<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Yuk Nulis! &#187; San San Tjahaya</title>
	<atom:link href="http://yuknulis.com/category/san-san-tjahaya/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yuknulis.com</link>
	<description>Khusus untuk mewadahi penulis-penulis PEMULA yang ingin belajar nulis, bukan jurnalis aktif, dan sudah melahirkan buku.</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Jul 2010 18:16:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Sharing : Kejadian-kejadian dalam Hidup Berkeluarga Sehari-hari (6) Episode Nonton Toy Story 3</title>
		<link>http://www.facebook.com/note.php?note_id=445044436927</link>
		<comments>http://www.facebook.com/note.php?note_id=445044436927#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jul 2010 12:15:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>San San Tjahaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[San San Tjahaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.facebook.com/note.php?note_id=445044436927</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari Senin 28 Juni yang lalu kami berencana untuk mengajak anak-anak menonton Toy Story 3 di bioskop. Ini adalah pengalama pertama kali menonton di bioskop untuk Christopher, karenanya sebenarnya kami agak was-was juga karena entah dia bisa bertah...]]></description>
		<wfw:commentRss>http://yuknulis.com/san-san-tjahaya/sharing-kejadian-kejadian-dalam-hidup-berkeluarga-sehari-hari-6-episode-nonton-toy-story-3/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diam</title>
		<link>http://www.facebook.com/note.php?note_id=440727841927</link>
		<comments>http://www.facebook.com/note.php?note_id=440727841927#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jun 2010 03:09:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>San San Tjahaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[San San Tjahaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.facebook.com/note.php?note_id=440727841927</guid>
		<description><![CDATA[Apakah diam?
Diam = marah
Diam = sedih
Diam = malas
Diam = sakit gigi
Diam =???

Perlukah kita mengetahui mengapa seseorang berdiam?
Ataukah kita mencari masalah dengan memberi perhatian?

Apakah diam adalah solusi? Atau justru suatu penyakit?
Adakah h...]]></description>
		<wfw:commentRss>http://yuknulis.com/san-san-tjahaya/diam-3/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Denny (Kesaksian Komsel)</title>
		<link>http://www.facebook.com/note.php?note_id=440480021927</link>
		<comments>http://www.facebook.com/note.php?note_id=440480021927#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 07:50:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>San San Tjahaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[San San Tjahaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.facebook.com/note.php?note_id=440480021927</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini adalah kesaksian inspiratif rekan kita Anton Jo (komsel Petra), Ko Herry (Ie She Cung) dan istrinya Ci Gwat (Shie Su Ye) (komsel Dewasa Umum) tentang Tuhan yang hidup, yang campur tanganNya membuat kehidupan mereka saling berjalinan melalui...]]></description>
		<wfw:commentRss>http://yuknulis.com/san-san-tjahaya/denny-kesaksian-komsel/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Freeia dan Vorg part.11</title>
		<link>http://www.facebook.com/note.php?note_id=439854571927</link>
		<comments>http://www.facebook.com/note.php?note_id=439854571927#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jun 2010 09:46:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>San San Tjahaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[San San Tjahaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.facebook.com/note.php?note_id=439854571927</guid>
		<description><![CDATA[Bagian dalam dari istana itu gelap dan lembab. Penerangan hanya berasal dari beberapa buah obor yang ditancapkan pada dudukannya di sepanjang dinding lorong batu itu. Ada beberapa jendela tetapi semuanya tertutup rapat. Rupanya aktifitas di istana itu ...]]></description>
		<wfw:commentRss>http://yuknulis.com/san-san-tjahaya/kisah-freeia-dan-vorg-part-11/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sharing : Kejadian-kejadian dalam Hidup Berkeluarga Sehari-hari (5) Episode Piknik</title>
		<link>http://www.facebook.com/note.php?note_id=438857786927</link>
		<comments>http://www.facebook.com/note.php?note_id=438857786927#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 13:14:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>San San Tjahaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[San San Tjahaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.facebook.com/note.php?note_id=438857786927</guid>
		<description><![CDATA[	Seminggu yang lalu, kami sekeluarga bersama keluarga sahabat kami (Amul dari 4 Sekawan. Sebetulnya Wina pun berencana ikut tetapi tidak jadi karena ada halangan dan Adag tidak bisa diajak karena sudah pulang ke Australia) memutuskan untuk pergi piknik...]]></description>
		<wfw:commentRss>http://yuknulis.com/san-san-tjahaya/sharing-kejadian-kejadian-dalam-hidup-berkeluarga-sehari-hari-5-episode-piknik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sharing : Kejadian-kejadian dalam Hidup Berkeluarga Sehari-hari (4) Episode Membuang Dot</title>
		<link>http://www.facebook.com/note.php?note_id=438256896927</link>
		<comments>http://www.facebook.com/note.php?note_id=438256896927#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 06:46:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>San San Tjahaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[San San Tjahaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.facebook.com/note.php?note_id=438256896927</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sukses dengan proyek melatih Chris tidur di kamarnya sendiri, keluarga kami memulai suatu proyek baru yaitu proyek membuang dot. Sejak bayi Chris selalu meminta susu ketika akan tidur. Walaupun baru saja minum susu 10 menit sebelumnya, saat men...]]></description>
		<wfw:commentRss>http://yuknulis.com/san-san-tjahaya/sharing-kejadian-kejadian-dalam-hidup-berkeluarga-sehari-hari-4-episode-membuang-dot/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Freeia dan Vorg part.10</title>
		<link>http://www.facebook.com/note.php?note_id=436326441927</link>
		<comments>http://www.facebook.com/note.php?note_id=436326441927#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jun 2010 07:23:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>San San Tjahaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[San San Tjahaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.facebook.com/note.php?note_id=436326441927</guid>
		<description><![CDATA[Mereka melesat di keremangan langit senja dengan ketinggian dan kecepatan yang tak pernah terbayangkan. Freeia saja yang sebetulnya sudah terbiasa terbang merasa ngeri. Dicengkramnya bulu-bulu di leher Lloyd kuat-kuat. Kakinya menjepit leher burung bes...]]></description>
		<wfw:commentRss>http://yuknulis.com/san-san-tjahaya/kisah-freeia-dan-vorg-part-10/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Freeia dan Vorg part.9</title>
		<link>http://www.facebook.com/note.php?note_id=432778936927</link>
		<comments>http://www.facebook.com/note.php?note_id=432778936927#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 10:39:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>San San Tjahaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[San San Tjahaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.facebook.com/note.php?note_id=432778936927</guid>
		<description><![CDATA[Keesokan harinya badai telah berhenti. Freeia telonjak bangun dan segera memeriksa keadaan Vorg. Syukurlah suhu tubuhnya terasa normal walaupun wajahnya masih tampak pucat. Freeia pun bangkit untuk menjerang air dan membakar beberapa biji-bijian kalau-kalau Vorg bangun dan merasa lapar.

