada dalam keadaan sedih dan tertekan saat itu. Salah seorang anggota keluarga (adik dari Ci Gwat) yang sudah menerima Tuhan Yesus pun meminta dukungan doa dari teman-temannya untuk keponakannya itu.
Salah satu teman yang mendengar cerita ini dan turut mendoakan adalah kakak perempuan dari saudara kita Anton Jo. Mendengar cerita dari kakaknya mengenai Denny, Anton yang aktif di Komsel dan baru saja menyelesaikan kelas EE (Evangelism Explosion) sangat tergerak dan terbeban untuk melayani keluarga ini. Ia pun mengajak Jagus (salah satu teman Komselnya) untuk melawat ke rumah Denny.
Mereka mendatangi rumah Denny. Mereka berkenalan, juga dengan Ko Herry dan Ci Gwat. Dan mereka selalu mendoakan serta memberi dukungan kepada Denny sekeluarga. Selain Anton dan Jagus, beberapa teman komsel lainnya pun bergiliran mengunjungi Denny dan keluarganya serta mendoakan mereka. Tetapi rupanya Tuhan menaruh hati yang terbeban di dalam diri Anton untuk keluarga ini. Dengan setia dia mengunjungi keluarga ini. Setiap 2 sampai 3 hari sekali saat akan berangkat kerja dari rumahnya di daerah Cibadak menuju kantornya yang berlokasi di Jamika, Anton berangkat lebih awal dan menyempatkan diri untuk mampir ke rumah mereka di daerah Permata (Kopo). Ci Gwat walaupun merasa heran akan kesetiaan Anton, ia senang karena ada orang yang mau menemani dan memberi semangat pada anaknya. Bukan hanya mendoakan dan memberi semangat, Anton juga seringkali men-sharing-kan tentang kasih Yesus dan karya penyelamatan-Nya bagi manusia. Bahkan Ko Herry dan Ci Gwat (yang saat itu belum mengenal Tuhan Yesus) pun sempat diajak untuk ikut ke gereja. Tetapi saat itu mereka menolak. Malahan Ko Herry sempat marah karena merasa tidak sepantasnya gereja mengajak-ngajak orang untuk ikut masuk ke gereja saat mereka sedang mengalami kesusahan seperti itu.
Selama lebih dari 6 bulan Anton tetap mendampingi keluarga Denny. Kondisi Denny semakin lama semakin parah, setiap hari ia merasa kesakitan. Sampai pada suatu waktu ia tidak dapat lagi makan melalui mulut sehingga dokter harus memasang kateter perut untuk memasukkan makanan ke tubuh Denny. Bobot tubuhnya yang tadinya 65 kg pun kini menyusut hingga menjadi 30 kg. Selama masa-masa itu Anton terus berdoa, bahkan berpuasa untuk Denny. Dalam keadaan yang sangat parah seperti itulah, digerakkan oleh Roh Kudus, melalui kasih persahabatan, sharing dan doa akhirnya Denny menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat pribadinya.
Sementara itu Ko Herry dan Ci Gwat berusaha ke mana-mana untuk mengupayakan kesembuhan bagi putra mereka. Berbagai dokter spesialis hingga pengobatan alternatif mereka datangi. Tetapi penyakit Denny tak kunjung membaik. Dokter yang merawatnya menganjurkan untuk menyediakan tabung oksigen untuk membantu pernafasan Denny dan membuatnya lebih nyaman. Dalam kebingungan mereka tiba-tiba suatu hari mereka kedatangan tamu dari Poliklinik Elim. Rupanya seorang teman Ci Gwat men-sharingkan keadaan Denny pada salah seorang dokter di Poliklinik tersebut sehingga Poliklinik Elim pun mengirimkan sebuah tim yang terdiri dari beberapa orang dokter ke rumah keluarga itu. Mereka bukan saja mendoakan Denny sekeluarga, tetapi juga membawakan tabung oksigen dan seorang perawat profesional untuk membantu perawatan Denny, semuanya secara cuma-cuma.
