Tulisan Oleh San San Tjahaya

Sharing : Kejadian-kejadian dalam Hidup Berkeluarga Sehari-hari (6) Episode Nonton Toy Story 3

No Comments »

July 8th, 2010 Posted 7:15 pm

(San San Tjahaya)

Pada hari Senin 28 Juni yang lalu kami berencana untuk mengajak anak-anak menonton Toy Story 3 di bioskop. Ini adalah pengalama pertama kali menonton di bioskop untuk Christopher, karenanya sebenarnya kami agak was-was juga karena entah dia bisa bertahan duduk dengan tenang sepanjang film ataukah dia akan rewel dan minta keluar sebelum film berakhir (bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk, hehehe…). Ini juga acara nonton bioskop yang pertama kalinya untuk aku dan suami sejak kami memiliki Chris karena sebelum ini kami merasa dia terlalu kecil untuk diajak ataupun ditinggal hanya dengan pembantu di rumah.

(more...)

Posted in San San Tjahaya

Diam

No Comments »

June 26th, 2010 Posted 10:09 am

(San San Tjahaya) Apakah diam? Diam = marah Diam = sedih Diam = malas Diam = sakit gigi Diam =??? Perlukah kita mengetahui mengapa seseorang berdiam? Ataukah kita mencari masalah dengan memberi perhatian? (more...)

Posted in San San Tjahaya

Denny (Kesaksian Komsel)

No Comments »

June 25th, 2010 Posted 2:50 pm

(San San Tjahaya)

Berikut ini adalah kesaksian inspiratif rekan kita Anton Jo (komsel Petra), Ko Herry (Ie She Cung) dan istrinya Ci Gwat (Shie Su Ye) (komsel Dewasa Umum) tentang Tuhan yang hidup, yang campur tanganNya membuat kehidupan mereka saling berjalinan melalui kehidupan anak mereka almarhum, Denny, dan membuat hidup mereka diubahkan dan menjadi berkat.

Pada menjelang pertengahan tahun 2002 Ko Herry dan Ci Gwat menghadapi suatu cobaan hidup yang sungguh berat. Pada saat itu setelah sekian lama bolak balik menemani putra mereka Denny menjalani perawatan di RS Boromeus, akhirnya mereka mendapatkan vonis dari dokter yang merawat Denny bahwa putra mereka mengidap kanker nasofaring stadium 4. Dalam keadaan shock dan sedih karena kemungkinan seseorang bertahan hidup dengan kondisi penyakit seperti Denny sangat kecil, mereka tetap bertekad memberikan dan mengusahakan yang terbaik untuk Denny.

Pada awalnya seluruh keluarga menutupi kenyataan ini dari Denny agar dia tidak menjadi down dan putus semangat. Tetapi toh akhirnya Denny mengetahuinya dari seorang suster yang tanpa sengaja mengatakan keadaan yang sebenarnya kepada Denny. Seluruh keluarga besar mereka berada dalam keadaan sedih dan tertekan saat itu. Salah seorang anggota keluarga (adik dari Ci Gwat) yang sudah menerima Tuhan Yesus pun meminta dukungan doa dari teman-temannya untuk keponakannya itu.

Salah satu teman yang mendengar cerita ini dan turut mendoakan adalah kakak perempuan dari saudara kita Anton Jo. Mendengar cerita dari kakaknya mengenai Denny, Anton yang aktif di Komsel dan baru saja menyelesaikan kelas EE (Evangelism Explosion) sangat tergerak dan terbeban untuk melayani keluarga ini. Ia pun mengajak Jagus (salah satu teman Komselnya) untuk melawat ke rumah Denny.

Mereka mendatangi rumah Denny. Mereka berkenalan, juga dengan Ko Herry dan Ci Gwat. Dan mereka selalu mendoakan serta memberi dukungan kepada Denny sekeluarga. Selain Anton dan Jagus, beberapa teman komsel lainnya pun bergiliran mengunjungi Denny dan keluarganya serta mendoakan mereka. Tetapi rupanya Tuhan menaruh hati yang terbeban di dalam diri Anton untuk keluarga ini. Dengan setia dia mengunjungi keluarga ini. Setiap 2 sampai 3 hari sekali saat akan berangkat kerja dari rumahnya di daerah Cibadak menuju kantornya yang berlokasi di Jamika, Anton berangkat lebih awal dan menyempatkan diri untuk mampir ke rumah mereka di daerah Permata (Kopo). Ci Gwat walaupun merasa heran akan kesetiaan Anton, ia senang karena ada orang yang mau menemani dan memberi semangat pada anaknya. Bukan hanya mendoakan dan memberi semangat, Anton juga seringkali men-sharing-kan tentang kasih Yesus dan karya penyelamatan-Nya bagi manusia. Bahkan Ko Herry dan Ci Gwat (yang saat itu belum mengenal Tuhan Yesus) pun sempat diajak untuk ikut ke gereja. Tetapi saat itu mereka menolak. Malahan Ko Herry sempat marah karena merasa tidak sepantasnya gereja mengajak-ngajak orang untuk ikut masuk ke gereja saat mereka sedang mengalami kesusahan seperti itu.

Selama lebih dari 6 bulan Anton tetap mendampingi keluarga Denny. Kondisi Denny semakin lama semakin parah, setiap hari ia merasa kesakitan. Sampai pada suatu waktu ia tidak dapat lagi makan melalui mulut sehingga dokter harus memasang kateter perut untuk memasukkan makanan ke tubuh Denny. Bobot tubuhnya yang tadinya 65 kg pun kini menyusut hingga menjadi 30 kg. Selama masa-masa itu Anton terus berdoa, bahkan berpuasa untuk Denny. Dalam keadaan yang sangat parah seperti itulah, digerakkan oleh Roh Kudus, melalui kasih persahabatan, sharing dan doa akhirnya Denny menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat pribadinya.

Sementara itu Ko Herry dan Ci Gwat berusaha ke mana-mana untuk mengupayakan kesembuhan bagi putra mereka. Berbagai dokter spesialis hingga pengobatan alternatif mereka datangi. Tetapi penyakit Denny tak kunjung membaik. Dokter yang merawatnya menganjurkan untuk menyediakan tabung oksigen untuk membantu pernafasan Denny dan membuatnya lebih nyaman. Dalam kebingungan mereka tiba-tiba suatu hari mereka kedatangan tamu dari Poliklinik Elim. Rupanya seorang teman Ci Gwat men-sharingkan keadaan Denny pada salah seorang dokter di Poliklinik tersebut sehingga Poliklinik Elim pun mengirimkan sebuah tim yang terdiri dari beberapa orang dokter ke rumah keluarga itu. Mereka bukan saja mendoakan Denny sekeluarga, tetapi juga membawakan tabung oksigen dan seorang perawat profesional untuk membantu perawatan Denny, semuanya secara cuma-cuma.

