Tulisan Oleh San San Tjahaya

Sharing : Kejadian-kejadian dalam Hidup Berkeluarga Sehari-hari (5) Episode Piknik

No Comments »

June 20th, 2010 Posted 8:14 pm

Seminggu yang lalu, kami sekeluarga bersama keluarga sahabat kami (Amul dari 4 Sekawan. Sebetulnya Wina pun berencana ikut tetapi tidak jadi karena ada halangan dan Adag tidak bisa diajak karena sudah pulang ke Australia) memutuskan untuk pergi piknik bersama di Hari Minggu. Tujuannya selain untuk bertemu (karena kami jarang bisa bertemu karena kesibukan sehari-hari), juga untuk berekreasi dan menyegarkan fisik dan mental kami yang stress karena tekanan pekerjaan dan kegiatan rutin setiap hari. Kami memutuskan untuk berpiknik gaya “jadul” (jaman dulu) dengan membawa nasi dan lauk-pauknya dari rumah. Lokasi kami sepakati di Lembah Bougenville – Maribaya, Bandung.

Sehari sebelumnya aku dan Amul (para ibu-ibu) sudah sibuk mempersiapkan menu dan apa-apa yang akan dibawa besok. Aku memutuskan untuk membeli nugget, sosis dan kentang goreng dengan alasan kepraktisan dan kemudahan dinikmati oleh anak-anak. Aku juga membawa sekotak teri medan goreng kering (yang ini special request dari Chandra, suamiku), satu termos besar nasi panas yang dilapisi lap bersih supaya panasnya tahan lama, beberapa butir tomat segar yang sudah dicuci bersih dan satu stoples besar emping manis oleh-oleh dari sahabat kami yang beberapa waktu lalu berkunjung dari Surabaya. Tidak ketinggalan aku pun membawa tikar untuk alas duduk kami di sana nanti. Tak lupa aku menyiapkan piring plastik, sendok plastik, pisau lipat, tissue basah dan kering, serta air minum dan baju ganti serta jaket untuk anak-anak.

Amul, seorang ibu dengan bayi berusia 9 bulan tanpa pembantu yang super sibuk karena juga masih menerima kursus bahasa mandarin untuk anak-anak di rumahnya, masih menyempatkan diri untuk menyiapkan sambal goreng hati-petai andalannya dan kare buatan sendiri untuk teman piknik keesokan harinya. Wuihhh!! Kebayang deh, masak sambal goreng itu kan memakan waktu sampai 3 jam, belum persiapan membersihkan, memotong-motong daging, hati dan petai menjadi dadu kecil-kecil. Belum lagi membersihkan dan mengulek sejumlah besar bumbu untuk sambal goreng dan kare buatannya yang tersohor itu (di kalangan keluarga dan teman-teman yang sudah pernah mencobanya dan ketagihan, hehehe). Dia juga masih harus menyiapkan susu, bubur bayi, termos, baju ganti, pampers, gendongan, dan berbagai perlengkapan bayi lainnya.

Pada Hari Minggu yang telah ditentukan kami menjemput Amul sekeluarga dengan kondisi bagasi mobil yang hampir penuh karena ternyata anak-anak kami masih membawa berbagai cemilan, bola sepak, rubik, robot-robotan, dan beberapa mainan lainnya. Sesampainya di rumah Amul barang bawaan kami bertambah dengan rantang berisi sayur dan 2 tas besar berisi perlengkapan bayi. Maka, penuhlah bagasi mobil kami yang memang tidak terlalu besar itu.

Dengan ceria kami pun berangkat ke Maribaya. Sepanjang perjalanan untunglah Lucky dan Chris cukup beradab (tidak ramai dan bertengkar seperti biasanya). Vely si bayi pun duduk tenang sepanjang perjalanan yang memakan waktu lebih dari 1 jam tersebut. Mungkin karena ada koko-koko yang aneh dan berisik serta pemandangan yang menarik sepanjang perjalanan membuatnya terkesima dan tidak terpikir untuk rewel. Maklumlah sehari-hari Vely menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah. Keluar rumah paling-paling untuk berkunjung ke rumah Kakek Neneknya atau ke dokter.

Di perjalanan langit yang cerah sempat berubah mendung. Kami agak khawatir dan berdoa supaya tidak hujan karena takut acara piknik kami gagal akibat hujan. Tapi puji Tuhan sesampainya di Lembah Bougenville cuaca cukup bersahabat. Agak mendung (menyebabkan udara menjadi sejuk dan panas matahari tidak terlalu menyengat), tetapi tidak sampai hujan.

Kami pun membayar tiket masuk seharga Rp.10.000,- per orang (kecuali Chris dan Vely gratis) dan memboyong barang bawaan kami yang ‘aujubileh’ banyaknya ke dalam komplek rekreasi tersebut. Ternyata hari itu cukup ramai. Ada rombongan reuni suatu SMA Negeri terkemuka di Bandung yang berkumpul di rumah makan Lembah Bougenville, di pendopo Lembah Bougenville ada pula rombongan kaum usia indah yang tergabung dalam kelompok “Happy Club” seperti yang tertera di kaos seragam yang mereka kenakan. Belum lagi keluarga-keluarga pengunjung lainnya yang mungkin berencana untuk piknik seperti kami.

Kami sengaja berjalan agak jauh ke dalam lembah untuk mencari tempat piknik yang tidak terlalu ramai. Akhirnya kami memutuskan untuk berpiknik di dekat kolam ikan. Tetapi sayang saung (semacam gazebo untuk berkumpul dan bersantai) yang nyaman dan strategis sudah ditempati keluarga lain. Untunglah petugas di sana memberikan informasi bahwa saung-saung di Lotus Garden di dekat rumah burung masih kosong. Dan benarlah, di sebelah sana seluruh saung masih kosong, dan di sampingnya terdapat playground kecil tempat anak-anak kami bisa bermain.

Kami pun segera menggelar tikar yang kami bawa dan mengeluarkan semua ransum perbekalan yang sudah kami siapkan. Tanpa basa-basi kami sekeluarga menyerbu hidangan luar biasa yang tersedia di depan kami. Tinggal Amul dan suaminya yang harus menahan lapar dan meneteskan air liur mononton kami sekeluarga makan karena mereka harus terlebih dahulu memberi makan dan mengurus bayi mereka. Sayang Vely tidak mau digendong oleh orang lain selain Papa dan Mamanya, jadi kami sama sekali tidak bisa membantu mereka. Maap ya Mul, hehehe… Vely tidak mau memakan bubur susu yang disiapkan Mamanya, dan memilih kue dorayaki yang kebetulan kubawa untuk cemilan. Ngga papa deh, ditambah susu kelihatannya dia cukup senang dan kenyang.

Anak-anak langsung menyerbu nasi, nugget, sosis dan kentang goreng lengkap dengan saos sambal dan saos tomat. Ronde pertama Chandra dimulai dengan nasi hangat plus teri medan kering yang sudah lama diidamkannya. Ronde kedua diisi dengan nasi plus sambal goreng dan kare yang pedas dan kaya rasa ditemani emping manis suroboyo. Ronde ketiga adalah mencomot nugget, sosis dan kentang goreng (niatnya sedikit tapi jadinya banyak). Dan ronde terakhir adalah menyantap potongan-potongan tomat segar sambil berbaring kekenyangan (dan mengantuk) di tikar.

Sayang Chandra tidak dapat bermalas-malasan terlalu lama karena anak-anak mendaulatnya untuk bermain bola bersama mereka. Jadilah aku menemani Amul makan siang sementara Very mengajak Vely berjalan-jalan. Kami pun memuaskan hasrat mengobrol kami setelah sekian lama tidak bertemu. Dua orang wanita yang tiap hari bertemu saja selalu mempunyai banyak bahan untuk diperbincangkan, apalagi kami dua sahabat yang jarang bertemu. Kalau saja Lucky anak sulungku tidak datang berlari-lari membawa kabar bahwa Chris sakit perut mungkin kami akan tetap mengobrol dan tertawa-tawa sampai malam.

Aku berlari-lari menuju lapangan rumput tempat Chandra dan anak-anak bermain bola sementara Amul menggantikan Very mengasuh Vely supaya Very bisa makan. Di tengah perjalanan menuju lapangan rumput aku bertemu dengan Chandra yang menggendong Chris dan membawa kabar buruk.
“Ngga ketahan San. Udah keburu keluar di celana.”
Gubrak! Segera aku menggendong Chris dan membawanya ke toilet yang untungnya cukup bersih dan terletak dekat dengan saung tempat kami berpiknik.

Setelah selesai membereskan Chris dan mencuci celananya yang kondisinya tidak mungkin kuceritakan di sini, aku memakaikan Chris celana ganti yang untungnya sudah kupersiapkan kalau-kalau baju anak-anak kotor setelah bermain di alam bebas. Sempat aku merasa heran karena kejadian seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Chris selalu bilang saat ingin buang air dan tidak pernah sampai tidak tertahan sebelum sampai di toilet.

Anak-anak pun kembali bermain (kali ini di playground di samping saung kami) dan para orang tua bercengkrama di tikar. Chandra memutar koleksi lagu-lagu dari telepon genggamnya dan semilir angin pegunungan membuat kami begitu menikmati sore itu.

Beberapa waktu kemudian kembali Lucky berlari-lari mendapati kami dengan kabar buruk.
“Ma, Chris nya eek lagi!”
Gubrak Gedubrak Brang Breng Brak! Aku hanya membawa satu celana ganti. Bagaimana ini? Akhirnya setelah membersihkan Chris dan celananya yang kondisinya lebih parah dari yang pertama, aku memakaikannya celana Lucky yang tentu saja sangat kebesaran di tubuhnya. Untunglah Amul menyelamatkan keadaan dengan seutas karet gelang. Diikatnya sebelah dari bagian pinggang celana Lucky dengan karet gelang itu sehingga tidak merosot lagi. Chris pun kembali berlari-lari dengan ceria.