	Vorg bermimpi buruk. Kumbang raksasa mengejar-ngejar dan menangkap adiknya. Saat Vorg mengejarnya wajah dan suara teriakan Trod berubah menjadi sosok dan teriakan Freeia yang dicengkram capit beracun kumbang ganas itu. Vorg berusaha berlari mengejar dan berteriak tetapi suaranya tidak keluar dan langkahnya terasa begitu berat. Tangannya menggapai tanpa daya ketika kumbang itu menyeret tubuh lemas Freeia menuju kegelapan yang begitu pekat…

	Vorg bermimpi indah. Tubuhnya serasa melayang di udara. Aneka warna menghiasi latar belakang mimpinya. Rongga hidungnya dipenuhi aroma segar yang sangat familiar di hidungnya, seperti harum bunga-bunga di musim semi. Vorg memejamkan mata dan sepasang tangan yang lembut membelai rambut dan keningnya. Apakah ia sudah mati dan berada di Surga?

	Tiba-tiba aroma lain merasuki rongga hidungnya. Harum biji-bijian hangat dan pekatnya aroma dedaunan kering membuatnya terbangun. Dibukanya matanya yang terasa berat. Vorg melihat Freeia sedang bersimpuh di sisi api, mengaduk the rumput dalam cangkang kumbang mantan pelindung sikunya. Biji-bijian yang sudah dipanggang sampai merekah beralaskan daun kering di sisi kakinya. Vorg tersenyum senang. Seandainya saja setiap pagi pemandangan indah seperti ini menyambutnya saat bangun tidur.

	Vorg mencoba untuk bangun, tetapi rasa nyeri yang menusuk di lengan dan kepalanya membuatnya terpaksa berbaring kembali sambil mengaduh tertahan. Freeia menoleh mendengar suara Vorg. Dijatuhkannya ranting yang sedang dipakainya mengaduk the dan buru-buru dihampirinya pemuda itu.
	“E..eh! Kau jangan bangun dulu,” 
	“Aku tidak apa-apa kok. Cuma luka kecil, tak seberapa,” kata Vorg.
	“Luka kecil apanya? Seluruh tubuhmu luka-luka dan memar-memar. Dan sikumu hampir hilang setengahnya tahu?” Freeia memarahi Vorg.
	“Hahaha… Jangan sewot dong. Aku sudah biasa kok,” jawab Vorg ringan. Tetapi tak urung ia mengernyit kesakitan ketika menggerakkan lengannya. Freeia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, setengah kagum, setengah bingung menghadapi pemuda jabrik itu.

	“Ayo kita makan. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan. Kau mau pulang kan?” Vorg berkata ceria sambil kembali berusaha bangkit dari tidurnya.
Freeia membantu Vorg duduk. Saat itulah Vorg menyadari bahwa ia tidak berpakaian. Wajahnya yang pucat tiba-tiba saja tampak tidak begitu pucat karena semburat kemerahan di pipinya, hanya bibirnya yang masih tampak kebiruan.

	“Kemarin pakaianmu berlumuran lendir dan darah, juga sobek di beberapa tempat. Aku sudah membersihkan dan memperbaikinya. Tuh di sana,” Freeia menjelaskan dengan canggung sambil bergegas mengambilkan pakaian Vorg. Wajahnya merah padam dan ia berjongkok membelakangi Vorg sambil pura-pura mengaduk the rumput yang sebenarnya sudah siap dari tadi. Setelah yakin Vorg selesai berpakaian barulah Freeia berbalik dan membawakan sarapan mereka ke tempat Vorg duduk.

	Selama sarapan mereka berdebat tentang ide melanjutkan perjalanan versus ide beristirahat beberapa waktu sampai lengan Vorg sembuh.
Freeia berpikir sebaiknya mereka menunggu tangan Vorg sembuh.
Vorg berpendapat bahwa tangannya tidak apa-apa.
Freeia berkeras bahwa wajah Vorg sangat pucat.
Vorg berkata bahwa wajahnya memang pucat dari dulu.
Freeia merasa menunda perjalanan beberapa hari tidak akan banyak pengaruhnya.
Vorg berdalih bahwa ada kemungkinan masih ada kumbang raksasa lain di sekitar situ.
Akhirnya Freeia terpaksa menyerah karena tidak tahu mau bilang apa lagi.

	Setelah selesai sarapan mereka pun melanjutkan perjalananan mereka. Langkah mereka agak lambat karena kondisi Vorg belum pulih benar. Berulang kali Freeia berpura-pura lelah dan meminta Vorg untuk berhenti dan beristirahat karena dilihatnya bibir Vorg begitu putih dan keringat dingin bermunculan di dahinya walaupun Vorg tidak mengatakan apapun.

	Menjelang sore mereka baru mencapai tepian dataran luas berumput ketika mereka mendengar suara berkerosak keras di rumpun rumput si sebelah kanan mereka. Keduanya saling memandang. Perlahan Vorg mengeluarkan senjata tanduknya dan berjalan sambil merunduk mendahului Freeia menghampiri arah datangnya suara tadi.
	“Vorg, jangan! Mari kita memutar saja,” Freeia merintih setengah memohon. Ingatannya melayang pada kumbang raksasa yang menyerang mereka semalam.
	“Tenanglah. Lebih baik kita tahu apa yang kita hadapi dari depan daripada tiba-tiba mendapat serangan dari belakang,” jawab Vorg tenang meskipun rahangnya mengeras dan garis-garis wajahnya tampak tegang.