Beberapa waktu kemudian Denny mengutarakan keinginannya untuk dibaptis kepada ibunya. Ci Gwat pun segera menghubungi Anton yang segera menghubungi GKI Anugerah mengenai hal ini. Karena kondisi Denny yang sangat lemah akhirnya Sakramen Baptisan Kudus dilakukan oleh Pendeta Wendy di rumah Denny. Denny tampak senang karena telah menerima Baptisan sebagai materai imannya kepada Yesus.

Setelah menerima baptisan, suatu hari ketika Ci Gwat dan Nenek Denny sedang berada di kamar Denny, tiba-tiba Denny berkata,”Mami, ada 3 orang berpakaian putih di sudut ruangan.” Padahal selain Denny, Maminya dan Neneknya di sana tidak ada siapa-siapa lagi. Kemudian Denny berkata lagi,” Mami. Denny mau pulang. Sebelum pulang, Denny minta Mami Papi ke gereja.” Selesai berkata-kata Denny pun meninggal dengan tenang di pelukan Maminya, tepat 1 minggu setelah ia menerima Baptisan Kudus.

Saat itu Anton yang selama hari-hari setelah Denny dibaptis masih setia melawat dan mendoakan Denny baru saja pulang setelah melawat dari rumah Denny pada pagi harinya dan akan memarkirkan sepeda motornya di garasi ketika teleponnya tiba-tiba berbunyi. Rupanya Ci Gwat yang mengabarkan kematian Denny. Anton segera kembali ke rumah Denny untuk menghibur Ci Gwat dan menyediakan diri untuk membantu keluarga itu mengurus urusan kedukaan dengan pihak GKIA.

Minggu itu sangat berat bagi Ko Herry dan Ci Gwat. Hari Selasa Denny meninggal dunia. Hari Rabu dan Kamis mereka menyemayamkan Denny, melaksanakan kebaktian kedukaan dan meng-kremasikan putra yang begitu mereka kasihi. Hari Jumat dan Sabtu mereka melepaskan abu jenazah Denny di Cilincing. Tetapi di malam Hari Sabtu itu tiba-tiba Ko Herry berkata,”Besok Hari Minggu. Kita ke gereja.” Ci Gwat terkejut karena Ko Herry yang biasanya selalu menolak ke gereja tiba-tiba mengajak ke gereja di saat mereka sedang berduka pula. Ia pun menghubungi Anton yang langsung bersedia menemani mereka mengikuti kebaktian.

Keesokan harinya, selama mengikuti kebaktian, anehnya Ko Herry merasakan damai sejahtera yang luar biasa dan bukannya dukacita seperti yang disangkanya akan dirasakannya. Sejak saat itu Ko Herry dan Ci Gwat pun secara rutin menghadiri kebaktian setiap Hari Minggu.

Beberapa bulan kemudian mereka memutuskan untuk mengikuti kelas MMK (Menjadi Murid Kristus) dan menerima Baptisan Kudus. Setelah dibaptis, mereka juga mengikuti pelatihan EE (Evangelism Explosion) di mana mereka mempelajari penginjilan melalui kasih dan hubungan persahabatan.

Kini, bukan saja aktif mengikuti Komsel Dewasa Umum dan menghadiri MPD (Malam Puji dan Doa), mereka juga aktif melayani sebagai pembimbing kelas MMK, tim pelawatan, kedukaan dan Badan Misi. Mereka berkomitmen untuk berbagi hidup dengan sesama karena mereka pun pernah merasakan ketika dalam kesulitan dan kedukaan mereka dilawat dan dijangkau. . Inilah kerinduan mereka, berbagi hidup dalam komunitas karena ada orang yang pernah membagi hidupnya dengan mereka, mendoakan orang lain karena ada orang yang pernah mendoakan mereka, menjangkau lewat misi karena mereka juga dijangkau orang lain, menguatkan orang lain yang sedang berduka karena mereka juga dikuatkan dalam kedukaan.

Sampai saat ini Anton masih sering mengunjungi dan berhubungan dengan pasangan suami istri ini. Entah untuk mengobrol, berbagi cerita, atau sekedar menanyakan kabar. Sungguh suatu hubungan yang manis di dalam Tuhan. Walaupun kehilangan Denny, Tuhan masih memberikan perhatian seorang ‘anak’ melalui kehadiran Anton dalam hidup mereka.

Bagaimana dengan kita ? Bagaimana hubungan pribadi kita dengan Tuhan? Apakah kasih kita pada Tuhan juga membuat kita jadi rindu mengasihi sesama? Pernahkah hidup kita disentuh Tuhan melalui orang-orang yang sudah berbagi hidup dengan kita? Sudahkan kita membangun hubungan yang sejati ataukah persekutuan yang semu yang kita lakukan dengan orang lain? Mari kita tetap setia. Jangan putus asa menjangkau jiwa. Sediakan dirimu! Bayar harganya dalam komitmen tindakan, perkataan, perbuatan, doa dan puasa. Tetaplah taat dan setia! Di dalam Tuhan jerih payahmu tidak akan sia-sia. Amin…

“Karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”

1 Korintus 15 : 58

Original script by Lie Ling Edited by San San Sudah dimuat di Warta Komsel GKI Anugerah minggu ke-4 Bulan Juni 2010

Posted in San San Tjahaya

Kisah Freeia dan Vorg part.11

No Comments »

June 23rd, 2010 Posted 4:46 pm

(San San Tjahaya)

Bagian dalam dari istana itu gelap dan lembab. Penerangan hanya berasal dari beberapa buah obor yang ditancapkan pada dudukannya di sepanjang dinding lorong batu itu. Ada beberapa jendela tetapi semuanya tertutup rapat. Rupanya aktifitas di istana itu belum dimulai sepagi ini. Baguslah, berarti semakin kecil kemungkinan mereka tertangkap.

Cukup jauh Vorg dan Freeia merayap di sepanjang dinding lorong istana itu sampai menjumpai sebuah persimpangan. “Kita harus ke mana? Kanan, kiri atau lurus?” tanya Freeia pelan. “Aku juga tidak tahu. Menurutmu bagaimana?” Vorg balas berbisik. “Perasaanku bilang sebaiknya kita ke kanan,” kata Freeia lagi. “Baiklah, kalau begitu kita ke kanan,” kata Vorg.

(more...)