“Kayanya ada yang ngga beres deh San,”kata Amul,”Masa eek di celana sampai 2 kali? Ngga biasanya deh.”
Benar juga, pikirku. Untung Amul selalu membawa persediaan obat-obatan lengkap di tas nya. Aku pun menggerus setengah butir pil Diatabs dan melarutkannya dengan sedikit air untuk diberikan pada Chris. Syukurlah dia tidak buang air lagi sampai kami pulang malam harinya. Usut punya usut keesokan harinya akhirnya aku menemukan penyebab sakit perut Chris adalah obat dari dokter yang diberikan kepada Chris sore sebelumnya karena pilek. Ternyata tertera efek samping obat tersebut adalah diare, mual dan muntah. Segera kuberhentikan obat itu, lagipula pileknya sudah sembuh kok.

Hari semakin sore dan udara semakin dingin. Amul dan Very mengganti popok dan baju Vely dengan pakaian yang lebih hangat. Hebat sekali gadis kecil itu. Ia tidak tidur sama sekali hari itu. Mungkin begitu banyak hal yang menarik baginya di tempat ini. Sementara itu Lucky menendang bola sepaknya hingga masuk ke selokan besar yang airnya cukup deras. Belum sempat diambilnya bola itu terbawa arus dan masuk ke saluran pembuangan entah di mana. Chandra berusaha mengorek saluran pembuangan itu tanpa hasil. Berusaha ditelusurinya juga selokan itu tetapi mentok karena saluran tersebut mengarah ke bawah bangunan-bangunan dan tak bisa diikuti lagi. Terpaksa Lucky harus merelakan bola sepak kesayangannya.

Menjelang waktu pulang, langit sempat menurunkan hujan rintik-rintik. Gawat! Kami tidak membawa paying. Walaupun tempat kami berpiknik terlindung dari hujan karena dikelilingi semacam awning lebar, masa kami harus menunggu hujan sampai malam? Tetapi ternyata Tuhan memang baik. Tidak sampai 10 menit kemudian hujan sudah berhenti dan kami pun membereskan semua perlengkapan kami karena kami akan pulang.

Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk memberi makan ikan-ikan di kolam yang memang disediakan bagi pengunjung untuk tujuan itu. Kami membeli beberapa bungkus pakan ikan dengan harga Rp.1.000,- per kantongnya. Begitu makanan ikan tersebut ditebarkan beratus-ratus ikan mas aneka warna yang besar-besar sebesar betis orang dewasa bermunculan dan berebut makanan tersebut. Beberapa ikan sampai nekat memanjat tubuh teman-temannya demi memperebutkan sebutir pellet makanan ikan itu. Berpuluh-puluh mulut ikan menganga ke arah kami dan kami membuat permainan berusaha melempar pellet langsung ke salah satu mulut yang terbuka itu. Ternyata sulit sekali. Tak satu pun dari kami yang berhasil. Chandra mencoba menaruh sejumput makanan ikan di telapak tangannya dan memasukkan tangan itu ke dalam air. Segera saja ia menjerit sambil menarik tangannya ke atas karena gerombolan ikan segera menyerbu dan memakan pellet itu dari tangannya. Bukannnya kapok, suamiku malah mengulanginya lagi, dan lagi, dan lagi hingga akhirnya Lucky pun ikut-ikutan. Tetapi Lucky hanya mencobanya 1 kali saja.
“Ngga tahan ih geli disedot-sedot banyak mulut ikan,” katanya.
Sementara itu Vely menatap semua kejadian itu dengan mata membelalak lebar dan kaki menyepak-nyepak. Bahkan cipratan-cipratan air yang terjadi karena liukan tubuh para ikan saat berebut makanan yang mengenai mukanya pun tak membuatnya menangis.

Setelah puas member makan ikan, kami pun berjalan kembali ke arah tempat parkir. Perjalanan pulang ini jauh lebih berat karena kalau tadi kami menuruni lembah, kali ini kami harus berjalan melalui jalan yang menanjak dengan curam. Di sanalah kami benar-benar merasa sudah tua. Karena paru-paru, pinggang dan otot-otot kaki kami protes keras disiksa seperti itu. Hanya anak-anak dan Chandra yang memang sering ikut lintas alam yang masih bersemangat dan bertenaga mendaki tanjakan itu.

Sesampainya di komplek utama teman rekreasi, kami tidak langsung pulang karena beberapa kali tertahan oleh sesuatu yang menarik. Pertama kami mengunjungi burung beo besar yang pandai menyiulkan lagu ‘Indonesia Raya’ dan fasih melafalkan ‘Pancasila’ karena dilatih oleh pemiliknya. Memang Lembah Bougenville ini dimiliki oleh seorang pensiunan Jenderal TNI keturunan Belanda yang cinta alam dan berjiwa nasionalis. Aneh bukan? Tapi Pak Jenderal Lambert ini sangat ramah dan bugar walaupun usianya sudah lanjut. Di sana dia juga membangun beberapa vila yang diberi nama sesuai dengan nama putri-putrinya yang memang cukup banyak. Vila-vila ini sangat nyaman dan artistik karena seluruh bangunan dan perabotannya terbuat dari kayu jati. Vila-vila ini sebenarnya disewakan untuk umum, paketnya sudah mencakup makan pagi-siang-malam dan snack yang lezat-lezat (terutama singkong goreng, pisang goreng dan susu murni nya yang benar-benar fresh karena diperah langsung dari peternakan di lembah ini juga). Tapi bila kau tertarik untuk menginap di sini jangan harap untuk menyewanya dalam waktu dekat karena semua vila sudah full-booked sampai 2 tahun ke depan untuk setiap weekend dan hari libur nasional maupun hari libur anak-anak sekolah.

Setelah mengunjungi si Beo, kami sempat bermain dahulu di playground besar yang ada di tengah-tengah halaman komplek vila. Setelah itu kami juga mencoba berjalan di jalur melingkar yang dipenuhi kerikil bulat-bulat untuk terapi refleksi kaki. Suamiku memaksaku berjalan 1 keliling dan aku menjerit-jerit sepanjang jalan itu karena ternyata rasanya sangat menyakitkan. Kata Amul berarti di tubuhku banyak penyakit. Sakit di sekitar tumit berarti ada masalah di sekitar pencernaan, sakit di bawah jari-jari kaki berarti ada masalah di daerah bahu, leher dan kepala, dan sakit-sakit lainnya yang aku tidak ingat semua. Maklumlah, Amul memang tertarik dan sedikit banyak mempelajari mengenai pengobatan tradisional tiongkok.

Sayang penyewaan sepeda sudah tutup pada jam sesore itu. Lagipula hujan rintik-rintik mulai turun lagi. Akhirnya kami pun terpaksa pulang juga. Tapi masih ada 1 lagi yang ketinggalan. Di pelataran parkir Lembah Bougenville terdapat kios-kios penjual sayur-sayuran segar yang benar-benar segar dengan harga yang cukup murah. Jenis-jenis sayur yang dijualnya pun bukan sayur biasa.

Ada jagung jepang yang sedikit lebih kecil dari jagung lokal dan berwarna pucat tetapi bulir-bulirnya tampak membulat hampir transparan dan berkilau seperti mutiara-mutiara kecil. Rasanya pun sangat renyah dan manis sampai-sampai jagung ini dapat dinikmati dalam keadaan mentah. Bila kita ingin merebusnya, hanya diperlukan waktu 5 menit saja untuk mematangkannya. Begitu digigit, akan terdengar bunyi “Kacruk!” yang nyaring dan air dari setiap bulir yang pecah terkena gigitan kita akan memancar dan berbaur dengan daging jagung yang renyah dan manis itu. Pokoknya nikmat deh. Chris saja bisa menghabiskan 2 tongkol jagung jepang rebus sendirian dalam sekali makan.

Ada pula tomat ceri yang kecil-kecil seperti buah ceri. Rasanya manis asam (lebih manis dari tomat biasa) dan berair banyak. Sangat enak untuk dimakan sebagai cemilan sehat tanpa diolah sama sekali. Cukup dicuci bersih dan sekantong tomat ceri akan menghilang ke dalam perut kami sekeluarga dalam sekejap mata.

Kemudian ada beberapa jenis jamur yang hampir seperti jamur putih yang biasa dijual di pasar-pasar. Tetapi jamur-jamur ini lebih segar dan lebar-lebar sebesar telapak tangan. Lagipula tersedia dua macam jamur, yang berwarna putih dan berwarna kehitaman. Amul bilang jamur ini sangat enak apabila digoreng setelah dibumbui dengan saus tiram kemudian dimasak dengan bawang dan cabai paprika. Wuihh! Membayangkannya saja sudah membuat perutku lapar lagi, hahaha…

Dan masih banyak jenis sayuran lain seperti baby buncis yang segar dan harganya sepertiga dari harganya di pasar swalayan. Kalau yang ini digoreng sebentar dan disajikan dengan daging cincang bumbu se chuan, hmmm… Ada juga sayur labu yang enak untuk dibuat kolak, ubi jepang yang enak bila dipanggang di oven, dan beberapa buah-buahan seperti alpukat mentega dan berbagai jenis pisang. Hanya satu hal yang agak mengganggu, semua penjual berebut menawarkan dagangannya dan berusaha membujuk kami untuk berbelanja di kiosnya sehingga kami agak pusing dibuatnya. Tapi hanya dalam waktu 15 menit saja bagasi mobil kami sudah dipenuhi berkantong-kantong belanjaan sayur mayur segar (Untung ransum makanan sudah berpindah ke perut kami jadi ada ruang cukup untuk menaruh belanjaan kami).

Akhirnya kami pulang juga. Sepanjang perjalanan pulang dari Maribaya sampai Lembang, kabut tebal menyelimuti kendaraan kami sehingga Chandra terpaksa mengemudi dengan kecepatan rendah. Sesampainya di Lembang, kami pun dihadapkan dengan macet total berkilo-kilo meter jauhnya. Untung saja Chandra mengetahui jalan-jalan alternatif yang membantu kami menghindar dari jebakan macet yang terlalu lama. Sementara itu matahari sudah tenggelam dan anak-anak (termasuk Vely) tertidur pulas karena kelelahan.