	Dengan hati-hati disibakkannya lembar rumput terakhir yang menghalangi mereka dari sumber suara itu. Hatinya mencelos lega sementara di belakangnya Freeia menghembuskan nafas yang sedari tadi ditahannya. Ternyata seekor burung besar yang sangat tampan terperangkap di sana, tubuhnya terbelit sulur-sulur dan rerumputan yang kusut di sekelilingnya. Wajahnya yang berwarna coklat tanah bermahkotakan jambul besar berwarna hitam mengkilat, sewarna dengan paruhnya yang ramping dan melengkung cantik. Punggung dan sayapnya yang kokoh juga berwarna hitam mengkilat, hanya saja makin mendekati ujungnya warna sayap-sayap itu bergradasi menjadi warna kelabu dengan pendar-pendar kebiruan di seluruh permukaannya. Sedangkan bulu-bulu yang menutupi dada dan perutnya berwarna putih bersih dengan secercah pulasan warna kuning di ujung-ujungnya. Dengan sisa-sisa tenaganya ia berusaha melepaskan diri, tetapi usahanya sia-sia. Tampaknya ia sudah berjuang cukup lama, kepakan sayapnya sudah melemah dan kepalanya terkulai lesu.
	“Kasihan,” kata Freeia,” Mari kita tolong dia.”
Freeia dan Vorg dengan senjata tanduknya membantu burung itu melepaskan diri dari jeratan rumput dan sulur-sulur tanaman yang membelit tubuhnya.

	“Terima kasih peri-peri yang baik hati. Tanpa kalian aku pasti mati sendirian di sini. Aku, Lloyd tidak akan pernah melupakan budi kalian.” Kata burung itu setelah tubuhnya terbebas sepenuhnya.
	“Mengapa kau bisa terjebak di sini?” tanya Freeia
Untuk sesaat burung itu terdiam. Wajahnya tampak sedih sebelum akhirnya ia menjawab.
	“Penunggangku adalah ksatria peri Vlardon. Kami sedang dalam perjalanan mengemban sebuah misi penting dari Yang Mulia Ratu-Ratu Musim ketika badai besar kemarin menjebak kami. Aku terlempar ke rerumputan dan terbelit di sini hingga aku bisa selamat, tetapi penunggangku terhempas ke tebing batu sebelah sana, tak mungkin ia berhasil selamat dari badai seganas itu,” sebutir ait mata berkilau menetes dari mata Lloyd.
	“Kasihan sekali,” Freeia mengelus-ngelus sayap burung itu untuk menghiburnya.
	“Kalau kami boleh tahu, sebenarnya misi apa yang begitu penting sehingga tidak bisa ditunda sampai musim semi?” Vorg akhirnya ikut bersuara.
	“Kekacauan musim ini sebenarnya disebabkan karena Gorchuk si Troll mencuri keempat permata musim yang menjaga keseimbangan musim di negeri ini. Permata biru milik Ratu Musim Panas, permata Coklat milik Ratu Musim Gugur, permata ungu milik Ratu Musim Dingin dan permata Hijau milik Ratu Musim Semi. Keempat Ratu Musim menugaskan kami untuk merebut keempat permata itu dari tangan Gorchuk dan mengembalikannya ke tempatnya masing-masing sehingga cuaca ini bisa kembali dikendalikan. Sampai saat ini cuaca masih bertahan karena keempat Ratu Musim mengerahkan energi mereka untuk mengisi tempat permata yang kosong setiap hari. Apabila salah seorang dari mereka melemah terjadilah badai besar seperti kemarin. Badai pertama terjadi karena Ratu Musim Panas jatuh sakit akibat hawa dingin yang berkepanjangan ini. Entah berapa lama keempat Ratu Musim dapat bertahan. Apabila keempat permata itu tak ditemukan , aku tak tahu apa jadinya dunia ini nantinya,” Lloyd menjelaskan panjang lebar dengan wajah muram.

	“Kini entah bagaimana nasib Ksatria Vlardon. Bagaimana kau bisa menjalankan misimu?” tanya Freeia.
	“Justru itulah yang membuat aku bingung dan sedih,” jawab Lloyd.
	“Kami bersedia membantumu,” celetuk Freeia spontan, “Eh, kalau kau mau maksudku…” Freeia melirik Vorg sambil menggigit bibir.
	“Tentu saja kami bersedia membantu. Tapi apakah kau tidak ingin pulang? Perjalanan ini mungkin berbahaya,” kata Vorg.
Untuk beberapa saat Freeia sibuk mempertimbangkan perkataan Vorg sambil mengerutkan kening dan menotol-notol dagunya seperti biasa.
	“Tidak!” kata Freeia akhirnya, “Aku ikut dengan kalian. Toh di rumah aku tidak akan tenang karena mengkhawatirkan kalian dan nasib dunia ini,” katanya mantap.
	“Baiklah kalau begitu!” Lloyd dengan bersemangat merentangkan sayapnya dan merundukkan tubuhnya, “Naiklah ke punggunggku ksatria-ksatria peri. Kita akan memulai misi kita, semoga kita berhasil menyelamatkan dunia ini.”