Posted in San San Tjahaya

Sharing : Kejadian-kejadian dalam Hidup Berkeluarga Sehari-hari (5) Episode Piknik

No Comments »

June 20th, 2010 Posted 8:14 pm

(San San Tjahaya)

Seminggu yang lalu, kami sekeluarga bersama keluarga sahabat kami (Amul dari 4 Sekawan. Sebetulnya Wina pun berencana ikut tetapi tidak jadi karena ada halangan dan Adag tidak bisa diajak karena sudah pulang ke Australia) memutuskan untuk pergi piknik bersama di Hari Minggu. Tujuannya selain untuk bertemu (karena kami jarang bisa bertemu karena kesibukan sehari-hari), juga untuk berekreasi dan menyegarkan fisik dan mental kami yang stress karena tekanan pekerjaan dan kegiatan rutin setiap hari. Kami memutuskan untuk berpiknik gaya “jadul” (jaman dulu) dengan membawa nasi dan lauk-pauknya dari rumah. Lokasi kami sepakati di Lembah Bougenville – Maribaya, Bandung.

(more...)

Posted in San San Tjahaya

Sharing : Kejadian-kejadian dalam Hidup Berkeluarga Sehari-hari (4) Episode Membuang Dot

No Comments »

June 18th, 2010 Posted 1:46 pm

(San San Tjahaya)

Setelah sukses dengan proyek melatih Chris tidur di kamarnya sendiri, keluarga kami memulai suatu proyek baru yaitu proyek membuang dot. Sejak bayi Chris selalu meminta susu ketika akan tidur. Walaupun baru saja minum susu 10 menit sebelumnya, saat mengantuk dan ingin tidur dia akan menangis meminta susu. Begitu susunya habis dia akan tertidur.

Kebiasaan ini terbawa sampai dia besar. Setiap akan tidur dia selalu meminta susu. Karena itulah sangat sulit baginya untuk melepaskan kebiasaan minum susu dengan memakai dot. Saat tidak akan tidur dia bisa saja minum susu dengan gelas atau dengan sedotan. Toh setiap hari pun dia minum air, jus buah, teh dan minuman apa pun juga dengan gelas. Hanya saat mau tidur dia akan meminta susu dalam botol. Dia akan berbaring, memejamkan mata, memeluk baju meng (kaos putih bergambar kucing yang selalu dibawanya tidur) dan menghisap dot berisi susu. Saat susunya habis, dia pun tertidur. Masalah ini tidak kami hadapi dengan Lucky anak sulung kami, karena Lucky minum susu pada saat kami memberikannya. Pada saat akan tidur dia tidak mencari susu. Karena itu mudah saja mengalihkannya dari dot ke gelas dengan kerucut berlubang, kemudian ke sedotan, akhirnya ke gelas. Usia satu tahun setengah Lucky sudah tidak menggunakan dot sama sekali.

(more...)

Posted in San San Tjahaya

Kisah Freeia dan Vorg part.10

No Comments »

June 12th, 2010 Posted 2:23 pm

(San San Tjahaya)

Mereka melesat di keremangan langit senja dengan ketinggian dan kecepatan yang tak pernah terbayangkan. Freeia saja yang sebetulnya sudah terbiasa terbang merasa ngeri. Dicengkramnya bulu-bulu di leher Lloyd kuat-kuat. Kakinya menjepit leher burung besar itu sampai pegal rasanya. Untunglah dengan adanya tubuh kokoh Vorg di belakangnya dan kedua lengan kekar yang memeluk pinggangnya Freeia merasa cukup aman.

(more...)

Posted in San San Tjahaya

Kisah Freeia dan Vorg part.9

No Comments »

June 1st, 2010 Posted 5:39 pm

(San San Tjahaya)

Keesokan harinya badai telah berhenti. Freeia telonjak bangun dan segera memeriksa keadaan Vorg. Syukurlah suhu tubuhnya terasa normal walaupun wajahnya masih tampak pucat. Freeia pun bangkit untuk menjerang air dan membakar beberapa biji-bijian kalau-kalau Vorg bangun dan merasa lapar.

Vorg bermimpi buruk. Kumbang raksasa mengejar-ngejar dan menangkap adiknya. Saat Vorg mengejarnya wajah dan suara teriakan Trod berubah menjadi sosok dan teriakan Freeia yang dicengkram capit beracun kumbang ganas itu. Vorg berusaha berlari mengejar dan berteriak tetapi suaranya tidak keluar dan langkahnya terasa begitu berat. Tangannya menggapai tanpa daya ketika kumbang itu menyeret tubuh lemas Freeia menuju kegelapan yang begitu pekat…

(more...)

Posted in San San Tjahaya

Kisah Freeia dan Vorg part.8

No Comments »

June 1st, 2010 Posted 12:29 am

(San San Tjahaya)

Keesokan harinya, setelah sarapan sekedarnya dan mencuci muka dengan salju yang dicairkan, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini lebih mudah karena jalan yang mereka tempuh kini menurun. Dan kini mereka tahu arah mana yang harus ditempuh. Hal ini menambah semangat dan tenaga mereka untuk menempuh perjalanan.

Hari itu mereka lalui dengan gembira. Berjalan sambil bercengkrama dengan gembira membuat waktu dan jarak semakin tak terasa. Mereka pun semakin mengenal satu sama lain. Kini tahu bahwa warna kesukaan Freeia adalah warna kuning yang ceria, makanan kesukaannya adalah bili bunga matahari yang terpanggang sinar matahari dan bahwa peri padang lainnya tidak mempunyai warna kulit dan rambut yang saa dengan Freeia. Freeia pun kini tahu tentang serangan kelabang yang menewaskan kedua orang tua Vorg, tentang besarnya tanggung jawab dan sayang Vorg pada adik semata wayangnya, dan tentang kerasnya kehidupan di hutan belantara. Tapi soal warna favorit, Vorg menjawab seperti ini : “Aku belum bisa memutuskan warna mana yang paling kusukai. Begitu banyak warna di luar sini sampai-sampai pusing aku melihatnya,” dan wajahnya benar-benar menunjukkan keseriusan dan kebingungan sampai Freeia tertawa terpingkal-pingkal melihat kepolosan Vorg yang perkasa namun lugu itu. (more...)