Kami sempat berhenti untuk makan malam di sebuah warung steak langganan kami. Kembali Amul dan Very berkutat memberi makan bayi mereka dahulu. Tapi mungkin karena hari ini cukup melelahkan, Vely makan dengan lahap dan mudah malam itu. Sabar ya Mul, setahun ke depan segalanya akan menjadi lebih mudah kok, hehehe…

Setelah perut kami terisi, kami pun mengantarkan Amul sekeluarga pulang ke rumahnya. Tanpa mampir dahulu kami langsung pamit pulang. Malam itu kami sekeluarga pun “tewas” dengan suksesnya sampai pagi karena capai tapi puas dan senang sekali hari itu. :D

Posted in San San Tjahaya

Sharing : Kejadian-kejadian dalam Hidup Berkeluarga Sehari-hari (4) Episode Membuang Dot

No Comments »

June 18th, 2010 Posted 1:46 pm

Setelah sukses dengan proyek melatih Chris tidur di kamarnya sendiri, keluarga kami memulai suatu proyek baru yaitu proyek membuang dot. Sejak bayi Chris selalu meminta susu ketika akan tidur. Walaupun baru saja minum susu 10 menit sebelumnya, saat mengantuk dan ingin tidur dia akan menangis meminta susu. Begitu susunya habis dia akan tertidur.

Kebiasaan ini terbawa sampai dia besar. Setiap akan tidur dia selalu meminta susu. Karena itulah sangat sulit baginya untuk melepaskan kebiasaan minum susu dengan memakai dot. Saat tidak akan tidur dia bisa saja minum susu dengan gelas atau dengan sedotan. Toh setiap hari pun dia minum air, jus buah, teh dan minuman apa pun juga dengan gelas. Hanya saat mau tidur dia akan meminta susu dalam botol. Dia akan berbaring, memejamkan mata, memeluk baju meng (kaos putih bergambar kucing yang selalu dibawanya tidur) dan menghisap dot berisi susu. Saat susunya habis, dia pun tertidur. Masalah ini tidak kami hadapi dengan Lucky anak sulung kami, karena Lucky minum susu pada saat kami memberikannya. Pada saat akan tidur dia tidak mencari susu. Karena itu mudah saja mengalihkannya dari dot ke gelas dengan kerucut berlubang, kemudian ke sedotan, akhirnya ke gelas. Usia satu tahun setengah Lucky sudah tidak menggunakan dot sama sekali.

Masalahnya, Chris kini sudah berusia lebih dari tiga tahun dan kami cukup khawatir dengan beberapa hal. Pertama kami takut kebiasaan ini akan merusak giginya. Karena walaupun sudah menyikat gigi sebelum tidur, dengan minum susu lagi berarti sisa-sisa susu akan menempel di giginya bukan? Kedua kami takut kebiasaan menghisap dot akan mempengaruhi bentuk dan pertumbuhan giginya (jadi tonggos misalnya). Dan ketiga kami khawatir semakin lama kebiasaan buruk ini akan makin sulit untuk dihilangkan. Karena itulah kami bertekad untuk melaksanakan proyek membuang dot ini.

Kini telah beberapa waktu lamanya Chris lulus dari proyek tidur sendiri (dalam arti bisa tidur nyenyak sepanjang malam di kamarnya sendiri tanpa terbangun terus menerus dan memanggil-manggil Mamanya), kami mulai mencoba proyek baru ini. Diawali dengan memuji Chris sebagai anak pintar yang sudah besar pada setiap kesempatan di mana dia melaksanakan kewajibannya atau melakukan suatu perbuatan yang terpuji. Misalnya setiap malam sebelum tidur dia menyikat giginya tanpa harus disuruh terlebih dahulu. Atau bila dia menghabiskan makanannya dengan cepat dan rapi. Juga bila dia merapikan kembali mainan yang sudah dipakainya tanpa disuruh. Kami selalu memujinya sebagai anak yang sudah besar dan pintar.

Langkah kedua, memilih cerita yang akan dibacakan sebelum tidur sesuai dengan topik yang sedang kita tanamkan kepadanya. Akhir-akhir ini kami membacakan cerita Franklin si kura-kura karena dalam cerita-cerita itu selalu terkandung nilai-nilai yang baik dalam bentuk cerita yang sederhana dan mudah dimengerti. Kami pilihkan judul-judul yang menggambarkan tanggung jawab dan perilaku anak yang sudah besar. Bagusnya lagi, cerita Franklin selalu diawali dengan kalimat-kalimat senada seperti ini: “Franklin sudah besar. Dia bisa memakai pakaian sendiri, menyikat giginya, dan mengikat tali sepatunya sendiri.” Atau “Franklin sudah besar. Dia berani meluncur turun dari papan luncuran di sekolahnya. Dia juga sudah bisa membantu ibu.” Dan sejenisnya.

Setiap kali aku membacakan kalimat-kalimat pembuka itu, Chris akan segera berkomentar,”Klis juga udah besal. Klis juga bisa pake baju sendili!” Atau “Klis juga udah besal. Klis juga belani loncat dali yang tinggiiiii sekali!” Begitulah kami coba tanamkan semangat menjadi anak besar selama beberapa waktu.

Ketika kami rasa dia sudah siap, suatu malam setelah berdoa dan membacakan cerita sebelum tidur kami mengajaknya mengobrol.
“Chris udah besar kan sekarang?”
“Iya, Klis udah besal. Udah kelas lima kaya Koko.”
“Tapi kalau anak besar minum susunya ngga pake dot.”
Untuk beberapa saat dia terdiam dan berpikir.
“Kan Koko minum susu pake gelas. Papa Mama juga pake gelas,” sambung kami lagi.
Dia masih terdiam.
“Sekarang minum susunya pake gelas kaya anak besar ya?”
“Aahhh, ngga mauuu!”
“Kan Chris katanya mau jadi anak besar?” kataku. Suatu kesalahan karena dia langsung menyahut,”Klis jadi anak kecil aja!”
Aku sempat bingung. Untung suamiku memberikan jalan keluar.
“Kalau gitu Papa kasih waktu 3 hari ya? Sekarang kan hari Senin, Chris nya masih kecil. Selasa, Rabu, Chris nya jadi besar. Hari Kamis kita buang dotnya ya?” Papanya menantang Chris yang kebetulan menyukai tantangan. Untungnya pula dia sudah mengerti konsepnya dan hafal urutan dan nama-nama hari dalam seminggu. Dengan bersemangat dia mengangguk setuju. Maka aku pun membuatkan susu dalam botol yang diterima Chris dengan bersemangat. Begitu susunya habis, tertidurlah dia dengan nyenyaknya.

Keesokan harinya Hari Selasa. Kami mengingatkan bahwa ini adalah hari kedua. Pada saat akan tidur siang Chris seperti biasa meminta susu. Aku membuatkannya di dalam botol sesuai janji kami. Demikian pula pada malam harinya.

Hari Rabu. Kembali kami mengingatkannya bahwa hari ini adalah hari terakhir memakai dot. Chris hanya tersenyum dan menghisap susunya dengan nikmat.
“Wah, gawat nih!” pikir kami,”Kelihatannya besok bakalan gagal total nih!”

Akhirnya Hari Kamis pun tiba. Kami mengingatkan Chris pada janjinya.
“Chris hari ini udah besar ya? Kan udah Hari Kamis nih.”
“Iya!” ujarnya ringan.
“Udah siap mau buang dot?”
“Udah!” dan dia pun berlari mendahului kami ke tempat penyimpanan botol-botol susunya.
Satu persatu kulepaskan dot-dot silikon itu dari botolnya. Setelah terkumpul semua aku menyerahkannya kepada Chris yang menanti dengan kedua tangan ditangkupkan seperti mangkok. Sebetulnya aku menyembunyikan satu dot untuk keadaan sangat darurat seandainya Chris ternyata belum siap dan tidak bisa tidur sama sekali atau seandainya dia ngadat dan menjadi trauma, tetapi tanpa sepengetahuan Chris tentunya.

Kemudian kami sekeluarga pun memperlakukan acara membuang dot ini seolah-olah ini adalah suatu upacara besar yang sangat serius. Papanya membukakan dan memegangkan tutup tempat sampah dan Mamanya menghitung dengan khidmat dan serius,”Satu…Dua…Ti…gaaa!!” Dan Chris pun membuang dot-dot dalam genggamannya ke tempat sampah. Begitu dot dibuang kami sekeluarga bersorak dan bertepuk tangan. Kami pun memeluk dan mencium Chris serta memberinya selamat karena sudah benar-benar menjadi anak besar.

Ketika Kakek Neneknya datang berkunjung siang itu pun kami menyampaikan berita bahwa Chris sudah besar dan sudah tidak minum susu pakai dot lagi kepada mereka. Kakek Neneknya memuji dan memeluk serta mencium Chris. Kakek dan Nenek dari pihak Papanya pun kami beri tahu. Bahkan Nenek sampai membelikan hadiah sebagai tanda penghargaan karena Chris sudah bisa tidur sendiri dan tidak memakai dot lagi. Rupanya hal ini sungguh membuatnya bangga dan memotivasinya untuk menjadi anak besar sungguhan. Siang itu Chris tidur siang tanpa minum susu dengan dot. Kami membuatkannya susu di dalam gelas dan setelah meminumnya sedikit (dia tidak menghabiskannya) Chris tidur sambil membawa mainan yang dibelikan Neneknya.

Kami sangat senang dan bangga, juga lega karena ternyata proyek ini berjalan dengan baik. Tapi berkaca dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, kami sadar bahwa tidak ada perkembangan yang tidak melalui proses. Maka dari itu kami belajar untuk memaklumi ketika pada malam harinya Chris menangis ketika kami memberinya susu dalam gelas waktu dia meminta susu sebelum tidur.