	Kedua peri kecil pemberani itu pun memanjat naik ke punggung Lloyd. Sang burung mengepakkan sayapnya dan mereka pun lepas landas menyongsong suatu petualangan yang tak terbayangkan oleh mereka berdua. Kebaikan dan kepedulian mereka mengalahkan setiap kegentaran dan keragu-raguan akan apa yang harus mereka hadapi nantinya.
TO BE CONTINUED….
Ke mana mereka menuju?
Apa yang akan mereka temui di sana?
Nantikan kelanjutannya di Kisah Freeia dan Vorg part.10]]></description>
		<wfw:commentRss>http://yuknulis.com/san-san-tjahaya/kisah-freeia-dan-vorg-part-9/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Freeia dan Vorg part.8</title>
		<link>http://www.facebook.com/note.php?note_id=432506816927</link>
		<comments>http://www.facebook.com/note.php?note_id=432506816927#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 17:29:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>San San Tjahaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[San San Tjahaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.facebook.com/note.php?note_id=432506816927</guid>
		<description><![CDATA[Keesokan harinya, setelah sarapan sekedarnya dan mencuci muka dengan salju yang dicairkan, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini lebih mudah karena jalan yang mereka tempuh kini menurun. Dan kini mereka tahu arah mana yang harus ditempuh. Hal ini menambah semangat dan tenaga mereka untuk menempuh perjalanan.

	Hari itu mereka lalui dengan gembira. Berjalan sambil bercengkrama dengan gembira membuat waktu dan jarak semakin tak terasa. Mereka pun semakin mengenal satu sama lain. Kini tahu bahwa warna kesukaan Freeia adalah warna kuning yang ceria, makanan kesukaannya adalah bili bunga matahari yang terpanggang sinar matahari dan bahwa peri padang lainnya tidak mempunyai warna kulit dan rambut yang saa dengan Freeia. Freeia pun kini tahu tentang serangan kelabang yang menewaskan kedua orang tua Vorg, tentang besarnya tanggung jawab dan sayang Vorg pada adik semata wayangnya, dan tentang kerasnya kehidupan di hutan belantara. Tapi soal warna favorit, Vorg menjawab seperti ini :
	“Aku belum bisa memutuskan warna mana yang paling kusukai. Begitu banyak warna di luar sini sampai-sampai pusing aku melihatnya,” dan wajahnya benar-benar menunjukkan keseriusan dan kebingungan sampai Freeia tertawa terpingkal-pingkal melihat kepolosan Vorg yang perkasa namun lugu itu.

	Sore harinya, sayap Freeia sudah cukup panjang untuk terbang. Freeia mencobanya dengan terbang beberapa puluh sentimeter kemudian turun kembali. Vorg terpana memandang Freeia yang tampak begitu indah dengan sepasang sayap keemasan yang bergetar dan memantulkan sinar matahari di rambutnya. Tanpa sadar ia bergumam pada dirinya sendiri.
	“Emas… Ya…ya… Warna emas yang paling kusuka. Pendar emas di sayapmu, pendar keemasan di kulitmu, itu warna kesukaanku, ya…ya…”

	“Kurasa besok sayapku sudah akan tumbuh sempurna,” Freeia berkata puas ketika kakinya kembali menjejak tanah.
	“Beberapa hari lagi mungkin kita sudah akan sampai di rumahmu. Mari kita menginap di sini malam ini,” kata Vorg.
	“Aku sudah tidak sabar lagi bertemu dengan teman-temanku,” Freeia berceloteh riang,” Untung cuaca tampak membaik dan tidak ada badai salju lagi.”

	Baru saja Freeia selesai berucap, tiba-tiba langit menjadi gelap, angin pun bertiup semaikin kencang. Awan hitam keunguan bergulung-gulung dengan cepat di langit dan siulan badai yang sudah mereka kenal mulai terdengar di kejauhan dan dengan cepat mendekat. Vorg mengumpulkan ranting-ranting yang belum sempat dinyalakannya dengan sekali raup dan menarik tangan Freeia.
	“Cepat! Kita harus mencari tempat berlindung!” teriak Vorg mengatasi deru angin.

	Untunglah di dekat sana ada semacam ceruk sempit di dalam tanah di bawah sepetak semak-semak yang rimbun. Itu pun mereka temukan karena Vorg terperosok ke dalamnya saat merambah semak itu. Mungkin bekas sarang burung yang biasa membuat sarangnya di bawah semak-semak atau bekas sarang kelinci. Tidak senyaman gua yang mereka tempati waktu itu, tapi lumayan lah. Yang penting mereka cukup terlindung dari badai.

	Dan benarlah, sesaat setelah mereka masuk ke dalam ceruk itu, badai mulai mengamuk di atas kepala mereka. Vorg kembali menyusun ranting-ranting kayu dan mulai menyalakannya.
	“Untung kita punya cukup persediaan makanan untuk beberapa waktu,” katanya.
Setelah api menyala, karena belum terlalu lelah Vorg mengeluarkan alat musik taringnya dan mulai bermain.

	Freeia duduk sambil memeluk lutut. Dagunya bertopang pada lututnya dan sayapnya menyelimuti tubuhnya. Matanya menerawang sambil memandang sosok Vorg yang tampak begitu… begitu… anggun? Agung? Entahlah. Yang jelas Freeia tidak dapat melepaskan pandangannya dari pemuda itu. Dan musik itu… Musik itu serasa menyihirnya, membayangkan rumah yang nyaman, taw aria bersama Vorg, anak-anak… 
	“Anak-anak?! Ya ampun! Apa ini yang kupikirkan?” rasa panas menjalar di pipinya dan Freeia buru-buru menggigit bibir bawahnya untuk menyembunyikan senyumnya. Untunglah Vorg begitu asyik dengan musiknya sehingga tidak memperhatikan Freeia.

	Tiba-tiba Vorg berhenti bermain. Disimpannya alat musik taringnya dan ia meraih sepotong ranting yang menyala dari api unggun mereka.
	“Mundur, dan jangan bergerak,” bisiknya sambil berdiri di hadapan Freeia
	“Apa yang…?”
	“Ssh! Ayo ikuti saja perintahku,” Vorg mendesis rendah.
Freeia beringsut mundur. Jantungnya berdegup kencang karena takut.