Posted in San San Tjahaya

Kisah Freeia dan Vorg part.7

No Comments »

May 28th, 2010 Posted 4:36 pm

Mereka sudah tidak dapat lagi membedakan siang dan malam. Setiap saat hanya ada raungan angin dan kegelapan. Ke mana pun mata memandang hanya tampak salju berputar-putar di udara. Saat itu mereka sedang tertidur di sudut gua mereka masing-masing. Entah mengapa tiba-tiba badai menggila begitu hebatnya, meraung bagaikan makhluk yang terluka, menabrak-nabrak dinding gua hingga bergetar. Freeia terbangun dari tidurnya dan memekik ketakutan. “Ada apa Freeia?” Vorg terlonjak bangun dari tidurnya. “Aku…Aku takut.” “Ssh… Jangan takut, Cuma suara angin kok,” Vorg bergegas menghampiri Freeia. Akhirnya mereka pun tidak lagi mencoba untuk tidur dan pindah ke sisi api unggun. Mungkin karena takut, tanpa sadar Freeia duduk merapat pada Vorg. Aroma tubuhnya yang segar seperti bunga-bunga di musim semi menyusup ke dalam hidung Vorg. Berbagai perasaan yang belum pernah dirasakannya berkecamuk di dada Vorg. Jantungnya berdegup makin kencang, nafasnya semakin memburu, dan keringat mulai bermunculan di dahi dan di atas bibirnya walaupun sebenarnya suhu udara saat itu sangat dingin. Ia berdehem keras dan mulai tidak dapat berpikir jernih ketika Freeia melihat bekas luka di lehernya dan bertanya,” Bekas luka apa ini? Bagaimana kau mendapatkannya?” Vorg kembali berdehem keras, mengembalikan suaranya yang tiba-tiba menjadi serak, merasa lega karena ada sesuatu yang membuyarkan suasana yang mencekam itu (bagi dia setidaknya). “Oh, itu gara-gara kalajengking. Ketika itu aku pulang sehabis mencari makanan. Sesampainya di rumah peninggalan kedua orang tuaku, ternyata seekor kalajengking besar sedang menerobos liang masuk rumah kami. Demi mendengar jeritan Trod adikku yang berada di rumah sendirian, aku berlari masuk secepat aku bisa. Trod meringkuk di pojok. Ekor kalajengking itu mencuat ke atas, hampir saja Trod disengatnya. Buru-buru aku melemparnya dengan sendok, satu-satunya barang terdekat yang bisa kuraih saat itu, ke kepala kalajengking itu. Kalajengking itu berbalik marah dan berusaha menyerangku. Aku berkelit, berlari menghampiri Trod, memasukkannya ke dalam panci besar tempat biasa ibuku membuat bubur ubi, dan menggelindingkannya keluar. Tetapi aku tidak keburu kabur, kalajengking itu menghalangi pintu keluar. Aku mengeluarkan senjata tanduk kumbangku. Dan ketika sengatnya siap memagutku, kutusuk hidungnya keras-keras. Ia mengamuk dan capitnya mengenai leherku. Untung aku tidak terkena sengat beracunnya. Sementara ia mengamuk kesakitan, aku pun berhasil menyelinap keluar.” Sementara itu Freeia tertawa terbahak-bahak sambil memegangi sisi perutnya. Vorg berhenti bercerita, tertegun mendengar alunan dering merdu tawa Freeia. Belum pernah didengarnya derai tawa seperti itu. Bahkan Trod tidak pernah tertawa selepas itu. Freeia mengusap air mata dari sudut matanya seraya berkata,”Aduh, maafkan aku. Aku tidak tahan. Bukannya aku tidak bersimpati, tetapi ceritamu lucu sekali. Ha ha ha, melempar kalajengking dengan sendok, ha ha ha, dan menggelindingkan adikmu dalam panci ubi, ha ha ha, dan menusuk hidung kalajengking, ha ha ha, mengapa kaupilih hidungnya? Ha ha ha…” kembali Freeia tertawa terpingkal-pingkal di sela-sela kata-katanya. Vorg mulai membayangkan lagi adegan perkelahiannya dengan kalajengking itu. Mulai dilihatnya kelucuan-kelucuan di dalamnya, dan ia mulai tertawa bersama Freeia. Mereka tertawa sampai sakit perut. Dan ketika tawa mereka mulai mereda, Freeia menirukan gerakan melempar sendok pada kalajengking dan mereka pun mulai tertawa lagi. Setelah selesai tertawa, lemas rasanya. Freeia terdiam. Vorg pun terdiam. Diresapinya perasaan yang baru sekarang ini dirasakannya. Terasa ringan, hampir-hampir pusing. Dan dadanya terasa begitu lapang. Pipinya pegal sehabis tertawa sedemikian rupa, tetapi kehangatan mengalir di perutnya. Betapa nikmatnya bisa tertawa seperti itu. “Tahukah Vorg, kau lebih tampan bila kau tersenyum,” kata Freeia menggoda. Vorg tersenyum simpul. Dikeluarkannya alat musik taringnya untuk kemudian dimainkannya. Aneh, musik yang keluar kali ini tidak sesendu biasanya. Rasanya musik itu mengandung harapan, dan bahkan keceriaan di dalamnya. “Waw! Belum pernah kudengar musik seindah itu,” kata Freeia sesudahnya, “Aku jadi teringat tarian peri-peri padang di perayaan awal musim semi, dengan taburan kuncup bunga aneka warna dan kicauan burung-burung muda di rerumputan.” “Mau tahu dari mana kuperoleh alat musikku ini?” tiba-tiba Vorg bertanya. “Mau! Mau!” Freeia mengangguk dengan antusias. Maka Vorg pun mulai menceritakan perkelahiannya dengan seekor kadal gendut kurang ajar yang berusaha memakannya ketika ia sedang buang hajat sendirian di hutan. Bagaimana karena terkejut dan kesal ia menunggangi kadal itu berputar-putar dan akhirnya menjerat leher kadal itu dengan celananya sampai lemas tak bernyawa. Kemudian ia mengambil taringnya yang berongga dan mencucinya untuk dijadikan alat musik yang ternyata oke punya. Sayang daging kadal itu liat dan bau, jadi Vorg mengurungkan niatnya untuk membawanya pulang dan memakannya. Mereka tertawa-tawa dengan gembira. Bercakap-cakap dan bersenda gurau dengan ceria. Juga saat Freeia menceritakan berbagai kekacauan yang kerap ditimbulkan akibat perbuatannya. Raungan angin yang melolong menyeramkan di luar gua terlupakan sudah, yang ada hanyalah kehangatan dan kebahagiaan