Kami membujuknya sambil berdoa semoga kami tidak sampai harus menggunakan dot darurat yang aku sembunyikan tadi pagi.
“Loh, anak besar kok nangis?”
“Klis mau susuuuu,” rengeknya.
“Iya ini kan Mama udah bikini susu buat Chris,” kataku sambil menyodorkan gelas berisi susu.
“Mau pake botooolll!!” rengeknya lagi.
“Ayo dicoba dulu. Rasanya sama kok,” aku berusaha membujuknya.
“Ngga mau! Mau pake dot aja!” Chris menangis makin keras.
“Kan dotnya udah dibuang sama Chris?” kataku lagi, “Ayo dong cobain dulu.”

Akhirnya Chris mau minum sedikit susunya dan berhenti menangis. Sambil terisak-isak dia memeluk baju meng-nya dan meringkuk di ranjangnya. Hatiku terasa miris sekali melihatnya. Betapa kutergoda untuk memberikan botol susu yang diinginkannya. Tapi kami tahu bahwa apabila kami menyerah di sini proyek ini akan gagal total dan kami harus memulainya lagi dari awal. Akibat lainnya Chris tidak akan belajar untuk menjalani konsekuensi dari setiap tindakan dan keputusannya.

Maka kami berusaha menghiburnya semampu kami. Menemaninya, membelai-belai kepala dan punggungnya, menyanyikan lagu-lagu kesayangannya dan membisikkan kata-kata sayang dan pujian di telinganya. Akhirnya Chris tertidur juga setelah berulang kali membalikkan tubuhnya dan merengek sambil mengomel panjang pendek.

Hal yang sama kami alami selama beberapa minggu. Kadang Chris bisa cepat tertidur, kadang sangat lama. Beberapa kali juga dia menangis dan meminta dot, terutama apabila dia terlalu lelah atau mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan di siang dan sore harinya. Tapi puji Tuhan kami tidak pernah sampai harus mengeluarkan dot darurat yang sampai sekarang masih tersimpan rapi di pojok laci terdalam (yang mengingatkanku bahwa aku harus membuangnya). Benar-benar proses yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan, karena tidak jarang kami (terutama aku yang menidurkan Chris setiap malam) dibuat kesal dan greget dengan rengekan dan kemunduran yang berulang kali terjadi selama proses ini.

Sekarang, Chris sudah benar-benar lulus dari proyek membuang dot. Dia tidak pernah lagi meminta dot dan tidak lagi kesulitan tidur setiap malam. Kami sangat bangga padanya dan bersyukur atas kehadiran anak-anak kami dalam hidup kami. Hanya saja ada beberapa dampak yang ditimbulkan dari perubahan pola ini. Yang pertama Chris jadi jarang tidur siang. Mungkin sebenarnya di usianya dia sudah tidak terlalu membutuhkan tidur siang lagi. Suatu hal yang positif menurut kami karena sebelumnya dia selalu tidur larut malam. Sebelum jam 11 malam energinya seolah-olah tak ada habisnya. Tanpa tidur siang Chris bisa tidur pada jam yang lebih normal (sekitar jam 8-9 malam). Memang kadang-kadang dia mengantuk di sore hari dan hal ini pun menjadi pergumulan tersendiri sebetulnya. Karena bila sampai dia tertidur di sore hari (bukan siang) maka malamnya dia akan tidur lebih larut lagi sementara orang tuanya sudah layu karena kelelahan. Tetapi dengan pengalihan perhatian, memberikan kegiatan dan menanamkan pengertian, berangsur-angsur pola tidur Chris menemukan bentukan yang semakin baik dan teratur.

Dampak kedua adalah Chris jadi jarang minum susu. Biasanya minimal dalam sehari dia minum 4 sampai 5 botol susu. Kini, paling-paling sehari dua kali, itu pun jumlahnya tidak banyak karena kalau dibuatkan dalam jumlah besar dan tidak dihabiskan, kami terpaksa membuangnya. Tetapi setelah berkonsultasi hal ini tidak menjadi masalah selama asupan gizinya dipenuhi dari sumber-sumber makanan yang lain dan suplemen tambahan seperti vitamin dan kalsium bila diperlukan. Malahan hal ini membawa kebaikan buat kami karena setelah susunya berkurang, nafsu makan Chris membaik. Kini dia bisa makan dalam jumlah yang lebih banyak dalam waktu yang lebih cepat dan menikmatinya tanpa harus dibujuk-bujuk atau diiming-imingi hadiah. Itu yang terpenting bukan? Memang benar, bagaimana seorang anak bisa menikmati makan saat perutnya sudah kenyang dipenuhi susu? Pengeluaran bulanan pun kini agak berkurang karena harga susu anak balita itu cukup mahal. Biasanya dalam seminggu Chris menghabiskan 1 dus (400 gram) susu. Kini jumlah itu berkurang hingga kurang dari setengahnya.

Kami bersyukur satu lagi tahapan perkembangan anak kami sudah terlalui dengan baik. Yang jelas semua ini tidak akan bisa kami jalani dengan baik tanpa doa dan pertolongan Tuhan yang dengan setia mendampingi dan memampukan kami dalam setiap tahapannya. Kami juga bersyukur karena memiliki keluarga dan teman-teman yang mendukung dan memberikan semangat serta menjadi teman sharing dalam kehidupan keseharian kami. Thanks to all of you guys, God bless you all :D

Chris udah Gedeee!!

Posted in San San Tjahaya

Kisah Freeia dan Vorg part.10

No Comments »

June 12th, 2010 Posted 2:23 pm

Mereka melesat di keremangan langit senja dengan ketinggian dan kecepatan yang tak pernah terbayangkan. Freeia saja yang sebetulnya sudah terbiasa terbang merasa ngeri. Dicengkramnya bulu-bulu di leher Lloyd kuat-kuat. Kakinya menjepit leher burung besar itu sampai pegal rasanya. Untunglah dengan adanya tubuh kokoh Vorg di belakangnya dan kedua lengan kekar yang memeluk pinggangnya Freeia merasa cukup aman.

Sementara itu Vorg sebenarnya merasa sangat ngeri. Tubuh burung yang berlapiskan bulu itu terasa licin di pantatnya. Gerakan mengepak dari kedua sayap di kiri kanannya serasa mendorongnya ke berbagai arah dan ia tak menemukan tempat untuk berpegangan selain dari memeluk tubuh gadis yang duduk merapat di depannya. Tapi lama kelamaan Vorg dapat juga menikmati perjalanan udara itu. Tubuhnya mulai menemukan ritme yang seirama dengan kepakan sayap Lloyd. Helai-helai rambut Freeia yang halus dan harum tertiup angin menyapu wajahnya dan bintang-bintang yang mulai bermunculan di langit menjadikan segalanya menjadi begitu indah. Untuk beberapa saat ia melupakan misi yang kini diembannya bersama Freeia dan rasa sakit menusuk yang berdenyut-denyut di siku dan di kepalanya.

Malam semakin larut tetapi Lloyd terus terbang dengan kecepatan tinggi menembus awan-awan. Vorg memaksa dirinya untuk terus terjaga. Pertama karena takut jatuh, kedua karena udara dingin yang tidak memungkinkannya untuk tidur. Bahkan ketebalan mantel bulunya tidak dapat melawan dinginnya angin di ketinggian seperti itu. Freeia tampaknya cukup nyaman dengan lilitan sayap di sekitar tubuhnya dan lengan Vorg di sekeliling pinggangnya. Beberapa kali gadis itu terangguk-angguk dalam tidurnya, tetapi Vorg memastikan gadis itu aman di atas punggung Lloyd.

Akhirnya Vorg merasa laju terbang mereka mulai melambat dan Lloyd mulai menurunkan ketinggian terbangnya. Saat itu sudah menjelang fajar. Hitamnya langit sudah mulai kehilangan kepekatannya dan bintang-bintang mulai kembali ke peraduannya. Ia memandang ke bawah. Tampaknya kini mereka berada di atas daerah rawa-rawa. Tanaman ilalang yang lebat tampak berkelompok di mana-mana mencuat dari permukaan tanah yang becek dan berlumpur. Beberapa pohon yang rendah tapi rimbun tumbuh di tepian genangan-genangan air yang besar, beberapa di antaranya bahkan hampir menyerupai danau-danau kecil.

Mereka melayang makin rendah hingga akhirnya dengan mulus mendarat di samping sebuah rumpun ilalang yang cukup lebat. Begitu kaki-kaki Lloyd menjejak tanah Freeia terbangun dari tidurnya.
“Hoahhemm… Di mana kita sekarang?” ujarnya sambil menguap dan menggeliat.
“Ssh… Kita sudah berada di wilayah kekuasaan Gorchuk. Sebaiknya kita berhati-hati karena dia menempatkan penjaga di setiap pelosok rawa ini.” Kata Lloyd setengah berbisik.
“Di sini baunya tidak enak,” kata Freeia lagi sambil mengernyitkan hidung, tetapi kali ini dengan suara yang dipelankan.
“Justru karena itulah para Troll memilih tinggal di daerah berawa seperti ini. Mereka menyukai kelembaban dan bau-bauan yang menyengat. Makanan mereka pun biasanya berupa daging yang sudah membusuk dan berbagai jenis ulat dan serangga yang hidup di sekitar sini,” Lloyd menjelaskan dengan suara rendah.
“Hoekkh!” Freeia menjulurkan lidah sambil memegang perutnya yang tiba-tiba terasa mual.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Vorg akhirnya buka suara.
“Kurasa sebaiknya kita berusaha mendekati tempat kediaman Gorchuk mumpung hari masih gelap. Akan lebih sulit untuk kita mendekati istananya di siang hari,” kata Lloyd.
“Baiklah, ke arah mana?” tanya Vorg.