Beberapa waktu kemudian Denny mengutarakan keinginannya untuk dibaptis kepada ibunya. Ci Gwat pun segera menghubungi Anton yang segera menghubungi GKI Anugerah mengenai hal ini. Karena kondisi Denny yang sangat lemah akhirnya Sakramen Baptisan Kudus dilakukan oleh Pendeta Wendy di rumah Denny. Denny tampak senang karena telah menerima Baptisan sebagai materai imannya kepada Yesus.
Setelah menerima baptisan, suatu hari ketika Ci Gwat dan Nenek Denny sedang berada di kamar Denny, tiba-tiba Denny berkata,”Mami, ada 3 orang berpakaian putih di sudut ruangan.” Padahal selain Denny, Maminya dan Neneknya di sana tidak ada siapa-siapa lagi. Kemudian Denny berkata lagi,” Mami. Denny mau pulang. Sebelum pulang, Denny minta Mami Papi ke gereja.” Selesai berkata-kata Denny pun meninggal dengan tenang di pelukan Maminya, tepat 1 minggu setelah ia menerima Baptisan Kudus.
Saat itu Anton yang selama hari-hari setelah Denny dibaptis masih setia melawat dan mendoakan Denny baru saja pulang setelah melawat dari rumah Denny pada pagi harinya dan akan memarkirkan sepeda motornya di garasi ketika teleponnya tiba-tiba berbunyi. Rupanya Ci Gwat yang mengabarkan kematian Denny. Anton segera kembali ke rumah Denny untuk menghibur Ci Gwat dan menyediakan diri untuk membantu keluarga itu mengurus urusan kedukaan dengan pihak GKIA.
Minggu itu sangat berat bagi Ko Herry dan Ci Gwat. Hari Selasa Denny meninggal dunia. Hari Rabu dan Kamis mereka menyemayamkan Denny, melaksanakan kebaktian kedukaan dan meng-kremasikan putra yang begitu mereka kasihi. Hari Jumat dan Sabtu mereka melepaskan abu jenazah Denny di Cilincing. Tetapi di malam Hari Sabtu itu tiba-tiba Ko Herry berkata,”Besok Hari Minggu. Kita ke gereja.” Ci Gwat terkejut karena Ko Herry yang biasanya selalu menolak ke gereja tiba-tiba mengajak ke gereja di saat mereka sedang berduka pula. Ia pun menghubungi Anton yang langsung bersedia menemani mereka mengikuti kebaktian.
Keesokan harinya, selama mengikuti kebaktian, anehnya Ko Herry merasakan damai sejahtera yang luar biasa dan bukannya dukacita seperti yang disangkanya akan dirasakannya. Sejak saat itu Ko Herry dan Ci Gwat pun secara rutin menghadiri kebaktian setiap Hari Minggu.
Beberapa bulan kemudian mereka memutuskan untuk mengikuti kelas MMK (Menjadi Murid Kristus) dan menerima Baptisan Kudus. Setelah dibaptis, mereka juga mengikuti pelatihan EE (Evangelism Explosion) di mana mereka mempelajari penginjilan melalui kasih dan hubungan persahabatan.
Kini, bukan saja aktif mengikuti Komsel Dewasa Umum dan menghadiri MPD (Malam Puji dan Doa), mereka juga aktif melayani sebagai pembimbing kelas MMK, tim pelawatan, kedukaan dan Badan Misi. Mereka berkomitmen untuk berbagi hidup dengan sesama karena mereka pun pernah merasakan ketika dalam kesulitan dan kedukaan mereka dilawat dan dijangkau. . Inilah kerinduan mereka, berbagi hidup dalam komunitas karena ada orang yang pernah membagi hidupnya dengan mereka, mendoakan orang lain karena ada orang yang pernah mendoakan mereka, menjangkau lewat misi karena mereka juga dijangkau orang lain, menguatkan orang lain yang sedang berduka karena mereka juga dikuatkan dalam kedukaan.
Sampai saat ini Anton masih sering mengunjungi dan berhubungan dengan pasangan suami istri ini. Entah untuk mengobrol, berbagi cerita, atau sekedar menanyakan kabar. Sungguh suatu hubungan yang manis di dalam Tuhan. Walaupun kehilangan Denny, Tuhan masih memberikan perhatian seorang ‘anak’ melalui kehadiran Anton dalam hidup mereka.