semata. ~oOo~ Pagi itu Vorg terbangun karena secercah cahaya yang masuk dari mulut gua. Badai sudah berlalu dan matahari tampak bersinar di luar gua. Freeia masih tertidur. Dipandanginya wajah manis gadis peri itu puas-puas. Seolah-olah menyadari tatapan Vorg, Freeia menggeliat dalam tidurnya. Perlahan kesadaran mulai merebak dan hal pertama yang merasuki memorinya adalah Vorg dan kebersamaan mereka selama beberapa hari terakhir. Freeia membuka matanya. Tampak seraut wajah tampan dengan senyum simpul di bibirnya balas menatapnya. Freeia tersenyum malas. “Ayo bangun peri malas. Badai sudah berhenti. Kita harus melanjutkan perjalanan,” sapa Vorg lembut. Maka setelah sarapan dan bersiap-siap, Vorg melepaskan kedua pelindung yang dipakainya di lututnya. Dia membuat sepasang sepatu kedap air dari serpihan cangkang kumbang itu untuk Freeia. Yah, sedikit kasar buatannya. Maklum, alat yang tersedia hanyalah senjata dari kepingan tanduk miliknya. Terakhir, dipasangnya sedikit tali peri untuk mengencangkan sepatu itu di kaki Freeia. “Nah! Kaimu tidak akan keriput lagi,” kata Vorg puas. Freeia menatap kakinya yang kini terbungkus sepatu cangkang kumbang buatan Vorg, kemudian menatap lutut Vorg yang kini telanjang, kemudian ia menatap wajah Vorg dan menghadiahinya dengan senyum lebar dan ucapan terima kasih. Membuat wajah Vorg yang tadinya tampak puas menjadi berseri-seri dan sedikit sumringah. Hidungnya kembang kempis karena bangga dan senang. Vorg mengemas sisa persediaan makanan mereka untuk bekal mereka di perjalanan, kemudian mematikan api yang selama beberapa hari ini telah mengahangatkan mereka. Dan mereka pun melangkah ke luar, ke dinginnya udara pegunungan sehabis badai salju. Langit tampak bersih seperti habis dicuci dan udara yang mereka hirup terasa dingin dan pedas di wajah mereka. Vorg menyipitkan matanya, membiasakan diri dengan cahaya matahari yang dengan bebas menerangi hamparan bukit berbatu-batu itu. Freeia merentangkan kedua tangannya dan menghirup nafas dalam-dalam, “Ahh… Segarnya!” Mereka mulai melanjutkan perjalanan mereka menuju puncak bukit. Kini Vorg berjalan lebih perlahan agar Freeia dapat mengimbanginya. Sesekali mereka berhenti untuk makan atau sekedar beristirahat sejenak. “Tak lama lagi kita akan sampai di puncak bukit,” kata Vorg. Ya, buat peri sekecil mereka perjalanan itu luar biasa jauhnya. “Bagus! Dan tak lama lagi aku bisa mengembalikan mantelmu. Lihat, sayapku mulai tumbuh,” Freeia memperlihatkan sepasang sayap kecil keemasan yang tumbuh begitu saja di punggungnya. “Kurasa cuaca yang dingin ini menumbuhkan sayapku walaupun musim dingin belum lagi tiba. Tak lama lagi sayap-sayap ini akan cukup untuk menghangatkanku,” ujarnya lagi. “Benarkah? Tapi tampaknya sayap-sayap kecil itu begitu tipis dan rapuh,” kata Vorg ragu-ragu. “Eh! Jangan meremehkan sayap peri. Lihat saja kekuatan tali peri. Tali peri kan berasal dari sayap-sayap ini,” “Hmm… Begitu… Bagaimana kakimu? Sakitkah?” “Tidak kok. Sepatunya pas benar di kakiku. Enak dan hangat pula. Kau hebat sekali membuat sepatu,” celetuk Freeia samba tersenyum penuh kekaguman kepada Vorg. Hati Vorg menjadi berbunga-bunga mendengarnya, hidungnya kembali kembang kempis mendengar pujian Freeia meskipun ia tidak mengatakan apapun. Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Dan ketika hari mulai senja, saat langit mulai berwarna kemerahan, sampailah mereka di puncak bukit berbatu itu. Vorg menaungi matanya dengan telapak tangan dan melihat berkeliling. Dari ketinggian bukit itu, tampaklah bahwa bukit tempat mereka terdampar terletak di antara hutan belantara yang lebat tempat tinggal Vorg dan padang belantara yang luas tempat tinggal Freeia. Selain itu masih ada dataran tandus berselimutkan salju di satu sisi dan rawa-rawa becek yang berkabut di sisi yang lain. “Rumahmu pasti berada di antara padang rumput itu bukan?” tanya Vorg tanpa mengalihkan pandangan dari pemandangan di sekitarnya. “Iya betul! Ayo kita pulang!” Freeia berseru senang sambil menarik tangan Vorg, mengajaknya melanjutkan perjalanan mereka. “E..eh! Nanti dulu. Hari sudah malam, dan kita sudah berjalan seharian. Lebih baik kita beristirahat di sini malam ini. Besok baru kita lanjutkan perjalanan kita.” Vorg menahan Freeia yang sudah tidak sabar ingin pulang ke rumah. “Baiklah,” setelah berpikir beberapa saat dengan gaya khas mengerutkan kening, menggigit bibir dan menotol-notol dagu, akhirnya Freeia setuju dengan usul Vorg. Kembali Vorg membuat api unggun. Mereka mencairkan salju untuk minum dan membakar ubi dan dedaunan yang mereka jumpai dan mereka petik selama di perjalanan. Hanya saja di puncak bukit ini tidak ada gua. Vorg merasa cukup aman untuk beristirahat di alam terbuka karena langit begitu jernih sehingga tidak mungkin badai bertiup malam itu. Mereka pun duduk meringkuk sedekat mungkin dengan api. Freeia masih mengenakan mantel bulu Vorg karena sayapnya belum cukup panjang untuk menyelimuti dirinya sementara Vorg membungkus tubuhnya dengan daun lebar yang dibawanya dari gua. Kali ini kantuk cepat menghampiri mereka karena tubuh keduanya sudah penat sehabis berjalan mendaki bukit seharian. Tak lama kemudian mereka pun jatuh terlelap. Sinar bulan yang pucat, kerlip bintang-bintang dan cahaya api yang lincah menemani kedua insan peri yang terlelap di puncak bukit dengan perasaan manis yang kini mulai tumbuh di hati mereka berdua… TO BE CONTINUED…. Suit Swiwww!!! :D