Lloyd memberi tanda dengan sayapnya untuk mengikutinya. Maka mereka pun berjalan mengendap-ngendap sambil merunduk dari satu rumpun ilalang ke rumpun ilalang berikutnya mendekati istana Gorchuk. Semakin mendekati istana Gorchuk tanah di bawah kaki mereka semakin becek dan berlumpur. Belum lagi dengingan nyamuk-nyamuk besar yang sesekali berseliweran di sekitar kepala mereka. Sepatu Freeia dan Vorg kini terbungkus lapisan tebal lumpur yang lengket dan bau. Demikian pula dengan kaki Lloyd. Berulang kali ia mengangkat kakinya dan berusaha mengguncangkan lumpur yang memenuhi sela-sela jari kakinya sebelum bisa melangkah lagi. Beberapa kali mereka harus berjalan memutar karena terdengar dengkur keras dari balik rumpun ilalang di hadapan mereka.
“Untung para penjaga Troll malas-malas dan tertidur selagi berjaga,” kata Freeia dengan berbisik.
“Untungnya lagi mereka semuanya mendengkur begitu kerasnya sehingga kita tidak menabrak salah satu dari mereka,” Vorg menimpali dengan berbisik juga.

Langit mulai menampakkan semburat jingga di sebelah timur. Rupanya sebentar lagi Sang Surya akan menampakkan wajahnya.
“Sekarang sudah dekat,” bisik Lloyd,”Istana Gorchuk terletak di balik rumpun ini. Mulai sekarang jangan bersuara sedikitpun.”

Perlahan mereka menyibakkan rumpun ilalang di hadapan mereka. Beberapa meter dari tempat mereka bersembunyi tampaklah istana Gorchuk yang tak tampak seperti istana di mata Freeia dan Vorg. Istana itu berupa bangunan batu besar tak berbentuk yang diselimuti lumut di seluruh permukaannya.Pintu masuknya terbuat dari potongan-potongan batang pohon yang berat yang dijalin dengan sulur-sulur tanaman yang kuat. Dua orang penjaga baru saja terjaga dari tidur mereka. Mereka bangkit dari duduknya di bongkahan batu berlumut di sebelah kiri dan kanan pintu gerbang besar itu.

“Huaahhhhmmm!!!” penjaga sebelah kiri menguap lebar sambil merentangkan tangannya. Suaranya sangat keras karena ternyata Troll itu cukup besar. Tingginya lebih dari tiga kali tinggi Vorg dan lebarnya lebih dari empat kali lebar tubuh Vorg. Badan mereka gempal dan padat, dengan kaki-kaki dan tangan-tangan yang pendek dan lebar. Wajah mereka penuh keriput seperti layaknya kakek-kakek. Hidung mereka bulat dan besar berwarna kemerahan dengan beberapa kutil di seluruh permukaannya dan bulu-bulu hidung mereka mencuat keluar dari kedua lubangnya. Alis mereka pun tebal hingga menjuntai di kedua sisi wajah mereka, tetapi mata mereka yang hitam bulat dan besar tampak kekanak-kananakan dan tidak cocok dengan wajah mereka yang keriput. Kedua mata itu bagaikan bola kaca hitam dan tidak memiliki bagian berwarna putih di sisinya, menonjol keluar dan begitu besarnya hingga memenuhi hampir separuh dari wajah mereka. Sedangkan mulut mereka sangat mungil dan hampir tersembunyi di bawah hidung besar yang memenuhi separuh sisa wajah mereka. Dan yang paling menakjubkan mungkin adalah rambut mereka. Rambut itu tumbuh panjang ke arah atas seolah-olah melawan gravitasi bumi. Penjaga sebelah kiri memiliki rambut berwarna ungu terang yang mencuat lurus dan bersatu di ujungnya sehingga membentuk kerucut yang melengkung membentuk spiral. Sementara penjaga sebelah kanan memiliki rambut berwarna hijau lumut yang mencuat ke segala arah seperti kipas. Dua gumpal kumis lebat berwarna sama menggantung di bawah setiap lubang hidungnya sehingga saat ia berbicara hanya tampak kedua kumis itu bergoyang-goyang tanpa terlihat lubang mulutnya.
“Bagaimana caranya dia makan ya?” mau tak mau pikiran itu terlintas di benak Freeia,”Pasti bubur biji bunga matahari akan tersangkut di kumis itu saat ia makan. Hiyyy!!”

“Kita harus bersiap-siap. Apakah hari ini Raja Gorchuk jadi mengirimkan permata biru untuk Putri Gwendoline?” kumis hijau itu bergerak-gerak cepat saat ia berbicara.
“Sepertinya belum. Kabar terakhir yang kudengar Putri Gwendoline mengajukan syarat tambahan untuk menerima pinangan Raja Gorchuk.” Timpal si rambut ungu.
“Ck ck ck. Memang makin cantik seorang wanita pasti semakin macam-macam saja maunya,” si kumis hijau berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, rambut kipasnya melambai-lambai seperti ekor merak.
“Hush! Jangan sampai Raja Gorchuk mendengar perkataanmu. Bisa-bisa dipenggalnya kepalamu nanti,” si rambut ungu mengingatkan. Si kumis langsung menutup mulutnya sambil celingukan ke segala arah.

Lloyd memberi tanda untuk mundur. Mereka pun mundur beberapa langkah dan mulai mengatur strategi.
“Tampaknya permata-permata itu ada di dalam,” ujar Lloyd senang.
“Bagaimana caranya kita masuk?” tanya Vorg.
“Itulah masalahnya. Kurasa kita harus mengalihkan perhatian kedua penjaga itu,” kata Lloyd.
“Kalaupun kita berhasil mengalihkan perhatian mereka, bagaimana cara kita membuka pintu yang besar dan berat itu?” Freeia ikut bertanya.
“Hmm… benar juga,” Lloyd tampak makin bingung.
“Apakah ada jalan masuk lain? Jendela mungkin?” kata Vorg.
“Aha! Itu dia! Kita harus mencari jendela untuk masuk,” Lloyd mengangguk setuju.
“Lalu, setelah kita berhasil masuk bagaimana?” Freeia kembali bertanya.
“Entahlah, yang penting kita harus asuk dulu,” jawab Lloyd lagi.

Maka mereka pun mengendap-ngendap memutari bangunan batu itu sambil mencari lubang atau jendela yang terbuka. Kini mereka harus lebih berhati-hati karena sudah terdengar suara-suara dari dalam istana itu yang menunjukkan terjadinya aktifitas di dalamnya. Beberapa jendela yang tertutup mereka jumpai dan mereka lewati karena mereka tak akan mungkin sanggup membukanya. Daun-daun jendela itu terbuat dari lempengan-lempengan kayu yang besar dan berat untuk ukuran tubuh mereka.
Akhirnya mereka menemukan sebuah jendela yang terbuka. Mereka menduga itu adalah jendela dapur karena sejalur tipis asap abu-abu tampak keluar dari cerobong batu di atasnya dan aroma berbau busuk menyengat menguar keluar dari jendela yang terbuka itu. Juga terdengar suara-suara Troll yang ditingkahi suara gedombrangan perkakas yang mereka gunakan dari dalam ruangan di balik jendela itu.

“Bagaimana ini?” Lloyd berbisik. Mereke bersisian di bawah jendela itu. Tubuh mereka menempel rapat pada dinding batu untuk meminimalisir kemungkinan ketahuan.
“Sebaiknya aku terbang dan mengintip keadaan di dalam,” Freeia balas berbisik.
“Terlalu berbahaya,” Vorg tidak setuju.
“Tapi tak ada cara lain. Tenanglah, aku akan berhati-hati,” Freeia menenangkan.
Maka Freeia pun melayang tanpa suara. Sayapnya yang berkilauan bergerak cepat sampai hanya tampak seperti kilatan cahaya keemasan yang berkelebat di belakang punggung dan bahunya. Sesampainya di bibir jendela Freeia bergantung ke tepi bawah jendela dengan kedua tangannya. Perlahan diangkatnya tubuhnya sampai matanya tepat berada di ambang jendela. Untunglah para Troll wanita di dalam dapur itu tampak sangat sibuk dan tidak memperhatikan ke arah jendela. Seorang Troll gemuk dengan rambut oranye keriting yang mencuat tak beraturan sedang sibuk membumbui sekerat daging yang sudah tampak berjamur dan dirayapi belatung dengan sejenis tepung berwarna kuning keabu-abuan di meja besar di tengah dapur. Troll wanita lainnya yang berambut biru lurus ke atas dan melingkar di ujungnya sedang memotong-motong semacam rumput rawa yang layu dan berlendir dan memasukkannya ke dalam panci besar berisi air comberan kecoklatan yang mendidih di atas api di dalam perapian besar yang menempel di dinding dapur. Di sudut lainnya seorang Troll wanita kurus dengan rambut pink menyala yang mengarah ke kiri seperti habis ditiup angin besar selama berjam-jam sedang menggosok peralatan makan dari logam yang sudah berkarat dengan secarik kain lap yang juga berjamur dan penuh bercak-bercak kehitaman.

Perlahan Freeia melayang turun dan menceritakan apa yang dilihatnya kepada Vorg dan Lloyd.
“Menurutmu, bisakah kita masuk tanpa ketahuan?” tanya Vorg.
“Kalau kita kurasa bisa. Tapi Lloyd sepertinya pasti akan menarik perhatian mereka,” jawab Freeia sambil mengerutkan kening dan menotol-notol dagunya dengan jari telunjuk (yang menandakan bahwa ia sedang berpikir keras).
“Betul!” tiba-tiba Vorg berseru agak keras sambil menampar pahanya sendiri membuat kedua temannya terlonjak kaget, “ Lloyd harus terbang masuk dengan ribut dan menarik perhatian ketiga wanita Troll itu. Saat mereka sibuk dengannya, kita menyelinap masuk. Saat itu Lloyd harus terbang keluar dan bersembunyi di sekitar sini kalau-kalau kita butuh kabur dengan cepat,”Vorg menjelaskan strateginya.
“Kalau begitu aku tidak akan ikut menyelinap bersama kalian dong?” Lloyd tampak agak kecewa.
“Tidak ada jalan lain Lloyd, kau terlalu besar untuk menyusup tanpa terlihat oleh para Troll,” kata Vorg.
“Lagipula kami mengandalkanmu untuk kabur dari sini Lloyd. Justru peranmulah yang paling penting untuk menjamin keselamatan kita,” Freeia menambahkan dengan nada membujuk sambil mengelus pipi burung tampan itu.
“Baiklah kalau begitu,” akhirnya Lloyd setuju,” Aku akan mengangkat kalian ke jendela. Bersiap-siaplah untuk masuk begitu mereka mengejarku.”