Bagaimana dengan kita ? Bagaimana hubungan pribadi kita dengan Tuhan? Apakah kasih kita pada Tuhan juga membuat kita jadi rindu mengasihi sesama? Pernahkah hidup kita disentuh Tuhan melalui orang-orang yang sudah berbagi hidup dengan kita? Sudahkan kita membangun hubungan yang sejati ataukah persekutuan yang semu yang kita lakukan dengan orang lain?
Mari kita tetap setia. Jangan putus asa menjangkau jiwa. Sediakan dirimu! Bayar harganya dalam komitmen tindakan, perkataan, perbuatan, doa dan puasa. Tetaplah taat dan setia! Di dalam Tuhan jerih payahmu tidak akan sia-sia. Amin…
“Karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”
1 Korintus 15 : 58
Original script by Lie Ling
Edited by San San
Sudah dimuat di Warta Komsel GKI Anugerah minggu ke-4 Bulan Juni 2010
Posted in San San Tjahaya
Kisah Freeia dan Vorg part.11
June 23rd, 2010 Posted 4:46 pm
Bagian dalam dari istana itu gelap dan lembab. Penerangan hanya berasal dari beberapa buah obor yang ditancapkan pada dudukannya di sepanjang dinding lorong batu itu. Ada beberapa jendela tetapi semuanya tertutup rapat. Rupanya aktifitas di istana itu belum dimulai sepagi ini. Baguslah, berarti semakin kecil kemungkinan mereka tertangkap.
Cukup jauh Vorg dan Freeia merayap di sepanjang dinding lorong istana itu sampai menjumpai sebuah persimpangan.
“Kita harus ke mana? Kanan, kiri atau lurus?” tanya Freeia pelan.
“Aku juga tidak tahu. Menurutmu bagaimana?” Vorg balas berbisik.
“Perasaanku bilang sebaiknya kita ke kanan,” kata Freeia lagi.
“Baiklah, kalau begitu kita ke kanan,” kata Vorg.
Mereka berlari menyeberangi lorong itu dan kembali merayap di sepanjang dinding lorong yang mengarah ke kanan. Semakin masuk ke perut istana itu suasana bertambah suram. Bau lumut semakin menyengat ditambah bau-bauan lain yang membuat Vorg dan Freeia terpaksa harus menahan napas mereka dan menghirup udara sesedikit mungkin supaya tidak muntah karena bau yang memuakkan itu.
“Sepertinya kita salah jalan. Tidak mungkin tempat tinggal raja sebau dan sejorok ini,” kata Freeia dengan suara aneh karena berbicara sambil memencet hidungnya.
“Tapi kata Lloyd bangsa Troll memang menyukai kelembaban dan bau busuk bukan?” jawab Vorg juga dengan suara aneh karena memencet hidungnya. Maka mereka pun meneruskan perjalanan mereka. Untunglah sejauh ini mereka tidak menjumpai satu troll pun.
Beberapa meter kemudian Vorg tiba-tiba berhenti melangkah dan memberi isyarat agar Freeia tidak bersuara. Rupanya ada suara-suara yang mencurigakan dari tikungan di depan mereka. Mereka mengendap maju perlahan-lahan, Freeia memegang tangan Vorg kuat-kuat. Sesampainya di tikungan Vorg melongokkan kepalanya sedikit ketika tiba-tiba
“RRAAHHH!!! KKIIKKK!!!” Seekor tikus besar memekik sambil melompat melewati kepala mereka. Ekornya yang berulir-ulir dan panjang hampir menampar wajah Vorg yang untungnya sigap berkelit.
Freeia sempat memekik tertahan tetapi untunglah suara tikus dan suara troll-troll yang mengejar di belakangnya lebih berisik dan menutupi suara pekikan Freeia. Kedua troll itu sama sekali tidak melihat atau memperhatikan kedua peri kecil yang meringkuk di pojok tembok itu. Dengan gaduh mereka mengejar tikus besar tadi sambil membawa pentungan dan memaki-maki dengan ribut.