Posted in San San Tjahaya

Kisah Freeia dan Vorg part.6

No Comments »

May 24th, 2010 Posted 6:56 pm

(San San Tjahaya)

Samar-samar didengarnya suara yang begitu merdu menyeruak masuk ke alam mimpinya. Lebih merdu dari kicauan burung-burung di musim semi, lebih merdu dari koor jangkrik-jangkrik di malam musim panas. Suara yang merasuk ke dalam kalbu. Suara apakah ini?

Hangat. Seluruh tubuhnya terasa begitu hangat dan nyaman. Rasanya sudah lama sekali Freeia tidak merasakan kehangatan seperti ini. Aliran dingin sedingin air es yang mengaliri tulang-tulangnya kini digantikan aliran hangat darah yang terasa mencair kembali di setiap pembuluh darah di sekujur tubuhnya.

(more...)

Posted in San San Tjahaya

Kisah Freeia dan Vorg part.5

No Comments »

May 18th, 2010 Posted 6:25 pm

Berjam-jam mereka mendaki bebatuan berlapis salju itu. Semakin lama, kaki Freeia terasa semakin berat. Ia tidak terbiasa dengan aktifitas fisik yang berat seperti itu. Apalagi sejak badai semalam perutnya belum diisi apa-apa. Sepatunya sudah basah dari tadi karena menapak di salju. Sepatu itu terbuat dari kelopak bunga yang lembut dan tidak kedap air. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Hanya punggung Vorg yang berada beberapa meter di depannya yang menjadi fokusnya. “Satu langkah lagi… Satu langkah lagi… Satu langkah lagi…” litani itu seakan bergaung di kepalanya sementara ia terus melangkah mengikuti Vorg yang berjalan sambil sesekali menghentak-hentakkan kaki untuk memadatkan salju di depannya agar Freeia lebih mudah melaluinya. Sementara itu Vorg berkonsentrasi pada jalur yang harus mereka tempuh. Ia berusaha mencari jalan dengan medan yang termudah supaya dapat diiuti oleh peri mungil di belakangnya. Sesekali ia mengerling dengan sudut matanya dan melihat Freeia masih mengikutinya. Ia tak menyadari kelelahan yang dirasakan peri manis yang terseok-seok mengikutinya karena Vorg sendiri sudah terbiasa berjalan atau memanjat seharian tanpa makanan sedikitpun. Entah sudah berapa lama mereka berjalan ketika cahaya di langit tampak memudar. Kegelapan perlahan bertambah pekat dan Vorg mulai gelisah karena firasatnya mengirimkan sinyal-sinyal negative di hatinya. Freeia tampak tak menyadari apa pun karena ia sudah terlalu lemas untuk bahkan berpikir tentang apa pun. Tiba-tiba suara gemuruh angin mulai terdengar di kejauhan. “Gawat! Kelihatannya badai akan datang lagi. Kita harus segera mencari perlindungan,” kata Vorg sambil menoleh memandang Freeia. Alangkah terkejutnya Vorg melihat Freeia yang berjalan sempoyongan. Bibirnya pucat dan tubuhnya menggigil. Dengan sigap dihampirinya Freeia dan menangkapnya tepat ketika Freeia terjatuh karena kelelahan. Angin bertiup semakin kencang. Badai semakin mendekat. Dibopongnya tubuh mungil Freeia dan ia pun dengan cepat merambah semak-semak dan gundukan-gundukan batu yang mencuat untuk mencari tempat berlindung. Akhirnya Vorg menemukan semacam gua yang cukup dalam di punggung bukit itu ketika raungan angin sudah begitu dekat. Ia pun masuk ke dalam gua dan dengan hati-hati diletakkannya Freeia di lantai gua. Dengan cepat dibersihkannya gua itu sekedarnya dan dipindahkannya Freeia ke sudut gua yang terlindung dari angin. Vorg mengumpulkan sebanyak mungkin ranting-ranting kayu dan dedaunan kering yang bisa dijumpainya dan meletakkannya kayu-kayu itu dalam gua. Kemudian dibukanya pelindung sikunya yang terbuat dari cangkang kumbang. Diisinya kedua cangkang itu dengan salju yang bersih untuk dicairkan menjadi air minum. Tapi sayang, sebelum ia berhasil mencari sesuatu untuk dimakan badai yang ganas itu sudah kembali bertiup di luar gua. Cepat-cepat Vorg masuk untuk berlindung di dalam gua. Hal pertama yang dilakukannya adalah membuat api di tengah gua dengan cara menjentikkan 2 buah batu sampai muncul percikan bunga api di antaranya. Setelah api yang riang menari-nari menghangatkan gua itu, ia pun memanaskan salju yang tadi diambilnya dengan cara menggantung cangkang kumbang yang berisi salju pada sebatang ranting yang ditancapkannya di lantai tanak di samping api unggun. Kemudian perlahan Vorg menghampiri Freeia yang tergolek di sudut gua. Tubuhnya masih agak menggigil dan bibirnya yang pucat tampak pecah-pecah terkena terpaan udara dingin. Sepatunya basah. “Dasar bodoh! Mana bisa sepatu empuk begitu dipakai untuk perjalanan berat,” pikir Vorg. Perlahan dibukanya sepatu Freeia. Tampak kakinya yang mungil kini pucat dan keriput karena basah dan kedinginan. Vorg melepas mantel bulunya dan menyelimuti tubuh Freeia dengan mantel itu. Mantelnya yang putih (mungkin dari musang putih atau serigala putih yang bulunya tersangkut di semak-semak tempat Vorg menemukannya) tampak kontras dengan kulit Freeia yang kecoklatan dan rambutnya yang hitam legam. Selanjutnya Vorg berusaha menghangatkan kaki Freeia dengan menggosoknya keras-keras agar darah kembali mengalirinya. “Kecil sekali kakinya,” pikir Vorg sambil terus menggosok sampai dirasanya kehangatan mulai terasa di kaki Freeia dan warna kemerahan mulai kembali di kulitnya. Air panas sudah siap. Vorg meniupi air panas itu dan membawanya kepada Freeia. Ia menopang kepala Freeia dengan tangan kiri dan meminumkan air hangat itu ke mulut Freeia dengan tangan kanannya. Sebagian airnya tumpah dan mengalir ke pipi dan leher Freeia, tetapi sebagian lagi berhasil melewati kerongkongan gadis itu. Mengangguk puas, Vorg pun membaringkan Freeia kembali dan ia duduk di dekat mulut gua. Ditatapnya pusaran angin dan salju yang menutup setiap pemandangan yang ada di hadapannya. Raungan angin yang memekakkan tak hentinya menyerang pendengarannya. Jemu mendengar suara angin, dikeluarkannya alat musik taringnya dari tas kulit ularnya, diselipkannya di sela-sela bibirnya dan Vorg pun mulai meniupnya. Alunan musik memenuhi gua kecil itu, menyuarakan kesepiannya, menyuarakan kegundahan hatinya memikirkan Trod adiknya, menyuarakan impian hatinya akan masa depan yang ia pun tidak tahu seperti apa rupanya. TO BE CONTINUED…. Nah, sampe di sini saya mulai bercabang ide nih. Boleh kasih masukan? Apa lebih baik cerita ini dilanjut tetap sebagai cerita petualangan biasa dengan sedikit greget cinta (Rating remaja) Atau lebih baik cerita ini saya kembangkan jadi adventurous romance yang lebih cocok buat konsumsi dewasa (17 tahun ke atas, tapi ngga sampe vulgar banget kok ;p) Hehehe polling nih ceritanya…. Thanks before

Posted in San San Tjahaya

Kisah Freeia dan Vorg part.4

No Comments »