	Perlahan bayangan sesosok makhluk raksasa merayap di dinding ceruk tanak itu. Freeia menyumpal mulutnya dengan kepalan tangannya sendiri untuk menahan teriakan yang keluar dari mulutnya. Bayangan hitam itu segera diikuti oleh sosok seekor kumbang hitam kehijauan yang sangat besar. Jauh lebih besar dari semua kumbang yang pernah dilihat Freeia. Dan kumbang ini tidak jinak dan lucu seperti kumbang-kumbang teman bermainnya di padang sana. Cangkangnya yang berkilat mengeluarkan pendar seperti pelangi. Keenam kakinya berkeretakan dipenuhi duri-duri kecil melengkung yang tampak sangat tajam. Matanya yang banyak terkumpul dalam 2 bola mata yang berwarna merah. Setiap mata kecilnya bergerak-gerak cepat bagaikan serpihan kaca berwarna merah di dalam gelembungnya. Dan sungutnya yang panjang dan berbulu kasar menampakkan gigi-gigi runcing, sepasang capit yang siap dikatupkan dan penghisap berlendir yang berputar-putar liar membaui calon mangsanya.

	Freeia gemetar hingga ke sumsum tulangnya. Teriakannya tercekat di tenggorokannya dan mulutnya terasa kering. Freeia menatap Vorg dan kumbang raksasa itu bergantian. Pikirannya kalut dan telinganya berdenging keras.

	Vorg mencoba menusuk kumbang itu dengan ranting berapi yang dipegangnya. Dengan sekali tebas sungut kumbang  itu menghempaskan ranting berapi ke dinding ceruk. Ia mendekati Vorg. Vorg pun mengambl senjata tanduknya, berusaha menyerang kumbang itu. Tetapi senjatanya terlalu pendek, sedangkan sungut yang berbahaya itu terus menyambar-nyambar.

	Beberapa serangan Vorg yang dilancarkannya sambil berguling-guling menghindari capit dan sungut si kumbang berhasil mengenai sisi tubuhnya yang keras. Tidak mempan! Cangkang kumbang itu terlalu tebal. Vorg juga tidak bisa menyerang wajahnya karena sungut dan capit si kumbang terlalu sulit untuk ditembus. 
	“Bagian mana selain matanya yang bisa kuserang?” Vorg menunduk menghindari katupan capit kumbang itu sambil berpikir keras.
	“Perutnya!” pikir Vorg,” Bagian perut kumbang tidak tertutup cangkang.”
Maka Vorg pun sekali lagi berkelit menghindari serangan si kumbang dan berguling di tanah untuk menyerang perut kumbang raksasa itu.

	Tapi kumbang besar itu ternyata sangat gesit. Tiba-tiba sungutnya sudah memagut siku dan lengan Vorg yang tidak terlindung. Teriakan Freeia melengking memenuhi gua, dan Vorg merasakan cengkraman gigi-gigi runcing dan capit yang menembus daging di sekitar sikunya. Dengan satu hentakan kuat disentakkannya lengannya dari cengkeraman sungut kumbang. Sebagian kulit dan dagingnya ikut terlepas, tetapi Vorg terlalu sibuk untuk memikirkan luka ataupun rasa sakitnya.
	“Tali peri!” pekiknya pada Freeia,” Lemparkan tali peri padaku!”

	Freeia terperanjat. Tangannya yang gemetar meraih gulungan tali peri dan melemparkannya pada Vorg. Vorg menangkapnya dan dengan 1 tangan dan giginya mengikatkannya secepat mungkin pada senjata tanduknya sambil berguling menghindari belitan alat penghisap kumbang yang kini bertambah ganas karena sudah mencicipi daging mangsanya.

Vorg memutarkan tali yang berujungkan senjata tanduk itu di atas kepalanya dan melemparkannya kea rah kaki-kaki kumbang yang sedang menyerbu ke arahnya. Berhasil! Tali itu melilit, menjerat kaki-kaki kumbang yang banyak itu. Senjara tanduk mengunci belitan tali peri di kaki kumbang, membuatnya tak seimbang dan akhirnya jatuh terguling dengan bunyi berdedum keras dan kepulan debu yang terangkat dari tanah.

Kumbang itu mengais-ngaiskan kaki-kakinya yang terbelit tali peri tanpa dapat membalikkan tubuhnya. Ia meraung marah, sungutnya menyambar-nyambar. Secepat kilat Vorg mengambil sebatang ranting berapi dan melompat di antara kaki-kaki kumbang. Dengan sekuat tenaga ditusuknya perut kumbang itu dengan ranting yang masih membara. Kumbang itu menjerit keras dan berkelojotan. Lendir abu-abu kehijauan muncrat keluar. Vorg mencabut ranting itu, dikumpulkannya segenap sisa tenaganya dan sambil menggeram keras sekali lagi ditusuknya perut kumbang raksasa itu. Raungan kumbang memenuhi gua itu, duri-duri pada kaki-kakinya mencakar dan menggores wajah dan tubuh Vorg, tapi Vorg tidak melepaskan tikaman rantingnya sampai kumbang itu mati dan tak bergerak lagi.

Sekujur tubuh Vorg berlumuran lendir dan darah. Terlalu lemas untuk melompat turun, Vorg pun terkulai lemas dan terjatuh dari perut kumbang. Kepalanya pening, matanya berkunang-kunang. Rupanya sungut kumbang itu beracun.

Freeia berlari menghampiri Vorg yang tergeletak di tanah.
“Vorg! Apakah kau baik-baik saja? Jawablah aku!”
“Sungut kumbang itu beracun. Ambil senjataku, torehlah lukaku dan keluarkan semua racunnya,” suara Vorg semakin melemah dan akhirnya ia pun tak sadarkan diri.

Freeia gemetar ketakutan. Rasa panik dan dan takut membuat air mata mengalir deras di pipinya.
“Aku harus menyelamatkan Vorg! Aku harus menyelamatkan Vorg!” pikirnya berulang-ulang.
Freeia pun memeberanikan diri untuk mendekati bangkai kumbang yang walaupun sudah mati masih tampak mengerikan. Digigitnya tali peri untuk memutuskannya. Diambilnya senjata tanduk Vorg lalu dibakarnya ujung dan sisinya yang tajam di atas api unggun.