Freeia dan Vorg pun memanjat ke atas punggung Lloyd yang membawa mereka sampai ke ambang jendela. Segera mereka turun dan bersembunyi di balik daun jendela itu. Tiba-tiba Lloyd melesat masuk ke dalam dapur Troll sambil berkaok-kaok ribut. Ketiga wanita Troll menjerit-jerit dan menutupi kepala mereka ketika paruh Lloyd menyambar-nyambar di atas kepala mereka. Si Troll berambut biru melemparkan pisau yang dipegangnya ke arah Lloyd. Untung Lloyd berhasil menghindar dan pisau itu menancap di daun jendela tepat di atas kepala Vorg yang reflek menunduk begitu pisau melayang ke arahnya. Lloyd kembali menyambar dan ketiga wanita Troll itu berebutan bersembunyi di balik meja sambil menjerit-jerit ribut. Melihat peluang itu Vorg segera menarik tangan Freeia melompat ke rak bumbu di samping jendela, melompat ke meja kecil di bawahnya, dan melorot turun melalui kaki meja itu ke lantai. Lloyd melihat Vorg dan Freeia sudah berhasil masuk dengan sudut matanya. Maka sambil menyambar sekali lagi ia pun melesat keluar dari jendela. Ketiga wanita Troll itu bergegas lari ke jendela dan membanting daun jendela itu keras-keras. Ketiganya terengah-engah di depan jendela.

“Aduh hampir copot jantungku,” ujar si Troll gemuk.
“Dasar burung kurang ajar. Mungkin dia lapar dan tertarik mencium harumnya bau masakan kita,” timpal si rambut pink.
“Sayang pisauku tidak mengenainya tadi. Sup burung busuk mungkin cukup enak untuk disajikan pada Raja Gorchuk,” si rambut biru tak mau kalah.
Sementara itu Freeia dan Vorg telah merayap di sepanjang dinding dapur dan keluar dari pintu dapur menuju bagian dalam dari istana Gorchuk.

TO BE CONTINUED….
Berhasilkan mereka menemukan keempat permata musim?
Nantikan lanjutannya di Kisah Freeia dan Vorg part.11

Posted in San San Tjahaya

Kisah Freeia dan Vorg part.9

No Comments »

June 1st, 2010 Posted 5:39 pm

Keesokan harinya badai telah berhenti. Freeia telonjak bangun dan segera memeriksa keadaan Vorg. Syukurlah suhu tubuhnya terasa normal walaupun wajahnya masih tampak pucat. Freeia pun bangkit untuk menjerang air dan membakar beberapa biji-bijian kalau-kalau Vorg bangun dan merasa lapar.

Vorg bermimpi buruk. Kumbang raksasa mengejar-ngejar dan menangkap adiknya. Saat Vorg mengejarnya wajah dan suara teriakan Trod berubah menjadi sosok dan teriakan Freeia yang dicengkram capit beracun kumbang ganas itu. Vorg berusaha berlari mengejar dan berteriak tetapi suaranya tidak keluar dan langkahnya terasa begitu berat. Tangannya menggapai tanpa daya ketika kumbang itu menyeret tubuh lemas Freeia menuju kegelapan yang begitu pekat…

Vorg bermimpi indah. Tubuhnya serasa melayang di udara. Aneka warna menghiasi latar belakang mimpinya. Rongga hidungnya dipenuhi aroma segar yang sangat familiar di hidungnya, seperti harum bunga-bunga di musim semi. Vorg memejamkan mata dan sepasang tangan yang lembut membelai rambut dan keningnya. Apakah ia sudah mati dan berada di Surga?

Tiba-tiba aroma lain merasuki rongga hidungnya. Harum biji-bijian hangat dan pekatnya aroma dedaunan kering membuatnya terbangun. Dibukanya matanya yang terasa berat. Vorg melihat Freeia sedang bersimpuh di sisi api, mengaduk the rumput dalam cangkang kumbang mantan pelindung sikunya. Biji-bijian yang sudah dipanggang sampai merekah beralaskan daun kering di sisi kakinya. Vorg tersenyum senang. Seandainya saja setiap pagi pemandangan indah seperti ini menyambutnya saat bangun tidur.

Vorg mencoba untuk bangun, tetapi rasa nyeri yang menusuk di lengan dan kepalanya membuatnya terpaksa berbaring kembali sambil mengaduh tertahan. Freeia menoleh mendengar suara Vorg. Dijatuhkannya ranting yang sedang dipakainya mengaduk the dan buru-buru dihampirinya pemuda itu.
“E..eh! Kau jangan bangun dulu,”
“Aku tidak apa-apa kok. Cuma luka kecil, tak seberapa,” kata Vorg.
“Luka kecil apanya? Seluruh tubuhmu luka-luka dan memar-memar. Dan sikumu hampir hilang setengahnya tahu?” Freeia memarahi Vorg.
“Hahaha… Jangan sewot dong. Aku sudah biasa kok,” jawab Vorg ringan. Tetapi tak urung ia mengernyit kesakitan ketika menggerakkan lengannya. Freeia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, setengah kagum, setengah bingung menghadapi pemuda jabrik itu.

“Ayo kita makan. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan. Kau mau pulang kan?” Vorg berkata ceria sambil kembali berusaha bangkit dari tidurnya.
Freeia membantu Vorg duduk. Saat itulah Vorg menyadari bahwa ia tidak berpakaian. Wajahnya yang pucat tiba-tiba saja tampak tidak begitu pucat karena semburat kemerahan di pipinya, hanya bibirnya yang masih tampak kebiruan.

“Kemarin pakaianmu berlumuran lendir dan darah, juga sobek di beberapa tempat. Aku sudah membersihkan dan memperbaikinya. Tuh di sana,” Freeia menjelaskan dengan canggung sambil bergegas mengambilkan pakaian Vorg. Wajahnya merah padam dan ia berjongkok membelakangi Vorg sambil pura-pura mengaduk the rumput yang sebenarnya sudah siap dari tadi. Setelah yakin Vorg selesai berpakaian barulah Freeia berbalik dan membawakan sarapan mereka ke tempat Vorg duduk.

Selama sarapan mereka berdebat tentang ide melanjutkan perjalanan versus ide beristirahat beberapa waktu sampai lengan Vorg sembuh.
Freeia berpikir sebaiknya mereka menunggu tangan Vorg sembuh.
Vorg berpendapat bahwa tangannya tidak apa-apa.
Freeia berkeras bahwa wajah Vorg sangat pucat.
Vorg berkata bahwa wajahnya memang pucat dari dulu.
Freeia merasa menunda perjalanan beberapa hari tidak akan banyak pengaruhnya.
Vorg berdalih bahwa ada kemungkinan masih ada kumbang raksasa lain di sekitar situ.
Akhirnya Freeia terpaksa menyerah karena tidak tahu mau bilang apa lagi.

Setelah selesai sarapan mereka pun melanjutkan perjalananan mereka. Langkah mereka agak lambat karena kondisi Vorg belum pulih benar. Berulang kali Freeia berpura-pura lelah dan meminta Vorg untuk berhenti dan beristirahat karena dilihatnya bibir Vorg begitu putih dan keringat dingin bermunculan di dahinya walaupun Vorg tidak mengatakan apapun.

Menjelang sore mereka baru mencapai tepian dataran luas berumput ketika mereka mendengar suara berkerosak keras di rumpun rumput si sebelah kanan mereka. Keduanya saling memandang. Perlahan Vorg mengeluarkan senjata tanduknya dan berjalan sambil merunduk mendahului Freeia menghampiri arah datangnya suara tadi.
“Vorg, jangan! Mari kita memutar saja,” Freeia merintih setengah memohon. Ingatannya melayang pada kumbang raksasa yang menyerang mereka semalam.
“Tenanglah. Lebih baik kita tahu apa yang kita hadapi dari depan daripada tiba-tiba mendapat serangan dari belakang,” jawab Vorg tenang meskipun rahangnya mengeras dan garis-garis wajahnya tampak tegang.

Dengan hati-hati disibakkannya lembar rumput terakhir yang menghalangi mereka dari sumber suara itu. Hatinya mencelos lega sementara di belakangnya Freeia menghembuskan nafas yang sedari tadi ditahannya. Ternyata seekor burung besar yang sangat tampan terperangkap di sana, tubuhnya terbelit sulur-sulur dan rerumputan yang kusut di sekelilingnya. Wajahnya yang berwarna coklat tanah bermahkotakan jambul besar berwarna hitam mengkilat, sewarna dengan paruhnya yang ramping dan melengkung cantik. Punggung dan sayapnya yang kokoh juga berwarna hitam mengkilat, hanya saja makin mendekati ujungnya warna sayap-sayap itu bergradasi menjadi warna kelabu dengan pendar-pendar kebiruan di seluruh permukaannya. Sedangkan bulu-bulu yang menutupi dada dan perutnya berwarna putih bersih dengan secercah pulasan warna kuning di ujung-ujungnya. Dengan sisa-sisa tenaganya ia berusaha melepaskan diri, tetapi usahanya sia-sia. Tampaknya ia sudah berjuang cukup lama, kepakan sayapnya sudah melemah dan kepalanya terkulai lesu.
“Kasihan,” kata Freeia,” Mari kita tolong dia.”
Freeia dan Vorg dengan senjata tanduknya membantu burung itu melepaskan diri dari jeratan rumput dan sulur-sulur tanaman yang membelit tubuhnya.