May 15th, 2010 Posted 2:31 pm

Freeia terbangun dalam keheningan. Kepalanya berdenyut-denyut, seluruh tubuhnya terasa ngilu. Perlu beberapa saat sampai ia menyadari apa yang telah terjadi. Perlahan ia bangkit dan memandang ke sekitarnya. Ternyata ia telah terlempar ke segerumbul semak dan tersangkut di sana. Salju menimbuni semak itu sehingga Freeia tidak terbawa lebih jauh oleh badai semalam. Untunglah ia begitu kecil hingga tubuhnya terselip di antara helai-helai daun dan tidak kehabisan nafas karena tertimbun salju. Freeia merasa kedinginan. Sayapnya belum lagi tumbuh karena sebetulnya musim dingin belum tiba. Dicobanya untuk melangkah. Untunglah! Kedua kakinya masih berfungsi dengan baik. Dilayangkannya pandangan ke sekeliling semak tempatnya terdampar. Tampak daerah perbukitan yang berbatu-batu. Beberapa batang pohon yang pendek dan semak-semak menyembul di beberapa tempat. Sejauh matanya memandang semua tertutup salju. Sulit sekali bagi peri sekecil Freeia untuk mengarungi salju yang dalam. Sebentar saja ia sudah merasa kelelahan, dan basahnya salju membuatnya gemetar kedinginan. Akhirnya ia kembali ke semak-semak tadi, menyusup masuk dan bergelung rapat di dasar semak sambil menggosok-gosok tangan dan lengannya, berharap untuk merasakan sedikit kehangatan. Di manakah ia berada? Akankah ia bisa kembali ke padang permai kampong halamannya? Satu persatu wajah teman-temannya terlintas di benaknya. Dan Freeia mulai dicekam rasa takut. Gigilannya kini bercampur antara gigilan kedinginan dan ketakutan. Air mata meleleh di pipinya dan perlahan isak tangis terdengar dari balik gerumbul semak di bukit batu yang hening itu. ~oOo~ Telinga Vorg terasa sakit. Ada sesuatu yang hilang. Oh! Suara angin. Suara angin yang beberapa waktu belakangan ini menggempur gendang telinganya sudah berhenti. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Dirabanya setiap anggota tubuhnya. Ajaib! Tidak ada satupun tulang yang patah. Rupanya ia terbawa angin dan terlontar ke suatu ceruk batu yang terlindung. Tubuhnya terguling ke dasar ceruk yang menyerupai gua kecil di tanah. Segera Vorg bangkit dan mengamati daerah sekitarnya. Matanya terasa silau dengan begitu banyaknya sinar matahari di daerah yang terbuka itu. Badai sudah berhenti. “Aku harus mencari jalan pulang,” adalah pikiran yang pertama terlintas di benaknya. Ia pun mulai berjalan. Merambah tumpukan salju, memanjat dan menuruni gundukan batu, menerobos semak-semak, mencari jalan pulang. “Ke mana aku harus berjalan?” pikirnya bingung. Ia benar-benar tidak tahu di mana ia berada sekarang. Tetapi bagaimanapun ia harus mencoba, ia harus kembali kepada Trod. Maka ia pun terus berjalan. ~oOo~ Entah berapa lama ia berjalan, tiba-tiba telinganya yang terlatih menangkap samar-samar suatu suara yang asing dari balik sebuah gerumbul semak. Suara apakah itu? Ternyata suara isak tangis. Siapa yang menangis di tengah perbukitan batu yang lengang dan terpencil ini? Perlahan disibakkannya helai-helai semak itu. “Aaaaa!!!” Freeia memekik ketakutan. “Oh! Eh! Tunggu dulu,” Vorg pun tak kalah terkejut. “Aaaaaaa!!!!” Freeia memekik ketakutan. “Tenang, aku tidak akan menyakitimu,” Vorg dengan panik berusaha menenangkan gadis peri di hadapannya. “Aaaaaaaaa!!!!!” Freeia memekik ketakutan. “Hei! Dengarkan aku dulu!” Vorg mulai kebingungan. “Aaaaaaaaaa!!!!!!” Freeia memekik ketakutan. “DIAAAAAAMMM!!!!” Akhirnya Vorg berteriak jengkel. “………” Freeia terdiam sambil membelalak karena terkejut. Keduanya saling menatap untuk pertama kalinya. “Eh! Makhluk apakah ini? Perikah? Dia manis sekali. Belum pernah aku melihat makhluk seindah ini,” pikir Vorg setengah terpana. “Ih! Makhluk apa ini? Begitu… begitu… pucat! Tidak berwarna, hampir-hampir transparan. Sayang, padahal dia ganteng juga. Dan… Ah! Sepertinya lengan itu kuat sekali,” pikir Freeia. Matanya menelusuri makhluk jangkung (bagi ukuran peri padang) di hadapannya dari atas ke bawah. Akhirnya Vorg mencoba untuk berkomunikasi lagi dengan makhluk manis yang baru dijumpainya itu, katanya, “Ehmm… Jangan takut ya? Aku tidak akan menyakitimu. Tapi, apa yang sedang kau lakukan di yempat seperti ini?” “Oh! Aku Freeia, peri padang rumput. Semalam aku terbawa oleh badai salju dan tak sadarkan diri. Ketika siuman aku berada di sini. Hik! Aku mau pulaaaangg… hik!” Freeia mulai menangis lagi. “E…eh! Jangan menangis dong. Sudahlah. Aku akan mengantarmu pulang. Ayo dong, jangan menangis ya? Ya?!” Freeia tertegun memandang pemuda peri yang tampak bingung di hadapannya. “Ini peri benar-benar baik atau punya maksud jahat kepadaku ya?” pikirnya. “Kalau aku ikut, jangan-jangan dia mengapa-apakan aku. Tapi kalau tidak ikut dengannya, aku harus ke mana yah?” Freeia berpikir keras sambil menggigiti bibir bawahnya. Keningnya sedikit berkerut dan jari telunjuknya menotol-notol dagunya. “Tetapi dia tidak tampak seperti penjahat,” Freeia masih menimbang-nimbang. “Ini peri rada oon kali ya? Masa aku ngomong gitu aja ngga ngerti? Mikirnya serius amat,” pikir Vorg sambil mengamati kelakuan Freeia dengan heran. “Oke deh! Aku ikut kamu!” tiba-tiba Freeia berseru sambil melompat berdiri hingga Vorg terlonjak kaget. “Ke mana kita pergi sekarang?” Freeia bertanya dengan antusias. Ia ingin segera pulang ke padang rumputnya tercinta. “Nanti dulu. Kita harus mendaki sampai ke puncak bukit ini supaya kita bisa melihat di mana kita sebenarnya berada dan ke mana kita harus pergi. Karena aku pun tidak tahu kita berada di mana sekarang,” Vorg menjelaskan dengan sabar. “Yahhh! Kupikir dia tahu jalan,” pikir Freeia agak kecewa, diam-diam ia mencibirkan bibir bawahnya. Sementara itu Vorg sudah mulai mendaki bukit. Terperanjat karena takut ditinggal, Freeia buru-buru mengejar Vorg. “Hei! Tunggu akuuu…” ujarnya seraya berlari-lari kecil menyusul Vorg. TO BE CONTINUED…. Petualangan akan segera dimulai, tunggu kelanjutannya ya?