	Diseretnya tubuh Vorg mendekati api. Wajahnya yang memang pucat kini tampak keabu-abuan dan tubuhnya terasa sedingin es.
	“Vorg, jangan mati! Jangan tinggalkan aku sendiri,” Freeia meratap di dalam hatinya.
Ditariknya nafas dalam-dalam untuk menguatkan hatinya, dan sambil menggigit bibir diangkatnya siku Vorg yang terluka. Luka menganga yang mengerikan, kini tampak berlendir dan agak menghitam. Freeia harus memaksa dirinya untuk menusuk luka itu dengan ujung tanduk yang tajam dan menorehnya cukup dalam agar darah kehitaman yang mulai menggumpal itu bisa mengalir keluar.

	Darah yang menghitam bercampur racun mengalir dan menetes ke tanah. Freeia menekan-nekan dan mengurut sekeliling luka Vorg, memaksa semua darah yang terkontaminasi racun untuk keluar. Setelah darah yang mengalir keluar menjadi merah segar barulah ia berhenti mengurut lengan Vorg. Kemudian dibersihkannya daging-daging yang tampak seperti terbakar kehitaman karena terkena racun. Setelah itu dibasuhnya luka itu dengan air panas. Akhirnya, Freeia mencabut sehelai mahkota bunga dari pakaiannya dan membalut luka Vorg, membebatnya erat-erat dengan tali peri.

	Freeia memandang tubuh Vorg yang basah bermandikan darah dan lendir kehijauan. Perlahan, dilepaskannya seluruh pakaian Vorg yang penuh dilumuri lendir dan darah itu. Sebagian sarang labah-labahnya tercabik-cabik terkena duri kaki kumbang dan cangkang kumbangnya tampak tergores di sana-sini walaupun tidak ada yang pecah. Wajah Freeia memanas ketika ia melepaskan celana Vorg. Ia menelan ludah dan memejamkan mata ketika menurunkan celana pemuda itu. Pelan-pelan dibukanya sebelah matanya. Untunglah, ternyata ia mengenakan semacam cawat di selangkangannya.

	Freeia membersihkan tubuh Vorg dengan sobekan bajunya dan air hangat. Membersihkan sisa-sisa lendir dan darah, membersihkan semua luka gores dan memar di tubuhnya. Ternyata sangat banyak bekas luka yang sudah sembuh di tubuh pemuda itu. Freeia tak dapat membayangkan kerasnya kehidupan yang dihadapi Vorg setiap hari. Setelah selesai Freeia berusaha meminumkan sedikit air hangat ke mulut Vorg, lalu menyelimutinya dengan mantel bulunya, dan mulai membersihkan dan memperbaiki pakaian Vorg yang kotor dan sobek-sobek dengan jarum dan tali peri yang memang dibawanya untuk menjahit.

	Setelah semuanya selesai kembali dihampirinya tubuh Vorg. Wajahnya masih tampak pucat, dan nafasnya lemah sekali. Tetapi butir-butir keringat bermunculan di wajahnya. Dirabanya kening Vorg. Kulitnya kini terasa panas seperti api. Coba dirabanya dada Vorg, ternyata sama panasnya. Bgaimana ini? Freeia terdiam kebingungan, rasa khawatirnya memuncak.
	“Ayo berpikir Freeia!” bisiknya pada dirinya sendiri. Akhirnya diambilnya segumpal salju untuk mengompres dahi pemuda itu. Sebentar saja salju itu sudah mencair. Sepanjang malam Freeia mengompres dari Vorg sambil tak henti-hentinya bergumam,” Ayo Vorg, kau harus sembuh. Ayolah Vorg…” 	Sesekali Vorg mengigau. Dipanggilnya nama Freeia dan Trod dalam tidurnya yang gelisah.
	
	Kegigihan Freeia akhirnya membuahkan hasil. Menjelang dini hari suhu tubuh Vorg mulai menurun dan tidurnya pun mulai tenang. Freeia menghela nafas dengan lega. Sambil duduk di samping Vorg, Freeia pun akhirnya jatuh tertidur kelelahan.

TO BE CONTINUED….]]></description>
		<wfw:commentRss>http://yuknulis.com/san-san-tjahaya/kisah-freeia-dan-vorg-part-8/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Freeia dan Vorg part.7</title>
		<link>http://www.facebook.com/note.php?note_id=431518511927</link>
		<comments>http://www.facebook.com/note.php?note_id=431518511927#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 May 2010 09:36:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>San San Tjahaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[San San Tjahaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.facebook.com/note.php?note_id=431518511927</guid>
		<description><![CDATA[Mereka sudah tidak dapat lagi membedakan siang dan malam. Setiap saat hanya ada raungan angin dan kegelapan. Ke mana pun mata memandang hanya tampak salju berputar-putar di udara.

	Saat itu mereka sedang tertidur di sudut gua mereka masing-masing. Entah mengapa tiba-tiba badai menggila begitu hebatnya, meraung bagaikan makhluk yang terluka, menabrak-nabrak dinding gua hingga bergetar. Freeia terbangun dari tidurnya dan memekik ketakutan.
	“Ada apa Freeia?” Vorg terlonjak bangun dari tidurnya.
	“Aku…Aku takut.”
	“Ssh… Jangan takut, Cuma suara angin kok,” Vorg bergegas menghampiri Freeia.

	Akhirnya mereka pun tidak lagi mencoba untuk tidur dan pindah ke sisi api unggun. Mungkin karena takut, tanpa sadar Freeia duduk merapat pada Vorg. Aroma tubuhnya yang segar seperti bunga-bunga di musim semi menyusup ke dalam hidung Vorg. Berbagai perasaan yang belum pernah dirasakannya berkecamuk di dada Vorg. Jantungnya berdegup makin kencang, nafasnya semakin memburu,  dan keringat mulai bermunculan di dahi dan di atas bibirnya walaupun sebenarnya suhu udara saat itu sangat dingin. Ia berdehem keras dan mulai tidak dapat berpikir jernih ketika Freeia melihat bekas luka di lehernya dan bertanya,” Bekas luka apa ini? Bagaimana kau mendapatkannya?”