Begitu kedua troll tadi menghilang dari pandangan mereka Vorg segera menarik tangan Freeia menuju ruangan yang ditinggalkan oleh para troll itu. Rupanya ruangan itu adalah semacam gudang penyimpanan bahan-bahan ramuan dan obat-obatan sekaligus semacam laboratorium. Tampak ratusan stoples dan kotak-kotak kecil berderet-deret di rak-rak yang tersusun di sekeliling dinding ruangan sampai ke langit-langit. Di sepanjang tepi ruangan itu juga dipenuhi meja-meja berlaci dan lemari-lemari yang memuat banyak peralatan yang berbentuk aneh dan kotor. Setiap jengkal di ruangan itu tertutup debu dan sarang labah-labah bergelantungan di mana-mana. Bau lumut bercampur dengan bau jamu-jamuan menggantung di setiap penjuru ruangan bagaikan kabut yang menyesakkan. Di tengah ruangan terletak meja besar dengan bermacam-macam timbangan, tabung-tabung, pipet, alat suntik dan beberapa stoples yang terbuka di atasnya. Di pojok ruangan terdapat deretan kandang yang disusun seperti loker bertingkat-tingkat dan dipenuhi tikus-tikus besar seperti yang melewati mereka beberapa waktu yang lalu. Sepertinya tikus itu kabur ketika akan dijadikan tikus percobaan oleh kedua ilmuwan troll tadi.
“Tidak mungkin permata itu ada di sini, ayo kita keluar dari sini,” bisik Vorg kepada Freeia yang tampak memandang ke sekeliling ruangan itu dengan ekspresi jijik campur takjub.
“Tunggu sebentar. Kelihatannya ini cukup menarik,”Freeia malah melayang terbang ke atas meja tempat kerja para ilmuwan troll. Sambil bergidik dilewatinya sebuah botol yang berisi organ-organ hewan entah apa yang diawetkan dan melayang-layang di dalam cairan berwarna kehijauan. Dibacanya catatan yang ditinggalkan kedua troll itu.
“Lihat ini Vorg. Ramuan penyembuh luka dalam sekejap,”Freeia berjalan mundur sambil membaca dengan seksama. Dia menggigiti bibir bawahnya dan mengerutkan keningnya,”Hmm… kelihatannya ini bisa berguna.”
Sementara itu Vorg sudah memanjat naik melalui kursi batu yang berada di samping meja itu. Dia ikut mengintip catatan ramuan itu dari balik bahu Freeia.
“Sejumput kotoran siput air, dua tetes liur kadal sisik merah, tiga tetes air rendaman limpa tikus jantan, sekeping sisik ular bertanduk tiga. Dilarutkan dengan darah anak naga dan direbus dengan api kecil hingga mengental. Hiyyy!! Kok kelihatannya tidak meyakinkan yah?” Vorg meleletkan lidahnya.
“Tapi bagaimana seandainya ramuan ini benar-benar manjur?” kata Freeia lagi,”Kau bisa mencobanya pada lukamu.”
Dengan ragu Vorg memandang cairan hitam berbau busuk yang menggelegak lembut di dalam wadah yang dipanaskan di atas sejenis tungku berbahan bakarkan entah apa yang menyemburkan api kecil berwarna hijau dengan inti api berwarna ungu.
“Bagaimana? Kau mau mencobanya?” tanya Freeia lagi.
“Apakah menurutmu aman?” kata Vorg yang sebenarnya enggan,”Tikus tadi saja lari-terbirit-birit ketika akan dijadikan bahan percobaan.”
“Tentu saja. Untuk mencoba ramuan penyembuh kan mereka harus melukai dahulu tikus itu. Apakah kau tidak akan kabur bila akan dilukai dengan pisau sebesar itu?” kata Freeia sambil menunjuk pisau melengkung besar penuh karat yang memang tampak menyeramkan di dekat mereka.
“Baiklah!” akhirnya Vorg memutuskan,”Toh tidak akan bertambah parah lagi kan?” sambungnya tak yakin sambil membuka bebatan sobekan baju Freeia yang membalut luka di sikunya.
Maka Freeia pun menyobek sedikit ujung catatan ramuan itu dan menggulungnya untuk kemudian mencelupkannya pada ramuan hitam tadi. Begitu diangkat dari wadah tempatnya dipanaskan cairan lengket itu tampak menggumpal dan berubah warna menjadi perak keputihan, uapnya pun langsung menghilang begitu saja seolah-olah cairan kental itu tidak panas sama sekali. Freeia menyentuhkannya perlahan pada luka menganga yang tampak membengkak dan bernanah di siku Vorg.