“Terima kasih peri-peri yang baik hati. Tanpa kalian aku pasti mati sendirian di sini. Aku, Lloyd tidak akan pernah melupakan budi kalian.” Kata burung itu setelah tubuhnya terbebas sepenuhnya.
“Mengapa kau bisa terjebak di sini?” tanya Freeia
Untuk sesaat burung itu terdiam. Wajahnya tampak sedih sebelum akhirnya ia menjawab.
“Penunggangku adalah ksatria peri Vlardon. Kami sedang dalam perjalanan mengemban sebuah misi penting dari Yang Mulia Ratu-Ratu Musim ketika badai besar kemarin menjebak kami. Aku terlempar ke rerumputan dan terbelit di sini hingga aku bisa selamat, tetapi penunggangku terhempas ke tebing batu sebelah sana, tak mungkin ia berhasil selamat dari badai seganas itu,” sebutir ait mata berkilau menetes dari mata Lloyd.
“Kasihan sekali,” Freeia mengelus-ngelus sayap burung itu untuk menghiburnya.
“Kalau kami boleh tahu, sebenarnya misi apa yang begitu penting sehingga tidak bisa ditunda sampai musim semi?” Vorg akhirnya ikut bersuara.
“Kekacauan musim ini sebenarnya disebabkan karena Gorchuk si Troll mencuri keempat permata musim yang menjaga keseimbangan musim di negeri ini. Permata biru milik Ratu Musim Panas, permata Coklat milik Ratu Musim Gugur, permata ungu milik Ratu Musim Dingin dan permata Hijau milik Ratu Musim Semi. Keempat Ratu Musim menugaskan kami untuk merebut keempat permata itu dari tangan Gorchuk dan mengembalikannya ke tempatnya masing-masing sehingga cuaca ini bisa kembali dikendalikan. Sampai saat ini cuaca masih bertahan karena keempat Ratu Musim mengerahkan energi mereka untuk mengisi tempat permata yang kosong setiap hari. Apabila salah seorang dari mereka melemah terjadilah badai besar seperti kemarin. Badai pertama terjadi karena Ratu Musim Panas jatuh sakit akibat hawa dingin yang berkepanjangan ini. Entah berapa lama keempat Ratu Musim dapat bertahan. Apabila keempat permata itu tak ditemukan , aku tak tahu apa jadinya dunia ini nantinya,” Lloyd menjelaskan panjang lebar dengan wajah muram.

“Kini entah bagaimana nasib Ksatria Vlardon. Bagaimana kau bisa menjalankan misimu?” tanya Freeia.
“Justru itulah yang membuat aku bingung dan sedih,” jawab Lloyd.
“Kami bersedia membantumu,” celetuk Freeia spontan, “Eh, kalau kau mau maksudku…” Freeia melirik Vorg sambil menggigit bibir.
“Tentu saja kami bersedia membantu. Tapi apakah kau tidak ingin pulang? Perjalanan ini mungkin berbahaya,” kata Vorg.
Untuk beberapa saat Freeia sibuk mempertimbangkan perkataan Vorg sambil mengerutkan kening dan menotol-notol dagunya seperti biasa.
“Tidak!” kata Freeia akhirnya, “Aku ikut dengan kalian. Toh di rumah aku tidak akan tenang karena mengkhawatirkan kalian dan nasib dunia ini,” katanya mantap.
“Baiklah kalau begitu!” Lloyd dengan bersemangat merentangkan sayapnya dan merundukkan tubuhnya, “Naiklah ke punggunggku ksatria-ksatria peri. Kita akan memulai misi kita, semoga kita berhasil menyelamatkan dunia ini.”

Kedua peri kecil pemberani itu pun memanjat naik ke punggung Lloyd. Sang burung mengepakkan sayapnya dan mereka pun lepas landas menyongsong suatu petualangan yang tak terbayangkan oleh mereka berdua. Kebaikan dan kepedulian mereka mengalahkan setiap kegentaran dan keragu-raguan akan apa yang harus mereka hadapi nantinya.
TO BE CONTINUED….
Ke mana mereka menuju?
Apa yang akan mereka temui di sana?
Nantikan kelanjutannya di Kisah Freeia dan Vorg part.10

Posted in San San Tjahaya

Kisah Freeia dan Vorg part.8

No Comments »

June 1st, 2010 Posted 12:29 am

Keesokan harinya, setelah sarapan sekedarnya dan mencuci muka dengan salju yang dicairkan, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini lebih mudah karena jalan yang mereka tempuh kini menurun. Dan kini mereka tahu arah mana yang harus ditempuh. Hal ini menambah semangat dan tenaga mereka untuk menempuh perjalanan.

Hari itu mereka lalui dengan gembira. Berjalan sambil bercengkrama dengan gembira membuat waktu dan jarak semakin tak terasa. Mereka pun semakin mengenal satu sama lain. Kini tahu bahwa warna kesukaan Freeia adalah warna kuning yang ceria, makanan kesukaannya adalah bili bunga matahari yang terpanggang sinar matahari dan bahwa peri padang lainnya tidak mempunyai warna kulit dan rambut yang saa dengan Freeia. Freeia pun kini tahu tentang serangan kelabang yang menewaskan kedua orang tua Vorg, tentang besarnya tanggung jawab dan sayang Vorg pada adik semata wayangnya, dan tentang kerasnya kehidupan di hutan belantara. Tapi soal warna favorit, Vorg menjawab seperti ini :
“Aku belum bisa memutuskan warna mana yang paling kusukai. Begitu banyak warna di luar sini sampai-sampai pusing aku melihatnya,” dan wajahnya benar-benar menunjukkan keseriusan dan kebingungan sampai Freeia tertawa terpingkal-pingkal melihat kepolosan Vorg yang perkasa namun lugu itu.

Sore harinya, sayap Freeia sudah cukup panjang untuk terbang. Freeia mencobanya dengan terbang beberapa puluh sentimeter kemudian turun kembali. Vorg terpana memandang Freeia yang tampak begitu indah dengan sepasang sayap keemasan yang bergetar dan memantulkan sinar matahari di rambutnya. Tanpa sadar ia bergumam pada dirinya sendiri.
“Emas… Ya…ya… Warna emas yang paling kusuka. Pendar emas di sayapmu, pendar keemasan di kulitmu, itu warna kesukaanku, ya…ya…”

“Kurasa besok sayapku sudah akan tumbuh sempurna,” Freeia berkata puas ketika kakinya kembali menjejak tanah.
“Beberapa hari lagi mungkin kita sudah akan sampai di rumahmu. Mari kita menginap di sini malam ini,” kata Vorg.
“Aku sudah tidak sabar lagi bertemu dengan teman-temanku,” Freeia berceloteh riang,” Untung cuaca tampak membaik dan tidak ada badai salju lagi.”

Baru saja Freeia selesai berucap, tiba-tiba langit menjadi gelap, angin pun bertiup semaikin kencang. Awan hitam keunguan bergulung-gulung dengan cepat di langit dan siulan badai yang sudah mereka kenal mulai terdengar di kejauhan dan dengan cepat mendekat. Vorg mengumpulkan ranting-ranting yang belum sempat dinyalakannya dengan sekali raup dan menarik tangan Freeia.
“Cepat! Kita harus mencari tempat berlindung!” teriak Vorg mengatasi deru angin.

Untunglah di dekat sana ada semacam ceruk sempit di dalam tanah di bawah sepetak semak-semak yang rimbun. Itu pun mereka temukan karena Vorg terperosok ke dalamnya saat merambah semak itu. Mungkin bekas sarang burung yang biasa membuat sarangnya di bawah semak-semak atau bekas sarang kelinci. Tidak senyaman gua yang mereka tempati waktu itu, tapi lumayan lah. Yang penting mereka cukup terlindung dari badai.

Dan benarlah, sesaat setelah mereka masuk ke dalam ceruk itu, badai mulai mengamuk di atas kepala mereka. Vorg kembali menyusun ranting-ranting kayu dan mulai menyalakannya.
“Untung kita punya cukup persediaan makanan untuk beberapa waktu,” katanya.
Setelah api menyala, karena belum terlalu lelah Vorg mengeluarkan alat musik taringnya dan mulai bermain.

Freeia duduk sambil memeluk lutut. Dagunya bertopang pada lututnya dan sayapnya menyelimuti tubuhnya. Matanya menerawang sambil memandang sosok Vorg yang tampak begitu… begitu… anggun? Agung? Entahlah. Yang jelas Freeia tidak dapat melepaskan pandangannya dari pemuda itu. Dan musik itu… Musik itu serasa menyihirnya, membayangkan rumah yang nyaman, taw aria bersama Vorg, anak-anak…
“Anak-anak?! Ya ampun! Apa ini yang kupikirkan?” rasa panas menjalar di pipinya dan Freeia buru-buru menggigit bibir bawahnya untuk menyembunyikan senyumnya. Untunglah Vorg begitu asyik dengan musiknya sehingga tidak memperhatikan Freeia.

Tiba-tiba Vorg berhenti bermain. Disimpannya alat musik taringnya dan ia meraih sepotong ranting yang menyala dari api unggun mereka.
“Mundur, dan jangan bergerak,” bisiknya sambil berdiri di hadapan Freeia
“Apa yang…?”
“Ssh! Ayo ikuti saja perintahku,” Vorg mendesis rendah.
Freeia beringsut mundur. Jantungnya berdegup kencang karena takut.