	Vorg kembali berdehem keras, mengembalikan suaranya yang tiba-tiba menjadi serak, merasa lega karena ada sesuatu yang membuyarkan suasana yang mencekam itu (bagi dia setidaknya).
	“Oh, itu gara-gara kalajengking. Ketika itu aku pulang sehabis mencari makanan. Sesampainya di rumah peninggalan kedua orang tuaku, ternyata seekor kalajengking besar sedang menerobos liang masuk rumah kami. Demi mendengar jeritan Trod adikku yang berada di rumah sendirian, aku berlari masuk secepat aku bisa. Trod meringkuk di pojok. Ekor kalajengking itu mencuat ke atas, hampir saja Trod disengatnya. Buru-buru aku melemparnya dengan sendok, satu-satunya barang terdekat yang bisa kuraih saat itu, ke kepala kalajengking itu. Kalajengking itu berbalik marah dan berusaha menyerangku. Aku berkelit, berlari menghampiri Trod, memasukkannya ke dalam panci besar tempat biasa ibuku membuat bubur ubi, dan menggelindingkannya keluar. Tetapi aku tidak keburu kabur, kalajengking itu menghalangi pintu keluar. Aku mengeluarkan senjata tanduk kumbangku. Dan ketika sengatnya siap memagutku, kutusuk hidungnya keras-keras. Ia mengamuk dan capitnya mengenai leherku. Untung aku tidak terkena sengat beracunnya. Sementara ia mengamuk kesakitan, aku pun berhasil menyelinap keluar.”
	Sementara itu Freeia tertawa terbahak-bahak sambil memegangi sisi perutnya. Vorg berhenti bercerita, tertegun mendengar alunan dering merdu tawa Freeia. Belum pernah didengarnya derai tawa seperti itu. Bahkan Trod tidak pernah tertawa selepas itu. 

	Freeia mengusap air mata dari sudut matanya seraya berkata,”Aduh, maafkan aku. Aku tidak tahan. Bukannya aku tidak bersimpati, tetapi ceritamu lucu sekali. Ha ha ha, melempar kalajengking dengan sendok, ha ha ha, dan menggelindingkan adikmu dalam panci ubi, ha ha ha, dan menusuk hidung kalajengking, ha ha ha, mengapa kaupilih hidungnya? Ha ha ha…” kembali Freeia tertawa terpingkal-pingkal di sela-sela kata-katanya.

	Vorg mulai membayangkan lagi adegan perkelahiannya dengan kalajengking itu. Mulai dilihatnya kelucuan-kelucuan di dalamnya, dan ia mulai tertawa bersama Freeia. Mereka tertawa sampai sakit perut. Dan ketika tawa mereka mulai mereda, Freeia menirukan gerakan melempar sendok pada kalajengking dan mereka pun mulai tertawa lagi.

	Setelah selesai tertawa, lemas rasanya. Freeia terdiam. Vorg pun terdiam. Diresapinya perasaan yang baru sekarang ini dirasakannya. Terasa ringan, hampir-hampir pusing. Dan dadanya terasa begitu lapang. Pipinya pegal sehabis tertawa sedemikian rupa, tetapi kehangatan mengalir di perutnya. Betapa nikmatnya bisa tertawa seperti itu.

	“Tahukah Vorg, kau lebih tampan bila kau tersenyum,” kata Freeia menggoda.
	Vorg tersenyum simpul. Dikeluarkannya alat musik taringnya untuk kemudian dimainkannya. Aneh, musik yang keluar kali ini tidak sesendu biasanya. Rasanya musik itu mengandung harapan, dan bahkan keceriaan di dalamnya.
	“Waw! Belum pernah kudengar musik seindah itu,” kata Freeia sesudahnya, “Aku jadi teringat tarian peri-peri padang di perayaan awal musim semi, dengan taburan kuncup bunga aneka warna dan kicauan burung-burung muda di rerumputan.”

	“Mau tahu dari mana kuperoleh alat musikku ini?” tiba-tiba Vorg bertanya.
	“Mau! Mau!” Freeia mengangguk dengan antusias.
	Maka Vorg pun mulai menceritakan perkelahiannya dengan seekor kadal gendut kurang ajar yang berusaha memakannya ketika ia sedang buang hajat sendirian di hutan. Bagaimana karena terkejut dan kesal ia menunggangi kadal itu berputar-putar dan akhirnya menjerat leher kadal itu dengan celananya sampai lemas tak bernyawa. Kemudian ia mengambil taringnya yang berongga dan mencucinya untuk dijadikan alat musik yang ternyata oke punya. Sayang daging kadal itu liat dan bau, jadi Vorg mengurungkan niatnya untuk membawanya pulang dan memakannya.

	Mereka tertawa-tawa dengan gembira. Bercakap-cakap dan bersenda gurau dengan ceria. Juga saat Freeia menceritakan berbagai kekacauan yang kerap ditimbulkan akibat perbuatannya. Raungan angin yang melolong menyeramkan di luar gua terlupakan sudah, yang ada hanyalah kehangatan dan kebahagiaan semata.

~oOo~

	Pagi itu Vorg terbangun karena secercah cahaya yang masuk dari mulut gua. Badai sudah berlalu dan matahari tampak bersinar di luar gua. Freeia masih tertidur. Dipandanginya wajah manis gadis peri itu puas-puas.

	Seolah-olah menyadari tatapan Vorg, Freeia menggeliat dalam tidurnya. Perlahan kesadaran mulai merebak dan hal pertama yang merasuki memorinya adalah Vorg dan kebersamaan mereka selama beberapa hari terakhir. Freeia membuka matanya. Tampak seraut wajah tampan dengan senyum simpul di bibirnya balas menatapnya. Freeia tersenyum malas.
	“Ayo bangun peri malas. Badai sudah berhenti. Kita harus melanjutkan perjalanan,” sapa Vorg lembut.