Vorg menggigit bibirnya kuat-kuat dan memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit yang mungkin ditimbulkan obat itu. Tetapi alih-alih merasa sakit, ia malah merasakan suatu perasaan sejuk di daerah sikunya yang terluka. Dibukanya matanya dan dilihatnya ramuan keperakan itu melapisi seluruh lukanya dan dalam sekejap daging dan kulitnya terbentuk sempurna seolah-olah tidak pernah terluka sama sekali. Rasa sakitnya pun menghilang tanpa bekas. Dicobanya untuk menggerakkan lengan itu. Tidak masalah. Dicobanya untuk memutarnya ke segala arah. Berfungsi dengan sempurna!
“Wow! Luar biasa!” hanya itu yang bisa diucapkannya. Freeia pun tercengang memandang khasiat dari ramuan itu.
“Bagaimana kalau kita membawanya sedikit? Pasti suatu waktu akan berguna,” kata Freeia masih terkagum-kagum.
Mereka pun memindahkan sedikit dari ramuan itu ke dalam salah satu cangkang kumbang yang biasa mereka pakai untuk minum dengan gulungan kertas tadi, membungkusnya dengan sobekan baju Freeia bekas membalut luka Vorg, kemudian mengikatnya kuat-kuat dengan seutas tali peri. Vorg memasukkan persediaan ramuan itu ke dalam tas kulit ularnya. Sobekan kertas tadi pun disimpannya agar tidak meninggalkan jejak yang akan membuat para troll curiga.
Kemudian Freeia terbang menyusuri rak-rak yang dipasang di sekeliling ruangan itu sambil membaca setiap label yang melekat pada jajaran botol-botol itu.
“Ramuan penumbuh kutil, ramuan pengeras rambut, ramuan pemikat lalat… Parfum aroma lumut basah, parfum aroma bangkai siput air, parfum aroma lumpur asam… Obat sariawan tanpa cacing, obat sariawan bercacing, obat batuk kering, obat batuk berdahak hijau, obat batuk berdahak hitam, obat batuk berdahak kuning… Hoekhh! Jadi mual aku,” kata Freeia sambil melayang turun kembali ke meja.
Dari kejauhan terdengar suara-suara troll mengobrol yang makin mendekat.
“Ayo kita keluar. Sepertinya mereka sudah kembali,” bisik Vorg sambil melompat turun ke kursi yang tadi dipakainya untuk naik ke meja. Freeia pun melayang turun mengikutinya. Sesampainya di lantai mereka cepar-cepat keluar dan bersembunyi di pojokan tembok yang tertutup bayang-bayang obor yang ditancapkan di atasnya. Dan benarlah. Tampak kedua ilmuwan troll tadi datang mendekat. Troll yang berambut dan berkumis kuning tua memanggul pentungan di bahunya sementara troll pendek yang berambut pendek dan mekar ke segala arah berwarna biru elektrik menjinjing ekor tikus yang meronta-ronta dan mencicit ribut di tangannya.
“Untung kita berhasil menangkap tikus ini. Kalau sampai masuk ke kamar Raja, bisa-bisa kepala kita dipenggalnya,” kata si rambut biru.
“Betul! Padahal hampir saja kita terlambat. Satu, dua, tiga, empat pintu dilewatinya. Tikus ini sungguh lincah dan lihai berkelit. Tepat di depan pintu kamar Raja kita berhasil menangkapnya tadi. Untung Raja tidak terbangun,” si rambut kuning mengiyakan.
Dan mereka pun masuk ke dalam laboratorium mereka seraya menutup pintunya.
“Harus ditutup. Jangan-jangan tikus sialan ini kabur lagi nanti,” ujar salah satu troll itu samar-samar dari balik pintu yang kini tertutup. Ternyata setelah pintu ditutup dinding batu itu tampak seperti dinding batu biasa tanpa terlihat pintu sedikitpun.
Vorg dan Freeia berpandang-pandangan.
“Ternyata kita sudah melewati kamar Gorchuk di lorong tadi,” bisik Vorg.