Posted in San San Tjahaya

Kisah Freeia dan Vorg part.3

No Comments »

May 15th, 2010 Posted 11:58 am

Tahun ini, cuaca terasa berbeda, bahkan musim panas pun terasa dingin. Sepanjang tahun, peri-peri padang merasa bingung. Matahari masih bersinar, tetapi angin selalu bertiup kencang dan suhu udara menurun terus dari hari ke hari. Naluri para peri berkata sesuatu yang buruk sedang terjadi. Mereka mulai mengumpulkan makanan sedini mungkin. Dan di musim gugur, walaupun salju belum turun udara sudah menjadi demikian dingin hingga air parit membeku. Titik-titik air hujan pun terasa bagaikan jarum-jarum es yang turun dari langit. Dan suatu sore di musim gugur, tiba-tiba badai salju yang sangat dahsyat, badai salju terdahsyat yang pernah ada, melanda seluruh negeri. Tanpa tanda-tanda dan tanpa diduga badai itu menerjang tanpa ampun. Angin dan salju berputar-putar menerpa segala yang ada di permukaan bumi. Tidak sedikit hewan-hewan dan peri-peri yang tersapu dan menghilang entah ke mana. Bunga-bunga menghilang tanpa bekas dan banyak pohon tumbang diterjang ganasnya badai. Hanya mereka yang sudah berada di liangnya masing-masing yang selamat. Saat itu Freeia sedang berjalan menuju rumah Deenia. Mereka sudah berjanji akan merajut bersama. Mereka bermaksud membuat baju-baju tambahan karena cuaca semakin dingin. Di tengah jalan tiba-tiba badai salju datang menyapu. Freeia merasakan kekuatan angin yang sangat besar mengangkatnya berputar-putar bersama dengan serpihan-serpihan salju yang sesekali menampar wajahnya dan menabrak tubuhnya, membuat kepalanya terasa sangat pening. Semuanya berputar-putar. Warna putih melingkupinya. Raungan angin memekakkan telinganya. Hingga akhirnya Freeia pun kehilangan kesadaran. Kegelapan dan keheningan membungkam semua raungan angin di telinganya dan membuatnya tidak merasakan dinginnya salju di kulitnya. ~oOo~ Sementara di hutan, segala perubahan cuaca itu tidak begitu terasa karena lebatnya pepohonan yang menaungi hutan itu. Hanya dinginnya udara terasa semakin menggigit dari hari ke hari. Peri-peri hutan mulai mengumpulkan bulu-bulu hewan yang tersangkut di semak-semak untuk dibuat mantel. Mereka pun harus bekerja lebih keras lagi mengumpulkan persediaan makanan untuk menghadapi musim dingin. Ketika itu semua peri hutan sudah berlindung di rumahnya masing-masing. Tetapi Vorg mendengar suara cereceh kutu-kutu di atas lubang pohon tempatnya tinggal bersama Trod sejak kalajengking merebut liang peninggalan orang tua mereka di sela-sela akar pohon ek. Vorg pun menitipkan adiknya pada keluarga Begt di pohon sebelah dan pergi mengejar kutu-kutu itu. Sebetulnya keluarga Begt menyarankan Vorg untuk mengurungkan niatnya dan berlindung di rumah karena angin begitu kencang bertiup sore itu. Tetapi kesempatan untuk menambah persediaan makanan begitu menggoda bagi Vorg. Apalagi di musim dingin setelah persediaan makanan habis mereka harus hidup dari sisa-sisa serabut akar-akaran atau kulit batang kayu mati yang hambar dan kasar seperti pasir. Bayangan tambahan kutu-kutu renyah sebagai tambahan lauk untuk Trod membulatkan tekadnya untuk mulai memanjat menembus hembusan angin setajam silet di kulit pucatnya. Vorg memanjat semakin tinggi. Tangannya mencengkram kulit pohon kuat-kuat untuk bertahan dari terpaan angin yang begitu gigih berusaha menerbangkannya. Kutu-kutu itu tak kunjung ditemukannya, apalagi siulan angin di telinganya membuatnya sulit mendengarkan sumber suara cereceh kutu-kutu itu. “Apakah aku salah dengar? Jangan-jangan tidak ada kutu di sini. Sialan! Apa sebaiknya aku pulang saja ya?” pikir Vorg geram. “Akan kucoba sampai ke puncak agar aku tak penasaran, setelah itu aku akan pulang. Dinginnya minta ampun!” Akhirnya Vorg memutuskan untuk melanjutkan pencariannya. Ketika Vorg hampir mencapai puncak pohon, tiba-tiba badai salju itu datang. Sekuat apa pun Vorg bertahan, tubuh kecilnya tak dapat melawan terjangan badai yang maha dahsyat itu. Ketika segumpal salju menabraknya, cengkraman kukunya pada batang pohon itu pun terlepas. Vorg yang tak berdaya terbawa berputar-putar entah ke mana sampai akhirnya pandangannya mengabur. Suara-suara di sekitarnya mengecil dan Vorg pun kehilangan kesadarannya. TO BE CONTINUED… Maap lama sambungannya ya…

Posted in San San Tjahaya

Cerpen : A Little Sad Love Story

No Comments »

May 14th, 2010 Posted 6:13 pm

When she was young she looked everywhere for love No love for her even when she’d searched under every gravel and pebble No love for her even when she’d peeked behind every single bush She ended up begging for love and got broken hearted a few times She didn’t learn the lesson and finally got the biggest suffering in her life So she learned her lesson allright and she was no longer looking for love But just when love had no more appeal for her It came through her door and had her right there and then She had to learn to trust and to love and to be loved all over again Until she felt that this love is what every thing she lived through was meant to prepare her for But just when her life was on the top of the world Her love said that he never loved her all those time they’d been together He just needed her at that time as a stepstone in his life Her heart was broken again But she tried her best to hold on to the only love she ever knew And she did everything in her power to make her love fall in love for her again Until her love apologized because he had found someone else The true love he’d been searching for Then, she allowed her heart to crumble into pieces So shattered it could never be mended So tired she no longer want to live So hurt she could feel no more anger He stayed by her side, knowing that he could never pursue his true love She stayed by his side, knowing that she could never own his love Life went on… And one day, her love told her he’s the luckiest man alive to have her by his side He finally said that he loves her But her heart could no longer feel It could no longer smile or cry And they lived together forever after…

Posted in San San Tjahaya

←Older