	Maka setelah sarapan dan bersiap-siap, Vorg melepaskan kedua pelindung yang dipakainya di lututnya. Dia membuat sepasang sepatu kedap air dari serpihan cangkang kumbang itu untuk Freeia. Yah, sedikit kasar buatannya. Maklum, alat yang tersedia hanyalah senjata dari kepingan tanduk miliknya. Terakhir, dipasangnya sedikit tali peri untuk mengencangkan sepatu itu di kaki Freeia.

	“Nah! Kaimu tidak akan keriput lagi,” kata Vorg puas. Freeia menatap kakinya yang kini terbungkus sepatu cangkang kumbang buatan Vorg, kemudian menatap lutut Vorg yang kini telanjang, kemudian ia menatap wajah Vorg dan menghadiahinya dengan senyum lebar dan ucapan terima kasih. Membuat wajah Vorg yang tadinya tampak puas menjadi berseri-seri dan sedikit sumringah. Hidungnya kembang kempis karena bangga dan senang.

	Vorg mengemas sisa persediaan makanan mereka untuk bekal mereka di perjalanan, kemudian mematikan api yang selama beberapa hari ini telah mengahangatkan mereka. Dan mereka pun melangkah ke luar, ke dinginnya udara pegunungan sehabis badai salju. Langit tampak bersih seperti habis dicuci dan udara yang mereka hirup terasa dingin dan pedas di wajah mereka.

	Vorg menyipitkan matanya, membiasakan diri dengan cahaya matahari yang dengan bebas menerangi hamparan bukit berbatu-batu itu. Freeia merentangkan kedua tangannya dan menghirup nafas dalam-dalam, “Ahh… Segarnya!”

	Mereka mulai melanjutkan perjalanan mereka menuju puncak bukit. Kini Vorg berjalan lebih perlahan agar Freeia dapat mengimbanginya. Sesekali mereka berhenti untuk makan atau sekedar beristirahat sejenak.
	“Tak lama lagi kita akan sampai di puncak bukit,” kata Vorg. Ya, buat peri sekecil mereka perjalanan itu luar biasa jauhnya.
	“Bagus! Dan tak lama lagi aku bisa mengembalikan mantelmu. Lihat, sayapku mulai tumbuh,” Freeia memperlihatkan sepasang sayap kecil keemasan yang tumbuh begitu saja di punggungnya.
	“Kurasa cuaca yang dingin ini menumbuhkan sayapku walaupun musim dingin belum lagi tiba. Tak lama lagi sayap-sayap ini akan cukup untuk menghangatkanku,” ujarnya lagi.
	“Benarkah? Tapi tampaknya sayap-sayap kecil itu begitu tipis dan rapuh,” kata Vorg ragu-ragu.
	“Eh! Jangan meremehkan sayap peri. Lihat saja kekuatan tali peri. Tali peri kan berasal dari sayap-sayap ini,”
	“Hmm… Begitu… Bagaimana kakimu? Sakitkah?”
	“Tidak kok. Sepatunya pas benar di kakiku. Enak dan hangat pula. Kau hebat sekali membuat sepatu,” celetuk Freeia samba tersenyum penuh kekaguman kepada Vorg. Hati Vorg menjadi berbunga-bunga mendengarnya, hidungnya kembali kembang kempis mendengar pujian Freeia meskipun ia tidak mengatakan apapun.

	Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Dan ketika hari mulai senja, saat langit mulai berwarna kemerahan, sampailah mereka di puncak bukit berbatu itu.
Vorg menaungi matanya dengan telapak tangan dan melihat berkeliling. Dari ketinggian bukit itu, tampaklah bahwa bukit tempat mereka terdampar terletak di antara hutan belantara yang lebat tempat tinggal Vorg dan padang belantara yang luas tempat tinggal Freeia. Selain itu masih ada dataran tandus berselimutkan salju di satu sisi dan rawa-rawa becek yang berkabut di sisi yang lain.
	
“Rumahmu pasti berada di antara padang rumput itu bukan?” tanya Vorg tanpa mengalihkan pandangan dari pemandangan di sekitarnya.
	“Iya betul! Ayo kita pulang!” Freeia berseru senang sambil menarik tangan Vorg, mengajaknya melanjutkan perjalanan mereka.
	“E..eh! Nanti dulu. Hari sudah malam, dan kita sudah berjalan seharian. Lebih baik kita beristirahat di sini malam ini. Besok baru kita lanjutkan perjalanan kita.” Vorg menahan Freeia yang sudah tidak sabar ingin pulang ke rumah.
	“Baiklah,” setelah berpikir beberapa saat dengan gaya khas mengerutkan kening, menggigit bibir dan menotol-notol dagu, akhirnya Freeia setuju dengan usul Vorg.

	Kembali Vorg membuat api unggun. Mereka mencairkan salju untuk minum dan membakar ubi dan dedaunan yang mereka jumpai dan mereka petik selama di perjalanan. Hanya saja di puncak bukit ini tidak ada gua. Vorg merasa cukup aman untuk beristirahat di alam terbuka karena langit begitu jernih sehingga tidak mungkin badai bertiup malam itu. Mereka pun duduk meringkuk sedekat mungkin dengan api. Freeia masih mengenakan mantel bulu Vorg karena sayapnya belum cukup panjang untuk menyelimuti dirinya sementara Vorg membungkus tubuhnya dengan daun lebar yang dibawanya dari gua.

	Kali ini kantuk cepat menghampiri mereka karena tubuh keduanya sudah penat sehabis berjalan mendaki bukit seharian. Tak lama kemudian mereka pun jatuh terlelap. Sinar bulan yang pucat, kerlip bintang-bintang dan cahaya api yang lincah menemani kedua insan peri yang terlelap di puncak bukit dengan perasaan manis yang kini mulai tumbuh di hati mereka berdua…

TO BE CONTINUED….
Suit Swiwww!!! :D]]></description>
		<wfw:commentRss>http://yuknulis.com/san-san-tjahaya/kisah-freeia-dan-vorg-part-7/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