Perlahan bayangan sesosok makhluk raksasa merayap di dinding ceruk tanak itu. Freeia menyumpal mulutnya dengan kepalan tangannya sendiri untuk menahan teriakan yang keluar dari mulutnya. Bayangan hitam itu segera diikuti oleh sosok seekor kumbang hitam kehijauan yang sangat besar. Jauh lebih besar dari semua kumbang yang pernah dilihat Freeia. Dan kumbang ini tidak jinak dan lucu seperti kumbang-kumbang teman bermainnya di padang sana. Cangkangnya yang berkilat mengeluarkan pendar seperti pelangi. Keenam kakinya berkeretakan dipenuhi duri-duri kecil melengkung yang tampak sangat tajam. Matanya yang banyak terkumpul dalam 2 bola mata yang berwarna merah. Setiap mata kecilnya bergerak-gerak cepat bagaikan serpihan kaca berwarna merah di dalam gelembungnya. Dan sungutnya yang panjang dan berbulu kasar menampakkan gigi-gigi runcing, sepasang capit yang siap dikatupkan dan penghisap berlendir yang berputar-putar liar membaui calon mangsanya.

Freeia gemetar hingga ke sumsum tulangnya. Teriakannya tercekat di tenggorokannya dan mulutnya terasa kering. Freeia menatap Vorg dan kumbang raksasa itu bergantian. Pikirannya kalut dan telinganya berdenging keras.

Vorg mencoba menusuk kumbang itu dengan ranting berapi yang dipegangnya. Dengan sekali tebas sungut kumbang itu menghempaskan ranting berapi ke dinding ceruk. Ia mendekati Vorg. Vorg pun mengambl senjata tanduknya, berusaha menyerang kumbang itu. Tetapi senjatanya terlalu pendek, sedangkan sungut yang berbahaya itu terus menyambar-nyambar.

Beberapa serangan Vorg yang dilancarkannya sambil berguling-guling menghindari capit dan sungut si kumbang berhasil mengenai sisi tubuhnya yang keras. Tidak mempan! Cangkang kumbang itu terlalu tebal. Vorg juga tidak bisa menyerang wajahnya karena sungut dan capit si kumbang terlalu sulit untuk ditembus.
“Bagian mana selain matanya yang bisa kuserang?” Vorg menunduk menghindari katupan capit kumbang itu sambil berpikir keras.
“Perutnya!” pikir Vorg,” Bagian perut kumbang tidak tertutup cangkang.”
Maka Vorg pun sekali lagi berkelit menghindari serangan si kumbang dan berguling di tanah untuk menyerang perut kumbang raksasa itu.

Tapi kumbang besar itu ternyata sangat gesit. Tiba-tiba sungutnya sudah memagut siku dan lengan Vorg yang tidak terlindung. Teriakan Freeia melengking memenuhi gua, dan Vorg merasakan cengkraman gigi-gigi runcing dan capit yang menembus daging di sekitar sikunya. Dengan satu hentakan kuat disentakkannya lengannya dari cengkeraman sungut kumbang. Sebagian kulit dan dagingnya ikut terlepas, tetapi Vorg terlalu sibuk untuk memikirkan luka ataupun rasa sakitnya.
“Tali peri!” pekiknya pada Freeia,” Lemparkan tali peri padaku!”

Freeia terperanjat. Tangannya yang gemetar meraih gulungan tali peri dan melemparkannya pada Vorg. Vorg menangkapnya dan dengan 1 tangan dan giginya mengikatkannya secepat mungkin pada senjata tanduknya sambil berguling menghindari belitan alat penghisap kumbang yang kini bertambah ganas karena sudah mencicipi daging mangsanya.

Vorg memutarkan tali yang berujungkan senjata tanduk itu di atas kepalanya dan melemparkannya kea rah kaki-kaki kumbang yang sedang menyerbu ke arahnya. Berhasil! Tali itu melilit, menjerat kaki-kaki kumbang yang banyak itu. Senjara tanduk mengunci belitan tali peri di kaki kumbang, membuatnya tak seimbang dan akhirnya jatuh terguling dengan bunyi berdedum keras dan kepulan debu yang terangkat dari tanah.

Kumbang itu mengais-ngaiskan kaki-kakinya yang terbelit tali peri tanpa dapat membalikkan tubuhnya. Ia meraung marah, sungutnya menyambar-nyambar. Secepat kilat Vorg mengambil sebatang ranting berapi dan melompat di antara kaki-kaki kumbang. Dengan sekuat tenaga ditusuknya perut kumbang itu dengan ranting yang masih membara. Kumbang itu menjerit keras dan berkelojotan. Lendir abu-abu kehijauan muncrat keluar. Vorg mencabut ranting itu, dikumpulkannya segenap sisa tenaganya dan sambil menggeram keras sekali lagi ditusuknya perut kumbang raksasa itu. Raungan kumbang memenuhi gua itu, duri-duri pada kaki-kakinya mencakar dan menggores wajah dan tubuh Vorg, tapi Vorg tidak melepaskan tikaman rantingnya sampai kumbang itu mati dan tak bergerak lagi.

Sekujur tubuh Vorg berlumuran lendir dan darah. Terlalu lemas untuk melompat turun, Vorg pun terkulai lemas dan terjatuh dari perut kumbang. Kepalanya pening, matanya berkunang-kunang. Rupanya sungut kumbang itu beracun.

Freeia berlari menghampiri Vorg yang tergeletak di tanah.
“Vorg! Apakah kau baik-baik saja? Jawablah aku!”
“Sungut kumbang itu beracun. Ambil senjataku, torehlah lukaku dan keluarkan semua racunnya,” suara Vorg semakin melemah dan akhirnya ia pun tak sadarkan diri.

Freeia gemetar ketakutan. Rasa panik dan dan takut membuat air mata mengalir deras di pipinya.
“Aku harus menyelamatkan Vorg! Aku harus menyelamatkan Vorg!” pikirnya berulang-ulang.
Freeia pun memeberanikan diri untuk mendekati bangkai kumbang yang walaupun sudah mati masih tampak mengerikan. Digigitnya tali peri untuk memutuskannya. Diambilnya senjata tanduk Vorg lalu dibakarnya ujung dan sisinya yang tajam di atas api unggun.

Diseretnya tubuh Vorg mendekati api. Wajahnya yang memang pucat kini tampak keabu-abuan dan tubuhnya terasa sedingin es.
“Vorg, jangan mati! Jangan tinggalkan aku sendiri,” Freeia meratap di dalam hatinya.
Ditariknya nafas dalam-dalam untuk menguatkan hatinya, dan sambil menggigit bibir diangkatnya siku Vorg yang terluka. Luka menganga yang mengerikan, kini tampak berlendir dan agak menghitam. Freeia harus memaksa dirinya untuk menusuk luka itu dengan ujung tanduk yang tajam dan menorehnya cukup dalam agar darah kehitaman yang mulai menggumpal itu bisa mengalir keluar.

Darah yang menghitam bercampur racun mengalir dan menetes ke tanah. Freeia menekan-nekan dan mengurut sekeliling luka Vorg, memaksa semua darah yang terkontaminasi racun untuk keluar. Setelah darah yang mengalir keluar menjadi merah segar barulah ia berhenti mengurut lengan Vorg. Kemudian dibersihkannya daging-daging yang tampak seperti terbakar kehitaman karena terkena racun. Setelah itu dibasuhnya luka itu dengan air panas. Akhirnya, Freeia mencabut sehelai mahkota bunga dari pakaiannya dan membalut luka Vorg, membebatnya erat-erat dengan tali peri.

Freeia memandang tubuh Vorg yang basah bermandikan darah dan lendir kehijauan. Perlahan, dilepaskannya seluruh pakaian Vorg yang penuh dilumuri lendir dan darah itu. Sebagian sarang labah-labahnya tercabik-cabik terkena duri kaki kumbang dan cangkang kumbangnya tampak tergores di sana-sini walaupun tidak ada yang pecah. Wajah Freeia memanas ketika ia melepaskan celana Vorg. Ia menelan ludah dan memejamkan mata ketika menurunkan celana pemuda itu. Pelan-pelan dibukanya sebelah matanya. Untunglah, ternyata ia mengenakan semacam cawat di selangkangannya.

Freeia membersihkan tubuh Vorg dengan sobekan bajunya dan air hangat. Membersihkan sisa-sisa lendir dan darah, membersihkan semua luka gores dan memar di tubuhnya. Ternyata sangat banyak bekas luka yang sudah sembuh di tubuh pemuda itu. Freeia tak dapat membayangkan kerasnya kehidupan yang dihadapi Vorg setiap hari. Setelah selesai Freeia berusaha meminumkan sedikit air hangat ke mulut Vorg, lalu menyelimutinya dengan mantel bulunya, dan mulai membersihkan dan memperbaiki pakaian Vorg yang kotor dan sobek-sobek dengan jarum dan tali peri yang memang dibawanya untuk menjahit.

Setelah semuanya selesai kembali dihampirinya tubuh Vorg. Wajahnya masih tampak pucat, dan nafasnya lemah sekali. Tetapi butir-butir keringat bermunculan di wajahnya. Dirabanya kening Vorg. Kulitnya kini terasa panas seperti api. Coba dirabanya dada Vorg, ternyata sama panasnya. Bgaimana ini? Freeia terdiam kebingungan, rasa khawatirnya memuncak.
“Ayo berpikir Freeia!” bisiknya pada dirinya sendiri. Akhirnya diambilnya segumpal salju untuk mengompres dahi pemuda itu. Sebentar saja salju itu sudah mencair. Sepanjang malam Freeia mengompres dari Vorg sambil tak henti-hentinya bergumam,” Ayo Vorg, kau harus sembuh. Ayolah Vorg…” Sesekali Vorg mengigau. Dipanggilnya nama Freeia dan Trod dalam tidurnya yang gelisah.

Kegigihan Freeia akhirnya membuahkan hasil. Menjelang dini hari suhu tubuh Vorg mulai menurun dan tidurnya pun mulai tenang. Freeia menghela nafas dengan lega. Sambil duduk di samping Vorg, Freeia pun akhirnya jatuh tertidur kelelahan.

TO BE CONTINUED….

Posted in San San Tjahaya