“Ya. Pintu kelima dari tikungan tadi bukan?” sahut Freeia penuh semangat.
“Tapi, perasaan tadi kita tidak melewati satu pintu pun?” kata Freeia lagi.
“Pandanglah pintu laboratorium itu. Memang sangat tersamar bukan? Mari kita melihatnya dari dekat,” jawab Vorg sambil menggamit lengan Freeia.
Mereka menghampiri bagian dinding yang tadi merupakan pintu masuk ke laboratorium. Tidak tampak tanda-tanda pintu sama sekali. Vorg dan Freeia meraba-raba dinding tersebut mencari celah yang merupakan tanda batas tepi pintu yang mereka cari, tetapi tetap mereka tidak menemukannya.
“Hmm… Aneh sekali,”Freeia menotol-notol dagunya dengan jari telunjuk tanda ia sedang berpikir keras. Sementara itu Vorg memandang seluruh permukaan dinding dengan seksama. Pandangannya menelusuri tempat di mana pintu tadi berada dari bawah, perlahan-lahan naik ke atas hingga mencapai langit-langit lorong itu.
“Freeia, lihat! Rupanya di atas pintu itu ditandai dengan semacam plakat yang merupakan nomor ruangan atau sejenisnya” Vorg berbisik sambil menunjuk semacam plakat kusam yang ditempelkan di atas pintu hampir mendekati langit-langit lorong batu itu,”Pantas saja kita tidak melihatnya. Tinggi sekali, tersamar pula saking kotornya.”
“Berarti kita tinggal mencari cara membuka pintunya,” sambung Freeia penuh semangat.
“Kedua troll yang ada di dalam akan curiga bila pintunya tahu-tahu terbuka. Lebih baik kita menunggu sampai mereka keluar,” kata Vorg lagi
“Tapi bagaimana jika mereka tidak keluar-keluar sampai malam?” tanya Freeia.
“Kalau begitu sebaiknya kita mencari dahulu letak kamar Raja Gorchuk, bagaimana?” Ujar Vorg.
“Baiklah!” Freeia pun setuju.
Vorg memimpin di depan. Kembali mereka mengendap-ngendap kembali ke jalan yang telah mereka lewati sebelumnya. Sesampainya di tikungan Vorg berkata,“Kita harus berhati-hati kalau-kalau tiba-tiba ada troll yang keluar dari salah satu pintu itu,”
Mereka berjalan sambil memperhatikan bagian atas dari dinding di sebelah kanan mereka. Dan benarlah, Setiap beberapa meter ada semacam plakat yang tertempel di sana. Plakat itu memuat lambang-lambang yang tidak mereka pahami.
Pintu pertama, kedua, ketiga dan keempat mereka lewati.
“Berarti yang berikutnya pintu kamar Gorchuk,” Vorg berbisik pada Freeia yang menempel rapat di belakangnya sambil tanpa menghentikan langkahnya. Ia baru berhenti ketika pintu kelima sudah tepat berada di hadapan mereka. Sambil memberi tanda kepada Freeia untuk mengikutinya Vorg menyeberangi lorong itu.
Mereka memandang ke atas ke arah plakat di atas pintu kelima. Memang plakatnya lebih besar dan di sekeliling tepiannya dihiasi oleh ornamen-ornamen seperti ukiran, tidak polos seperti plakat-plakat lainnya.
“Kira-kira bagaimana cara membuka dan menutup pintu-pintu ini ya?” baru saja Vorg selesai berbicara ketika pintu di hadapan mereka mendadak menggeser terbuka dan di hadapan mereka tampak sepasang kaki besar mengenakan sepatu bot yang terbuat dari sejenis kulit binatang melata. Saking kagetnya kedua peri itu tidak sempat bersembunyi atau berbuat apa pun.
“Gawat! Matilah kita,” hanya itu yang sempat terlintas di pikiran mereka saat itu.
TO BE CONTINUED….
Apakah kedua peri itu akan tertangkap?
Bagaimana nasib mereka dan keempat Ratu Musim?
Nantikan lanjutannya di Kisah Freeia dan Vorg part.12
Posted in San San Tjahaya












